Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Setelah lulus dari SMA di tahun 1956, Dini berangkat ke Jakarta. Melalui beberapa tes kesehatan, bahasa dan pengetahuan umum, akhirnya dia diterima oleh Bagian Pendidikan Garuda Indonesia Airways untuk mengikuti masa training sebagai ground hostes reserved flight (pramugari darat-cadangan terbang). Selesai menjalani kursus dan latihan-latihan, Dini bekerja di Bandar Udara Kemayoran.

Sambil bekerja, dia mengikuti kursus bahasa Prancis dan B-1 Sejarah guna menambah pengetahuan. Dia juga melanjutkan kegiatan menulis yang sudah dimulainya sejak masih duduk di bangku SMP.

Pengalamannya di tempat bekerja dan dalam pergaulan mempertajam asahan moral serta perilaku yang diajarkan orangtuanya di bidang pengenalan terhadap manusia dengan berbagai masalahnya. Pengetahuannya yang luas ditunjang ditunjang kemampuannya berbahasa Inggris dan Prancis membuatnya luwes bergaul dengan orang-orang dari berbagai bangsa yang datang atau singgah di Kemayoran. Di antara tamu-tamu / penumpang tokoh nasional yang pernah dilayani Dini terdapat nama Bung Karno, ketika Presiden RI pertama itu melaksanakan perjalanan bersama Worosilov, pemimpin Uni Soviet di kala itu.

Dan pertemuan penting lain yang akhirnya mengambil tempat dalam sejarah hidup pribadi Dini ialah Yves Coffin, seorang diplomat berkebangsaan Prancis.

310 pages, Paperback

First published January 1, 2000

8 people are currently reading
149 people want to read

About the author

Nh. Dini

51 books237 followers
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.

Bibliography:
* Padang Ilalang di Belakang Rumah
* Dari Parangakik ke Kampuchea
* Sebuah Lorong di Kotaku
* Jepun Negerinya Hiroko
* Langit dan Bumi Sahabat Kami
* Namaku Hiroko
* Tirai Menurun
* Pertemuan Dua Hati
* Sekayu
* Pada Sebuah Kapal
* Kemayoran
* Keberangkatan
* Kuncup Berseri
* Dari Fontenay Ke Magallianes
* La Grande Borne

