Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seribu Sujud Seribu Masjid

Rate this book
Hingga 1965, Sekober adalah wilayah tidak tesentuh agama. Kasdi dan Zum dibesarkan di sana. Zum adalah anak gundik Bah Ceh Nong tokoh Baperki/PKI. Kasdi adalah anak seorang seniman tarling ulili wa u waing bernama Camang. Kedua anak itu besahabat dalam cahaya kinasih kultur pesisiran.

Namun sejak prahara G30S/Pki merobek Sekober, alur nasib Zum berubah drastis. Camang, ayah Kasdi dicurigai sebagai antek PKI.

Ia melompat ke sungai Cimanuk saat hendak dieksekusi! Ia selamat dan menggelandang dari masjid ke masjid, bahkan berpura-pura menjadi gila agar terhindar dari kejaran tentara.

Adapun Zum menjadi dombret, pelacur hingga pencopet. Kasdi sempat menjadi copet bersama Zum, Zaki, Karman. Namun warisan sebuah surau dari kakek Kasdi menghantarkan ia pada ruang ukhrawi yang menjanjikan. Kasdi yakin, suatu saat ayahnya akan pulang dan sujud di surau itu.

Sebuah novel riliji yang menggetarkan tentang perjalanan spritual manusia. (Aminah Mustari)

276 pages, Paperback

First published November 1, 2010

20 people want to read

About the author

Tandi Skober

5 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (20%)
4 stars
4 (26%)
3 stars
6 (40%)
2 stars
1 (6%)
1 star
1 (6%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
March 1, 2011
Jika membaca judulnya “Seribu Sujud Seribu Masjid” tentunya kita akan langsung menduga bahwa ini adalah novel dengan nuansa religi. Betul, tapi tak hanya itu saja karena dalam novel ini pembaca juga akan diajak masuk dalam nuansa politik, intrik, romantisme, dan humor yang dikemas sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah novel religi yang tak hanya berisi dakwah saja namun memiliki latar kisah yang menarik untuk disimak hingga lembar terakhir novel ini.

Di lembar-lembar pertama novel ini penulis mengajak kita untuk kembali ke tahun 65 di wilayah Sekober, Indramayu, ketika gonjang-ganjing politik melanda seluruh negeri ini. Dikisahkan Kasdi dan Zum dibesarkan di daerah pesisir Sekober. Zum adalah anak gundik Bah Ceh Nong, tokoh Baperki di Sekober. Kasdi adalah anak seorang seniman Tarling yang bernama Camang. Kedua anak itu bersahabat dengan akrab.

Ketika prahara politik merembet hingga ke wilayah Sekober, nasib
merekapun berubah drastis. Bah Ceh Nong ditemukan mati mengambang di sungai Cimanuk. Tuduhannya sudah jelas karena ia adalah tokoh PKI di Sekober yang pantas dihukum mati tanpa harus diadili terlebih dahulu. Sedangkan Camang yang bekerja sebagai pembantu di rumah Bah Ceh Nong dicurigai sebagai salah satu antek PKI. Saat hendak dieksekusi, Camang selamat, melarikan diri, menggelandang dari masjid ke masjid. Semenjak itu Camang tak pernah lagi bertemu dengan anaknya, Kasdi.

Anak-anak Bah Ceh Nong dan Camang bertahan dalam menjalani kerasnya kehidupan, Zum menjadi penari dombret, pelacur, hingga akhirnya menjadi pencopet. Kasdi ikut menjadi pencopet bersama Zum dan Zaki, kawannya. Sementara Zum dan Zaki masih berada dalam dunia hitam, Kasdi pensiun menjadi copet untuk berjualan bandros. Ia tinggal di surau peninggalan kakeknya. Kasdi percaya bahwa suatu saat ayahnya akan pulang dan sujud di surau itu.

Di Surau peninggalan kakeknya itulah akhirnya Kasdi bertemu dengan Priadi, lelaki senja yang menhantarnya agar lebih dekat pada Tuhan. Mereka berdua tak henti-hentinya mengajak orang-orang yang lewat surau tersebut untuk menepi dan sholat. Tak banyak yang tertarik pada ajakan mereka berdua kecuali Bana, anak preman dan Cipto mantan pejabat dan pengusaha kaya yang bertobat dan menyerahkan sisa hartanya sebesar 100 jt rupiah pada Kasdi sebagai uang kost di surau milik kakek Kasdi sekaligus biaya penguburannya jika ia meninggal dunia nanti.

Kasdi, Bana dan Cipto menempuh jalan Allah, mereka bertiga tinggal si surau sambil mempertebal iman sambil berdakwah secara sederhana dibawah bimbingan Priadi. Kehidupan mereka bertiga sangat bersahaja dan damai hingga akhirnya Zaki, kawan lama Kasdi yang kini telah menjadi konglomerat berniat untuk membeli tanah Surau tersebut.

Melalui Zum yang mencintai Kasdi, Zaki mencoba membujuk Kasdi untuk menjual surau tersebut . Zaki berani membeli suaru tersebut seharga 500 juta rupiah untuk dijadikan mall dan stasiun televisi global. Disinilah konflik terjadi. Akankah Kasdi menjual surau sederhananya?
Kisah di novel ini seberarnya sederhana saja, namun penulisnya mampu membuat kisah sederhana ini menjadi menarik. Kemahiran penulis dalam mendeskripsikan kisahnya ini sangat detail, filmis sehingga ketika saya sedang membaca novel ini saya merasa sedang menonton sebuah film dalam imajinasi saya.

