Wah, kamu menyelesaikannya. Kerja bagus. Sekarang kerjakan skripsimu. Saya mulai baca buku ini kira-kira bulan Februari 2020. Bertahan hingga pertengahan Bab 3. Lalu capek. Energi yang terkuras begitu besar, dan saking bodohnya saya, saya susah paham. Saya berhenti. Di awal 2021, saya mulai baca dari awal. Saya ringkas tiap babnya. Akhirnya, buku ini berhasil tamat dengan total 6 halaman ringkasan di binder saya.
Bagian Pendahuluan "Ekonomi Politik Perubahan Agraria", ada pengantar ringkas mengenai kapitalisme, pengertian petani subsistensi, dan lain-lain secara garis besar. Bab-bab setelahnya masih sering merujuk bagian ini. Di sini, saya menemukan pernyataan bahwasanya periodisasi sejarah memunculkan bahaya yang dapat mengaburkan kompleksitas akibat adanya keterputusan, dan saya pikir ini sangat penting untuk terus diingatkan.
Bab I "Produksi dan Produktivitas" memberikan perspektif yang saya suka luput kalau membayangkan kerja-kerja petani. Pada aspek-aspek mana ada produksi maupun reproduksi. Saya belajar soal "pekerja kolektif"-nya Marx kalau "keseluruhan lebih besar dari penjumlahan bagian-bagiannya". Lalu soal tingkatan kategori dalam masyarakat, yakni masyarakat subsisten, masyarakat agraris, dan kapitalisme, yang secara berurutan punya kedekatan pada surplus, eksploitasi, dan akumulasi.
Catatan ringkasan Bab II "Asal Mula dan Perkembangan Awal Kapitalisme" adalah yang terpanjang. Di sini saya dikenalkan istilah "paksaan samar dari kekuatan-kekuatan ekonomi", yang akan dielaborasikan lebih lanjut di bab ini maupun bab-bab kemudian, dan makin lama saya menyadari betapa besar dampak paksaan samar itu pada para petani. Revolusi Industri dibahas di sini, tentu, tapi ada bahasan negara-negara lain yang baru bagi saya. (Bahkan, saya dibuat sadar bahwa transisi ke kapitalisme dari jalur Inggris itu justru disebut pengecualian!) Lalu, ada empat rezim akumulasi, yakni Genoa-Iberia, Belanda, Inggris, dan Amerika, yang bisa "berurutan" dan menarik sekali bagi saya.
Bab III "Kolonialisme dan Kapitalisme" masihlah sejarah yang merunut dari feodalisme hingga imperialisme modern, bagaimana kapitalisme sebagai sistem berkembang di sana, disertai dengan perubahan agraria berikut para tenaga kerjanya pula. Ada pula soal "paksaan samar dari kekuatan ekonomi" yang saya sebut sebelumnya, bahwasanya inilah metode pengganti kekerasan dalam kekuasaan yang diterapkan pada negara-negara merdeka di Asia Afrika. Oh ya, dan strategi yang ampuh dalam kolonialisme tentu adalah berkomplot dengan struktur kekuasaan lama. Dengan inilah mereka bisa membentuk ekonomi kolonial.
Istilah usaha tani 'farming' dan budidaya pertanian 'agriculture' dimunculkan di Bab IV "Usaha Tani dan Budidaya Pertanian, Lokal dan Global". Selain definisi keduanya, ada pembahasan ringkas mengenai Rezim Pangan Internasional Pertama dan Kedua, lalu kebijakan-kebijakan dalam perdangangan global yang berubah-ubah mengikuti perubahan dunia, baik perang maupun momen pembangunan.
Selanjutnya, Bab V "Globalisasi Neoliberal dan Pertanian Dunia" mulai memasuki topik persaingan internasional dan masalah-masalah yang muncul, seperti tipisnya kendali negara dan ditinggalkannya pembangunan pasar domestik karena lebih memilih impor. Perspektif petani skala kecil terhadap sistem dunia yang dijabarkan di Bab 5 dibahas dalam Bab VI "Pertanian Kapitalis dan Petani Nonkapitalis?" bahwa mereka mengeksploitasi diri sendiri dengan menanggung risiko selama proses produksi.
Sekalipun sudah disinggung sebelumnya, baru Bab VII "Pembentukan Kelas di Pedesaan" dan Bab VIII "Kompleksitas Kelas" yang membahas kelas. Bahwa ada diferensiasi kelas sekalipun itu "sama-sama petani". Bahkan ada pertarungan kelas di pedesaan, misalnya mengenai golongan tua-muda atau laki-perempuan. Tapi buku ini melantangkan ambisi membentuk satu kelas tunggal, yakni perlawanan agraria global, sebagai tandingan globalisasi neoliberal dan objek eksploitasi kapital korporat. Semangat itu tersampaikan kepada saya.
Membacanya begitu berat, tapi lama-lama mudah dipahami. Sepertinya punya masalah terjemahan, tapi ini sudah disinggung juga pada bagian Prakata Penerjemah. Sebagai pembaca yang suka kasih highlight ke perincian, saya pernah menemukan poin-poin yang dinarasikan, dimulai dari kata "Pertama" yang dicetak miring, tapi disambung dengan "Selanjutnya" atau "lalu". Jadinya malah tidak ada kata "Kedua, Ketiga" dst bercetak miring yang mengikuti "Pertama" tadi.
Tapi, terima kasih untuk buku ini. Saya belajar banyak.