Apakah kesendirianku adalah aib, sementara kurasa justru Tuhan sendirilah yang memutuskan ini untukku?
Kuembuskan napas kuat-kuat sambil membujuk hatiku agar tidak keterusan menyalahkan Tuhan.
Tidak, Tuhan tak pernah bersalah untuk segala hal buruk yang terjadi dalam hidupku. Aku percaya Dia sungguh maha pengasih dan tahu persis apa yang terbaik bagi umatNya.
"Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini---baik atau buruk---pasti ada hikmahnya," kata Mas Erwin beberapa kali. Dulu sekali.
Baiklah, cinta...
Aku akan berusaha bersabar menunggu hikmah....
Sejak kehilangan lelaki yang dicintainya, selama beberapa waktu Alita tak pernah tertarik menjalin hubungan dengan lelaki mana pun. Alita merasa sudah cukup hidup dengan kenangan. Tapi, orang-orang terdekat Alita berusaha keras membuat pintu hati Alita kembali terbuka.
Akankah waktu mampu mengobati kepedihan Alita?
Akankah Alita bisa menemukan lelaki yang sanggup membuat dia sepenuhnya merelakan kenangan cinta pertamanya yang manis tapi tragis?
Bagaimana cara yang benar untuk menghapus bergulung-gulung kenangan pada sesosok terkasih yang telah menghadirkan sejuta bahagia pada kita? Apakah benar kita seharusnya melupakan sosok yang telah pergi meninggalkan kita? Sebenar-benarnya lupa?
Alita keukeuh memendam segala kenangan terindahnya akan sosok Erwin dalam hatinya. Menyimpannya rapat dan tak pernah berkeinginan memberikan kesempatan bagi sosok lain untuk menyelinap masuk ke bilik hatinya, menawarkan sejuta kenangan baru untuk menggantikan kenangan-kenangan indah namun usang itu. Sampai nasib mempertemukannya dengan laki-laki yang awalnya ia sangka berniat pedekate pada sahabat karibnya.
Entahlah, kapan segalanya bermula, yang jelas getar-getar aneh namun menyenangkan mulai sering mendera Alita setiap kali ia berdekatan dengan laki-laki itu. Ihwal kedekatannya pun bukan demi dirinya sendiri melainkan sebagai bantuan bagi kakak lelaki tersayangnya yang secara tak terduga membeberkan rahasia bahwa ia ada hati pada sahabat dekat Alita. Maka, dimulailah letupan-letupan cinta yang menyebar di antara masing-masing hati itu. Saling menduga. Saling menebak, hati siapa untuk siapa. Cinta siapa untuk siapa. Pencarian cinta hingga ke ujungnya adalah tema utama yang diusung Dewie Sekar dalam novel terbarunya bertajuk Alita@Heart yang merupakan lanjutan dari novel Alita@First yang terbit tahun 2010 lalu.
Saya begitu “tersihir” pada Alita@First sehingga begitu merampungkan-baca novel itu, dan mendapati kenyataan bahwa masih ada kelanjutan ceritanya, saya terus berharap agar sang penulis segera menulis dan menerbitkan lanjutannya. Syukurlah, penantian itu berakhir juga dengan terbitnya novel Alita@Heart ini pada bulan 8 Februari 2011 kemarin.
Menurut saya, alur kisah ini memang sedikit melambat di paruh pertama. Tragedi-tragedi yang dialami oleh beberapa tokoh utama dari serial ini membungkus cerita menjadi sedikit mendung. Suasana sedih berkepanjangan membuat cerita agak biru dan kurang menggairahkan. Untung saja, terdapat pengembangan dan penambahan karakter baru plus diksi, deskripsi, serta dialog-dialog khas racikan Dewie Sekar sehingga memberikan semburat warna di tengah kelamnya kisah mereka.
Kelebihan lain dari Dewie Sekar adalah caranya mengolah adegan menjadi demikian hidup, selayaknya adegan keseharian yang terjadi di sekitar kita. Ada percikan kemewahan nan gemerlap khas cerita metropop, namun lebih banyak lagi taburan kesederhanaan yang realistis. Sulit untuk tidak menjadi terhanyut dan terbawa arus yang diciptakan penulis. Sungguh, begitu banyak selipan-selipan humanis yang menyajikan beragam pengalaman hidup akan dengan mudah dapat kita ambil segi positifnya. Pesan moralnya ditampilkan demikian halus sehingga jauh dari kesan menggurui, tetapi juga dapat dengan mudah kita rasakan. Dan, yang saya rasakan bahwa, novel ini terbungkus nuansa religius yang manis dan proporsional. Pelajaran kehidupan, baik dalam ranah keluarga maupun sahabat, ditampilkan dengan sangat bersahaja. Hubungan antar saudara yang rukun, ikatan keluarga yang meskipun kadang disertai goncangan namun tetap harmonis, sampai dengan cerita sahabat yang saling menguatkan satu sama lain. Begitu mendamaikan hati. Sangat menyejukkan nurani.
Another cliché story, memang. Tak jauh dari pakem metropop. Lagi-lagi mengedepankan dilema perempuan lajang yang menghadapi tekanan sekitarnya untuk segera mencari pendamping hidup. Syukurlah, mungkin atas nama keadilan, penulis juga mengetengahkan dilema serupa bagi tokoh cowok lajangnya di sini. Di samping itu, terima kasih pada penulis yang masih konsisten untuk tidak menjadi etalase yang memamerkan branded things berharga jutaan sebagaimana disajikan oleh beberapa novel metropop yang lain.
