Watson di culik! Gila! Berani-beraninya orang menculik sahabat detektif terbesar Inggris? Sherlock Holmes jelas nggak terima. Dengan bantuan para informan setianya, Laskar Jalanan Baker Street, Sherlock mengubek-ngubek seluruh London, mencari penculik Watson. Desas-desus yang berhembus mengabarkan bahwa penculikan Watson disebabkan oleh seorang Dewi. Dewi pujaan bangsa Romawi yang konon di sembunyikan di tengah kota London. Sang Dewi adalah kunci bagi Sherlock Holmes dan Laskar Jalanannya untuk bias menemukan Watson. Siapakah Sang Dewi yang menjadi sandi kunci ini? Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street jelas nggak akan berhenti sebelum misteri ini terpecahkan!
Tracy Mack is an award-winning and bestselling children’s author. She has written dozens of books, most notably the World Fantasy Award-nominated Shadow Magic series, the Kate McGrath Adventures, and the illustrated Ripple and Flow series. She has degrees in both writing and children’s literature, and when she isn’t writing, she is usually out exploring the world. A traveler at heart, she’s been all across North America, Europe, and parts of Asia. She loves camping, rock-climbing, and anything with animals.
Watson diculik! Itu artinya perang dengan Sherlock Holmes, detektif nomer wahid!
Bagi Sherlock Holmes, Dr. Watson adalah bayangannya. Mungkin tak banyak yang menyadari dibalik tingkah lakunya yang kadang-kadang konyol, justru membantu Sherlock Holmes memecahkan sebuah masalah. Ide-ide sederhana yang dilontarkannya justru merupakan kunci utama guna memecahkan sebuah kasus. Plus, tanpa kehadirannya, kisah-kisah petualangan Sherlock Holmes tak akan terpublikasikan. Kisah sahabat sang detektif yang diculik bukan hanya ada dalam kisah Sherlock. Poirot juga pernah mengalami penculikan sahabatnya dalam cerita Empat besar yang legendaris. Hal ini membuktikan, para penjahat pun gentar akan kehadiran sahabat para detektif.
Laskar Jalanan Baker Street kembali beraksi. Kali ini Master, panggilan untuk Sherlock Holmes, memberikan tugas yang sangat berbeda. Mereka dibantu mencari Dr. Watson yang diculik! Satu-satu petunjuk mengarah pada sosok seorang professor, musuh bebuyutan Sherlock Holmes. Serta beberapa lembar kertas yang bertuliskan tangan Dr. Watson, “DI MANA: Segi-empat William, dikelilingi dua kali, Sembilan belas menjadi satu, pangeran. Apa: all’s Well that ends well (semua yang baik berakhir dengan baik), Mengapa: berikutnya.”
Untuk menyelesaikan kasus kali ini, para anggota laskar harus bekerja ekstra keras. Selain kasus yang dihadapi berbeda, musuh yang dihadapi juga sangat berbahaya. Belum lagi adanya mata-mata diantara mereka. Strategi yang biasa mereka gunakan kali ini sangat berbeda. “ Otak itu lebih hebat daripada otot. Kita harus berhenti mengandalkan kekuatan Rohan dan lebih banyak menggunakan akal kita.” Kata Pilar penuh percaya diri saat mereka berdiskusi
Mereka menelusuri seluruh jalanan di Kota London hingga menyusup ke Katakomba. Katakomba adalah lubang di bawah tanah tempat persembunyian atau makam orang, semuanya dilakukan demi mencari keberadaan Dr. Watson tercinta! Mereka juga harus memecahkan kode-kode rahasia yang ditemukan di beberapa tempat. Setiap detik sangat berarti bagi nasib Dr. Watson, Laskar Jalanan Baker Street harus berburu dengan waktu!
Kisah lain yang juga menarik dalam buku ini adalah mengenai Ozzie mantan pemimpin Laskar Jalanan Baker Street. Ia memutuskan untuk sementara waktu meninggalkan para sahabatnya agar bisa berkonsentrasi mencari ayahnya yang hilang. Ia bertualang hingga ke Oxfordshire. Namun ia justru menemukan sebuah teka-teki besar, alih-alih jawaban dimana ayahnya berada. Dan itu ada hubungannya dengan sang Master.
