Bagi Sarah, rumah singgah itu adalah matahari baru. Cintanya kepada anak-anak jalanan asuhannya membuat tubuh sekaratnya lebih kuat. Namun, betapa hancur hati perempuan lembut itu tatkala Rindu menghilang. Rindu bukan sekadar anak jalanan biasa. Anak itu adalah penghubungnya dengan masa lalu yang mendorongnya terus bertahan hidup.
Semetara itu, di sebuah rumah mewah, Rindu bergulat melawan sepi. Rumah barunya ini lebih nyaman, tetapi begitu dingin. Tidak ada Bu Sarah yang selalu memeluknya dan teman-teman yang selalu membuatnya tertawa. Hanya ada Pak Surya, pria pemarah yang tidak pernah menyukainya.
Entah kenapa Pak Surya selalu marah-marah padanya. Padahal semua orang selalu menyebutnya orang murah hati. Mengapa Pak Surya tidak menyukainya?
… Andai Rindu tahu, orang dewasa sulit melepaskan masa lalu ….
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Rindu Purnama, Novel ini diadaptasi dari skenario film berjudul sama. Novel (film) yang dipromosikan sebagai novel keluarga bertema anak jalanan. Dua penulis yang diketahui khalayak umum sebagai penulis yang cukup gemilang karyanya digandeng untuk menuliskan novel ini : Tasaro GK dan A. Fuadi. Sayangnya novel ini malah tak cukup menyentuh tema anak jalanan.
Sebelumnya Tasaro telah menghasilkan beberapa novel yang mengundang banyak perhatian, salah satunya trilogi novel biografi Muhammad. Novel yang mampu menghadirkan kerinduan dan kecintaan pada nabi tertinggi umat Islam, Muhammad SAW. Sedang A. Fuadi melejit namanya dengan trilogi Negeri 5 Menara. Novel motivasi, pendidikan dan impian.
Jika ditilik dari keberhasilan novel-novel terdahulu karya kedua penulis ini wajar jika pembaca berharap novel Rindu Purnama juga bisa menjadi bacaan yang gemilang dan menyentuh. Apalagi jika tema yang diangkat adalah anak jalanan, wajar pula agaknya pembaca berharap kedua novelis ini bisa menjadikan Rindu Purnama sebagai novel yang memberikan efek besar sebagaimana sumbangan efek tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata pada pendidikan. Alasannya, masalah anak jalanan juga masalah yang miris di tanah air. Bahkan lebih miris dari masalah anak-anak dari keluarga tak mampu yang tak punya biaya melanjutkan pendidikan. Anak-anak jalanan punya masalah yang lebih kompleks dari itu. Mereka bukan hanya menghadapi kemungkinan tak bisa bersekolah, tak bisa mewujudkan impian. Ancaman pengaruh untuk menjadi pribadi buruk menghantui mereka. Narkoba, krimintalitas anak contohnya.
Melihat kompleksnya masalah anak jalanan yang seakan belum juga terpecahkan itu, setidaknya pengingat seperti novel diperlukan. Seperti Tetralogi Laskar Pelangi yang hadir sebagai pengingat tentang betapa masih menyedihkannya pendidikan untuk sebagian anak bangsa.
Sayangnya, harapan-harapan itu tak mampu terpenuhi oleh Rindu Purnama. Rindu Purnama yang dipromosikan sebagai novel keluarga tentang anak jalanan ini malah tak bicara cukup tentang anak jalanan. Harapan novel ini menjadi pengingat yang bisa memberikan efek dahsyat pupus. Rindu Purnama malah lebih banyak bercerita tentang hubungan percintaan. Penggambaran tentang kehidupan anak jalanan yang seharusnya bisa lebih menusuk dan dramatis digambarkan ala kadarnya. Bahkan untuk sekedar mewakili kemirisan sesuai dunia nyata saja belum cukup.
