Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bidik: Tragedi Selalu Memiliki Dua Sisi

Rate this book
Novel ini bercerita tentang Hendrik, Astari, dan Satrijo.
Hendrik adalah seorang seniman gagal yang kemudian menjadi pekerja kantoran yang frustrasi. Ia muak dengan kehidupannya sehari-hari yang habis digerogoti kemacetan, deadlines, dan rutinitas. Sebagai pribadi yang berminat
kepada seni, ia kemudian tertarik menekuni lomografi. Ia lalu mendapat inspirasi untuk mengadakan 'Proyek Lomotions': proyek lomografi yang memotret satu orang
yang sama di tempat yang sama setiap hari kerja. Melalui proyek ini Hendrik berharap ia akhirnya dapat menjalani kehidupan sebagai seniman dan bukan pekerja
kantoran.

Talent untuk proyek ini adalah seorang sekretaris cantik bernama Astari yang ternyata menyimpan cinta yang salah arah untuk seorang pekerja komunikasi pemasaran yang patah hati. Lelaki dengan kekecewaan tersebut bernama Satrijo.
Kisah hidup mereka kemudian berbenturan di satu titik, menghasilkan akhir cerita yang tidak pernah mereka bayangkan
akan terjadi sebelumnya.

Buku ini bisa dibaca online di sini:

http://books.google.co.id/books?id=Xh...

264 pages, Paperback

First published January 1, 2005

16 people want to read

About the author

Nugroho Nurarifin

2 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (10%)
4 stars
22 (26%)
3 stars
26 (31%)
2 stars
15 (18%)
1 star
11 (13%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Zul Guci.
11 reviews3 followers
February 18, 2016
bertele-tele, lihat review dibawah ternyata sama ama saya, banyak halaman di skip, Karena memang banyak penjelasan gak penting, hanya mengulang-ngulang. novel terburuk yg saya baca tahun ini
Profile Image for Hasan Fahri Pamona.
19 reviews6 followers
December 8, 2018
Style dengan dua sisi cerita seperti ini memang sangat menarik, meskipun sudah banyak diolah dalam fiksi Barat populer. Awalnya menarik, lalu sajian impresi tokoh-tokohnya langsung mengerucut pada bentuk yang sangat terasa seperti gaya Jack Kerouac. Ini pandangan subyektif, yang saya rasakan ya seperti itu.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan gaya Kerouac, seperti beberapa novel kita saat ini yang ke-Murakami-murakami-an. Hanya saja sayang bila premis cerita yang sudah mengambil eksekusi cerita berkeping dua ini hanya versi lain cara penuturan, deskripsi dan dengan dialog-dialog yang impresinya Jack Kerouac. Dan penggambaran kehidupan urban yang sangat tipikal, belum beranjak pada kedalaman gelapnya apa itu tragedi. Mohon maaf sekali lagi, ini rasa subyektif pembacaan saya.
Profile Image for Meita.
10 reviews23 followers
March 27, 2014
Penilaian subyektif sih ini, saya nggak terlalu interest sama ceritanya. Banyak yang sengaja diloncatin, biar buru - buru selesai baca dan sampe di ending. Dan pada akhirnya saya nggak tahu maksud cerita nya apa....

Yang saya tangkep sih, Astari itu tukang gonta ganti pacar, di puja banyak cowok karena ke-perfect-annya. Salah satunya, Satrijo yang cinta mati (beneran cinta mati, sampe matiii) sama Astari, tapi bertepuk tangan sendiri, *eh...
Setelah pada akhirnya mereka berada di jalan masing - masing, Astari ngambil side job, sebagai model seorang seniman gagal, yang punya side aim juga sama Astari.
Secara nggak sengaja, Satrijo ngeliat Astari ada di gedung seberang rumah yang juga kantornya.
Sekian hari Satrijo merhatiin Astari. Dan sekian hari itu juga Satrijo berencana membunuh sang pujaan hati. Psico...

