"Jurnalisme masa kini sudah berubah dari jurnalisme masa lampau. Buku ini mengindikasikan perubahan lebih jauh pada masa depan." - Atmakusumah Astraadmadja, Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta, peneriman Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative Communication Arts.
"Andreas... dorang bahas dan personalkan barang-barang yang disembunyikan." - Benny Giay, Sekolah Tinggi Theologia Waiter Post, Papua.
"Seumpama kitab hadih maja yang mengandung petuah. Andai sudah selaiknya beragama, lampoh jerat digadaikan, begitu kukuh tekadnya berjurnalistik." - Otto Syamsudin Ishak, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
"Ancaman jurnalisme, setara dengan peluru atau sensor, adalah bisnis media yang memompa laba, memangkas biaya redaksi serta menutup kesempatan peningkatan mutu. Andreas Harsono mengajak kita bersiap hadapi ancaman." - Lily Yulianti Farid, www.panyingkul.com, Makassar.
SEJAK INDONESIA MENGGANTI HINDIA BELANDA, media makin terpusat ke Jawa. Rezim Soekarno menutup semua media yang dianggap berpihak Belanda. Nama baru diciptakan: pers perjuangan. Soeharto menciptakan istilah baru: pers pembangunan. Wujudnya berupa konglomerat media.
Kini batas jurnalisme tumpang tindih dengan propaganda, hiburan, iklan, dan seni. Bias para wartawan, entah dengan negara, kebangsaan, agama maupun etnik, jadi biasa. Antologi ini mengumpulkan bermacam diskusi soal jurnalisme sejak jatuhnya Soeharto pada 1998.
SAYA KIRA, hanya wartawan sinting dengan sederet prestasi jurnalistik gemilang—pernah kerja di The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan Pantau (Jakarta), penerima Nieman Fellowship on Journalism Harvard University —seperti Andreas Harsono yang bisa bilang, “Agama saya adalah jurnalisme.” Pengakuan ini dalam artian sebenarnya, bukan sekedar kepentingan promosi buku atau pernyataan kelepasan tidak sengaja.
“Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang diambil.” Ucap Bill Kovach, penulis The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and The Public Should Expect, gurunya di Nieman Fellowship on Journalism Harvard University, yang kemudian hari dipakai oleh Harsono. “Kalau masih juga ditanya soal apa agama saya, saya akan jawab : agama saya adalah jurnalisme. Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat.” Jawab Harsono dalam interview bersama Novri, suatu sore, di Radio Utan Kayu.
Dalam dua hari saya berhasil melahap buku setebal 286 halaman ini. Buku ini memiliki empat bagian: (1) Laku wartawan, (2) Penulisan, (3) Dinamika Ruang Redaksi dan (4) Peliputan. Pembagian yang memang lazim dipakai dalam pendidikan jurnalisme.
Beberapa teori yang saya pegang selama ini runtuh sudah dibuatnya. Dulu di LPM Sukma saya diajarin bahwa wartawan harus independen, ditanyain itu apa, independen itu ya netral. Mas Andreas justru menulis, netral bukan prinsip jurnalisme! Independensi adalah semangat bersikap dan berpikir independen dari obyek liputan kita. Jika wartawan ingin beropini, silahkan, tapi di kolom opini. Dengan catatan, dalam opini pun jurnalis tetap memegang prinsip akurasi data dan semangat mengabdi kepada kepentingan masyarakat.
Tapi ada juga teori yang selama ini saya pegang, semakin dikuatkan bahkan menjadi keyakinan pasca membaca buku ini. Sejarah pers dunia mencatat, justru media yang berani, memiliki idealisme dan concern terhadap mutu jurnalismelah yang mampu menjadi institusi media yang prestisius bahkan menguntungkan, disegani oleh media lain dan sukses meraih kepercayaan pembaca. Contoh yang disebut Harsono adalah Atlanta Journal-Constitution, The New York Times dan The Washington.
Saya tercerahkan dengan penjelasan Harsono soal “kebenaran” dalam diskursus jurnalisme. Jurnalisme bicara soal kebenaran fungsional (atau kebenaran prosedural, menurut Sirikit Syah), bukan kebenaran filosofis.
Saya juga makin paham, kenapa byline dan firewall itu penting. Byline adalah bentuk transparansi media terhadap pembaca. Warning bagi jurnalis yang nulis dengan semangat asal jadi. Tapi juga membantu jurnalis dalam meniti kariernya. Siapa yang nulis bagus atau jelek, pembaca akan langsung tahu siapa orangnya.
Sedangkan Firewall untuk menjaga kepercayaan pembaca, memastikan koran yang mereka beli bukan ”berita pesanan”, dan wartawan paham yang ia tulis adalah ”berita jurnalistik sungguhan” bukan ”iklan lewat”.
