Mengikuti hasrat pengembaraan, Pendekar Tanpa Nama dari Javadvipa tiba di Tanah Kambuja pada tahun 796. Perjumpaan dengan seorang perempuan pendekar, membuat ia terlibat berbagai pertarungan maut yang setiap kali nyaris mencabut nyawanya.
Bersama perempuan pendekar itu, ia bergabung dengan pasukan pemberontak An Nam yang melawan penjajahan, yang kemudian membuatnya wajib melakukan perjalanan rahasia ke Negeri Atap Langit untuk membongkar persekongkolan.
Kesetiaan dan pengkhianatan, sihir dan nalar, silat dan filsafat, cinta dan birahi, mengharubiru petualangan Pendekar Tanpa Nama yang harus mengatasi tantangan alam luar biasa antara dongeng dan kenyataan.
Mengapa ia terdampar di kampung pelarian Pemberontakan An-Shi? Bagaimana caranya Pendekar Tanpa Nama mengatasi gungfu Perguruan Shaolin? Apa yang membuat perjalanannya berbelok ke Shangri-La dan terpaksa menghadapi para penyamun terbang?
Nagabumi, autobiografi Pendekar Tanpa Nama, yang ketika menuliskannya selalu diganggu para pembunuh bayaran! ---------------- Seno Gumira Ajidarma adalah sastrawan,fotografer dan kritikus film Indonesia. Karya-karya sastranya meliputi kumpulan cerpen,drama,novel dan komik. Ia lahir di Boston tanggal 19 Juni 1958. Cerpen-cerpennya muncul di harian Kompas,Media Indonesia,Republika,Koran Tempo,majalah Matra, Djakarta!,Horison, dan Latitute. Selain menulis, ia juga mengajar di IKJ pada mata kuliah Penulisan Kreatif dan Kritik Film. Buku-bukunya yang diterbitkan di Gramedia Pustaka Utama adalah Sebuah Pertanyaan tentang Cinta,Atas Nama Malam,Kematian Donny Osmond, dan Sepotong Senja untuk Pacarku.Cerpen "Sebuah Pertanyaan untuk Cinta" pernah difilmkan dan ikut serta dalam festival film JIFFEST (Jakarta International Film Festival)
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Fyuh! akhirnya selesai juga. Pengalaman membaca Nagabumi II tidak senikmat Nagabumi I. Di seri kedua, ceritanya berjalan lambat, sangat lambat - terutama bagian Celah Dinding Berlian. Beratus-ratus halaman hanya berkutat di situ saja. Ini mungkin juga strategi pengembangan cerita. Di Celah Dinding Berlian itu pula misteri demi misteri terus menerus muncul tanpa ada penyelesaiannya. Sungguh membuat lelah.
Hal lainnya yang membuat lambat pembacaan saya adalah betapa detailnya sejarah negara-negara Indocina. Mulanya saya bolak-balik mencari nama-nama wilayah yang disebutkan, lama-kelamaan jenuh juga. Bisa jadi, ini karena saya kurang menaruh minat di situ.
Saya berharap di seri ketiga, yang sudah dibeli setahun lalu tapi belum saya buka segelnya, pengembaraan Pendekar Tanpa Nama berlangsung dengan tempo yang lebih cepat dan cerita tidak bercabang tanpa ada penyelesaian.
Dan entah saya harus menunggu berapa tahun lagi untuk tahu seperti apa Pembantaian Seratus Pendekar itu berlangsung.
Sekali lagi para pembaca yang budiman ditinggalkan dalam keadaan penasaran dan "gantung" karena kitab ini berarkhir pada saat akan ada pertarungan besar yang jelas melibatkan pahlawan kita: Pendekar Tanpa Nama!
salah satu dari sedikit judul cerita yang mengambil setting sejarah dengan detail yang dijelaskan sehingga mendukung jalan cerita dan membuat saya sebagai pembaca merasa menjadi orang yang bodoh dan sangat kurang ilmunya. pada beberapa bagian sulit untuk dinikmati karena aku tak bisa paham penjelasan soal filsafat agama yang banyak sekali dikisahkan dalam cerita ini untuk mempertegas pergulatan si Pendekar Tanpa Nama untuk memahami ilmu silat dan menciptakan Jurus Tanpa Bentuk yang dahsyat itu.
sekarang tinggal menunggu tahun 2013 untuk kitab ketiga!
=====
akhirnya! buku kedua!
keren! duel pertama di awal buku ini (lanjutan dari bagian akhir kitab pertama) membuatku sempat lupa bernapas saking menegangkannya!
begitu lihat di rak dengan diskon 30 persen, tanpa pikir panjang langsung diambil. buku-buku lain yang terlanjur di tangan, terpaksa dikembalikan dulu ke rak semula
Sama seperti buku 1, buku 2 juga buku pelajaran sejarah. Tapi tempatnya sudah di luar negeri, sebagian besar di Cina. 2/3 buku adalah deskripsi sejarah, 1/3 cerita silat. Saya merasa cerita silatnya kurang menggigit, tokoh utama terlalu OP, plot armornya terlalu tebal.
