Jump to ratings and reviews
Rate this book

Wisanggeni: Sang Buronan

Rate this book
Manusia itu bebas,
atau ditentukan kodrat?
Dari dasar lautan,
Wisanggeni Sang Buronan,
menyerbu kahyangan
mencari jawab.
Seru seperti cerita silat.
Bijak seperti buku filsafat.
Ringan seperti hiburan.

Pernah dimuat bersambung di majalah mingguan Zaman dari edisi 21 Juli sampai 1 September 1984.

92 pages, Paperback

First published July 21, 1984

14 people are currently reading
251 people want to read

About the author

Seno Gumira Ajidarma

63 books840 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
85 (27%)
4 stars
116 (37%)
3 stars
85 (27%)
2 stars
21 (6%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 30 of 56 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
September 28, 2016
Luar biasa, tidak sampai satu jam waktu yang dibutuhkan untuk membaca novel tipis ini, tetapi efek yang ditimbulkan menetap selama berjam-jam di kepala saya. Saya memang belum membaca Kitab Omong Kosong yang tebal itu. Tapi, jika buku itu sedahsyat novel Wisanggeni ini, maka saya akan langsung memasukkannya dalam daftar beli *lupakan timbunan*. Membaca novel ini sama sekali tidak terasa seperti membaca cerita pewayangan yang pelan dan serba tinggi. Malahan, membaca buku ini tidak ubahnya membaca buku fantasi tentang dewa-dewi. Beberapa hal dalam novel ini seperti mengingatkan saya pada mitologi Yunani, semisal kemiripan antara Wisanggeni dan Hercules yang--selain keduanya adalah putra dari dewa dan manusia--sama-sama diburu oleh dewata. Dalam sebuah buku, saya pernah membaca bahwa mite Yunani kuno dibangun oleh mitos India kuno, karena itulah dewa-dewi kedua bangsa kuno itu dikatakan hampir mirip. Apakah ini benar? Kayaknya bakal seru kalau ada penulis yang mengulasnya lebih rinci.

Ulasan lebih panjang dari Wisanggeni ini ada di http://dionyulianto.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Toffan Ariefiadi.
Author 1 book10 followers
October 22, 2011
Judul: Wisanggeni, Sang Buronan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Cetakan:Pertama, Januari 2000
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya
Tebal: xii + 92 halaman



Bagi Wisanggeni, hidup menjadi seorang buronan bukanlah hal yang menakutkan apalagi mengkhawatirkan. Ia merupakan tokoh pewayangan yang sangat sakti, bahkan tokoh sekelas batara (dewa) saja tidak sanggup melawan Wisanggeni.

Wisangggeni berarti bisa yang berapi.

Bambang Wisanggeni lahir dari pasangan Arjuna dan Dewi Dresanala. Arjuna yang manusia dinikahkan dengan Dresanala yang bidadari sebagai hadiah karena telah menumpas Niwatakawaca yang menginginkan Dewi Supraba dan mengacaukan kahyangan. Namun, Batara Guru memberikan syarat kepada Arjuna, salah satunya adalah tidak boleh mendapatkan keturunan dari Dresanala sebab Arjuna adalah manusia biasa.

Arjuna tersinggung dengan peraturan para dewa yang merendahkan derajat kemanusiaan itu. Dresanala hamil. Dan Arjuna melarikannya ke bumi tanpa diketahui para dewa. Wisanggeni lahir dari perut Dresanala ditemani Hanoman di pertapaan Kendalisada.

Para dewa murka. Anak haram telah lahir. Anak yang menyalahi kodrat telah lahir ke dunia. Maka, diperintahkanlah Batara Brama oleh Batara Guru untuk membunuh Wisanggeni yang tidak lain adalah cucunya sendiri. Tak tega, Batara Brama dengan bisanya hanya mengigit leher Wisanggeni bayi dan melemparkannya ke lautan.

Wisanggeni lalu menjadi buronan paling diburu oleh semesta kahyangan.

Semenjak bayi, Wisanggeni diasuh oleh Batara Baruna (Dewa Penguasa Lauatan) dan Hyang Antaboga (Rajanya Ular yang tinggal di dasar bumi. Atas pengasuhannya tersebut Wisanggeni menjelema menjadi pemuda yang kesaktiannya mengalahkan para dewa. Tidak mempan dari senjata apapun. Terkalahkan.

