Jump to ratings and reviews
Rate this book

Iblis tidak pernah mati: Kumpulan cerita pendek

Rate this book
Daftar Isi:

1. “Kematian Paman Gober”, harian Republika, 30 Oktober 1994, sebagai “Paman Gober”.

2. “Dongeng Sebelum Tidur”, harian Kompas, 22 Januari 1995. Dimuat kembali dalam Pistol Perdamaian (Cerpen Pilihan Kompas 1996); diterjemahkan kedalam bahasi Inggris sebagai Bed time Stories oleh Harmono, dimuat dalam The Jakarta Post, April 1997.
3. “Sembilan Semar”, harian Kompas, 15 Desember 1996. Dimuat kembali dalam Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997).
4. “Pada Suatu Hari Minggu”, harian Kompas, 4 Januari 1998.
5. “Taksi Blues”, harian Republika, 19 April 1998.
6. “Jakarta, Suatu Ketika”, majalah Horison, Juni 1998.
7. “Clara”, dipulikasihan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Dimuat harian Republika, 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”.Diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai Clara oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria Bc (1999,2.5); dimuat dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. Diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai Kurara, rape sareta joseino monogatari oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation); dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039, dimuat dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).
8. “Partai Pengemis”, harian Kompas, 16 Agustus 1998.
9. “Tujuan: Negeri Senja”, harian Kompas, 8 November 1998. Dimuat kembali dalam Derabat (Cerpen Pilihan Kompas 1999).
10. “Kisah Seorang Penyadap Telepon”, harian Media Indonesia, 20 Desember 1998.
11. “Cinta dan Ninja”, fragmen dari Naskah drama Tumirah, Sang Mucikari, dipentaskan pertama kali di Gedung Kesenian
Jakarta, Jumat 29 Januari 1999, oleh Teater Yuka dengan sutradara Yenni Djajoesman. Diterbitkan selengkapnya dalam Mengapa Kau Culik Anak Kami?
12. “Patung”, harian Kompas, 7 Maret 1999.
13. “Anak-Anak Langit”, belum pernah dipublikasikan.
14. “Eksodus”, harian Republika, 9 Mei 1999.
15. “Karnaval.”, jurnal kebudayaan kalam, edisi 13, 1999.

166 pages, Paperback

First published May 1, 1999

32 people are currently reading
403 people want to read

About the author

Seno Gumira Ajidarma

99 books838 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
116 (26%)
4 stars
158 (36%)
3 stars
133 (30%)
2 stars
22 (5%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 47 reviews
Profile Image for Anggraeni Purfita Sari.
84 reviews9 followers
June 5, 2012
seperti biasanya karya seno, alur cerita cerpen2 di buku ini sangat kuat. saya terkesan dengan cerpen2 yang menceritakan tentang peristiwa kerusuhan tahun 1998 di Jakarta. benar2 cara bercerita dengan sudut pandang yang 'beda', seolah2 saya ikut ada di situ dan sedang membidikkan kamera untuk mengabadikan peristiwa2 yang terjadi. gaya bertutur seperti ini semakin menguatkan sosok seno yang mampu membuat pembacanya seperti sedang melihat sebuah foto dengan cara yang tidak biasa. :D
Profile Image for Evan Kanigara.
66 reviews20 followers
January 1, 2020
Cerpen SGA dalam kumcer "Iblis Tidak Pernah Mati" banyak yang membekas di hati saya. SGA berhasil menghadirkan imajinasi momen historis dari persitiwa reformasi 1998. Saya bisa membayangkan kelesuan yang dirasakan oleh orang-orang yang hidup di zaman itu. Mereka menunggu sang rezim kapan mati, kapan tumbang.

Sulit untuk menentukan mana yang menjadi favorit. Namun, saya begitu menyukai "Paman Gober", "Clara", "Kisah Seorang Penyadap Telepon", "Anak-anak Langit", dan "Tujuan: Negeri Senja". Terutama "Clara", saya bisa merasakan betul emosi yang ingin dibangun. Saya tak akan pernah lupa.