Bagi saya, tokoh Gading menyelamatkan cerita dalam novel ini. Jempol dua deh buat Dewie Sekar yang punya ide brilian memasukkan tokoh ini. Background-nya. Lingkungan sekitarnya. Dan, konflik masa lalu yang menyertainya, memberi warna berbeda di tengah cerita hingga ke akhir. Saya suka bagaimana Dewie mempertemukan Gading dengan [teeeettttttttttttt], lalu [teeeettttttttttttt], hingga akhirnya [teeeettttttttttttt], hahaha, sekalipun ingin sekali saya cerita di sini, tapi itu sudah sangat menjurus pada spoiler…jadi jika ingin ikut merasakan sensasinya, silakan baca sendiri novel ini ya…
Saya selalu terpesona dengan gaya menulis Dewie Sekar, terutama kepiawaiannya memformulasikan PoV orang pertama dari banyak tokoh dalam sebuah novel. Tentu saja, trilogi Zona adalah contoh nyata bagaimana penulis menciptakan kekhasan yang begitu memorable. Pada Alita@Heart ini, penulis menggunakan tiga tokoh berbeda yang bercerita dari sudut pandang masing-masing dan penulis tetap mampu membuat ketiganya hidup dalam peran yang telah ditetapkan sejak mula. Sayangnya, untuk kali ini, saya kurang menangkap sisi maskulinitas dari dua tokoh laki-laki yang bercerita. Pada Zona, saya menangkap kejantanan yang tak terbantahkan dan itu tercermin pada pemikiran, perbuatan, dan percakapannya. Sedangkan untuk Alita@Heart ini…umm…dua tokoh cowoknya agak kurang macho dibanding Zona. Dalam artian, masih terlalu banyak sentuhan feminin pada karakter cowoknya. Atau, barangkali, memang setiap karakter diciptakan berbeda dan kebetulan dua karakter cowok utama di novel ini mendapat jatah kromosom X yang lebih banyak dibanding tokoh Zona yang begitu Superman (kromosomnya XYYY kali, hahaha *ngelawak-ditabok-penulisnya*)
Jempol lagi buat tim editing dan proofreading dari novel ini. Selain berhasil menghanyutkan saya dalam momen-momen indah pada setiap bagian ceritanya, novel ini juga memanjakan saya dari segi teknik cetakannya. Almost perfect. Kalau tak salah, hanya ada satu atau dua kesalahan ketik atau kekurangan kata dalam kalimat. Definitely, no big deal.
Dan…tentu saja, saya menemukan begitu banyak kalimat-kalimat indah atau pun yang menyentuh kalbu dalam novel ini, salah satu yang paling menyentuh saya adalah yang ini:
Percakapan Gading dan Alita (hlm. 301): Gading: “Memangnya cowokmu ke mana, Alita? Kalo boleh tau aja sih…” Alita: “Dia… Dia dimasukin orang-orang ke dalem tanah.”
Pada akhirnya, ending-nya memang menyenangkan meskipun “terasa” agak menggantung. Apakah akan ada sambungan lain dari kisah hidup Alita? Oh, kalau saya, tentu saja mau ada lanjutannya. Bagaimana kalau Alita dibuat seperti Rebecca Bloomwood (seri Shopaholic-nya Sophie Kinsella) dari pacaran, menikah, punya anak, dan seterusnya, dan seterusnya. Hahahaha, seru kali ya, *lagi-ditabok-penulisnya*. Tapi bagaimanapun, dengan ini saya deklarasikan diri sebagai fans Alita. Crossed fingers!
Selamat membaca, kawan, semoga harimu menjadi indah dengan membaca.
Saya bener-bener ga ragu untuk memberikan bintang 5 untuk novel ini. Dewie Sekar menutup cerita tentang Alita ini dengan mengagumkan.
Alita@Heart ini adalah buku kedua, lanjutan dari Alita@First yang tahun lalu terbit. Alhamdulilah ga perlu nunggu terlalu lama untuk buku kedua ini. Untungnya, ini adalah buku terakhir dari kisah Alita, jadi ga terlalu lama nunggu kelanjutannya kalo lebih dari dua buku kayak trilogi zona dulu. Walau cuma dwilogi, buku terakhir ini benar-benar lebih tebal dari sebelumnya, ada 446 halaman gitu.
Jika, buku pertama bercerita tentang kehidupan Mas Yusa + Mbak Ava dan Alita sendiri dengan Mas Erwin juga Abel dan Juno. Setelah berakhir dengan kematian Ava dan Erwin, buku kedua ini muncul tokoh baru, Gading, yang membuat saya awalnya salah menebak.
Walau sepertinya saya agak bosan baca buku ini di setengah bagian awal, akhirnya di setengah bagian akhir saya menemukan kembali tulisan Dewie Sekar yang amat menyenangkan. Saya suka endingnya. Saya suka sama tokoh Gading. Ah, saya suka novel ini. Bener kata Ijul, klo seri Alita ini diterusin lagi sampe nikah, punya anak dan seterusnya mungkin masih akan tetap menarik.