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (18%)
4 stars
57 (31%)
3 stars
79 (43%)
2 stars
13 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
October 22, 2009
Menceritakan kehidupan sehari-hari dengan ringan- seperti biasa-namun tetap menarik. Utk pergaulan pada masa itu, menurut cerita ibu guwe nih...,pergaulan ma din cukup "berani" pd zamannya...Keputusan utk memilih Yves ternyata tdk berdasarkan pertimbangan yg matang,ironi dr penuturan penulis sendiri yg menyatakan selalu memutuskan sesuatu berdsrkan perencanaan....pandangan org2 sekitar memang tak dpt dipungkiri sedikit byk mempengaruhi pengambilan keputusan...Aku baca buku Nh Dini tdk berurutan, malah baca yg terakhir duluan "Argenteuil" yg berisi perceraian mrk.Jd penasaran bgm pertemuan mrk..
Profile Image for Rei.
366 reviews42 followers
October 20, 2018
#finishedreading Kemayoran oleh Nh. Dini.
.
.
.
Buku keenam dari #serikenangannhdini ini bercerita tentang kehidupan Dini setelah ia lulus dari SMA Sastra. Setelah melalui berbagai tes, Dini diterima di Garuda Indonesia Airlines (GIA, as in my name 😋) sebagai ground hostess dan bekerja di Bandar Udara Kemayoran. Buku ini bercerita seputar kehidupan Dini saat menjadi petugas bandara, bertemu dengan kawan-kawan baru dari berbagai negara. Dini juga mengambil kursus Bahasa Prancis dan kuliah jurusan Sejarah, semua semata-mata untuk memperluas wawasannya. Di sini jugalah Dini bertemu dengan Yves Coffin, seorang diplomat Prancis yang kelak menjadi suaminya.
.
.
.
Sekali lagi saya merasa iri kepada Dini. Walau ia ternyata bukanlah pramugari pesawat melainkan ground hostess, petugas yang melayani penumpang di bandara, ia bisa tetap bertemu dengan banyak orang dengan berbagai perangai dan latar belakang mereka. Semua hal yang berkesan baginya mudah saja ia tuangkan ke dalam tulisan. Di buku ini juga bolehlah saya katakan Dini jadi sedikit narsis (😆!), diceritakan bahwa ia disukai teman-temannya dan didekati banyak pria, juga jadi kesayangan atasannya yang seorang Belanda. Yang bagi saya sah-sah saja, siapa yang tidak akan terpikat kepada gadis intelek macam Dini, yang melek budaya dan literasi.
.
.
.
Yang agak mengecewakan adalah kisahnya saat bertemu dengan Yves Coffin
Saya kira akan menemukan kisah romantis tentang debar menghanyutkan cinta pertama. Tetapi sikap Dini yang selalu penuh perhitungan membuat saya yakin kalau ia sebetulnya tidak jatuh cinta.
.
.
.
"Kawin dengan orang Jawa saja, Nduk, Jawa Tengah. Aku tidak setuju kalau kamu menjadi gundik Belanda."- hal
286. Kata ibunda Dini saat mengetahui rencana pernikahannya dengan Yves Coffin dan terus terang membuat saya ngakak.
.
.
.
18-20 Oktober untuk @gerakan_1week1book #gerakanoneweekonebook #gerakan_1week1book dan @bibliobibuli.id #BOMC2018 📖
.
.
.
.
#reipamerbuku #ReviewByRei #bibliophile #bookstagram #unitedbookstagram #bookstagramindonesia @bookstagramindonesia #bookish_indonesia #rabook #booktographyid #gramediadotcom #indramayumembaca #MembacaIndonesia #nhdini #kemayoran
Profile Image for Irkham Nurhadi.
9 reviews
April 20, 2020
Cerita seri kenangan Nh Dini kali ini menggambarkan pemikiran Beliau yang menurut saya termasuk "radikal". Di zaman itu perempuan mungkin diidentikkan selalu menjadi sosok yang berada di dapur dan kasur, dan Dini malah dengan berani pergi ke Jakarta menjadi ground hostess di GIA, bergaul luwes dengan teman laki-lakinya hingga akhirnya memutuskan memilih Yves Coffin sebagai calon suaminya dengan cerita keintimannya yang dituliskan di bagian akhir buku.

Membaca seri kenangan Nh Dini merupakan kesenangan tersendiri karena bahasanya yang mengalir dan tidak terasa pembaca dibawa dari satu peristiwa ke peristiwa lain dengan nyaman.

Profile Image for Adita Mubarika.
30 reviews
January 8, 2019
Membaca karya NH Dini membuka mata saya tentang kehidupan di Indonesia tahun limapuluhan. Cukup menarik mengingat kita bisa melihat kejadian sehari-hari dari kacamata NH Dini semasa menjadi ground hostess di GIA. Pekerjaan tersebut membuatnya bertemu banyak orang, dan dinamikanya menarik untuk diikuti. Karakternya yang independen dan pandangannya, yang menurut saya cukup visioner, menambah warna di buku ini. Penceritaannya cukup detail dan runtut. Buku ini membuat saya tergerak untuk membaca seri Kenangan yang lain dari NH Dini.
Profile Image for Thomas Utomo.
Author 7 books5 followers
October 4, 2013
Memoar Seorang Pramugari

Judul : Kemayoran
Pengarang : Nh. Dini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ketiga, September 2009
Tebal : viii+312 halaman
ISBN : 978-979-22-4962-0
Harga : Rp 45.000
Peresensi : Thomas Utomo