*pesan pembuka dalam kumcer ini mengingatkan saya pada "Menyusu Celeng" karya Sindhunata. Begini bunyinya, "Harus ada seseorang yang melawan iblis, meskipun iblis tidak pernah mati."

Profile Image for Adriansyah.
3 reviews2 followers
September 25, 2007
Seno Gumira really knows how to convey a mood, especially -in this book- the mood for solitude. This collection was published around the 'reformation' euphoria, hence its 'chapters' reflects the change in a subtle way: sebelum (before), ketika (while), setelah (after) and selamanya (forever).

One piece of work not to be missed: "Clara". His prose is powerful and haunting, enabling you to picture grimly what had happened on May 1998-riot. The images keep haunting me for time to come, and I shudder on what absurdity our society had committed.

Profile Image for Mimi Hitam.
54 reviews4 followers
February 5, 2010
Saya membaca buku ini pada tahun 2001, 3 tahun setelah Tragedi Mei 98 dan turunnya Soeharto sebagai Presiden Indonesia.

Baru-baru ini saya membacanya lagi.
Dan efeknya masih sama.

Saya masih menangis marah membaca cerita pendek : "Jakarta, Suatu Ketika", "Clara", "Eksodus" dan "Anak-Anak Langit".

Membaca cerita itu bagaikan mengulang mimpi buruk hilangnya kemanusiaan dan bobroknya kekuasaan, Membuat saya sangat sangat ketakutan - mengingat di luar sana - ada sebuah kekuatan besar yang mampu membuat manusia tidak manusia.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
February 4, 2017
"Aku pergi sebentar, tunggulah di sini, aku segera kembali setelah iblis itu mati."

"Jadi dikau akan pergi memburu iblis, sayang?"

"Ya, aku harus membunuhnya, setelah itu aku baru bisa pacaran dengan tenang. Apakah kamu akan menunggu aku sayang?"
Profile Image for Dewie.
9 reviews
August 3, 2007
"Ijinkan aku pergi"
"sampai kapan?"
"sampai aku berhasil membunuh iblis itu"
....
....
....

Dan dia tetap menunggu kekasihnya kembali, meskipun dia tahu bahwa iblis tak akan pernah mati.

.........................
.........................
"mengapa dia menjadi batu?"
"karena ia bodoh"
"mengapa?"
"karena ia menunggu kekasihnya yang pergi untuk membunuh iblis"
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
June 6, 2012
seperti halnya tulisan SGA yang lain, beberapa cerpen di sini begitu mengalir, dengan bahasa yang mudah dimengerti. ada beberapa cerpen yang settingnya tentang kerusuhan 1998, dia mengangkat kekelaman seputar peristiwa itu.

saya begitu terhanyut membaca cerpen "Clara". betapa perasaan saya menjadi campur aduk, sedih, marah, terluka sekaligus terhina, tapi tak bisa apa-apa :(
Profile Image for Diena Koesnendar.
3 reviews
August 22, 2007
it takes me quite a lont time to finish this book. Because it consists of several short story, i kinda bit lazy to read short stories
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
November 27, 2017
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999.

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.
Profile Image for Rizkana.
243 reviews29 followers
February 28, 2025
"Apa lagikah yang masih bisa tersisa dari sepotong kehidupan yang begitu singkat, tak terbaca, dan tak tersimpan dalam ingatan siapa pun dalam keluasan semesta?"


Pertama kali diterbitkan 26 tahun lalu, 1999 tepatnya, sungguh mati, saya ketar-ketir khawatir jika sekumpulan cerpen di dalam buku ini tetap relate dengan situasi saat ini.

