Jump to ratings and reviews
Rate this book

Trilogi Insiden

Saksi Mata

Rate this book
Hari-hari itu saya memikirkan harga jiwa manusia. Saya menulis cerita dengan semangat perlawanan, untuk melawan ketakutan saya sendiri—dan bersyukur telah mendapat pilihan untuk melakukannya. Penguasa datang dan pergi. Cerita saya masih ada.

166 pages, Paperback

First published January 1, 1994

92 people are currently reading
1384 people want to read

About the author

Seno Gumira Ajidarma

63 books839 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
407 (35%)
4 stars
456 (39%)
3 stars
237 (20%)
2 stars
40 (3%)
1 star
14 (1%)
Displaying 1 - 30 of 146 reviews
Profile Image for fridayinapril.
121 reviews29 followers
March 30, 2023
Fiction as a form of resistance is something so powerful. When everything else fails, write it on paper and if one is successful many generations from now, people will read it and remember it.

Seno Gumira Ajidarma once said: "When journalism is silenced, literature must speak. Because while journalism speaks with facts, literature speaks with the truth".

With Eyewitness prolific author and journalist Seno Gumira Ajidarma brings us a short story collection in an attempt to shine a light on the Santa Cruz Massacre of 1991 in Timor Leste. These stories are like an eyewitness, a testimony to the violence, abuse, and atrocities committed by Suharto's New Order.

These are stories heavy on gore and are not for the faint-hearted. I leave you with the beginning of the first short story of the collection so you can have an idea of what to expect.

"The eyewitness entered. He had no eyes. Unsteadily he made his way through the courtroom, groping the air with his hands. Blood ran from his eye-sockets, blood so red it seemed nothing could be redder than the red of that blood, flowing slowly and continuously from the holes where his eyes had been. The blood-soaked his cheeks soaked his shirt, soaked his trousers, and soaked his shoes. Then it oozed over the floor of the courtroom, mopped clean earlier with disinfectant and the smell still lingered. The courtroom was in an uproar, the spectators' cries revealing their emotions. The journalists, responding as always to sensational events with great excitement, enthusiastically began photographing the eyewitness from all angles, even from upside down, making the atmosphere still warmer with the blinking of their camera flashes."
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books102 followers
September 10, 2022
Saksi mata berisikan cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma yang konon menceritakan tragedi Dili. Sempat maju mundur ingin membaca karena takut terlalu visual dan mengerikan. Namun, rupanya begitu page turner hingga kutuntaskan dalam sekali tidur-tiduran. Ada humor di tengah kesedihan, meski kalau dibayangkan ngeri juga. Khas banget memang tulisannya Panutan Jang Moelia Seno ini. 🤣
Misalnya, mata yang dicongkel dengan sendok dan mau dibuat tengkleng. Apakah setelah ini aku bisa makan tengkleng dengan tenang?😭

Atau telinga yang dimasukkan ke dalam amplop sebagai hadiah. Ga hanya senja, ini telinga juga dikasihkan pacarnya 😭

Aku suka semua, tetapi cerpen yang terasa membekas:
🪁Saksi mata
🪁Telinga
🪁Pelajaran sejarah
🪁Misteri kota Ningi
🪁Kepala di pagar da Silva

"Apakah dikau juga menginginkan kepala-kepala tanpa telinga itu sebagai kenang-kenangan dari medan perang?" (hlm. 19)

"Apa yang mereka tancapkan di tombak pagar itu?"
"Seperti, seperti, seperti kepala."
.
.
"Kenapa harus ditancapkan di pagar rumah bapaknya?" (Hal.131)

Sangat worth it dibaca. Omong-omong ini kubaca di ipusnas
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
July 28, 2017
baca ini saat pulang kerja sambil lewat daerah sekitaran istana negara pas ada acara kamisan kemarin. trus abis itu gak bisa baca buku ini dengan tenang.

jadi terbayang2 hhh

***

hampir semua cerpen di buku ini saya suka dan sayangnya pula, hampir setengah dari isi buku ini sudah pernah saya baca di buku kumpulan cerita yang lain. yang belum saya baca kayaknya cuma 2 dari 16 cerita yang ada.

tapi tetap, meski sudah pernah dibaca di buku lain, feelingnya masih dapet.

masih bikin ngilu dan mumet

kutipan kesukaan yang paling saya ingat ini,
''apakah sejarah itu?'' pikir pak guru Alfonso. ''Apakah yang harus kita pahami dari masa lalu?''

juga kalimat terakhir dari bab sepatah kata dari penulis yang ditulis oleh oom Seno

...hari-hari itu saya memikirkan harga jiwa manusia. Saya menulis cerita dengan semangat perlawanan, antara lain, untuk melawan ketakutan saya sendiri-dan saya sungguh bersyukur telah mendapat pilihan untuk melakukannya. Penguasa datang dan pergi. Cerita saya masih ada.

rekomen!
Profile Image for Mimi Hitam.
54 reviews4 followers
February 5, 2010
Saksi Mata is my first SGA's book.
I read it when I was 17 (1997). Being a naive girl I was, I was bewildered and enchanted by the short stories which mostly speak about state violence through militarism.