Selepas dari bangku SMA Bagian A atau Sastra di ujung tahun 1956, Nh. Dini mendaftarkan diri sebagai pramugari di Garuda Indonesian Airways (GIA); sebuah maskapai penerbangan pertama milik Indonesia. Setelah melalui tes tertulis dan lisan, kemudian tes kesehatan, Dini—demikian pengarang biasa dipanggil—akhirnya diterima oleh Bagian Pendidikan GIA untuk mengikuti masa training sebagai pramugari. Tujuan Dini memilih bekerja menjadi pramugari selain karena tidak ingin lagi membebani ibunya; seorang janda tanpa pensiun, ialah juga karena Dini ingin semakin menggosok keterampilannya berbahasa Inggris. Di Bandar Udara Kemayoran, bahasa tersebut sudah pasti digunakan untuk berkomunikasi dengan penumpang berkebangsaan asing. Di sisi lain, Dini juga bermaksud mencari uang sambil terus menulis; kegiatan yang ditekuninya sejak kelas I SMP (halaman 5-6).
Di luar aktivitas kerja, Dini juga mengikuti kuliah B-1 Bagian Sejarah dan kursus bahasa Prancis. Sebetulnya, B-1 Bagian Sejarah dimaksudkan untuk mendidik calon guru Sekolah Menengah, merupakan jalan pintas yang ditempuh pemerintah guna mencukupi kebutuhan guru yang mendesak. Dini mengikuti kuliah tersebut bukan karena berharap bisa mengajar, melainkan karena dirinya memang amat menyukai sejarah. Di samping itu, kursus bahasa Prancis sengaja Dini ikuti dengan maksud agar pada suatu waktu kelak dia dapat menikmati sastra Prancis dalam bahasa aslinya (halaman 21).
Sementara itu, roda pemerintahan Republik Indonesia yang baru berumur belasan tahun, semakin lama justru menjurus ke arah kiri atau komunis. Presiden nyata-nyata berkasih-mesra dengan golongan Partai Komunis Indonesia (PKI). Di antaranya dengan membuat gebrakan Manifesto Politik (Manipol) sebagai arah sikap negara. Dengan itu, PKI yang memiliki kebebasan lebih longgar, secara berangsur-angsur menduduki tempat dan posisi-posisi penting sebagai persiapan guna merebut kekuasaan. Di saat yang sama, dicetuskan pula pendidikan Nasakom, singkatan dari Nasionalis, Agama, dan Komunis. Terjadilah kontradiksi yang mencolok: PKI mendorong-dorong presiden untuk menjadi penguasa mutlak atau diktator, dan di saat yang sama PKI juga mengobarkan semangat ketidakpuasan di kalangan rakyat jelata. Orang-orang bodoh dan kurang pendidikan dihasut supaya mendendam kepada presiden. Sehingga kemudian terjadi upaya pembunuhan presiden lewat sejumlah peledakan bom di lokasi kunjungan presiden. Pada periode ini, Pramoedya Ananta Toer sebagai penggerak utama Lekra atau Lembara Kebudayaan Rakyat milik PKI memprovokasi massa untuk mengganyang nama-nama besar seperti Sutan Takdir Alisjahbana, HB Jassin, dan Hamka. Sejumlah media berpengaruh juga dibredel karena dianggap sebagai antek nekolim yang tidak pro-rakyat. Disusul pembubaran sejumlah parpol yang memiliki haluan berseberangan dengan PKI.
Kenyataan tersebut membuat nama Indonesia tercela di mata dunia Barat. Lebih-lebih saat Indonesia menerima kunjungan Kamerad Worosilov, pemimpin Uni Soviet kala itu. Dalam hal ini, Indonesia turut “menyetujui” agresi Soviet ke negara-negara kecil di Eropa Barat yang kemudian menyebabkan eksodus besar-besaran ke seantero penjuru dunia. Bahkan tidak sedikit pengungsi dari Eropa Barat yang transit di Bandar Udara Kemayoran sebelum melanjutkan pelariannya ke negara baru. Tatkala “tamu agung” dari Soviet itu bertandang ke Indonesia, Dini turut menyambut di Bandar Udara Surabaya dan Denpasar dengan kapasitasnya sebagai pramugari.
Kejadian ini kemudian mengilhami Dini untuk menulis cerpen berjudul Keluar Tanah Air yang kemudian dimuat di majalah Mimbar Indonesia, dan pada akhirnya turut dibukukan dalam kumpulan cerpen Segi dan Garis terbitan Pustaka Dunia Jaya tahun 1984.
Di luar silang-sengkarut kehidupan sosial-politik Indonesia pada paruh kedua tahun 50-an, buku Kemayoran juga memaparkan perihal perkenalan Dini dengan Yves Coffin, seorang diplomat Prancis yang amat menggilai kebudayaan Jawa, seperti gamelan dan wayang wong. Dengan Yves Coffin inilah Dini kemudian bersepakat membangun rumah tangga.
Membaca buku ini akan mengayakan pembaca dengan berbagai informasi berguna yang jauh dari kesan menggurui. Selamat membaca buku menarik ini!

