Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma

Rate this book
Novel ini berisi sekumpulan cerita yang tidak saling berhubungan tetapi memiliki setting yang sama, yaitu masa perjuangan Indonesia yang berkisar sekitar pendudukan Jepang sampai kedatangan Sekutu.

Berikut beberapa judul yang ditulis oleh Idrus, yaitu Ave Maria, Kejahatan Membalas Dendam, Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Jaman Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh..oh..oh..!, Heiho, Kisah Celana Pendek, Surabaya, dan Jalan Lain ke Roma.

180 pages, Paperback

First published January 1, 1948

104 people are currently reading
1628 people want to read

About the author

Idrus

20 books34 followers
Idrus adalah sastrawan kelahiran Padang 21 September 1921. Ia dikenal sebagai pengarang pembaharu prosa di kalangan angkatan '45.

Setelah menamatkan SMT, ia menjadi redaktur Balai Pustaka di tahun 1943, kemudian bekerja sebagai Kepala Bagian Pendidikan Garuda Indonesia Airways tahun 1950-1952. Mahir menulis sketsa, kumpulan sketsanya Corat-coret di Bawah Tanah, ia buat pada masa pendudukan Jepang. Beberapa drama yang ditulisnya, Ave Maria tahun 1948, Keluarga Surono tahun 1948, Kejahatan Membalas Dendam tahun 1948, Bisma tahun 1945 dan Jibaku Aceh tahun 1945.

Karya-karyanya:
Bisma (1945)
Jibaku Aceh (1945)
Surabaya (1946)
Coret-coret di Bawah Tanah (1946)
Surabaya (1946)
Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948)
Tanah (1948)
Keluarga Surono (1948)
Kejahatan Membalas Dendam (1948)
Perempuan dan Kebanggaan (1949)
Aki (1950)
Dengan Mata Terbuka (1961)
Hati Nurani Manusia (1963)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
419 (30%)
4 stars
458 (33%)
3 stars
371 (27%)
2 stars
72 (5%)
1 star
32 (2%)
Displaying 1 - 30 of 113 reviews
Profile Image for Luthfi Ferizqi.
455 reviews14 followers
June 16, 2024
Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1948, era dimana Indonesia masih berjuang untuk merebut kembali kemerdekaannya.

Buku ini memuat sebelas cerita pendek dan satu drama dalam empat babak yang dimulai dari era penjajahan Jepang hingga peristiwa setelah 17 Agustus 1945.

Secara keseluruhan kumpulan cerita pendek ini cukup ringan untuk dibaca dan juga jenaka. Favorit saya di kumpulan cerpen ini justru terletak di drama dalam empat babak itu. Saya penasaran apakah saat ini ada pementasan drama yang menggunakan kisah dalam buku ini. Tentunya akan sangat menarik jika bisa menyaksikan langsung.

-Buku ini masuk dalam daftar: 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri oleh Majalah Tempo-


This book was first published in 1948, an era when Indonesia was still fighting to reclaim its independence.

The book contains eleven short stories and one four-act play, starting from the Japanese occupation era to events after August 17, 1945.

Overall, this collection of short stories is quite light to read and also humorous. My favorite in this collection is actually the four-act play. I am curious whether there are any current stage productions using the stories from this book. It would certainly be very interesting to watch.

-This book is included in the list: 100 Notes that Record the Journey of a Nation by Tempo Magazine-
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
429 reviews
May 2, 2012
Kenal Chaerul Anwar??! Kenalkan juga teman seangkatannya: Idrus, nama Idrus memang tidak se-terkenal Chaerul Anwar, dan mereka berdua ini merupakan tokoh pembaharu prosa dan puisi khususnya pada zaman Jepang. Buku ini merupakan sebuah serangkaian karangan yang dibuat oleh Idrus dan dikumpulkan berdasarkan periode:

1.JAMAN JEPANG: Ave Maria dan Kejahatan Membalas Dendam

2.CORET-CORET DIBAWAH TANAH: Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Jaman Jepang, Sanyo,
Fujinkai, Oh.. oh.. oh..!
dan Heiho

3.SESUDAH 17 AGUSTUS 1945: Kisah Celana Pendek, Surabaya dan Jalan Lain ke
Roma


Membaca kisah-kisah ini kita akan dihadapkan oleh serangkaian ironi, ironi dari sebuah bangsa baru (merdeka), masih susah, tercerabik, dan bingung akan tujuan masa depannnya. Kisah yang paling terkesan menurutku: Jalan Lain ke Roma: ingat OPEN (Openhardig), kisah seorang pria dengan segala kepolosan dan kejujurannya, berbagai jenis profesi telah ia coba: guru sekolah rakyat, mualim, pengarang, dan tukang jahit. OPEN sebagai guru sekolah rakyat (perkara: guru golok, yang lama kelamaan diplesetkan oleh muridnya menjadi menjadi guru g*bloook). Selanjutnya silahkan pilih sendiri yang mana yang merupakan favorit anda!selamat membaca..

May Day’12
Profile Image for Inggita.
Author 1 book21 followers
September 1, 2007
Idrus is an eccentric Indonesian writer - and controversial - people can't seem to make up their mind whether he's a literary troublemaker or just a nutcase with deep-seated hatred towards the Japanese oppressors. But if you can find beauty in extremely harsh words and profanity, you might allow yourself a trip to walk through lives Indonesian had to endure under the Japanese three-and-a-half years occupation - deceivingly short, but extremely brutal and demeaning. This copy belongs to my dad, he bought it on Aug 23, 1949 so i guess this is a historical collection item.
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
August 17, 2018
MEMOTRET

ZAMAN Jepang bukan zaman yang menggembirakan. Sejarah bergerak lambat, gelap, dan lesu—terasa amat lama, terutama bagi rakyat Indonesia yang mengalaminya. Padahal sebelumnya orang mengira melihat sebuah cahaya dan pagi yang nampak cerah: pemerintah kolonial Belanda menyerah dengan cepat kepada tentara Jepang, yang dengan cepat pula menyebut diri mereka “saudara” kepada bangsa Indonesia.

