Jump to ratings and reviews
Rate this book

First Love Dilemma

Rate this book
Sejak kematian mamanya dan kepergian cinta pertamanya, hidup Azura terpuruk. Azura yang periang berubah menjadi gadis pendiam. Namun, pertemuannya dengan Tristan membuat hidup Azura kembali berwarna. Gadis itu mulai berani membuka hatinya, dan pelan-pelan mampu membalut luka lama yang awalnya tidak pernah disentuhnya.

Tetapi, ketika Azura mulai berani menata masa depan dengan Tristan, masa lalu seolah tak bisa melepaskannya. Azura bertemu kembali dengan cinta pertamanya, yang ternyata adalah adik Tristan.

Manakah yang akan dipilih Azura, melanjutkan cinta masa lalunya atau merajut cinta baru?

256 pages, Paperback

First published February 1, 2011

20 people are currently reading
331 people want to read

About the author

Pricillia A.W.

10 books85 followers
Penggagum angka 22 yang selalu menganggap sebagai angka keberuntungan. Menyukai beragam cerita sejak kecil. Sangat suka ditemani anjing-anjing kesayangannya waktu menulis. Berharap dapat produktif menulis setiap tahun.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
89 (27%)
4 stars
75 (23%)
3 stars
100 (31%)
2 stars
34 (10%)
1 star
20 (6%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for Viktoria.
135 reviews1 follower
September 10, 2011
Pertama kali baca sinopsisnya... Hm, sepertinya mudah tertebak. Tapi cukup penasaran.

Impresi saya, novel ini biasa saja. Tidak ada ‘chemistry’ *cieeeelah* yang mendalam yang saya rasakan saat membacanya. Dataaaaaar. Mungkin inilah kekurangan novel ini. Terlalu datar, walau banyak masalah, yang dijelaskan hanya emosi dalam hati para tokoh saja. Itupun hanya sebatas kata, tanpa perasaan menggebu-gebu.

Dan juga, masalah utamanya!
*spoiler*

Oh, please! Mereka itu cuma saling salah paham, dan si Joshia itu terlalu kekanak-kanakan dan manja! Soal plot... Ah ya! Masalah Joshia dan Tristan (salah satu penyebab hubungan mereka memburuk) seolah menguap begitu saja setelah kedatangan ayah mereka. Apakah sifat kekanak-kanakan akan sembuh gitu aja? Joshia yang tadinya superbenci dengan Tristan, tiba-tiba jadi lembut. Begitu ayahnya datang dan menjelaskan persoalannya.

Klise memang, tapi tampaknya tidak terpikir cara apa lagi yang bisa menyelesaikan cerita ini, dari segala dendam dan kebencian itu
Profile Image for Janita Ys.
18 reviews2 followers
December 25, 2012
jujur, awal tertarik sama novel ini karena cover nya yang menurut gue 'cakep'. Di cover nya, tokoh si cewek dan si cowok terlihat sangat cantik dan ganteng! :-p hahaha

menurut gue, novel ini too drama. cerita nya terlalu di besar-besarkan. bahasa yang di pakai pun sangat baku. tapi gue enjoy kok baca ini. :)
15 reviews
June 3, 2014
Teenlit pertama yang gw baca sampe abis. Teenlit imi yg bikin gw suka baca teenlit, ngoleksi teenlit. Gw sbnrnya gk suka novel berkertas abu2 tapi gara2 disekolah temen2 pada byk minjem teenlut, udh gw ikutan dgn milih teenlit ini. Dannn gw suka sama ceritanyaaa. Sukur pertama baca teenlit gk salah pilih makany jdi ngoleksi dehh
Profile Image for Juno Tisno.
Author 1 book20 followers
January 24, 2013
Semenjak ibunya meninggal satu bulan silam, kehidupan Azura seakan menjadi sesuatu yang menyakitkan. Ia menganggap sang Waktu adalah suatu hal yang kejam dan salah Di saat itulah, ia bertemu seorang cowok bernama Tristan, yang entah bagaimana memiliki pandangan yang sama dengannya soal Waktu. Tanpa Azura sadari, Tristan pun mulai memasuki kehidupannya, membuat hari-harinya lebih ceria dan membuatnya dapat mulai melupakan Joshia, cinta pertamanya yang meninggalkannya. Tak dinyana, Joshia sang cinta pertama Azura, tiba-tiba hadir kembali di kehidupannya! Yang lebih mengejutkan lagi adalah Joshia ternyata adik dari Tristan, dan kini, ia sudah memiliki pacar bernama Gwen. Hubungan Joshia dan Tristan sendiri tidak terlalu baik karena ada peristiwa lalu yang melibatkan Gwen. Kini, setelah menemui kenyataan itu, siapa yang akan Azura pilih? Tristan yang sudah memberinya keceriaan ataukah Joshia yang ia nanti-nantikan?