Akhirnya bisa selesai juga baca buku ini. Jujur aku lebih suka buku ini dibandingkan dengan buku sebelumnya. Tapi aku kepingin lihat juga setelah Alita jadian sama si (sensor). Tapi tapi tapi, nggak apa deh, yang penting Alita bisa bahagia pada akhirnya.😂
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awal baca agak lupa sama yang pertama, maklum sindrom lupa hinggap lagi karena sudah lama baca yang Alita @ First. Memang susah nglupain orang yang kita sayang banget, apalagi mereka meninggalkan kita karena kembali keharibaanNya. Inti cerita ini disitu. Alita yang susah melupakan Mas Erwin, cinta pertamanya gara-gara meninggal karena AIDS, Mas Yusa yang kadang mengingat Mbak Ava dan gagalnya pernikahan dengan Daya, Abel yang putus karena Juno, pacarnya lebih memilih Jerman sebagai "rumahnya" tapi Abel kadung cinta mati sama Indonesia, dan Mas Gading yang terpaksa menikahi orang yang dicintainya Delira karena hamil sama mantan pacarnya waktu di Italia. Bisa ditebak kan ceritanya, ternyata diam-diam Yusa ada rasa sama Abel tapi waktu itu Abel lagi deket sama Gading padahal sebenernya mereka cuman temen curhat yang memiliki masalah yang sama, melupakan sang mantan. Karena gak mau merebut pacar orang, Yusa nyuruh Alit untuk menyelidiki hubungan mereka, si Alit merasa curiga sama Gading dan terus nempel sama Abel mencari info apakah mereka ada apa-apa. Karena merasa jengah akan tingkah laku Alit, Gading malah berusaha mendekatinya agar Alit gak jutek lagi dan mau berteman denganya. Yah seterusnya bisa ketebak kemana arah cerita. Ceritanya simple, sederhana, khas mbak Dewi deh, kadang menyisipkan banyolan lucu disetiap kalimat. Manis sekali hubungan Alita dan Yusa, jadi pengen punya kakak seperti dia, saling menjaga dan melindungi (curcol). Sudut pandang ceritanya dari Alita, Yusa, dan Gading. Kenapa Abel gak sekalian ya? Awal sempet bingung ini siapa yang bercerita, gak ada pemisah kalau mau ganti si pencerita cuman tulisannya saja yang berbeda, tapi lama-lama juga ketauan sih. Ada benang merahnya juga dari novel terdahulunya mbak Dewi, seperti tokoh Daya dan Langit (Langit Penuh Daya), Nora yang punya butik (Zona @ Last). Suka buku kedua sekaligus seri terakhir Alita ini dari pada Alita @ First.
Saya langsung membaca sequelnya.. Ya Allah, masih saja terasa sakit waktu ada kenangan tentang Mas Erwin..
Masih bagus, sangat bagus. Khas-nya Mbak Dewie Sekar memang. Lugas, ringan, panjang tapi memang tak bertele-tele. Tapi yang saya sayangkan untuk ending sequel ini rasanya kurang worthy setelah apa yang terjadi pada mereka. Alit, Mas Yusa, Abel dan orang-orang terdekat mereka. Terutama, pada Alita, saya berharap lebih greget ending perempuan malang ini. Tapi well, rasanya masih okelah. Tuhan tetap memberi segala hikmah di balik semua cobaan yang diberikan-Nya. Selalu demikian. Dan rasanya, dua hari untuk menyelesaikan kedua seri ini dengan ketebalan halaman yang cukup waw, saya masih rindu untuk meninggalkan dan beralih ke cerita lain, konyol memang, tapi biarkanlah saya menikmati kehidupan mereka dulu sekarang. Setelah saya move-on, saya akan membaca lagi.. :D
Mbak Dewie sekar, saya terlalu cinta dengan semua cerita Mbak yang sudah pernah saya baca selama ini. Penuh hormat, saya berharap Mbak menulis lagi. Membuat cinta-cinta lain yang indah, yang gak berat tapi memang nyata.. Ya, seperti cinta-cinta mereka, yang saya harap saya juga memiliki cinta yang demikian indahnya… Semoga saya bisa membaca Langit Penuh Daya, yang tokohnya juga muncul di buku ini.. Dan juga merampungkan semua novel-novel Mbak… ^_^
Karena ekspektasi udah tinggi di seri pertama, agak kecewa sih dengan yang ini. Kenapa harus mengambil 3 POV 1, padahal semuanya bisa pakai sudut pandang Alita aja kok.
Sudah membaca Alita @first? Ya, ini adalah sekuel atau buku lanjutan dari cerita romansa Alita karya Dewie Sekar. Namun jika kamu belum membaca, menurut saya pun tidak akan terlalu bingung mengikuti alur ceritanya.
Perjalanan kegaulauan Alita menemukan titik terang di buku ini. Alita si gadis pintar, tak hanya pintar dalam profesi yang digeluti, namun juga pintar menyimpan perasaan. Tipe perempuan yang cukup sering overthinking dan ga enakan. Lebih suka bersosialisasi dengan orang orang yang dikenalnya dengan baik, tidak cukup ahli berbasa basi, dan sulit keluar dari zona nyamannya. Tetapi ada warna baru yang muncul di dunia Alita yang terasa monoton. Semenjak perkenalan dengan sosok Gading. Gading, laki laki yang juga dalam kondisi patah hati setelah perpisahannya dengan sang istri. Laki laki biasa, penyabar, baik hati, pekerja keras namun sedang enggan membuka diri. Gading hanya ingin mendapat teman bercerita dan pengalih perhatian lara hatinya, tapi ternyata si teman cerita punya sisi berbeda yang membuat hatinya mulai terbuka.
Sudah lama menyelesaikan buku ini, bahkan dari selang setahun terbit. Namun baru sempat menulis. Sudah tak terhitung lagi berapa kali membaca ulang novel ini. Yah, suka. Khas Dewie Sekar. Penokohan sederhana, seringkali kita jumpai sehari hari. Jadi tidak terlalu sulit membayangkan bagaimana visualisasi tokoh tokohnya. Alur lambat. Mungkin jika mengikuti istilah ngetren sekarang jadi seperti slow living. Untuk bertemu dan berinteraksi Alitasi tokoh utama dengan Gading hampir separuh buku tebal ini. Kelebihan dari Alita @heart dibanding dengan Alita@first adalah sudut pandang cerita atau POV. Sata selalu suka novel dengan dua sudut pandang. Membantu mengerti alur cerita dua arah dari penokohan sebuah novel. Akan tetapi ada yang saya rasa tidak perlu ditambahkan sudut pandang dari tokoh selain tokoh utama Alita atau Gading, yaitu si kakak Alita. Cerita sampingannya jadi terlihat meminta fokus kita untuk diperhatikan. Tapiii, overall, aku selalu suka cerita Dewie Sekar.
Jadi ini kisah utama Alita dan Gading, teman bertukar cerita dengan keadaan masing masing hati yang belum berpaling dari kisah lama mereka. Apakah warna hati mereka bisa benar benar berubah? Coba baca deh!