Tapi saya hanya pernah mendengar hal itu dari buku-buku akademis yang bertebaran, dan tidak pernah rinci. Hanya sering disebutkan demikian: zaman Jepang lebih sengsara ketimbang zaman Belanda. Dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, di halaman 410, M.C. Ricklefs menulis tentang adanya “kekacauan ekonomi, teror Polisi Militer (Kenpeitai), kerja paksa, penyerahan wajib beras, kesombongan dan kekejaman orang-orang Jepang pada umumnya, pemukulan dan pemerkosaan, serta kewajiban memberi hormat kepada setiap orang Jepang”. Kata-kata semacam itu tidak memberi gambaran yang detail, kurang membuat suasana hati yang penuh haru dan menderita, apalagi bagi yang membacanya tanpa imajinasi seperti pelajaran-pelajaran sejarah umumnya di sekolah.

Maka ketika saya menemukan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma yang kembali diterbitkan Balai Pustaka, mata saya membulat besar: cerita-cerita pendek Idrus memotret situasi zaman Jepang itu dengan hidup. Kita bisa merasakan horornya. Juga “dasar yang lebih teguh” di jiwa tokoh-tokohnya—dengan itulah Seno Gumira Ajidarma dan H.B. Jassin memberi pengakuan sebagai pembaharu kepada Idrus dan cerpen-cerpennya sama dengan pengakuan kepada Chairil Anwar dan puisi-puisinya.

Idrus pernah menjadi redaktur majalah Melayu di Balai Pustaka. Di sana ia mendalami sastra dengan membaca buku dan majalah dari perpustakaan Balai Pustaka. Ia gabungkan dirinya dalam diskusi dengan sastrawan terkenal di zamannya macam Sutan Takdir Alisyahbana, H.B. Jassin, sampai Nur Sutan Iskandar. Tapi karena gaji yang dianggap terlalu kecil, ia pindah ke Poesat Oesaha Sandiwara Djepang (POSD) yang ada di bawah dinas propaganda Jepang. Ia kembali ke Balai Pustaka tahun 1945 sampai 1947 ketika Balai Pustaka diserbu militer Belanda dalam Agresi Militer I.

Bila sejarah lebih banyak menyebut tentang pergerakan-pergerakan pemimpin Indonesia dalam tiga setengah tahun tekanan Jepang, dua belas cerita pendek dalam Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma tidak membahas peristiwa-peristiwa yang dialami “para pemimpin” Indonesia itu. Idrus memperkaya potret sejarah dengan menceritakan “kehidupan sehari-hari rakyat”. Dalam Jawa Baru Idrus memulai intro situasi Jepang pada umumnya: Jepang merampas beras dari tanah Jawa, juga besi-besi. Jepang “sama saja dengan Belanda” dalam hal “menghapuskan harta benda”. Pemikiran seperti itu hampir-hampir tidak dipedulikan orang lagi karena dianggap “sudah biasa”. Itulah sebabnya rakyat tak pernah lagi menangis dan cukup terus mengeluh—ya, karena sudah biasa.

Propaganda-propaganda bikinan Jepang akan kita temukan prakteknya di masyarakat dalam Fujinkai: seorang tokoh bernama Nyonya Sastra berpidato memuji-muji “kemenangan gilang-gemilang” Angkatan Laut Nippon dan berterima kasih pada kemerdekaan yang akan diberikan kelak oleh Nippon. Nyonya Sastra memuji pembagian beras yang diatur rapi oleh Jepang, meski rakyat hanya menerima seperlima liter—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk hidup sederhana. Menyambung dengan itu, kita menjadi tahu setelah membaca Jawa Baru, bagaimana kata-kata resmi pemerintahan Nippon yang “terharu sekali dengan ketulusan seluruh rakyat Pulau Jawa” perihal beras. Propaganda menipu muncul di mana-mana: cerita pendek Pasar Malam Zaman Jepang menyebut bahwa kata-kata, sponsor, dan simbol bersahabat dari Jepang ada di pasar malam, di pertandingan bola, di pertunjukan sandiwara, dan tak luput ada di perkumpulan musik. Juga menyangkut pula profesi heiho, pekerjaan yang diidam-idamkan pemuda Indonesia, yang sebenarnya dianggap sebagai jongos Jepang. Heiho adalah taktik Nippon untuk mengambil hati para udik agar mereka berpartisipasi dalam membela tanah air. Orang Jepang dengan cermat melihat bahwa para “udik mudah diberi semangat”.

Apa lagi yang sudah biasa? Di masa itu Idrus melaporkan dunia tragis rakyat Indonesia lapisan bawah: orang yang setengah telanjang dan setengah mati yang “tergelimpang di tengah jalan”; perempuan-perempuan, juga yang Indo, menjalangkan diri untuk mencari makan (dalam Jawa Baru); anak muda yang kurus, orang Indonesia yang pakaiannya compang-camping, anak muda yang tidak berbaju (dalam Oh… Oh… Oh!); tukang es yang tidak berbaju dan celananya robek-robek (dalam Sanyo); orang-orang yang memakai baju tipis-tipis dan pudar, pemuda yang kaosnya bolong-bolong dan “kuning-kuning seperti kunyit” (dalam Pasar Malam Zaman Jepang); anak muda yang hanya makan daun-daun kayu (dalam Kisah Sebuah Celana Pendek); sampai orang-orang telanjang bulat yang berebutan bangkai anjing di tepi Kali Ciliwung (dalam Jalan Lain ke Roma). Rakyat telah begitu melarat, sehingga beli celana pendek kepar 1001 yang made in Itali saja rasanya sudah sangat gembira (dalam Kisah Sebuah Celana Pendek). Begitu horor penindasan Jepang, sehingga digambarkan rakyat hanya ingin “hidup bebas dari ketakutan esok hari tidak mempunyai celana”.