Berisi 16 cerpen yang dibagi ke dalam empat lini waktu, sebelum, ketika, sesudah, dan selamanya--merujuk pada peristiwa reformasi yang memuncak pada 1998 lalu, buku ini bukan sekadar produk fiksi, melainkan juga dokumentasi sejarah yang menawarkan sudut pandang lebih dekat ke para pembaca. Kita bisa saja membaca runtutan peristiwa reformasi itu melalui buku-buku sejarah atau potongan berita di koran, tetapi mungkin akan terasa dingin dan berjarak. Lewat pendekatan sastra, pembaca diberi kesempatan untuk 'melihat' peristiwa itu melalui sudut pandang lebih dekat--kadang orang per orang, seperti di cerpen Clara, dan dengannya, pembaca akan turut terlibat merasakan segala macam ledakan emosi. Jauh lebih berbekas.

Mana yang saya suka? Di bagian Sebelum, saya menyukai analogi Paman Gober dan kondisi kekuasaan Orde Baru saat itu dalam "Kematian Paman Gober." Saya juga menikmati suasana mencekam yang timbul di "Taksi Blues."

"Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang semestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia."


Di bagian Ketika, saya takut dan ingin menghindari membacanya, tetapi "Clara" benar-benar berbekas.

"Dunia sebatas mata, dunia seluas pikiran."


Di bagian Sesudah, semuanya memancarkan kesan melankolis, sendu, dan sedih. Sejujurnya, semua cerpen di bagian ini 'sulit' dibaca, tetapi "Anak-Anak Langit" yang paling menampar. "Eksodus" agak mengingatkan saya pada situasi #kaburajadulu yang sedang ramai diperbincangkan.

"...Mereka memang berusaha menghindarinya, berusaha lepas lari tak ingin tahu tak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskinan yang begitu kelam, tapi begitu nyata tampil hadir di depan mereka mengulurkan tangan dengan wajah mengiba-iba diiringi wajah lain..."


Di bagian Selamanya, entah mengapa "Karnaval" yang juga satu-satunya cerita di dalam bagian ini agak membosankan. Mungkin analoginya pun seperti hidup yang sepanjang perjalanannya menawarkan berbagai tontonan, keabsurdan, sekilas tampak menyilaukan, tetapi jika ditelisik lebih dekat, terasa menyedihkan--jadi agak depresif yaa :''))

"Kenapa yang lulus sekolah tidak dapat pekerjaan, Ayah?"


Jadi, baca atau tidak baca? Sebelum sampai pada pertanyaan itu, ketahuilah, judul buku sebenarnya sudah menjadi beberan, "Iblis Tidak Pernah Mati." Tidak ada ending dalam buku ini. Terdengar sia-sia, tetapi memang begitulah adanya. Depresif lagi kan jadinya, setidaknya itu yang saya rasakan. Jadiiii, buat saya, sih, tetap bacalah.

"...yang akan terus-menerus berada di sana karena harus selalu ada peran itu di dunia ini karena betapa ajaib jika di dunia tidak ada pengemis, tidak ada kemiskinan, tidak ada penderitaan, tidak ada kegetiran, atau apa pun yang membuat kebahagiaan menjadi istimewa."

12 reviews
June 22, 2022
"...mereka memang berusaha menghindarinya berusaha lepas lari tak ingin tahutak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskinan yang begitu kelam, tapi begitu nyata hadir di depan mereka..." hal. 164

Dunia mengawang-awang yang biasa kita temukan dalam tulisan Seno juga kita temukan dalam buku ini, khusunya pada halaman-halaman terakhirnya. Pembagian cerita berdasarkan kategori waktu sebelum, ketika, dan sesudah reformasi menjadikan cerita saling terhubung sekalipun tidak secara langsung seperti cerita panjang dalam novel. Ditambah dengan kategori "selamanya" yang menutup buku secara lengkap, iblis tidak pernah mati menjadi paripurna dengan kesuraman, kehampaan, dan kebahagiaan palsu karnaval yang tidak pernah usai.
Profile Image for Rewina Pratiwi.
59 reviews2 followers
June 18, 2020
Tidak ada satu cerita pendek pun dalam buku ini yang usianya tidak sepantaran denganku. Jika tidak lebih tua 2-3 tahun, ya lebih muda. Pada akhirnya, membaca Iblik Tidak Pernah Mati seperri meminjam ingatan Seno Gumira Adjidarma mengenai banyak hal yang terjadi saat aku bahkan belum bisa mengenali berita-berria di koran, radio, maupun TV.