Alita, Abel, Mas Yusa akan selalu jadi kesayangan aku. 3,5 bintang bukan karena aku nggak suka karya mbak Dewie. Aku sukaaaaa pake banget. tapi mgk untuk aku Alita nggak cukup memukau seperti trilogi Zona. Dan jujur aja, mudah ketebak. Rasa penasarannya udah terkuras di tengah-tengah buku. Terlebih aku salah urutan baca antara @heart dan Dayana, jadinya penuhhh bunga-bunga spoiler😣😣 Terima kasih, mbak Dewie Sekar. Peluk cium untuk Zona(teteuuuup).😘
Kalau di Alita @ First disuguhi romance yg tragis, dan sad ending, di buku ke-2 ini sebaliknya, meskipun sedikit slow tapi heartwarming, manis tapi engga too much and thank God happy ending. Terharu sama perjuangannya Alita & Mas Yusa. Peluk mereka berdua :')
Sebuah penutupan yg gue harapkan dari dark dan beratnya kisah karakter2nya di buku pertama.
Pas udah di lembar terakhir, aku yang kayak "lah udah tamat aja toh?" Padahal bukunya lumayan tebal tapi bacanya tetep gak kerasa, saking serunya. Seneng akhirnya Alita bisa bangkit dari patah hatinya walau perlahan-lahan
buku ini menurutku lebih menarik daripada sebelumnya. kalau di buku sebelumnya dibikin greget dan kesel sama alita, disini ditampilin 3 pov dengan beda-beda cerita. jadinya lebih menarik untuk dibaca.
Aku lebih suka yang pertama karena yang kedua ini menurutku terlalu panjang, agak bertele-tele. Tapi, tetap membuat aku penasaran akan kejelasan nasib para tokoh.
Buku yang kedua ini lebih suka alurnya. Gaya tulisnya lebih enak dan biki ketagihan bacanya. Disini penyelesaiiannya aku suka. Buku kedua nice menurutku.
"Sudah dua tahun berlalu, tapi aku masih merasa kehilangan... Rasanya seolah ada organ penting dalam tubuhku yang ikut mati bersama kematian lelaki yang kucintai, menyisakan lubang hampa raksasa." -Alita
"Cinta adalah kata yang nyaris tabu kuucapkan, terlebih lagi untuk kurasakan." -Gading
"Orang harus merelakan masa lalu kalau memang mau maju, kan? Nengok ke belakang terus nggak akan mengubah apa-apa. Sudah terlanjur... sudah jadi sejarah." -Gading
"Bisa dibilang, ini hubungan pertemanan dua manusia yang pernah kehilangan." -Alita
-----Alita @ Heart-----
Sehubung saya belum mampu menyelesaikan buku terakhir seri zona, untungnya hal itu nggak terjadi di seri Alita ini. Ya, walau saya rasa kedua seri ini sama-sama membuat tokoh utamanya nggak jadi sama orang yang ia cintai di buku pertama, untunglah saya masih bisa menerima Alita move on dari Erwin. Tidak seperti saya yang masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa Zona harus move on dari Mutia. Oh! Itulah saya. Heroine-centric. Saya lebih suka tokoh utama wanitanya yang punya kisah baru dibandingkan dengan tokoh prianya. Serius. Entah kenapa.
And, finally. Saya berhasil menyelesaikan Alita @ Heart sambil tersenyum. Dan saya bersyukur karena mendahulukan Langit Penuh Daya setelah membaca Alita @ First kemarin. Nggak bisa bayangin kalau saya membaca itu setelah membaca Alita @ Heart ini. Pasti alurnya jadi basi, deeeeh!
Mbak Wie, kenapa suka sekali bikin relasi cerita yang nggak biasa, sih? Tokohmu begitu dikomplikasikan di sini :') tapi, justru itu, ya, kelebihannya? Ceritanya jadi tidak biasa dan tidak pasaran. Semua relasi antartokohnya saya acungi jempol. Kuaaat banget. Juga penokohan-penokohannya yang selalu Mbak Wie kerjakan dengan sempurna. Pokoknya, tokoh-tokoh yang diciptakan beliau adalah tokoh paling realistis yang pernah saya temui.
Jujur saja, saya merasa agak jengah dan bosan saat mulai membaca dari halaman awal hingga duapertiga buku. Bosyaaan karena isinya hanya kisah-kisah latar belakang tokoh dan konflik-konflik tokoh yang lain. Saya jadi merasa ... judul novel ini kan Alita, tapi kenapa jadi keluar jauh begini, sih, dari sosok Alita? Pokoknya, awal-awal saya cukup jengah dengan dua sudut pandang selain Alita itu :)
Tapi, setelah memasuki babak 300an halaman, aku mulai mendapatkan semangat lagi. Dan kebosanan-kebosanan itu hilang seketika dengan scene-scene di sana. Ya, benar, mulai halaman 300an. Sayang banget, ya? Saya merasa 200an halaman sebelumnya itu menjemukan x( untungnya banyak dialog Alita-Mas Yusa yang memang dari buku pertama sudah saya favoritkan. Really, saya sangat suka sekali dengan dialog mereka. Menghangatkan. Hubungan adik kakak yang bikin kepengin hehe. Sukaaaa sekali dengan sikap Mas Yusa ke Alita :3
Untungnya cara penulisan Mbak Wie selalu menjadi yang paling menarik perhatian. Jadi, meski 200an halaman awal ceritanya membosankan, saya tetap sanggup membacanya karena kelincahan tulisan beliau.
Well, overall, good. Tapi, jujur, saya menginginkan ending yang lebih wow dari ini xD it's too flat, iya nggak sih? Harusnya ada banyak letupan-letupan menggemaskan yang membuat pembacanya tersenyum tiada henti. Meski beberapa bagian memang ada yang memunculkan letupan itu, sayangnya saya belum merasa total. Huhu. Tapi, seri ini berhasil membuat saya hangover, kok. Sulit untuk move on ke buku-buku lainnya karena karakter tokoh di sini yang begitu real.