Ada semacam perasaan haru dan bahagia ketika menyelesaikan pembacaan Nagabumi jilid kedua ini. Pun, ada semacam rasa penasaran yang tidak terlampiaskan kala membaca kata: "BERSAMBUNG" di akhir halaman. Ada pula semacam perasaan sedih membayangkan bila suatu masa entah kapan nanti Nagabumi jilid ketiga tidak kunjung terbit melanjutkan perjalanan Golok Karat dan Pendekar Tanpa Nama menuju Shangri-la menemui Maha Guru Kupu-Kupu Hitam.
Sebuah pembacaan panjang yang menghabiskan setengah dekade. Saya sendiri bingung entah mengapa baru bisa menamatkan Nagabumi II selama itu. Padahal, Nagabumi I cukup hanya butuh 4 bulan saja. Itu pun termasuk lama karena saya hanya membacanya setiap pulang ke Cimahi. Nagabumi II ini pada bulan April 2012 dipesan di Medan Merdeka Barat, dikirim ke Ciledug, dipindah ke Cimahi, berangkat lagi ke Ciputat. Perjalanan yang panjang dan tak kunjung selesai.
Saya mengikuti kembali pembacaan yang masih sempat ditandai sejak awal. Hanya beberapa halaman pembuka dan untung masih ada pembatas buku disana. Saya menutup pembacaan pertama pada halaman-halaman awal maka saya lanjutkan kembali dengan mudah.
Pengembaraan Pendekar Tanpa Nama berlanjut. Perjalanan mempertemukannya dengan Amrita, putri cantik pemimpin kaum pemberontak. Ia terlibat dalam sebuah pusaran pemberontakan yang berasal dari dendam yang telah mengakar. Petualangannya bersama Amrita kemudian mengantarkannya kepada Harimau Perang.
Perjalanan mengejar Harimau Perang ini menghabiskan lebih dari setengah halaman buku. Pendekar Tanpa Nama harus berurusan dengan para bhiksu Shaolin untuk sebuah kepastian bernama Harimau Perang. Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia dipaksa oleh Kupu-Kupu Hitam untuk pergi ke Shangri-la, mencuri sebuah kitab silat.
Cerita berhenti tanpa sebuah kepastian apakah Pendekar Tanpa Nama berhasil mencuri kitab silat dalam kurun waktu 30 hari. Memang rasanya tidak menyenangkan ketika cerita harus berhenti tanpa ada kepastian, minimal hingga ada kelanjutan cerita sedikit tentang bagaimana nasib Pendekar Tanpa nama selanjutnya. Tapi, bukankah ini adalah sebuah cara agar Nagabumi III segera hadir? Semoga.
Penggalan demi penggalan bab dalam Nagabumi (baik I dan II) mengingatkan saya pada kumpulan cerita silat Kho Ping Hoo yang bisa terbit dengan puluhan buku untuk satu judul. Untuk itu, agaknya Nagabumi masih lebih baik karena cerita dan riawayat perjalanan Pendekar tanpa Nama terangkum utuh dalam satu buku. Ilustrasi isi dari Beng Rahadian turut memberi nilai visual pada Nagabumi. Setidaknya, pembaca bisa diajak berimajinasi tentang tempat-tempat yang dijelajahi oleh Pendekar Tanpa Nama.
Saya berharap Nagabumi akan masih berlanjut. Bagaimana pun, sebuah perjalanan membutuhkan sebuah akhir.
Nagabumi II:Budha, Pedang dan Penyamun Terbang . Merupakan kisah perburuan Pendekar Tanpa Nama terhadap Harimau Perang di tanah Kambuja sampai Sanghrila... Perjalanan panjang penuh liku - liku dan misteri. Penggambarannya settingnya begitu detail seperti gambaran aslinya, namun kisahnya sedikit mengambang karena bertumpuknya misteri demi misteri dalam buku ini yang tidak terungkap sampai akhir buku II ini. Keseluruhan buku ini menarik tapi bagi pembaca awam buku ini lebih berat daripada buku I Nagabumi I Pendekar Tanpa Nama karena banyak berisikan filsafat - filsafat khususnya filsafat agama Budha.
Saya kira buku pertama lebih menarik bagi saya dibanding seri yang kedua ini. Buku ini lebih banyak bercerita tentang sejarah negeri lain. Sedangkan cerita silatnya cenderung kurang. Walaupun saya cukup tertarik dengan sejarah dan sedikit filsafat, namun tetap saya paling tertarik dengan cerita silatnya.
"Menjadi alamiah tidaklah menjadi binatang melaikan kembali menjadi manusia, bagian alam dengan dengan penalaran matang, sebagai mahluk berfikir di dalam dunia"
sebuah buku silat yang penuh dengan kata-kata mengikat
#baca nya jadi kelamaan disealngselaing sama yang lain :P
pussing... hehe.. buat tombo ngantuk ae.. ben cepet meremm!! haha~ karena sangking tuebellnya.. kan beurat tuh! ~ ealah... baru mbukak saja sudah ngantuk... entahlah sampai kapan, daku mampu selesaikan membacanya!!
sejarah, silat, filsafat. tiga hal yang menjadi isi dari buku nagabumi, begitu pula buku kedua ini. cukup melelahkan membaca buku ini, terbukti hampir setahun baru selesai. dan pendekar tanpa nama terlihat semakin sakti.