My favorite piece is Telinga (ear). And through this story - and other stories in the book - SGA able to deliver the fear, injustices, yet light enough for a 17 year old me to comprehend.

I am addicted to all SGA's books ever since.

Profile Image for Natasha.
122 reviews
March 4, 2021
Human life is so fleeting-but shouldn't we always believe that there is something of enduring value in this life?

My very first Indonesian Literature! Wow.
I'm going to put more books by this author into my never-ending-wishlist.

History and literature, anyone? Yes please.

These are my favorite among 16 stories :
- The History Lesson
- The Mystery of the Town of Ningi (or The Invisible Christmas)
- A tree Outside the Village
- Clandestine

I think the author was trying to give us, the readers, a message through literature, and, I could not help admiring these stories. They are dark indeed (not my kind of book honestly), but I really do appreciate this work! Most of these stories makes me think, what the author was trying to say? what's the meaning of this story? why did the characters have to experience this? The characters in these stories are in deep loss and grief caused by wars. A new perspective, a new way to look into this inscrutable world.

Did not regret a bit of having read it this year yet I genuinely hope I read this book sooner.

Some of my favorite quotes :
"We were people who could no longer feel loss, because loss had become the currency of our lives. We had no more tears to weep for our loss, because even our tears of blood had dried up in a loss that only served to ignite the spirit of our resistance."

"People could appear and vanis, just like that, into the night. There were many people he'd met who'd suddenly vanished and no one could explain where they'd gone.

History isn't just a record of dates and names Florencio. There's history remaining in the grass, or hidden in the wind o tossing behind the waves. History, Florencio, creeps around outside the classroom, and now you'll have to study it."

"The fact was that it wasn't all that easy to teach an understanding of the meaning of spraying bullets."

"Unfortunately, it wasn't always soldiers who were the enemy. Some weren't always armed amd didn't always seem like rebels, but they were just as dangerous."

"How much time does one have on this earth to feel happy?"
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews84 followers
November 6, 2019
Setelah membaca buku ini saya jadi ingin menggali lebih dalam soal sejarah Timor Leste. Sebagai generasi 90-an, saya cuma tahu namanya sebagai provinsi termuda negara kita (wajib dihafal waktu pelajaran IPS). Tapi tidak ada pelajaran sejarahnya, kenapa mereka bisa bergabung ke dalam NKRI. Dan ketika saya menjelang SMP, provinsi itu lepas dari negeri kita dan menjadi negara sendiri. Selepas itu, baik di SMP ataupun SMA, saya tidak pernah mendengar sejarah soal Timor Timur atau Timor Leste ada di dalam buku sejarah kita.

Cerpen-cerpen di dalam buku ini begitu ngeri dan membangkitkan rasa kesadaran akan peperangan. Tidak terbayang seperti apa kehidupan orang-orang di sana setiap harinya dan kengerian macam apa yang mesti mereka lalui. Sayangnya, jika orang-orang dari generasi milenial seperti saya saja sudah tidak tau apapun soal Timor Leste kecuali Raul Lemos, maka apalagi dengan generasi berikutnya? Padahal, mengetahui sejarah semacam ini perlu sekali bagi kita supaya kita mawas diri dan tak mengulangi lagi kesalahan yang telah kita perbuat di masa lalu.

Guru Alfonso sudah lama mempelajari, belasan tahun lamanya, bahwa harapan mereka terletak di pundak anak-anak itu, tapi Guru Alfonso menyadari betapa harapan itu hanya bisa menjadi kenyataan jika anak-anak itu mampu memahami sejarah. Guru Alfonso juga sangat memaklumi, hanya dengan suatu cara berbahasa yang bisa dimengerti, sejarah mereka bisa dihayati.


Buku ini tentu saja bukan buku sejarah. Ceritanya fiksi begitupun dengan tokoh-tokohnya. Namun, bukan berarti tidak ada fakta di dalamnya. Fakta-fakta itulah yang perlu dicari dari sumber-sumber primer yang ada. Dan sekarang saya sungguh penasaran dengan liputan Seno Gumira mengenai peristiwa di Dili 28 tahun yang lalu.

Ngomong-ngomong, saya penasaran dengan tokoh Alfonso yang beberapa kali muncul dalam cerpen yang berbeda-beda. Apakah mereka orang yang sama?
Profile Image for Matchanillaaa.
88 reviews2 followers
December 15, 2024
Berisi 16 cerpen thriller yang menggambarkan kekerasan dan penyiksaan oknum aparat negara. Beberapa cerpen berlatar sejarah Timor Leste saat menjadi bagian dari negara Indonesia yang sering disebut insiden Dili.

Kaya akan satir kepada militer dan aparat negara. Kosa kata yang digunakan juga sastra banget tapi masih mudah dipahami dan terbilang page turner. Ditambah ada sketsa-sketsa yang terlihat menyeramkan tapi punya makna yang mendalam.

Bagian yang paling aku suka yaitu saat penggambaran penyiksaan korban yang digambarkan terlalu getir. Penulis sukses menggambarkan kekejaman militer Indonesia dengan banyak kekerasan seperti potong telinga, pemerkosaan, penculikan, kuku ditindih meja, disetrum, congkel mata, penggal kepala, bahkan kegetiran korban yang terpaksa diasingkan oleh keluarga karena bentuk fisik yang sudah tidak dikenali lagi.