Dan, saya sudah pernah bilang belum, ya? Saya selalu suka dengan pilihan nama-nama tokoh yang Mbak Wie pakai. Sederhana tapi spesial. Terutama tokoh prianya; Zona, Sakti, Wira, Langit, Yusa, Gading, Erwin dll dll. Ngerasa nggak, kalau nama-nama itu sederhana ... tapi spesial :)
That's all. Sekarang, saya mau memantapkan hati supaya bisa menyelesaikan buku terakhir seri Zona. Semoga bisa selesai secepatnya x'D
Ps: Mbak Wie, kapan novel barunya keluaaar? I can't waiiit. Butuh banget asupan cerita baru khas Mbak Wie yang lincah beginiiii.
Melihat dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini ada hubungannya dengan buku berjudul Alita @ First. Ya, buku Alita @ Heart merupakan sekuel atau buku kedua dari dwilogi Alita. Kalau di buku Alita @ First menceritakan kasih tak sampai-nya Alita dan Yusa (kakaknya), maka di buku kedua ini menceritakan tentang pemulihan hati dan pencarian cinta Alita dan Yusa. Berbeda dengan buku pertama yang diceritakan dari sudut pandang Alita, di buku kedua ini ada tiga orang yang bercerita. Alita, Yusa, dan Gading.
Baik Alita maupun Yusa yang sama-sama (tetap) melajang di buku pertama, menjadi tumpuan harapan orangtuanya (khususnya Yang Mulia Mama) untuk segera menikah mengingat usia mereka yang sudah layak untuk berumah tangga. Walaupun tidak nyaman dengan tuntutan mamanya, tapi sebagai anak yang baik, keduanya berusaha menyenangkan hati mamanya.
Yusa jatuh hati pada Abel, sahabat Alita. Yang mengejutkan perasaan Yusa ini sudah mulai tumbuh sejak mereka pindah ke Jakarta, yang artinya sejak Abel masih pacaran dengan Juno. Akan tetapi Yusa ragu buat nembak Abel, karena sepertinya Abel sedang dekat dengan Gading, duda kaya pemilik restoran yang juga adalah pelanggan toko bunga Abel. Ketika Alita tahu kakaknya jatuh cinta pada sahabatnya, tentu saja Alita sangat senang. Bahkan diam-diam Alita juga sebal dengan Gading yang mendekati Abel.
Gading merasakan ketidak sukaan Alita padanya. Dia mulai mendekati Alita untuk mengetahui mengapa Alita selalu sins dan sebal padanya (walaupun Alita tidak menunjukkannya dengan terang-terangan). Belakangan, ketika Alita tahu Gading hanya menganggap Abel sebagai teman, akhirnya Alita juga berteman dengan Gading. Bahkan ketika Yusa akhirnya jadian dengan Abel, Alita malah semakin dekat dengan Gading. Ternyata mereka sama-sama pernah merasakan kehilangan orang yang dikasihi, dan hal itulah yang membuat mereka menjadi dekat. Hanya ada satu masalah. Gading sepertinya masih menyimpan rasa cinta untuk mantan istrinya. Sementara Alita harus melupakan Erwin yang sudah mati.
Alita cemburu pada Gading. Bukan karena Gading masih mencintai mantan istrinya, tapi karena Gading masih punya kesempatan untuk mengejar kembali cintanya yang hilang itu. Alita mendesak Gading untuk kembali pada mantan istrinya. Sementara Gading menuruti desakan Alita, Alita kembali merasakan kehilangan yang sama ketika dia kehilangan Erwin.
Dengan tiga sudut pandang orang yang berbeda, cerita dalam buku ini menjadi semakin “kaya”. Setidaknya saya tidak perlu terlalu larut dalam pikiran galau Alita. Hanya saja, menurut saya ada beberapa tokoh yang rasanya tidak perlu ada, seperti Lee, Mas Bagas, dan Rama. Dengan adanya tiga tokoh tadi, petuah-petuah tentang cinta dalam buku ini semakin bertambah, dan tentu saja menambah tebal halaman bukunya. Saya sempat bosan dengan percakapan yang intinya itu-itu saja berulang-ulang.
Tapi mendekati halaman akhir, ceritanya main manis. Sudah lama saya tidak membaca novel yang membuat hati saya berdesir karena cerita cintanya. Dialognya pun kembali mengalir lancar. Saya suka dialog-dialog lewat SMS atau BBM yang dilakukan para tokoh. Walaupun buku ini bertajuk Metropop, tapi dengan dialog yang mengalir tadi, rasanya lebih “membumi”.
Satu lagi perbedaan antara buku pertama dan buku kedua, adalah ending-nya. Tidak akan saya ceritakan kok… biar kalian membaca bukunya langsung :)
Empat bintang untuk kisah cinta Alita-Gading dan Abel-Yusa.
Dari segi bahasa dan pemilihan kata dalam setiap kalimat, Alita @ heart tentu sama dengan novel Dewie Sekar yang lain. Yang sudah pernah saya baca, Alita @ First dan Langit Penuh Daya. Bahasa yang Indonesia banget. Hampir sepertinya sama sekali tidak menggunakan bahasa Inggris atau bahasa yang lain, paling jawa. Itu pun saya lupa bagian yang mana. Ada sih, bahasa Arab, seperti kata “Alhamdulillah”.
