Jump to ratings and reviews
Rate this book

Negeri 5 Menara #2

Ranah 3 Warna

Rate this book
Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.

Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah?

Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: "Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?" Hampir saja dia menyerah.

Rupanya "mantra" man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat "mantra" kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya?

Ke mana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian dan Michael Jordan dan Kesatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?

Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa tak berkesudahan. Tuhan sungguh bersama orang yang sabar.

473 pages, Paperback

First published January 25, 2011

360 people are currently reading
4584 people want to read

About the author

Ahmad Fuadi

22 books1,426 followers
Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau , tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah.

Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.

Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”, siapa yang bersungguh sungguh akan sukses.

Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.

Semasa kuliah, Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada. Di ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship. Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, Tempo menerimanya sebagai wartawan. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.

Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo—adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.

Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.

Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro, Jakarta. Mereka berdua menyukai membaca dan traveling.

”Negeri 5 Menara” adalah buku pertama dari rencana trilogi. Buku-buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Semoga buku ini bisa membukakan mata dan hati. Dan menebarkan inspirasi ke segala arah.
Setengah royalti diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.

Untuk informasi lebih jauh, silakan klik www.negeri5menara.com, http://fuadi.multiply.com, http://duotravelers.wordpress.com,htt... dan laman Facebook penulis http://www.facebook.com/ahmad.fuadi1

Untuk menghubungi penulis, silakan email ke negeri5menara@yahoo.com .
Atau add "Ahmad Fuadi" di Facebook dan follow "fuadi1" di twitter

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3,438 (42%)
4 stars
3,014 (37%)
3 stars
1,294 (16%)
2 stars
218 (2%)
1 star
74 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 600 reviews
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
January 27, 2011
Repiu versi 1
-------------------

Jakarta, 20XY

Matahari masih berada dalam peraduannya. Saat ini, bulanlah yang terlihat berkuasa di angkasa. Di sebuah kamar nyaman, wanita paruh baya terlihat gelisah di tempat tidur. Sudah sejak tadi ia berusaha pergi ke alam mimpi, namun tak juga berhasil. Entah kenapa ia yang biasanya gampang terlelap, kali ini susah sekali memejamkan mata.

Bosan berada di tempat tidur, wanita paruh baya itu segera mengambil baju hangat dan berjalan keluar kamar. Tujuannya sudah jelas, menuju daerah kekukuasaannya, perpustakaan pribadi yang berada di bagian lain dari rumah induk

"Malam eh pagi grandnie” suara petugas keamanan melalui pengeras suara terdengar santun. Wanita paruh baya yang dipanggil grandnie itu melambaikan tangannya. Rupanya si petugas melihatnya berjalan dan memberikan sekedar sapaan. Beberapa bagian rumah dan lingkungan tempat tinggal itu memang dipasang cctv sehingga memudahkan kerja petugas keamanan. Maka bukanlah hal yang mengherankan jika petugas pengaman bisa melihat perjalannya dari kamar tidur menuju perpustakaan pribadi padahal saat itu pukul 2 dini hari.

Setelah sampai di depan perpustakaan, Wanita paruh baya itu tidak segera masuk ke dalam.. Ia memandangin sisi luar perpustakaan dengan perasaan sayang. Saat ini putra tunggalnya merenovasi perpustakaan pribadi itu sebagai hadiah ulang tahunnya. Tidak saja melengkapi keamanan super canggih, ruangan anti api, interior luar dan dalam juga mendapat perhatian. Perpustakaan itu menjadi tempat yang sangat aman dan nyaman.

Tak tahan dinginnya udara, wanita paruh bergegas masuk setelah menekan nomor kombinasi. Ia lalu menutup pintu dan menekan kode kunci dari dalam. Saat itu ia menginginkan kesendirian. Dipasangnya penghangat ruangan sesaat sebelum ia menuju lemari kaca terkunci yang ada dalam perpustakaan. Lemari itu juga dilengkapi dengan pengaman super canggih.

Lemarinya memang hanya lemari jati biasa, namun isinya yang sungguh luar biasa. Di dalam lemari itu tersimpan aneka buku-buku antik dan atribut pelengkapnya. Ada buku yang dikoleksinya sejak masih di sekolah dasar, buku dengan tanda tangan penulis, serta buku-buku edisi pertama. Sudah banyak pedagang buku antik yang merayunya merelakan isi lemari untuk dilego. Lemari itu jarang dibuka, kecuali saat ia melakukan ritual memberi hadiah buku yang diambil dari lemari itu bagi cucu kesayanganya, saat ada yang meminjam untuk pameran, atau untuk dipinjamkan bagi segelintir sahabat terpercayanya. Dan keadaan khusus seperti saat itu

Entah kenapa, saat itu ia ingin membaca ulang koleksinya yang berada dalam lemari itu. Matanya menyapu seluruh isi lemari dengan pandangan kasih sayang. Dipilihnya beberapa buku lalu dibawanya ke sofa yang ada di tengah ruangan. Wanita paruh baya itu duduk dan mulai membaca , namun baru beberapa saat ia sudah menutup buku itu dan menggantikannya dengan buku lain. Tapi buku itu pun kurang menarik perhatiannya.

Sebuah ketukan halus dipintu dirasa mengganggunya, hampir saja ia memarahi orang yang mengganggu ketenangannya di pagi buta. Ternyata wajah di balik kaca adalah wajah cucu kesayangannnya, wajah calon pewaris perpustakannya Wajahnya sesaat terlihat cerah . Sang cucu memberikan kode memohon ijin untuk masuk. Wanita paruh baya itu bergegas berdiri dan membukakan pintu

“Malam eh pagi grand” sapa sang cucu sambil melangkah masuk

“Tidak bisa tidur juga? Tadi saat mau ke halaman depan, Satpam cerita kalau grandnie belum lama pergi ke perpustakaan” sambung sang cucu .

“Kamu juga tidak bisa tidur, kenapa ?” Wanita paruh baya itu balik bertanya.

Sang cucu kesayangannya itu hanya tersenyum malas sambil duduk di sofa ”Sebentar lagi pendaftaran sekolah dimulai. Aku harus memutuskan akan melanjutkan kemana. Tetap tinggal di rumah atau masuk sekolah berasrama, lalu sekolah yang mana. Semakin banyak brosur yang aku dapat, semakin aku pusing memilih. Papi dan mami punya harapan yang berbeda. Walau mereka tidak memaksaku untuk menuruti kemauan mereka, namun dari wajah dan cara bicara mereka aku tahu, aku diharapkan memenuhi harapan salah satu dari mereka. Aku jadi pusing dan susah tidur” keluh cucu kesayangannya panjang lebar

Wanita paruh baya itu hanya tersenyum. Tangannya menarik salah satu buku dari tumpukan di atas meja dan memberikannya kepada sang cucu, yang menerimanya dengan bersemangat. Untuk urusan buku, cucu dan nenek itu memang sangat kompak. Sang cucu selalu menerima pemberian grandnie-nya dengan senang. Setiap buku yang diberikan pasti mengandung banyak cerita.

”Ini salah satu buku yang jika dibaca ulang memberikan kesan yang berbeda. Buku ini termasuk satu dari sedikit buku yang sengaja grandnie koleksi lebih dari satu” paparnya dengan lembut . ”Buku ini merupakan kisah nyata upaya penulisnya meraih pendidikan terbaik, namanya A. Fuadi” lanjutnya.

”Maksud grandnie si penggagas Komunitas Menara, yang belum lama mendirikan sekolah gratis kesekian kalinya itu? ” tanya sang cucu dengan antusias. Berbicara dengan sang grandnie selalu menyenangkan karena ia akan mendapat tambahan informasi tentang para penulis.

Ditatapnya Buku Ranah Tiga Warna karangan A. Fuadi, dengan editor Danya Dewanti Fuadi serta Mirna Yulistianti. Proff reader oleh Novera Kresnawati dan Meilia Kusumadewi. ISBN buku setebal 473 halaman itu adalah 978-979-22-6325-1. Penerbitnya sudah pasti penerbit papan atas, Gramedia Pustaka Utama

” Ini buku edisi pertama yang pernah dibicarakan oleh Oma Dina dan Oma Ine untuk dimasukan menjadi salah satu arisan buku mereka ? Keren..........!” puji sang cucu dengan bersemangat.

”Grandnie tahu, yang beredar sekarang adalah cetakan kesekian kali. Buku ini sekarang menjadi buku bacaan wajib di sekolah” lanjut sang cucu dengan antusias sambil mulai membuka halaman buku.

” Dalam buku ini kamu akan tahu betapa seorang anak yang melangkah sekolah dengan tujuan ibadah dan tekat membanggakan keluarganya bisa mendapat kemudahan di segala hal. Masih ingat cerita 5 Menara?” tanya wanita paruh baya kepada cucunya. Sang cucu hanya memberikan anggukan singkat, ia terlihat serius membaca.

”Semangat Alif untuk belajar sebesar semangat tim sepak bola yang tidak pernah dijagokan mendadak malah menjadi juara pertama. Semangat bagaimana impian wajib dibela habis-habisan. Hidup boleh menjadi susah, namun impian dan tekat mewujudkan cita-cita harus terus dilakukan” lanjutnya.

”Grand, memangnya tokoh Alif dalam cerita ini tidak pernah merasa jenuh atau putus atas?” tanya sang cucu penasaran

” Pasti pernah. Biar bagaimana Alif juga manusia biasa, pasti ada rasa lelah, putus ada dan tak berdaya. Untung ia mempunyai bekal yang kuat. Ia juga punya dua mantra yang selalu menjadi mendorongnya” jawab wanita paruh baya itu.

”Mantra apa grand, persis seperti yang di film-film yah?” sang cucu tak habis-habisnya bertanya. Tokoh Alif rupanya menggugah rasa keingintahuannya.

”Sebenarnya bukan mantra seperti yang kamu bayangkan. Namun lebih tepatnya kalimat pengiingat, Man Shabara Zafira, siapa yang bersabar akan berutung” jawab wanita paruh baya sambil tertawa geli.

”Kamu masih ingat tips grandnie menghafal tanpa terasa susah?” tanya wanita paruh baya itu .

Sang cucu mengangguk dengan cepat sambil menjawab, ” kata papi waktu kecil kamarnya penuh dengan berbagai poster tentang angka, binatang , juga ada hafalan Huruf Mandarin grandnie. Kemana pun kita memandang, seluruh isi kamar penuh dengan hal-hal seperti itu. Karena sering melihat lama-lama papi jadi tahu banyak hal. Padahal papi belum bisa baca, karena sering diajak diskusi makanya jadi hafal. Biasanya setelah papi hafal, poster itu segera diganti dengan yang baru. Makanya aku juga diajari cara yang sama tulis apa yang mau dihafal tempel di tempat yang gampang dilihat sehingga kita sering melihat, lama-lama akan hafal”

Wanita paruh baya itu tersenyum simpul lalu berkata ,” Nah tokoh Alif juga memakai cara yang sama untuk menghafal rumus-rumus. Bayangkan untuk bisa belajar pelajaran SMA, Alif harus meminjam buku catatan dan buku cetak temannya. Ternyata dari anak pondok yang tidak banyak mendapat pelajaran umum, ia berhasil lulus dengan nilai 6,5 lumayan khan”

”Buku ini membawa dampak yang tidak sedikit bagi dunia pendidikan. Dahulu seorang anak akan dianggap sekolah jika memasuki sekolah menengah yang diselenggarakan pemerintah dan swasta. Sekolah kejuruan hanya dijadikan alternatif bagi mereka yang ingin segera bekerja dengan alasan ekonomi. Sementara mondok alias sekolah pesantren dianggap salah satu pemecahan amsalah bagi mereka yang ingin menyekolahkan anaknya namun tidak memiliki biaya sama sekali atau tempat para orang kaya menitipkan anak-anaknya yang terkena masalah. Melalui buku ini mereka bisa melihat seorang anak pondok bisa melalng buana ke tiga negara dengan beasiswa. Walau ada beberapa yang sudah terlanjur seram mendengar istilah pondok. contohnya papimu ” papar nya panjang lebar

Sang cucu yang semula serius membaca, mengangkat wajahnya dari buku denganpenuh tanda tanya. ”Maksud grandnie?” tanyanya

”Sebelum trilogi buku ini terbit, grandnie pernah berniat mengirim papimu bersekolah ke pondok, dimana pun itu” jawab wanita paruh baya itu.

”Hah? Papi grand?” sang cucu bertanya dengan heran

”Grandnie sadar pengetahuan agama grandnie tidak banyak. Sebagai orang tua tunggal waktu yang tersisi untuk memberikan pendidikan yang terbaik sangatlah sedikit. Apa lagi tipe papimu yang harus di awasi baru belajar. Makanya grandnie butuh sekolah yang bisa memberikannya pelajaran 1 X 24 dari sisi agama dan umum. Dan sepertinya pondok adalah tempat yang tepat” jawab wanita paruh baya itu

”Lalu papi mau?” sang cucu kian pensaran. Selama ini ia tidak pernah mndengar cerita soal ini.

” Mana papimu mau! Masalahnya papimu sudah terlanjur terpengaruh film-film dimana jika masuk pondok akan menderita, menderita ukuran papimu tepatnya

”Maksud grandnie?” sang cucu kian penasaran

” Papimu merasa dia harus mencuci pakaiannya sendiri di sungai, lalu pulang pergi membawa air untuk keperluan pondok. Persis seperti yang digambarkan di film. Padahal pondok yang sekarang sangat berbeda dengan yang dahulu. Seorang sahabatnya sejak sekolah dasar malah masuk pesantren khusus perempuan”

”Lalu grand?” sang cucu terus mendengarkan dengan serius

” Segala cara grandnie lakukan, dari rayuan, iming-iming hadiah, sampai ancaman. Bahkan grandnie membawanya saat ada launching trilogi buku ini supaya ia bisa mendengar langsung pengalaman dari A. Fuadi. Semuanya gagal total papimu malah menuduh grandnie sudah tidak sayang lagi dan mau membuang dirinya, maka ia akan ambil baju dan dengan suka rela menitipkan dirinya ke ruman yaitm piatu. Sok tahunya papimu. Butuh waktu yang lama untuk membuat papimu mengerti maksud grandnie” papar si wanita paruh baya, matanya terlihat menerawang mengingat-ingat kejadian di masa lalu.

