Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mama, Aku Harus Pergi

Rate this book
Regina adalah seorang gadis kecil imut-imut yang jenius dan tergila-gila bermain dengan kosakata bahasa Indonesia. Mamanya, Carissa, adalah perempuan muda yang baru bercerai dan sering stres. Regina selalu berusaha mencari cara-cara jenaka yang terkadang ‘sok tahu’ untuk membuat mamanya tersenyum.

Seorang anak gelandangan bernama Ratna sering mendatangi rumah mereka. Ratna yang pin pin bo (pintar-pintar bodoh ) dan nyaris tidak pernah mandi ini akhirnya menjadi sahabat Regina.

Sementara itu, Moris, mantan suami Carissa, adalah pemabuk yang telah kalah dalam kehidupan tetapi tidak ingin menyerah untuk satu hal, yaitu merebut keluarganya kembali.

Namun Carissa hanya dapat melihatnya sebagai laki-laki pecundang dengan minuman keras di tangannya. Regina yang terjepit di antara masalah orangtuanya berusaha mendamaikan mereka. Masihkah ada harapan di tengah kemustahilan? Sementara tragedi dan sukacita segera datang sebagai satu paket bagi keluarga yang tengah menjalani cobaan ini.

166 pages, Paperback

First published September 1, 2010

20 people want to read

About the author

Damien Dematra

39 books9 followers
Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 41 novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia, 50 skenario film dan TV series, dan memproduksi 26 film dalam berbagai genre. Sebagai fotografer, ia meraih berbagai puluhan penghargaan internasional, di antaranya International Master Photographer of the Year. Damien Dematra juga telah menghasilkan 365 karya lukis dalam waktu 1 tahun. Selain Demi Allah, Aku Jadi Teroris, novel-novel lain karya Damien Dematra yang telah diterbitkan di Indonesia adalah Soulmate-Belahan Jiwa, Angels of Death-Kumpulan Kisah Malaikat Maut, If Only I Could Hear-Kisah Suara Hati. Dua novel lainnya yang menggunakan nama lain adalah Tarian Maut (Katyana) dan Ku Tak Dapat Jalan Sendiri (Mark Andrew). Sebagian karya-karyanya dapat dilihat di www.damiendematra.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (18%)
4 stars
7 (31%)
3 stars
2 (9%)
2 stars
5 (22%)
1 star
4 (18%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
334 reviews37 followers
October 27, 2011
Cover yang lucu dan eye catching tentu saja yang membuat saya memilih buku ini menjadi teman perjalanan saya di kereta. Sinopsisnya ringan, seharusnya saya bisa menebak dari sana. Sayangnya, saya memilih untuk meneruskan membaca buku ini demi sebuah cover, dan taddaaa! saya kecewa.

Alasannya?
1. Susah bagi saya membayangkan gadis kecil umur 8 tahun bersikap sok dewasa dan sok "pinter". Iya emang, dalam sinopsis, si Regina gadis kecil ini sudah jelas disebutkan bahwa dia adalah seorang yang jenius kosakata (?). Cuma menurut saya, agak ngga make sense aja anak kecil suka ngomong gini "Lagi Feeling Blue nih" (hal. 125) atau berkesimpulan seperti ini

Regina masih mempertahankan wajah mamanya. Kelihatanya wajahnya agak bengkak. Make-upnya sudah sangat tipis, sekana-akan sudah dihapus, padahal kalau melihat cap merek di toko plastik belanjaan mamanya, ia pergi ke mall yang besar. Regina yakin, mall sebesar itu tidak mungkin mati AC-nya. Lagipula kulit mamanya tidak berminyak. Make-up nya hanya hilang dan wajahnya agak bengkak. Mama habis menangis, pikir Regina.

Well,paragraf yang cukup panjang untuk menjelaskan bahwa Regina menduga mamanya habis menangis karena matanya bengkak. Oh wow, mungkin jaman saya kecil dulu saya masih bodoh banget ya, ngga tau kalau jaman sekarang anak kecil udah bisa berpikir seperti itu...

2. Ratna, di sini berperan sebagai anak jalanan yang tidak pernah mengecap pendidikan sekolah dan tidak bisa baca tulis. Bahkan dia ngga tahu bahwa kotak ajaib yang bisa menampilkan bermacam-macam gambar itu bernama TV.

