Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Buku skripsi SGA. Lawas memang. Apalagi kalau melihat teknik kajian dan kritik film hari ini. Saya membacanya ulang ketika sempat berbenah pindahan renovasi rumah. Membawanya ke kosan dan menemukan beberapa catatan genial dan jenius dari naskah-naskah film yang SGA teliti untuk urusan kelulusan kampusnya.
Ada tidak kurang 20 catatan skenario yang diteliti. Mengapa skenario? Skenario adalah tulang punggung kisah fiksi visual. Bahkan untuk sebagian orang, banyak yang ingin mendekatkan realita dengan fiksi cerita (bukan begitu?).
Jika buku ini kembali dibaca (saya dulu membelinya juga gara-gara untuk keperluan skripsi), maka kita akan melihat banyak mini fiksi Indonesia yang menarik untuk ditengok. Film-film Ryan Hidayat, Naga Bonar, bahkan Widyawati bukan cuma menjadi stok memori era 80-90an, tapi lewat Film-film tersebut kits bisa mengetahui bagaimana Indonesia dikonstruksi dan diimajinasikan berulang kali.
By reading this book one might guess that Seno Gumira's storytelling comes from cinematic study he had done on Institut Kesenian Jakarta (Jakarta Art School).