Memang jarang ada yang bikin cerita kayak gini, cuman, lagi - lagi saya menilai secara subyektif yaaah, nggak berkesan buat saya...

:(
Profile Image for Pangi Marpaung.
29 reviews9 followers
March 25, 2018
Banyak penjelasan yang mubazir. Suramnya memang terasa disuram-suramin. Semestinya dalami aja penokohannya tanpa perlu dijelasin suram, gelap yang jadi malah terasa maksa suramnya. Konsep yang bagus dengan eksekusi yang kurang kena. Saya suka sampul bukunya, pas, keren buat konsep buku dua arah penceritaan ini.
Profile Image for Ramdani Tonga.
43 reviews4 followers
September 25, 2022
Saya pikir ini terjemahan karya Jack Kerouac. Ternyata novel asli orang Indonesia.

Bentuk penyajian kadang bisa membunuh cerita, dan novel ini terlalu mementingkan efek sudut pandang ketimbang kedalaman cerita. Efek psikis datar, terbunuh dgn stylish yg kurang mencapai titik sasaran cerita.
Profile Image for Devi Balfas.
42 reviews10 followers
November 30, 2015
"Aku adalah elang, makhluk kesepian pengembara gurun-gurun asing, tertempa teriknya mentari dan keringnya badai-badai pasir. Aku bangga untuk melihat bahwa elang adalah burung pemberani, tetapi juga sedih karena elang mengelanai langit, hanya seorang diri."

***
Aku sangat sangat dan sangaaat mau untuk bisa suka buku ini, memang sih plot nya menarik tapi tetap aja alur yang menggantung itu bukan seleraku samasekali, agak kecewa sih, padahal waktu awal baca ada banyak "percikan-percikan" rasa yang buat jadi nggak bisa berhenti buat baca, but sadly, KENAPA? KENAPA? KENAPA CERITANYA HARUS BEGINI?!

WHY DID YOU DO THAT?!

description

Dari awal ceritanya sudah suram banget tapi masih bisa di maklumi, kupikir semakin dibaca bakalan jadi semakin baik tapi justru malah kebalikannya, jadi apa? kecewa banget, padahal aku suka gaya penulisannya, jadi kelanjutannya gimana? proyeknya Hendrik berjalan atau gimana? *sigh*

jadi nggak niat untuk baca apa-apa lagi habis selesain buku ini, nge stuck mikirin ceritanya dan itu menyebalkan.

baiklah, setelah menulis review ini aku akan mendekam di balik kegelapan dan merenungi semua kebodohanku karena turut bersedih dengan ending atau apalah cerita ini. done.

(my actual rates > 2.5)
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
October 30, 2014
Seandainya bagian Satrijo dan Astari nggak membosankan seperti bagian Hendrik, mungkin gue kasih empat bintang deh.
Profile Image for Riski Oktavian.
473 reviews
July 13, 2025
Buku ini cukup unik dan yang menjadi salah satu hal aku akhirnya memutuskan untuk pinjem dari perpustakaan kampus. Karena secara fisik, buku ini tuh dibagi menjadi dua bagian di mana diprint secara terbalik untuk bagian keduanya. Jadi semacam 2 volume buku yang dijadikan satu namun dengan tampilan fisik yang berbeda. Dan di sini mungkin aku akan review singkat dari per bagian.

Untuk bagian satu: Bercerita tentang seorang lelaki bernama Hendrik yang merasa hidupnya gagal. Semua hal yang dilakukannya gagal dan dia merasa jenuh dengan kesehariannya sebagai pekerja kantoran. Kehidupan rumah tangga nya pun berantakan dalam arti sesungguhnya. Hingga suatu ketika dia mulai menjalankan sebuah proyek fotografinya dan mengambil seorang talent bernama Astari.

Untuk bagian kedua: Bercerita tentang seorang lelaki bernama Satrijo yang baru saja pindah tugas untuk bekerja di sebuah perusahaan di Pontianak. Awalnya semua baik-baik saja karena dia semacam mendapat penawaran ke jabatan yang lebih tinggi, hingga akhirnya dia bertemu dengan wanita yang dulu sempat menjadi incarannya dan sudah tidak ada kontak selama 6 tahun. Lama kelamaan pun perasaan lama muncul kembali. Dan wanita yang dia sukai itu bernama Astari.