Sang cucu hanya mengangguk-agukan kepalanya. Matanya tak lepas membaca kalimat-kalimat yang tercetak dalam buku itu.

”Lalu menurut grandnie aku harus sekolah kemana?” Sang cucu bertanya dengan tatapan memelas. Memilih sekolah ibarat menulis garis kehidupan baginya. Salah arah, berubahlah perjalan hidupnya dan ia tak mungkin memutar waktu yang sudah berlalu

"Kok tanya grandnie, kan bukan grandnie yang mau sekolah” sahut wanita paruh baya sambil tertawa kecil. ” Coba dengan kata hatimu, mau kemana?” lanjut wanita paruh baya itu.

”Itulah grand...., semakin dipikir semakin aku jadi pusing” keluh sang cucu.

Sang wanita paruh baya memandang wajah sayu cucunya dengan penuh kasih sayang. Sebetulnya wajar jika sang cucu masih belum mengambil keputusan. Diusia yang tergolong ABG, mengambil keputusan yang akan berhubungan dengan masa depan jelas sedikit menakut baginya.

“Kamu pasti sudah tahu, buat gradnie hidup adalah pilihan. Sejak tulisan grandnie di tolak di media saat kuliah dengan alasan tulisan itu belum zamannya, maka grandnie memutuskan banyak hal yang bisa ditempuh untuk tetap berada dalam dunia tulis menulis. Misalnya menjadi penulis bayangan untuk banyak hal. Itu sebabnya grandnie selalu melarangmu membuka lemari besi yang disana karena di dalam banyak hasil karya grandnie sebagai penulis bayangan. Kamu hanya perlu memantapkan pilihan, selaraskan hati, keinginan dan kemampuan, lalu pertimbangkan hal terburuk yang mungkin terjadi.” paparnya lagi.

Sesaat sang cucu hanya terdiam sambil membuka secara acak halaman Buku Rana 3 Warna. Mendadak wajahya terlihat ceria ditutupnya buku lalu dikempitnya . Ia bergegas berjalan menuju pintu keluar sambil berkata, ” Aku tahu kemana aku akan bersekolah. Terima kasih buat obrolannya grandnie, wo hen ai nin” Diberikannya pelukan sekilas sambil terseyum cerah.

"Tunggu!" seru wanita paruh baya itu mencegah cucunya keluar dari perpustakaan.

Sang cucu berbalik dan bertanya, " apa apa grand? bukunya tidak boleh aku bawa?"

"Bukan itu!" tugas wanita paruh baya sambil terseyum

"Buku itu untukmu. Coba kamu cari misteri angka tiga dalam buku itu, jika bisa, kamu akan dapat hadiah" tantangnya lgi

"Siap grand!" sahut sang cucu sambil bergegas pergi.

Sang wanita paruh baya mengawasi punggung cucu kesayangannya sambil terseyum. Urusan sekolah memang bisa membuat orang sakit kepala. Ia lalu menuju meja kerja yang ada di pojok perpustakaan dan duduk kursi empuknya. Tangannya membuka sebuah laci rahasia yang terletak di sisi bawah meja. Dikeluarkannya sebuah tumpukan yang tersusun rapi, berkas-berkas sekolah milik anak tunggalnya. Ada buku tulis pertama saat kelas satu sekolah dasar, raport, hasil ulangan dari yang bagus hingga yang membuatnya meringis, kartu ujian, ijasah hingga nilai saat kuliah. Entah bagaimana sikap sang cucu jika melihat ada nilai yang memalukan disana!

Setiap lembar ulangan mengandung cerita yang berbeda, tiap kartu ujian membawa harapan yang berbeda, setiap lembar nilai rapor menunjukkan perjuangan yang berbeda. Setiap bagian dari tumpukan yang ada di depannya membawa cerita yang berbeda. Wanita paruh baya itu tenggelam dalam kenangan mssa lalu.

”Pagi grandnie, ada pesan dari kantor Opa Sil . Beliau dalam perjalanan sebentar lagi sampai untuk menjemput grandnie. Hari ini ada jadwal ketemu dengan penerbit di luar kota. Transportasi sudah diatur untuk yang paling pagi, supaya sore nanti bisa bertemu dengan EO untuk perayaan ulang tahun Opung Boni” sebuah suara halus terdengar dari langit-langit. Asistennya baru saja mengirimkan pesan suara.

”Hah! Jam berapa sekarang? Aku belum tidur!”bathin wanita paruh baya itu sambil melirik jam yang ada di meja. Ia terkejut , ternyata sudah Subuh. Bergegas wanita paruh baya itu memasukan berkas-berkas sekolah anak tunggalnya dan tak lupa mengunci laci. Ia mengunci perpustakaan lalu berjalan dengan langkah mantap ke kamarnya. Ia mungkin tak sempat tidur, namun untuk urusan Sholat Subuh dan mandi, Sil harus bersedia menunggu. Sil boleh saja managenya, namun untuk hari ini dialah yang berkuasa. . Ia tahu kali ini Sholat Subuhnya akan sedikit lebih lama dari yang biasanya.

http://www.facebook.com/note.php?save...
Profile Image for Sam.
184 reviews17 followers
January 25, 2011
Anak-anakku...
Bila badai datang. Hadapi dengan Iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yg silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi?


Menyambung baca buku ini dari Negeri 5 Menara semakin mengukuhkan hati untuk terus BERUSAHA.. yes, I have let myself down, and yes I have come to tiredness as much as I want to give up -- but I never did, tapi karunia Tuhan mana yg bisa aq ingkari? sementara di luar sana masih banyak org yg kekurangan tp terus mencoba bertahan *dg gelegar suara Bang Togar

Alif dan buku ini mengajarkan aq nggak malu tuk mengakui, I have change course.. berani menjawab tanya seorang kawan yg menusuk kesadaranku, "Git, lo masi inget mimpi lo mo kerja di Deplu ga?"

"Ya, Fit.. aq masih ingat, sedekat kulit menyelimuti jantungku.. Mimpiku adalah bekerja di tempat di mana aq mampu berakulturasi, membantu & mempengaruhi org banyak.. Mungkin Deplu memang bukan tempatnya untukku menurut-Nya, mkg yg aq tempuh sekarang inilah di mana semua akan bermula.."

Dan aq masih (akan) terus berusaha mencari kesuksesan itu.. sembari bersabar jika terantuk batu diterjang badai...

Aq masih belum tuntas menapaki Man Jadda Wajada, skg sudah kutambahkan bekalku Man Shabara Zhafira... Semoga kita smua selalu menjadi org2 yg berusaha dan bersabar untuk meraih sukses Dunia & Akhirat.

"Iya, Fit... aq masih ingat Deplu, sayangnya Deplu bukan untukku..." balasku dg senyum.




INSPIRING MOMENTS:
- upacara bendera Hari Pahlawan, rasanya mengingat gelutan persoalan yg menimpa negeri ini, apapun itu I WILL ALWAYS LOVE INDONESIA... GARUDA DI JANTUNGKU!
- salju!!! ^^
- pantun Rusdi
- coming back to 531 Rue Notre Dame after 11 years passed
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books62 followers
February 5, 2011

..:: “Walau hanya berbisik di hati, rupanya Tuhan selalu maha mendengar” ::..


Tentang – Ranah 3 Warna -

Buku yang tetap menawarkan semangat menggapai cita-cita ini sekarang bercerita mengenai kehidupan Alif Fikri, pasca kelulusannya menempuh ilmu di Pondok Madani. Alif kini kembali ke kampung Maninjau setelah menggoreskan harapan Amaknya untuk belajar ilmu agama. Walau begitu, cita-citanya untuk menjadi the next Habibie tidak pernah surut. Harapannya untuk menorehkan prestasi mendunia dalam bidang teknologi tak pernah karam.

Tapi apa mungkin, seorang Alif yang notabene tamatan sekolah agama bisa mengikuti ujian saringan masuk perguruan tinggi? Bahkan, ijazah saja ia tidak punya. Bukan Alif namanya jika gampang menyerah. Untung Ayah dan Amaknya mendukung usaha Alif agar bisa belajar di perguruan tinggi. Alif mempersiapkan diri untuk ikut ujian kesetaraan agar bisa mendapatkan ijazah. Sungguh, bukan perjuangan yang mudah.

qqq

Alif harus mampu menguasai berbagai macam mata pelajaran umum tiga tingkatan dalam waktu cepat. Modal utamanya adalah Man Jadda Wajadda- Siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil. Alif yakin jika ia berusaha satu tingkat lebih baik dari orang lain, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Perjuangan itu mulai menapakan hasilnya. Memang tidak sepenuhnya seperti yang ia harapkan. Keinginannya untuk menekuni bidang teknologi harus ia pupus karena sangat sulit menguasai pelajaran berhitung dalam waktu singkat. Tapi Alif cukup bangga ketika akhirnya diterima di Hubungan Internasional-UNPAD. ”... sesungguhnya doa itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkannya dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti yang lebih cocok buat kita,” Hal.46.

Hidup sendirian di kota Bandung tidaklah mudah. Untung, sahabatnya –Randai, bisa membantu menumpangi Alif selama ia belum menemukan kos yang sesuai dengan kondisi keuangannya. Di masa-masa sulit itu, Alif bahkan harus kehilangan Ayahnya, hingga ia sempat berfikiran untuk menghentikan kuliahnya dan membantu Amaknya di kampung. Syukurlah hal itu tidak sampai terjadi karena Amak mewanti-wanti Alif agar pulang setelah mendapatkan gelar sarjana. Sial, persahabatannya dengan Randai sempat retak, dan Alif harus berjuang menopang kehidupan ekonominya di kota padat itu.

mm

”iza shadaqal azmu wahada sabil- kalau benar ada kemauan, akan terbuka jalan,” Alhamdulillah minat Alif di bidang jurnalistik bisa membantu ia menopangi kehidupannya. Bahkan ia sudah bisa membantu Amak walaupun hanya sedikit. Alif kini mempunyai mimpi baru. Menjejakkan kaki di Amerika. Mungkin, kah?

Akhirnya sebuah cahaya mampu menuntun Alif untuk menggapaikan cita-citanya. Alif berjuang mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke negara asing. Sampai titik ini, Alif bahkan harus bersaing dengan sahabatnya sendiri –Randai. Rasa pesimis kerap saja muncul walaupun tidak diinginkan, namun sekali lagi, dengan keyakinannya melebihkan usaha dan terus berdoa, akhirnya Alif mampu menjejakkan langkahnya di benua Amerika. Hola... anak kampung Maninjau kini berada di Kanada untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia di sana.

qqqq

Berbagai pengalaman Alif tuai di kota Saint-Raymond. Bahkan Alif juga menemukan rasa cinta di kota kecil itu. Walaupun tetap akan ada perjuangan-perjuangan yang harus ia hadapi. Mampukah Alif bertahan? Sebuah mantera baru... ”Man Shabara Zhafira – Siapa yang bersabar akan beruntung, berhasil meyakinkan Alif bahwa, ”segala sesuatu ada waktunya, aku ikhlaskan tangan Tuhan menuntunku meraih segala impian ini.” Hal.461. Juga bahwa ”Man Yazr’a Yahsud – Siapa yang menanam ia akan menuai.” Alif yakin sekali akan hal itu.

Sungguh, ini ulasan yang buruk untuk menggambarkan betapa eloknya buku ini. Berulang kali, ketika menulis ulasan ini, jemariku terhenti, dan berkali-kali pula menekan tombol ”delete” karena merasa apa yang aku tulis tidak mampu mewakili semua hal yang aku dapatkan dari buku ini. Ranah 3 Warna buku yang lengkap. Perjuangan, semangat, kepercayaan... kehidupan akan cinta dan keluarga komplet dihadirkan.

Di beberapa hal memang aku sempat sebal dengan tokoh Alif, misalnya saja ketika dia mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar, ia ngotot ingin ditempatkan di negara tertentu. Setelah dapat, iapun masih ngotot ingin mendapatkan kesempatan kerja di bidang yang ia sukai. Di suatu sisi aku merutuki tingkah Alif dengan gumaman, ”Oh Tuhan, sadarkah Alif bahwa banyak orang yang ingin mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang ia dapatkan tanpa banyak keinginan-keinginan yang lain?” namun... di sisi lain aku merasa, Ahmad Fuadi berhasil mengambarkan sosok Alif sebagai orang dengan penuh rasa harap tinggi dan... itu membuat tokoh Alif digambarkan lebih manusiawi. Sungguh, aku cinta Ranah 3 Warna ini.

I hope :

Aku menunggu ” Gema 1 Dunia” atau ” Jejak 1 Langkah” atau apapun nanti judul seri ketiga buku ini.

