What do you think?


Nikah Ilalang
Puisi-puisi dalam Nikah Ilalang ini, sebagaimana ciri puisi Dorothea yang lain, mencitrakan dunia yang keras, kosong, gelap, berbau kematian, kebusukan yang menghadirkan paradoks-paradoks dalam realitas yang jamak. Citra pernikahan, percintaan, kelahiran, keluarga dihadirkan sebagai sesuatu yang menyakitkan, penuh luka, kemunafikan, dan gelap-hampa. Sebagai penyair perempuan, pilihan ciri sajak seperti ini, tentu menentang konvensi sajak perempuan pada umumnya yang cenderung dengan diksi feminin. Boleh jadi, melalui sajaknya ini, Dorothea sengaja melawan stereotip inferioritas perempuan. Bahwa perempuan juga bisa berkuasa dan "bertenaga", awalnya dengan kata.
133 pages, Paperback
First published January 1, 1995
About the author
Dorothea Rosa Herliany
40 books18 followersDorothea Rosa Herliany (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963) adalah seorang penulis dan penyair Indonesia.
Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat dari sana tahun 1987.
Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit IndonesiaTera di Magelang.
Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).
Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat dari sana tahun 1987.
Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit IndonesiaTera di Magelang.
Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
January 13, 2009
demikian kesadaran mencari bahasa, dan misteri bahasa mencari kata-kata. kesadaran yang ingin mengenali dan mengolah alam. bahasa yang ingin mengenali dan mengolah makna. mereka ingin menumpahkan diri. diri yang tumpah itu, adalah diri yang terbuka di hadapanmu. kau tinggal memetiknya. memungutnya dengan kesadaran, serta misteri bahasa dalam dirimu.
situasi murung, putus asa, sesekali harapan, adalah ciri dari mereka yang terperangkap. tapi tidak menyerah dan kalah. upaya perlawanan dilakukan dengan membuat simbol -juga metafora, untuk menjangkau keluar dari dirinya, atau masuk ke dalam dirinya. gerak dari ruh yang gelisah ini, membutuhkan ruang, yaitu bahasa. maka bahasa pun bergerak. ia mengerahkan huruf-hurufnya, demi melayani gelisahnya kesadaran, atau hasrat kesadaran untuk mengangkat dirinya, merebut makna dunia yang tak dikenalinya, atau coba dikenalinya.
maka, jadilah puisi.
situasi murung, putus asa, sesekali harapan, adalah ciri dari mereka yang terperangkap. tapi tidak menyerah dan kalah. upaya perlawanan dilakukan dengan membuat simbol -juga metafora, untuk menjangkau keluar dari dirinya, atau masuk ke dalam dirinya. gerak dari ruh yang gelisah ini, membutuhkan ruang, yaitu bahasa. maka bahasa pun bergerak. ia mengerahkan huruf-hurufnya, demi melayani gelisahnya kesadaran, atau hasrat kesadaran untuk mengangkat dirinya, merebut makna dunia yang tak dikenalinya, atau coba dikenalinya.
maka, jadilah puisi.
December 9, 2011
salah satu sajak yang saya suka
Nikah Pisau
aku sampai entah di mana. berputarputar
dalam labirin. perjalanan terpanjang
tanpapeta. dan inilah warna gelap paling
sempurna. kuraba gang di antara sungai
dan jurang.
ada jerit, serupa nyanyi. mungkin dari
mulutku sendiri. kudengar erangan, serupa
senandung, mungkin dari mulutku sendiri.
tapi inilah daratan dengan keasingan paling
sempurna: tubuhmu yang bertaburan ulatulat,
kuabaikan. sampai kurampungkan kenikmatan
sanggama. sebelum merampungkanmu juga
: menikam jantung dan merobek zakarmu,
dalam segala ngilu.