Bisa jadi dikarenakan novel ini diadaptasi dari skenario film, Tasaro GK dan A. Fuadi terhalang berimprovisasi. Novel adaptasi dari skenario film memang bermunculan sejak 2008. Tak banyak yang cukup menyentuh. Dari yang tak banyak itu ada Brownies garapan Hanung Bramantyo diadaptasi Fira Basuki dengan sudut pandang yang berbeda. Begitu pula dengan Biola Tak Berdawai yang digarap oleh Sekar Ayu Asmara didaptasi dengan apik oleh Seno Gumira Aji Darma.
Diceritakan tokoh Rindu yang sebenarnya bukan satu-satunya tokoh utama dalam novel ini adalah penghubung kisah dari tokoh-tokoh utama lainnya, Sarah, Gaj, Surya dan Monique. Keempat orang dewasa yang terlibat hubungan percintaan. Alhasil tokoh Rindu yang mewakiliki kisah anak jalanan tertutupi ‘sinarnya’ dengan kisah percintaan keempat tokoh itu. Rindu yang anak jalanan diceritakan menjadi penghubung pertemuan kisah percintaan itu. Kisah anak jalanannya seakan menjadi pelengkap seperti selingan yang tak cukup dijsebut fokus utama.
Awalnya Rindu bernama Imas. Ia meninggalkan kampung untuk mencari nafkah menjadi loper Koran dan pengamen. Bersama teman-teman kecilnya Imas ditampung di Rumah Singgah Bondan hingga akhirnya Gaj datang mengajari Imas menggambar lalu mengubah namanya menjadi Rindu. Perlahan kisah membawa Rindu pada kunci pertemuan pada tokoh-tokoh lain. Ia menjadi kunci pertemuan dan kisah percintaan Gaj, Suraya, Monieq dan Sarah.
Namun, sedikit banyak novel ini bisa memberikan pencerahan. Ada pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Tentang kepedulian terhadap sesama, tentang hati nurani. Walaupun pesan-pesan ini tak cukup tajam dan menyentuh. Namun, tulisan-tulisan A. Fuadi pada bagian interlude yang terselip sebagai pemisah antar bab menjadi poin penambah untuk menjadikan novel ini sedikit lebih cukup disebut novel keluarga yang memberikan pesan moral. A. Pada Intelude A. Fuadi menceritakan kisah-kisah sarat pesan moril dengan contoh sederhana yang mudah membekas pada ingatan pembaca.
… Andai Rindu tahu, orang dewasa sulit melepaskan masa lalu …
Saya menuntaskan buku ini sebelum menonton filmnya di 21 nantinya :D, tentang Rindu Purnama, buku yang mengangkat dari sisi dan pemikiran anak-anak. Buku ini ibaratnya perpaduan anggur dan sake antara Tasaro G.K dan A. Fuadi, padahal aku tak tahu rasanya sake itu heheheh :D.
Analoginya tentang rasa pahit, manis, asam dan agak sedikit panas. Pahitnya kehidupan yang serba kekurangan dari Rindu, namun bisa mereguk manisnya persahabatan dan persaudaraan, dalam perjalanan sebagai anak jalanan, mengamen dan menjual koran.
Asam dan kecutnya saat mereka terjebak dan dikejar pasukan keamanan dan ketertiban, namun Rindu tertabrak mobil dan membuatnya lupa ingatan. Panas karena melihat sikap orang kaya, yang serba menilai dari uang, dan ternyata kenyataannya masa lalu tak pernah dapat dihapus.
Buku ini memang mengisahkan tentang cita-cita seorang Rindu yang ingin membelikan anggur bagi adiknya, kisah seorang anak yang ingin menemukan ayahnya kembali :D. Buku yang akan membuatnya anda tak berhenti untuk menggigit setiap hurup, mengunyahnya dan menikmatinya :D
Sejujurnya saya meletakkan expectation yang agak keterlaluan tinggi apabila mengetahui novel ini ditulis penulis bersama A Fuadi, novelis yang berjaya menyedarkan kita tentang peri penting pendidikan dan usaha lewat trilogi Negeri 5 Menara beliau.