Syahdan, dalam pengembaraannya mencari tahu siapa ayah dan ibu kandungnya, Wisanggeni akhirnya tahu asal muasal dirinya dan alasan mengapa ia menjadi seorang buron. Ia marah besar. Ia buat ontran-ontran di Kahyangan. Sebelas utusan dewa telah moksa ditangannya. Batara Guru pun dibuat kalang kabut dan tak mampu menghentikannya. Hanya akal budi yang lurus dan halus dari Wisanggeni sendirilah yang akhirnya membuat ia paham akan perannya di dunia ini.

Kelahiran Wisanggeni dalam jagad pewayangan adalah di luar kehendak dewa. Keberlangsungan hidupnya hanya akan merubah kelancaran sejarah yang akan datang. Dialah Bambang Wisanggeni.

Selamat membaca!
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
December 26, 2017
Saya membaca novel ini di pinggir kolam renang sebuah hotel. Gemercik air dan pemandangan alam yang meliputi saya membuat saya betah merenung lebih lama setelah saya menyelesaikannya.

Perjalanan Wisanggeni mencari asal usulnya terjawab dengan kenyataan yang memilukan: ia adalah anak yang tak diinginkan. Sebuah cela bagi jagad raya hasil hubungan bidadari dan manusia.

Pergolakan batin Wisanggeni berujung pada keikhlasan penerimaan takdir. Sekuat-kuatnya manusia berusaha, ia hanyalah wayang yang menjalani lakon. Dalanglah yang berhak menentukan lakon itu.

Sebuah novel tipis untuk renungan yang lama.
Profile Image for Nike Andaru.
1,645 reviews112 followers
December 28, 2019
224 - 2019

Membaca cerita Wisanggeni kali ini terasa sangat seru terlebih karena ada beberapa lembar ilustrasi yang menarik.
Wisanggeni lahir dari Arjuna si manusia dengan seorang Dewi Darsanala. Kata para dewa, kelahiran Wisanggeni adalah sebuah kesalahan yang harus dilenyapkan. Sejak kecil Wisanggeni diusahakan untuk dilenyapkan hingga akhirnya setelah dewasa ia mencari tahu sendiri tentang asal muasalnya.

Sungguh cerita yang menarik, apalagi buat saya yang tidak banyak tahu soal perwayangan Jawa ini. Seno Gumira memang pencerita yang baik.

Tapi, apakah kehidupan itu, kalau semua ini hanya sebuah rencana? Apakah artinya hidup, kalau segenap langkah telah digoreskan takdir?
Profile Image for Eben Haezar.
30 reviews323 followers
October 28, 2020
Manusia itu bebas,
atau ditentukan kodrat?
Dari dasar lautan,
Wisanggeni sang Buronan,
menyerbu kahyangan
mencari jawab.


Seumur hidup, ini kali pertamanya saya membaca kisah pewayangan. Juga kali pertama saya membaca karya tulis dari Seno Gumira Ajidarma.

Untuk orang awam sebodoh saya yang tidak mengerti apa-apa, saya sangat terpukau dengan bagaimana Seno menulis sebuah tulisan pada masa itu. Bagaimana dengan segala kerendahan hatinya, Ia bisa menjabarkan dengan ringkas sebuah kisah pewayangan yang konon katanya jarang ditemukan di permukaan jagad pewayangan, Wisanggeni.

Bagaimana Seno menggambarkan Wisanggeni dalam tulisannya membuat saya berhenti berpikir sejenak dan terpukau dengan sosok Sang Buronan itu.

Dan dengan segala kerendahan hati Wisanggeni, Ia pun akhirnya moksa. Melenyapkan dirinya untuk kelancaran sejarah yang akan datang meski Ia telah menjadi dan mengada serta memiliki hak untuk tetap hidup.

Terima kasih untuk kerabat saya, Alfie, yang telah merekomendasikan buku ini. Membuat saya penasaran sekaligus jatuh hati dengan jagad pewayangan.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
November 14, 2016
Tak perlu diragukan lagi, meski sebenarnya kerasa sekali nanggung (karena memang sesuai pengakuan, penulisan cerita bersambung ini berhenti).....

Karena cuma sepotong, jadi saya harus bilang seperti makan onde-onde dan saya cuma kebagian beberapa biji wijennya. Belum puaaaaas, pengen lebih panjang lagi
Profile Image for Nonna.
137 reviews2 followers
January 16, 2017
Buku tipis yang luar biasa. Tulisan yang ajaib. Seno, lagi-lagi berhasil membuat saya geleng-geleng kepala. Membuat saya terbang ke mega-mega.

