Sebanyak 53 cerpen yang terbit di Kompas dalam rentang waktu 1970-1980 terhimpun dalam antologi ini. Dengan menggunakan pendekatan spectrum oriented, lewat ke-53 cerpen yang terpilih dalam antologi ini, Seno Gumira Ajidarma selaku editornya ingin menjawab pertanyaan: bagaimana cerpen-cerpen ini menggambarkan perbincangan budaya yang berlaku di masa itu, dengan membuka kemungkinan untuk melibatkannya dalam perbincangan sepanjang masa. Di sini, ia bukan lagi hanya sebagai cerpen dalam kanon sastra, yang sibuk dengan teknikalitas dan virtuoisitasnya, melainkan dalam konteksnya dengan pertarungan ideologi dekade 1970-1980. Oleh karenanya kehadiran antologi ini tidak saja penting dibaca guna memperluas pengetahuan kita tentang khazanah sastra Indonesia, tetapi juga berguna sebagai bahan kajian bagi kalangan akademisi.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Ada sebuah pertanyaan ketika membaca ulang “Dua Kelamin Untuk Midin: Cerpen KOMPAS Pilihan 1970-1980” dimana Seno Gumira Ajidarma menjadi editornya. Pertanyaan saya adalah bagaimana seorang Seno Gumira Ajidarma melakukan tugas editorialnya. Saya penasaran bagaimana cara SGA untuk menentukan cerpen mana saja yang layak masuk kumpulan terbaik periode 1970-1980. Pada rentang waktu tersebut sudah tentu banyak sekali cerpen yang dimuat oleh KOMPAS. Namun, bagaimana SGA mampu menentukan hanya 50 cerpen terbaik saja yang masuk kumpulan ini tentu dibutuhkan satu siasat tertentu.
SGA sendiri mengajukan sebuah pertanyaan agar cerpen pilihannya tidak didasari spektrum estetik dengan formasi diskursif yang terbatas. Bagaimana cerpen-cerpen ini menggambarkan perbincangan budaya yang berlaku di masa itu, dengan membuka kemungkinan untuk melibatkannya dalam perbincangan sepanjang masa, adalah satu pertanyaan SGA yang kemudian ia gunakan dalam tugasnya sebagai editor. SGA menggunakan pendekatan spectrum oriented dalam memilih karya penulis yang sudah dikenalnya. Untuk urusan ini, ia sengaja mengesampingkan terlebih dahulu cerpen-cerpen yang ditulis atas namanya.
SGA menganggap antologi cerpen adalah juga sebentuk kritik. Memilih dan tidak memilih sudah merupakan kerja kritik, artinya sebuah antologi memperlihatkan juga formasi diskursif tertentu. SGA cenderung memberi keseimbangan antara yang mainstream dan sidestream, antara yang stereotip dan yang kreatif, antara yang “umum” dan yang “ajaib”, antara yang teknik menulisnya “masih jujur” dan yang “sudah bisa ngibul”.
Terlepas dari segenap pro dan kontra yang timbul atas penerbitan buku ini, baik menyangkut pendekatan maupun karya-karya yang terpilih, penerbitan kembali cerpen-cerpen ini tetap bertujuan untuk meramaikan khazanah sastra Indonesia. Karya-karya yang mungkin sudah terlupakan, atau nama-nama pengarang yang belum pernah dikenal oleh khalayak penikmat sastra Indonesia masa kini, rasanya masih pantas untuk diketengahkan disini.
Sebagai catatan personal, saya tambahkan disini bahwa SGA turut memasukkan cerpen berjudul “Perasaan Yang Sangat Ajaib Kosongnya” dari Muhammad Diponegoro. Bila pembaca catatan ini adalah Pembaca SGA, saya yakin tuan dan puan masih ingat kalimat yang disitir SGA dari cerpen tertanggal 3 Februari 1976 itu. SGA menuliskan kembali judul cerpen itu sebagai kalimat akhir dari cerpennya yang berjudul “ Seorang Wanita Dengan Tato Kupu-Kupu di Dadanya” dalam kumpulan cerpen “Negeri Kabut” (Grasindo, 2003).
Dalam kesempatan lain, pada sebuah talkshow dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival di TIM, bulan Maret lalu, secara personal saya pun menyampaikan kesan atas pembacaan saya terhadap cerpen tulisan Arswendo Atmowiloto yang juga jadi judul buku ini “Dua Kelamin Untuk Midin”.
The amazing thing about reading this collection is finding many famous names such as Marga T. (if i remember correctly) and Arswendo. Some stories felt a little 'slow' though.
Entah karena sudah lama nggak baca cerpen2 'kompas' atau memang isinya bener-bener bagus, cerpen-cerpen di dalam buku ini benar2 hipnotic. Banyak cerita-cerita dengan setting masa lalu, yang, mungkin, tidak masuk akal dalam nalar kita. Misalnya, pas cerita tentang kemiskinan, ceritanya benar-benar semiskin-miskinnya, sampai bayi yang sakit pun dijadikan komoditas untuk mengemis.
nah ni dia nech,buat yg pengen cerpen pilihan kompas lintas generasi-gak juga ding soale yg nulis juga banyak yg sliweran- dijamin bakalan nemuin something new dech...sampai terkadang beberapa temen cm naruh ini buku di something (baca:samping) tempat tidurnya..... kompas bnget dech....il saluto