Rupa-rupanya, bahagian A Fuadi adalah interlude yang mengisi jalan cerita novel.
Sangkaan awal saya novel ini akan menyentuh isu anak jalanan secara mendasar, lantas mencetuskan perasaan hiba pembaca. Dari hiba ia akan menjadi sebuah gerak kerja untuk melakukan amal sosial dalam membina masa depan untuk anak-anak jalanan.
Namun, tema anak jalanan seolah-olah terpaksa "merebut perhatian" dengan kemanisan kisah cinta antara Sarah dan Gaj.
Dan ada beberapa watak yang mungkin tidak dikembangkan secara baik seperti Surya, ibu Imas dan Asep. Watak ini akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam sekiranyan latar belakang mereka diolah agar bersesuaian dengan jalan cerita.
Walau apapun, pesanaan moral dan nasihat kehidupan yang disisipkan antara watak dan naratif masih kelihatan.
Secara kesimpulan, novel ini bagus dan wajar dibaca sebagai peringatan untuk kita. Apa yang telah kita tinggalkan sebagai legasi yang bermanfaat sebelum pergi meninggalkan dunia?
Tasaro GK dan A.Fuadi, salah dua penulis favorit saya. Penulis yang rajin menghasilkan tulisan bestseller. Overall suka dengan gaya penulisan, pilihan diksi, dan alurnya.
Hanya saja sepertinya cover bukunya yang salah. Tertulis novel keluarga. Padahal di dalamnya 90% adalah roman percintaan orang dewasa. Tema anak jalan dan mimpinya justru tidak terangkat. Jadi saya rasa kurang cocok disebut novel keluarga.
Satu hal lagi yang menggelitik saya. Yaitu latar tempat yang dipilih. Saya bingung tokoh Monique sebetulnya tinggal dimana? Sama halnya dengan studio extreme TV? Jakarta atau Bandung. Karena diceritakan tokoh Monique sering datang ke kantor Surya yang di Jakarta, lalu langsung ke studio TV. Ya katakanlah Jakarta-Bandung dekat. Tapi apa iya sebegitunya ia bolak-balik terus. Lalu ketika Monique menawarkan Ujang tinggal di rumahnya di Bandung, lalu paragraf berikutnya dikatakan Ujang sekeluarga tidak mau pindah ke Jakarta. Sungguh membingungkan.
Rindu hanya bermimpi pohon anggur hidup di halaman rumahnya, Rindu pergi meninggalkan Emak dan Asep, hingga suatu saat kembali dan membawakan Asep buah anggur yang enak itu.
Setelah kabar bahwa film berjudul Rindu Purnama akan tayang di bioskop, saya langsung tertarik. Bukan. Bukan karena filmnya terlihat menarik, tapi justru karna film itu diadopsi dari sebuah novel, 'Novel Keluarga' berjudul sama, Rindu Purnama. Lantas, apa menariknya novel itu? Pertama, baru kali ini saya menemukan label 'Novel Keluarga'. Kedua, liat dong siapa penulis buku ini, Tasaro dan A. Fuadi. Tasaro bisa dibilang penulis favorit saya, beberapa bukunya saya punya dan saya suka, ditambah dengan A. Fuadi si penulis Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna ini ga kalah keren tulisannya. Dan, buku yang menjadikan kedua penulis itu berjudul.... Rindu Purnama.
Sebenarnya namanya Imas. Hanya saja setelah bertemu Bang Gaj, Imas berubah menjadi Rindu. Rindu pun berubah menjadi Purnama oleh Pak Pur. Dan, dengan kreatifnya orang Indonesia dalam hal panggilan nama, menjadi Rindu Purnama.