Isi : * * * * 3/4
Diksi : * * * * *
Kaver : * * * * *
Fisik buku : * * * * *
Keseluruhan : * * * * 3/4
Skor ala Yayan : A+
Profile Image for Sweetdhee.
514 reviews115 followers
January 31, 2011
tanggal 23 January buku ini diberikan Mba Nina pagi-pagi sekali ke meja kerjaku..
makasih ya mba Truly dan Ijul yang udah mau direpotin..
wah, sampulnya keren yaa, penasaran apa maksud ranah3warna dan arti sepatu plus daun-daun maple nya
menyembul kemudian si pembatas buku nya
wah!keren!
dan ketika menelusuri detail buku untuk mencari tahu siapa pewajah sampulnya, eh, eh ada nama yang aku kenal di deretan nama yang ada di halaman tersebut..
hihihihi *diceburin ke kolam renang*
setelah mengintip petanya, mulai deh nebak judulnya ini kemana

baru mulai baca setelah Good Omens yang ga jelas itu rampung, itu juga karena sambil nungguin Mba Rili selesai marah-marah sama provider logistic (ARGGHHH!!!)
ga kerasa udah 70an halaman selesai dibaca sebelum meluncur ke pempek Gaby di Bekasi (ga penting info nya nih)
diteruskan lagi pas nungguin yang janji mau bawa Warna Langit datang di kolam renang sambil bersungut-sungut ga bisa ikutan nyemplung
hix, hix
terus kemudian membahas masalah spanduk itu.. ealah, ternyata ini tho yang bikin heboh di email.. hihihihi
salah cetak kali yaaa, kurang satu huruf doank, bu..

overall, aku suka banget buku ini
bahasa yang dipakai Mas (apa Uda? apa Bang?) Fuadi mengalir banget
ga kerasa kalau buku nya ternyata tebal saking asik mengikuti cerita petualangan jatuh dan bangunnya Alif
semua perasaan, pikiran, baik ataupun buruk yang sempat nangkring di kepala dan hati Alif disampaikan secara gamblang dan ga bikin Alif jadi sosok yang sempurna

sempet nangis waktu adegan Ayah Alif, sempet ikut bergelora waktu Alif ambil kerja serabutan demi membiayai kuliahnya, ikut berkeringat waktu digembleng bang Togar, cekikikan sama gaya antik Rusdi di Yaman, bersemangat pas nyari beasiswa, merasa nasionalis pas adegan upacara bendera, dan geregetan menanti nasib surat untuk Raisa saat wisuda

aku suka buku ini
membuat kembali merenung
hayo, dhee!!
sebelum pusing mikirin bagaimana bisa mencapai mimpi, bisa atau tidak
yang harus dipikirkan benar-benar, MIMPI nya itu sendiri apaaaaaaaaaa?

semangaaaaaaaat!!

ga salah juga buku ini aku hadiahkan ke Mas Ferry yang mau resign
bunch of thanks ya, Bos!
i owe you , like, A LOT!!!!
you're one of the persons who'd packed my parachute
sedih juga sih, tapi setiap orang harus mengejar mimpinya, no?
semangat ya, Bos!!

****
ada beberapa kalimat yang saya tandai di buku ini
diantaranya:
Aku akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa hidup itu masalah penyerahan diri. Kalau aku sudah bingung dan capek menghadapi masalah tekanan hidup, aku praktikkan nasihat Kiai Rais, yaitu siapa yang mewakilkan urusannya kepada Tuhan, maka Dia akan 'mencukupkan' semua urusan kita. 'Cukup' kawanku. Itu yang seharusnya kita cari. Apa artinya banyak harta tapi tidak pernah merasa cukup? Itulah janji Tuhan bagi orang yang tawakal. Aku ingin tawakal sempurna. Aku ingin dicukupkanNya segala kebutuhan.
Hal.35


Aku anak kampung yang miskin, tapi tidak mengenal kemiskinan akut perkotaan. Sesusah-susahnya aku hidup di kampung, kami punya baju layak dan selalu ada sanak saudara yang akan memberi sekedar makan
Hal.161
Nah, ini jawaban atas pertanyaan kenapa banyak banget yang miskin di desa tapi ada yang tetap leha-leha ada yang kerja banting tulang..

Bahwa meminjam itu lebih berbahaya daripada meminta. Begitu kita meminta, apapun obyeknya, pasti telah diputuskan untuk diberikan oleh yang punya. Semua terang benderang. Ada ijab dan kabul. Ada yang ikhlas memberi dan ada yang ikhlas menerima. Tapi ketika sesuatu dalam status dipinjam, tidak ada kata putus di sana. Mungkin selalu ada benih konflik yang ikut tertanam bersama meminjam. Dia bisa beracun dan laten.
Hal.172

Segala sesuatu ada waktunya. Aku ikhlaskan tangan Tuhan menuntunku meraih segala impian ini
Hal.461

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukes hanya bisa diisi dengan sabar.
Hal.468
***

ga jadi bintang empat, bintang lima aja deh
hihihihi
*takut sama lirikan di kolam renang*
wakakakak
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
February 5, 2011
Buku ini merupakan buku kedua dari Trilogi kehidupan Alif Fikri. Buku Pertama yang bertajuk Negeri 5 Menara mengisahkan tentang perjalanan hidup Alif Fikri, seorang anak Minang dari keluarga sederhana ketika menempuh pendidikan di Pondok Madani (nama samaran Pondok Pesantren Modern Gontor – Jawa Timur) yang terkenal itu. Sedangkan dalam buku kedua (Ranah 3 Warna) mengisahkan perjalanan hidup Alif Fikri setamat dari Pondok Madani yang harus menempuh perjuangan berat untuk lolos ujian persamaan SMA sebagai prasayarat mengikuti ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi. Dengan perjuangan kerasnya Alif bisa lolos ujian persamaan dengan nilai sedang. Selanjutnya dia berjuang keras akhirnya lolos masuk Jurusan Hubungan Internasional – FISIPOL Universitas Pajajaran di Bandung.

Cobaan demi cobaan terus menempa Alif seperti Ayah Alif meninggal, uang kiriman orang tua yang tersendat, usaha sales yang dirampok preman dan lain-lain. Perlahan alif mulai bangkit mencari rejeki dengan jualan/salesman, memberikan kursus private dan akhirnya berlatih menulis artikel di media dengan bimbingan seorang seniornya.

Setelah melalui berbagai tempaan, dalam perjalanan hidup yang sudah mulai tertata karena kepintarannya menulis artikel di media, Alif meneruskan cita-cita semasa di Pondok Madani untuk berkelana di Amerika. Dia akhirnya lolos seleksi pertukaran pemuda pelajar di Kanada selama 6 bulan bersama 7 orang temannya. Di sana dia tinggal dengan ayah dan ibu angkat yang sangat mencintainya dan didampingi seorang tandem pemuda Kanada. Banyak kisah suka selama di Kanada tersebut. Di sinilah tumbuh perasaan cinta Alif terhadap Raisa yang berasal dari satu kampus dan juga tetangga kosnya di Bandung. Tapi cinta itu tetaplah hanya bersemi di hati karena alif tidak punya keberanian untuk menyatakannya sama Raisa.

Sepulang dari Kanada, Alif melanjutkan studi dan lulus Sarjana dari Unpad. Mamak dan adiknya hadir dalam acara wisuda itu. Saat itu sebenarnya Alif sudah merencanakan untuk mengungkapkan isi hati terhadap Raisa. Tapi sayang, Randai sahabat karib dan teman sekampung serta sekaligus competitor Alif telah mendahuklui menyunting Raisa. Sebuah kisah kasih yang tak sampai pun terjadilah. Alif walaupun gundah mengambil hikmah itu semaua sebagai proses belajar untuk lebih sabar, ikhlas dan tawakal dan terus
berprasangka baik terhadap Tuhannya,.......

Dalam buku ini ada tiga ajaran utama yang terus diamalkan oleh Alif dalam merengkuh citanya yakni:
• Man Jadda Wajada yang berarti barang siapa bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Konsep nilai ini ditanamkan sejak awal sehingga akan melahirkan anak didik yang mempunyai semangat bekerja keras.
• Man shabara zhafira, Barang siapa bersabar maka dia akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di hari esok dan tetaplah fokus pada tujuan akhir untuk menemukan jati diri.
• I’malu fauqa ma’amilu, Budayakan going the extra miles, lebihkan usaha, waktu, tekad, upaya dan lain-lainnya maka kita akan sukses.

Dari sisi sosiologis, novel ini seperti novel-novelnya Andrea Hirata menyiratkan bahwa pendidikan merupakan kunci untuk memperbaiki masa depan bagi seseorang. Namun alangkah ironisnya dunia pendidikan saat ini yang sudah semakin mahal dan hanya bisa diakses oleh orang-orang kaya. Universitas Negeri yang dulu menjadi tumpuan harapan masyarakat kelas menengah ke bawah untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi kini semakin komersial dan mahal. Bagaimana masyarakat miskin dan kelas bawah bisa memperbaiki masa depan mereka ketika akses terhadap pendidikan sedemikian sulit? Masih adakah ruang bagi warga miskin dan keluarga yang pas-pasan untuk memperoleh pendidikan bermutu di negeri ini?
Profile Image for Muhammad Rezky.
1 review
January 26, 2011
Terima Kasih buat mas Ahmad Fuadi atas munculnya trilogi 5 menara. Banyak hal menarik dan pesan yang saya dapatkan dalam novel ini,

Yang pertama ialah Man Shabara Zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung). Orang yang sabar maka dia akan beruntung. Man Jadda Wajadda (Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses). Antara kesungguhan dan kesuksesan tidaklah bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak tersebut hanya bisa diisi kesabaran. Itulah yang saya lihat mendasari novel ini. Saya yakin novel ketiga dari trilogi 5 menara, didasari oleh "man sara ala Darbi washala" (siapa yang berjalan dijalannya akan sampai ke tujuan).

Yang kedua ialah pada bab 19, "Jangan Remehkan Meminjam". Wow, karena saya termasuk orang yang sering meminjam sebuah barang kepada sahabat-sahabat saya di Bandung. Walaupun tidak ada kerusakan seperti yang dialami Alif dan Randai yang menyebabkan persahabatan mereka merenggang karena meminjam barang. Hal yang bisa saya ambil pelajaran, bahwa meminjam lebih berbahaya daripada meminta.

Yang ketiga ialah pesan Kiai Rais dalam novel ini, yaitu "Jangan cari kemuliaan di kampung sendiri. Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda". Ini mengingatkanku akan cita-citaku menjadi seorang penemu. Maka merantaulah selagi engkau masih muda, dan itulah keinginanku juga merantau ke negeri orang. Doakanlah saya teman-temanku.

Yang keempat ialah pada bab ke 23, "Jurus Golok Kembar Kiai Rais". Pesan yang terkandung mengandung inti adalah serius menjalani hidup ini, man jadda wajadda dan man shabara zhafira merupakan kombinasi terkuat dalam menggapai kesuksesan. Walaupun kita memiliki berbagai kemampuan, otak yang cerdas, apabila kita tidak serius menjalani hidup ini, kita akan tertinggal dengan orang lain. Namun walaupun otak kita yang biasa-biasa saja namun selalu bisa diperkuat ilmu dan pengalaman, usaha yang sungguh-sungguh dan sabar akan mengalahkan usaha yang biasa-biasa saja.

Yang kelima ialah pada bab ke 24 "Kambanglah Bungo", dalam hal ini saya kagum atas pemikiran mas bahwa kemampuan untuk mengekspresikan ide dalam bentuk tulisan adalah bukti bangsa peradaban tinggi. Saya sangat setuju akan hal ini, akan lebih bagus lagi apabila ide yang sudah dipaparkan akan dilanjutkan menjadi bentuk nyata. Janganlah hanya menjadi sebuah ide. Itu harapan saya buat bangsaku.

Yang keenam ialah pengalaman berharga saya dapatkan dari cerita ini. Seperti saya mengalami sendiri ketika Alif berada di Amman, Yordania dan Quebec, Kanada. Terutama di kehidupan di Quebec memberikan gambaran mengenai kemakmuran dari suatu negara maju. Saya ingin sekali negara Indonesia dapat seperti itu. Apabila negara ini juga man jadda wajadda dan man shabara zhafira, InsyaAllah hal itu dapat tercapai.

Yang ketujuh yaitu perasaan haru yang sangat tentang negeri sendiri di negeri perantauan. Semangat nasionalisme semakin menjadi ketika kita hidup di negeri orang. Janganlah negeri kita tercinta ini dilupakan apabila kita sudah berhasil hidup di negeri orang, tapi harumkanlah negeri kita di negeri orang.

Masih banyak hal yang menarik yang didapatkan dalam buku ini.Namun ketujuh inlah yang paling menarik bagi saya.

Buku ini membuat saya tidak bisa berhenti membaca kecuali untuk makan dan kerja. Good job mas Ahmaad Fuadi
Profile Image for Nike Andaru.
1,638 reviews111 followers
January 30, 2011
Wow, akhirnya buku yang ditunggu-tunggu ini kelar juga saya baca.
Ga tahan dengan bahasan suami dan adek saya yang udah nyamber duluan buku ini, saya akhirnya menyudahi buku ini dengan senyum gembira.

Ranah 3 Warna adalah buku kedua dari A. Fuadi yang promonya dimana-mana bakal jadi best seller.
Seperti buku pertamanya, Negeri 5 Menara yang menjadi best seller, saya tak ragu lagi akan banyak orang menyukai buku Uda Fuadi yang kedua ini.

Kalo di Negeri 5 Menara kita melihat cerita Alif Fikri dan teman-teman Pondok Madani dengan mantra "Man Jadda wajada", dalam buku kedua ini, Alif diceritakan memasuki masa dewasa dimana ia meneruskan pendidikannya dengan mantra baru "Man Shabara Zafira".

Awalnya saya ngerasa bingung dengan cover buku juga pembatas buku yang dihadiahkan buku ini. Cover buku terlihat sepatu hitan dan untuk pembatas buku serupa daun. Ternyata, kalian wajib membaca buku ini dulu untuk tau apa arti dibalik semua itu. Cover itu adalah si Hitam, sepatu dari kulit jawi yang diberikan Ayah Alif sebelum Alif pergi merantau ke Bandung untuk kuliah. Daun? ya, pembatas bukunya unik, serupa daun yaitu daun maple khas negeri Kanada, tempat akhirnya Alif meraih mimpinya menginjak benua Amerika.