Potret itu sulit untuk dibasmi. Malah ada ralat-memperalat di antara orang Indonesia sendiri: keibodan menipu rakyat, agen polisi menipu seorang perempuan bungkuk yang menyimpan beras di kutang, seseorang yang mencuri beras seliter dari rumah tuannya dan kehilangan tangannya sebagai hukuman, juga adalah hal biasa orang mencatut di kantor.

Idrus, melalui cerita pendeknya, turut mempertegas suatu jarak dan garis: di mana-mana budaya negeri penjajah, dan orang-orangnya, mesti lebih terhormat ketimbang budaya negeri terjajah, dan orang-orangnya. Tulisan surat penghargaan dari Nippon, dalam aksara Nippon, lebih dihargai tinggi—lebih tinggi dari pohon kelapa. Dalam Oh… Oh… Oh! ada kisah apartheid: karcis kelas dua hanya diberikan kepada Nippon dan “orang-orang yang mendapat keterangan dari sikuco”—sebutan untuk lurah pada zaman Jepang. Dalam Sanyo, seorang tukang kacang digiring ke kantor polisi oleh mata-mata Jepang karena dituduh menghina Dai Nippon hanya karena ketidaktahuannya tentang apa itu sanyo. Dalam Kota-Harmoni, seorang Nippon preman, yang tidak tertib, yang naik dari jendela trem, malah merasa berhak marah-marah karena ditegur orang Indonesia.

Cerita-cerita itu membuat kita risau, dan membayangkan: zaman Jepang bukan zaman yang tepat untuk mencipta puisi cinta terbata-bata seorang pemuda tanggung kepada seorang gadis teman sekolah. Bukan waktu yang tepat untuk membaca bait-bait cinta Agus Noor.

Tapi manusia adalah makhluk yang coba meneliti faedah baiknya: hal-hal yang buruk itu seperti “tai kebo” yang bisa dipakai sebagai pupuk untuk menyuburkan “pohon-pohon”. Pohon-pohon itu adalah bangsa Indonesia yang tengah tertidur lelap. Seperti ditulis M.C. Ricklefs, strategi Jepang yang menggunakan taktik mobilisasi, terutama di Jawa dan Sumatera, ketimbang memaksa suatu “ketenangan yang tertib” telah membuat dasar revolusi penting: peneguhan bahasa Indonesia karena kerap dipakai dalam propaganda, serta perasaan satu, perasaan tertindas, di antara rakyat sampai ke desa-desa. Revolusi mulai tumbuh dengan “mengguncangkan yang melamun” dari akar yang dalam. Dan tanah Indonesia akhirnya merdeka, dan bertahan untuk merdeka, oleh upaya dan pikiran orang-orangnya sendiri.
Profile Image for Iva.
9 reviews6 followers
Read
April 1, 2011
after reading the book I feel see how the colonial era first. although there are some that I do not understand. probably because it includes the old literary works that are than 41 years. This book included a few titles. The first story "Ave Maria" and ends "Jalan Lain ke Roma". previous story in this book is divided into three parts. 1. Zaman Jepang, with the contents: Ave Maria, and Kejahatan Membalas Dendam. 2. Corat-coret di Bawah Tanah : Kota - - Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Zaman Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh .. Oh .. Oh!, Heiho. The latter 3. Sesudah 17 Agustus 1945: Kisah Sebuah Celana Pendek, Surabaya, Jalan Lain ke Roma.


Profile Image for WA.  Prakosa.
106 reviews2 followers
September 9, 2024
Dalam buku ini, aku ditunjukan begitu piawainya idrus dalam menulis cerpen yang menarik. Apalagi cerpen-cerpennya membahas soal masa penjajahan jepang hingga era revolusi nasional di Indonesia. Idrus begitu cermat menggambarkan kehidupan di masa itu dengan begitu menarik. Menurutku, kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma sudah sepatutnya kita baca apalagi karya tersebut merupakan salah satu karya sastra Indonesia klasik terbaik yang pernah ditulis oleh orang Indonesia.
Profile Image for Wirotomo Nofamilyname.
380 reviews52 followers
March 30, 2017
Buku #9 di tahun 2017.
Kumpulan Cerpen. 155 halaman.
Bahasa Indonesia.

Ternyata bukan hanya cerpen, tapi ada naskah drama juga.
Karena terbitnya sudah hampir 70 tahun yang lalu jadi terasa kuno banget ya, tapi tetap enak untuk dibaca. Dan berhasil menjelaskan ke saya yang dulu selalu penasaran mengapa Idrus ini selalu disebut-sebut jika membicarakan prosa modern Indonesia :-)
Yah memang terlihat lebih maju dibanding zamannya.

Mengapa bintang 4, bukan 5? Saya agak nggak sreg sama naskah dramanya hahaha. Oke sih. Cuma... ya begitulah. :-)
Profile Image for Septia Agustin.
4 reviews13 followers
June 23, 2013
Idrus tahu betul bagaimana Indonesia tumbuh. Buku ini tak hanya bercerita tentang satu masa, tapi tiga sekaligus, dari pra-saat-pasca penjajahan jepang di negeri ini. Pujangga '45 ini memberikan pandangan yang modern dan futuristik dari jamannya. Banyak sekali detail-detail kehidupan sehari-hari dari masyarakat Indonesia yang hingga detik ini masih lekat terjadi.