"Dalam kotak yang bisa bersuara dan bergambar," Ratna berkata dengan penuh kemenangan.
Regina mendesah. "Maksud kamu TV?"
Ratna menatap Regina "TV? Oh.. kotak itu namanya TV ya?" (hal. 64)


Namun secara mengejutkan (sekali lagi bagi saya), Ratna ini ternyata bisa mengatakan kalimat-kalimat puitis lho (which is, sebagai anak jalanan yang tak bisa baca tulis, saya ngga tau darimana dia dapat kata-kata seperti ini)

Aku akan pergi kemana kaki membawaku (hal. 106)

Saya yakin ada penjelasannya, hanya saya saja mungkin yang belum tahu jawabannya.

3. Sebenarnya agak aneh bagi saya, seorang anak kecil seperti Ratna yang bener-bener sendirian tanpa keluarga, terdampar di sebuah kota yang ia tak pernah tahu, dan harus bertahan hidup. Saya bukan menyangsikan kemampuan bertahan hidup dan insting alami manusia. Yang saya maksud adalah, jika Ratna bekerja sebagai pengemis (saya asumsikan di Jakarta) saya pikir mustahil kalau hidup Ratna "aman-aman saja". Ngga penting sih sebenernya membahas poin ini, namun menurut saya seharusnya hidup Ratna ngga terlalu mudah seperti itu. Just my two cents.

4. Inkonsistensi kata ganti orang.
Ngga masalah jika dalam sebuah percakapan, si tokoh menggunakan kata ganti "Kamu" dan "elo/elu/lu". Bahkan menurut saya, kata ganti nonformal akan membantu menghidupkan suasana yang sebenarnya. Sayangnya, dalam beberapa percakapan antara Ratna (si anak jalanan) dan Regina (si gadis kaya nan imut-imut dan jenius) seringkali berubah dari "kamu" menjadi "elu" dan kemudian menjadi "kamu-aku" lagi. Buat saya, ini mengganggu banget.

5. Konflik yang kurang greget.
Oke, emang si Regina kecil dan Mamanya ini punya masalah dengan Moris, ayah dan suami pemabuk yang sedang dalam proses perceraian. Regina berusaha menjadi sosok seorang "ibu" bagi Mamanya, dan Mamanya yang gampang senewen ini merasa tenang dengan kehadiran Regina. Perannya ngga kebalik ? Mungkin di situlah letak konflik yang ingin dihadirkan oleh penulis. Sayangnya, buat saya konflik ini FAIL banget. Saya ngga dapat feelnya. Maaf, tapi menurut saya konflik yang dibangun masih dangkal dan kurang dieksplorasi.

6. Beberapa adegan flashback di (hampir) setiap bab membuat saya inget sama sinetron. Serius. Tiap ada kejadian apa, pasti tiba-tiba si tokoh keinget kejadian beberapa tahun laluu.... Dan gara-gara inilah saya tahu kalau novel ini ada sudah difilmkan(entah filmnya atau bukunya dahulu, saya kurang tahu). Pantas saja. Membaca buku ini layaknya membaca skenario sinetron dengan percakapan yang ngga natural dan kelihatan maksa banget.

7. Typo
Ganggu banget. Paling banyak yang saya temui adalah hilangnya tanda petik (") di awal kalimat langsung. Dan ini saya temui di hampir sepanjang buku. Untuk kesalahan ejaan, untungnya (sepanjang pengetahuan saya) ngga ada.

8. Sebenernya ini ngga terlalu materiil sih. Saya menghormati imajinasi dan pendapat penulis. Namun saya agak merasa gimanaaaa gitu ketika penggambaran adegan arwah yang bangkit setelah kematian, kemudian bertemu dengan orang-orang yang berpakaian serba putih, dan bahkan salah satunya bernama Rita. Duh, buat saya, nama seorang malaikat (jika memang yang dimaksud dengan makhluk itu adalah malaikat) seharusnya bisa lebih baik daripada Rita. Bukan berarti nama Rita jelek, tapi itu kan sangat manusia. Well, this is just my opinion sih.

Sebenernya, jika saya tak mengindahkan semua poin-poin di atas, novel ini menarik kok. Apalagi covernya imut. Dan sepertinya yang akan memerankan Regina adalah gadis kecil yang lucu. Sayangnya, yah, well, ehm... yah... *speechless*

Profile Image for Dodi Prananda.
Author 18 books41 followers
April 8, 2015
Buku ini sudah membosankan sejak kalimat pertama.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.