Lima bintang, Pak. Teruslah menjadi penulis picisan bagai pasir pantai. Teruslah menjadi dalang dalam sastra.
Profile Image for Milka.
18 reviews2 followers
November 8, 2008
Saya suka sekali dengan cara bercerita SGA di buku ini. Ditambah dengan ilustrasi Danarto. Wuah.. bisa jadi dulu saya membelinya mula-mula karena melihat ilustrasinya terlebih dahulu. ;)
Profile Image for Wibisono Yamin.
89 reviews
January 18, 2026
Dalam dunia filosofis Seno Gumira Ajidarma, Wisanggeni hadir sebagai personifikasi dari perlawanan terhadap Kehendak (The Will) Schopenhauer, dorongan buta yang menjerat semesta dalam siklus hasrat dan penderitaan tanpa akhir. Sebagai "si anak lanang" dengan "cahaya mata intan," ia adalah mantra masa silam yang memilih "segenggam pasir" di atas kemegahan istana para dewa, mencetuskan sebuah pemberontakan sungai yang melawan arus takdir kosmik yang telah digariskan.

Ia adalah "anak kelinci" yang rapuh namun subversif, yang menolak bahasa kekuasaan dan memilih untuk "menunggang angin" serta menggesek rebab di puncak stupa demi menemukan satu cahaya universal yang melampaui bumi yang suram dan sepi. Baginya, jalan (the way) menuju kebenaran sejati hanya bisa ditemukan melalui pelepasan diri dari protokol "danau logam" para dewa yang kaku dan dingin.


Namun, pemberontakan ini senantiasa dibayang-bayangi oleh senyum "nikmat" Sri Kresna sang pengamat yang menatap sungai kehidupan dengan ketenangan yang mengerikan, menyaksikan manifestasi Kehendak dalam rupa "bunga bangkai" yang mekar dan "bibir yang berdarah".

Di hadapan semesta di mana bumi hanyalah "titik" kecil, lenyapnya sang buronan ke dalam bayang-bayang mencerminkan tragedi setiap jiwa yang berani menantang "penari di balik kelambu" yang mengatur panggung sandiwara kosmik. Meskipun langit "batal berkobar" dan raga sang pahlawan menguap, kebenarannya tetap abadi dalam tiupan seruling anak gembala di tengah kelam.

Pada akhirnya, filosofi sang pahlawan yang terbuang ini mengajarkan bahwa meski Kehendak mungkin menelan raga sang pemberontak, jejak sucinya akan terus dibaca oleh "bunga rumput" yang menjadi saksi bisu atas sebuah perlawanan yang melampaui batas musim dan waktu.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
June 15, 2017
Wisanggeni Sang Buronan adalah kisah fiksi yang seru. SGA mengisahkan lakon hidup putra dari Dewi Darsanala dan Arjuna yang hendak dilenyapkan, karena kelahirannya mengganggu ketentraman kahyangan. Mulanya adalah kegusaran Hanuman yang merawat proses persalinan Darsanala, tapi bayi yang bidadari ini lahirkan hilang. Hanuman pergi mencari jejak si bayi. Ia bertemu dengan banyak sosok dewa kahyangan dan yang telah diutus di bumi untuk bertanya siapa yang telah mengambil bayi tersebut. Hingga Hanuman mengetahui bahwa Wisanggeni, juga bisa dimaknai bisa yang berapi' akan tumbuh menjadi sosok bebas, kuat' namun ia nampak sedang mencari kodratnya.

Membaca kisah Wisanggeni yang mirip seperti kisah silat, tapi juga sarat muatan makna filosofi hidup, termasuk bait-bait percakapan Kresna dan Wisanggeni di babak terakhir, membuat buku ini memang layak cetak ulang. Untuk mereka yang tidak terlalu mengikuti kisah perwayangan ataupun fiksi Jawa, buku ini cukup ringan untuk diikuti dan dinikmati. Setiap bab yang dibaca dapat hidup di imajinasi saya sebagai penikmat karya-karya SGA.

Sebagaimana Drupadi melakoni hidupnya untuk menanti keadilan, Wisanggeni yang memutuskan untuk mengasingkan diri dari jagad kahyangan juga mirip berkata, "Tapi apakah kehidupan itu, kalau semua ini hanya sebuah rencana? Apakah artinya hidup, kalau segenap langkah telah digoreskan takdir?"

Sentilan pertanyaan tersebut adalah lakon sikap nrimo yang telah didahului dengan etika hidup yang memang khas muncul pada beberapa karya SGA ini nampaknya ingin ia lengkapkan dengan filosofi hidup banyak orang Jawa yang percaya bahwa kekuatan batin bisa mengendalikan yang lahir.
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
June 18, 2023
“Dengan kecepatan seribu ikan hiu, kedua penguasa laut itu meluncur ke permukaan.”