Imas meninggalkan kampung untuk membantu Emak rela menjadi loper koran di ibukota, juga akhirnya ngamen karena akhirnya perusahaan korannya bangkrut. Bersama teman-teman kecilnya Imas ditampung di Rumah Singgah Bondan hingga akhirnya Gaj datang mengajari Imas menggambar lalu mengubah namanya menjadi Rindu. Setelah beberapa waktu, Bang Gaj akhirnya meninggalkan Rindu dan berganti dibimbing Bu sarah. Sampai, kamtib datang dan membuat Rindu tertabrak mobil Pak Surya dan akhirnya mengalami lupa ingatan.
Gaj yang ingin menikahi Sarah harus rela memendam perasaannya pada kenyataan bahwa Sarah sudah bertunangan. Lalu Surya yang menjadi karyawan terbaik perusahaan akhirnya bertemu lagi dengan Monique, si presenter talk show yang ingin diakui bisa ber-multitasking dengan pekerjaannya di perusahaan Ayahnya. Rindu mempertemukan kembali Gaj dan Sarah. Rindu membuka arti kebahagiaan bagi Surya dan juga Monique.
Sepertinya tokoh utama dalam buku ini tidak cuma 2 orang, tapi bisa jadi 4 atau 5 orang. Karena ada 2 kisah berbeda, yaitu kisah Gaj dan juga kisah Surya yang akhirnya dihubungkan dengan seorang anak perempuan bernama Rindu. Kalo dibilang tokoh sentral dalam buku ini adalah Rindu, saya setuju, karena Rindu yang mempertemukan kisah dalam buku ini. Memang yang lebih menarik adalah kisah Gaj dan Sarah. Walaupun diceritakan dengan alur maju mundur, novel ini memang terasa sekali kesan religi dan banyak pesan moralnya. Mungkin inilah kenapa disebut 'Novel Keluarga' karena banyak sekali pesan mmoral yang bisa kita ambil dari perjalanan Rindu ini.
Ada kesan religi? Iya. Tasaro kan memang penulis yang bisa dibilang selalu mengambil tema religi walau mungkin tidak terlalu spesialis seperti Kang Abik. Lalu dimana tulisan Fuadi dalam buku ini? Fuadi hanya menulis bagian interlude-nya saja, yang bisa kita temui dalam bagian terpisah yang diselipkan antara beberapa bab dalam buku ini. Interludenya mantap saya kira. Mengena sekali, ditambah dengan contoh yang mudah kita pahami, bagian ini jadi terasa juga tidak kalah penting walau sebenernya tidak bagian ini tidak harus dibaca urutan. Maksudnya, kalau mau baca ceritanya dulu kayak saya dan interludenya belakangan juga gak mengurangi kesannya kok :)
Hanys saja, rasanya ceritanya tidak berujung seperti yang saya kira. Pembaca sepertinya diminta untuk bisa menebak sendiri bagaimana akhir perjalanan Rindu, hubungan Gaj dan Sarah juga apa yang dilakukan Surya serta Monique selanjutnya.
Emmm…setelah membaca tuntas bukunya, saya tidak merasa kalau blurb di cover belakang buku seperti yang saya kutip di atas cocok dengan cerita di bukunya. Tapi itu cuma perasaan saya saja sih. Sama seperti saya merasa kalau Interlude yang disisipkan di buku ini juga rada tidak nyambung dengan ceritanya.
Kalau dari blurb, saya mengira ceritanya full tentang Rindu. Tapi ternyata bukan. Ceritanya lebih ke Sarah, dan juga Pak Surya, lengkap dengan konflik yang terjadi dihidup mereka masing-masing. Saya merasanya Rindu hanyalah sebuah penghubung.
Cerita berawal dari Rindu, seorang anak desa yang mengejar impian ke kota. Impian Rindu sederhana, dia ingin punya uang untuk membeli anggur, juga baju lebaran untuk Emak dan adiknya, Asep.