Alur cerita, enaaakkk dan mengalir banget. Alita @ Heart memang lanjutan dari Alita @ First, dan nyambung dengan Langit Penuh Daya. Makanya lenih menarik, labih bagus, dan lebih bisa menikmati ceritanya kalau membaca kedua novel sebelumnya itu. Tidak membaca pun sebenarnya tidak apa-apa. Tapi, kita jadi:
kurang mengenal siapa itu Mas Erwin, siapa dan darimana asalmuka terjadinya Abel dan Daya. Ehee maksud saya, siapa itu Abel dan Daya, mengapa mereka bisa masuk ke dalam dunia Alita. Apalagi ada Lee, Langit, Riri, dan masih banyak tokoh yang lain yang lebih lengkap diceritakanan di novel Langit Penuh Daya.
Kurang percaya mengapa Alita lebay banget sedihnya, susah banget melupakan Mas Erwin, sampai-sampai menjadi jutek setengah mati pada semua cowok. Kita manganggap Alita terlalu berlebihan menanggapi kematian Mas Erwin apabila nggak baca Alita @ First. Karena di sana lebih rinci diceritakan bahwa untuk mencintai Mas Erwin membutuhkan keberanian ekstra. Keberanian untuk mengakui cintanya. Untuk mengaku pada Yusa (kakaknya), pada Mas Erwin, dan bahkan kepada dirinya sendiri.
Tidak tau darimana datangnya Abel sehingga bisa menjadi sahabat Alita yang paling dekan sampai bisa menjadi iparnya. Bukankah Abel memegang peran penting dalam cerita novel Alita @ Heart itu? Nggak mantep banget kalau kita sampai nggak kenal Abel. Makanya, nggak mantep juga kalau nggak baca Alita @ First *promosi*.
Awalnya memang sudah mengira bahwa pasangan Alita adalah seorang duda. Tapi nggak mengira bahwa yang akan menjadi pasangannya adalah Gading. Awalnya mengira mungkin Tona. Karena yang diceritakan di awal adalah Tona. Lalu pada bagian-bagian berikutnya Gading banyak diceritakan kisahnya. Bahkan membutuhkan lembar dan bab khusus untuk menceritakan tokoh Gading. Mulai ada bab yang menceritakan Gading dan kehidupannya termasuk dengan sahabatnya, Rama dan Mas Bagas, saya mulai curiga bahwa akhirnya pasangan Alita adalah Gading. Dan, Benar.
Oiya, takut juga awalnya membaca novel ini. takut akhir ceritanya nggantung seperti Alita @ Heart yang ‘tidak happy ending’. Tapi ternyata tidak, karena saya rasa memang novel ini hanya dua seri. Tapi kalau Dewie sekar mau nambahin ceritanya lagi juga tidak masalah. Mungkin bercabang lagi seperti cabang Langit Penuh Daya. Bisa saja kan, menceritakan Lee (sepupu Dayana) dengan Aldo (adik Abel) yang sepertinya akan ada hubungan khusus. Bisa juga mencaritakan masing-masing kehidupan Alita-Gading dan Yusa-Abel setelah mereka masing-masing menikah. Alita @ Heart happy ending. Yusa dan Alita akhirnya menemukan pasangannya masing-masing.
*NB= setiap habis baca novelnya Dewie Sekar jadi kebawa ke dunia nyata. Pengin deh seperti Abel yang akhirnya bisa mendapatkan Yusa, kakak sahabatnya sendiri. Atau seperti Alita-yang walaupun jutek tapi-mendapatkan Gading yaaannnggg kurasa adalah lelaki penyayang.
❝Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini—baik atau buruk—pasti ada hikmahnya.❞ —Page 56
❝Sudah dua tahun berlalu, tapi aku masih merasa kehilangan... Rasanya seolah ada organ penting dalam tubuhku yang ikut mati bersama kematian lelaki yang kucintai, menyisakan lubang hampa raksasa.❞
❝Cinta adalah kata yang nyaris tabu kuucapkan, terlebih lagi untuk kurasakan.❞
❝Orang harus merelakan masa lalu kalau memang mau maju, kan? Nengok ke belakang terus nggak akan mengubah apa-apa. Sudah terlanjur... sudah jadi sejarah.❞
❝Bisa dibilang, ini hubungan pertemanan dua manusia yang pernah kehilangan.❞
❝Gading: Memangnya cowokmu ke mana, Alita? Kalo boleh tau aja sih… Alita: Dia… Dia dimasukin orang-orang ke dalem tanah.❞ —Page 301
•••
Alita @ Heart merupakan kelanjutan kehidupan Alita setelah kehilangan Mas Erwin. Kehilangan seseorang yang dicintai memang bukan hal yang gampang untuk diterima. 2 tahun telah berlalu, namun Alita masih berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Mas Erwin dan melanjutkan hidupnya. Alita pun tak berminat untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lagi. Ia cukup berbahagia hidup dengan kenangannya dengan Mas Erwin. Alita sangat beruntung memiliki kakak seperti Mas Yusa yang sangat menyayangi Alita. Ada juga Abel yang selalu hadir di sisi Alita sebagai sahabat yang baik. Waktu membuktikan kekuatannya dengan menyembuhkan luka Alita akan Mas Erwin. Alita harus mampu membuka mata dan hatinya untuk bisa melanjutkan hidup dan bertemu cinta yang baru.
Dari semua buku Dewie Sekar, mungkin seri Alita lah yang paling aku suka. Karakter Alita sebagai sosok wanita yang baik, tegar, dan kuat membuatku belajar banyak dari dirinya. Hubungan kakak-beradik antara Alita dan Mas Yusa pun sangat manis dan mumbuatku sadar untuk selalu rukun dengan kakakku sendiri. Cinta yang manis akhirnya muncul dalam kehidupan Alita tanpa ia sadari. Akhir cinta yang manis pun siap ia jalani dengan Mas Gading. Sayang sekali tidak ada kelanjutan dari Alita@Heart. Jujur aku ingin tau kelanjutan hubungan Alita-Mas Gading dan Mas Yusa-Abel.
P.S. Kemarin lihat post dari editor GPU dan sepertinya akan ada buku baru karya Dewie Sekar. Oh, I can't wait to read the book! It's been so long since Dewie Sekar release a new book.
