Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Mbak, Lihatlah langit senja yang keemasan di atas sana, dengan sepuhan warna ungu di tepian mega-mega yang berarak seperti bentangan permadani—lihatlah bagaimana langit perlahan-lahan semburat membakar, menjadi jingga yang menyala, sebelum akhirnya menggelap sama sekali menyisakan sisa cahaya yang gemetar....
Setetes embun menetes dari daun, jatuh di atas kolam yang segera berpendar dalam keheningan pagi. (SGA, Surat dari Palmerah, h. 283)
Demikianlah guru SD kita di bawah pohon itu berkata: “Duduklah baik-baik, dan berpikirlah dengan jernih, maka engkau akan mengamati dengan teliti bahwa engkau menginjak tanah, di depanmu ada hamparan kerikil, lantas sepetak taman yang dibatasi pagar. Di luar pagar itu ada hamparan padang rumput di mana kuda-kuda berlari bebas, yang menurun ke sebuah lembah. Di lembah itu ada sebuah sungai yang bisa dilayari, dengan perahu-perahu yang datang dari jauh. Sungai itu menembus hutan dan bermuara di tepi laut, lantas di laut itu engkau lihat cakrawala, lantas di kaki langit itu engkau lihat matahari terbenam.
“Engkau semua melihat langit, awan gemawan dalam keluasan langit yang biru, menjadi ungu, menjadi jingga keemasan, lantas menggelap tiba-tiba—setelah itu engkau akan melihat bintang-bintang di langit malam. Engkau telah belajar mengukur jarak dari kerikil ke pagar, dari pagar menyeberangi padang rumput ke lembah, dan dari lembah ke hutan dan ke laut. Engkau juga telah mengukur kecepatannya...
Bung, Membaca surat-surat Bung dari Palmerah menyadarkan saya bahwa saya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, betapa saya tidak mengerti sama sekali cerita perwayangan apalagi jika kisah-kisah wayang tersebut dikaitkan dengan kehidupan perpolitikan. Juga beberapa istilah yang Bung bilang diajarkan oleh guru SD. Betapa beruntungnya Bung, sudah berfikir dan berwawasan luas semenjak dari SD. sementara saya, telah lulus dan bekerja baru saya kenal istilah-istilah asing tersebut.
Bung, Banyak yang ingin saya bicarakan dengan Bung, namun karena satu dan lain hal saya tidak bisa menulis dengan leluasa. Semoga di lain kesempatan, dapat saya sambung suratnya.
Nb. Salam buat Sukab, sesekali bolehlah kirimkan saya sepucuk surat bersama sepotong senja
ada begitu banyak penulis kolom di Indonesia. setelah saya dibuat terpingkal-pingkal dengan kolom mangan ora mangan kumpul-nya Umar Kayam, lalu menikmati kolom perjalanan spiritualnya Danarto dalam Orang Jawa Naik Haji, kemudian tulisan-tulisannya Bre Redana di kolom kompas minggu. selanjutnya Seno Gumira Ajidarma menarik perhatian saya dengan Surat Dari Palmerah-nya.
membaca Surat dari Palmerah ini, saya jadi penasaran buku apa saja yang dilahap SGA. dia begitu fasih mengulas kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya bangsa Indonesia saat itu dibalut dengan kisah lain, dari pewayangan mahabharata, cerita klasik Cina sampai Nietzsche. menyentil dan asyik.
Setelah mencari sekian lama, (sebenarnya ga sempat nyari2 amat sih..) akhirnya bisa baca buku ini,..
buat saya cukup menceritakan sebuah proses dari reformasi, hingga sinisme setelah reformasi.. Yang saya suka : sangat indonesia, wayang sekali, filosofis praktis. Pesan dan moral dari esai-esai khas Seno disini, ternyata sama saja menggambarkan kondisi sekarang-sekarang... 5 star..
Beginilah Indonesia, Bung! dalam keadaan politik, sosial, dan keamanan yang tidak menentu. Ditambah lagi Si Sukab ikut-ikutan pake dagang kaos segala.
Bagaimanapun, Sukab turut mengajari saya untuk punya helikopter. Bukan untuk membawa saya melintasi kemacetan Jakarta. Tetapi, justru untuk mengontrol sawah. Hahaha
Ini salah satu buku favorit gw. Kalo buku-buku mas Seno yg lain boleh diminta.. yg ini gak boleh.. hehehe..
Kumpulan tulisan yang tadinya dimuat di majalah Jakarta-Jakarta, tentang politik, yang dipoles dengan kacamata seorang urban. Menarik. Ditambah lagi dengan berbagai gambar bungkus-bungkus produk yang emang koleksi pribadinya mas Seno.
isinya berupa lembar-lembar surat, yang tiap lembarnya mengomentari akan suatu kejadian atau fakta bangsa. Dihiasi dengan cover-cover majalah JakartaJakarta dari tahun ke tahun, serta iklan-iklan jaman dulu.
Keren... kayak baca sejarah, tapi nggak membosankan. Seperti makan gula-gula dengan aneka rasa dan warna di dalam satu stoples. Banyak tahu - tahu banyak.