Ledug, 5 Mei 2013

*Thomas Utomo bekerja sebagai guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Menjadi kontributor buku Creative Writing (STAIN Press, 2013) lewat cerpen Ayahku Seekor Ular dan resensi Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba. Telepon 085747268227. E-mail totokutomo@ymail.com.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews360 followers
June 1, 2014
** books 134 - 2014 **

novel ini menceritakan kisah perjalanan ibu Dini yang lulus SMA di tahun 50an dan mendaftar sebagai pramugari GIA.. beliau mendapat kesempatan menjadi Ground hostess reserved flight (pramugari darat-cadangan terbang) di bandara Kemayoran saat itu.

Terlihat sekali di jaman itu meski Indonesia sudah merdeka posisi perempuan masih berada di bawah lelaki dan masih banyaknya diskriminasi pada perempuan saat itu..

pernah beberapa teman perempuan memberanikan diri, dengan sopan meminta pria2 itu pindah duduk di belakang. tapi orang2 itu menjawab seenaknya, bahwa karena mereka dijemput lebih dulu, maka tempat duduk di depan itu hak mereka. jarang ada pegawai lelaki yg bersifat dermawan, sukarela mengalah lalu turun memberikan tempatnya di samping pengemudi kepada kami.. halaman 17

Di tahun lima puluhan, masih amat sedikit istri2 yang bekerja di luar rumah. dan jika istri bekerja, pada umumnya mereka menjabat sebagai guru, perawat atau tugas2 yg berkaitan erat dengan kewanitaan. perkataan kodrat acap kali disalahtafsirkan. orang sering menyebutkan bahwa kodrat wanita adakah tinggal dirumah, memasak dan memelihara anak. maka seorang wanita berumah tangga yang menjadi penjahit dirumahnya sendiri merupakan wanita ideal, karena bekerja sambil menunggui rumah dan anak-anaknya.. halaman 221

Disini saya melihat sosok ibu Dini yang mandiri, teguh pendirian dan keras hatinya.. di usia belia sudah bertanggung jawab menafkahi dirinya dan keluarganya sendiri, tidak ingin merepotkan orang lain, berwawasan luas dan masih sempat untuk berkuliah B-1 Sejarah dan kursus bahasa prancis di jadwal yg padat. time managementnya itu yg perlu kita tiru..

Selama berkarir, ada beberapa lelaki yg cukup dekat dengan Ibu Dini.. namun ibu Dini memutuskan pilihannya kepada Yves Coffin, seorang diplomat berkebangsaan prancis.. di awal2 sih terlihat Yves seorang pemuda yg baik, ramah, dan cerdas namun di akhir2 buku ini terlihat juga bahwa Yves seorang yg tidak sabaran, sering mengumpat dan menyumpah.. rasanya saya bisa menebak ini salah satu hal yg membuat pernikahan mereka kandas di buku2 berikutnya..

saya berikan 3,7 dari 5 bintang untuk buku ini :)
Profile Image for Agung.
48 reviews9 followers
December 28, 2010
Ternyata buku ini termasuk serial cerita kenangan dari kehidupan nyata Nh. Dini. Auto-Biografi bersambung! Ada yang tau judul lanjutannya apa? Karena diakhir, cerita begitu menggantung.

Buku ini mengisahkan tentang seorang perempuan muda yang bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) sebagai Ground Hostess di pertengahan tahun 50-an. Perempuan ini begitu hebat menurutku, karena setelah lulus SMA dia tak ingin menyusahkan orangtua maupun keluarganya. Dia memilih untuk bekerja sambil kuliah dengan biayanya sendiri. Selain itu dia juga memiliki hobi membaca dan menulis. Tulisannya itu bahkan sudah sering menghiasi media masa nasional kala itu. Buku ini sayang untuk dilewatkan, selain cerita yang bagus ada nilai sejarah juga dalam buku ini, karena memang ditulis berdasarkan kehidupan nyata dari sang penulis.
1 review1 follower
Read
December 7, 2012
Bukan saya ingin menyudutkan buku ini. Tapi entah kenapa cara menceritakan ceritanya terlalu menonjolkan si pemeran utama, seolah tidak ada kekurangan. Rasanya kurang manusiawi. Terlalu sombong dan angkuh dalam menceritakan si pemeran utama. Itu adalah kekurangannya.