1992
Nikah Pisau
aku sampai entah di mana. berputarputar
dalam labirin. perjalanan terpanjang
tanpapeta. dan inilah warna gelap paling
sempurna. kuraba gang di antara sungai
dan jurang.
ada jerit, serupa nyanyi. mungkin dari
mulutku sendiri. kudengar erangan, serupa
senandung, mungkin dari mulutku sendiri.
tapi inilah daratan dengan keasingan paling
sempurna: tubuhmu yang bertaburan ulatulat,
kuabaikan. sampai kurampungkan kenikmatan
sanggama. sebelum merampungkanmu juga
: menikam jantung dan merobek zakarmu,
dalam segala ngilu.
1992
January 23, 2016
setelah menyelesaikan buku puisi Saiban yang ditulis salah satu penyair perempuan Indonesia yang memukau, Oka Rusmini. hari ini aku menyelesaikan membaca buku puisi Dorothea Rosa Herliany yang agak zadul ini. buku puisi itu adalah Nikah Ilalang.
mbak Oka dan mbak Rosa adalah salah dua penyair perempuan yang pernah memenangkan Kusala Sasta Khatulistiwa (seingatku Avianti Armand juga pernah beroleh penghargaan tersebut di kategori Buku Puisi Terbaik).
menurutku buku puisi ini berisi puisi-puisi yang mumpuni. gelap, magis, misterius, menyihir, masygul, mengagumkan dan sempat bikin mengernyit.
sulit untuk menjelaskannya, tapi coba baca saja beberapa puisi yang aku suka dalam buku puisi ini.
Laut yang Pulang
laut yang menggemuruh
di dadamu, telah pulang
pada sisisisi karang.
masih kausisakan kulitkerang
antara riak di pantai. entah,
mungkin ada yang merasa kehilangan
dan larut dalam sunyi.
tapi kutemukan kau antara bangkaibangkai
rumputlaut: masih segar, dan tak henti
menanti. sampai fajar berulangulang
menghampiri.
1993
*
Jika Rumput Itu Kita Dengar
jika rumputrumput itu kita dengar, ia
akan mengaduh karena perangkap musim.
tapi, lihatlah! sekuntum bunga di padang
amat megahnya, "jangan petik!" seru
kupukupu.
kita pun menunggunya. tapi jika gugur juga,
kita relakan saja. sebab, tak perlu menangisi
kepergian. seperti perahu, segalanya akan
datang dan bertolak.
1986
*
Ziarah pada Tubuh Sendiri
pedangmu membelah sebongkah anggur
yang kubagikan kepada seribu musafir
yang dahaga, lihatlah darah yang meleleh
dari jantung matahari, jagat yang tak
pernah mendung ini tibatiba berduka
aku memunguti katakata yang bercucuran
dari rintihannya, kutulis dalam kitab
- tak dibacabaca!
pedangmu berkelebat, menudingnuding
zinahku pada ulatulat yang bersarang
di borok para pengemis yang lapar, aku
terbunuh dalam sebait mazmur yang tak
ditembangkan
di sini, aku berziarah, doaku kehabisan
katakata, tetapi imanku menjelma danau
dan samudera
1993
mbak Oka dan mbak Rosa adalah salah dua penyair perempuan yang pernah memenangkan Kusala Sasta Khatulistiwa (seingatku Avianti Armand juga pernah beroleh penghargaan tersebut di kategori Buku Puisi Terbaik).
menurutku buku puisi ini berisi puisi-puisi yang mumpuni. gelap, magis, misterius, menyihir, masygul, mengagumkan dan sempat bikin mengernyit.
sulit untuk menjelaskannya, tapi coba baca saja beberapa puisi yang aku suka dalam buku puisi ini.
Laut yang Pulang
laut yang menggemuruh
di dadamu, telah pulang
pada sisisisi karang.
masih kausisakan kulitkerang
antara riak di pantai. entah,
mungkin ada yang merasa kehilangan
dan larut dalam sunyi.
tapi kutemukan kau antara bangkaibangkai
rumputlaut: masih segar, dan tak henti
menanti. sampai fajar berulangulang
menghampiri.