Di Jakarta, Rindu bersama anak jalanan lain, berjuang untuk bertahan hidup. Rindu tinggal di tempat penampungan bernama Rumah Singgah. Di sanalah Rindu bertemu dengan Ibu Sarah.
Sarah sendiri adalah seorang gadis Yogya yang nekat pergi ke Jakarta untuk menunggu seseorang. Dia menemukan bahwa Rumah Singgah adalah tempat yang tepat untuk menunggu. Karena jejak orang itu tertinggal di sana, bersama Rindu.
Sementara itu, suka duka anak jalanan yang dialami oleh Rindu mengantarkannya untuk bertemu Pak Surya. Pak Surya yang pada hari ketika dia bertemu Rindu, gagal menjadi matahari. Namun, Rindu jua lah yang akhirnya berhasil menuntun Surya untuk kembali menjadi matahari, sesuai namanya.
***
Baiklah, saya lumayan terlarut dalam kisah Rindu, Sarah, dan Surya. Ceritanya tidak addicted sih, tapi saya bisa menamatkannya dalam satu hari. Bagian-bagian Interludenya keren walaupun saya rasa tidak terlalu konek dengan ceritanya. Saya juga terkesan dengan cerita cinta Sarah. Saya kagum dengan keberaniannya untuk menunggu seseorang yang entah berada dimana. Sementara banyak orang yang sangat mencintainya ada di dekatnya.
Kalau Surya, saya tidak terlalu terkesan sih. Mungkin karena porsi cerita masa lalunya hanya diceritakan sedikit. Jadi saya tidak merasa terlalu mengenal Surya seperti mengenal Sarah.
At last, menurut saya buku ini lumayan bagus. Saya kasih 3 dari 5 bintang deh. I liked it.
Rindu Purnama novel ini menceritakan kisah anak-anak jalanan dan beberapa pikiran orang dewasa yang susah dimengerti. Ditengah-tengah kemegahan dan kemewahan kota Jakarta, hiduplah seorang gadis bernama Rindu, seorang anak jalanan yang tinggal di rumah singgah bersama dengan anak-anak yang senasib dengannya. Di tempat tersebut turut pula hadir Sarah,seorang wanita yang mengasuh mereka.suatu hari Rindu tertabrak oleh Pak Surya,seorang pengusaha yang gila kerja dan masih sendiri. Pada kejadian tersebut Rindu mengalami amnesia, dan akhirnya oleh Pak Pur,supir pak Surya,ia ditempatkan sementara di rumah pengusaha tersebut.Keberadaan Rindu di rumah Pak Surya tidak disukainya, meskipun ia sedang disibukkan dengan proyek terbarunya bersama Monik, anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja, Pak Surya menyempatkan diri untuk menyembuhkan Rindu agar bisa cepat pergi dari rumahnya.Rindu tahu bahwa keberadaannya tidak disukai Pak Surya dan memutuskan untuk pergi sendiri. Pak Surya pun panik ketika Rindu diketahuinya menghilang dari hadapannya dan sadar bahwa keberadaan Rindu ternyata memberikan kenangan yang mendalam. Pak Surya berusaha menemukan Rindu dengan berbagai cara.Sampai akhirnya ia bertemu dengan Sarah, yang juga sedang sibuk mencari keberadaan Rindu bersama anak-anak sanggar lainnya, dan mereka pun memutuskan untuk mencari bersama-sama. Dan ternyata,Rindu justru kembali ke sanggar dengan sendirinya setelah pulih dari amnesianya.Keadaan tersebut membuat Pak Surya dilema, antara memilih Rindu, anak-anak jalanan, dan rumah singgah itu atau karirnya yang akan semakin melesat beserta Monik yang mencintainya. Pak Surya harus segera memutuskan dengan cepat pilihannya tersebut. pesan dari novel ini adalah bahwa kekuasaan bukanlah suatu hal yang bisa melakukan segalanya.Bahwa hati nurani adalah pemenangnya.