"Sudah dua tahun berlalu, tapi aku masih merasa kehilangan... Rasanya seolah ada organ penting dalam tubuhku yang ikut mati bersama kematian lelaki yang kucintai, menyisakan lubang hampa raksasa." -Alita
Novel ini sekuel dari novel sebelumnya yang berjudul alita @first yang sempat dibuat mewek pas bacanya, selang dua hari baru lanjut baca Alita @heart.Yang saya sesalkan adalah saya langsung baca Dwilogi Alita ini dan belum baca novel "Langit penuh daya". Arghhh
Novel ini menceritakan tentang Alita yang baru saja kehilangan Mas Erwin, lelaki yang dicintainya sekaligus sahabat kakaknya. Beberapa waktu memendam segala kenangan tentang laki-laki itu dan tidak memberikan kesempatan kepada sosok yang ingin menyelinap masuk. Hingga nasib mempertemukannya dengan laki-laki yang awalnya dia sangka menyukai sahabatnya.
Cerita yang simple, sederhana, menyentuh, moral yang terkesan tidak menggurui, kadang juga menyisipkan guyonan lucu disetiap kalimat. Sudut pandang ceritanya dari Alita, Yusa, dan Gading. Awalnya sempet bingung, "Ini siapa yang bercerita yah?", karena nggak ada pemisah kalau mau ganti si pencerita cuman tulisannya saja yang berbeda, tapi lama-lama juga tau sih. Pas baca novel ini jadi pengen punya kakak seperti Yusa, perhatian bett. Sahabat kek Abel yang nggak ada cerita dibelakang atau saling gosip satu sama lain. Uwuww.
Btw Novel ini diterbitkan saat aku masih sekolah dasar haha, udah lama yah, sekarang aku udah lulus SMA, entar lagi kuliah. Untung aja nemu novel ini di ipusnas.
Empat bintang untuk novel ini
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebenarnya manis dan enak dibacanya...walau kadang sedikit bertele-tele sampai ada beberapa bagian mau diskip aja deh heheh, tapi overall enak dibaca. Menurutku Alita @first lebih enak dibaca ketimbang Alita @heart. Di buku ini cerita nya menurutku agak lambat, dan berganti-ganti penceritanya dari Alita, Yusa dan Gading walau tetap menggunakan sudut pandang orang pertama, kayanya kalo Abel juga ikutan diceritakan pikiran dan perasaannya mungkin lebih menarik ya....(mungkiin). Awal2 kita kudu ektra mikir juga tentang kejadian-kejadian sebelumnya, terutama yang belom baca Alita @First kayanya agak bingung juga dan nanya2 ni sapa ya, ni sapa ya, bahkan ga tau adegan-adegan itu emanknya ada ya hehehe...saya aja sempet lupa walau udah baca buku Alita @ First. Dan sepanjang novel gregetan juga ma Alita karena masih saja berkubang dengan kenangan tentang mas Erwin padahal waktu udah lewat 2 tahun lebih dan kayanya ga move on-move on, padahal diakhir cerita dikisahin Gading udah aja sejak 2 tahun juga dalam hidup Alita...uppss nti spoiler...
Btw bacanya awalnya asli seh agak pegel karena banyak hal-hal ga penting diceritain (menurut aku) tapi secara keseluruhan seh bagus, cuma ga kaya yang Alita @ First yang ceritanya bikin gemes dan mpe ga pengen lepas baca sebelom selesai, baca buku lanjutannya ini ternyata ga seasik baca yang pertama. Ga tau yaa nurut aku aja hehehe...bagus yaa...tapi ga bangeet gitu hehehe Ya gitu dehh...
Dapet buku ini dari obralan di parkiran Gramedia Gadjah Mada beberapa tahun yang lalu. Setelah dibeli langsung dianggurin di lemari hingga kemudian saya tertarik membacanya setelah membaca buku Dewie Sekar yang lain berjudul Perang Bintang.
Karena tidak membaca buku pertamanya saya tidak bisa berkomentar banyak tentang Alita. Yang saya tahu hanya Alita itu cinta mati pada Erwin dan Erwin meninggal karena AIDS. Ada 3 sudut pandang di buku ini : Alita, Yusa dan Gading. Sayangnya perbedaan sudut pandang itu hanya dibedakan oleh fonts. Tidak ada nama tokoh di awal pembuka sudut pandang baru yang membuat saya agak capek membacanya.
Cerita Yusa dan Abel jauh lebih menarik perhatian saya dibandingkan dengan Alita dan Gading yang bertele-tele dan baru kelar tepat diakhir cerita. Tapi poin positif dari buku ini, ceritanya mengalir lancar meski dari sudut pandang yang beragam dan buku ini juga bersih dari adegan ahak-ihik-uhuk-ehem yang membuat saya nyaman saat membacanya.
Satu tokoh yang menarik perhatian saya di buku ini adalah Lee, sepupu Daya yang mantannya Yusa. Kayaknya cerita Lee bakal seru kalau dibikin cerita juga. Soalnya dia juga pernah patah hati trus ketemu lagi dengan mantannya setelah sekian tahun lamanya dan... mendadak galau karena pertemuan itu sehingga Lee memutuskan untuk pindah kerja ke Nigeria atau Kupang.
Membaca novel walaupun tanpa membaca lebih dulu seri pertama, Alita @First rasanya nggak masalah. Cuma memang, pembaca akan sedikit dibuat bingung dengan pergantian sudut pandang cerita yang ternyata hanya dibedakan dengan jenis huruf yang digunakan. Kalau nggak teliti, ya ... bingung.
Hmm, setiap orang pastilah menyimpan masa lalunya masing-masing, dan tentu harus belajar mengikhlaskan masa lalu yang kurang menyenangkan. Begitu yang bisa saya petik dari 448 halaman di buku ini.