1993
*
Jika Rumput Itu Kita Dengar
jika rumputrumput itu kita dengar, ia
akan mengaduh karena perangkap musim.
tapi, lihatlah! sekuntum bunga di padang
amat megahnya, "jangan petik!" seru
kupukupu.
kita pun menunggunya. tapi jika gugur juga,
kita relakan saja. sebab, tak perlu menangisi
kepergian. seperti perahu, segalanya akan
datang dan bertolak.
1986
*
Ziarah pada Tubuh Sendiri
pedangmu membelah sebongkah anggur
yang kubagikan kepada seribu musafir
yang dahaga, lihatlah darah yang meleleh
dari jantung matahari, jagat yang tak
pernah mendung ini tibatiba berduka
aku memunguti katakata yang bercucuran
dari rintihannya, kutulis dalam kitab
- tak dibacabaca!
pedangmu berkelebat, menudingnuding
zinahku pada ulatulat yang bersarang
di borok para pengemis yang lapar, aku
terbunuh dalam sebait mazmur yang tak
ditembangkan
di sini, aku berziarah, doaku kehabisan
katakata, tetapi imanku menjelma danau
dan samudera
1993
July 2, 2007
Apakah sesungguhnya pernikahan itu? Cobalah tengok sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany. Kesan pernikahan sebagai sesuatu yang indah dan kudus tak akan kita dapati. Kita akan berjumpa dengan gambaran pernikahan yang mengerikan, egois dan kadang-kadang murahan.
Ketegangan dan kegelisahan yang terjadi dalam sajak-sajak Dorothea berkisar pada bagaimana diri sebagai individu yang otonom dan merdeka harus meleburkan diri dalam identitas baru: keluarga.
Pernikahan adalah peleburan, langit dan laut yang terjaring jalajala, perkawinan yang sempurna! Tetapi barangkali mungkin hanya menjanjikan keranda:
mempelai itu berjalan di atas tubuhtubuh terkulai.
menuju rumah pengantin, sebuah gubuk dengan
tiang tulang, dan rumbairumbai mayat. di seberang
sungai mati, menuju ranjang bulan madu – sebuah
keranda yang sunyi.
dan akhirnya:
maka aku pun ingin memahat batu itu.
bertahuntahun. akhirnya kucipta nisan.
Ketegangan dan kegelisahan yang terjadi dalam sajak-sajak Dorothea berkisar pada bagaimana diri sebagai individu yang otonom dan merdeka harus meleburkan diri dalam identitas baru: keluarga.
Pernikahan adalah peleburan, langit dan laut yang terjaring jalajala, perkawinan yang sempurna! Tetapi barangkali mungkin hanya menjanjikan keranda:
mempelai itu berjalan di atas tubuhtubuh terkulai.
menuju rumah pengantin, sebuah gubuk dengan
tiang tulang, dan rumbairumbai mayat. di seberang
sungai mati, menuju ranjang bulan madu – sebuah
keranda yang sunyi.
dan akhirnya:
maka aku pun ingin memahat batu itu.
bertahuntahun. akhirnya kucipta nisan.
November 18, 2008
demikian kesadaran mencari bahasa, dan misteri bahasa mencari kata-kata. kesadaran yang ingin mengenali dan mengolah alam. bahasa yang ingin mengenali dan mengolah makna. mereka ingin menumpahkan diri. diri yang tumpah itu, adalah diri yang terbuka di hadapanmu. kau tinggal memetiknya. memungutnya dengan kesadaran, serta misteri bahasa dalam dirimu.
September 30, 2009
Baca Bareng Puisi.......
Harap diperhatikan bintang yang gw kasih bukan untuk buku ini tetapi untuk otak gw yang pendek & susah memahami puisinya Dorothea ini. Walaupun ada beberapa puisi yang gw dapet feelnya, tapi lebih banyak puisi yang sukses buat gw melongo & ambil kesimpulan "Ok..ini bukan gw banget" hehehehe
But at least..gw kelar bacanya dengan beban pikiran yang berat :-)
Harap diperhatikan bintang yang gw kasih bukan untuk buku ini tetapi untuk otak gw yang pendek & susah memahami puisinya Dorothea ini. Walaupun ada beberapa puisi yang gw dapet feelnya, tapi lebih banyak puisi yang sukses buat gw melongo & ambil kesimpulan "Ok..ini bukan gw banget" hehehehe
But at least..gw kelar bacanya dengan beban pikiran yang berat :-)
January 22, 2010
Ga kuat untuk membacanya karena dari 60 halaman, hanya 1 sajak saja yang dapat aku pahami.