---

Awalnya ketika membaca bagian satu aku suka pake banget karena nuansanya sungguh kelam, dark, dan kita bisa melihat bagaimana abu-abu nya suasana di bagian ini. Ditambah dengan adegan yang cukup bikin melongo di beberapa part yang benar-benar membuatku sampai bingung harus bereaksi seperti apa lagi. Uniknya, hasil foto dari tokoh Hendrik ini juga dilampirkan di tengah-tengah halaman yang membuatku merasa ini bukan novel melainkan benar-benar kisah nyata dari seseorang.

Namun ketika membaca bagian kedua, aku juga mengharapkan sebuah kisah yang gelap dan kelam namun yang ada hanyalah kisah "romansa" tentang bagaimana Satrijo yang ingin sekali menjalin hubungan kekasih dengan Astari yang tidak kunjung terbalas yang akhirnya membawanya pada sebuah perasaan balas dendam.

Aku juga merasa bagian kedua ini tuh endingnya udah ketebak banget tapi penulisnya sudah keburu menjadi yapper final boss jadinya bagian kedua ini sangat amat banyak hal-hal yang menurutku nggak penting untuk dimasukkan ke dalam sebuah cerita. Like, i don't even care setiap pagi kamu makan donat dan kopi dari Starbucks sambil baca majalah meanwhile asisten rumah tangga kamu di belakang lagi cabutin rumput. Who cares gituloh.

Kalau bisa dirating satu per satu jujur aku jauh lebih suka yang bagian pertama karena benar-benar menyisakan kesan yang merinding. Sementara bagian kedua cuma kayak lelaki yang kecintaan dan puber part dua di masa hidupnya.

Karena ketolong bagian pertama aku masih bisa kasih buku ini 3 dari 5 bintang. Mungkin kalau aku jahat bisa aku kasih 1 bintang.
Profile Image for Robi Manulang.
15 reviews4 followers
September 25, 2022
Konsep dua POV yang membahas satu peristiwa bukan hal baru; Pada Sebuah Kapal sudah mengawalinya. Novel ini sebenarnya sangat menarik, di mana ada pencapaian cerita anak muda dengan bahasa bertendens sastrawi. Pola ujaran dibuat masa kini, tapi pencapaian narasi secara umum sastra. Novel ini sangat menarik. Hanya saja, Jack Kerouac sangat terasa di sepanjang novel ini. Sisi-sisi kebahasaannya sangat Kerouac. Mengapa editornya enggak protes ya, saat membaca drafnya, supaya penulis novel ini bisa me-rework naskahnya yang sudah memiliki cerita yang menarik, sehingga memunculkan identitasnya sendiri?
Profile Image for Silvia Anugrah.
5 reviews
February 12, 2022
Kedua kalinya membaca sampai rampung. Pertama baca sekitar 13 tahunan yang lalu dan beda ya feel-nya. Sekarang lebih berasa kalau ceritanya terkesan bertele-tele, banyak yang diulang, apalagi sumpah serapahnya. Sampai sempet beberapa kali ngerasa membaca halaman yang sama ternyata bukan, emang sama aja kalimat-kalimatnya.

Tetep berkesan sih sama konsepnya. Tapi mungkin memang sudah ga sesuka itu dengan genre ini.
Profile Image for Shyttha Wattimena.
26 reviews2 followers
Read
October 29, 2022
Cerita dari dua sudut pandang dalam satu peristwa yang sama sebenarnya sebuah sensasi cerita yang menarik, hanya saja cara menulisnya terlalu Jack Kerouac. Sebagai sebuah produk, buku ini dikemas dengan desain yang sangat menarik. Ilustrasi yang berselera, transedensi -lomo, dan pikatan sketsa yang berselera. Tapi ini novel ya. Tetap saja ceritanya yang harus jadi 'hero'-nya. Saya sangat menunggu karya terbarunya. Yang bukan lagi Jack Kerouac-nya Indonesia.
Profile Image for Truly.
2,771 reviews13 followers
November 30, 2025
Ternyata punya buku ini sudah lama, dan baru sadar belum dibaca saat bongkar-bongkar rak hari ini.