Diceritakan Alif akhirnya mengikuti ujian persamaan SMA untuk mandapatkan ijazah setara SMA sampai belajar sangat tekun dan rajin untuk mengikuti UMPTN untuk masuk kuliah sesuai harapan Alif. Akhirnya Alif diterima berkuliah di universitas negeri di Bandung dengan jurusan Hubungan Internasional, karena ia ingin lebih menguasai bahasa. Banyak hal yang dilalui Alif untuk bisa mengejar mimpi-mimpinya. Dengan ekonomi keluarga yang sulit ditambah dengan kepergian Ayah Alif yang tak pelak membuat saya ingin menangis dan meneteskan air mata, Alif harus bisa sekuat tenaga meneruskan hidupnya dan meraih mimpinya ke benua Amerika.

Alif akhirnya harus kerja keras, mulai dari mengajar privat hingga berjualan dari rumah ke rumah demi meneruskan kuliahnya. Sangat beruntung Alif bertemu dengan Bang Tigor, sang guru menulis Alif. Tidak hanya belajar menulis, Alif menemukan banyak pelajaran berharga dari Bang Togar.

Cerita dalam buku kedua ini ga cuma cerita Alif mengejar mimpi-mimpi ke Amerika, tapi juga tak luput dari cerita percintaan. Alif akhirnya jatuh cinta pada seorang wanita yang satu kampus dengannya dan juga mereka berdua berkesempatan ke Kanada, tapi sayang seribu kali sayang, Alif harus berjuang untuk mandapatkan hati Raisa, terutama dari Randai, sahabat sepermainan Alif dari kecil.

Saya merasa buku ini luar biasa.
Buku ini memberikan motivasi besar untuk mengejar semua mimpi dan cita-cita.
Tidak cuma bermimpi, tapi kisha ALif mengajarkan kita bagaimana cara untuk bisa meraih mimpi. Tidak hanya dengan berusaha sekuat tenaga tapi juga kesabaran.

Dari semua tokoh pendamping Alif dalam buku ini, favorit saya adalah Rusdi :)
Entah kenapa, saya merasa Rusdi ini membuat buku ini terasa lebih menarik lagi. Lucu, nasionalisme tinggi tapi juga seniman.

Bagi yang belum baca, bacalah... segera... :)
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
October 16, 2011
#2011-10#

Kalau dulu saya memberikan 3 * untuk Negeri 5 Menara, sekarang saya berikan lebih. Kenapa? Karena lebih banyak konflik yang ditampilkan.

Dibuka dengan perjuangan Alif dalam menempuh ujian persamaan, setelah ketinggalan 4 tahun dalam ilmu-ilmu pasti. Barulah saya lihat, bahwa Pondok Madani yang lebih menekankan pada penguasaan bahasa dan pengetahuan agama sulit untuk membuat orang mengejar pengetahuan apabila ada keinginan seperti Alif yang ingin sekolah teknik. Walau tetap masih ada kemungkinan apabila kau belajar dengan keras.

Tidak bisa dibilang bahwa ilmu-ilmu pasti itu lebih baik dari ilmu sosial, karena semua ilmu itu baik adanya, tergantung bagaimana kita benar-benar mempelajarinya, dan mengamalkan ilmu tersebut. Bagaimana Alif melepas cita-citanya sebagai insinyur, dan akhirnya ikut UMPTN dengan jurusan IPS, karena ia tidak sanggup untuk mempelajari fisika dan kimia dengan cepat sebelum UMPTN berlangsung.

Dan saya salut karena Alif dapat cepat mengenali potensi dirinya. Kuliah di Hubungan Internasional UNPAD, belajar menulis di majalah kampus, dan akhirnya menemukan panggilan hatinya tentang apa yang ia mau selama ini, yang sesuai dengan kemampuan yang ia miliki, bekal yang ia dapat selama di PM.

Bagian paling saya suka adalah ketika Alif belajar menulis pada Bang Togar, yang redaktur majalah kampus. Diceritakan bagaimana tulisannya dikerjakan dengan cepat, namun mendapat kritikan tajam dengan coretan di hasilnya, dan ia menerima bahkan melayani dengan memberikan tulisan yang direvisi lagi, lagi, dan lagi, selama seharian dengan rentang waktu yang ketat, sampai akhirnya ia menghasilkan karya yang baik.

Hal ini membuat saya malu. Saya yang bercita-cita menjadi penulis sebagai my side job, berulang kali membuat tulisan, baik sebagai resensi, blog, atau notes saja. Terkadang saya menulis terlalu dangkal, terkadang terlalu berbunga-bunga, sehingga menimbulkan kritik dari si pembaca, namun saya sering tidak terima sehingga tetap saja saya posting tanpa diedit. Karena saya pikir banyak yang akan suka tulisan itu juga. Seharusnya saya menerima kritik tersebut apabila ingin benar-benar bisa menulis, bukan cuma euforia dengan pujian yang bertaburan. Tulisan tidak bisa sekali jadi, setiap kalimat harus diperhatikan dengan benar dan efisien. Sama seperti menggambar, setiap garis mempunyai makna, setiap huruf pun memiliki arti.

Keseriusan Alif dalam menulis melecut hati saya. Apa pun bidang ilmu kamu, apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh, apabila dijalani dengan sabar, akan memberikan hasil yang membahagiakan hati. Pendidikan adalah kesempatan, apapun yang didapat bisa dijadikan sebagai modal. Jangan takut untuk melangkah. Jalani apa yang dipilih tanpa sesalan dan keluhan. Percayalah pada doa dan usaha keras. Tuhan tidak bohong. Karena Tuhan bersama orang-orang yang berani.

(depok-manggarai, 02.03.11. 08.15)
Profile Image for Amanatia Junda.
15 reviews6 followers
April 24, 2013
Mengawali membaca Ranah 3 Warna tidak seberat menuntaskannya. Saya tertarik meminjam buku ini dari teman saya karena saya pernah membaca Negeri 5 Menara, dan cukup memuaskan untuk standar Novel semi-autobiografi dan bergenre motivasi.

Di buku ini tokoh utama yakni Alif meneruskan hidupnya di Bandung setelah lulus dari Pondok Madani. Dengan alur maju, penulis mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa selama empat tahun. Alangkah lamanya, karena alur maju tidak diimbangi dengan hal-hal yang membuat pembaca seusia saya berpikir.

Entahlah, mungkin salahkan moment. Jika saya membacanya dua tahun yang lalu atau masih di bangku sekolah pastilah novel ini sangat patriotik. Namun dengan usia yang sebaya dengan Alif, saya merasa karakter ini tidak cukup berkembang dari lompatan di kehidupan pesantren sebagai remaja yang budiman.

Saya merasakan bagaimana emosi pembaca digiring ke hal hal sendu semacam kematian orangtua, finansial terbatas, dan cinta bertepuk sebelah tangan. Namun gaya narasi yang dituliskan seolah menghendaki saya membayangkan sosok Alif muda, yang polos dan pantang menyerah. Kejiwaan Alif yang saya temui cenderung jiwa kanak kanak, yang bergelut dengan konflik batin seputar dirinya sendiri sejak 4 tahun belakangan.

Meski demikian, mau tak mau saya juga terbawa arus airmata(karena saya sangat sentimentil dengan kisah keluarga)dan ikut sedikit termotivasi lewat perjuangan Alif. Jika saya masih menjadi mahasiswa baru, pastilah setelah membaca novel ini saya akan diliputi keinginan yang teramat besar untuk ikut program pertukaran pelajar ke luar negeri. Sayangnya saya sudah melewati masa euforia itu, dan menganggap kisah Alif di Kanada layaknya liburan semusim penuh.

Di bab yang menceritakan Alif dan kawan kawannya terharu karena upacara bendera di negeri orang asing, saya dapat memaklumi. Tetapi suasana yang digambarkan terlalu hiperbolis, sehingga terkesan dibuat buat. Penutup yang melompat terlampau jauh pun merusak semua pahit manis Alif selama menjadi mahasiswa. Ia digambarkan terlalu damai dan bahagia dengan istrinya, seolah olah mengabaikan konflik konflik nyata sesudah ia lulus kuliah. Well, saya harap buku terahir dari trilogi ini tidak mengecewakan. Semoga narasi Ahmad Fuadi berkembang lebih matang.
Profile Image for Rahman Elfath.
37 reviews7 followers
February 5, 2011
"Mantra" Man Jadda Wajadda ternyata tidak cukup untuk menjalani hidup yang pas-pasan. Apalagi bertekad untuk mewujudkan mimpi, mengejar prestasi.

Itulah yang dialami Alif, tokoh utama cerita Ranah 3 Warna lanjutan Negeri 5 Menara. Lulusan pondok pesantren Madani ini diragukan oleh teman, kerabat, dan orang-orang terdekatnya bisa melanjutkan kuliah umum apalagi bermimpi keluar negeri.

Termotivasi dari teman kecilnya Randai, ia tak ingin kalah dengan kawannya itu untuk berprestasi.

Perjalanan Alif mengejar mimpinya dapat menjadi pelajaran berharga yang bisa diambil contoh. Ketekunan dan Motivasi yang berlipat-lipat dapat menaklukkan semua penilaian negatif tentang mimpi yang mulanya mustahil dikejar.

Setelah ayahnya meninggal, alif bertekad untuk tidak membebani amaknya dikampung. Pernah bekerja sebagai guru les privat, sales alat kecantikan ternyata belum cukup memenuhi dan membiayai kuliahnya di Bandung, apalagi mengirimkan uang untuk biaya adik2nya dikampung. Alhasil bukannya mengurangi biaya, alif malah jatuh sakit dan harus berhutang sana-sini untuk membayar pengobatannya.

Barulah pada saat ketemu bang Togar-senior yang juga guru belajar menulis alif dimedia-alif sedikit demi sedikit bisa mandiri.

Saat terpilih mewakili Indonesia pada pertukaran pemuda Indonesia-Kanada, ternyata alif bertemu sosok teman asal Banjar, Kalimantan. Wuihhh, jadi ikut seneng dan bangga juga jadi "urang banjar".

Apakah ciri-ciri orang suka membunyikan tangan (menggerepok) dengan seakan2 mematah jari tangan itu hanya dilakukan orang banjar ya??


Cerita apa saja, pasti lebih menarik kalau ada kisah roman - percintaannya. Alif jatuh hati pada Raisa, temen satu almameter dan teman seperjuangan alif saat pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Bagaimana hari-hari yang mereka jalani dan akhir cerita cinta seperti apa yang mereka temui, Ahh semua cukup menggunggah hati.


Akhir cerita, saya masih penasaran siapa yang jadi Istri Alif?? Raisa, Sarah atau yg lain....
Mungkin bang A. Fuadi telah menyiapkan jawabannya di buku ketiga.

Profile Image for hans.
1,158 reviews152 followers
April 5, 2013
Kisah hidup Alif di 3 tanah- Bandung, Amman dan Kanada, cukup inspiring, sarat pesan juga nasihat. Aku suka dengan penanda bukunya yang berbentuk daun maple merah-oranje, comel :)

Aku beri 3 bintang (kurang 1 dari buku pertama) kerana ada certain part yang sedikit meleret dan bagi aku tak berapa perlu. Kisah sahabat Sahibul Menara pun tidak banyak, cuma disebut sedikit-sedikit saja- sedikit kecewa. Tapi tersayat juga hati ini bila baca part Alif kehilangan ayah dia juga terasa panas di pelupuk mata bila Bang Togar ringkaskan amanat bapak si Alif.

It was a good read, though- cumanya masih tertanya-tanya isi surat Alif pada Raisa seperti apa kandungannya, sayang sekali tidak tersampaikan.
Profile Image for Febi Rahmi.
7 reviews3 followers
January 24, 2011
Saya suka pembatas buku daun maple nya, orange pula :D hehe...reaksi pertama saya begitu si daun ini menyembul dari buku setebal 473 halaman ini.. Peta tiga ranah yang dikunjungi menarik, hm..sepertinya mengambil ide dari peta petualangannya Winnetou - Karl May...

Buku ini bagi saya sarat dengan nilai perjuangan, kerja keras, keyakinan dan kesabaran. Bagaimana tidak, Alif remaja lepas dari Pesantren Madani yang sangat ia cintai harus berhadapan pada mimpi dan kenyataan yang dihadapi. PM yang sangat dicintai, sangat. Karena pesan-pesan dari Ustadz-ustadz ataupun sisipan pengalaman di PM hampir mewarnai disetiap bagian buku ini..di Bandung, Amman, dan Kanada!

Persahabatan pasang surut Alif dan Randai juga menjadi bagian yang menarik. Candaan Randai menjadi sindiran bagi Alif ketika memancing di Danau Maninjau, ledekan-ledekan Randai.. Wuaa...kembali, Maninjau!! memori masa kanak-kanak beberapa saat disana teringat lagi' *kangen ke Maninjau Indah*

Begitula Alif dan Randai ; perselisihan, tetap membantu, berselisih lagi, berteman lagi, berselisih paham kembali dst... yaaa ego nya laki-laki lah :D Memang dari sudut Alif, terasa banget kalo Alif tersaingi terus-terusan dengan Randai. Ga tau tuh si Randai :p

Karakter sang ayah juga terasa kuat d novel ini. Bagaimana cara yang sang ayah memotivasi sang anak dengan caranya ; *episode Tim Dynamite vs Tim Panser* ,kejutan-kejutan sang ayah yang membuat mata ini mengembun :) Kisah Si Hitam & Si Bebek salah satunya ...