Sedangkan kelebihannya, penulis sangat nyata terlihat berwawasan luas untuk wanita yang hidup dijaman itu. Informasi-informasi yang diberikanpun bagus dan saya yakin beberapa informasi itu fakta-sejarah indonesia-dan benar adanya. Selain itu saya suka dengan Nh. Dini yang menyusupkan kedidupan jawa serta kebiasaan adat istiadat jawa.

Mungkin itu hanya sudut pandang saya sebagai seorang pembaca pemula untuk buku karya Indonesia.
Profile Image for Mutia.
36 reviews2 followers
September 24, 2018
Buku-bukunya Nh. Dini adalah salah satu favorit saya, terutama seri cerita kenangan masa kecil sampai periode dewasa-namun-belum-menikah. Buku ini bercerita tentang pengalaman Nh. Dini sewaktu menjadi pramugari di GIA (Garuda jaman dulu), bandaranya masih di Kemayoran, belum Soekarno Hatta, ha ha... Jadi ngebayangin jakarta tempo dulu sih.

Seri kenangan setelah beliau menikah saya kurang suka sih, soalnya isinya tentang suami diplomat perancisnya yang menyebalkan dan kehidupan pernikahan yang tidak bahagia. I guess its just not my cup of tea.
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
May 29, 2007
Di buku ini Bu Dini mengisahkan masa-masa dia mulai "berkawan" dengan pria-pria asing, aheeem. Tapi akhirnya Bu Dini memilih Pak Yves yang kelak di kemudian hari sering disebutnya sebagai "laki2 pilihanku sendiri itu" sebuah ungkapan yang menurutku mengandung nada penyesalan dari Bu Dini. Seperti ini: "memang laki2 pilihanku sendiri, tapi kok kelakuannya seperti itu".
Profile Image for Echa.
48 reviews2 followers
September 8, 2012
Bercerita ttg Nh. Dini yg mulai dewasa dan mandiri. Memulai perjuangan hidup dgn kos di Jakarta dan bekerja sbg pramugari Garuda. Menceritakan kisah pertemuan dgn mantan suaminya yg adalah diplomat perancis di Indonesia. Dibuku ini kesan yg didapat ttg suami Nh. Dini adalah seorang pria yg cinta indonesia...

Profile Image for Truly.
2,766 reviews13 followers
September 22, 2024
Sebaiknya kita dicintai lebih dahulu daripada mencintai. Bila kita mendahului mencintai, sering kali kita tidak bersambut. Lalu kita kemewahan, sakit hati, Bahkan bisa-bisa mati merana (hal 278).

Uraian di halaman 279 dan seterusnya membuat saya paham betapa kecewanya Dini pada pernikahannya. Kehidupan memang selalu penuh dengan hal-hal yang unik
Profile Image for Indigo Deville.
38 reviews3 followers
August 14, 2007
Mungkin ini satu-satunya buku NH Dini yg pernah gue beli dan baca. Setelah melihat tulisannya dalam buku ini, kyknyague ga gitu cocok yah.

Terlalu 'perempuan' dan mengulas detil-detil yg menurut gue ga penting.
Profile Image for A. Moses Levitt.
193 reviews16 followers
December 2, 2009
Anehnya gw cuma ingat tentang lapangan terbang itu dan suami bernama Yves/Yvez Covin. Dan kalau tidak salah ada cerita malam pertama dan termos air panas?...Dini memang suka blak2an membicarakan dirinya...anak yg punya ibu sprti itu pasti bangga sekali.
Profile Image for Ashree Wiweko.
16 reviews3 followers
July 3, 2011
Seperti gaya Nh. Dini yang unik menceritakan kehidupan pribadinya dalam bentuk fiksi. Gaya tulisan ini yang jarang ditemukan pada masa sekarang. Unik, banyak pembelajaran, tanpa ada beban pembaca merasa digurui. Satu bagian plot tentang hubungan seksual sebelum menikah tak malu ditulisnya.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.