Seno Gumira Adjidarma dalam banyak cerita pendeknya di buku ini berkata jujur seperti menggambarkan apa yang benar-benar terjadi. Ia menyuguhkan realita sosiopolitik melalui narasi satir. Ia menggambarkan ketimpangan, ketidakadilan, kekerasan, kemanusiaan, hingga kesialan ke dalam satu buku kumpulan cerita yang layak dibaca oleh siapa saja--sejauh di atas 18 tahun saya rasa--dalam konteks waktu kapan saja.
Profile Image for Eko Setyo Wacono.
83 reviews8 followers
June 17, 2019
sebuah kumpulan cerita pendek oleh SGA tentang salah satu gejolak politik yang menentukan di negeri ini, tragedi Mei 98. dituturkan dengan gaya bahasa khas SGA yang mudah dicerna pembaca seolah SGA menceritak kisah-kisah itu di hadapan pembacanya langsung, cerita-cerita di buku ini mengajak pembaca melihat peristiwa bersejarah itu dari berbagai macam perspektif. menarik sebagai hiburan, juga menggelitik kesadaran bahwa pernah ada hari-hari dimana rasa kemanusiaan menjadi sesuatu yang dipertanyakan. worth reading.
Profile Image for Dias Setiawan.
3 reviews
September 17, 2020
Buku ini rasanya bagai membaca artikel dengan bahasa yang tidak pernah saya dengar. Membaca sambil menerka maksud Si Sukab, merasa sedih, kecewa, marah. Apa yang sebetulnya coba kamu sampaikan Sukab. Setidaknya Ia sudah kasih penjelasan di awal, kalau tulisan ini sekitaran masa Reformasi. Jadi sedikit banyak paham maksudnya. Tentang mereka yang hilang, diperkosa, dijarah, ditolak hidupnya. Sampai akhir cerita, saya jadi paham kemarahnmu pada si 32 tahun itu.
2 reviews
September 30, 2020
Tak ada yang lebih menarik ketika Sukab mengarang dan melempar kritik sekaligus. Walau rasanya ringan membaca buku ini, kasus yang coba diangkat dalam kumpulan ceritanya bukan sembarangan. Pemerkosaan, pembantaian, kekuasaan, penjarahan, cinta dan keluarga, semua masuk dan menjadi komponen cerita yang menarik. Kelebihan buku ini, lebih kepada kumpulan cerita yang tidak membosankan. Karena selalu ada hal baru tiap kali satu cerita selesai.
Profile Image for Saad Fajrul.
120 reviews2 followers
April 27, 2018
Sudah lama banget rasanya buku ini masuk antrian. Sampai akhirnya datanglah aku ke sebuah pameran di Yogyakarta. Berhubung tidak ada buku lain yang cukup menawan hati, maka ku beli lah buku ini. Cerita - ceritanya menarik banget buat dibaca. Apalagi kalau dibaca sambil dijelajahi peristiwa yang ada di tanggal pembuatan cerita. Asli asik.

Hebat. Brilian.
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
January 27, 2020
Tak menyesal, begitulah kesan saya stlh baca kumcer SGA ini. Beliau merupakan yg terbaek buat saya utk urusan cerpen.
Iblis tak pernah mati merupakan cerpen yg isinya menunjukkan siapa iblis sebenarnya. Dan memang iblis tak akan mati kalau tak ada yg sadar siapa yg dimaksud iblis itu? Bacalah buku ini utk membawa pertobatan hai kamu manusia.
Profile Image for rickus.
107 reviews11 followers
September 18, 2020
Sekalipun beberapa cerpen agaknya perlu menguras otak memikirkan referensi atau pemaknaan dari cerpen itu sendiri, tetapi cerpen-cerpen tersebut terbukti meninggalkan kesan yang cukup mendalam.