Ah, sastra memang napas bagi jiwa, dialah batu asah agar jiwa menjadi tajam, agar kita semakin bisa merasa.
Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
September 11, 2018
Saya mulai mengenal Idrus dari perkataan Pramoedya sebagai salah satu raksasa sastra Indonesia, ketika Idrus mengkritisi tulisan milik Pram, "Pram, kamu itu berak bukan menulis", perkataan yang begitu dikenang oleh Pram seumur hidupnya. Berbagai artikel juga telah membahas lebih jauh tentang Idrus dan sepak terjangnya sebagai salah satu penulis besar di Indonesia. Hingga disuatu ketika di sebuah toko buku, saya melihat buku kumpulan cerpen Idrus dan segera membeli dan membacanya dalam satu malam saja.

Paus Sastra Indonesia, H.B Jassin menobatkan Idrus sebagai pembaharu sastra Indonesia di bidang Prosa, dan termasuk ke dalam angkatan 45, layaknya Chairil Anwar di bidang puisi. Perkataan yang benar adanya dan semakin terbukti setelah saya membaca tulisannya. Tulisan Idrus begitu memikat, jujur dan apa adanya dan dengan jujur memberikan sebuah sketsa keadaan dan situasi penduduk Indonesia dari era zaman Jepang hingga era Awal Kemerdekaan. Idrus menjadi salah satu maestro prosa yang mampu memotret keadaan rakyat jelata yang didera derita dengan menggunakan aliran realis, dan tulisan dari Idrus terbukti tetap relevan hingga kini.
Profile Image for Audrey.
29 reviews
December 20, 2014
(The finish and start days are probably fictional--didn't take me that long to read, probably.)

Okay, fuck. This book wasn't perfect. But, hell, Idrus wrote really well. Honestly. His figuratives and his words are descriptive in so many good ways and if you got tired of his similes by the middle of the book, hey, that's just how our language is like, right? And it doesn't stop you from reading; not really.

The first story in this collection drew me in already. And the other stories just continued to do that. The stories gave us an insight of how Indonesians used to be like--and apparently we're not as different then than now. And I think that's my most favourite part.

Idrus can really invoke feelings of empathy or whatever. This was a good book.
Profile Image for Dhini.
96 reviews15 followers
October 22, 2008
buku ini kubaca di smp.. yg paling kuinget cerita si guru yang bernama OPEN... Dari cerita ini aku berpikir bahwa, kita memang harus berlaku jujur, tapi bukan berarti harus menceritakan semua hal tentang diri kita.. apalagi pada orang yang tidak berkepentingan dan hal yg diceritakan itu juga bukan hal yang penting. Akhirnya ya, celaka sendiri..
Profile Image for Maulana Achmad.
26 reviews8 followers
October 29, 2008
Jika dikaitkan dengan masa ditulisnya cerpen-cerpennya Idrus ini aku semakin kagum dengan kemampuan orang berimajinasi. Di buku ini Idrus memang mantap..