Karena ini cerpen yang plotnya singkat banget, jadi ada beberapa adegan yang aku kurang paham maksudnya tuh kemana karena memang perlu analisis yang tajam.
Profile Image for Kamalia Kamalia.
Author 17 books77 followers
June 17, 2017
Kumpulan cerpen yang memuatkan tentang kekejaman tentera di Timor-Timur pada 12 November 1991, bersaman tarikh kelahiran aku yang ke-4. Ia digelar Insiden Dili atau The Santa Cruz Masacre. Waktu itu Timor-Timur masih lagi sebahagian daripada Indonesia.

Cerpen kegemaran aku ialah 'Telinga'. Nampaknya aku kena baca sejarah pembantaian ini. Baca cerpen-cerpennya sudah ngeri.
Profile Image for Wina S. Albert.
164 reviews2 followers
October 4, 2024
Dalam perjalanan cerita, saya menyaksikan bagaimana keadilan tampak semakin jauh dari jangkauan. Hakim berusaha mempertahankan wibawa di tengah kekacauan, tetapi situasinya semakin tidak terkendali. Penulis menyoroti kegagalan sistem hukum yang seharusnya melindungi dan menegakkan keadilan, tetapi justru terjebak dalam formalitas yang absurd. Proses hukum menjadi tontonan, di mana substansi keadilan dipertanyakan.

Saksi Mata mengajak saya merenungkan realitas sosial dan hukum melalui lensa satir. Dengan humor yang gelap dan absurd, penulis menyampaikan pesan bahwa keadilan sering kali terabaikan dalam keramaian, sementara masyarakat lebih suka terlibat dalam drama daripada mencari kebenaran. Di akhir cerita, ketika Saksi Mata kembali bermimpi dan kehilangan lidahnya, saya diingatkan bahwa dalam pencarian keadilan, saya mungkin kehilangan lebih dari sekadar penglihatan; mungkin kehilangan suara dalam kerumunan yang gaduh.
Profile Image for Citra Maudy.
24 reviews
June 20, 2020
Bagi saya, karya ini benar-benar mendalami perannya sebagai "sastra yg berbicara ketika jurnalisme dibungkam". Seno tidak pernah diragukan untuk mengerjakan tugasnya yg satu itu. Sejak membaca kata pengatarnya saja saya sudah dibuat bergidik akan pembacaan Seno atas kerapuhan seorang tentara yg menatapnya.
Profile Image for aynsrtn.
489 reviews14 followers
August 3, 2024
Saksi Mata berisi 16 cerpen dengan cerita-cerita yang terasa "dekat". Ada yang mati, ada yang hilang, ada yang ditinggalkan, ada yang meninggalkan, ada yang tertuduh pelaku, ada yang pelaku sebenarnya, ada yang menjadi korban.

Hook banget saat baca cerpen pertama yaitu dengan judul yang sama dengan judul bukunya, "Saksi Mata". Tentang seorang saksi mata yang kehilangan matanya. Selanjutnya, cerpen-cerpen di dalamnya makin membuat ku banyak termenung. Meski ini jelas fiksi, tapi seperti sedang melihat, mendengar, dan merasakannya secara "nyata". Karena melihat footnotes-nya ini seperti based on true story yang dibuat fiksi.

Negara yang seharusnya melindungi rakyatnya, malah tak lebih daripada seorang algojo dalam sebuah pembantaian. Miris, sakit, pedih.

Ada top 5 cerpen yang aku suka banget, bukan berarti yang lainnya aku nggak suka. Tapi ini best of the best, yaitu:

1. Saksi Mata
Jelas. Hook banget. Apalagi percakapan sang saksi mata dengan hakimnya. "Ingatlah semua itu baik-baik karena, meskipun banyak saksi mata, tidak satu pun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan." —Hal. 8

2. Telinga
Premisnya sungguh tidak biasa. Kekasihnya selalu mengirimkan telinga dari medan perang. Dia pun memajang telinga itu di rumahnya. Telinga, ya, telinga. Apakah dengan menghilangkan telinga membuat mereka menjadi tidak mendengar?

3. Rosario
Seorang pasien datang ke dokter. Ia mengeluhkan perutnya sakit. Dan setelah dilihat, ada rosario dalam perut pasien tersebut. Pasien pun pingsan sebelum menjelaskan semuanya, dia hanya berkata "bayonet" sebelum pingsan dan jatuh koma.

4. Misteri Kota Ningi
Seorang petugas sensus bertugas di Kota Ningi, namun ia heran karena semakin hari dan tahun penduduknya semakin berkurang dengan drastis. Dan tinggallah si petugas sensus itu sendiri di kota itu pada perayaan natal.

5. Sebatang Pohon di Luar Desa
Memilukan plot twist-nya. Tentang Paman Alfonso kepada keponakannya tentang kekejaman kotanya.

Membaca kumpulan cerpen ini jadi membuatku ingin membaca lebih dalam lagi tentang Santa Cruz Massacre.
Profile Image for Sheeta.
214 reviews18 followers
August 31, 2024
Aku juga heran, kenapa keyakinan bisa membuat orang tidak takut mati.