Ranah 1 Bandung



Entah karena saya juga sama-sama perantau, nge-kos bersama teman-teman bermacam karakter, kuliah di Unpad juga..pengalaman Alif selama menjadi mahasiswa di Bandung membuat saya terkenang juga masa-masa itu. Ospek-Maba-Senior-Prestasi-kumpul-kumpul dll. Apalagi tempat-tempat yang ditorehkan Alif adalah tempat yang tidak asing bagi saya. Sebut saja Dago Tea House, Simpang Dago, Tubagus Ismail, Cilaki, RS
Borromeus, DU , Jatinangor, Salman, Ciumbeleuit, Gramedia Merdeka juga :D Berasa mengiringi langkah-langkah Alif..:D

Alif dan angkatannya di Hubungan Internasional Unpad menjadi Angkatan Malin Kundang karena melawan dan melakukan aksi dengan senior :p Kisah ini membuat saya tergelak dengan kebodoran teman Alif.

Bertahan lapar karena seretnya uang, mencari akal bagaimana perut tetap terisi.. Rebut-rebutan nasi yang masih tersisa dan daging-daging ikan shubuh hari bersama teman senasib. Menambah bubur ayam dengan air biar terkesan banyak dikerjakan Alif.

Gigih, pantang menyerah *sesi belajar menulis bersama Bang Togar* Kalo saya mungkin udah mengkeret duluan :D Aksi samurai merah untuk setiap tulisan yang diberikannya, revisi-revisi dan segala hardikan sang guru berbuah hasil dengan tampilnya tulisan-tulisan Alif di media kampus, daerah dan nasional! Tak banyak orang berhasil dididik oleh yang bertangan dingin :D

Ilmu yang terus dimanfaatkan...meski sudah lepas dari PM, bukan berarti ilmu itu hilang. Alif memberikan kelas gratis bahasa arab di Salman.

Coba dan terus mencoba. Yah, memuaskan hasrat mimpi untuk ke Amerika. Melihat pameran pendidikan, berbicara dengan perwakilan insttusi pendidikan...membiasakan diri tetap melatih bahasa inggris aktif, menulis dll.

Mencari tambahan uang saku, mulai jadi sales, guru privat, sales lagi. Dirampok, berhujan-hujan jadi sales sampai ambruk terkena typus. Akhirnya Alif sadar kekuatan dan kelemahannya. Alif fokus pada kekuatannya. Alif tidak jago dagang, tapi pintar menulis!

Berlatih, belajar, yakin.. pengalaman mengikuti seleksi pertukaran mahasiwa yang nyaris gagal karena rendahnya nilai Alif dibidang seni. Alif berhasil meyakinkan tim juri, bahwa tak cukup hanya seni yang bisa dibanggakan dari Indonesia, tapi lebih banyak lagi..pemikir, ilmuwan, kaum cendikia...

Oia serasa bertemu karakter Mahar-nya Ikal disini, tapi diganti oleh Rusydi..teman Kalimantan Alif yang jago berpantun, nasionalis abiz, nenteng bendera merah putih kemana-mana, yang juga bersama-sama ke Kanada.


Ranah 2 Amman

Tidak terlalu banyak, seperti sisipan pelengkap. Sebelum ke Kanada, rombongan Alif singgah ke Amman Yordania. Hm, lebih laporan pengamatan Alif tentang tempat wisata disana. Gua Ashabul Kahfi, dan beberapa Jabal yang hampir merenggut nyawa Rusydi dan Alif. Oya, di Amman Alif berjumpa dua sahabat dulu di PM yang tengah berkuliah.


Ranah 3 Kanada

Setting yang kuat.. Bagian ini berhasil memanjakan imajinasi tentang indahnya Kota St Raymond.. Daun-daun maple berguguran, bangunan-bangunan kota, orang tua angkat yang sangat baik, danau, pancake, ice fishing, wiihh banyak...

Di Kanada, Alif menemukan dirinya. Passion yang kuat di dunia jurnalis, broadcasting dan berjodoh dengan ditempatkan Alif & Franc (teman homologue selama di Kanada) di stasiun TV. Going extra miles, pesan Ustadz di PM. Alif menunjukkannya dengan usaha-usaha mendatangi tokoh untuk kesuksesan program TV yang mereka handle. Wawancara dengan orang Indian tentang hikayat berburu moose (rusa besar) dan cerita balasan Alif tentang cerita berburu kundiak (babi besar) di Maninjau.

Selain itu Alif & Franc juga mewawancara politikus penting mengingat saat itu akan berlangsung referendum Quibic lepas atau tetap bersama negara Kanada. Alif memperlihtkan bagaimana situasi perpolitikan yang bisa tenang-tenang saja, tidak memanas, sebagai contoh yang bagus untuk perpolitikan di Indonesia..*eh tenang belum tentu bagus juga sih*

Alif juga bisa menggambarkan bagaimana kedamaian St Raymond, angka kriminalitas 0, rumah-rumah aman meski tidak dikunci, jompo ditanggung pemerintah, dan kesejahteraan lain yang dinikmati warga disana.

Semangat nasionalisme yang tinggi,terasa...event hari Pahlawan saat itu. Rusydi yang memang sangat nasionalis dg rentengan aksesoris bendera berhasil mengajak teman-teman untuk memperingati hari Pahlawan bersama teman-teman Kanada dan warga disana. Amazing! Menyentuh! Betul-betul sadar, cinta dengan tanah air, ketika mereka terpisahkan jarak.. Meski Indonesia begiini dan begiitu, tanah air tetap Indonesia. Semangat itu yang dibawa Alif dan teman-teman.

Event dan pagelaran seni yang berhasil mengundang perhatian dan menjadi headline news koran setempat.. dengan tari Indang, pisang goreng yang jadi favorit diantara kuliner lainnya.. Ah, Indonesia memang unik :)

Persahabatan lintas negara, yang meski beda bahasa, belum paham bahasa masing-masing, agama, ras, warna kulit berbeda...tapi semuanya terlihat indah..

Sepertinya tidak lengkap jika novel tanpai dibumbui romansa. Begitu juga dengan Alif. Alif & Raisa.. Saya salut dengan prinsip yang dipegangnya. Meski rasa itu sudah muncul saat masih sebagai tetangga kosan di Tubagus, tapi Alif bertanggung jawab dengan rasa itu. Alif ingat pesan sang ustadz PM. Dani Alif bersaing dengan sahabatnya sendiri.. Akhirnya, romansa yang bisa ditebak, meski tinggal selangkah lagi si Alifnya setelah sekiaaan tahun menyimpan...:D

Jarak antara sungguh-sungguh & sukses itu tidak bersebelahan,tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya 1cm,tapi bisa juga ribuan km. Jarak ini bisa ditempuh dlm hitungan detik,tapi juga bisa puluhan tahun.

Jarak antara sungguh-sungguh&sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yg aktif,sabar yg gigih,sabar yg tidak menyerah. Sabar yg bisa membuat sesuatu yg tidak mungkin menjadi mungkin,bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban &keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras,do'a&sabar yg berlebih-lebih

Yah...sedikit review saya...pastinya lebih seru membaca, menikmati setiap lembaran, tertegun dengan pesan yang sarat makna :)

Man shabara zhafira


So, happy reading!
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
February 7, 2011
Ranah 3 Warna merupakan kelanjutan dari buku Negeri 5 Menara. Kisah Alif setelah menyelesaikan pendidikannya dari Pondok Madani.
Dimulai dengan kecemasan dan kegelisahan Alif yang ingin meraih impiannya dengan mengikuti test Sipenmaru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sesuai dengan cita-cita dari dulu, ia ingin seperti Habibie dan kuliah di ITB. Ternyata Ijazah PM tidak sama dengan ijazah SMA berarti dia tidak bisa mengikuti test Sipenmaru kecuali dia ikut ujian persamaan.
Keinginan Alif untuk menjadi mahasiswa harus diupayakan dengan segala daya , walaupun banyak rintangan tapi upaya yang sungguh-sungguh didukung oleh ayah dan amaknya membuahkan hasil walaupun akhirnya tidak bisa persis dengan yang ia cita-citakan karena dia harus merubah tempat kuliah dan jurusan yang dipilih. Saat perjuangan dari mulai persiapan ikut ujian persamaan dan tes sipenmaru disertai dukungan dan kedekatan dengan ayahnya kadang lucu tapi sangat mengharukan, bahkan mungkin bisa membuat pembaca teringat sama ayah masing-masing .

Dilanjutkan dengan perjuangan Alif ketika hidup dan kuliah di Bandung, bertemu dengan teman baru Agam, Wira , Memet, juga Raisa perempuan yang sangat menarik hatinya, dan bagaimana pasang surut hubungan dengan teman sekampungnya Randai, teman sejak kecil yang kadang suka meremehkan Alif tapi membantu nya ketika membutuhkan tempat kost, dikala sakit atau ketika membutuhkan biaya hidup setelah ayahnya meninggal. Hubungan mereka memburuk ketika terjadi insiden computer Randai rusak, Randai yang sedang emosi mengeluarkan kata yang kurang enak ( bisa dimengerti sebagai ‘anak muda’ mahasiswa ketika tersentak dari tidur mengetahui tugas yang dikerjakan susah payah sampai dia tidak tidur dan dikejar deadline -lenyap seketika sehingga terancam tidak lulus mata kuliah itu ). - Mengingatkan kita unutk barhati-hati dalam soal pinjam meminjam -.
Kisah Alif berlanjut dengan segala usaha dan doa untuk melanjutkan kuliah sampai dia mendapat kesempatan untuk ikut program pertukaran pemuda ke Canada.
Ada bagian-bagian yang agak membosankan ketika membaca bagian selanjutnya ( tapi yang membosankan lebih sedikit dari buku pertama N5M), untung masih ada cerita yang mebuat tertawa misalnya ketika membayangkan Franc dengan logat Quebec nyanyi lagu Sunda “Euis’, juga ketika Alif & Rusdi harus lipsync agar tidak merusak nada lagu yang dinyanyikan bersama.
Untunglah kelanjutan hubungan Alif dan Raisa seperti itu (baca sendiri) kalau tidak hanya seperti akhir kisah yang lain.

Ada hal-hal yang bisa diambil sebagai hikmah dari R3W ini tapi mudah-mudahan saja cerita selanjutnya bisa dipertahankan tidak terjebak menjadi novel dakwah yang berlebihan.

Man Shabara zhafira- siapa yang bersabar akan beruntung
Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar.


*Bintangnya dibulatkan jadi 4 karena gambar cover buku dan pembatas bukunya baguuss


Profile Image for Primadonna.
Author 50 books374 followers
March 15, 2012
Seharusnya buku ini menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Sarat pelajaran hidup dan "mantra" untuk membakar semangat hidup.

Entahlah ada apa pada buku ini yang membuatku kurang sreg.

Dari segi penulisan, buku ini jauh lebih bagus daripada buku pertamanya. Pemaparan lebih lugas, itu jelas. Namun karena seolah ini biografi Alif, ya begitu-begitu saja. Cerita mengalir dengan konflik sana-sini yang menurutku tidak perlu. Kadang seolah Alif hobi banget membuat dirinya stres dengan berbagai hal yang menurutku, tidak perlu. Bukankah dia sudah punya mantra man jadda wajada dan man shabara zhafira? Mengapa kesannya di PM dia berjaya, tapi di dunia nyata semangatnya mudah melempem?

Lagi-lagi aku kurang sreg dengan karakter utamanya. Alif dan Alif dan Alif saja. Memang sudut pandang orang pertama, tapi aku sebagai pembaca juga tertarik lho, mengetahui lebih dalam mengenai teman2nya yang lain.

Aku merasa Alif bukan sahabat yang baik. Lihat saja caranya memperlakukan Randai, caranya menggunakan fasilitas dari Randai seolah aji mumpung, kemudian saat persahabatan mereka renggang, seolah Alif tidak benar-benar berusaha merajutnya kembali. Malah kala ia punya kesempatan berjaya di luar negeri, ia seolah memanas-manasi Randai dengan menulisinya surat tentang segala pencapaiannya.

Alif juga belum apa-apa seolah mencap Rob sombong, padahal kenal pun tidak, impresi sekilas, dan meski sudah dijelaskan Rusdi bahwa Rob ini begitu-begini, tetap saja Alif masih menganggap Rob sok dan harus dikalahkan. Ini aku tidak paham, memang sih kompetisi ke arah kebaikan itu tidak apa-apa, tapi mengapa seolah memberi justifikasi "habis dia bule sombong sih". Padahal bagiku sebagai pembaca, tindakan Rob masih normal, Alif saja yang reaksinya berlebihan.

Agak aneh juga, kesannya di PM Alif fasih berbahasa Inggris, mengapa begitu di Kanada ada kesan seolah ia perlu memperlancar bahasa Inggrisnya? Kemudian saat ia hendak protes ketika ditempatkan di panti jompo itu, nggak banget deh. Dengan latar belakang Alif harusnya dia bisa protes (kalau mau) dengan lebih elegan.

Lalu aku merasa Alif tidak benar-benar sedih berpisah dengan teman-teman Kanadanya. Kok kayaknya dia lebih sedih berpisah dengan teman-teman Indonesia-nya. Adegan perpisahan dengan Franc... ya begitu saja, dan akhirnya teman-teman Kanada kecuali orangtua angkatnya tak lagi disebut-sebut.

Kemudian, lha tahu-tahu Alif digambarkan sudah beristri? Siapa dia? Tak dijelaskan. Tahu-tahu saja kesannya Alif sudah makmur dan sejahtera. Apa akan dijelaskan di buku ketiga? Semoga demikian.