Harsono juga memberi persfektip yang berbeda terhadap kasus Tempo Vs Tommy Winata, lebih menarik malahan ketimbang dari bacaan-bacaan yang selama ini saya dapatkan. Untuk kasus ini, Harsono menyatakan jurnalis bukan hanya bicara soal misi yang baik, tapi juga soal prosedur yang baik.
Ulasan Harsono terkait jurnalisme investigasi, sumber anonim, teknik wawancara, aspek penulisan, referensi kedua dan sejarah pers Indonesia juga sangat membantu.
Tapi juga menyentak, ketika Harsono bercerita dengan geram peliputan-peliputan di daerah konflik macam Acheh, Papua, dan Pontianak. Indopahit (mengikuti cara Mas Andreas menyebut Indonesia) ternyata menyimpan begitu banyak luka. Dan media turut berdosa karena menyembunyikan bahkan menyimpangkan fakta-fakta tersebut.
Agak ngeri juga saat Harsono mengupas seputar Media Palmerah. Ngeri karena, media-media besar di Jakarta yang memiliki oplah besar, nama besar, dan kepercayaan besar dari pembaca (termasuk saya) ternyata menyimpan dosa-dosa yang tidak sedikit dan kok, rasa-rasanya, sulit dipahami.
Sedang kritik saya untuk buku ini adalah Harsono masih melihat remeh terhadap media Islam dan wacana jurnalisme Islam. Juga terasa kurang tajam dan mendalam ketika melihat kasus terorisme yang selalu dikaitkan dengan Islam di Indopahit ini. Atau tragedi kekerasan yang sering dialihopinikan akibat faktor etnik-agama. Lupa menelisik lebih jauh, bahwa kezaliman pemerintah pusat dan eksploitasi korporasi asing di bumi mereka seringkali adalah faktor utama yang disembunyikan. Harusnya, Mas Andreas konsisten dengan slogannya, ”Analisis, analisis, analisis!”
Sisanya, adalah renungan-renungan yang mengasyikkan bagi saya pribadi. Ala kulli hal, ini buku bagus dengan konten yang ideal—dan saya dibuat sinis, bisa gak sih diterapkan di media Indopahit (hihihi). Bravo! []
Salah satu rujukan yg disarankan dibaca oleh pers mahasiswa saat masih bergiat di dalamnya dulu. Tentu saja buku ini tidak menawarkan kajian teoritis tentang prinsip dasar maupun nilai-nilai jurnalisme. Keduanya disampaikan melalui bahasa yg mudah dipahami dan penjelasan yg sederhana tapi tepat sasaran, tentu tujuannya adalah membuat isu ini dekat dan ikut direfleksikan oleh pembaca.
Saya sepertinya menemukan sosok patron yang ideal setelah beberapa kali membaca tulisan Andrea Harsono. Dari buku ini saya belajar banyak hal. Saking banyaknya sampai saya merasa butuh waktu untuk mengendapkan apa yang saya dapat selepas baca buku ini.
Harsono adalah jurnalis senior yang telah mengecap pengalaman bekerja di berbagai media baik dalam negeri maupun internasional. Selain itu ia adalah peneliti untuk Human Rights Watch. Tercatat juga sebagai penerima beasiswa jurnalistik idaman 'Nieman Fellowship' dari Universitas Harvard asal Indonesia yang ketiga pada tahun 1999. Pada kesempatan itu Harsono mengenal Bill Kovach -salah satu penulis kitab The Elements of Journalism.
Pertemuannya dengan Bill Kovach di sana sepertinya berperan besar dalam kelanjutan kariernya sebagai jurnalis. Pada buku ini terlihat seberapa besar rasa hormat dan kekagumannya kepada beliau. Yah reputasi seorang Bill Kovach memang sulit diragukan oleh siapa pun. Sering kali sosok jurnalis tersohor itu menjadi referensi utama Harsono dalam memandang persoalan-persoalan yang dibahas dalam buku ini.
Enaknya dari buku ini kita seperti tidak membaca manual 'How to be A Bla Bla Bla Reporter' yang bahasanya teknis nan ceriwis. Caranya menulis jauh dari kesan kaku. Padahal buat saya buku ini termasuk 'buku yang isinya ilmu semua.' Tapi kemampuannya menulis membuat buku ini sangat nikmat untuk dibaca. Menyesal rasanya tidak kenal buku ini lebih cepat..
Buku ini boleh jadi pijakan yang sangat berarti buat mereka yang belajar tentang jurnalisme -terlebih buat saya yang masih bergulat di bangku kuliah.
Buku ini memang tepat diberi judul 'A9ama Saya Adalah Jurnalisme'. Berisi kumpulan surat atau pun esai dari Andreas Harsono mengenai problematika jurnalisme, khususnya di Indonesia.