Saksi Mata adalah kumpulan cerpen yang—kabarnya—membahas tentang Peristiwa Dili. Aku sangat menikmati setiap cerita yang disajikan, meskipun semuanya membuat air mata ini turun. Perih, pedih, sedih.

Cerita yang paling melekat bagiku adalah tentu saja cerpen pertama yang ada di buku tersebut, yaitu Saksi Mata. Setelah membaca habis satu buku, saya menyadari bahwa cerpen pertama dan terakhir dalam buku memiliki satu makna yang sama; yaitu keyakinan yang tidak membuat seseorang takut mati. Pada cerpen Saksi Mata, kita bertemu sosok "saksi" yang matanya telah hilang dan—menurut saya—sebagai upaya mengurangi rasa stresnya karena kehilangan mata, ia pun menganggap bahwa matanya yang dicongkel hanya bagian dari mimpi. Meskipun matanya telah hilang, ia tak berhenti untuk bersaksi. Yang sayangnya, satu hal yang paling penting tentang bersaksi juga diambil oleh mimpi.

Selain itu, cerpen kedua, yakni Telinga juga membekas. Menceritakan tentang seorang wanita yang memiliki pacar seorang yang maju dalam medan perang. Suatu hari—dan hari-hari berikutnya, ia mendapat kiriman sebuah telinga yang masih basah dengan darah. Ternyata telinga itu adalah telinga musuh sang pacar. Yang dianggap mencurigakan, yang entah mencurigakan untuk apa dan siapa. Yang selanjutnya, sang pacar selalu mengirim telinga, dan bukannya membalas telinga. Yang mengerikan adalah, ketika sang pacar mengirim sangat banyak telinga—seolah telinga itu adalah makanan. Setelah melalui banyak percakapan dengan temannya, si wanita ini kemudian baru menyadari bahwa perbuatan sang pacar sangat kejam. Yang kemudian ditutup dengan sebuah kalimat, "tapi banyak yang menganggap ia pahlawan".

Cerpen Rosario juga cukup menyayat hati dan membekas. Kupastikan, akan kubaca peristiwa yang berkaitan dengan cerpen ini. Menceritakan seorang pemuda yang mendatangi seorang dokter dan ternyata ada sebuah rosario dalam perutnya. Hingga akhir cerita, sang dokter tak menemukan jawaban mengapa ada rosario dalam perutnya. Tapi, kurasa disini Seno mungkin ingin kita yang menjawab pertanyaan si dokter tersebut.

Semua cerita dalam buku ini sangat membekas, pastikan baca dengan perlahan meskipun aku yakin akan sulit. Terima kasih, Seno Gumira Ajidarma sudah membuat cerpen-cerpen ini dan bisa kubaca di tahun 2024. Kurasa buku ini harus aku bagikan lagi pada murid-muridku untuk mengajak mereka menyusuri peristiwa-peristiwa kelam yang pernah dilewati oleh bangsa kita.
Profile Image for Nik Maack.
763 reviews38 followers
March 21, 2020
I enjoyed some of the very dark and disturbing stories of war. They are written in a surreal but matter-of-fact manner, which made them appealing. Which is why I was surprised when, later in the book, there were some extremely floral and boring stories all about poetry and not much else. I skipped two of them.

At the end of the book is "Authors introduction to the first english-language edition". I read about half of that, but despite the gripping (and horrifying, and graphic) details, it was difficult to follow and I gave up.

It's an interesting book, but I'm sure something is lost in translation. (This was an English translation -- I don't speak Indonesian.) Not to mention my barely understanding Indonesian culture. I feel very ignorant about East Timor and I'm sure knowing more about that history would have helped me out.

"Ears" was my favorite story because it was so horrifying, disturbingly funny, and psychotic. A soldier sends a severed ear to his girlfriend in the mail, as a souvenir from the battlefield. Things get creepier from there.

I picked up this book while a tourist in Jakarta.
Profile Image for Natasha (jouljet).
882 reviews35 followers
February 25, 2023
"When journalism is gagged, literature must speak. Because when journalism speaks with facts, literature speaks with the truth."

A collection of twelve short stories which are fictionalised accounts of events witnessed or caught up in, or testimony or reports, all collected by a journalist stopped from publishing, stopped from telling these stories in his national publication.

Stories of brutal violence, ears being cut off, heads places on front fences, numbers of people disappeared. Family members waiting for someone to return. Confronting accounts of torture, and massacre. A record of events surrounding the Dili Incident, and the struggle for an independent East Timor.