Karakter tokoh-tokohnya menarik, baik itu di kisah masa lalu di masa Bah Ceh Nong dan Camang maupun di masa kini yang diwakili oleh Kasdi, Zum, Priadi, dll membuat novel ini menjadi lebih berwarna dan pembaca diberi kesempatan untuk melihat bagaimana masing-masing tokoh ini menyikapi persoalan hidupnya. Umumnya semua tokoh dalam novel ini berusaha mencari jati diri mereka sehingga bisa dikatakan ini adalah kisah tentang perjalanan spiritual manusia dalam mencari jati dirinya.

Bagi saya pribadi bagian yang paling menarik di novel ini adalah di bab-bab awal saat kisah bergulir di tahun 65 ketika huru-hara politik melanda wilayah Sekober. Di bagian ini pembaca diajak melihat bagaimana dan apa yang dirasakan rakyat kecil akibat kekisruhan yang dilakukan para elit politik negeri ini. Selain itu terungkap juga bagaimana mengerikannya suasana saat itu, terlebih saat-saat Camang ditangkap dan hendak dieksekusi oleh para tentara. Bagi saya bagian ini merupakan bagian yang sulit terlupakan.

Sayang ketika cerita beralih ke masa kini, kisah-kisah di masa lalu ini tak disinggung lagi sehingga seolah kisah di bagian-bagian awal novel ini menjadi kisah tersendiri dan terlepas begitu saja . Tentunya akan lebih menarik jika kilasan-kilasan masa lalu Kasdi dan Zum ditampilkan kembali sehingga benang merah antara kisah masa kecil Kasdi dan Zum ini tampak terlihat lebih jelas lagi.

Terlepas dari itu secara keseluruhan saya rasa novel ini menarik untuk dibaca. Sebagai novel religi tentunya novel ini mengandung banyak sekali dengan pesan-pesan keagamaan namun penulis mengemasnya dalam dialog-dialog yang segar dan lucu sehingga pembaca tak merasa digurui oleh penulisnya.

Bagi saya ini novel religi islami yang pertama kali saya baca. Walau bukan seorang muslim saya tak merasa kesulitan dalam memahami dan memaknai pesan-pesan moral yang hendak disampaikan penulisnya. Bagi saya nilai-nilai religi islami yang tertuang dalam novel ini sangat universal dan bisa dipahami dan dimaknai oleh semua pembaca tanpa harus terbatasi oleh sekat-sekat agama.

@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com

Profile Image for Nenangs.
498 reviews
June 23, 2011
buku ajib buku ajaib.

kalau lihat judulnya yang ngga nyambung sama isi , prolognya yang dipaksain nyambung ama isi cerita, plus banyaknya typo dan salah nama yang terjadi, buku ini bakal kurating paling banter bintang 2.

tapi akhirnya kukasih hadiah bintang 4 kurang dikiiiit...soalnya ya itu tadi, buku ini ajib.

bercerita tentang kasdi, pewaris "surau PKI" dari kakeknya, sejak masih kanak2 di sekitar gonjang ganjing G30S, sampai dewasa sebagai mantan copet yang tobat dan kembali ke kampung untuk mengurus surau peninggalan sang kakek. cerita dimulai dengan keseharian kasdi kecil yang serba ingin tahu sekaligus sotoy, sampai dengan peristiwa "besar" yang menyebabkan kasdi kehilangan ayahnya, disambung keseharian kasdi dewasa yang sudah tobat mencopet dan berusaha hidup lurus dan berusaha "menghidupkan" surau peninggalan kakeknya dengan mengajak orang shalat berjamaah di surau tersebut. sepenggal waktu kasdi hidup sebagai pencopet tidak diceritakan.

mau dibilang novel religi islami ya bisa juga, karena ada kutipan ayat-ayat al qur'an di dalamnya, cukup banyak untuk kelas novel, tapi tidak cukup banyak untuk digolongkan sebagai buku dakwah. islam yang ditampilkan adalah islam keseharian rakyat jelata yang sederhana, pedagang bandros, penjudi, tukang bakso, tukang becak, pencopet, dll. bukan gemerlap dakwah di hotel2 mewah, dan bukan pula perjuangan jihad mengusung senjata, apalagi bom bunuh diri di tengah sesama.

jadi ajibnya ada di mana?

ajibnya ada di cara penulis mengisahkan kisahnya. mengaduk perasaan, menimbulkan miris, senyum geli, geram, tawa lepas, dan berkaca-kaca. potret tingkah polah manusia ditampilkan dengan piawai dalam berbagai bentuknya. manusia bisa begitu kejam, begitu sinis dan sadis, namun bisa pula begitu lembut, pengertian, dan menerima apa adanya. bahkan diceritakan, raja copet pun punya etika.

beberapa bagian cerita membuat hati gerimis, seperti ketika bana si bocah aneh bersujud syukur ketika diberitahu emaknya insya Allah akan masuk surga.
juga bagian ketika zum mengalunkan surah as-Rahman 24-30 sbb:
"Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya
di lautan laksana gunung-gunung
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
Dan tetap kekal dzat Tuhanmu
yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
Semua yang ada di langit dan di bumi
selalu meminta kepada-Nya
Setiap waktu Dia dalam kesibukan
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

dan bagian 2 jam kemudiannya.
dan saat itulah adzan magrib berkumandang...memanggilku menunaikan apa yang sering terlupa, sekaligus memberi kesempatan mengusap mata dan menata hati.

dan ternyata itu belum selesai...epilog dari cerita ini, yang kulanjutkan setelah bersujud 3 rakaat, ternyata masih menyimpan 2 kolakan emosi. yang pertama adalah geli, ketika membaca munculnya tokoh "aki-aki berwajah sajadah" yang pernah berkelana untuk seribu sujud di seribu masjid, dan kembali gerimis pada akhir epilog.

ajib, begitulah.

-------------------------
hadiah ulang taun dari esf.
hatur nuhun aki, hadiah ulang taun yang sangat berkesan.
-------------------------
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.