Wow. Blurp buku ini menepati janjinya. Cerita singkat yang taksampai 110 halaman ini benar-benar, “Seru seperti cerita silat. Bijak seperti buku filsafat. Ringan seperti hiburan.”

Apa rasanya tidak diinginkan? Apa rasanya eksistensimu dimungkiri, bahkan sampai ingin diakhiri? Nah, kira-kira itulah yang dialami Wisanggeni. Menurut lakon dunia, ia seharusnya tidak ada. Ia perlu musnah karena mengganggu rencana takdir maka berangkatlah ia ke khayangan untuk menuntut jawaban, “kenapa harus seperti itu?” (Agak mengingatkan pada film The Adjustment Bureau ya?)

Seru sekali mengikuti pertarungan Wisanggeni dengan para lawannya—secepat kilat, bersalto sampai tujuh kali, melenting-lenting di pegunungan batu, guntur meledak-ledak, seribu, tujuh kali. Ah.

Betapa mudahnya ikut larut dalam tiap penggambaran situasi—ketika Wisanggeni terbang semaunya, adu ajian dengan lawannya, mengejar jawaban untuk pertanyaannya, hingga ironi yang digambarkan pada babak akhir. Saya ikut terusik, mendadak sedih, ketika ia digambarkan tertawa-tawa setelah menerima takdirnya.

Selain gaya bercerita penulis yang luar biasa, hal lain yang takkalah menyenangkan adalah menemukan beberapa kosakata ‘baru’ buat saya, seperti terompah, kasut, caping, kawi, muhurta, muksa, kuncung, dan suluk. Rasanya seperti beli satu gratis satu—dihibur cerita seru gratis ditambah kosakata baru.
Bacalah.
Profile Image for Mariskova.
Author 11 books46 followers
November 29, 2022
Either this book is too thin or I read it too fast. 108 pages full of philosophical lyrics under 40 minutes.

This version of Wisanggeni by #senogumiraajidarma is a sad one compared to other versions I read before, as if emphasizing (or contradicting?) his own writing: (translated)...the audience who fell asleep started to wake up and wished they could go home with a happy ending.

Wisanggeni is one of the characters not born from the original Indian Sanskrit epic of Mahabharata. His character is indigenous to Java. A rebel and outlaw by nature, his birth is denied by the gods. He could have fought them and probably would win, yet he has to surrender to his fate.

This book, for me, is like a collection of questions. Wisanggeni's questions about his birth, his becoming, and his path of life. "What is life," he asks, "if it's already written?"
In every version, Wisanggeni has to die. In this version, though, his dying is too painful.
Profile Image for Shinta_read.
306 reviews13 followers
July 24, 2020
Wisanggeni seorang anak yang tidak diharapkan.
Dia memiliki kesaktian yang luar biasa, tapi ke mana pun dia berkelana, utusan-utusan dewa mengejarnya, ingin membunuhnya.
Wisanggeni sebenanrya heran kenapa dia diburu, dan akhirnya menemukan jawabannya ketika bertemu dengan Hanuman dan Kresna.
Namun, setelah beroleh jawaban pun, hidupnya tak lantas jadi mudah.
Dia harus memilih, mengalah atau membalas dendam.
*lah kayak blurb malah, ya. Hihihi.

Yang tak kalah menarik dari cerita wayangnya sendiri adalah kisah di balik layar--eh, buku--yang disampaikan Seno di pengantarnya. Betapa erat hubungan antara gambar dan ceritanya (ya, di dalamnya ada beberapa ilustrasi hitam putih), dan juga antara penggambar (Pak Danarto) dan Seno sang penulis.

Seusai baca, aku jadi kagum sama sosok Wisanggeni ini.
Profile Image for Gita Sevtia.
20 reviews
March 19, 2021
Ini semacam side story dari dunia perwayangan. Wisanggeni sendiri murni tokoh ciptaan Seno Gumira, yang kisahnya sempat dimuat dalam majalah Zaman kala itu. Berlatar di dunia perwayangan waktu para Pandawa tengah menjalani pengasingan di hutan selama 12 tahun. Secara epic penulis menyisipkan cerita Wisanggeni ini di waktu-waktu yang tepat, tanpa mengganggu cerita asli dari Mahabharata. Beberapa tokoh penting yang hadir seperti Arjuna dan Sri Kresna digambarkan dengan sangat sesuai seperti di cerita aslinya. Ide cerita sangat menarik, dengan penggambaran khas kisah-kisah perwayangan membuatku berpikir bahwa Wisanggeni memang bagian dari Mahabharata. Penyelesaiannya yang tidak terduga, menambah poin plus dari keseluruhan alur yang telah dibangun.