Memotret orang/hal yang sama selama 1 tahun dengan posisi dan tempat yang sama,velakang ramai lagi karena ada yang sampai dibayar sangat mahal untuk fotonya.

Beberapa kali harus menahan emosi karena membaca narasi panjang yang tak penting.

Buku yang dicetak dengan 2 sisi ini, masih menawarkan hal yang unik untuk dikoleksi, terlepas bagaimana isi kisahnya.
Profile Image for Gustav Gustav.
41 reviews3 followers
January 1, 2018
Interesting plot. I should say that Nugroho Nurarifin always have creative style in create his story. I know the ending might be too dark and as I read over again, I might have another point of view. Especially what's in killer's mind. And Satrijo and Astari unhappy ending is an epic..
1 review
August 7, 2017
saya baca waktu awal SMP dan saya sangat suka. Entah jika sekarang dibaca ulang rasa-nya masih sama.
Profile Image for Ihwan.
Author 11 books11 followers
June 15, 2011
Keunikan dari buku ini adalah adanya dua sisi, baik itu dari sisi cerita namun juga bentuk fisiknya. Jadi sebelum Andrea Hirata menulis Dwilogi Padang Bulan/Cinta Dalam Gelas yang dibaca dari sisi depan dan belakang, Nughoro sudah memulainya terlebih dahulu.

Sisi 1: Lomotion
Sisi pertama bercerita tentang Hendrik, seorang pria muda yang merasa memiliki bakat seni namun harus terperangkap dalam kehidupan yang tidak disukainya. Dia bekerja di bidang yang sama sekali bukan impiannya, melakukan tugas rutin yang membosankan dan mempunyai bos pemarah. Di rumah nasibnya tak lebih baik, dia terperangkap dalam pernikahan dengan wanita yang tak pernah dia cintai dan tak pernah menghargainya sebagai suami.
Sampai kemudian Hendrik berkenalan dengan dunia Lomography. Setelah belajar dan melakukan beberapa percobaan yang hasilnya bagus dia mendapat inspirasi untuk membuat sebuah proyek seni yang menurutnya akan melejitkan namanya. Dalam proyek itu dia akan memotret objek yang sama, di tempat yang sama selama 22 hari. Untuk mewujudkan ambisi seninya, dia memasang iklan pencarian model di koran dan mendapatkan seorang sekretaris cantik yang mau menjadi modelnya, bernama Astari Wirjono.

Sisi 2: Loco Motive
Sisi kedua bercerita tentang seorang pria (tidak disebutkan namanya oleh sang penulis) yang begitu mencintai teman kerjanya, yaitu Astari Wirjono. Pria ini seseorang yang baik, mencintai dengan tulus dan sepenuh hati namun entah mengapa Astari tak pernah mau membalas cintanya. Meskipun begitu cintanya pada Astari tak pernah luntur, dia rela terluka dan merana demi cinta sejatinya itu.
Selain pecinta yang merana, di sisi kedua ada tokoh lainnya yang diceritakan sedang berlatih menembak. Sang penembak ini hanya mendapat porsi cerita yang sepotong-sepotong, menceritakan proses dari belajar hingga mahir menembak.

Penghubung antara sisi 1 dan sisi 2 adalah Astari Wirjono dan fungsi dari dua benda yang ada pada cover sisi 1 dan 2: kamera dan pistol yaitu untuk mem-Bidik, sesuai dengan judul bukunya.