Seperti yang sudah saya utarakan di atas, novel ini sedikit banyak termasuk dalam aliran Jepang. Hal itu terutama tampak dari dua adegan dibuat Pricillia dalam bagian-bagian awal novel ini: pertemuan Azura dengan Tristan di taman (hal. 15) dan—ini yang lebih penting—adegan saat keduanya bertemu kembali di atap sekolah (hal. 21). In fact, tema novel ini saja sebenarnya merupakan sesuatu yang jamak muncul dalam anime: kembalinya teman masa kecil (dikenal juga dengan sebutan osananajimi) ke kehidupan sang karakter utama. Tentu saja, adanya aspek osananajimi ini menuntut adanya background cerita masa lalu. Namun, kita akan membahas nanti. Di samping itu, adanya bagian lain seperti Tristan yang berulang kali merasakan sakit itu dan narrative hook yang lebih berkutat pada hal-hal filosofis (Sang Waktu) alih-alih suatu cerita yang mengalir juga memperkuat hipotesis saya. Nice try, meski sayangnya sentuhan itu lama-kelamaan tampaknya mulai memudar sepanjang perkembangan cerita.

Kemudian,masuk ke dalam komentar. Satu hal yang hendak saya angkat di sini adalah alur dan konflik. Pertama, dari bagaimana pengarang menyembunyikan suatu elemen cerita, atau dikenal juga dengan teknik foreshading. Pada dasarnya, penggunaan teknik foreshading merupakan suatu hal yang bagus karena dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca sehingga pembaca akan selalu membuka halaman untuk menemukan jawaban dari “apa yang disembunyikan”. Pricillia sudah menggunakan teknik ini, hanya saja ia tampak terlalu banyak menggunakannya di awal cerita. Terdapat banyak sekali bagian dalam novel ini yang menyebutkan “dia” atau “orang itu”, sehingga alih-alih jadi penasaran, saya justru menjadi geregetan saat membaca novel ini (sambil berpikir, ini kapan dieksposnya...?). Untunglah, “orang itu” yang dimaksud (yakni Joshia) segera diungkap pada Bab 6, sehingga permasalahan ini tidak terlalu berlarut-larut. Oh, ya, satu kritik lagi terhadap bab sebelumnya (Bab 5). Dalam pandangan saya, transisi Azura dari SMA ke kuliah itu terasa “terlalu terburu-buru”, dan kalau dipikir-pikir, setelah bab tersebut gaya penceritaan masih tidak jauh berbeda dengan “gaya SMA”. I mean, tidak ada suatu hal yang menunjukkan bahwa Azura merupakan anak kuliahan (kecuali mungkin halaman 182)—karakternya terlihat kurang “dewasa” kalau mengingat sebagian besar cerita ini didedikasikan untuk Azura yang sudah berkuliah. Tapi, yah, mungkin karena ini baru masa transisi, jadi masih dapat diterimalah (lagi pula, karakterisasi merupakan “hak penuh” pengarang). Selain itu, alur dalam novel in terasa stagnan. Hal itu mungkin ada kaitannya dengan pemilihan tempat yang itu-itu saja: rumah Azura, tempat kos Tristan, kafe...sepanjang perjalanan buku ini (minus bagian awal dan mendekati akhir, tentunya), hanya tempat-tempat itu yang diekspos. Yup, di satu sisi, Pricillia tidak dapat terlalu banyak menggunakan setting sekolah, tapi di sisi lain, ia tidak memanfaatkan setting kampus. Di samping itu, terkadang ada terlalu banyak dialog (hal. 180-181 yang lumayan mengganggu).