Watak utama novel ini ialah Imas. Kemudian diberinama sebagai Rindu. Kemudian ada satu kejadian lagi, namanya bertukar menjadi Purnama.
Watak kecil yang mahu membantu keluarganya keluar dari kepompong kemiskinan. Berpetualang ke kota Jakarta, menjadi pengemis kemudian "diselamatkan" dan kemudiannya menetap di sebuah pusat asuhan.
Bermula selepas itu, fokus novel ini sudah "cacamarba". Mula-mula, kisah cinta Kakak Sarah dan Abang Gaj, orang-orang yang kebetulan bertemu Rindu. Melarat pula kisah si bujang Surya dan Monique. Surya juga orang yang kebetulan bertemu si Purnama. Setelah itu, kisah Rindu Purnama hanya menjadi selingan.
Aku membeli buku ini disebabkan harga potongan yang "gila-gila", juga disebabkan ada nama Ahmad Fuadi (penulis buku 5 Menara). Tetapi, A Fuadi hanyalah "penulis jemputan", di mana catatan beliau lebih bersifat am dan tidak menulis secara langsung berkait dengan novel.
Dan, semenjak aku membaca terus buku-buku Indonesia (tanpa terjemahan) lebih kurang dua tahun yang lepas, aku menjadi kekok membaca buku ini. Ya, buku yang aku baca ini adalah terjemahan kepada bahasa Malaysia. Agak janggal membayangkan situasi di kota Jakarta, orang Jakarta, berbual menggunakan bahasa Melayu. Ehehehe!
Hanya saja merasa buku ini kok cuman segni aja sih kisahnya.... Alurnya sudah sangat ketebak Beberapa pemain film tidak sesuai dengan gambaran saya, tapi mungkin sesuai dengan sutradara. Tokoh Suryanya kurang keyen ssenagai seorang eksmud sementara yang kudunya juteq kok kurang juteq yah...
Ceritanya rumit, masa lalu dan masa kini. Saya pikir dengan kerumitan seperti itu di awal cerita akan menghasilkan ending yang luar biasa. Ternyata salah, endingnya jauh dari bayangan. Padahal sudah membayangkan ending yang luar biasa. Tapi lumayan, novel ini bahasanya enak dibaca. Maklum, karena penulisnya adalah dua orang penulis ternama yang melambung karena karya luar biasanya.
saya sangat menikmati waktu saat membaca buku ini. gaya bahasa yg khas Tasaro dan interlude yg khas A. Fuadi. begitu banyak alur dan sudut pandang sempat membuat bingung, tapi saya sangat suka dengan idenya. melihat dunia dari kacamata anak kecil. endingnya gantung ya, jadi menebak2 sendiri. mungkin kalau diselesaikan, pesan cerita ini malah tidak tersampaikan ya. suka! :)
Seru ternyata, lumayan page turner juga. Ceritanya sebenarnya sederhana, tapi sarat makna. Waktu kubaca dulu, entah kenapa aku kasih rate 3. Pengaruh pola pikir & suasana hati mungkin ya.. Tapi paling favorit buatku bagian interlude nya Bang A. Fuadi sih.. ^.^
Tidak cukup menyengat. Lebih kpd kisah penceritaan cinta dari kisah hidup Rindu Purnama, si anak jalanan. Tapi Rindu sudah bilang, ini cerita mengenai kisah org-org dewasa di sekelilingnya.
p/s: Selling this for RM 15 including postage.PM if interested.
cara berceritanya mirip gol a gong (menurut saya sih), keren, apalagi interlude-nya menjadikan jeda membaca dengan mengajak kita merenungkan tentang berbuat baik kepada sesama.
not so great, i think. maybe it's because i had high expectation? but yeah, all i could say was, this novel was very moving. but it was decent, not quite like what i've expected