Novel Student Hidjo diterbitkan secara berkala di koran Sinar Hindia tahun 1918 kemudian dibukukan 1919. Pengarang buku ini ialah Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis yang dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda pada waktu. Selain sebagai jurnalis, Mas Marco juga berlaku sebagai pengarang. Sebelum buku ini, ia menulis novel Mata Gelap (1914) lalu Sair Rempah-rempah yang dikarang dari dalam penjara (1918). Lalu bagaimana bisa disebutkan bahwa buku ini termasuk buku yang dianggap menghasut dan menciptkan kegaduhan publik kala itu? Berikut singkat alurnya.
Syahdan, ada seorang sepasang saudagar dari Solo bernama Raden Potronojo dan Raden Nganten. Sang suami ingin mengirimkan anaknya yang bernama Hidjo untuk meneruskan pelajaran ke Belanda setelah kelulusannya dari HBS. Alasan sang ayah menyekolahkan anaknya ke Belanda tidak lain untuk membuktikan bahwa bangsa asli saat itu sering dianggap rendah oleh bangsa Eropa.
Hidjo mengiakan untuk menuruti kemauan orang tuanya. Ia pun pergi dengan meninggalkan orang tuanya dan tunangannya Raden Ajeng Biroe. Biroe tidak lain anak perempuan dari ibu Hidjo, jadi statusnya adalah sepupu Hidjo. Dengan keadaan itu, maka keduanya harus menjalani hubungan jarak jauh.
Setelah kepergian Hidjo ke Belanda, Radeng Nganten, Ibu Biroe, dan Biroe pergi ke Barataadem. Inilah tempat pelesir untuk menyembuhkan diri dari kegalauan. Ibu Hidjo pergi ke sana untuk mengurangi rasa sedih atas kepergian anak sematawayangnya. Di sanalah keluarga Hidjo bertemu dengan keluarga Raden Ajeng Woengoe. Woengoe adalah anak perempuan dari seorang pejabat Regent daerah Djarak. Ternyata Hidjo, saat masih di HBS, sangat akrab dengan kakak Woengoe yang bernama Raden Mas Wardojo. Beberapa kali Hidjo sering berkunjung ke Djarak.
Pertemuan itu membuat keluarga Hidjo dan Regent Djarak semakin dekat, terutama Biroe, Woengoe, dan Wardojo. Di tempat lain, Hidjo sudah sampai di Belanda dan dititipkan oleh seorang kenalan gurunya. Tuan rumah tersebut memiliki dua orang anak bernama Betje dan Marie. Di sinilah Betje ternyata menyukai Hidjo, dan Hidjo pun lambat laun tertambat pada Betje.
Hubungan asmara Hidjo dan Betje semakin intim. Alih-alih diteruskan, Hidjo merasa bersalah dengan hubungan itu karena ia memiliki keluarga di Djawa. Ia tidak mau tersangkut hidup berbudaya Eropa di Belanda, maka dia memutuskan memutus Betje dan pulang ke Hindia.
Di sini terlihat ada hubungan asmara yang agak rumit. Biroe yang mulanya tunangan Hidjo jatuh hati pada Wardojo. Kontroler Djarak Walter menyukai Woengoe tapi bertepuk sebelah tangan, sebab Woengoe menyukai Hidjo. Meski begitu, Walter sebenarnya sudah memiliki kekasih lain bernama Jet Roos.
Di akhir cerita, Mas Marco menyisipkan sedikit terkait dengan organisasi Sarekat Islam. Di sini diperlihatkan bagaimana anak muda zaman itu sangat menyambut positif untuk mulai berorganisasi. Representasi ditunjukkan oleh keluarga Hidjo dan Regent Djarak mengikuti acara perkumpulan S.I.
Akhir certita, Hidjo menikah dengan Wongoe. Biroe menikah dengan Wardojo. Walter menikah dengan Betje. Dan Jet Roos menikah dengan teman Walter yang bernama Adminitratur Boeren.
Jikalau dilihat dari alurnya, kita akan bertanya-tanya. Apa berbahayanya kisah ini?
Kesetaraan
Kesetaraan dalam novel ini sangat kuat sebagai premis. Semua bermula dari kesadaran Raden Potronojo yang merasa direndahkan karena dirinya bukan dari bagian pemerintahan. Masyarakat asli dianggap rendah atas nama bangsa dan ras. Premis ini, dilihat pada masa itu, tentu bisa diraba sangat provokatif terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Pengarang Mas Marco mencoba untuk memberikan sebuah proposal pengajuan konsep. Bahwa satu-satunya yang bisa menaikkan derajat masyarakat lokal pada waktu itu adalah Pendidikan. Pendidikan, bagi Marco, adalah jalan paling cepat menuju kesetaraan kemanusiaan. Sebab itu tidak heran jika Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan politik etis jauh setelah mereka ikut mencari untung di tanah Hindia. Membiarkan masyarakat bodoh adalah politik paling kejam, bagi Marco.