Buku ini kudapat di toko (tempat penyewaan) buku lama di dalam JaCC - Tenabang.
3 reviews
October 12, 2020
Mari kita berbicara dengan sastra Angkatan 45. Tunggu, biar lebih mudah saya ubah menjadi : mari kita berbicara tentang karangan-karangan penulis di sekitaran tahun 1945, baik itu prosa, puisi, cerpen, atau novel.
Angkatan 45 selalu memiliki ciri khas dari Angkatan sebelumnya, yaitu 20-an, dan 30-an. Mereka berbicara lugas, apa adanya, menabrak aturan, tanpa basa-basi, sarkas, agak kotor (dalam arti positif), dan nyata. Suatu keadaan yang bisa dimaklumi karena itu adalah zaman kemerdekaan, dimana segala idealisme untuk jiwa merdeka harus diarakkan se-tragis apapun realitanya.
Banyak sederet nama penulis generasi Angkatan 45, kita (setidaknya), mengenal dua pentolan nama yang cukup kondang, yaitu Chairil Anwar dalam segmen puisi-puisi, dan Idrus dalam hal segmen prosa.
Ijinkan saya kali ini membahas tentang Idrus dan salah satu karya bukunya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Buku ini dari judulnya saja sudah panjang, dan membacanya saja tidak nyaman. Tapi memang itu pulalah cerminan dari isi buku ini. Berisi terdiri atas 12 cerita, buku ini berisi narasi-narasi yang membuat kita mengernyitkan dahi.
Mungkin, anak generasi 90-an pernah tahu buku ini, setidaknya tahu judulnya, dan setidaknya potongan-potongan ceritanya pernah dimunculkan dalam soal-soal pelajaran Bahasa Indonesia. Lalu para murid hanya sekedar diminta menentukan siapa tokoh, setting/latar cerita, amanat, tema, maupun sudut pandang. Tanpa kita pernah benar-benar tahu secara utuh isinya tentang apa.
Nyatanya memang, isinya kalau dibaca-baca terasa lebih pas dibaca bagi mereka yang sudah balig. Dua belas cerita ini, masing-masing tidak berhubungan satu sama lain, namun merujuk pada satu keadaan, kehidupan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Jepang, saat merdeka, dan beberapa tahun awal setelah kemerdekaaan.
Kita tahu negara Indonesia merebut kemerdekaan, bukan diberikan kemerdekaan. Konsekuensinya tentu sangat panjang. Ibaratnya, anak lelaki yang langsung dipasrahi jadi kepala keluarga karena orangtuanya meninggal atau minggat. Selain daripada founding father kita yang berjuang mati-matian demi tanah air, banyak kisah-kisah rakyat jelata yang mati-matian bertahan hidup pada masa itu yang mungkin selama ini terlupakan.
Buku ini menyajikan kisah-kisah tersebut. Idrus menuliskan kisah orang-orang pinggiran yang terjadi pada zamannya. Cerita jaman dahulu yang dituliskan saat jaman tersebut masih berlangsung, punya “rasa spesial” daripada cerita jaman dahulu yang dituliskan saat jaman tersebut sudah berakhir. Nuansa proletarian dengan kualitas sumber daya manusianya yang tertinggal ditampilkan dalam percakapan dan konflik-konflik pada cerita-cerita yang ada dalam buku ini.
Idrus selain menampilkan secara lugas, dan sarkas, juga menyisipkan beberapa unsur humor sehingga lebih menyenangkan jika anda membaca cerita ini untuk memaklumi daripada menghakimi.
Anda banyak menemukan beberapa masalah khas jelata seperti orang yang melihat sempit dunia sehingga harus terlibat cinta segitiga yang lebih sempit, akal-akalan yang celakanya diterima dengan akal, sarana dan transportasi yang acak adul, penderitaan kelaparan yang membuat kita miris sekaligus menahan tawa, perjudian karena keterbatasan ekonomi, beberapa sisi-sisi miris dari sebuah keglamoran, orang Jepang yang tidak lebih baik dari kita sendiri dan kita sendiri yang juga tidak lebih baik dari orang Jepang. Ada pula cerita tentang kebanggaan rakyat kecil yang sebenarnya hanya semu, pertempuran melawan sekutu dalam kondisi apa adanya, hingga orang dhuafa yang malah mengalami kesulitan ketika bersikap terus terang.
Sama halnya dengan Chairil Anwar yang sering menabrak irama-irama dalam puisi menjadi sesuatu hal yang bebas, begitu pula dengan Idrus dan prosanya. Banyak beberapa ritme cerita, yang seperti roller coaster, dia membuat kita bingung, tertawa, berpikir, jijik, lalu kemudian pembaca dihantam dengan akhir kepedihan. Sehingga jika setelah selesai pada satu cerita, pembaca tertegun dan mengatakan : “Ini sebenarnya apa sih?”, maka begitupula ketika dulu saya membaca pertama kali, sebelum berikutnya saya menyadari ini adalah salah satu buku “flamboyan” yang pernah ada.
Agak membuat gelisah dan risau jika pembacanya adalah mereka yang selama ini mendalami literasi-literasi religi. Karena dari cerita ini kita mendapat pesan, diluar mimbar-mimbar ilmu, keagamaan dan diplomasi, terdapat jerit-jerit orang yang mengais-ngais hanya untuk bertahan hidup.
Profile Image for ARAH UTAMA.
48 reviews
November 19, 2022
Dari Ave Maria ke Jalan Menuju Roma ternyata niatnya berawal dari kisah Ave Maria dan diakhiri dengan kisah Jalan Lain Menuju Roma, karena tidak ada jaminan akan ada satu kesatuan tema, bahkan kisah Kejahatan Balas Dendam yang juga ada dalam kumpulan cerita ini adalah sandiwara, Namun setelah membacanya kembali, saya kira masyarakat Indonesia patut berterima kasih kepada Idrus, dengan pengakuan yang juga telah diberikan kepada Chairil Anwar.

Dua belas cerita dalam buku ini mencatat periode singkat dalam sejarah Indonesia, tetapi sangat berkesan, yaitu seperti bab dalam buku ini, dari "Era Jepang" hingga "Setelah 17 Agustus 1945", sedangkan di antara keduanya ada adalah "Corat-coret di Dunia Bawah". Tanah”. Jika ilmu sejarah kini menuntut perubahan cara pandang dalam penulisan sejarah, yakni tidak hanya menelaah peristiwa-peristiwa penting tentang para pemimpin, tetapi segala sesuatu, betapapun kecilnya, yang mampu mengungkapkan kembali gambaran sebenarnya dari masa lalu, seperti kehidupan sehari-hari masyarakat, maka buku ini adalah jawabannya.

Menulis cerpen bagi Idrus seperti sketsa masyarakat itu sendiri, dalam alur yang mengungkapkan keterusterangan dan ironi yang mampu menilai situasi dengan tepat, yaitu perubahan cepat yang membuat orang Indonesia merasa asing dengan diri mereka sendiri, situasi yang tidak terlihat dengan mata telanjang. kepahitan dan kesedihan, namun dengan kacamata humor, bahwa kisah-kisah ini menjadi lebih bermakna ketika Indonesia memasuki abad XXI, jelas membuktikan kelasnya sebagai teks yang diproduksi oleh salah satu penulis Indonesia yang paling penting.




From Ave Maria to the Way to Rome, it turns out that the intention begins with the story of Ave Maria and ends with the story of Another Way to Rome, as there is no guarantee that there will be a unified theme, even the story of the Crime of Revenge which is also in this collection of stories is a play, However, after reading it again, I think the Indonesian people should be grateful to Idrus, with the acknowledgment that has also been given to Chairil Anwar.

The twelve stories in this book record a brief period in the history of Indonesia, but it is very memorable, namely, like the chapter in this book, from "Japan Era" to "After August 17, 1945", while between the two there is "Doodles in the Underworld". Soil". If the science of history now demands a change of perspective in the writing of history, that is, not just examining important events about the leaders, but everything, however insignificant, which is able to re-express the actual picture of the past, such as the daily life of the people, then this book is the answer.