Endingnya yang sebenarnya, kalau boleh, saya anggap nggak romantis, mampu membuat saya juga bernapas lega, seperti Alita.
Ya. Kisah cinta selalu memilih tokoh-tokohnya di waktu yang sesuai.
Btw, ada beberapa quote yang saya suka :
"Perempuan - terutama yang cantik dan sadar kalau dia cantik - adalah para manipulator yang tega sedunia."
"Apa gunanya coba, berhubungan dengan orang dari masa lalu, kalau akibatnya hati kita jadi nggak tenang?"
kemarin beli novel ini karena iseng mampir ke gramedia Ciputra, trus inget klo belum baca sambugan novel Alita @First, sampe rumah langsung baca, eh baru aja selesai bacanya...
suka sama ceritanya, yang ke 2 ini endingnya udh ketebak pasti happy :D, tapi aku suka ceritanya, n sempet jatuh cinta sama sosok Mas Gading yang bisa cinta sm cewe yg cuma manfaatin dia doang... mmg bodoh klo dibilang, tapi hebat aja ada cwo yang bisa terima cewe yang hamil sama org lain tapi dia mau nikahin hanya karena cinta... :D, banyak nilai2 positife yang aku ambil dari novel ini, contohnya harus bersyukur dengan segala kejadian yg menimpa kita toh semua pasti ada hikmahnya...
salut buat mbak Dewi Sekar, masih banyak Novel mbak Dewi Sekar yang mau aku baca.. :)
dimana-mana baca novel tuh dari awal bukan dari akhir, tetapi itulah aku, untung saja mbak dewie tidak menyulitkan pembaca, walaupun aku membaca novel ini duluan baru Alita @ first, kisah yang mengharu biru pada awalnya, sosok alita walaupun kelihatan tegar tetapi masih rapuh akan kehilang sosok pria yang di cintai.. kisah akhirnya membuatku geregetan... mengantung... dibilang mengantung tidak juga pasalnya alita mendapatkan tambatan hati, tetapi menurutku kurang bablas, kenapa nggak sampai menikah ??? kehilang memang menyakitkan butuh proses penyembuhan tetapi akan sosok yang datang membuat kita berdebar-debar. jadi pengemar mbak dewie nih... hihihi* apalagi sudah membabat habi novel zona-nya
Asikkkkk nulis review lagiiii, setelah liburan panjang .
Hmmm yukk cus , tahu nggak ? aku itu nggak sengaja baca buku ini . pertama baca tuh ya rada nggak ngerti kanapa sama nih cewek yang sedih .
kedua baca lagi fong lembaran selaanjutnya , hmmm mulai ketahuan tuh kenapa si cewek sedih .
ketiga ohhhh men konfliknya biasalah tapi paling suka cara nulisnya gokil men .
keempat tokoh-tokohnya suka . dari alita , sang kakaknya dan si penakluk hati alita.
pokoknya seru deh nih cerita , sampai aku nulisnya segini aja . benernya malu cuman segini tapi yang penting aku baca dan aku ungkapkan perasaanku saat baca nih cerita yang ada dibuku. biasa tapi semoga suka.
maaf ya kalau ada yang salah , ada yang tidak berkenan dan terima kasih.
Buku lanjutan dari kisah Alita, kalau dibuku pertama, aku rada tidak menyukai ceritanya dikarenakan Alitanya terlalu cinta banget dengan seorang pria yang menurutku tidak berhak untuk menerima cinta dari Alita. Tetapi dibuku lanjutannya, aku suka bangeeet, karena Alita sudah bisa meluupakan pria yang mati2an dia suka dan memiliki pasangan hidup baru. Selain itu, kisah dari mas Yusa juga keren, dimana akhirnya mas Yusa menyatakan perasaannya kepada Abel, yang tidak lain adalah teman dekat Alita. Dan terus,,,terus,,,,( takut spoiler...) Intinya, buku ini menarik, apalagi cerita cintanya...hohoho...
Selepas kehilangan Erwin, Alita mengalami fase patah hati cukup dalam. terlihat sekali Dya sangat mencintai Erwin. Berkat dukungan abang dan sahabatnya Abel, Alita akhirnya bisa bangkit. sampai Dya ketemu Gading. Duda yang punya pengalaman patah hati juga sebelumnya. Sana seperti dirinya. Sayang sekali menurut ku novel ini gak sebagus seri pertamanya. Banyak pergantian Pov yang ngebingungin dan jadi bosen bacanya. Ending nya juga jauh dari ekpektasi yang gue harapin (karena buku pertamanya beneran nguras emosi banget) ending di novel ini nanggung bener. Tapi tetap manis dan enak dibaca memang. 3*
Mereka-- Alita & Yusa-- berhak mendapat akhir bahagia.
Setelah di buku pertama, Alita dan Yusa, dua saudara, mendapat ujian yang nggak tanggung-tanggung.
buku kedua ini mereka dibayar tuntas dengan kebahagiaan. Semuanya lutju dan manis. meski bagian cerita gading dan delira rada kasihan banget ya, gadingnya maksudku.
* Kayaknya kesamaan antara seri-nya Zona dan Alita adalah.. Dewie Sekar suka bikin tokoh dan menyorot hubungan persaudaraan-- Alita dan Mas Yusa, Zona dan Ari.
** di buku ini aku memutuskan akan menunggu karya-karya Dewie Sekar selanjutnya.
Akhirnya keturutan baca kelanjutan kisah Alita! :D Mekipun nggak tau kenapa aku ngerasa agak terganggu dengan kisah-kisah Gading yang aku rasa ada part yang nggak terlalu penting. Aku suka banget sama POV-nya Yusa! :D , sejujurnya aku pengen porsi cerita Yusa dan Abel lebih banyak, tapi yah, ini kan bukunya Alita bukannya Yusa atau Abel. Hehehehe
Buku ini menghibur, dan bikin merenung juga sih. :) 3,5 bintang buat buku ini