"Apakah kehidupan itu, kalau semua ini hanya sebuah rencana? Apakah artinya hidup, kalau segenap langkah telah digoreskan takdir?"
Profile Image for Satvika.
583 reviews43 followers
June 24, 2022
Sebagai orang Bali yang membaca Mahabharata versi India,cukup bingung mendengan tokoh bernama Wisanggeni karena di versi Mahabharata India tidak ada tokoh bernama Wisanggeni, ternyata tokoh ini adalah tokoh tambahan dalam cerita pewayangan Jawa, pengalaman yang sangat seru membaca kisah tentang tokoh ini untuk pertama kalinya.

Penulis bilang bahwa dia menulis cerita ini karena Bapak Danarto, lebih tepatnya karena gambar gambar ilustrasi dari Bapak Danarto, Ilustrator dari buku Wisanggeni : Sang Buronan , dan setelah saya melihat gambar gambar ilustrasi Bapak Danarto ya memang benar sih..keren dan bersahaja sekali gambar2 beliau.

Cerita Wisanggeni ini juga seru sih..banyak pesan moral tersirat dan kocak juga..terutama waktu adegan Sri Kresna menegur Hanuman..endingnya juga plot twist yang so sweet menurut saya.

Overall buku ini bagus buat yang suka cerita pewayangan
3 reviews
December 31, 2025
My first lakon wayang story yang aku baca, It’s quite interesting since I’ve never experienced this kind of story before. Penggambaran dan penyampaian ceritanya cukup simpel, bukan tipe cerita wayang yang disampikan dengan bahasa lampau even tho lakon wayang itself was a kind of overpast allegory, but Seno dalam hal ini mampu menyajikan cerita wayang dengan konteks yang mudah dipahami dalam masa kini. Tapi, daripada itu, masih ada beberapa bagian yang cukup membingungkan untuk bisa mengimajinasikan isi ceritanya, karena beberapa plot yang dirasa illogical.
Profile Image for Haghia lubis.
23 reviews4 followers
February 2, 2018
Mungkin karena rindu yang teramat sangat pada Penulis ini,saya berusaha melahap dengan sangat pelan setiap kata di buku ini yang penyajiannya jauh dari kata membosankan,walau saya bukan penggemar wayang namun familiar dgn Barata Yudha. Beliau berhasil menuturkan dan membuat perwayangan yang melibatkan dewa menjadi humanis dan dapat dimengerti.
Profile Image for DIVA Press.
26 reviews21 followers
September 27, 2016
Mengapa kamu kudu punya banget buku Wisanggeni; Sang Buronan ini? Pertama, karena ini karya Seno Gumira Ajidarma. Halow, ini SGA loh! INI SGA LOH *CAPSLOCK JEBOL* Jika nama besar SGA belum mampu meyakinkanmu untuk memiliki buku ini, baiklah, Mimin tambahin lagi. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi keren. Tidak sembarang ilustrasi, seluruh ilustrasi keren di buku 'Wisanggeni' karya SGA ini dibuat oleh Danarto. Iya, Danarto yang sastrawan itu. INI DANARTO loh, DANARTO, BRUH! *nggak santai" wkwkwkwk.

Bahkan, Seno Gumira Ajidarma sendiri ikut memuji ilustrasi-ilustrasi karya Danarto di buku ini, yang diwarnai dgn penafsiran tak terduga. Di buku ini, Arjuna dan Wisanggeni digambarkan secara simetris saling berhadap-hadapan dengan tubuh ramping dan perut kotak-kotak atletis. Makuto atau mahkota khas wayang di tangan Danarto bisa berubah menjadi ikat kepala khas Bugis atau cara ikat rambut ala orang Jepang. Dalam salah satu adegan, Aswatama bahkan digambarkan seperti kaum Assasin dengan hiasan tangan ala gladiator Romawi. Ilustrasi karya Danarto, kata SGA, turut menggambarkan corak tulisannya yang memancar tanpa batas, dengan kebebasan penafsiran yang kreatif.