Laskar Jalanan Baker Street, mengacu pada anak-anak muda yang berkeliaran di daerah Baker Street. Mereka tak memiliki keluarga, hidup mereka berkeliaran di jalanan sebagai pengemis dan pengamen. Setiap Sherlock Holmes membutuhkan bantuan ia akan mengontak Laskar Jalanan Baker Street
Baker Street, tepatnya 221B Baker Street adalah tempat tinggal di Sherlock Holmes, walau lokasi rumah ini belum disebutkan pada saat cerita diterbitkan pada tahun 1887. Kemunculan nama Barker Street pertama kali muncul pada A Study in Scarlet, terbit tahun 1887. Lokasi tersebut sekarang dijadikan sebagai Museum Sherlock Holmes.
Baker Street dan Sherlock Holmes, sempat dijadikan bagian dari sebuah cerita tiga orang detektif remaja. Judul bukunya adalah Misteri Nuri Gagap dari Seri Trio Detektif. Seekor Burung Nuri yang semula dianggap hilang justru merupakan kunci menemukan sebuah harta. Belakangan bukan hanya satu ekor burung yang hilang. Sang Nuri mengucapkan kalimat “Little Bo-Peep kehilangan domba dan tidak tahu ia harus dicari di mana. Hubungi Sherlock Holmes!” lalu “To-to-to-be or not to-to-to be that is the question.” Sherlock Holmes memang tidak pernah hidup, maka yang harus dihubungi adalah alamatnya Baker Street. Jika digabung dengan kalimat kedua maka akan menjadi Baker Street 222B alamat sebuah pekuburan! Itu awal perkenalan saya dengan Sherlock Holmes.
Awal membaca buku ini, saya sempat terheran-heran dengan beberapa kata yang dicetak tebal. Misalnya Plokis di halaman 48 , opas di halaman 49, gepeng di halaman 57 dan masih banyak lagi. Di akhir buku, saya baru menemukan jawaban dari rahasia tersebut. Plus bisa membaca arti kode rahasia yang ditemukan oleh Laskar Jalanan Baker Street. Butuh ketelitian untuk mengartikan sebuah kode, bukan karena sulit namun karena mata minus saya sedikit kesulitan untuk bisa tetap fokus menatap kode yang ada. Walau bagimana senang rasanya setelah kode yang saya pecahkan artinya sama dengan yang diberikan oleh penulis. Jadi memahami mengenai Enkripsi, sebuah proses mengamankan informasi dengan menggunakan kode atau key sehingga informasi asal berubah menjadi sebuah informasi dalam format acak dan menikmati menjadi Kriptolog ^_^
Sepasang suami istri yang menuliskan buku ini mengaku sangat mengagumi dan mencintai tokoh Sherlock Holmes. Kisah seputar kode rahasia yang digunakan dalam buku ini terinspirasi dari buku "Kembalinya Sherlock Holmes" di cerita " Gambar Orang Menari" Kisahnya mengenai ditemukannya gambar mirip orang yang menari di beberapa tempat. Coretan yang sekilas bisa dianggap perbuatan anak-anak iseng ternyata sebuah pesan rahasia yang hanya dimengerti oleh segelintir orang.
Secara lengkap, buku ini terdiri dari empat buah buku, yaitu:
1. Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street : Misteri Kematian Bintang Sirkus 2. Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street : Teka-teki Kasus Pemanggilan Arwah 3. Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street : Penculikan Watson 4. Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street : Pertarungan terakhir
Sepasang suami istri yang menuliskan buku ini mengaku sangat mengagumi dan mencitai tokoh Sherlock Holmes. Kisah seputar kode rahasia yang digunakan dalam buku ini terinspirasi dari buku "Kembalinya Sherlock Holmes" di cerita " Gambar Orang Menari" Kisahnya mengenai ditemukannya gambar mirip orang yang menari di beberapa tempat. Coretan yang sekilas bisa dianggap perbuatan anak-anak iseng ternyata sebuah pesan rahasia yang hanya dimengerti oleh segelintir orang.
Puas membaca seluruh isi buka, secara iseng saya membaca ulang kover belakang. Mendadak kedua alis saya bertemu! Sebuah kalimat, " Sherlock Holmes jelas nggak terima" mengganggu saya. Duh sis, kenapa yah dibacanya kok jadi enggak enak. Apakah tidak bisa dicarikan yang lain? Kata "nggak" kok terasa mengganggu yah.
