Sukaakkk penulisan yang menarik dan cerita yang unik!! Cmn agak kurang sreg aja sama endingnya. Tapi novel ini berhasil buat aku menitiskan airmata.. baguss
Berkisah tentang gadis kecil yang biasa dipanggil Mimi, Pesan dari Sambu menuturkan kehidupan pegawai rendahan PT Shell, perusahaan eksplorasi minyak yang sebelumnya bernama Bataafche Petroleum Maatschappij (B.P.M) P. Samboe, yang pada tahun 1959 diakuisisi pemerintah Indonesia melalui Pertamina.
Novel ini mengajak pembacanya bernostalgia ke masa keemasan perusahaan pengekplorasi minyak, yang direfleksikan melalui kehidupan para pegawai rendahannya. Uang tak berarti di sini. Setiap pegawai dijatah beras 50 kg beras dan air bersih didatangkan langsung dari Singapura. Sekolah gratis, dan bila sakit, ada mantri yang siap sedia mengobati.
Kesibukan sehari-hari Mimi menghabiskan masa kecilnya memang menjadi fokus cerita ini. Mimi, putri ke-3 seorang pegawai rendahan perusahaan minyak di Pulau Sambu, yang ibunya tak punya kerjaan lain selain beranak. Di usia belianya, waktu Mimi habis hanya untuk sekolah dan mengasuh keenam adiknya.
Satu poin yang menarik dari novel ini adalah bagaimana seseorang melepas identitas kesukuannya. Ayah Mimi yang orang Jawa, dan merantau lama ke Pulau Sambu, nyatanya sama sekali melepas ciri kesukuannya. Dia melebur bersama penduduk lain Pulau Sambu yang berbahasa Melayu, makan dengan aturan tertib bergaya Belanda, dan sama sekali tidak mengajarkan anak-anaknya berbahasa Jawa.
Banyak sekali hal menarik lainnya yang diceritakan dalam novel ini, yang sayangnya diceritakan dengan begitu datar oleh Tasmi P.S. Keinginan untuk menarik kisah Mimi dengan sentuhan historis yang kental, agaknya membuat penulis kesulitan mengatur alur yang maju mundur, dan lupa membuat luapan-luapan yang seharusnya bisa mengaduk emosi pembaca novel ini.
Saat membaca buku ini, aku baru tahu ada yang namanya Pulau Sambu di Indonesia, yang selemparan batu dari Singapura dan terdapat perumahan untuk tambang minyak milik Pertamina.
Buku yang terinspirasi dari kisah nyata ini menceritakan kehidupan keluarga staf Pertamina, orang-orang setengah Melayu di tahun 1960-an dari kacamata seorang anak. Kehidupan terlihat begitu menyenangkan, walaupun anak tertua harus merawat adik-adiknya karena ibunya terus menerus hamil. Masa itu dan di tempat itu, anak-anak bebas bermain dengan alam, bersahabat dengan laut dan bukit-bukit. Entah bagaimana kehidupan di sana sekarang.
Buku tentang kisah-kisah masa kecil seperti ini sudah jarang kutemukan. Padahal buku seperti ini sangat inspiratif. Sungguh senang melihat anak-anak berlari-lari dan berenang-renang, daripada anak-anak jaman sekarang yang terpaku di depan layar TV.
Satu hal yang agak mengganggu adalah latar tahun yang tidak konsisten. Misalnya disebutkan tahun 1939, Maria berumur 13 tahun (= lahir tahun 1926), sementara di tahun 1929 disebutkan dia berusia 5 tahun (= lahir 1924). Yah baiklah, ini terlalu detail. Bahkan nenekku tidak tahu tahun berapa beliau lahir :P
Sudah lama saya tertarik mau baca buku ini karena menceritakan tentang kehidupan orang Indonesia di Sambu, salah satu pulau terdepan negeri ini di Kepulauan Riau, di mana masyarakatnya dimudahkan secara geografis kalau mau ke Singapura. Akibatnya rasa cinta Indonesia bakal tererosi. Ternyata di buku ini, masyarakat Sambu memang agak2 asing dengan Indonesia (di antaranya diceritakan lewat fragmen orang2 tua karyawan PT. Shell tidak bisa lagu "Indonesia Raya" dan lagu2 nasional lain, yang bisa hanya anak2 yang masih sekolah), namun di sisi lain mereka masih merasa sebagai turunan orang Jawa :).
Tapi awal cerita yang tidak jelas latar waktunya, juga bagian penutupnya yang menurut saya dibuat terburu2 agar cerita segera selesai, membuat saya mengurangi penilaian saya. Mmm... akhirnya saya kasih buku ini 2,75 bintang, sih, karena saya bisa memahami betapa terpencilnya masyarakat di pulau2 terdepan kita yang jarang ditengok oleh pemerintah dan kita semua yang tanpa sadar tinggal nyaman di dalam lindungan keterasingan mereka...
Saya membeli buku ini karena memang saya memiliki ketertarikan khusus pada kisah-kisah anak-anak di luar pulau Jawa. Semenjak Laskar Pelangi sukses di pasaran, tak dapat dipungkiri, kisah anak-anak di luar pulau Jawa menjadi marak bak jamur tumbuh di musim hujan. Kehidupan di Sambu, salah satu pulau di Kepulauan Riau memang layak untuk diangkat menjadi cerita. Namun sangat disayangkan, ending cerita yang menggantung membuat pembaca seperti saya sedikit kecewa dengan kisah dalam novel ini.
Waktu pertama lihat buku ini hal pertama yg g pikirkan yaitu "Pulau Sambu itu dimana sih?". Secara g emang agak buta sama geografi :) tapi pengen jadi jadi traveller. Ceritanya menarik & sedikit bikin iri karena mereka bisa dengan mudah nyeberang ke Singapore & Malaysia.
akhirnya tamat juga,,setelah berbulan" terbengkalai. tertarik karena ada nama pulau tak dikenal, dan ternyata kisahnya berputar sekitar kehidupan seorang perempuan sebagai kakak tertua dan tanggung jawabnya trhdp adik"nya.