Buku ini menjadi buku kumpulan sajak pertama yang aku baca. Bingung karena beberapa kata ada yang digabungkan penulisannya. Ada kalimat yang diakhiri titik dan ada yang tidak ada titiknya. Tapi penempatan titiknya juga sembarangan menurutku yang kurang memahami sajaknya Ibu Dorothea Rosa Herliany
Buku ini menjadi buku kumpulan sajak pertama yang aku baca. Bingung karena beberapa kata ada yang digabungkan penulisannya. Ada kalimat yang diakhiri titik dan ada yang tidak ada titiknya. Tapi penempatan titiknya juga sembarangan menurutku yang kurang memahami sajaknya Ibu Dorothea Rosa Herliany
August 5, 2011
Pernah jadi buku baca bareng di GRI.
Keseluruhan isi buku bisa dibaca di sini:
http://www.goodreads.com/topic/show/2...
Meski puisi2nya memang termasuk sulit dipahami dan saya pun termasuk yang sulit memahami dan menikmatinya, bagaimana pun, sedikit banyak sajak-sajak Dorothea telah memperkaya kecanggihan berbahasa Indonesia.
Keseluruhan isi buku bisa dibaca di sini:
http://www.goodreads.com/topic/show/2...
Meski puisi2nya memang termasuk sulit dipahami dan saya pun termasuk yang sulit memahami dan menikmatinya, bagaimana pun, sedikit banyak sajak-sajak Dorothea telah memperkaya kecanggihan berbahasa Indonesia.
December 27, 2009
Baca bareng buku puisi goodreads indonesia.
lebih sering gak ngerti, sampai butuh pencerahan dari gieb. tapi aku suka puisi2nya tentang kematian dan ajal. hanya sejauh itu.
lebih sering gak ngerti, sampai butuh pencerahan dari gieb. tapi aku suka puisi2nya tentang kematian dan ajal. hanya sejauh itu.
July 28, 2007
aduh bingung..
cari buku puisi yg ringan2 aja deh.. ga kuad otak sayah..
cari buku puisi yg ringan2 aja deh.. ga kuad otak sayah..
April 19, 2017
Nikah Ilalang
engkau nikahi ilalang. berumah di negeri
semaksemak. diamlah dalam kemerisik angin
yang mengecoh cakrawala.
tapi orangorang lalu melayat padamu. terasa
kelam perkawinan dan pesta syahwat. engkau
butuhkan bunga-bunga ditaburkan. doadoa
penghabisan, dan ziarah bertubitubi.
engkau nikahi ilalang. luas kebun luas bumi
luas langit luas jagat batinmu. engkau
nikahi kesunyian yang ditinggalkan abadabad
nanti. berkumur cabikan tanah kering dan
pestisida. berkumur jagat hewankecil yang
mencari rumahrumah dalam tangis dan sekarat.
1992
engkau nikahi ilalang. berumah di negeri
semaksemak. diamlah dalam kemerisik angin
yang mengecoh cakrawala.
tapi orangorang lalu melayat padamu. terasa
kelam perkawinan dan pesta syahwat. engkau
butuhkan bunga-bunga ditaburkan. doadoa
penghabisan, dan ziarah bertubitubi.
engkau nikahi ilalang. luas kebun luas bumi
luas langit luas jagat batinmu. engkau
nikahi kesunyian yang ditinggalkan abadabad
nanti. berkumur cabikan tanah kering dan
pestisida. berkumur jagat hewankecil yang
mencari rumahrumah dalam tangis dan sekarat.
1992
Displaying 1 - 11 of 11 reviews