Buku ini saya terima sebagai hadiah ulang tahun dari Sis Dina Begum sang tukang alih bahasa. Menurutnya menerjemahkan buku ini sungguh menyenangkan. Mau tak mau saya setuju dengannya. DIbandingkan kedua buku yang lalu, buku ini lebih mengalir bahasanya, lebih menawarkan tantangan untuk ikut memecahkan misteri yang ada. Jadi berharap kelanjutannya selesai dalam waktu dekat, tinggal saya yang harus memutar otak mencari alasan apalagi yah buat menodong Sis Dina ^_^
Den dritten Teil fand ich bisher am spannensten. Auch wenn für den Leser die Aktivitäten des neuen/ehemaligen Characters in der Band von vornherein dubios sind (ein Charakter im Buch ist mistrauisch), bleibt die Spannung nicht fern. Schade fand ich, dass dann nicht mehr drauaf eingegangen wird, was mit dem Fund passiert, den sie entdecken - vermutlich, weil es für die Band keine große Rolle spielt. Egal ob ausgedacht oder real, man hätte in dem Wissensteil am Ende vielleicht etwas dazu schreiben können. Gut war, dass ein weiterer Charakter, der bisher etwas nervig, wennlgeich nützlich, etwas mehr Hintergrund bekommen hat. Das hat das Band enger geknüpft. Gelungenes Lesevergnügen für junge Sherlock Holmes Fans.
idek what to say. I get I'm definitely out of the age range for these books but the mysteries are so anti-climactic and easily discernible it's kind of depressing. That coupled with many of the characters lacking depth or clear motivations (Moriarity, Alfie, Rohan, etc) end up leaving them rather flat. Just because it's a book aimed at middle-schoolers doesn't mean characters can't have depth or mysteries can't be hard to untangle. It's okay to let kids use their brains, I swear!
Of the mysteries themselves, this one is probably my favorite, although I was consistently annoyed by the "Is Sherlock Holmes my father?" bit that kept popping up.
"No olvides la técnica más persuasiva del buen detective: la seguridad en uno mismo. Si tú no crees en ti, lo más seguro es que nadie te crea. Sé inteligente, sé reflexivo y sé convincente!"
This one was more straight forward. I wish there was a bit more character building — it felt more exposition-y with the new character/Ozzie’s crisis about who he is.
Des aventures de Sherlock Holmes avec un petit goût d'Indiana Jones, le fouet en moins… Je veux !
Un célèbre archéologue a été retrouvé mort dans la bibliothèque d'un musée et Sherlock Holmes va faire appel à ses « Mouches » pour être ses yeux dans cette enquête.
Mais notre bande de gamins des rues est bien perplexe : une bande de voyous plus âgés leur cherche des noises et semble avoir un coup d'avance sur eux à chaque fois !
Ok, nous sommes dans de la littérature jeunesse, mais ce n'est pas une raison pour prendre les lecteurs pour des imbéciles ! L'identité du traitre parmi les Mouches ne laisse aucun doute et on sent bien l'anguille sous la roche avec la seconde enquête que Holmes confie à ses enquêteurs en culottes courtes.
Quand à Ozzie, toujours à la recherche de son père, il vient enfin de comprendre ce que le lecteur avait pigé depuis le premier tome. D'ailleurs, il est bien dommage que la série ne compte que trois tomes parce qu'il y a comme un petit goût d'inachevé avec le final.
Anybref ! Malgré l'écriture assez simple, les ficelles assez grosses, on a tout de même du mystère, deux enquêtes, des trahisons, des quêtes de soi et du père ainsi qu'une certain recherche d'amour paternel et de reconnaissance et une mini tentation vers le côté obscur de la Force.
Ça ne cassera jamais trois pattes à un canard, mais ça se lit avec plaisir, la tête vidée de tout, les pieds sur la table et une tasse de thé à côté (ou de café, ou un mojito, une bière, ou ce que vous voulez boire !).
Les 2,5/5 ne sont pas le fait d'un mauvais roman, mais d'une lecture à garder pour les enfants ou pour les collectionneurs des apocryphes holmésiens.