The final chapter is Seno Gumira Ajidarma explaining how this collection came to be, how his reporting was stopped. How his publication's role as record keeper and truth telling was thwarted. So here are the stories, to bear witness.
Profile Image for Alvin Qobulsyah.
75 reviews1 follower
July 15, 2020
Journalism works in the most euphemistic format. The ordinary circumstances for journalist on looking a loophole on New Order's rigid censorship on media works.
.
The brutality yet grotesque situation in Timor Loro Sae during Indonesia's presence were presented in a modest way by this Seno Gumira Ajidarma's short stories anthology.
.
Several titles including "Saksi Mata", "Telinga", "Maria", and "Listrik" will presumably squeezing your stomach.
.
Only several written works that could pushed me on pouring out stuffs from my gastros. The meticuluous details on how the tortures were executed will make your throat dried and dried.
Profile Image for Devina Heriyanto.
372 reviews253 followers
January 11, 2017
Like every other great work in fiction, it disturbs you. Saksi Mata adalah fiksi yang berbicara tentang kebenaran, yang memang lebih baik menjadi fiksi karena seringkali kebenaran saja terasa kering dan hambar, sehingga mudah dilupakan mereka yang seharusnya mengingat.
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
895 reviews30 followers
April 28, 2021
degdegan baca bukunya. kepengen searching Dili Massacre tapi keburu takut setelah selesai baca. this is to deep. kemasannya mungkin terlalu nyastra jadi suka berhenti dulu bacanya buat mencerna maksudnya.
Profile Image for Sayekti Ardiyani.
127 reviews3 followers
September 26, 2016
Cerpen-cerpen dalam buku ini adalah upaya melawan lupa. Pembaca diajak melihat bagaimana kekejaman militer pada masa panas di Timor-Timur.
Profile Image for gadis berhoodie merah.
7 reviews3 followers
Read
May 30, 2025
saksi mata (1994)
seno gumira ajidarma
pabrik tulisan
166 halaman

ini bukan review tapi postingan ulang utas membaca yang aku buat tahun 2022 di platform x/twitter

menurut blurb buku ini berisi 16 cerita pendek tentang kekejaman dan derita manusia.

buku ini awalnya diterbitkan oleh bentang pustaka sedang yang aku baca ini terbitan pabrik tulisan shira media group.

di halaman akhir ada penjelasan bahwa buku ini ada sekuelnya, novel jazz, parfum dan insiden (1996) juga kumpulan esai ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara (1997).

tulisan seno gumira ajidarma ini lugas, padat. bukunya tidak tebal, beberapa orang pasti bisa selesai dalam sekali duduk, hanya sekitar 150 halaman.

cerpen pertama, saksi mata.
tentang seorang saksi mata yang datang ke pengadilan dengan keadaan matanya yang hilang.

cerita kedua, telinga.
kisah tentang alina yang selalu mendapat kiriman potongan telinga dari kekasihnya yang berada di medan perang.

cerita ketiga, manuel.
cerita manuel yang sepanjang malam berbincang dengan orang asing di sebuah bar.

cerita keempat, maria.
kisah seorang wanita yang kehilangan suami dan kedua anaknya.

cerita kelima, salvador.
cerita seorang pencuri ayam yang dihukum mati lalu mayatnya digantung di gerbang kota.

cerita keenam, rosario.
kisah fernando yang menelan rosario.

cerita ketujuh, listrik.
cerita januario dan siksaan sengatan listrik.

cerita kedelapan, pelajaran sejarah.
guru alfonso dan pelajaran sejarah di luar kelas. pelajaran sejarah yang tidak pernah masuk ke dalam kurikulum dan buku sejarah. sejarah yang disembunyikan.

cerita kesembilan, misteri kota ningi
cerita dari seorang penduduk sensus di kota ningi yang sebagian penduduknya kasat mata

cerita kesepuluh, klandestin
sebuah kota di bawah tanah yang mengingatkanku pada film the matrix (walaupun inti ceritanya bukan itu).

cerita kesebelas. darah itu merah, jenderal.
cerita pensiunan jenderal.

cerita kedua belas, seruling kesunyian.
"bicaralah tentang luka, ceritakan tentang luka tak tersembuhkan itu."

cerita ketiga belas, salazar.
kisah menanti salazar.

cerita keempat belas, junior.
cerita junior dan suster tania.
suka surat untuk junior.

cerita kelima belas, kepala di pagar da silva.
sebuah kepala dengan rambut berpita tertancap di pagar rumah da silva.

cerita terakhir, sebatang pohon di luar desa.
cerita adelino yang sangat mengagumi pamannya, alfonso.