Lagi-lagi aku merasa karakter2 di sekitar Alif itu hanya sekadar tempelan, Raisa, salah satunya. Semoga di buku ketiganya nanti karakter2 dari buku pertama muncul kembali dan pendalaman karakternya lebih mantap.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ophan Bunjos.
Author 8 books36 followers
July 11, 2012


Akhirnya buku ini aku habiskan. Ketika A. Fuadi diwawancara dalam KickAndy, dia mengatakan kalau novel ini juga merupakan suatu catatan perjalanan anak perdesaan Maninjau yang mengabdikan impiannya bermula sejak di Pondok Madani.

Alif Fitri @ Ahmad Fuadi.

Ketika ada orang lain mempersoalkan niatnya mau ke Eropah, yang sebenarnya impian tamanya mau ke tanah bebas Amerika, dia malah lagi kuat mau ke sana. Soal nasionalis bukan pokok persoalannya, tapi soalnya bagaimana seorang anak perdesaan bisa mengapai mimpi-mimpinya.

Nah, seperti yang kita ketahui bahwa dalam buku tetralogi Andrea Hirata @ Ikal, juga diceritakan bagaimana mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Mau belajar sampai ke Sorbonne, diusahakan sehingga tercapai. Begitulah juga yang terjadi dalam perjalanan mimpi-mimpi Alif Fitri, mau ke benua Amerika.

Sebenarnya, mimpi-mimpi itu dicairkan dari pembekuannya sedari dari tamatnya Alif Fitri belajar di Pondok Madani. Dia berusaha keras sekali dengan dimulai bagaimana dia mampu menempatkan dirinya antara ribuan pelajar yang mau menuntut di universiti. Berusaha lebih ke depan dari orang lain, untuk mengejar ilmu harus tamak.

Ada babak-babak sedih dan syahdu di antara episod-episod perjalanan Alif Fitri. Dia kehilangan orang tersayang ketika dia masih berusaha untuk membuktikan kemampuannya. Dia rebah dan bangkit, dia rebah dan bangkit... berulang-ulang, kawan. Dari punya teman yang mesra, ramah dan sentiasa berada di sisi membantu sehingga kehilangan akrab seorang teman. Dari tidak punya duit untuk makan, malah untuk sarapan, untuk membeli bubur nasi sekalipun, sehingga dia perolehi peluang menjadi seorang author di akhbar-akhbar tempatan. Ini meyakinkan aku bahwa kekuatan seseorang itu pada kesabarannya. SABAR!

Alif Fitri seorang penganut islam yang baik, yang punya kekuatan dalaman dengan tumbukan doa-doa kepada Tuhan, maka kehidupannya sentiasa diberi kejutan oleh Tuhan. Ketika harapannya mulai tipis dan mengecut hilang, Tuhan mengembirakan hatinya dengan berbunga-bunga. Mekar dan menjulang harum kecintaannya kepada Tuhan.

Di Quebec, Kanada, tanah sempadan antara Amerika dengan Perancis, dia lagi mulai menemui erti perasaan yang gemilang. Dia melahirkan suatu yang baru dari harapan baru. Belajar menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Belajar memenangi hati semua orang dan hati yang dirinduinya dalam diam.


Buku ini juga lanjutan dari kisah Negeri 5 Menara, tempat di mana bermulanya kisah. Di sini dia punya kisah dengan temannya berlima.
Dalam impiannya mengejar impian, dia mulai merasai kehilangan. Kehilangan teman-temannya. Semua ini juga kita akan rasa dan sudah merasainya. Namun renunglah kata gurunya(pesanan Imam Syafi'i):

"Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan kawan.."


Profile Image for Khusnulia Lia.
15 reviews
August 10, 2015

Laris bener yah bukunya, bisa sampai cetakan ke sepuluh (yang saya punya). Ini buku ke-2 setelah buku best seller A. Fuadi sebelumnya yaitu Negeri 5 Menara. Dimulai dengan sampul bagian dalamnya iluatrasi peta, lucu deh, semacam Lord of the Ring.
Tokoh utama masih si Alif yang mulai meniti statusnya sebagai mahasiswa.

Bagaimana dengan hanya kerja keras ternyata tidak cukup untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa perantauan. Alif mengaplikasikan ilmu sabar yang didapatkannya dari Pondok Madani, kisah ini diceritakan di Negeri 5 Menara, buku pertama A. Fuadi.

Pembatas bukunya, cakep deh, berbentuk daun maple warna merah.
Ilmu baru juga buat saya pribadi. Apakah itu???
Ternyata sabar bukanlah menjadi pasif, tapi aktif. Aktif menahan godaan untuk mengeluh. Semacam itu, lupa gimana redaksinya, motivating banget deh. Hiks, ini saya update di kantor, bukunya di rumah. Nanti saya edit posting ini deh, saya kopikan kata-katanya.

1/3 buku cukup membuat saya bosan, hehe, penulisannya terlalu banyak penjabaran dan bertele-tele. Tapi cerita cukup menarik begitu masuk ke bagian Alif akhirnya berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri. Bertemu dengan mahasiswa lain yang ikut program beasiswa, dari Indonesia juga dari Quebec Kanada. Belum lagi wawancara dengan orang Indian asli dan tokoh politisi asli Quebec Kanada. Alif yang memang punya passion di dunia jurnalistik berkesempatan magang di stasiun televisi lokal Quebec.

Seru sih bagaimana Alif menjabarkan kondisi pemilu di Indonesia, dibandingkan dengan pemungutan suara di Quebeq yang fair. Juga bagaimana sang orang Indian terpana dengan kisah perburuan babi hutan di Indonesia. Saya juga suka penjabaran anak kampung yang bertemu dengan salju pertamanya di luar negeri (maksudnya saya iri). Hehe.

Hanya satu alur yang saya kurang sukai yaitu cerita tentang Raisa, biasa lah dunia per asmaraan akil balig laki-laki, hehe. Si Raisa ini perempuan yang ditaksir Alif githu deh. Tapi yang saya engga demen, seperti ko’ ndak cocok aja Alif cerita tentang asmara-asmaraan. Cerita tentang Raisa malah bukan menjadi bumbu yang manis, tapi semacam “yaelaaah ini ko’ kaya tekanan dari editor harus ada kisah cintanya”.

Akhirnya saya kasih 2,5 bintang dari 5 (tapi saya ndak bisa ngeklik setengahnya). Cukup deh ya, buat novel yang katanya best seller. Walau agak membosankan cukup terhibur dengan imajinasi yang berkembang karena ilustrasi peta di sampul dalamnya.

Dan walau membosankan tapi tetep saya beli juga buku ke-3 nya, yaitu Rantau 1 Muara. Segel belum dibuka, karena buku ini saya niatkan masuk dalam kotak seserahan untuk pernikahan saya. Betuuuuuul, saya mau menikah, horay.


Copas dari blog sayahttps://magentaurora.wordpress.com/20...
Profile Image for Irda Dewi Puspita.
13 reviews
February 5, 2011
Lama penyelesaian proses melahap sebuah buku. Terkadang menjadi salah satu faktor yang mencirikan sebuah buku itu sedap atau tidak untuk dinikmati. Tapi hal itu tidak berlaku padaku dalam menilai buku ini. Walaupun aku melahapnya dalam waktu yang lumayan lama. Bukan berarti buku ini ga bagus atau bahkan ga enak untuk dibaca. Tapi, karena banyaknya faktor xxx yang ngebuat proses melahap buku ini jadi tertunda-tunda. Haaiisshh... butttt now, finaaalllyy.... i'm finished!!!

Buku kedua dari Trilogi Negeri 5 Menara, bercerita tentang kelanjutan kisah kehidupan Alif, tokoh utama dalam buku ini, dari kehidupan sekolahnya di Pondok Pesantren Madani (diceritakan dalam buku Negeri 5 Menara, buku pertama dari trilogi buku ini) ke FSIP Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran. Perjalanan hidupnya menjejaki ranah 3 warna, Bandung, Amman (Yordania) dan Saint Raymond (Kanada) membuatku terinspirasi untuk lebih tegar, sabar, gigih, mandiri dan berbagai masukan moril positif lainnya. Buku memang terkadang bisa menjadi makanan batin yang sungguh nikmat. Buku ini salah satunya! Big thumbs up untuk Uda Ahmad Fuadi, sang penulisnya yang brilliant! :)

Cover & pembatas bukunya cantik loh. Selain itu, sampe ceritanya selesai aku belom menemukan kesalahan typo satu pun (Hanya di halaman 472 baris ke enam, di bagian Pengumuman Penting (di luar ceritanya), ada kesalahan typo, kata tertulis bycara, seharusnya bicara).

Luv this book! Ga ragu untuk merekomendasikannya ke semuaaaaa...
Ditunggu buku ketiganya ya uda Ahmad, semoga semakin bagus & semakin menginspirasi semua orang dan semoga mantra ajaib Man Jadda Wa Jadda (siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil) dan Man Shabara Shafira (siapa yang bersabar, akan beruntung), serta pesan2 moral baik yang diajarkan oleh buku ini, benar2 bisa merasuki langkahku dalam menjalani hidup ini, seperti ALIF ;)
Profile Image for Uci .
617 reviews123 followers
June 7, 2011
Membaca bagian pertama buku ini, tentang perjuangan Alif selama kuliah di HI Unpad, saya tak urung bertanya-tanya apakah saya akan lebih ambisius dan tahan banting jika hidup saya sesusah Alif. Kadang-kadang kesulitan memang membuat seseorang lebih berani bermimpi untuk memperbaiki keadaan, untuk keluar dari jerat masalah.

Itu sebabnya saya lebih menyukai bagian pertama Ranah 3 Warna. Bagian kedua, yang menceritakan kehidupan Alif dan teman-teman saat menjalani program pertukaran di Kanada, penulis kembali ke 'diary mode', alias lebih banyak menuturkan kejadian hari demi hari yang kurang menantang 'sengsara'nya :D Walaupun menyenangkan membaca tentang budaya dan seluk-beluk Kanada, tapi perjuangan untuk bisa sarapan tiap hari, untuk jualan dari rumah ke rumah demi mencari uang kuliah, rasanya lebih menginspirasi bagi orang-orang yang kadang merasa sebagai orang paling susah di sunia, seperti saya hehehe.

Kutipan berkesan:
- Jangan menyerah. Menyerah berarti menunda masa senang di masa datang.
- iza shadaqal azmu wadaha sabil, kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan.
- Sedekah terbaik dilakukan di kala kesusahan, bukan di kala senang saja.

Oiya, di halaman 62 disebutkan Randai mahasiswa Teknik Penerbangan, tapi halaman 182 jadi Teknik Mesin.

Oiya lagi, itu benaran nggak ya, mahasiswa HI Unpad study tour-nya ke Eropa? Asyik banget, waktu di HI UI dulu saya cuma jalan-jalan ke Kemenlu sama kantor RCTI :D




Profile Image for Isnaini Nuri.
94 reviews23 followers
March 4, 2011
Alhamdulillah,,
terbeli juga buku ini dengan upah hasil ngemong anak selama 2 hari,,
huekekekeke....
Joss dah pastinya..
Setelah baca buku ini baru saya sadar sepertinya saya belum berusaha "extra miles"..
Tenaga saya masih banyak bersisa dalam usaha mencapai impian,,makanya gak nyantol2 mimpinya :D
Padahal kondisi saya jauh lebih baik dibanding kondisi si Alif di buku ini..
Hebat mantep banget perjuangannya...
Saya juga jadi sadar perjuangan sangat berat di awal mempunyai waktu yang singkat dibanding hasil yang diperoleh perjuangan berat selama berbulan-bulan diganjar hasil yang indah selama bertahun-tahun) meskipun pasti rasanya waktu berjalan sangat lambat di masa-masa perjuangan..
Man jadda wajada >> siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses
Man shabara zhafira >> siapa yang bersabar akan beruntung
Man sara ala darbi washala >> siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.. (sepertinya ini akan menjadi mantra di buku no 3..hehehehe)

Yoshhh....(^^)/
Man jadda wajada.....
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 9, 2011
Merupakan lanjutan buku pertama Negeri 5 Menara. Aku tidak sabar ingin membaca buku ini, setelah menunggu-nunggu kapan akan diterbitkan. Saat beli pada hari pertama eh sehari sebelum peluncuran hari pertama di sebuah toko buku bela-belain untuk bayar dulu baru diambil keesokan harinya biar dapat hadiah tas.

Jika Negeri 5 Menara bercerita tentang suka duka Alif dan teman-temannya dalam menjalani kehidupan pesantren. Ranah 3 Warna berkisah tentang Alif setelah lulus dan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi sampai melanjutkan keluar negeri. Sama-sama bagus dan menginspirasi. Namun Negeri 5 Menara punya plus yaitu tentang kehidupan dipesantren yang menarik sekali untuk diikuti dan lumayan jarang diceritakan dalam sebuah novel.
Profile Image for Syifa Luthfianingsih.
250 reviews95 followers
August 28, 2016
Sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih.
Profile Image for Sonia Marophahita.
9 reviews2 followers
December 14, 2014
Mungkin tak semua orang mampu untuk menghadapi berbagai macam cobaan dunia, namun yakinilah, Allah ta'ala takkan menguji hambanya di luar batas kemampuannya, dan yakinilah - innama'al usri yusro - bahwa di segala kesulitan itu ada kemudahan. Allah lah nantinya yang akan memudahkan segala urusan kita.

Buku ini bagus dibaca untuk orang yang tengah berputus asa,
Man Shabara Zhafira, Siapa yang bersabar dialah yang beruntung,

Ketika usaha kita yang keras sudah di akhir batas, tinggal satu peluang tawakkal, ikhlas, serahkan semuanya pada Allah, Allah lah yang lebih tahu mana skenario terindah untuk kita ambil dan kita lakoni.