Writing a short story for Idrus is like a sketch of society itself, in a plot that expresses straightforwardness and irony that is able to assess the situation correctly, namely the rapid changes that make Indonesians feel alien to themselves, a situation that is not seen with bitterness and sadness, but with the lens of humor, that these stories have become more meaningful when Indonesia has entered the XXI century, clearly proves its class as a text produced by one of the most important Indonesian writers.

#blurb
#Goodreads
#ArahUtama
21 reviews
November 7, 2024
Terbit pertama kali tahun '48. Isinya 12 cerpen yang latar waktunya semenjak Jepang masuk Indonesia sampai perang revolusi kemerdekaan. 12 cerpen dibagi menjadi tiga: 2 cerpen di "Zaman Jepang", 7 cerpen di "Corat-coret di Bawah Tanah", 3 cerpen di "Sesudah 17 Agustus 1945". 2 cerpen pertama yang ada di "Zaman Jepang" terasa romantik, idealis, pro-Jepang. Tapi dalam "Corat-coret di Bawah Tanah" dan "Sesudah 17 Agustus 1945" justru sebaliknya. Hampir seakan2 ditulis 2 orang berbeda. "Corat-coret di Bwah Tanah" menggambarkan kondisi masyarakat di bawah penjajahan Jepang. Jika kita percaya pada kumcer ini, maka pada saat itu nampaknya semua orang kelaparan dan tidak punya pakaian dan pada mati di jalanan. Yang tidak mati, bergabung menjadi Heiho (tapi setelah jadi Heiho kemudian mati dalam pertempuran). Jepang juga nampaknya suka menangkapi orang-orang yang tidak mau ikut dengan program-program Jepang. Nampaknya ketika awal Jepang masuk, Jepang dianggap sebagai penyelamat dan diterima baik. Mungkin Idrus juga berpandangan demikian, oleh karenanya 2 cerpen pertamanya terasa pro-Jepang. Tapi kemudian nampaklah bahwa Jepang bahkan lebih buruk dari Belanda: kerja romusha, semua beras dibawa ke Jepang sampai2 rakyat tidak bisa makan, buku2 yang "tidak cukup ketimuran" dilarang beredar, warga disuruh urunan duit untuk berkontribusi dalam acara2 bikinan Jepang. Kemudian cerpen "Surabaya" yang merupakan bagian dari "Sesudah 17 Agustus 1945" menceritakan Indonesia di masa-masa baru saja merdeka, ketika masih gonjang-ganjing perubahan rezim dan segala2nya serba chaos. Di sini, justru villain-nya bukan penjajah, tapi orang Indonesia sendiri. Masyarakat digambarkan sebagai kumpulan orang yang anarkis dan suka main hakim sendiri; selain itu juga oportunis, situasi susah dijadikan sarana buat cari keuntungan dengan memanfaatkan orang-orang yang mengungsi dari Surabaya ketika meletus perang dengan Sekutu. Dan terakhir, cerpen pamungkas, cerpen penutup, "Jalan Lain ke Roma", menceritakan Open, yang sepertinya merupakan simbol dari revolusi itu sendiri: dia berkembang melalui banyak pengalaman dan perubahan, dari yang mulanya seorang guru sekolah rakyat, menjadi filsuf! Di sini masih ada Idrus sebagaimana dalam cerpen2nya yang sebelumnya (minus 2 cerpen pertama), yaitu Idrus yang sinis dan getir dan serba negatif memandang hidup dan manusia, tapi kemudian secara tidak terduga ceritanya diakhiri dengan pengakuan akan kasih sayang dari dan untuk keluarga. Pengakuan atas keberadaan kasih sayang yang sejati ini amat tidak tipikal untuk Idrus yang melulu kritis dan pesimis.
Profile Image for Tom.
138 reviews39 followers
May 9, 2025
3.5 rounded to 4.

Cerita-cerita yang disajikan menunjukkan kualitas tinggi ironi dan sarkasme yang menarik untuk dibaca. Kumpulan cerpen ini sangat penting dibaca bagi yang ingin memahami kondisi sosial dan psikis ketika masa kependudukan Jepang, meski ada juga cerpen tentang kondisi Pertempuran Surabaya.

Cara Idrus memotret kondisi-kondisi tersebut sangat baik, mungkin bisa mencapai bintang 4. Dua cerpen yang memorable seperti Fujikai dan satu lagi tentang perjalanan kereta antara Sukabumi-Jakarta. Kita bisa melihat krisis beras yang terjadi dan dampaknya ke masyarakat, namun kritik Idrus juga mengarah ke masyarakat yang ikut korupsi di saat krisis: Ada yang dengan menempel ke Jepang, ada pula yang memakai situasi untuk merugikan sesama warga negara. Ironi yang nyata karena sampai sekarang pun masih ada saja pejabat atau masyarakat yang demikian.

Membaca novel ini terutama bisa sangat mengungkap persepsi terhadap Jepang saat penjajahan dulu. Seperti yang orang Barat sering bilang, Jepang memang sukses mengubah diri mereka menjadi pasifis, namun sejarah (yang belum terlalu lama) masih perlu dipelajari karena bisa saja penjajahan tempi dulu bisa terulang lagi di penjajahan modern.

Cerpen Surabaya juga menarik dan sangat informatif, meski dapat dikritik dari segi format yang lebih seperti laporan ketimbang cerpen. Satu lagi adalah cerpen Jalan ke Roma yang menampilkan emosi kuat dari pengarang Angkatan 45, meski di beberapa titik agak didactics, serta troupe yang dipakai (tokoh Penulis) terbilang repetitif, namun konklusi cerita cukup solid mengenai makna Revolusi.