di halaman berikutnya terdapat ilustrasi agung kurniawan dan penjelasannya.
cerita yang aku suka di buku ini pelajaran sejarah, kepala di pagar da silva dan sebatang pohon di luar desa.
Profile Image for Ilham Rabbani.
20 reviews4 followers
January 10, 2022
Salah satu karya yang membicarakan konflik serius—atau bahkan dapat dikatakan sebagai nasib tragis—warga negara di hadapan kekuasaan selama berpuluh-puluh tahun adalah kumpulan cerpen Saksi Mata (1994) karya sastrawan Indonesia bernama Seno Gumira Ajidarma. Kumpulan cerpen tersebut, sebagaimana diterangkan oleh pengarang dalam bagian “Catatan Penulis” lahir sebagai upaya sang pengarang untuk merespons Insiden Dili 12 November 1991 (The Dili Massacre) di Timor Timur (Ajidarma, 2016: viii). Artinya, secara umum, saat itu Ajidarma memang berupaya merespons tatanan yang berada di luar diri dan karyanya, yakni masa pemerintahan rezim Orde Baru yang penuh dengan represi, perluasan peran militer yang kian dominan, dan implementasi Hak Asasi Manusia (HAM) yang rendah—karena penertiban dan pembasiman terjadi di mana-mana (Gaffar, 2006: 149–150).
Kumpulan cerpen Saksi Mata karya Ajidarma, yang notabene memang merupakan karya dengan satu kesatuan tema, boleh dikatakan sebagai teks sastra yang sarat dengan muatan konflik berbentuk kekerasan yang menerpa warga negara di Dili, Kota Ningi, Los Palos, dan Gunung Legumau, dan lain-lain. Pelaku kekerasan di dalamnya tidak lain merupakan militer Indonesia, atau aparatus negara, yang mencurigai tokoh-tokoh dan berbagai pihak sebagai mata-mata musuh, pemberontak, demonstran, gerilyawan, pejuang yang menginginkan kemerdekaan bagi wilayah Timor Timur, pihak yang kontra dengan kebijakan pemerintah Indonesia, atau sejenisnya.
Digambarkan dalam cerpen, bentuk-bentuk kekerasan yang dialami warga negara tersebut mulai dari yang ringan seperti intimidasi, penertiban, dan pemukulan, hingga kekerasan yang hebat seperti penusukan, penculikan, penyiksaan (disetrum, potong telinga, congkel mata, potong lidah, dll.), pemerkosaan, pembunuhan kejam, penembakan, dan pembantaian. Kekejaman terus diberlakukan, karena aparatus memang mendapati adanya perlawanan secara nyata dari tokoh-tokoh yang menolak tunduk di hadapan kekuasaan. Jika digeneralisasi, maka perlakuan-perlakuan aparatus terhadap warga negara tersebut dapatlah dikategorikan sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat. Keberanian Ajidarma mengangkat tema kekerasan dalam karya-karya sastranya ini, menurut Dwifatma, (2014: xvi), telah membuka mata khalayak, sekaligus memicu penolakan terhadap kekerasan secara umum, atau yang kerap terjadi dalam pemerintahan modern secara khusus. Karya-karya Ajidarma berusaha menyentuh siapa pun lewat suara kemanusiaan, dan membacanya berarti berupaya menyelami kedalaman sebuah peristiwa (Moses, 2018: 52).
Profile Image for Yodha Ardell.
21 reviews
January 10, 2023
// Review // — "Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara."

Aku bikin challenge buat diriku sendiri setelah menyelesaikan challenge di tahun lalu. Setelah berhasil membaca 100 buku dalam 2 tahun, sekarang challenge di tahun ini adalah explore penulis lain yang belum aku baca karyanya. Karena kalau kulihat-lihat di lemari buku, kebanyakan ya cuman "itu itu" aja. Dan, kurasa ini tantangan yang menarik.

Buku ini jadi buku pertama yang tamat di tahun 2023 ini; juga sebagai permulaan challenge ini. Seno Gumira Ajidarma, bahkan namanya pun aku baru tahu sesaat sebelum tahu bukunya dan langsung memutuskan untuk menjadikan Saksi Mata sebagai buku pertama di tahun ini.

Darah, tragedi, kelam, ngeri. Mungkin 4 kata itu bakal mewakili semua penggambaran tentang buku ini. Setelah kucari tahu, penulis adalah salah satu tokoh yang langsung mengalami babakan perubahan dan wacana politik. Tulisannya penuh dengan metafor dan penggambaran kasta sosial yang drastis: hampir di tiap cerpennya menggambarkan tokoh yang tertindas dan tidak dapat menyuarakan keadilan mereka. Tapi ada juga Bapak Hakim yang Mulia dan Bapak Jendral yang memiliki kuasa atas segalanya.

Pengolahan kata dan kalimat penggambaran yang tragis tapi dibawakan dengan sense humor ini menurutku menarik. Gimana engga, mata dicongkel dengan sendok buat tengkleng, atau memberi hadiah telinga dan kepala musuh yang dipenggal buat sang pacar. Hm, mungkin habis ini aku bakal liat-liat kalo mau makan tengkleng.

Penulis menuliskan kumcer ini berdasar kejadian Dili, 12 November '91. Membuat kita tahu, gimana implementasi dari "sejarah ditutupi oleh pemenang." Mungkin di beberapa cerita bakal dibikin agak melongo dan bingung dengan ceritanya, tapi tetep bisa dinikmati dengan rasa kagum dan angguk kepala.

"Aku hanya perlu membebaskan pikiranku, dari ideologi yang paling sempurna."
Profile Image for Septa.
99 reviews2 followers
February 7, 2024
Peristiwa Dili di Timor-Timur (pembantaian di Santa Cruz) pada 12 November 1991 merupakan pembantaian yang dilakukan militer indonesia terhadap masyarakat Timor-Timur. Pembantaian ini terjadi karena penolakan pemerintah Indonesia terhadap jurnalis portugal yang ingin berkunjung ke Timor-Timur untuk mendukung kemerdekaan bangsa tersebut. Mahasiswa Timor-Timur yang pro-kemerdekaan yang mengetahui hal tersebut kemudian merasa marah dan melakukan demontrasi besar-besaran terhadap pemerintah Indonesia. Demonstrasi terjadi di TPU Santa Cruz dan memakan korban hingga 250 jiwa. Militer Indonesia sebagai kelompok pro-integrasi tidak hanya menembaki mahasiswa, namun juga wanita yang memegang spanduk/bendera, juga warga sipil. Ini merupakan sejarah kekerasan rezim orde baru terhadap bangsanya.