"Jika eksistensi wayang dipertanyakan dalam konteks semangat zaman, maka gambar-gambar Danarto adalah salah satu jawaban." (SGA)

Naskah Wisanggeni pertama kali ditulis tahun 1984 sebagai cerita bersambung di majalah Zaman (sekarang Matra) edisi Juli - September 1984. Kumpulan cerita bersambung ini kemudian disatukan dan diterbitkan menjadi sebuah naskah oleh Yayasan Bentang Budaya tahun 2000. Awal 2010, ketika geliat sastra tampak kembali di nusantara, buku Wisanggeni menjadi salah satu buku langka yang banyak dicari. Begitu susahnya untuk mendapatkan buku 'Wisanggeni' terbitan YBB ini sampai-sampai di pasaran harga buku aslinya mencapai jutaan rupiah.

Karya yang 'sempat menghilang' ini kemudian diterbitkan kembali oleh @divapress01 dalam seri #SastraPerjuangan dengan sampul baru tapi isinya tetap sama istimewanya. Sekarang, cukup dengan uang beberapa puluh ribu saja, pembaca sudah bisa memiliki dan membaca buku legendaris yang langka ini. Buku-buku sastra bagus gini, kalau Mimin bilang, biasanya cepat sekali menghilang dari pasaran. Lewat berapa bulan, stok sering sudah kosong. Mumpung bukunya masih fresh dan gresh, buruan dibeli deh. Apalagi, sudah dekat tanggal muda kan? Plus, ada preorder berhadiahnya juga loh! Mimin sih sudah keep bukunya satu, takut nggak kebagian cyiiinn. Sudah cukup Mimin nggak kebagian bukunya Mas Eko Triyono karena stok kosong. *bilang aja numpang promo, Min *dijepret pake karet gelang.

Pertunjukan wayang yang kesannya kaku dan monoton telah lama kehilangan penonton dari generasi muda. Wayang seolah jadi tontonan orang tua. Wisanggeni, kalau menyimak pengantar dari SGA, pertama kali ditulis mungkin untuk mengajak pembaca umum agar mau membaca wayang. Dalam hal ini, SGA melalui majalah Zaman tergerak untuk menghidupkan kembali kecintaan masyarakat pada kisah dan tokoh di dunia pewayangan. Maka, di sela-sela berbagai deadline dan seabrek tugas lain, SGA menyempatkan diri untuk menulis naskah Wisanggeni ini. Cerita Wisanggeni kemudian ditulis sebagai cerita bersambung dalam rubrik 'Cerita Wayang', dengan ilustrasi yang dibuat Danarto. Yah, begitu deh kalau penulis keren. Kesibukan tidak menghalanginya untuk berkarya. Alih-alih sibuk mengeluh, beliau sibuk berkarya menulis.

Diceritakan, Wisanggeni adalah putra dari Arjuna dan Dewi Dresanala. Arjuna yang seorang manusia Dewi Dresanala adalah bidadari. Para dewata merestui pernikahan keduanya, tetapi dewata melarang Arjuna dan Dewi Dresanala untuk memiliki anak. bagi para dewata, putra hasil pernikahan seorang manusia dan dewa akan merusak derajat dewa yang maha tinggi. Tetapi, Wisanggeni telanjur terlahir sehingga para dewa pun berusaha keras untuk memusnahkan sang bayi, Wisanggeni. Sedari sejak buaian, Wisanggeni telah menjadi musuh langit. Keberadaannya selalu diburu dan hendak ditumpas, untung Batara Wisnu menyelamatkannya. Kepada dua penguasa lautan--Sang Hyang Antaboga dan Batara Baruna, Sri Wisnu menyerahkan Wisanggeni untuk dididik dan dibesarkan.

Tumbuhlah Wisanggeni sebagai pemuda yang sakti mandraguna dan berilmu tinggi. Dimulailah pencariannya akan jatidirinya. Sepanjang pengembaraannya, Wisanggeni senantiasa bertanya, salah apa dirinya sehingga semua dewata di langit hendak membunuhnya. Begitu sakti Wisanggeni. Semua utusan dewata yang diutus untuk menumpasnya malah tuntas di tangannya. Hampir langit diobrak-abrik olehnya. Sri Kresna kembali turun tangan, meredakan kemarahan Wisanggeni dengan kebijaksanaan semestanya. Wisanggeni pun tahu yg sebenarnya. Bagaimana kisah Wisanggeni selanjutnya? Apakah takdir membuatnya tertolak selamanya ataukah kahyangan akhirnya mau menerima keberadaannya?

Dikisahkan ulang dengan sedemikian eloknya oleh salah satu maestro sastra kita, Seno Gumira Ajidarma, pesona Wisanggeni akan membuai pembaca. Di tangan SGA, kisah pewayangan menjadi sedemikian seru untuk disimak. Sulit untuk bisa lepas dari buku ini begitu kita mulai membacanya. Membaca Wisanggeni karya SGA ini bak membaca sebuah kisah seru yang sarat akan pertempuran dan adu kesaktian. Buku yang luar biasa!



