Jump to ratings and reviews
Rate this book

Indonesische Overpeinzingen

Rate this book
Buku karangan Sutan Sjahrir yang menggunakan nama pena Sjahrazad

182 pages, Paperback

First published October 1, 1945

36 people are currently reading
911 people want to read

About the author

Sutan Sjahrir

27 books39 followers
Sutan Syahrir atau juga dieja sebagai Soetan Syahrir (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909 – wafat di Zürich, Swiss, 9 April 1966 pada umur 57 tahun) adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Beliau meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Sumber lain silakan baca juga, Sutan Sjahrir Laporan Utama Majalah Tempo

Riwayat
Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.

Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.

Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.

Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.

Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo).

Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif –saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.

Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
120 (54%)
4 stars
62 (27%)
3 stars
30 (13%)
2 stars
5 (2%)
1 star
5 (2%)
Displaying 1 - 28 of 28 reviews
Profile Image for Aengus Schulte.
89 reviews
May 2, 2023
A really engaging read. Sjahrir writes beautifully, and I really appreciated how he alternated writing about his philosophies with writing about his experiences in exile. His optimism and wry criticisms shine through, despite the heavy subject-matter.
Profile Image for Ivan.
79 reviews26 followers
May 15, 2012
Dapet dari e-boook di scribd.com

Sjahrir bener bener tokoh nasionalis yang nggak pengen Indonesia jadi negara fasis. Buku ini membahas konsep sosialis dan konteksnya pada jaman setelah jepang kalah dan perang dunia. Sosialismenya sjahrir bukan sosialime komunis akan tetapi sosialis yang menginginkan Indonesia mengharga humanisme/kemanusiaan, kesetaraan dan penghapusan konsep feodalisme.

13 reviews
August 13, 2021
Pandangan Syahrir adalah pandangan yang khas seorang analis pascakolonial, seorang yang sadar bahwa penjajahan tidak berhenti pada kemerdekaan formal. Pengutamaan demokrasi dan humanisme di atas kebangsaan juga adalah cara pandang seorang yang mengerti akar-akar konflik yang hadir dan berkelindan dalam sejarah manusia. Sebagai seorang intelektual, Syahrir jelas tahu apa yang ia katakan adalah dasar-dasar yang penting bagi suatu negara.
Profile Image for Ardyan.
4 reviews2 followers
October 11, 2015
Sebuah keinginan tulus yang tidak menginginkan negara Indonesia dijadikan alat perjuangan dengan cara fasis melainkan cara-cara yang bersumber dari kekuatan rakyat banyak. Nilai-nilai perjuangan Sjahrir nampak betul dipengaruhi oleh pemikiran Tan Malaka, dari revolusi kerakyatan sampai penguatan kaum-kaum proletar. Meski begitu, keduanya tak pernah bisa menyatu.
Profile Image for Nazra Dinda.
11 reviews
July 21, 2021
Buku pada cetakan ini terdiri dari tiga bagian: pengantar, prolog, dan Perjuangan Kita. Banyaknya kesalahan ketik, pengulangan kata, kalimat, dan halaman cukup mengurangi kenyamanan membaca. Pesan untuk editor agar lebih teliti.

"Hanya dua orang yang sebenarnya ketika itu punya konsep yang sungguh berarti (untuk Indonesia): Sjahrir dan Tan Malaka."
h. 47

"Aku cinta negeri ini dan orang-orangnya... Terutama barangkali karena mereka selalu kukenal sebagai penderita, sebagai orang yang kalah. Jadi biasa saja, simpati kepada underdog, orang-orang yang ditindas."
h. 81

Beberapa hal yang menarik:

1. Sjahrir adalah sosok yang sosialis-humanis, sebab mengutamakan pendidikan dan kebebasan rakyat. Berbeda dengan Soekarno yang berapi-api, Sjahrir memiliki pribadi yang tenang dan lincah. Termasuk golongan muda yang mendesak dwitunggal untuk segera melakukan proklamasi. Perdana menteri pertama Indonesia, yang lebih memilih untuk melakukan jalur diplomasi daripada cara-cara kekerasan.