Dalam salah satu alur, Mas Marco lewat tokoh Hidjo menunjukkan bahwa bangsa Belanda dan Djawa tidak ada bedanya. Saat Hidjo sampai di Belanda, ia melihat banyak orang Belanda yang kerja sebagai babu dan memiliki mental inlander. Mereka menganggap setiap orang Hindia yang belajar ke Belanda pastilah orang berduit. Di situlah Mas Marco piawai dalam menunjukkan relativitas pandangan. Kita akan terus terkesima dengan tampilan luar seseorang sampai kita tahu keadaan rumahnya sendiri.
Bahkan dari kacamata Kontroler Walter saat di atas kapal yang bertemu dengan Jendral. Dia mencemooh sikap Jendral yang memaki-maki jongos Hindia. Dia bilang bahwa kebanyakan orang Belanda miskin dikirim ke Hindia untuk mencari untung. Saat mereka kaya, mereka menjadi sombong. Maka tidak heran jika banyak orang Belanda yang ingin tinggal di Hindia daripada harus pulang ke Belanda dan menjadi buruh lagi.
Tidak hanya itu, kesetaraan itu juga ternyata yang menciptakan konflik turunan dalam cerita ini. Ini juga yang diambil Marco sebagai bentuk ideal sebuah tataran kemanusiaan. Walter yang berkebangsaan Eropa sangat terkesima dengan adat Djawa, bahkan dia mengatakan bahwa banyak adat Djawa yang lebih baik dari adat Eropa. Dia juga bisa menyukai Woengoe, orang asli Djawa, dengan sungguh. Begitu juga Betje terhadap Hidjo. Kelas rasial ini dihilangkan sama sekali. Bahkan terlihat Marco ingin mengolok-olok bangsa Eropa dengan cara menempatkan Betje yang sering memanggil Tuan pada Hidjo. Bahkan Marco menghilangkan sekat partikelir dan pemerintahan. Hubungan Biroe dan Wardojo menjadi representasinya. Semua tokoh yang ada di sini diciptakan untuk hidup masing-masing tanpa sekat kelas kebangsaan dan pangkat.
Sepertinya, bayangan ideal Marco hari ini memiliki beberapa relevansi secara sosial.
Pertama, perihal orang tua yang menentukan perkawinan anaknya. Hari ini anak memiliki kebebasan lebih untuk menentukan pilihannya. Dalam novel ini, tidak ada sikap resisten terhadap keputusan orang tua. Sebagai dampaknya, banyak anak yang membujang sampai tua karena tidak lantas menentukan pilihannya. Jika mereka diintervensi orang tua, paradigma keterlibatan orang tua ini dikritiknya.
Kedua, banyak masyarakat Indonesia yang menjadi orang penting berskala internasional. Mereka bisa menunjukkan bahwa mereka kompeten. Bahwa Pendidikan telah mengantarkan mereka kepada kesetaraan.
Ketiga, paradigma mental budak masih belum sepenuhnya terkikis. Kita masih bisa melihat bagaimana pandangan kita terhadap bangsa kulit putih. Kita suka terkesima dengan mereka karena standar kecantikan kulit putih yang masih tertanam di benak kita. Saat kita melihat turis, kita langsung mengajak swafoto. Semua ini masih terus melekat bagi masyarakat yang jarang bersinggungan dengan komunikasi antar-bangsa.
Keempat, kebudayaan kita akan terus selalu berkembang. Semua karakter Djawa di sini menunjukkan bahwa mereka sudah terpengaruh akan gaya Eropa. Mulai dari pakaian, bahasa, dan juga kesenangan. Jadi, untuk menciptakan tatanan sosial ideal adalah membumikan kebudayaan asimilasi ini dalam tingkat kewajaran lumrah.
Kelima, kecintaan terhadap kebangsaan. Hidjo memiliki potensi untuk menetap menjadi warga Belanda, namun dia tetap kekeuh untuk pulang ke Hindia dan hidup di sana. Perasaan primordial dalam batinnya, dikuatkan dengan pengetahuan modernya membuat Hidjo menjadi lelaki yang tahu akan sikap keberpihakannya.
Keenam, keterlibatan organisasi. Banyak organisasi masyarakat yang muncul, akan tetapi sedikit yang menunjukkan visi misi yang jelas. Hal ini mengakibatkan sikap skeptis anak muda terhadap organisasi yang dianggap hanya mencari swadaya saja tanpa mengajak masyarakatnya ke arah yang lebih konkrit.
Dengan ini tidak heran jika novel yang sederhana ini cukup mengkhawatirkan pemerintah Belanda. Bagaimanapun, novel ini penting untuk dibaca.