Pembantaian Santa Cruz ini yang kemudian menjadi latar belakang penulis menuangkan idenya pada buku kumpulan cerita ini. Seperti kata penulis “Penguasa datang dan pergi. Cerita saya masih ada” menjadi bukti bahwa ada kobaran amarah dan juga kekecewaan yang dirasakan oleh penulis terhadap pemerintah. Apalagi di tiap cerpennya selalu terdapat kekerasan, kebiadaban dan pertumpahan darah yang dilakukan oleh para birokrat pemerintah terhadap rakyatnya sendiri.

Penulis merangkai buku ini dengan diksi dan metafor yang sukar untuk dipahami, sehingga membuatku harus meniti kata perkata dalam tiap cerpennya agar bisa memahami tujuan penulis. Walaupun sebenarnya buku ini tergolong buku yang page turner, apalagi di selipkan komedi-komedi satire di dalamnya. Untuk cerpen fovoritku sendiri adalah ‘telinga’, ‘misteri kota ningi’, dan ‘pelajaran sejarah’.
Profile Image for dellarsd.
87 reviews3 followers
March 30, 2022
First time read book by Bapak Seno Gumira Ajidarma. Sebenarnya kumpulan cerpen ini tergolong sangat tipis dan setiap ceritanya juga demikian–tidak yang begitu panjang as normaly cerpen. But setiap ceritanya sangat padat, menohok, dan sesak.
Every issues dan konflik–baik yang sekarang masih berlangsung ataupun yang sudah sedari dulu, masuk perlahan sebagai satire yang amat mulus tapi tepat sasaran.

Tbh, baru baca 2 cerita di awal aja udah bikin ngos2 an, kayak wait 'what's that?'. Dan gak sampai disitu saja, disetiap akhir cerita kita pasti dibikin bengong sepersekian detik, idk even more, please klimaksnya ibarat panah yang bisa nembus target face. Tepat.
That's just my first impression, let's talk about the stories.

Separuh dari 16 cerpen ini mendapat ilustrasi yang bisa jadi menerjemahkan cerita, atau mungkin sebaliknya. Saksi mata–almost all of story mengisahkan kekejaman dan penderitaan manusia yang melampaui batas nalar. Imajinasi pun mungkin tidak sampai. Benar-benar belajar dari buku ini.

Saksi mata ini mengangkat cerita dengan latar saat terjadinya konflik di Timor-Timur, sekarang Timor Leste. Mulai dari mata yang dijadikan bahan tengkleng, telinga yang dijadikan hadiah, kulit pipi yang dimakan mentah-mentah, wajah yang sudah tak serupa wajah, petugas sensus yang hidup di antara mereka yang tak terlihat, dan banyak lagi cerita yang sama sekali tak terduga.

Saksi mata is one of the book yang sangat penuh rasa sedih, meski menurutku lebih ke sakit. But this book is a very amazing. Benar² sastra yang bisa berbicara, ngena banget. Luv this!
Profile Image for Nura.
1,056 reviews30 followers
December 29, 2024
"Kemerdekaan adalah impian terkutuk."

Padahal dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa, "kemerdekaan adalah hak segala bangsa..." tapi orang-orang yang berkuasa seolah menutup mata dan telinga mereka ketika orang-orang meminta hak merdeka tersebut.

Pada 12 November 1991 ribuan warga Timor Leste menghadiri pemakaman Sebastiao Gomes Rangel, seorang aktivis pro-kemerdekaan Timor Leste yang tewas di tangan TNI. Namun suasana berubah ketika ribuan pengunjuk rasa memasuki pekuburan. Aksi massa disambut rentetan tembakan TNI Dalam peristiwa berdarah itu, sebanyak 271 orang tewas, 382 terluka, dan 250 hilang. (Tempo.co, 12 Nov 2023)

Dari peristiwa inilah, cerpen-cerpen Seno berusaha melawan kekuasaan yang ingin membungkam perlawanan. Kengerian demi kengerian hadir dalam kisah-kisah, seperti Saksi Mata yang hadir di persidangan meski tanpa mata, Telinga yang dikirimkan seorang pria kepada kekasihnya karena telah mendengar berita-berita menghasut, hingga penggalan Kepala di Pagar Da Silva.

Dan yang paling mengerikan adalah keyakinan yang dianut sang jenderal dalam Darah itu Merah, Jenderal, "Celakanya yang disebut musuh tak selalu kentara, tak selalu bersenjata, dan tak selalu seperti orang yang sedang memberontak, tapi sama berbahayanya, jadi harus disikat saja."

Dibaca untuk siaran bulan Juli 2024.
Profile Image for Nova Laras.
9 reviews
April 18, 2025
This was my first book from Seno Gumira Ajidarma’s works. I was introduced to Seno when I was picked as a director to adapt one of his stories which is Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. The adaptation was written by my mentor which I turned into an interactive stage show and got me hooked on Seno’s storytelling.

