Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, 9 Maret 1971. Ia lahir pada sebuah keluarga sederhana petani kelapa.
Saat bersekolah di SMAN 2 Balikpapan, ia nyambi jadi kartunis lepas di Surat Kabar Manuntung (Sekarang Kaltim Post). Lalu diundang lewat jalur PMDK di IPB, dan kuliah sambil diam-diam terus mencintai puisi.
Setelah berupaya memberdayakan ijazah sarjana di beberapa perusahaan, ia akhirnya kembali ke dunia tulis menulis. Saat ini ia adalah Direktur Utama Batam Pos. Di kota ini menjalani hidup bersama Dhiana (yang disapanya Na') dan Shiela dan Ikra (yang memanggilnya Abah).
Beberapa puisinya pernah terbit di Jawa Pos (Surabaya), Riau Pos (Pekanbaru), Batam Pos (Batam), Sagang 2000 (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 200) Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (YMS, Jakarta 2002), dan Dian Sastro for President 2 #Reloaded (AKY, Yogyakarta, 2003). Puisi Huruf-huruf Hattaterpilih sebagai salah satu dari 10 puisi terbaik lomba puisi 100 Tahun Bung Hatta (KPSP, Padang, 2002), dan Les Cyberletress (YMS, 2005). Hasan Aspahani juga menjadi kartunis post metro yakni sebuah kartun strip komik dengan tokoh utama "si Jeko" tukang ojek dengan kelucuannya.
Buku ini saya dapatkan sebagai bonus dari Bang Hasan sendiri. Saya senang melihat perbedaan gaya menulis seorang penyair dari karya lama dan karya terbarunya. Terlepas dari perbedaan itu, puisi Bang Hasan selalu dekat dengan politik. Mungkin karena beliau sempat bekerja sebagai wartawan.
Buku ini makin ke belakang makin keren isinya. Tidak sabar membaca karya beliau selanjutnya.
"Bila lelaku filsafat berhasrat hendak berlabuh pada sebuah totalitas kebenaran, puisi justru tekun menggali lubang-lubang kemungkinan." (Damhuri Muhammad) Yang saya kagumi dari sajak-sajak Hasan Aspahani adalah kepekaannya menggubah tema-tema sederhana menjadi sajak yang luar biasa. Pun, dari kedua buku sajak Aspahani yang telah saya baca (Telimpuh dan Luka Mata) serta sajak-sajak di blog-nya, saya menemukan sajak yang tak lagi ke-aku-an. Si aku lebih banyak membidik fenomena-fenomena di sekitar, mengolahnya di dalam, lalu dikeluarkan sebagai kegelisahan yang bisa dipahami banyak orang. Mungkin itu sebabnya mengapa makna yang ingin disampaikan penulis bisa begitu saja "ditelan" tanpa harus banyak mengerutkan kening atau adegan buku dibanting. Permainan olah frasa dan metafora serta analogi sederhana seakan menjadi trade mark sajak-sajak Aspahani. Inilah pula yang menjadi kelebihan sajak-sajaknya jika dibandingkan dengan para penyair lain yang selalu bergairah untuk membuat sajak yang dirumit-rumitkan. Sayangnya saya tidak begitu suka dengan sampul buku ini karena agak susah menikmati keterhubungan antara mata perempuan berwarna hijau (atau toska?) dengan isi sajak-sajak di dalamnya.
Buku ini sebenarnya lara dapat gratis dari abang Hasan sendiri. Keberhasilan dari kerja rahsia, (berkaitan puisi sudah pasti) lalu diberinya lara buku ini. Himpunan puisi yang kebanyakan pernah lara baca di Sejuta Puisi. Tapi hey, ini Hasan Aspahani! Membaca di blog tentulah tak sama dengan membaca di lembar kertas yang jika mau, boleh lara peluk ciumnya. Satu benda yang pasti lara tak akan pernah jemu membacanya. Puisinya magis. Kata2 mantera yang bisa buat lara sasau, nangis dan ketawa sendiri. Nahh lara boleh jamin selagi hayat dikandung badan, buku ini lara telaah sampai seratus kali pun tak lara kisah. Kalau O, Amuk, Kapak oleh Sutardji jadi "bapak" ilham abang Hasan, Telimpuh ini "bapak" inspirasi lara.
Antara buku puisi kegemaran saya tahun ini. Kata-katanya membuat saya merenung kembali kenapa harus menulis dan bagaimana ingin menulis sebagus ini. Lukamata harus dimiliki oleh sesiapapun yang mencintai puisi.