Kemudian, koflik. Jujur saja, konflik dalam cerita ini sedikit membingungkan. Coba saya ulur: Azura bertemu Tristan, tapi sebenarnya, ia masih menantikan cinta pertamanya, Joshia. Joshia memang kembali, tapi ternyata ia sudah punya pacar bernama Gwen yang kuliah di Australia. Ketika pulang dari Australia, Tristan-lah yang secara diam-diam ditemui Gwen. Sementara itu, Joshi sendiri membenci Tristan karena peristiwa di masa lampau yang juga melibatkan Gwen. Melihat Joshi dan Tristan yang sebegitu banyaknya memberi perhatian pada Gwen, Azura pun menjadi merasa tersisihkan. Dari situ, saya dapat melihat bahwa terjadi perpindahan “pusat cerita”, dari yang tadinya mengenai cinta pertama Azura menjadi konflik pribadi antara Tristan-Joshia (dan Azura, dalam beberapa bagian) . Untunglah, penggunaan sudut pandang orang ketiga seba tahu memungkinkan Pricillia menyorot peran masing-mnasing karakter sehingga sedikit banyak dapat membantu saya memahami konflik dari keseluruhan cerita. Background cerita yang disisipkan di sepanjang cerita juga membantu membangun penjabaran mengenai konflik (hal. 110-111 dan 116-119). Background-nya sendiri cukup bagus menurut saya, hanya saja dalam beberapa hal terlalu banyak menggunakan telling. Tak mengapa, lagi pula, ini sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Kemudian, karakter. Pembatasan karakter utama sebanyak empat buah ini cukup membantu untuk memfokuskan alur (meski sayangnya, konfliknya menjadi melebar), tapi kalau mau jujur, saya masih belum bisa meng-grab karakter yang ada. Mungkin ini ada kaitannya dengan tema cerita yang menunjukkan kegamangan Azura antara memilih Joshia atau Tristan, tapi adegan Joshia menggandeng tangan Azura (hal. 198) padahal ia digambarkan mencintai Gwen dan sedikit manja terhadapnya (hal. 158) sedikit mengganggu pikiran saya. Meski begitu beberapa penjabaran fisik seperti Tristan yang digambarkan selalu mengeluh sakit, kaki Joshia yang bermasalah, dan kesukaan Azura terhadap cheesecake digambarkan dengan konsisten.

Terakhir, resolusi. Sepanjang pengamatan saya, proses menuju resolusi berada pada bab 14-16, hanya saja saya merasa proses ini terlalu “tiba-tiba”. Konflik antara Tristan dan Joshia tampak menguap begitu saja, dan di bagian akhir bahkan tampaknya mereka sudah akur. Memang ada penjelasannya di bab 15, tapi elemen ini menggunakan Deus ex machina yang seringkali dihindari oleh para penulis. Kalau saja resolusi konflik tidak terlalu cepat dan tiba-tiba, mungkin suasana “damai” di bab 16 dapat dinikmati dengan lebih enjoy.

Penilaian? Alur yang agak stagnan dan sedikit melompat dan kerumitan karakter mengurangi kenikmatan membaca novel ini, tapi eskalasi konflik dan latar belakang cerita menjadi penyokongnya. Kalau kamu menyukai cerita dengan sedikit unsur Jepang, teman masa kecil, dan cinta segitiga, maka bolehlah buku ini menjadi pilihan.
Profile Image for Lisa Isabella.
Author 7 books14 followers
February 25, 2019
Cerita yang di sampaikan belum tersampaikan dengan tuntas. Cover begitu sangat menarik. Seperti judulnya, novel ini menceritakan dilema para tokoh. Azura yang lebih mencintai Tristan atau cinta pertamanya, Joshi. Walaupun Azura tahu, bahwa Joshi sudah punya pacar.

Rating Book: ★★★☆☆ (3,4/5)

Profile Image for Dewi Annisa.
4 reviews
December 18, 2019
Buku novel pertama yang aku baca sebelum punya buku novel sendiri dan itu buku kakak saya.menurut saya cerita dari novel ini sedikit mudah untuk ketebak akan tetapi di bagian ending cerita ini agak menggantung
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Clarissa Putri.
14 reviews
November 27, 2016
Suka sama ceritanya.
Gaya bahasa santai, penceritaan luwes dan jelas.
Penokohan konsisten, suka pokoknya ^^
Profile Image for Defi Arika.
Author 2 books6 followers
July 21, 2018
Novel pertama yang saya baca! Suka, banget.
Profile Image for Nur Fadilla Octavianasari.
565 reviews45 followers
June 17, 2011
bangun tidur , langsung ngadep laptop :))

azura main character yang diceritakan , what yah oh ya depresi (kalo mnurut gw sih) karena ditinggalkan ibunya dan disaat2 dia butuh sandaran untuk tetap hdup... cowo yang jadi cinta pertama, shabat skaligus sandaran dirinya itu menghilang gt aja .
dua tahun berlalu, bertemulah ia dengan Tristan . berwalan dr pertemuan tak sengaja ditaman komplek inilah akhirnya ara bisa tersenyum kembali seperti dulu , tpi siapa sangka pertemuan dengan tristan bakal menguak kembali luka lama? yah hampir 2 tahun dia dan tristan merasa adem ayem eh dengan tiba2 dan tanpa undangan si "dia" muncul begitu saja. "dia" itu Josia cinta pertma ara sekaligus adik tristan. nah, hubungan tristan-joshia sendiri bs dibilang mirip kucing-anjing. yah, joshia slm ini mrsa kalo kebahagiaannya udah di ambil ama tristan, padahal nih ya tristan udah ngerelain smuanya buat adek yang paling disayanginya itu .