Profile Image for Andika  Abdul Basith.
66 reviews12 followers
February 23, 2021
Salah satu buku Seno yang saya suka. Cerita tentang Wisanggeni yang menolak takdirnya. Cerita perlawanan terhadap takdir selalu menarik untuk saya. Perjuangan, sebagaimanapun berat, selalu lebih indah dibanding sikap pasrah.
Profile Image for Laut.
30 reviews
June 3, 2021
Seru seperti cerita silat. Iya
Bijak seperti buku filsafat. Iya
Ringan seperti hiburan. Iya.

Dalam perjalanan Wisanggeni mencari kebenaran yang nggak mudah itu, penulis menyajikan pertempuran-pertempuran kecil dan besar dengan cara yang asyik. Kayak cerita anak-anak.

Dan sebagai sesuatu "yang di luar rencana" Wisanggeni membawa saya pada perjalanannya menuju amor fati sampai saatnya moksa, saya kira. Saya asumsikan lele yang dipancing tanpa kail dan tali oleh Sri Kresna memberikan Wisanggeni "kelegowoan" yang transenden.

Terakhir, selain dari isinya yang tidak tebal (108 halaman) buku ini memang cocok untuk dijadikan hiburan di saat penat. Sejatinya, alur ceritanya bikin betah meski tadi sempat terdistraksi karena perut minta dikasih makan, hwhwhw
Profile Image for Theo Karaeng.
95 reviews14 followers
May 6, 2017
Setidaknya, Wisanggeni ini lebih menarik ketimbang Drupadi.
Profile Image for Dina Layinah Putri.
108 reviews5 followers
April 8, 2020
Buku tipis yang dibaca sekali duduk dan selesai. Membacanya membuatmu seperti ikut berada dalam adegannya.
Profile Image for heri.
290 reviews
January 23, 2021
selalu saja menarik membaca cerita yang didasarkan pada kisah-kisah pewayangan. buku ini salah satunya.
Profile Image for Rio Edrigo.
25 reviews
August 17, 2025
Kisah Wisanggeni. Diracik dengan kehalusan dan kerendahan hati pengisah.
Profile Image for Itus Tacam.
61 reviews2 followers
November 23, 2017
Pendeknya,
Wisanggeni ini seorang anak blesteran antara ksatria bumi dengan bidadari kahyangan. Arjuna featuring darsanala. Kalau manut akadnya, darsanala sila diperistri tapi punya keturunan adalah sebuah pantangan. Coba dipikir, kog tega bener dalangnya. Keblinger. Nyeleneh dari sunnatullah. Supaya kisahnya lebih manusiawi, maka ki dalang menyuruh juna agar makar dari akadnya. Lahirlah wisanggeni. Wisa = bisa, geni = api. Semenjak jabang bayi ia digondol kakeknya yang dewa brahma itu terus dicucup lehernya dan dari suralaya (kahyangan) diterjunbebaskan ke pangkuan samudra. Ibarat genetika, tentu sudah warisan, nerimo bongkokan. Superbaby banget. Samudro yang tadinya anteng (mana ada laut tanpa ombak sih cint...) mawut. Nggak cuma mawut, mirip merapi yang lagi mules, gelombang panas melebar berspektrum. Wes pokoknya saking energinya luar biasa digambarkanlah semacam itu. Nah berhubung dihempaskan jabang bayi ini nggak mati, diasuh sang hyang antaboga dan batara baruna. Klop ntap deh dapet kesaktian ekstra.

Sama seperti kita wisanggeni punya rasa penasaran yang tinggi. Merasa cukup bermain main ke seantero samudro. Ia nggak puas diri, segenap bekal yang ditanamnya digunakan buat mbelakrak ke permukaan. Wah, dia belum tau warna warninya jagad ini. Sebegitu uniknya, gps gampang menemukan keberadaannya. Tubuhnya tersensor oleh dewa dewa. Karena sudah lama siaga, dewa manapun siap menyergapnya. Dan igit igit untuk menumpasnya. Tidak tertulis lakon wisanggeni di lauhul mahfudznya ki dalang. Maksud saya, bukan tidak tertulis. Tepatnya terlambat ditulis kali yak. Hehehe,