Naskah pentas yang hadir di buku ini juga terbilang bagus, sangat bagus dan bahkan Shakesperian. Menarik melihat tokoh Perempuan Tua/Dukun yang bisa memainkan peran yang amat meyakinkan, meski menurut saya konklusi cerita agak sedikit terburu-buru.

Secara keseluruhan, cerpen Idrus ini cocok jadi bacaan wajib cerpen di SMA atau bahkan kuliah.
23 reviews
November 11, 2019
Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma merupakan buku kumpulan cerita pendek dan drama karya Idrus yang diterbitkan pertama kali oleh penerbit Balai Pustaka, Jakarta pada tahun 1948. Sampai tahun 1997 buku itu telah mengalami cetak ulang sebanyak tiga belas kali. Cetakan ke-28 terbit tahun 2011. Buku ini berisi sekumpulan cerita yang tidak saling berhubungan tetapi memiliki setting yang sama, yaitu masa perjuangan Indonesia yang berkisar sekitar pendudukan Jepang sampai kedatangan Sekutu. Idrus tahu betul bagaimana Indonesia tumbuh. Buku ini tak hanya bercerita tentang satu masa, tapi tiga sekaligus, dari pra-saat-pasca penjajahan jepang di negeri ini. Pujangga '45 ini memberikan pandangan yang modern dan futuristik dari jamannya. Banyak sekali detail-detail kehidupan sehari-hari dari masyarakat Indonesia yang hingga detik ini masih lekat terjadi. Kisah dalam novel ini sangat imajinatif dan tergambarkan dengan jelas sehingga kita dapat merasakan suasana yang dijabarkan Idrus. Cerita dalam novel ini sangat berjiwa nasionalis dan penuh makna. Begitu banyak pelajaran hidup yang dapat kita peroleh. Ketika kita membaca novel ini, kita akan merasa seolah-olah kita sedang mengalami perjalanan pada masa pemerintahan Jepang dan Sekutu masih berkuasa di Indonesia. Dalam buku ini, pembaca seolah diajak untuk merasakan sirnanya sebuah kisah cinta ditengah perjuangan para pemuda. Dan membuat kita mengetahui keadaan rakyat Indonesia di tengah para penjajah serta mengetahui bagaimana perjuangan para rakyat Indonesia terdahulu untuk meraih sebuah kemerdekaan.
Profile Image for far.
34 reviews13 followers
March 28, 2023
Membicarakan Pujangga '45, secara tidak langsung kita selalu tertuju pada nama Chairil Anwar, tapi ada satu nama lain yang terkenal pula di angkatannya, yaitu Idrus. Kalau kata H.B. Jassin, jika Chairil adalah pembaharu dalam puisi, maka Idrus adalah pembaharu dalam prosa. Dalam kumpulan cerpennya, Idrus memberikan gambaran ketika Indonesia berada dalam masa pendudukan Jepang, masa di mana yang pada awalnya dianggap sebagai cahaya dan harapan baru bagi Indonesia, ternyata tidak jauh lebih baik dari masa Belanda. Kumpulan cerpen ini dibagi dalam tiga bagian; Zaman Jepang, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Kesemuanya menceritakan sejak kedatangan Jepang tahun 1942 dan sesudah 17 Agustus 1945. Bahasanya lugas dan cukup mudah dipahami untuk ukuran sastra klasik, jadi masih bisa dinikmati dan enak untuk dibaca.
20 reviews1 follower
November 11, 2019
Dalam novel ini memiliki kelebihan yaitu bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca. Dengan mengangkat cerita yang kaya akan semangat nasionalisme dan pelajaran kehidupan. Kita akan dapat merasakan seolah-olah kita merasakan dan mengalami perjalanan pada masa pemerintahan Jepang ketika masih berkuasa di Indonesia.Buku ini dapat mengajak para pembaca membayangkan apa yang tertulis di buku, dan seolah-olah isi dari buku ini merupakan suatu kehidupan nyata yang benar-benar terjadi. Kelemahan dalam buku ini terkesan seperti bahaya Melayu. Penulis menulis berbagai macam cerita dengan isi yang berbeda-beda sehingga pembaca kesulitan untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, walaupun sebenarnya cerita tersebut saling berkaitan.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
March 13, 2025
Dari kecil sebenarnya saya sudah berkenalan dengan buku ini. Tepatnya, dulu hanya tanya kover, judul, serta informasi tentang isi buku. Secara tak sengaja melihat buku ini tergeletak memanggil untuk dibaca, langsung sambar.

Walau tiap kisah yang ada dalam buku tidak saling berhubunga, namun kisah dalam buku ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Zaman Jepang, Corat-coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Terdapat 11 kisah pendek, dan sebuah naskah drama berjudu Kejahatan Membalas Dendam.

Saya kurang bisa menikmati beberapa kisah secara langsung. Butuh telaah lebih dalam. Namun secara keseluruhan, buku ini layak dibaca dan dikoleksi.
Profile Image for Linclair Christabel.
23 reviews
September 2, 2017
Di antara semua angkatan sastra Indonesia, Angkatan '45 merupakan angkatan favorit saya.

Walaupun merupakan sastra lama, ternyata masih enak dibaca. Bahasanya tidak 'berbusa' dan malah bisa dicerna dengan baik oleh awam. Ceritanya pun terbilang klasik, mengisahkan tentang seorang pemuda yang gemar menulis, yang mencintai anak perempuan, yang nyatanya tidak disetujui oleh ayahnya yang merupakan saingannya di dunia penulis.