azura-tristan sendiri ngerasa jatuh cinta satu sama lain, tp mreka nggak ada yg sanggup ungkapin. bahkan stelah tau cinta pertama tristan, ara malah menghindari tristan berhari2 . sejak itu, tristan bertekad bakalan ngedapetin ara dan gak bakal melakukan kesalahan seperrti dulu lagi, udah cukup dia ngalah ama josie .

yah, bisa tebak kan akhirnya ara sama siapa? :)
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
January 6, 2014
Hm, dua bintang sesuai definisi masing2 bintang di Goodreads, yg berarti: it was okay. Penulisannya rapi, tapi sayangnya alurnya datar. Konfliknya, okay for teenage, sampai pas menjelang akhir cerita aku tahu ada perihal donor ginjal yang janggal. Masa ada kakak donorin ginjal ke adiknya tapi orangtuanya nggak tahu? Si kakak minta dokter merahasiakannya pada siapa pun, padahal kan pasti ada efek samping baik bagi pendonor dan juga orang yang diberi ginjal baru, jadi orangtuanya mesti tahu lah. Jadi yang awalnya mau kasih 3 karena suka dengan kerapian dan konfliknya yang lumayan, langsung down gara-gara ini. Oh my! Masa sih proses donor ginjal bisa begitu cepat sampai orangtuanya nggak tahu? Sayang banget. Resensi lengkap http://t.co/lreWvyYZGO, dan ini sekaligus entry kedua untuk IRRC 2014. :)
Profile Image for Fera Flies Free.
339 reviews29 followers
June 14, 2012
Oke.
Jadi novel ini tuh menceritakan tentang cinta kakak-adik dengan dua orang cewek berbeda (pastinya!)
Menurutku, selama baca novel ini, mood slow" aja.
Aku nggak dapat chemistry apa" waktu baca buku ini,
Biasanya kan ada kesan tersendiri gitu,
Tapi nih novel kayak datar" aja disamping konfliknya yang seolah cuma ada mereka berempat plus masa lalu-masa lalu mereka.
So yah, pertamanya mungkin yang membuat saya tertarik itu covernya :P
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 reviews
November 20, 2011
Hmm, maaf, bagiku ceritanya menyebalkan
Datar, karakterisasi berlebihan, dan garing
Jujur hal paling fail di sini menurutku adalah soal donor ginjalnya Tristan. Kok bisa sih orang sakit-sakitan mendonorkan ginjalnya ? Dokternya ngabulin pula ! Itu bunuh diri namanya !
Yah, sulit bagiku menuliskan hal baik tentang novel ini, kecuali mungkin ceritanya cukup oke bagi yang suka cerita-cerita teenlit yang dramatis dan yang suka cerita-cerita ringan
Sorry for my opinion ^^;
Profile Image for Garys Difoasih.
14 reviews
December 2, 2012
mungkin udah 10x kali saya baca novel ini ga ada bosen-bosennya ceritanya emang biasa tapi penyampainnya tak biasa ahaha,,,ohh triztan kepengen punya kakak laki-kali kayak dia hufftt keren bgt emang deh kak pricil ini :) apalagi pendapatnya tentang waktu itu bner banget.dan satu lagi saya mendapat pelajaran tentang arti waktu.lanjut kan kak novel berikut2nya ditunggu :)
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book38 followers
April 29, 2013
Lumayan membingungkan. Banyak tokoh yang saling silang. Beberapa bahasanya masih ngambamg antara baku dan nggak baku. Jadinya, agak bingung. Tokoh azura terkesan plin-plan. Sebenarnya semua sih, baik tristan, joshia maupun gwen. Kurang dapet feelnya.
Profile Image for Shannon.
47 reviews
September 30, 2011
Bagus, cerita roman yang memberi sudut pandang cukup unik tentang mencintai, walau terlalu berorientasi pada cerita roman itu sendiri, dan tidak terlalu menekankan "First Love Dilemma"nya sendiri.
Profile Image for Fatimah Asriani.
11 reviews
July 11, 2013
Ini adalah novel pertama yang saya baca waktu kelas 7 (mungkin). Saya suka alur ceritanya, gaya bahasanya, endingnya. Dan terlebih saya suka dengan Tristan! haha
1 review
August 8, 2013
Penilaian tentang waktu yang dibenci terlalu berlebihan
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.