2. Konflik yang terjadi pasca kemerdekaan juga cukup menarik untuk disorot: diplomasi Sjahrir kurang disukai oleh golongan Tan Malaka dan sempat terjadi penculikan; PRRI dan penahanan Sjahrir.

Perjuangan Kita

1. Kondisi kebanyakan pemuda saat itu hanya memiliki kemampuan untuk menerima perintah dan tidak pernah dididik untuk memimpin. Tidak adanya pendidikan politik, terisolasi dari jaringan informasi dunia luar, dan hanya berhadapan dengan propaganda-agitasi Jepang. Kecintaan terhadap tanah air (nasionalisme) dengan merendahkan bangsa-bangsa asing terus menjadi pegangan dan ditakutkan akan memunculkan bibit-bibit fasisme.


2. Revolusi yang terjadi keluar merupakan revolusi nasional, tetapi di dalam adalah revolusi sosial-kerakyatan. Kerap kali apa yang dinamakan kemenangan kebangsaan adalah kosong untuk rakyat banyak. Negara Indonesia hanyalah alat untuk mencapai revolusi apa yang diperjuangkan.


"...revolusi kita harus dipimpin oleh golongan demokratis yang revolusioner dan bukan oleh golongan nasionalistis yang pernah membudak kepada fasis lain.."
h. 110

3. Selama masih ada kapitalisme-imperalisme, perjuangan tidak akan dapat memuaskan sepenuhnya, yang akan didapatkan ketika masih berada di bawah pengaruh negara kapitalis, hanya kemerdekaan nama saja.


4. Belanda memanfaatkan sisa-sisa feodalisme di Indonesia. (?)


5. Semangat kebangsaan harus didampingi dengan semangat kerakyatan, sebab yang akan memenangkan revolusi ini pada akhirnya adalah rakyat banyak, kaum buruh, kaum tani bersama-sama dengan kaum terpelajar, kaum muda.



dan lain-lain. diketik ketika mengantuk.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dolf van der Haven.
Author 9 books26 followers
May 22, 2025
Soetan Sjahrir (or: Sutan Syahrir) was one of the Indonesian independence leaders and got incarcerated from 1934 onwards in Dutch concentration camps in Indonesia. He eventually became the first Prime Minister of Indonesia after independence.
This book consists of his letters and other writings while being imprisoned. His thoughts cover a broad range of topics, including the rise of fascism, philosophy, psychology and also the more mundane everyday events that he experienced. His perspective is not radically anti-Dutch, but ends up being on of collaboration between an independent Indonesia and The Netherlands, mostly to fight against the more imminent threats that come from the impending world war. This would all change after the Japanese occupation and subsequent independence, of course.
This is well worth reading to get an intelligent view of not only local, but also world events in the 1930s.
Profile Image for Aldino Syaputra.
28 reviews6 followers
March 12, 2025
I’ve always wondered how Sjahrir’s writings was since I only learn him from other’s point of view. I was so moved by the way he developed himself throughout his exiles. His vulnerability in his words, his capability to analyze the condition of the world, his longing for the freedom and in his struggle to think and act for people should be learned by us the youngster.