This thrilling mystery follows a group of teenage boys and girls who are hired by non other than Sherlock Holmes, they call themselves the Baker Street Irregulars. The Baker Street Irregulars are helping Sherlock Holmes investigate a murder when the unthinkable happens, Watson Holmes' partner goes missing. The Baker Street gang immediately starts looking for Watson and in the process discovers it was a distraction. Holmes and Watson were working to find the murderer, Moriarty, but were drawing too much attention to the case with the Baker Street gang helping. However, when they discovered this the Baker Street gang ended up solving the mystery and stopping Moriarty from ruining ancient remains. This book had me on the edge of my seat, and I wanted to move to the next book in the series to find out if they ever catch Moriarty.
Interest Level: 3-5 Grade Level Equivalent: Not Available Lexile Measure: Not Available DRA: Not Available Guided Reading: Not Available
Kisah-kisah detektif fiksi terkenal asal London, Sherlock Holmes, memang tak pernah membosankan. Tokoh detektif fiktif ini buatan Sir Arthur Conan Doyle, kali ini Tracy Mack dan Michael Citrin mencoba menghidangkan sebuah kasus yang pernah terjadi di London semasa Ratu Victoria.
Di sini juga disuguhkan berbagai misteri, mulai dari yang menyelimuti Laskar Jalanan Bakerstreet, hingga kasus-kasus yang menjadi tema itu sendiri.
Tegang, pasti. Serius, apalagi. Mengajak berfikir pembacanya dari bab ke bab. Saya sendiri pun sempat menebak-nebak siapa pelaku pengkhianatan tersebut? hehehe :rahasia:
Menakjubkan... Hanya itu yang pantas untuk mengapresiasi karya kali ini...
The baker street invaders is a series of (graphic novel) comic books based on Sherlock Holmes stories in which he employs a gang of young street children to unravel his mystery cases. The adventure of the missing detective was an interesting read. The layout of the book enables the reader to really grasp the story and get excited about the storyline.
This is my first memorable comic book read. I liked the use of pictures, especially with the given plot, it enables the reader to imagine it happening. First, I was unsure about reading it and how to read it but once I got into it, it was ok. this book was a good read with the use of interesting storyline and graphic pictures, however it isn't the style of book I am used to reading.
Third book in series of the Baker Street Irregulars. This gang of urchins has become involved in routinely helping Sherlock Holmes with his investigations.
Ozzie has set out to uncover information about his unknown father. He finds some old tintypes and newspaper articles that make him suspect Holmes may know something about it. When he goes to confront the detective, however, the gang is in the middle of trying to discover an ancient Roman ruin and treasure before evil Moriarty and his gang of Gents does. Ozzie is caught up in the mystery and must help his friends come out of this alive before pursuing his past.
The story line is fast paced and full of adventurous turns, the characters are engaging and the twist at the end is well hidden. There are cyphers and history and all wrapped in a book that children and adults will enjoy. I started at book three, but will be looking for the rest of the books in this series—well done Mack and Citrin.
Excellent adventure though little about this case is actually a mystery. Very exciting and historically interesting this casebook in the Baker street irregulars series takes the gang on a midnight tour of London's ancient Roman ruins in search of a lost treasure and a lost Watson before Moriarty can find and destroy them all. Also Ozzie comes one step closer to finding his absent Father.
A book for children. Personally, I would've enjoyed it immensely back when I was 7 or 8. The plot and the style are geared towards this age group, of course, so an adult reader will find it way too simple and the language too childish. Still, it's worth giving it a once-over and I'm glad that the writers didn't go down the obvious cliche road with Osgood and Holmes. That was a bullet dodged.
My first translation of this series. I instantly fell for this book. It reminded of my childhood, when I read detective story for the first time. I couldn't put this book away, and actually felt sad when I finnished it.
Dari keempat buku dalam serinya, menurutku yang ini paling datar. Namun, sukses dalam membuat penasaran untuk membaca buku selanjutnya. Dari awal, penulis memang pandai menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak pembaca.
A great series that really fleshes out the "street arabs" who helped Holmes in the original stories. It will be interesting to see how their individual stories develop.
Ok, I'll be honest. I didn't expect it to be so interesting. Yeah it's London. Yeah it's based off of Sherlock Holmes. But still. Explosions, spies, guns, money, goddesses, betrayals.