Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
kumpulan cerpen dalam buku ini banyak bersetting di indonesia. katanya, cerpen dua dunia ini adalah cerpen pertama dini yang dibuat wktu dia sma.. dan menang lomba.. cerpennya sendiri benar2 bagus..karena tema dan alur yang menarik...
Cerita-cerita dalam buku ini terasa seperti jendela kecil ke dalam pengalaman perempuan yang sunyi, tajam, tapi tidak kehilangan kelembutan. Setiap cerpen seperti menyisakan ruang bagi ku untuk berpikir sendiri, tanpa digurui. Aku suka bagaimana perasaan tertekan, marah, rindu, bahkan pasrah bisa muncul lewat hal-hal kecil: percakapan yang hambar, suasana rumah yang sepi, atau kehadiran orang asing. Gaya bahasanya tidak berlebihan, tapi justru karena itu terasa dalam.
Salah satu cerpen yang paling membekas buatku adalah Namanya, Larasati. Cerita ini tidak ribut, tapi punya kedalaman emosional yang kuat. Aku bisa merasakan betapa rapuhnya tokoh utama saat berusaha tegar, terutama ketika harus berdamai dengan situasi yang sebenarnya sangat menyakitkan. Ada semacam kesedihan diam-diam yang tidak meledak, tapi menggigit pelan. Cerita ini mengingatkanku bahwa kadang kita hidup dalam dua dunia dan perjuangan itu sering kali terjadi dalam diam. Pesan yang tersirat membuatku merenung tentang bagaimana perempuan seringkali harus menanggung beban emosional tanpa banyak orang tahu. Dari sini aku belajar banyak soal kekuatan tersembunyi dalam kesederhanaan hidup sehari-hari. Kalau kamu suka cerita yang personal dan penuh lapisan emosi tanpa harus terlalu eksplisit, cerpen ini dan keseluruhan kumpulan cerpen ini bisa banget jadi teman baca yang bikin hati ikut berdetak pelan, tapi dalam.
ini karya yang luar biasa, mengingat nh. dini menulisnya saat ia masih di bangku sma. tetapi, iya, mungkin karena faktor itu juga jadi ceritanya tidak terlalu menonjol. saya juga tidak tahu apa tema besar tertentu yang mengaitkan satu cerita ke cerita lain (kumpulan cerita biasanya tetap memiliki tema) . namun dari tujuh cerpen yang disajikan, saya pikir yang paling menarik adalah bab Pendurhaka.
Pendurhaka menarik karena ia tidak menjadikan tokoh utamanya berwatak baik dan berbudi, tapi tidak pula sebaliknya. bercerita tentang seorang anak perempuan yang kabur dari cengkeraman kakak laki-lakinya dan ibunya 'yang jahat'. sebenarnya realitas sosial seperti ini saya kira memang dialami kebanyakan orang di Indonesia, tidak partikuler di keluarga-keluarga kelas bawah saja. cerita ini mengungkapkan gimana kita harus berani mendahulukan kebahagiaan kita sebelum membahagiakan orang lain. saya suka karena cerita ini ditulis dengan amat realistis dan rebel. plus, bacaan ini buat saya lama-lama pengen jadi pendurhaka juga, hahahaha.
Karya Nh. Dini kali ini berisi 10 cerita pendek, 7 diantaranya ditulis oleh beliau di bangku SMA. Seperti ditulis di kata pengantar, kisah-kisah dalam buku ini semuanya merupakan hasil pengamatan Bu Dini sendiri terhadap kejadian-kejadian di kampungnya dan kehidupan para pemondok di rumahnya. Seperti biasa dituturkan dengan halus dan ringan, sekaligus memukau. Semasa SMA dulu, pemikiran saya hanya sebatas belajar, nongkrong dengan teman-teman, pacaran. Tetapi Bu Dini malah menulis tentang berbagai isu sosial; kawin paksa, perdagangan manusia, kehidupan kuli pelabuhan, pergaulan anak-anak liar. Saking menikmatinya, saya tidak memperhatikan judul-judul cerpennya. Mungkin tidak penting juga karena saya suka semuanya dan tidak perlu memilih satu yang favorit. Yang jelas, unsur favorit saya adalah bagaimana Bu Dini menggambarkan tokoh-tokoh wanitanya sebagai karakter yang telah menempuh pahit getirnya kehidupan untuk berpijak dengan kedua kakinya sendiri di atas budaya patriarki.
Di desanya terlalu banyak perempuan. Dan karena terlalu banyak itu ia jadi takut tidak laku, tak bisa menjadi seorang istri, tak punya anak yang bisa diberi kesuburan dadanya. Oleh ketakutan itulah maka dulu ia merasa megah berada dalam pelukan Marjo, yang berkata akan menikahinya. Dia lupa segalanya. Cuma rabaan tangan dan napas panas laki-laki yang menghangati tubuhnya yang dia ingat. Kini dia mau kuat. Terasa tertikam oleh kata Marjo yang menganggap dia sebagai perempuan-perempuan warung yang menjajakan kehormatan hanya untuk beberapa rupiah. Ia mau menunjukkan ketinggian martabatnya sebagai perempuan baik-baik kepada Marjo. - Perempuan Warung (halaman 63)