I read it while I’m closing down my 27th and I truly enjoy his writings on 1936 while he was 27 too. His self-awareness was immaculate. His maturity for his age was a thing I admire whilst reading his. I wish more youngsters read his journey to be truly a human through this book.
Profile Image for Iqbal.
7 reviews
February 12, 2020
Nilai-nilai keterbukaan terhadap kemajuan zaman dan tidak anti terhadap asing coba dikemukaan oleh Sjahrir. Ia mendorong supaya pemerintah dan rakyat bergerak bersama membangun bangsa yang baru merdeka. Yang tidak boleh itu adalah tunduk terhadap kekuasaan. Hal tersebut yang diperlukan oleh bangsa Indonesia jika ingin merdeka seutuhnya.
Profile Image for Monkey D  Dragon.
83 reviews2 followers
September 7, 2020
Bung kecil dengan segala kercerdikannya memberikan pemikiran yang indah dibuku ini mengenai bagaimana perjuangan dan pembangunan indonesia selaknya dibentuk
Profile Image for jo.
125 reviews
May 21, 2021
very inspirational, as always 💖
Profile Image for Luthfi Ferizqi.
455 reviews15 followers
May 27, 2021
Fascism and Feudalism. Indonesia should avoid both of them.
Profile Image for Rangganur.
44 reviews
February 27, 2022
Melalui pamplet revolusioner "Perjuangan Kita", Sutan Sjahrir adalah tokoh bangsa yang paling awal hari sadar akan bahaya dari militerisme x fasisme di negara yang dia sendiri perjuangkan.
Profile Image for Yvonne.
13 reviews
May 20, 2022
Whilst I found the contemplations rather interesting, I must say that the language did not sit well with me tone wise for a big part of the narrative.
9 reviews
July 20, 2023
Ketika baca buku ini, saya langsung sadar bahwa buku ini merupakan tulisan khas seorang analis pascakolonial. Sjahrir atau Bung Kecil, sadar bahwa perjuangan merebut kebebasan tidak berhenti pada kemerdekaan formal saja. Namun, perlu adanya penguatan demokrasi dan humanisme di atas -isme yang lain. Sjahrir sadar betul—bahwa fasisme, feodalisme, dan militerisme merupakan duri-duri yang dapat mencederai kemerdekaan suatu bangsa.

Sjahrir merupakan seorang sosialis-humanis, sebab ia selalu mengutamakan kebebasan dan pendidikan rakyat. Sjahrir menginginkan sumber perjuangan Indonesia ada pada rakyat. Dalam buku ini, tidak adanya pendidikan politik dan tidak adanya akses informasi ke dunia luar—menyebabkan para pemuda memiliki pemikiran yang dogmatis dan chauvinis. Hal tersebut diperparah dengan maraknya propaganda-agitasi Jepang yang sangat kuat, sehingga muncul kekhawatiran munculnya benih-benih fasisme.

Sjahrir juga menekankan bahwa kemenangan revolusi nasional sering kali tidak dirasakan oleh rakyat kecil. Justru kemenangan yang nyata dapat diraih dengan revolusi sosial-kerakyatan. Revolusi sosial-kerakyatan haruslah dipimpin oleh golongan demokratis yang tidak pernah menjadi budak fasis. Pemikiran Sjahrir tersebut jelas menampar para golongan tua, khususnya Karno.

Kemenangan total dari sebuah revolusi juga memiliki suatu prasyarat, yaitu penghapusan kapitalisme-imperialisme. Suatu perjuangan tidak akan menang 100 persen jika masih berada dalam cengkram negara kapitalis. Bagi Sjahrir semangat kebangsaan harus bertumpu pada seluruh lapisan masyarakat, yaitu kaum buruh, tani, intelektual, dan pemuda.