Dari segi penulisan, Nugroho berhasil membawa atmosfer yang berbeda di kedua sisi tersebut. Dalam sisi pertama tokoh utama yang kecewa dengan hidupnya selalu saja mengucapkan cacian dan makian, entah itu pada istri, bos atau kejadian-kejadian yang membuatnya tak senang. Sedangkan dalam sisi kedua tokoh utama yang menderita karena cinta membawa suasana yang romantic sekaligus merana. Sedangkan pada tokoh yang berlatih menembak, ada kesan misterius yang membuat pembaca bertanya-tanya untuk apa dia berlatih menembak.

Yang jelas, novel ini bernuansa agak suram tapi mempunyai ending yang cukup mengejutkan. Saya acungkan jempol atas ide kreatif penulisan dan pencetakan buku dengan dua sisi ini.
Profile Image for Fauza.
136 reviews1 follower
December 15, 2011
Suram. Itu kesan yang saya dapat waktu membaca buku ini. Ini buku konsepnya mirip seperti dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas nya Andrea Hirata. Jadi, dalam satu bundle buku ada dua cerita.

Bidik, sisi 1, judulnya lomotions, digambarkan dengan kamera, dan Bidik, sisi 2, judulnya locomotive, digambarkan dengan pistol. Saya rasa maksud yang ingin disampaikan oleh penulis, kamera dan pistol kedua-duanya digunakan untuk membidik, well, sesuai dengan judulnya Bidik.

Anyway, cerita pertama, tentang seorang Pria bernama Hendrik, seorang pekerja kantoran yang dililit hutang, Hendrik juga dikenal sebagai seorang seniman gagal. Ia mati-matian berusaha untuk keluar dari hidupnya yang seperti "taik anjing" dengan bermodalkan kamera Holga, ia berusaha menciptakan sebuah karya seni, yang ia yakini mampu merubah hidupnya.

Cerita kedua, tentang seorang tokoh bernama Satrijo yang jatuh cinta dengan seorang gadis, tapi selalu bertepuk sebelah tangan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membunuh gadis itu.

Kedua cerita, sisi 1 dan sisi 2, dihubungkan oleh seorang gadis bernama Astri. Wanita yang menjadi model poto Hendrik di cerita pertama, ternyata adalah wanita yang mati-matian dicintai Satrijo di cerita kedua.

Ide cerita yang coba ditawarkan penulis sudah cukup menarik. Cuma yah, saya rasa ini masalah preferensi saja, saya gak suka sama buku yang di dalamnya banyak kata-kata negatif, maki-makian, atau hal-hal yang berusaha untuk menyakiti atau menyalahkan diri sendiri. Well, lain hal, kalau memang itu buku horor atau kriminal. Selain itu, buku-buku seperti itu selalu saya kategorikan sebagai "buku suram". Dan menurut saya, salah satu buku suram bin tragis, adalah buku Bidik ini. Di cerita pertama misalnya, banyak kata-kata kasar dan makian yang keluar dari mulut Hendrik,makian terhadap istrinya dan juga hidupnya. Nah, kalau dicerita kedua, memang kata-kata kasar tidak terlalu banyak dijumpai, tapi saya gak suka sama si tokoh Aku, aka Satrijo yang selalu mencoba melukai dirinya dengan benda-benda tajam, ketika Astri tak kunjung menerima cintanya. Kurang suram apalagi coba?
Profile Image for Zaldi.
57 reviews5 followers
October 5, 2011
Seperti Judulnya, Bidik mempunyai dua halaman muka bolak balik, karena itu tidak ada review yang bisa dibaca di sampulnya, untuk mencari tau isi buku. untung ada sample yang sudah dibuka :b, yang menarik minat saya dari buku ini adalah jarak antara paragrafnya pendek pendek! ini yang membuat mata ngga cepet lelah dibanding harus membaca buku yang rentetan tulisannya ga ada jeda seperti tembakan peluru.