Membaca buku ini seperti mempelajari sejarah perkembangan pers dan jurnalisme Indonesia. Mulai dari aspek yang bersifat teknis, etis hingga kultur dikritisi Harsono melalui pedoman jurnalisme yang diwarisi oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.
Sekecil byline yang belum digunakan secara tertib hingga saat ini oleh media-media Indonesia, menjadi fokus yang ternyata mempunyai arti sebagai check and balance terhadap tulisan sang jurnalis.
Dinamika Ruang Redaksi menjadi bagian favorit saya di buku ini, utamanya dua tulisan berjudul 'Di Balik Ketegangan Indonesia-Singapura' dan 'Kecepatan, Ketepatan, Perdebatan'. Judul yang kedua menegaskan situasi ketika media cetak kalah secara efisiensi, namun mempertaruhkan dirinya pada kedalaman serta ketepatan berita.
Yang pertama begitu menarik, karena dua media dari dua negara mempunyai pembacaan dan sikap yang begitu kontras terhadap satu insiden, yaitu ditemukan dokumen terduga ancaman terorisme. Praktik narasumber anonim dijelaskan oleh Harsono secara detail agar mampu menjadi absah.
Sebagai seorang non-jurnalis buku ini tetap menarik karena memberikan wawasan soal bagaimana pers dan jurnalisme seharusnya menjadi milik rakyat dan publik.
Saya rasa jika ditarik sebuah garis penghubung, semua kumpulan tulisan Andreas Harsono di buku ini merupakan evaluasi untuk pers di Indonesia agar mulai menganut sembilan elemen jurnalisme dengan sebenar-benarnya. Sembilan elemen jurnalisme itu sendiri merupakan prinsip-prinsip dasar jurnalisme yang ditulis oleh Bill Kovac, jurnalis Amerika Serikat dengan reputasi tingkat tinggi.
Andreas Harsono pernah bekerja untuk beberapa media di luar negeri sekaligus memperoleh beasiswa Nieman Fellowship sehingga sempat memperoleh bimbingan langsung dari Bill Kovac. Oleh karena itu, tidak heran ia memiliki begitu banyak pengetahuan mengenai bagaimana kualitas pers di Indonesia seharusnya bisa menjadi lebih bermutu.
Makin bermutu jurnalisme dalam suatu masyarakat, makin bermutu pula masyarakatnya.
Karena saya tidak pernah belajar jurnalisme secara formal, tapi bekerja di bidang jurnalistik, bacaan ini sangat mencerahkan. Ada isu-isu standard yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, seperti fakta bahwa di Indonesia masih jarang media yang menggunakan byline. Ada beberapa artikel yang cukup menonjol karena membahas ras, apalagi karena saya juga Tionghoa seperti Andreas.
Buku ini sangat menarik, meskipun akan lebih baik bila Andreas mengikutsertakan pertanyaan orang yang jawabannya kemudian menjadi artikel di buku-buku ini. Ada beberapa hal yang repetitif, karena tulisan-tulisan di buku ini memang awalnya ditujukan sebagai standalone piece dan bukannya buku.
Siapa yang sebelumnya pernah punya impian menjadi jurnalis/wartawan/reporter? Buku ini bakal cocok buat profesi satu ini.
Selain membahas elemen jurnalisme yang sebelumnya ada 9 dan saat ini bertambah satu, penulis juga membubuhkan esai mengenai pengalamannya sebagai jurnalis, pendapatnya tentang jurnalis Indonesia, dan tanggapannya mengenai jurnalisme yang erat bersinggungan dengan politik.
Background sebagai jurnalis, gaya bahasa juga enak dibaca dan tata bahasanya juga manteb guys. Wkwk tapi bukan seolah baca berita gitu yes.
Bukunya padat dan banyak ilmu yang pembaca peroleh. Terimakasih kepada @awi_official dan Bapak @andreasharsono yang telah memberikan kesempatan untuk membaca buku ini.
Buku ini memaparkan idealisnya seorang wartawan itu bagaimana. Karena banyak sekali wartawan yang sebenarnya melakukan banyak kesalahan. Ditambah lagi media yang mendukungnya. Lewat paparan empat bab, penulis mengobarkan lagi semangat menjadi wartawan yang benar benar mencerahkan, membawa kebenaran dan berpihak untuk kebaikan.
Buku ini sangat bagus dibaca tiap tiap media dan tiap tiap wartawan Indonesia. Karena penulis sendiri adalah orang yang konsisten di bidang ini sehingga isinya sangat bagus, mendalam, dan ringan.
Buku Wajib setelah 9 Elemen Jurnalisme Bill Kovach. Ya Andreas Harsono merangkum berbagai teori, peristiwa dan analisis lewat bungarampai yang indah, ringkas dan bermutu.
