Aku telat kenal novel ini, ternyata release waktu umurku masih 16 tahun dan duduk di kelas 1 SMA. Waktu itu aku masih keasikan baca ulang novel karya Kak Primadonna Angela yg "Kotak Mimpi" tahun 2010, sampai lupa ada novel yg ga kalah bagus juga. Bisa dikatakan aku baru tau novel ini karena lagi asik cari2 novel yg ada di Google Play Store.
Bela2in purchase dan baca seharian sampai selesai. Dan, aku suka bgt sama novel ini! Jujur, Prologue atau Part 1-nya sangat menarik perhatianku pada tokoh Rayhan dan Kirana, anak semata wayangnya. Gatau knp aku bener2 penasaran sama sosok Rayhan ini.
Sampai akhirnya, aku tau siapa sosok Rayhan yg tadinya buat aku tertarik sampai hadirnya tokoh Amira.
Jujur, aku benci perselingkuhan. Aku ga pernah suka baca cerita atau nonton film/series/sinetron/drama yg ada kaitannya sama perselingkuhan. Tapi, untuk novel ini dan novel "Remember When" karya Kak Wina Effendi jadi pengecualian.
Novel ini layak dikasih bintang 5 karena menurutku memang inilah pahit dan manisnya pernikahan. Suka gasuka, terima ga terima, memang akan ada pasangan yg kembali menyatu dan rujuk. Walaupun, salah satunya sempat menghancurkan pernikahan itu AKIBAT PENGHIANAT YANG DIBUAT ALIAS BERSELINGKUH.
Kalo boleh pilih, lebih baik Amira dan Rayhan jgn lagi menyatu tapi karena mereka masih saling mencintai dan saling membutuhkan, itu yg buat mereka harus rujuk. Harus pake alasan apalagi untuk bersikeras ga rujuk? Lain hal kalo rasa cintanya Amira udh mati. Mungkin penulis juga ogah kali ya nyatuin mereka. Hahaha!
Ray merasa bersalah dan masih butuh Mira untuk menemani sisa hidup dia dan juga menjadi sosok ibu untuk Kirana, yg merupakan hasil perselingkuhan antara Ray dan Elsa. Kehadiran Kirana pun juga kayak membangkitkan keinginan Amira yg dulu, yaitu punya anak. Kemarahan dan ego Amira luntur karena dia mendadak sayang sama Ray. Terlepas Kirana itu hasil perselingkuhan Rayhan dan Elsa.
Jujur, aku suka proses di mana Amira mau menerima sedikit kedekatan dia dengan Rayhan. Ya, kasarnya itu cukup buat nampar si Rayhan. Gmn rasanya ketika wanita yg pernah dia cintai dan dia takhlukan, akhirnya susah lagi buat digaet? Ngulang kan dari awal? Capek kan? Hahaha.
Yg aku salut, ga sedikit jumlah penolakan Amira untuk Rayhan. Bener2 bagus pendirian Amira ini. Walaupun, pada akhirnya dia sebagai wanita ya bisa "meleyot" juga lah hatinya.
Sayangnya karena keegoisan Rayhan yg belum mau punya anak saat masih jadi suami Amira, di situ lah start hubungan mereka kurang baik. Amira jadi ngambek dan sempat nyuekkin Rayhan. Eh, Rayhan malah balik kesel dan cari pelampiasan lewat Elsa. Bknnya intropeksi lah ya.
Kalo aku boleh nilai dari POV aku, sebenernya Amira dan Rayhan ini pasangan paling romantis sih. Chemistry mereka bagus dan seharusnya bisa jadi pasangan yg awet tanpa terpecah belah. Seharusnya... Sayangnya...... Tidak.
Dari flashback aja, ada beberapa kali narasi Amira sama Rayhan ini suka bgt ciuman. Bahkan, ada Amira lagi mengenang bagaimana Ray "menyetubuhi" dia.
Dari situ aku jadi punya pemikiran, "Lah, berarti sebenernya mereka ini emang pasangan yg saling mencintai loh.
Problem mereka tuh bkn tiba2 jadi saling bosan, lalu Rayhan selingkuh. Tapi, konflik datang benar2 bermula dari Rayhan yg emang belum mau punya anak, sedangkan Amira udh pengen punya anak.
Udh gitu, sering Ray pake kondom setiap berhubungan intim sama Amira demi mencegah kehamilan." Gitu loh di pikiranku.
Ya, gmn Amira ga sakit hati ya? Istri udh pengen hamil kok ditahan2 dengan alasan yg gabisa diterima? Aku jadi Amira juga marah lah. Giliran istri gamau punya anak, pihak suami ngamuk2 juga. Kan serba salah...
Konflik ini ga akan jadi cerita, ya ga akan terjadi kalo mereka bisa bahas baik2 tapi keduanya keburu emosi. Pihak suaminya malah selingkuh. Pihak istrinya udh keburu cuek sebelum tau suaminya selingkuh.
Dalam problem ini, aku jadi ngerti knp penulisnya bikin cerita semanis ini tentang dua pasangan yg terpisah karena kesalahan fatal dari salah satunya. Setelah itu kembali dipertemukan di kota yg berbeda. Dari sini kita sebagai pembaca jadi sama2 belajar, bahwa menikah itu bkn hanya sekedar cinta, persiapan lewat material atau sekedar ingin hidup bersama. Menikah itu juga sama artinya dengan memiliki KEHIDUPAN BARU + siap2 membangun keluarga baru.
Komunikasi juga penting pake bgt. Bkn cuma sekedar cinta2an aja. Selain itu, apapun alasannya, perselingkuhan tidak bisa dibenarkan. Tuhan Maha Adil kok. Di cerita ini, aku sebagai pembaca udh dikasih tau betapa menderitanya Ray setelah kematian Elsa.
Akhirnya apa? Pusing sendiri dia ngurusin Kirana. Dipecat pula dari pekerjaan, karena stress akan kematian Elsa.
Amira malah sibuk sama kehidupan barunya di Jogja. Jadi, ya keliatan kalo Rayhan itu udh kena hukuman dan kesannya .... Tuhan masih mau kasih kesempatan ke dia gitu loh. Agar dia bisa merendah, mengaku salah, dan mau berdamai sama Amira.
Istilah kasarnya, emang siapa yg mau jadi istri Rayhan setelah menikah 2x dan berpisah 2x? Sudah kehilangan pekerjaan, badan jadi kurus ga kerawat (berdasarkan narasi), dan harus ngurus anak perempuan pula. Kalo Amira mah setidaknya masih ada yg mau deketin dia, walaupun dia memilih menutup hati. Dari narasi pun Amira masih terlihat cantik, tandanya dia mau bangkit dari keterpurukan. Rayhan pun mengakui itu.
So, menurutku penyelesain novel di sini udh adil bgt. Udh sebagaimana sebaiknya. Toh, sama2 masih cinta kan? Sama2 masih membutuhkan toh? Masih sama2 diberi kesempatan bertemu kan? Ya sudah. Kalo udh ada takdir seperti itu, knp harus kabur? Lain hal ya, sekali lagi, lain hal kalo penulis bikin Amira udh ga cinta lagi. Bebas aja buat penulis ga nyatuin Rayhan dan Amira lagi.
Novel ini makin menyadarkan aku soal pernikahan yg gabisa dianggap sekedar menikah buat bahagia aja. Menikah itu tandanya udh siap menderita dan bahagia. HAHAHA