Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memuja Siluman

Rate this book

60 pages, Paperback

First published January 1, 1932

9 people want to read

About the author

Moh. Ambri

12 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (12%)
4 stars
4 (50%)
3 stars
3 (37%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for ukuklele.
463 reviews20 followers
January 24, 2022
Melanjutkan pembacaan Charles Dickens, tadinya saya mau meminjam Oliver Twist di Ipusnas. Namun di Rekomendasi muncul kover buku ini dan saya cenderung tertarik kepada buku apa pun yang diterbitkan Pustaka Jaya. Saya pun mengunduh buku yang ternyata cuma 66 halaman ini, bisa ditamatkan dalam "sekali duduk".

Buku ini kiranya bisa dianggap sebagai suatu kumpulan folklor Sunda, mengenai cara-cara memperoleh kekayaan dengan bantuan siluman aneka satwa (+ roh bayi?), yang dikemas dalam obrolan pos ronda. Nuansanya rada-rada horor komedi. Horor karena menyangkut yang gaib-gaib dan memang ada penggambaran yang seram mengenai sesuatu hal misalnya istana yang dibangun dari tubuh-tubuh manusia. Komedi karena diselingi olok-olokan Mang Uham vs Arta.

Muncul juga perasaan miris, cerita dibuka dengan curahan hati para pria peronda yang notabene rakyat kecil. Penghidupan mereka di kampung sempit, sehingga membentuk pandangan bahwa mau bekerja semati-matian apa pun bakal terus melarat. Keadaan ini dapat membuat orang putus asa, gelap mata, apalagi jika tidak memiliki iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga mendorongnya untuk mengubah nasib dengan cara memuja siluman atau munjung dalam bahasa Sunda.

Perbincangan awal para peronda ini sempat merembet pada soal iman kepada takdir.

.... "... konon peruntungan orang sudah ditentukan sejak sebelum lahir. Orang yang bernasib senang, niscaya senang; yang bernasib buruk, tetap melarat; sehingga meninggalkan dunia fana ini, tak sedikitpun mengalami kesenangan."

.... ".... Seperti aku, melarat seumur hidup. Hasil usaha mati-matian, banting tulang kerja keras, hanya cukup untuk mengganjal perut lapar, dan membeli pakaian penutup aurat belaka."

....

.... "Kalau benar begitu, bahwa peruntungan setiap orang sudah ditentukan lebih dulu mengapa seperti tidak adil: sebagian mendapat kesenangan, kaya, pandai; mengapa kita susah, melarat, bodoh? Seolah-olah ada anak emas dan anak tiri."

.... "Tak taulah, aku tak pernah belajar mengaji."

.... "... konon begitulah tertulis dalam kitab."
(halaman 11-12)


.... "Entahlah, saya tak tahu, bagaimana caranya untuk mengetahui nasib dari awal."

....

.... "Tentu takkan ada orang yang mau berihtiar kalau ia sudah tahu akan hidup melarat. Takkan ada orang pergi munjung, kalau ia sudah tahu akan kaya."
(halaman 17)


Cara-cara munjung yang diceritakan dalam buku ini, yaitu:
- ngipri, mengawini siluman ular;
- ngopet, mengurbankan jiwa setiap waktu tertentu, mandi hanya sekali setahun pada bulan mulud saja;
- nyupang/ngetek (bahasa Jawa), memuja siluman kera supaya mendapat kekayaan, setelah mati orang yang melakukannya harus menjadi kera;
- nyengik, memuja siluman babi;
- memelihara kecit.

Sebelum ini, saya cuma tahu soal babi ngepet dan tuyul. Untuk babi ngepet, katanya mesti ada yang jaga lilin. Untuk tuyul, katanya yang memelihara suka membawanya jalan-jalan dengan menggendongnya di punggung. Tapi saya enggak menemukan yang persis begitu di buku ini.

Memang ada siluman celeng, tapi disebutnya nyengik dan tidak ada istilah "babi ngepet". Tidak ada detail mesti ada yang jaga lilin.

Saya juga bertanya-tanya apakah yang dimaksud dengan "kecit" adalah tuyul. Sinopsis buku ini membenarkannya, tapi dalam buku ini tidak disebut-sebut kata "tuyul". Tidak ada penjelasan mengenai "kecit" di glosarium belakang buku, sedang artinya menurut KBBI hanya "kecil". Adapun yang dimaksud dengan "kecit" dalam buku ini adalah roh bayi yang mati saat dilahirkan pada malam Jumat Kliwon. Mayat bayi tersebut dicuri dari kuburnya oleh yang mau memelihara, dirawat sedemikian rupa hingga rohnya bangkit (atau semacam itulah) dan mau mengabdi. Namun dalam melancarkan aksinya, yaitu mengambili duit orang lain, si kecit mewujud sebagai tikus atau kucing. Tidak ada detail si pemelihara suka membawa jalan-jalan piaraannya itu dengan menggendongnya di punggung.

Malah saya sempat mengira akan ada satire, mengulas cara "hitam" lainnya dalam memperoleh kekayaan dengan menjadi "tikus" di--ah, tahulah.

Boro-boro menyinggung soal korupsi, latar buku ini ternyata lebih ancient daripada yang saya kira. Buku ini pada mulanya ditulis dalam bahasa Sunda oleh Mohamad Ambri dan berjudul Munjung. (Di Ipusnas, buku ini tersedia dengan penerbit PT Kiblat Buku Utama.) Terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh Ajip Rosidi mula-mula diterbitkan PT Dunia Pustaka Jaya pada 1977, sehingga saya sempat mengira latar buku ini sekitar masa itu. Alangkah kagetnya saya begitu sampai ke akhir buku, menemukan profil penulisnya yang rupanya sudah meninggal pada 1936 (lahir 1892). Dengan begitu, "obrolan para peronda" ini kira-kira terjadi pada 1930-an ke bawah alias masih dalam penjajahan Belanda! Memang sempat disebut-sebut adanya "orang putih atau Cina" ("Tempat yang keramat pun tidak pernah diindahkannya, dijelajahnya juga, sehingga cambal." --halaman 16) serta haji Singapura (halaman 15).
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.