Ketika selesai membaca buku ini, saya merasa jurnalisme di Indonesia salah kaprah. Selain isu bahwa media sangat tendensius, hal-hal sepele macam byline yang tidak dicantumkan dan ternyata karena pihak media yang masih belum mau mempertanggungjawabkan para wartawan mereka (karena dianggap kurang berkualitas), juga dipaparkan di sini. Andreas Harsono menjelaskan dengan cara yang mudah dipahami, cenderung santai bahkan terkadang lucu, apa adanya, dan mengalir. Mungkin karena buku ini merupakan kumpulan tulisannya dalam blog sehingga bisa menggunakan gaya bahasa seperti itu. Menurut saya, setiap wartawan maupun yang ingin menjadi wartawan dan bekerja di media wajib membaca buku ini. Bagi siapa saja yang bukan keduanya pun membaca buku ini mampu membuka wawasan yang bermanfaat.
Akibatnya, banyak cerita di belakang layar yang tak ditulis di negeri ini. Kau maklum saja. Mereka tak punya keberanian macam Pram dan Thukul. Mereka lebih takut ditegur redakturnya. Mereka ketakutan macam anjing sembunyi ekor di balik pantat. –hlm. 81
Sebagai mahasiswa jurnalistik dan seorang calon jurnalis, buku ini menjadi bacaan wajib. Andreas Harsono menguraikan secara lengkap (menurut saya) perihal berbagai macam hal terkait dasar hingga pengetahuan umum maupun detail mengenai jurnalisme. Hampir sebagian besar tulisannya mengaitkan dengan gurunya dari Universitas Harvard, yaitu Bill Kovach. Dia merupakan pencetus 9 elemen jurnalisme yang menjadi acuan prinsip dan esensi dari jurnalisme di berbagai belahan dunia.
benar-benar mencerahkan. Saya yang memang di disiplin ilmu yang juga mempelajari jurnalisme merasa mendapat banyak dari buku ini. Sangat baik buat anda semua, sekalipun anda buta jurnalisme. Karena di sini anda akan diajak bagaimana berpikir "putih". Anda akan dipinjami kaca mata canggih untuk melihat suatu hal dengan sudut pandang aneh dan unik, lebih canggih dari kacamata 3D! Yang jelas, Andreas Harsono cerdas mau menghadirkan ilmu yang dia punya tentang jurnalisme pada orang yang mau membaca buku ini, sekaligus menghadirkan Bill Kovach ke tengah kita yang mungkin belum mengenalnya. wow! it's really amazing book especially for you that want to know jurnalism.
Ini kumpulan tulisan seorang jurnalis yang bisa kita temukan lebih lengkap di blog pribadinya. Sangat bagus, karena nyata dan berdasarkan fakta. Bisa dibilang ini adalah kitab suci baru bagi para jurnalis yang serius ingin memajukan kesejahteraan masyarakat dengan menyampaikan berita yang penting dan benar. INI LEBIH BAGUS DARIPADA NGEBACA BUKU KODE ETIK JURNALISTIK!
Andreas Harsono seems to convert his blog articles into a hard printing book. To be honest, the long-written articles deserve being published in a book. Harsono explains his reason: regarding with his hobby to answer question in mailing lists, he eyes blog a convenience medium to widely publishing them.
"A9ama saya adalah jurnalisme" (or journalism is my faith) offers the readers a deep and real experience on how to comprehend nine elements of journalism founded by bill kovach and Tom Rosenstiel.
Buku yang mencatat perkembangan jurnalisme di Indonesia periode reformasi hingga pasca reformasi. Buku ini memberi sejumlah panduan dalam praktik jurnalisme media cetak, televisi, dan digital. Nyaman dibaca karena tidak berformat textbook ala buku kuliah jurnalisme. Salah satu panduan terpenting dalam buku ini adalah bagaimana mengelola pendidikan jurnalisme di Indonesia, sebab pendidikan jurnalisme adalah salah satu kunci meningkatkan mutu jurnalisme di Indonesia.
Ini buku bagus. Banyak ilmu yang bisa kita ambil setelah membaca buku ini. Tentang bagaimana "sulit"nya jadi wartawan. Tentang berbagai macam kejadian masa lalu di berbagai wilayah Indonesia dan dunia. Tentang Bill Kovach yang hebat itu. Tentang berbagai kejadian dalam pemberitaan dan sedikit sejarah berbagai media Indonesia. Kalau anda ingin jadi wartawan sepertinya buku ini harus anda baca ^_^
A very nice essay anthology. Dapat banyak perlajaran berharga tentang dunia jurnalistik dari sini. Wajar kalau mantan pimred media kampus dulu sangat merekomendasikan buku ini. Maaf kak, baru sempat dibaca beberapa tahun kemudian. :'D