Sisi pertama dari Bidik! Lomotions
bercerita tentang Hendrik, yang suka sekali mengumpat dan berfantasi seksual, Ha! Hendrik seorang karyawan di sebuah kantor pemasaran, yang terjebak dengan rutinitas dan seringkali mengalami gagal karir. Saat ia merasa hidupnya terus menerus dihimpit, dirumah oleh isteri yang tidak ia cintai, tapi terpaksa ia nikahi, dan dikantor oleh pekerjaan dan atasan yang menyebalkan, Hendrik menemukan kalau Lomografi adalah jalan keluar yang bisa merubah hidupnya!
disini saya baru tahu kalau lomografi adalah tehnik memotret denga kamera Lomo Kompak Automat, tanpa mengikuti pakem pakem fotografi pada umumnya, Dont think, just shoot!

Sisi kedua dari Bidik! Loco Motive
Tentang seorang pria lain bernama Satrijo, yang berkerja sebagai Advertising and Promotions Manager di Kalimantan. Seluruh bagian kedua dari buku ini cukup simple, tentang kisah percintaan sang tokoh yang tidak berjalan mulus, bagaimana ia begitu sangat mencintai wanita, yang sayangnya tidak menaruh perasaan apa apa, selain menganggapnya sebagai teman dekat.

Lalu apa yang menghubungkan kedua cerita diatas? ya, jawabnya : Wanita yang sama! kalau Hendrik memBIDIK! dengan kamera Loco nya, Satrijo memBIDIK! dengan senjata api. Endingnya berakhir suram, tapi untuk ukuran buku seharga 5rebuan (dapet dari obral gramedia :) buku ini cukup mengesankan!
Profile Image for Tomi Pakei.
54 reviews2 followers
August 31, 2013
Dua kisah, sekeping pilihan
Terbagi dalam dua bagian, 'Bidik' membawa kita ke dalam 'dua cerita dari sekeping mata uang'. Bagian pertama fokus tentang 'manusia dan mimpinya' (pelarian, pencarian, juga angan). Bagian kedua tentang 'manusia dan realitasnya' (sesuatu yang suka tidak suka harus dihadapi--tidak bisa menghindar lagi).

Dan lihatlah bagaimana di satu sisi, betapa merdekanya kita--tak peduli sekalut apa pun situasi, selalu ada jalan keluar (melalui lomography, misalnya).

Akan tetapi di sisi lain, dibolak-balik toh kita tetap merupakan bagian dari suatu design yang lebih besar (in the big picture, we're just a piece of the puzzle)--jadi semenggebu apapun angan dan harap, kita perlu bijak dalam memilah dan menjalaninya (saat mimpi-mimpi kita bertabrakan dengan mimpi orang lain).

Dua kisah, dua tone yang berbeda. Paling tidak dari aspek itu, apa yang sudah dilakukan Nugroho mengesankan.
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
January 25, 2012
Suram? hell yeah! Itu yang bikin aku suka ama buku ini, dan bikin banyak orang kurang suka. Cerita dari sudut pandang lebih dari satu orang kaya'nya emang ciri khas sang penulis, Nugroho Nurarifin. Ini buku kedua yang aku baca setelah So real/ Surreal yang juga bersudut pandang dari lebih dari satu orang.

Cerita dalam buku ini sebenernya ga rumit sih, cuma karena suram itu tadi jadi beberapa orang kurang bisa memahami. Aku sih suka cerita yang dibawanya. Overall, buku ini deserve more stars daripada yang dikasih orang-rang :D
1 review
September 12, 2014
I never like bitter, dark story but this one is different. Yes, it is a (very) bitter story BUT the way the author tells the story is really interesting. It makes me doesn't want to stop reading. Not many book can make me do that, and this one really "hypnotize" me from the first word till the last one.
Profile Image for Satrio Dirgantoro.
11 reviews
March 25, 2018
NOVEL Indonesia pertama yang gw baca, ga terlalu inget detail ceritanya tapi suka liat dri dua sisi gitu, tamatnya engga ketebak.
Profile Image for Tri Tanto.
33 reviews
May 27, 2018
Dua peristiwanya nyaris tdk konsisten. Btw gaya dan cara penuturannya mirip Ika Natassa
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.