Memoar Seorang Pramugari
Judul : Kemayoran
Pengarang : Nh. Dini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ketiga, September 2009
Tebal : viii+312 halaman
ISBN : 978-979-22-4962-0
Harga : Rp 45.000
Peresensi : Thomas Utomo
Selepas dari bangku SMA Bagian A atau Sastra di ujung tahun 1956, Nh. Dini mendaftarkan diri sebagai pramugari di Garuda Indonesian Airways (GIA); sebuah maskapai penerbangan pertama milik Indonesia. Setelah melalui tes tertulis dan lisan, kemudian tes kesehatan, Dini—demikian pengarang biasa dipanggil—akhirnya diterima oleh Bagian Pendidikan GIA untuk mengikuti masa training sebagai pramugari. Tujuan Dini memilih bekerja menjadi pramugari selain karena tidak ingin lagi membebani ibunya; seorang janda tanpa pensiun, ialah juga karena Dini ingin semakin menggosok keterampilannya berbahasa Inggris. Di Bandar Udara Kemayoran, bahasa tersebut sudah pasti digunakan untuk berkomunikasi dengan penumpang berkebangsaan asing. Di sisi lain, Dini juga bermaksud mencari uang sambil terus menulis; kegiatan yang ditekuninya sejak kelas I SMP (halaman 5-6).
Di luar aktivitas kerja, Dini juga mengikuti kuliah B-1 Bagian Sejarah dan kursus bahasa Prancis. Sebetulnya, B-1 Bagian Sejarah dimaksudkan untuk mendidik calon guru Sekolah Menengah, merupakan jalan pintas yang ditempuh pemerintah guna mencukupi kebutuhan guru yang mendesak. Dini mengikuti kuliah tersebut bukan karena berharap bisa mengajar, melainkan karena dirinya memang amat menyukai sejarah. Di samping itu, kursus bahasa Prancis sengaja Dini ikuti dengan maksud agar pada suatu waktu kelak dia dapat menikmati sastra Prancis dalam bahasa aslinya (halaman 21).
Sementara itu, roda pemerintahan Republik Indonesia yang baru berumur belasan tahun, semakin lama justru menjurus ke arah kiri atau komunis. Presiden nyata-nyata berkasih-mesra dengan golongan Partai Komunis Indonesia (PKI). Di antaranya dengan membuat gebrakan Manifesto Politik (Manipol) sebagai arah sikap negara. Dengan itu, PKI yang memiliki kebebasan lebih longgar, secara berangsur-angsur menduduki tempat dan posisi-posisi penting sebagai persiapan guna merebut kekuasaan. Di saat yang sama, dicetuskan pula pendidikan Nasakom, singkatan dari Nasionalis, Agama, dan Komunis. Terjadilah kontradiksi yang mencolok: PKI mendorong-dorong presiden untuk menjadi penguasa mutlak atau diktator, dan di saat yang sama PKI juga mengobarkan semangat ketidakpuasan di kalangan rakyat jelata. Orang-orang bodoh dan kurang pendidikan dihasut supaya mendendam kepada presiden. Sehingga kemudian terjadi upaya pembunuhan presiden lewat sejumlah peledakan bom di lokasi kunjungan presiden. Pada periode ini, Pramoedya Ananta Toer sebagai penggerak utama Lekra atau Lembara Kebudayaan Rakyat milik PKI memprovokasi massa untuk mengganyang nama-nama besar seperti Sutan Takdir Alisjahbana, HB Jassin, dan Hamka. Sejumlah media berpengaruh juga dibredel karena dianggap sebagai antek nekolim yang tidak pro-rakyat. Disusul pembubaran sejumlah parpol yang memiliki haluan berseberangan dengan PKI.
Kenyataan tersebut membuat nama Indonesia tercela di mata dunia Barat. Lebih-lebih saat Indonesia menerima kunjungan Kamerad Worosilov, pemimpin Uni Soviet kala itu. Dalam hal ini, Indonesia turut “menyetujui” agresi Soviet ke negara-negara kecil di Eropa Barat yang kemudian menyebabkan eksodus besar-besaran ke seantero penjuru dunia. Bahkan tidak sedikit pengungsi dari Eropa Barat yang transit di Bandar Udara Kemayoran sebelum melanjutkan pelariannya ke negara baru. Tatkala “tamu agung” dari Soviet itu bertandang ke Indonesia, Dini turut menyambut di Bandar Udara Surabaya dan Denpasar dengan kapasitasnya sebagai pramugari.
Kejadian ini kemudian mengilhami Dini untuk menulis cerpen berjudul Keluar Tanah Air yang kemudian dimuat di majalah Mimbar Indonesia, dan pada akhirnya turut dibukukan dalam kumpulan cerpen Segi dan Garis terbitan Pustaka Dunia Jaya tahun 1984.
Di luar silang-sengkarut kehidupan sosial-politik Indonesia pada paruh kedua tahun 50-an, buku Kemayoran juga memaparkan perihal perkenalan Dini dengan Yves Coffin, seorang diplomat Prancis yang amat menggilai kebudayaan Jawa, seperti gamelan dan wayang wong. Dengan Yves Coffin inilah Dini kemudian bersepakat membangun rumah tangga.
Membaca buku ini akan mengayakan pembaca dengan berbagai informasi berguna yang jauh dari kesan menggurui. Selamat membaca buku menarik ini!
Ledug, 5 Mei 2013
*Thomas Utomo bekerja sebagai guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Menjadi kontributor buku Creative Writing (STAIN Press, 2013) lewat cerpen Ayahku Seekor Ular dan resensi Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba. Telepon 085747268227. E-mail totokutomo@ymail.com.