Yah.. begitulah kisah klasik yang sering kita temui di sastra lama. Memang tidak sempurna, namun cukup untuk mengisi waktu luang.
Profile Image for Fauzi Pitra.
7 reviews6 followers
November 9, 2017
Idrus menumpahkan cara pandangnya dengan jujur dan keras. Bagaimana tragis nya kehidupan dizaman kolonial. Perjuangan, bertahan hidup dan gaya hidup di era kolonial yang kejam dan tak bisa di elakkan, dan idrus jujur dengan spontan dan tekanan nada yang keras dalam penulisannya, dan juga dengan gaya bahasa lama seperti perulangan-perulangan.
Menarik sekali memang, bagaimana melihat sejarah dari sudut pandang pejuang sastra. Melirik kehidupan sehari-hari di era tersebut. Bagaimana masyarakat indonesia terlihat lusuh dan terengah-engah untuk bangkit berjuang. Semuanya dirangkum dengan tragis dan mencengangkan.
Rekomendasi lah buat teman-teman yang ingin melirik kehidupan era kolonial dengan sudut pandang idrus. .
Terakhir, buku ini lebih dari dua kali saya baca, sangat rangkum menariklah.
Profile Image for Anindya.
20 reviews11 followers
September 8, 2019
ingat banget kalau ini bacaan saya semasa SMP, and surprisingly I love it. Padahal tiap baca kudu mikir karena penyampaian yg nggak biasa, banyak kosakata yang berasal dari puluhan tahun silam dan tidak banyak dipakai lagi baik untuk penggunaan sehari-hari maupun sastra modern. Ada beberapa cerita yang masih saya ingat sampai sekarang (wow time flies! sudah belasan tahun!), susah untuk menemukan buku ini di toko buku pada umumnya. Semoga masih lestari di perpustakaan sekolah-sekolah. Lebih baik lagi, kalau dicetak ulang.
Profile Image for Iqbal Safirul Barqi.
51 reviews
August 23, 2024
Menyadur pengantar Seno Gumira Ajidarma:
Umpama ilmu sejarah ini menuntut perubahan sudut pandang dalam penulisan sejarah, yakni bukan sekedar memeriksa kejadian-kejadian penting tentang para pemimpin, melainkan segala sesuatu, betapapun tidak pentingnya, yang mampu mengungkap kembali gambaran aktual pada masa lalu, maka buku ini adalah jawabannya.

Buku ini bukan hanya buku sastra klasik, tapi juga buku sejarah bangsa kita. Pada tahun 2024 ini, di momen Agustus, waktu Indonesia sudah 79tahun sejak merdeka, buku ini terasa semakin bermakna.
Profile Image for Thoriq Fauzan.
37 reviews
February 8, 2025
Benar bahwa cerita-cerita fiksi sejarah merupakan potret kehidupan sehari-hari masyarakat pada suatu jaman. Suatu bagian juga dari sejarah yang mungkin luput dari buku sejarah yang umumnya merekam peristiwa secara garis besar, melewatkan pengalaman-pengalaman pribadi manusia sehari-hari yang menjadi sekrup dan bautnya sejarah itu sendiri. Melalui hiruk-pikuk suasana dalam trem hingga pencarian jati diri seorang mantan guru, realitas jaman dengan segregasi kelas sosial dan kondisi masyarakat di masa perang secara efektif diterangkan.
Profile Image for Sabrina.
49 reviews2 followers
August 30, 2025
Kumpulan cerpen hisfic yang bisa dibilang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan (dipertengahan)

Cerpen ini mengambil latar waktu saat Indonesia masih dijajah oleh Jepang dan saat awal kemerdekaan Indonesia. Kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma membuatku bisa me-recall peristiwa sejarah di Indonesia saat dijajah Jepang sampai awal masa kemerdekaan Indonesia.

Cerpen favorit saya dalam buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma yaitu dengan judul Jawa Baru, Heiho, Surabaya, dan Jalan Lain ke Roma
20 reviews
November 28, 2019
Kumpulan cerpen Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Roma karya Idrus tersebut berlatarkan kehidupan sewaktu Negara Indonesia dijajah. Dengan apik, Idrus mampu menggambarkan fenomena-fenomena sosial yang terjadi dalam seluruh cerpen. Fenomena sosial tersebut tentu berupa kesengsaraan masyarakat Indonesia dengan adanya penjajah yang dengan kejam membuat masyarakat Indonesia sengsara. Namun, cerpen yang membawa fenomena sosial paling kuat menurut saya adalah cerpen yang berjudul Jalan Lain Ke Roma.
Profile Image for Ursula Ratna Pangesti.
8 reviews
May 14, 2023
Perbedaan cerita disetiap bab yang mengajak kita untuk selalu membangun suasana baru. Pada bab ke 3 kalo tidak salah penggambaran ceritanya itu unik dibuat seperti teks naskah film, dengan ending yang tidak diduga. Mungkin ini salah satu bab yang aku suka. Pada bab 7 yang berjudul "Jawa Baru", berisi tentang sindiran terhadap pemerintah yang memberitakan omong kosong mengenai keadaan saat itu. Sebenarnya, saya belum selesai membaca, mungkin next time akan saya lanjut.
7 reviews
August 13, 2025
“Ave Maria, di jalan lain Roma, kau menyimpan doa yang terucap dari hati yang patah dan rindu yang tak pernah pulang.”

My kind of romance story that i LOVE. How it feels being betrayed for someone that you love the most, losing the meaning of life cause your reason to life leave you behind for another man that she never done before but he still can survive and deal with that situatuon karena ada hal lain didunia ini yang masih buat dia bertahan itu yang bikin aku amaze sih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 113 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.