Kedewasaan banga kita hanya jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia dewasa bagi diri kita-Bung Kecil.
Profile Image for Efree.
3 reviews10 followers
October 8, 2008
Buku kecil adalah kumpulan surat-surat Sutan Syahrir kepada istrinya di Belanda sejak penangkapan dirinya tahun 1934 – 1942 oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Ditambah sebuah tulisan Syahrir tentang situasi awal kemerdekaan. Mulai ditulis saat ditahan di Penjara Cipinang (1934), hingga diasingkan dari kehidupan politik ke Boven Digul (1935) dan Banda Neira (1935-1942) bersama Muhammad Hatta.
Walaupun merupakan surat-surat pribadi, namun Syahrir sangat banyak menulis tema-tema yang luas dari keadaan politik Hindia Belanda ataupun Eropa sampai tema-tema filsafat dan kebudayaan yang pada saat itu masih hangat di Barat. Walau Syahrir telah menjadikan Sosialisme menjadi ideologi perjuangannya, namun Syahrir adalah intelektual yang mandiri dan kritis dan membuka diri terhadap pemikir-pemikir utama barat lain seperti Kant, Nietzche, Freud, Russell, Goethe, Dante, Stuart Mill dll. Sehingga dia memiliki keyakinan yang kuat bahwa dengan penguasaan akan tradisi rasionalisme baratlah masyarakatnya bisa mencapai kemajuan dan kemerdekaannya.
Strategi diplomatik yang dijalankan oleh Syahrir pada masa awal kemerdekaan mengundang tentangan yang sangat keras oleh kelompok Tentara (Sudirman) dan kelompok kiri (Tan Malaka) yang percaya perjuangan satu-satunya untuk mempertahankan kemerdekaan adalah perjuangan senjata. Namun saat itu Syahrir masih menaruh kepercayaan perjuangan diplomasi lebih menguntungkan dengan menunjukkan Indonesia adalah negara yang matang dan pantas mendapatkan dukungan dunia internasional—bukan semata negara bentukan jepang seperti opini yang dibentuk oleh Belanda. Berangkat dari penilaiannya bahwa kemerdekaan bagi negara-negara Asia pada masa itu adalah keniscayaan, dan optimismenya bahwa dalam diri Barat dialog masih mungkin. Tanpa perlu menambah korban jiwa pada kedua belah pihak.
Tulisan Syahrir sepanjang sembilan tahun di pembuangan ini menunjukkan karakternya yang kuat, tajam, optimis walau menghadapi pengasingan yang panjang dan menghadapi alam Boven Digoel dan Banda Neira yang rentan buat penghuninya terhadap penyakit malaria.
Membaca Out of Exile ini seperti kita buku kecil filsafat dibanding dengan Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie yang lebih emosional, gelap—depresif pada bagian akhirnya.
Buku berbahasa Inggris ini ditulis oleh Syahrir dalam bahasa Belanda dan diedit kembali oleh istrinya Marie Duchateau-Syahrir demi kepentingan penerbitan dan di translasikan ke bahasa Inggris Charles Wolf. Jr. Diterbitkan di Amerika Serikat dan menjadi katalog perpustakaan Kongres Amerika Serikat.

Profile Image for Abieffendi.
65 reviews9 followers
March 10, 2014
I give 5-stars for this book for its quality for containing letters that were written for the Hollanders-wife of Sutan Syahrir, one of the leading figure of Indonesian revolution-era, in Holland. It potrays Mr.Syahrir as a human, his idea, his feelings, his soul, his beliefs.
This book also gives Mr.Syahrir's perspective, as the leader of Indonesia underground freedom-fighter, of what happened around Indonesian's independence
Profile Image for Monkey D  Dragon.
83 reviews2 followers
December 26, 2020
Buku ini dengan jelas menunjukkan bagaimana jalan pikiran politik seorang sutan sjahrir yang banyak orang menganggap nya lemah dan terlalu koperatif yang dimana di buku ini dijelaskan dengan rinci bagaimana itu semua merupakan bagian dari kehati-hatian dan insting politik yang dimiliki sjahrir untuk menghindari kekalahan yang sia sia dalam gerakan politik
Profile Image for Kucing.
25 reviews5 followers
wish-list
March 3, 2009
Mengenang 100 tahun Soetan Sjahrir, 05.03.1909.
Profile Image for Gordon.
12 reviews1 follower
Want to read
January 11, 2011
PEMIKIRAN SULTAN SYAHRIR TENTANG INDONESIA MASIH MISTERIUS BAGI GENERASI SEKARANG
Displaying 1 - 28 of 28 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.