This book was the give to me by the same mentor as to help me expand my Indonesian vocabulary for an upcoming playwright competition that I signed up to. Saksi Mata is a compilation of short stories by Seno Gumira Ajidarma which were once published at a magazine/newspaper that was a rebellion towards strict press laws in the New Order and Reformation regime. It exclusively writes about the violence and oppression in forced by the state upon the people of now Timor Leste.

His writing is detailed, gruesome, even macabre and it shows how violence and death follows the trails of the people like an everyday occurrence. Reading this makes you wonder about the country’s ideology and acts, seeing no difference from the oppression from colonizers and the oppression from the state towards what used to be their own people. What makes it even gut-wrenching is the fact that these stories are not told. History is written by the victors after all.
Profile Image for Arystha.
323 reviews11 followers
September 13, 2021
Buku berdarah, kalau bisa saya bilang. Termasuk buku yang kontroversional di masa awal terbitnya, karena cerita-cerita pendek di dalamnya mengangkat isu tentang konflik di Timor Timur. Sebelum dijadikan satu buku, cerpen-cerpen tersebut terbit terpisah-pisah di koran dan majalah pada masa Orde Baru, juga terbit terjemahannya dalam beberapa bahasa di media luar negeri, dan dibacakan dalam versi audio-book.
Ada 16 cerpen di dalam buku ini, dan seperti yang saya bilang di awal, mengandung darah. Membaca buku ini membuat saya teringat pada Orang-Orang Oetimu (atau seharusnya membaca Orang-Orang Oetimu yang membuat saya teringat pada buku ini, karena buku ini saya baca jauh sebelum Orang-Orang Oetimu terbit). Masing-masing cerita mengusik saya dengan caranya sendiri-sendiri, mengingatkan saya pada teman-teman pengungsi dari Dili pada waktu saya SD, yang tinggal sementara di panti asuhan yang satu kompleks dengan sekolah kami.
Dari semua cerpen yang ada, cerpen 'Saksi Mata', 'Telinga', dan 'Misteri Kota Ningi' yang paling bisa saya ingat. Tetapi yang selalu bikin deg-degan malah bukan cerpennya, tetapi ilustrasi bab yang selalu gelap, dingin, dan hitam.
Profile Image for Syifa Aulia.
11 reviews
December 22, 2021
Lima bintang untuk kumpulan cerpen yang memikat ini!

Ini pertama kalinya aku baca karya SGA. Keinginan membaca buku ini pun hadir pas ngeliat rekomendasinya dari sebuah blog, lupa namanya haha. Karna di Ipusnas ada, yaudah lah pinjem dan gak nyangka cerita-ceritanya bikin ngeri. Terlebih lagi ilustrasi2nya. Mungkin sekali dua kali biasa aja, tapi warnanya yang suram itu loh, apalagi ilustrasi kepala yang tertancap di pagar dalam cerpen "Kepala di atas pagar Da Silva" bener2 mengerikan. Cerpen favoritku itu saksi mata, telinga, Manuel, the invisible Christmas, Salvador, dan yaap kepala di atas pagar Da Silva, sama yang pohon2 itu, aku lupa judulnya.

Aku heran, kok bisa narasi beliau itu ngalir banget dan bikin kita sebagai pembaca ngerasa seolah-olah ada di sana?

Meskipun cuma terdiri dari 169 halaman, aku perlu waktu lima harian buat nyelesein empat cerpen terakhir, karna entah kenapa bacanya bikin sakit hati dan capek. Tapi bukunya beneran bagus. Narasinya nggak bertele-tele dan gampang dimengerti, padahal topik yang beliau bahas itu berat.

Isinya sangat kejam, berdarah, dan penuh perjuangan. Bersyukur banget lahir di tahun 2000-an:')

Profile Image for jauh hari fuad.
6 reviews
June 19, 2025
seno berhasil mengantarkan teror, trauma, kekejaman, ketakutan, dan penderitaan manuel, alfonso, salvador, dll, kepada pembacanya. kita belajar, harga dari sebuah kemerdekaan adalah nyawa, tapi untuk apa mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan? jika risiko yang mesti ditanggung adalah penculikan, pemerkosaan, pembantaian, pembunuhan, penyiksaan orang-orang terkasih?

buku ini cukup menjadi pengingat terhadap tangan-tangan kotor yang berusaha dicuci para pelaku di balik cerita dalam buku ini, sekaligus menyadarkan siapa "manusia" sebenarnya. dalam esai eka kurniawan, ia menuliskan bahwa akan selalu ada buku yang menyadarkan suatu bangsa yang dapat membawa bangsa yang sadar itu terhadap kemajuan, seperti halnya buku karya multatuli, max havelaar, yang menyadarkan belanda akan perbuatan mereka di nusantara. buku ini bisa menjadi sosok buku tersebut.

bahkan di luar konteks kenyataan yang ada di dalamnya, saya bisa menikmati kesedihan dan kemarahan yang tergambarkan dalam buku ini, apalagi saat seno bercerita tentang manuel, maria, salazar, dan da silva.
Displaying 1 - 30 of 146 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.