Lalu beberapa cerpen pun dapat dinikmati sebagaimana cerpen itu sendiri tanpa perlu memikirkan makna tidak langsung.

Secara personal, favorit saya adalah Taksi Blues dan Clara.
Profile Image for fsy.
33 reviews4 followers
November 25, 2023
Buku ini pertama kali saya baca pada tahun 2019. Semenjak itu, terkadang saya didatangi oleh satu atau dua dari cerpen dalam buku ini. Bergantian. Ucap salam mereka kadang membuat saya bernostalgia, seringnya membuat saya sedih. Beberapa kali akhirnya saya baca ulang satu dua cerpennya. Bertegur sapa.
Profile Image for svrhld.
106 reviews7 followers
March 29, 2018
Edan. Napak tilas versi fiksi tragedi 1998 lewat cerpen. Jujur, ada satu-dua cerita yang mungkin harus saya analisis lagi karena masih belum mengerti jalan ceritanya. Tapi serius baca buku ini membuat saya merinding dan bergidik ngeri.
Profile Image for Zera Putrimawika.
54 reviews9 followers
December 19, 2019
Kata persatu kata yang terangkai memberikan imbas sangat dahsyat terhadap pola pikir mengenai kehidupan sehari-hari, perkara kemanusiaan, hingga manuver politik yang implisit. Seno mampu membawa saya belajar lebih banyak mengenai rentetan kalimat yang frontal namun berisi.
3 reviews
January 10, 2026
Cerita-cerita di buku ini masih relevan dibaca sekarang, entah karena memang sejarah itu berulang, atau memang kemahiran SGA bercerita sehingga tulisannya tidak termakan waktu. Ada 5 cerita yg menjadi favoritku yaitu: Partai Pengemis, Tujuan: Negeri Senja, Patung, Anak-Anak Langit, dan Eksodus.
Profile Image for Rian Widagdo.
Author 1 book20 followers
November 1, 2018
Judul : 3/5
Sampul : 1/5
Pembuka : 3/5
Cerita (-cerita) : 5/5
Penceritaan : 5/5
Bahasa : 5/5
Penutup : 4/5
Layout : 2/5
Blurb : 3/5

TOTAL : 3,4/5

*Rekomendasi : 5/5
Profile Image for Muhammad Nuril.
41 reviews1 follower
December 31, 2019
Salah satu yang terbaik dari SGA. Cerita terakhir, Karnaval, sesuai dengan yang diucapkan, "dunia sebatas mata, dunia seluas pikiran."
7 reviews
March 1, 2025
The short story in this compilation is very good and give the critical feeling when you read it, and you can feel the symphaty for the character because of what they get in the story
Profile Image for Meta Morfillah.
669 reviews23 followers
February 2, 2015
Judul: Iblis tidak pernah mati
Penulis: Seno gumira ajidarma
Penerbit: Galang Press
Identitas: 264 hlm, 18 cm. Cetakan kedua, agustus 2001
ISBN: 979 95690 2 8

Segi cover:
Kalau saja saya tidak mengenal penulisnya, mungkin buku ini tidak akan pernah saya baca. Mengapa? Karena tampilan covernya sungguh enggak banget. Kayak komik murahan yang bercerita tentang azab neraka. Sadly, I should say it.

Segi isi:
SGA memang tak diragukan lago. Kelima belas cerpen yang terangkum dalam buku ini betul-betul menyentak. Dibagi menjadi empat part, yakni: sebelum, ketika, sesudah, dan selamanya. Kronologis cerpen tersebut ternyata mengacu pada peristiwa kerusuhan mei 1998 dan dampaknya.

Sebelum: Terdiri dari lima cerpen berjudul
1. Kematian Paman Gober
Menceritakan kiasan kepemerintahan soeharto yang begitu diktator, ditakuti, dan diharapkan kematiannya setiap hari.