Makasih kepada Kang Anwar Fuadi. :)
Profile Image for Mega Massie.
47 reviews
September 18, 2016
Buku yang menginspirasi sekali. Tapi saya agk sedikit bosan dengan gaya penceritaannya. Beberapa kali saya melewati halaman yang terkesan 'membosankan' untuk dibaca. Tapi itu mungkin hanya karena saya tidak terbiasa mengikuti gaya penceritaan A. Fuadi.
Tapi saya sangat takjub dengan gagasan ceritanya. Jika banyak buku lain bertebaran petuah di mana-mana, buku ini hanya berfokus pada 2 petuah. Dan segala yang dilakukan tokoh di novel ini menggambarkan kedahsyatan petuah itu. Hanya 2, namun saya dibuat benar benar memahami makna dan tujuan petuah tersebut.
Profile Image for Sarah Luziani.
37 reviews83 followers
November 13, 2011
"Man Shabara Zhafira"
Ini dia mantra utama dari buku ini. Cerita dari seorang Alf Fikri, seorang lulusan gontor yang bercita cita ingin seperti BJ. Habiebie, presiden ke-3 kita. Ya, sempat dia galau. "Bagaimana bisa lulusan gontor yang tidak punya ijazah SMA ingin mengikuti UMPTN ke ITB??". Dia sempat "futur". Turun iman karena hal ini. Tapi karena kerja keras dan ridha Allah dia bisa mengikuti ujian persamaan SMA walau dengan nilai nilai yang tak memuaskan. "Yang terpenting sekarang aku punya ijazah SMA."

Dia ingin sekali mengalahkan Randai, teman masa kecilnya yang sudah mendahuluinya masuk ITB. Ada problem disini. Alif tidak belajar pelajaran SMA di Gontor, dan Alif tidak bisa mengejar pelajaran matematika. Terpaksa dia harus melayangkan cita - cita masuk ITB jauh jauh. Sekarang dia lebih tertarik dengan jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Ini lebih sesuai dengan dia yang menguasai bahasa - bahasa.

Seperti yang dikatakan Ustad Rais (hal.46)
"Anak anakku, sungguh doa itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkan dalam bebagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita."

Dengan semangat Denmark (pemenang piala dunia saat itu), dan berbekal mantra "Man Jadda Wajada", Alhamduillah dia lulus UMPTN.

Setengah hati dia meninggalkan keluarganya. Tak tega meninggalkan ayahnya yang sedang sakit. Hanya ditemani si Hitam (sepatu kulit pemberian ayahnya) dia sanggup menaklukkan Bandung.

Aku suka cerita dari sini. Walau ayahnya meninggal, dia tak putus asa. Walau sempat ia putus asa karena kekurangan uang, dan diberi penyakit yang bertubi-tubi. Padahal ia ingin mengirimi amakn, dan adik adiknya uang dengan terus berjualan. Tapi itu belum juga mujur. Namun, ia bisa menyelesaikan hal ini dengan rutin mengirim tulisan ke koran koran dengan dibimbing Bang Togar. Alhamdulillah, ini bisa menutupi keterpurukannya.

Dan Kiai Rais terngiang di otaknya, (hal. 101)
"Wahai anakku,latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri pada kalian sendiri dan Allah. I' timad ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilan. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti."

Selesai masalah ini, datang masalah baru. Selisih prasangka dengan Randai, teman satu kosknya. Dari sini dia trauma dengan namanya "meminjam" dan dia memutuskan untuk berpindah kosk.

Lama lama dia berat dan tak sanggup membiayayai kuliahnya. Dia ingin mencari beasiswa ke luar negri. Walaupun dia belum lulus S1. Wira, Agam , dan Memet tempat satu kampusnya meragukan dia bisa melakukan ini karena kebanyakan beasiswa ke luar negri hanya untuk yang sudah meluluskan S1nya.

Seperti yang diucapkan Ustad Salman, (hal. 179)
"Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun menjadi nyata . Pada waktu yang tidak pernah kita sangka sangka."

Akhirnya diapun dapat. Dia bisa ke Kanada! Benua Amerika yang selalu dia impi - impikan! Apalagi dia akan disana akan bersama dengan Raisa (teman se-kosknya dulu). Gadis elok yang selalu memikat hatinya. Tapi saat tes dia harus membela diri karena ia tidak bisa berbagai kesenian. Seperti, (hal. 205)
"Ibu benar sekali, kesenian dapat menjadi jalan yang memudahkan diplomasi. Tapi banyak sekali yang bisa kita perlihatkan sebagai bangsa sderajat. Tidak hanya seni tari, suara, dan kerajinan tangan. Lebih dari itu, kita perlu mempromosikan inteligensi kita setara dengan mereka. Lihatlah bagaimana Habibi bisa menjadi 'duta' teknologi Indonesia di negara maju. Dia menguasai teknologi, dia memperlihatkan kecanggihan ilmunya, dan mengepalai para Insinyur Jerman
...". Ini yang membuat dia bisa pergi Kanada.

Tak langsung ke Kanada. Mereka singgah di Amman, Yodania. Mengunjungi beberapa tempat wisata yang tentu mengasyikan. Sayangnya Rusdi mengalami kecelakaan yang membuat menunda kepergian untuk beberapa orang.

Kelanjutan cerita ini adalah benar benar mimpi yang menjadi nyata dari seorang Alif Fikri. Magang di stasion TV, mempunyai orang tua angkat yang baik, homologue yang selalu saling mendukung. Dan pada akhir cerita ini memang membuat aku iba. Hahaha

Ah benar benar. Buku ini menjawab hampir semua pertanyaanku di Negri 5 Menara. Disini terdapat surat dari Baso,
"Alif, bagiku belajar adalah segalanya. Ini perintah Tuhan, perintah Rasul, perintah kemanusiaan. Bayangkan kata kata pertama wahyu yang diterima Rasulullah itu adalah iqra. Bacalah. Itu artinya juga belajar. Makanya, aku terus mempraktikan ajaran Rasul itu, bahwa kita perlu belajar dari buaian sampai liang lahat. Aku tidak akan berhenti belajar walau nanti sudah dapat gelar atau lulus sekolah
...."

Ada satu hal yang selalu ngebuat ngakak disini. (hal. 282)
Suatu malam masih di daerah camp.tiba tiba berbunyi alarm yang membuat seluruh anggota camp terbangun dari tidurnya. Alarm kebakaran! Rob dengan lihainya menyemprot sekitar camp. Tapi tak ada api disana sini. "Ini alarm palsu" Ujar Rob kesal.
Semua kembali ke cabin masing masing.
"ssstt... Alif, masih bangun?", bisik Rusdi
"Udah mau tidur, ngantuk, nih."
"Kenapa bel dan lampu tadi hidupnya pas sekali dengan aku keluar toilet tadi ya?"
"Emangnya kenapa?"
"Di dekat WC ada tombol merah dan pengungkit yang bikin penasaran. Lalu aku iseng menarik pengungkitnya. Eh, tiba tiba bel berbunyi dan lampu merah hidup dan heboh seperti ini."
Alif bangkit dengan kesal, "Masya Allah kok iseng banget sih kan itu alarm kebakaran."
.... =))

Buku ini juga membuat aku lebih bangga dengan Indonesia, (hal. 315)

“Combien? Berapa? 220 Juta orang?” tanya Mado dengan muka heran.Mungkin sulit baginya membayangkan negara dengan penduduk besar, karena dengan luas daratan yang lima kali lebih besar dari Indonesia, Kanada hanya punya 20 jutaan penduduk.
“Iya, penduduk kami sebanyak itu”, kataku meyakinkan dengan menuliskan angka 220 dan 6 angka nol di kertas.
“Bagaimana kalian bisa bicara satu sama lain?”
“Kami punya bahasa persatuan bahasa Indonesia.”
Ferdinand menggeleng geleng heran.”Magnifique! Luar Biasa! Entah bagaimana kalian mengajarkan1 bahasa ke ratusan juta orang yang berbeda bahasa ibu, kami saja hanya dua bahasa, Inggris dan Prancis susah.”
Untuk pertama kali aku sadar betapa hebatnya pencapaian Indonesia dengan satu bahasa persatuan.Sesuatu yang selama ini aku anggap biasa ternyata sangat hebat di mata orang asing.


Hal. 404 juga
Saat mereka melakukan upacara bendera 10 November di puncak gunung Saint Ramond. Mereka tak kuasa menahan haru saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Padamu Negri. Upacara yang diakhiri dengan mencium bendera. :")
"Oh, para pahlawan bangsa, baru sekali ini aku sampai begitu tersentuh oleh perjuangan heroik kalian merebut dan membela negara ini. Sedangkan aku? Apa yang sudah aku berikan pada tanah airku? Apa ayng bisa aku dermakan? Aku bertekad membalas jasa para pahlawan dengan merawat bangsa ini dengan baik, dengan semampuku. Detik ini adalah detik aku paling bangga dan terhary menajdi orang Indonesia dengan alasan yang aku tidak benar-benar pahami saat ini."

Suka geli juga sih kalo baca bagian Alif mengejar ngejar Raisa
seperti pantun Rusdi,

Walau kini jual duku
Tapi besok jual rambutan
Walau kini tidak laku
Tapi besok jadi rebutan

Dan diakhir akhir ini dia yang membuat terharu,
Pertama,
"Mado dan Ferdinand, doakan aku bisa segera kembali mengunjungi kalian nanti."
"Pasti kami doakan. Kamu tahu bahwa kamu punya rumah disini. Rumah di Rue Notre Dame ini rumahmu dan Franc. Kalian bebas datang kapan saja," Kata Mado sambil menyentuh saputangan ke sudut matanya yang merah.

Kedua,
"Seandainya Ayah bisa melihat wa'ang tegak mandiri. Seandainya Ayah tahu wa'ang telah sampain ke benua Amerika. Seandainya Ayah tahu wa'ang hari ini wisuda.... Tentu dia adalah seorang ayah paling gadang ati. Bahagia." kata Amaknya saat mengahdiri wisuda Alif.

Sungguh. Ingin terus berkali kali baca buku ini!





Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
December 9, 2019
Novel Ranah 3 Warna merupakan buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Buku ini terbit pertama kali pada Januari 2011, sekitar 2 tahun pasca buku pertama diluncurkan. Dan, saya memang telat sih. Baru berkesempatan menjamah buku ini delapan tahun kemudian. Hehe

Apapun itu, yang penting rasa penasaran saya terhadap perjuangan "shohibul menara" sudah terjawab. Tepatnya, kisah perjuangan tokoh sentral bernama Alif Fikri selepas menamatkan pendidikannya di Pondok Madani.

Ada sedikit kejutan ketika menemukan tokoh Alif di novel ini. Jika pada kisah sebelumnya Alif digambarkan sebagai sosok yang polos dan lebih sering legowo, di novel ini Alif menjelma sebagai sosok pemuda yang lebih ambisius, mudah terbawa perasaan alias baperan, dan berani mengambil keputusan (meskipun sesekali masih muncul sifat peragunya).

Saya senang di novel ini tokoh Randai betul-betul dimunculkan. Tidak lagi hadir sebagai 'pemanis cerita' dalam korespondensi, tetapi hadir sebagai penyulut konflik sekaligus pemantik mimpi seorang Alif Fikri. Lucu juga kalau membaca 'kedekatan' yang terjalin di antara Alif dan Randai. Dari bab pertama hingga menjelang bab terakhir, keduanya selalu berseteru. Tidak secara fisik, tapi lebih kepada pemikiran dan perasaan. Jadi, semacam menyaksikan persaingan di antara dua sekawan. Atau, sahabat rasa rival (??)

Selain Randai, kemunculan tokoh baru lainnya pun cukup mewarnai perjalanan hidup Alif semasa kuliah. Terutama Raisa. Perempuan yang membuat seorang Alif Fikri jatuh hati dan.....

Oh ya, latar (suasana) tempat di novel ini menurut saya berhasil dideskripsikan secara apik oleh penulis. Mulai dari kampus Unpad, kos-kosan anak kuliahan, Jalan Tubagus Ismail, Simpang Dago, dll. Mungkin karena tempat-tempat tersebut memiliki ikatan emosional dengan saya pribadi. *Uhuk

Ala kulli hal, kisah Alif di novel ini benar-benar kaya akan pesan moral. Setidaknya ada 3 poin utama yang patut dijadikan bekal hidup bagi pembaca agar diamalkan dan ditularkan di mana pun berada. Pertama, mantra "man jadda wajada" saja tidak cukup. Dibutuhkan mantra lainnya, yaitu "man shabara zhafira" untuk mewujudkan mimpi yang sedang diperjuangkan. Barang siapa yang bersabar, maka ia akan beruntung. Begitu, katanya. Pesan selanjutnya, lebih khusus ditujukan kepada kawula muda. Bahwa apa gunanya masa muda kalau tidak digunakan untuk memperjuangkan cita-cita besar dan membalas budi orangtua (hal.117). Ketiga, carilah teman sebanyak-banyaknya, lalu ikatlah mereka dengan tali persahabatan. Sebab, hidup penuh persahabatan yang terus tumbuh adalah hidup yang mendamaikan (hal.280).

Ya.. begitulah secuil review dari saya. Semoga berfaedah. :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Faiz • فائز.
359 reviews3 followers
July 1, 2024
‎مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
“sesiapa yang bersabar, maka dia akan beruntung”

‎مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“sesiapa yang berusaha, dia akan berjaya”

Dua kalimat ini menunjangi buku. Persis buku yang pertama, Negeri Lima Menara, buku ini menyajikan pembaca dengan saduran emosi yang pelbagai: suka, duka, cinta dan kecewa.

Saya sendiri, entah berapa kali menitiskan air mata. Sebak dan hiba tatkala menelusuri kehidupan Alif, si watak utama. Saya yakin bahawa ramai lagi yang mempunyai aturan kehidupan yang serupa. Semoga kalian tidak pernah berputus asa dengan rahmat Tuhan.