Reportase ini tidak mewakili seno gumira. Karenanya, saya tentu bahagia dengan apapun alasan kisah itu ditulis. Selalu pelajaran yang oke bisa dikantongi sodara. Dan sebenarnua saya sudah mengutip tip panjang sekali, setelah saya coba tetap tidak muat masuk ke update ini.
Jadi saya contekin sedikit, ntar kalian baca sendiri ya.
Page 54 66 67 69 70 80 81 84 87 92 93 94 95 105

It,
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
October 18, 2016
Wisanggeni Sang Buronan adalah satu dari sekian buku Seno Gumira AJidarma yang sangat saya nantikan untuk dicetak kembali. Saya bersyukur karena semester II 2016 ini Wisanggeni kembali hadir mengisi khazanah ruang sastra Indonesia. Sekaligus menambahi isi rak buku saya.

Entah mengapa, sejak mulai pembacaan pada halaman pembuka, saya tidak merasa cerita Wisanggeni Gugat ini sebagai sebuah cerita. Walaupun buku ini sejatinya memang hadir rentetan cerita bersambung, dikumpulkan, dan diberi ilustrasi oleh Haji Danarto. Iya, betul. Danarto tukang lukis itu yang juga turut membuat sampul buku "Kitab Omong Kosong".

Wisanggeni, Sang Buronan para Dewa ini menjadi tokoh antagonis yang harus ditiadakan demi satu tatanan takdir yang telah ditentukan. Eksistensi Wisanggeni hingga melahirkan lakon Sang Buronan ini telah merongrong kemapanan jalan sejarah. Namun, pertanyaannya kembali bergeser, bila memang hanya untuk memenuhi kemapanan takdir sejarah dunia, bukankah kelahiran Wisanggeni sendiri sudah merupakan takdir? Bila memang Wisanggeni adalah anak haram sejarah, mengapa lantas ia memiliki jalan takdirnya sendiri?

Betul ceritanya seperti cerita silat, bagaikan membaca kembali Kitab Nagabumi I dan II. Tetapi, yang lebih penting adalah muatan filosofis dibalik cerita sang anak Arjuna yang dibesarkan Antaboga ini. SGA berhasil memotret kisah Wisanggeni ini sebagai perumpamaan bagi sebagian kecil peristiwa sejarah yang pernah dijalani negeri ini. Betapa keberadaan suatu entitas bisa jadi merupakan ancaman besar bagi sebuah kemapanan-politik, kekuasaan, sejarah, atau budaya- walaupun entitas itu tadi punya jalan takdirnya sendiri.

Profile Image for Galih Kartika.
17 reviews4 followers
August 28, 2019
Dalam politik, tokoh Wisanggeni kerap jadi simbol bagi para rising star yang karir politiknya sengaja dijegal atau dimatikan.

Wisanggeni memang tragis. Wisanggeni anak Arjuna. Kesatria yang sangat sakti. Bisa masuk tanah seperti Antasena, bisa hidup di laut seperti Antareja dan bisa terbang seperti Gathutkaca. Ia diceritakan mengobrak abrik kahyangan dan membuat para dewa kocar-kacir. Tapi, kelahirannya menurut para dewa menyalahi kodrat. Wisanggeni dianggap bisa menganggu stabilitas. Karena itu, sudah sejak bayi Ia selalu ingin dilenyapkan. Hidup diburu untuk dibunuh. Tentu, saking saktinya tidak ada yang pernah berhasil membunuhnya. Ada yang menyebut andai saja Baratayudha berlangsung, sepertinya cukup dengan Wisanggeni dan Antasena, perang akan dengan mudah dimenangkan Pandawa. Tapi sekali lagi, skenarionya tidak seperti itu. Wisanggeni diminta undur diri dari jagad pewayangan demi stabilitas lakon.

Tidak hanya Wisanggeni, dalam pewayangan ada tokoh-tokoh yang sengaja dikorbankan, dimatikan atau didorong agar tidak terlibat Baratayudha. Semua untuk memenuhi jalan cerita yang digelar oleh Kresna "sang sutradara". Gathutkaca dikorbankan untuk melenyapkan senjata konta milik Karna. Baladewa diminta bertapa agar tidak ikut berperang. Kresna sendiri memilih jadi kusir Arjuna dan menolak memegang senjata. Sementara Antasena bersama Wisanggeni rela memilih moksa.

Dalam tulisan lain Seno menyebutnya: politik pengorbanan. Politik tumbal juga boleh. Pengorbanan yang entah sengaja didorong atau tidak, entah tulus atau naif, dinikmati oleh orang lain untuk kepentingannya.
Displaying 1 - 30 of 56 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.