2. Dongeng sebelum tidur
Menceritakan peristiwa penggusiran di bend-hil ke dalam sebuah dongeng pengantar tidur.

3. Sembilan semar
Menceritakan kemunculan sembilan semar yang dianggap sebagai pertanda bahwa kebenaran semakin punah.

4. Pada suatu hari minggu
Menceritakan tentang sebuah keluarga yang ingin melewatkan hari minggunya dengan damai. Saya rasa, cerita ini agak di luar konteks kronologis.

5. Taksi blues
Menceritakan pengemudi taksi yang menjadi saksi beragam peristiwa di malam hari. Termasuk penculikan aktivis pro reformasi.

Ketika: terdiri dari dua cerpen
1. Jakarta, suatu ketika
Menceritakan kerusuhan mei 1998 dari sudut pandang juru kamera dan seorang anak bernama Sari.

2. Clara
Menceritakan tragedi yang dialami perempuan keturunan cina saat kerusuhan terjadi.

Sesudah: ada tujuh cerita
1. Partai pengemis
Menceritakan pertikaian yang terjadi di sebuah partai.

2. Tujuan: Negeri senja
Menceritakan sebuah kereta aneh di stasiun tugu yogya yang menuju ke negeri senja. Cerita ini pun di luar konteks menurut saya.

3. Kisah seorang penyadap telepon
Menceritakan seorang penyadap telepon yang tuli.

4. Cinta dan ninja
Menceritakan kekuatan cinta yang mengalahkan kekejaman ninja. Cerita ini pun di luar konteks menurut saya.

5. Patung
Menceritakan seorang lelaki yang setia menunggu kekasihnya membunuh iblis, hingga ia berubah menjadi patung 200 tahun kemudian.

6. Anak-anak langit
Menceritakan anak-anak pengemis yang kian banyak setelah reformasi.

7. Eksodus
Menceritakan tentang pendatang yang diusir dari tanah mana pun, termasuk tanah asalnya. Seperti mewakili kaum cina.

Selamanya: memuat satu cerita
1. Karnaval
Menceritakan anak kecil yang ditinggal ibunya saat karnaval. Saya rasa, cerpen ini pun di luar konteks.

Saya mengapresiasi kumcer ini 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah
Profile Image for Alifa Imama.
133 reviews10 followers
January 13, 2020
Kumpulan cerpen mengagumkan lainnya dari SGA. Kemampuan Seno dalam memetaforakan suatu peristiwa begitu apik, ngaco, dan tidak jarang membuat saya terkekeh kekeh. Cerpen-cerpen SGA tidak cukup hanya untuk dibaca, baiknya juga untuk direnungi dan dikenang-kenang hingga waktu yang lama.
Dalam cerpen2nya, SGA menunjukan kritik dan kegelisahannya atas keadaan bermasyarakat dan bernegara pada era sebelum 1998 dan beberapa tahun pasca 1998.
Diantaranya dalam "Paman Gober", "Semar", "Pada Hari Minggu" dan "Anak-anak langit". Kata-katanya terkadang sepele dan mudah dilewatkan. Kadang-kadang juga telak dan tajam.

Contohnya dalam "Pada Hari Minggu":

"Lebih penting mana? Mandi atau berfikir?"

Seolah guyonan basa-basi seorang ibu pada anaknya saja. Tapi menurut saya lebih dari itu.

Menyenangkan sekali memulai tahun 2019 dengan karya SGA.
Profile Image for Kungkang Kangkung.
117 reviews27 followers
October 7, 2012
Buku ini beneran dah. *geleng2* Gara-gara cerpen 'Clara' saya selingkuh, baca buku yang lain dulu. :D Bukan karena jelek, tapi saking shock-nya saya takut buka halaman berikutnya. #lebay
Beberapa hari kemudian sudah bisa tenang, bisa baca pelan-pelan lagi baru deh kelar sore tadi. Hmmm... Susah bikin reviewnya, apa yah? Tiap selesai baca 1 per 1 cerpennya beda rasa sih. Ada kagum sama kekreatifannya, ada mengangguk setuju, ada shocked, merenung, dst dsb dll. Hohoho... Keren pokoknya lah.
Displaying 1 - 30 of 47 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.