Banyak juga kalimat-kalimat magis yang sempat saya kutip, misalnya;

"Nak, ingat-ingatlah nasihat para orangtua kita. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jangan lupa menjaga nama baik dan kelakuan. Elok-elok menyeberang. Jangan sampai titian patah. Elok-elok di negeri orang. Jangan sampai berbuat salah."

juga, syair Imam Syafie رَحْمَةُ الله عليه ;

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”


juga, kalimat-kalimat Arab yang disisip bersama:

اعتماد على نفسى
“mandiri, bertumpu pada diri sendiri”

‎إِذَا صَدَقَ الْعَزْمُ وَضَعَ السَّبِيْلُ
“kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan”

‎ مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ
“siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan”

‎لَنْ تَرْجِعَ الأَيَّامُ الَّتِي مَضَتْ
“tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu”

Menariknya, pengulangan setiap kalimat Arab keramat ini diperteguhkan dengan latar penceritaan. Misalnya, syair Imam Syafie yang menggalakan merantau, sesuai dengan Alif yang berkelana ke luar tanah airnya. Tambahan pula, watak utama ini mengambil jurusan International Relations, jurusan yang sama dengan saya. Maka, sedikit-sebanyak (seolah-olah) saya merasakan tautan jiwa dengan dirinya.

Entahlah, hakikatnya, terlalu banyak manfaat dan faedah yang boleh diperoleh daripada novel ini. Tidak mampu saya catitkan semuanya di sini.

Pengulangan dan penegasan: novel ini seharusnya (baca: wajib) dibaca oleh semua, terutamanya buat para pemuda/i yang masih sibuk mengejar cita-cita, tapi diuji dengan cinta.
Profile Image for rifa࿐.
46 reviews3 followers
October 3, 2021
UUUUU AKU SUKA BANGET SAMA BUKU INI <3 seru banget ngikutin perjalanan Alif dari awal masuk PM sampai sekarang, aku ikut ngerasain, aku pernah dalam kondisi "dipaksa" juga sama orang tua :( ditahun pertama aku udah pegang teguh "man jadda wajada" tapi pas ngulang ujian untuk yang kedua kalinya aku gagal lagi :(( DAN UNTUNG AJA AKU BACA BUKU INI!! ternyata kurang 1 mantra "man shabara zhafira" dan sekarang aku lagi dalam proses "menyukai" hal yang "dipaksa" orang tua ku tadi (agak taku bakal jadi gila [;]) semoga sabar aku ada hasilnya 😄
Profile Image for Simplyditch.
13 reviews
October 28, 2017
Alif mengajarkan kita bahwa untuk meraih suatu kesuksesan tidak hanya dengan sungguh-sungguh, tapi juga kesabaran yang luar biasa.
Gaya menulis yang membuat ikut terhanyut dalam cerita, ikut menangis ketika Alif merasa sedih, ikut deg degan ketika menunggu pengumuman keberangkatan.
Tidak sabar baca buku trilogi yang terakhir..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sakinah Mariz.
115 reviews1 follower
December 27, 2014
RESENSI BUKU

Judul : Ranah 3 Warna (Buku Kedua Dari Trilogi Negeri 5 Menara)
Pengarang : A. Fuadi
Cetakan : Pertama, Januari 2011
Penerbit : Kompas Gramedia
Jenis : Novel
Menemukan Warna Kehidupan

“Buah dari kesabaran adalah keajaiban.” makna yang sarat terkandung dari novel kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Setelah sebelumnya berhasil menyihir pembaca dengan letupan mantera Man Jadda, wa jada (dimana ada kemauan disitu ada jalan), kali ini penulis menguatkan cerita dengan kalimat Man Shabara Zafira (Barang siapa yang bersabar,akan beruntung.
Dalam cerita sebelumnya, penulis A.Fuadi dengan apik membawa kita jauh ke sebuah pondok pesantren yang berada di tanah Jawa. Pondok Madani merupakan rumah bagi santri yang rakus ilmu juga tempat membina dan membentuk karakter kokoh. Disanalah dulu Alif dan kelima sahabatnya, (para Sahibul Menara) belajar keras, menempa diri mereka demi meraih masa depan. Keteladanan para guru dan kharisma kuat pemimpin pondok, Kyai Rais menyertai langkah Alif untuk mengejar cita-citanya, kuliah di universitas negeri.
Kisah Alif dan sahibul menara telah berakhir sejak upacara kelulusan mereka yang mengharukan. Impiannya kuliah di universitas negeri dan menginjakkan kaki di Benua Amerika ternyata tidak mudah. Perbedaan kurikulum pelajaran di pesantren membuatnya harus mati-matian belajar keras untuk menempuh ujian persamaan tingkat SMA supaya bisa melamar di perguruan tinggi negeri. Belum lagi persaingan di UMPTN (sekarang SNMPTN) sangat ketat, membuatnya harus berjuang hingga darah tidak menitik sekalipun!
Penulis A.Fuadi yang kental dengan pesan-pesan religinya, menuntun kita menyelami perjalanan hidup Alif yang penuh warna. Kesedihan dan kenyataan dikemas dengan bahasa sederhana, sehingga pembaca tidak dipaksa “Menangis Bombay” ketika menikmati perjuangan Alif. Tragedi-komedi muncul serupa sindiran halus untuk senantiasa ikhlas mensyukuri pemberian Allah Swt, terasa lebih berkesan dan sukses menitikkan airmata. Novel ini mengajak kita sama-sama berfikir sekaligus membiarkan kita agar merasakan penderitaan si tokoh dengan perspektif masing-masing.
Randai, sahabat Alif sedari kecil menyalakan kembali semangat berkompetisi di antara mereka. Randai yang cerdas, kuliah di ITB, dan anak orang kaya itu menjadi lecutan kuat bagi Alif untuk berusaha lebih unggul. Berbekal kemampuan Bahasa Arab dan Inggrisnya yang sangat baik, Alif mengambil jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran. Allah menjawab do’a dan ikhtiarnya. Saat perkuliahan berjalan, tiba-tiba Alif dihadapkan pada kenyataan bahwa orangtuanya terlalu papa untuk membiayai kuliah dan hidupnya di perantauan.
Kekurangan mengajarkan kita bersyukur, sedangkan kelebihan mengajarkan kita untuk saling berbagi. Ranah 3 Warna adalah refleksi dari diri kita kemarin, hari ini, dan besok. Fase kehidupan selalu dijalani seseorang dengan beragam cara. Adakalanya sebuah peristiwa kecil, mengubah hidup kita untuk hal-hal yang besar. Hal-hal besar yang kokoh sekalipun ternyata juga bisa runtuh oleh sebuah momen kecil. Penulis A. Fuadi, telah menyuguhkan renungan berfikir filsafati yang besar dengan gayanya sendiri.
Kesempatan kadang datang dengan cara yang tak disangka-sangka. Perrtemuan singkat di bis memberinya informasi jika ternyata ada program pertukaran pelajar ke salah satu negara di benua Amerika, Kanada.
Si cantik Raisa yang cerdas dan Randai yang beruntung juga ikut dalam test ke Quebec, Kanada. Cita-cita Alif ke Amerika bersama sahibul menara beberapa tahun lalu, mempunyia banyak kelemahan. Hal ini semakin menyudutkan posisi Alif. Di satu sisi dia adalah lulusan pondok yang dituntut supaya senantiasa berprilaku santun dan menjaga interaksinya dengan lawan jenis, tapi di sisi yang lain, dia harus mengakui bahwa dia mencintai Raisa. Kompetisi sengit antara Alif dan Randai dimulai. Siapa yang akan memenangkan tiket ke Quebec?
Ranah 3 Warna bukan hanya sekedar representasi dari perjalanan Alif dari ranah Sumatera Barat di wilayah Danau Maninjau ke ranah Jawa Barat di Bandung, tempatnya menuntaskan janjinya pada Allah dan orangtuanya. Warna dari ranah ini hanyalah simbolisme untuk membantu proses kematangan pembaca.
Melalui tokoh Alif, kita diajak bernalar empirik hingga menuangkan ide-ide yang kita tangkap dalam pemahaman yang lebih komperhensif. Ranah 3 Warna, pada akhirnya mencitrakan “loncatan-loncatan dalam hidup” itu sendiri. Masa-masa penting dimana saat kita mulai mengenal tujuan hidup, meraihnya susah payah hingga akhirnya mendapatkan kemenangan manis.
Seperti kata pepatah Arab, Man Yazra’ Yahsud maka benarlah maknanya bahwa siapa yang menanam, akan menuai apa yang ditanam.



Sakinah Annisa Mariz,
Penulis Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Medan




Profile Image for Yuliza.
31 reviews
August 17, 2013
Setelah tersihir dengan mantra Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses) pada buku pertama, harus aku akui akupun sepertinya terhipnotis dengan mantra kedua di buku ini, Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar, dia akan beruntung)
Ranah 3 Warna, pertama liat covernya sempat mikir “ Ini kan daun maple.. kenapa covernya bergambar daun maple dan sepatu butut..?” Daun maple menjadi sangat akrab denganku karena dulu-dulunya aku tuh suka banget maen game online Farmville  *jeddaaarrrr*. Tanyaku pun terjawab setelah menyelesaikan novel kedua A. Fuadi ini.
***
Cerita ini bermula setelah Alif menyelesaikan pendidikannya di Pondok Madani. Cita-citanya tak pernah berubah, ingin seperti pak Habibie dan masuk ITB. Tapi keinginan tersebut ternyata tak mudah terwujud. Teman-temannya banyak yang meragukan kemampuannya menembus PTN melalui jalur UMPTN karena latar belakang keilmuan yang dimilikinya adalah ilmu agama. Selain itu, Pondok Madani tidak mengeluarkan ijazah SMA. Karena itu Alif harus mengikuti ujian persamaan tingkat SMA terlebih dahulu. Mulai dari sini aku bisa merasakan bagaimana susahnya perjuangan Alif untuk meraih cita-citanya. Dia berusaha bersabar menjalani proses itu dan juga bersabar menghadapi kergauan orang-orang akan kemampuanya. Dari sini jugalah Alif mulai belajar strategi, bahwa terkadang keinginan tak selamanya berjalan sesuai harapan. Dia mulai menyusun strategi baru, mencoba mengenali kembali karakter diri sendiri, melihat apa yang diminatinya sehingga pada akhirnya sebuah keputusan besar berhasil diambilnya. Ia lupakan ITB. Berubah haluan dari eksakta ke bidang sosial. Dia berhasil lulus UMPTN di fakultas Hubungan Internasional Unpad.
Cerita menjadi menarik saat Alif memulai hari-harinya di Bandung. Bertemankan si hitam sepatu pemberian sang Ayah) Alif kemudian melewati hari-harinya yang penuh dengan warna. Si Hitam adalah saksi bisu bagaimana Alif harus pontang panting menyelesaikan tantangan menulis artikel dari seniornya Bang Togar. Si Hitam juga menjadi saksi bagaimana Alif harus mengunjungi door to door setiap rumah sebagai salesman untuk membiayai hidupnya di tanah rantau. Semua dijalani dengan penuh kesabaran, berharap kesulitan yang dihadapinya bergannti dengan kemudahan. Si Hitam tak hanya menjadi saksi tapi juga menyimpan sebuah kenangan manis bersama orang tercinta, Ayah. Seandainya di Surga Ada Durian, bab ini berhasil membuatku menangis. Alif kehilangan Ayahnya untuk selama-lamanya. Perasaanku jadi campur aduk membacanya. Dengan flash back beberapa kisah Alif bersama ayahnya, A. Fuadi berhasil menggambarkan bagaimana kedekatan hubungan ayah dan anak ini secara emosional. Meski karakter keduanya pendiam dan tak banyak bicara, tapi sebagai pembaca aku bisa merasakan kedekatan keduanya. Jadi aku pun tak kuasa membendung air mata saat tau Alif harus kehilangan ayahnya.
Cerita duka itu tak berlangsung lama, Alif sadar bahwa ia harus memenuhi keinginan Ayahnya, menyelesaikan kuliahnya. Alif pun bangkit meski dengan terseok-seok. Satu persatu buah dari kesabarannya mulai dapat ia rasakan. Mulai dari opini-opininya dalam bentuk tulisan mulai menghiasi beberapa koran lokal. Tak hanya kebutuhannya yang dapat dipenuhinya, dia pun dapat mengirimi uang untuk Amaknya di kampung. Hal manis lain yang menjadi kejutan adalah saat Alif berhasil lolos sebagai salah satu duta bangsa dalam proses pertukaran pemuda ke Kanada. Terjawablah teka-teki daun maple tadi  Petualanganpun dimulai.. Dari sini cerita semakin seru. Bukan hanya penuh dengan petualangan Alif menaklukkan Quebec, menaklukkan hati orang tua angkat, menaklukkan hati homologue-nya, tapi juga bagaimana Alif mencoba menaklukan hati Raisa.. 
Dengan tebal 469 hal, Ranah 3 Warna ini benar-benar penuh kejutan. Sebagai pembaca, aku sangat menikmati hari-hari Alif dalam cerita. Aku termotivasi dengan karakter “pantang menyerah” nya dia. Man Jadda Wajada seperti sudah mendarah daging pada dirinya. Dan di Ranah 3 Warna ini Alif benar-benar yakin dengan Man Shabara Zhafira. Mantra ini pula yang membuatku percaya bahwa janji manis dari Allah atas kesabaran-kesabaran ku kadang bukan seperti inginku. Tapi aku percaya janji manis itu meski tidak seperti inginku tapi dampaknya buatku akan melebihi dari apa yang aku inginkan.. Luar biasa!!

Displaying 1 - 30 of 600 reviews

Join the discussion

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.