Jump to ratings and reviews
Rate this book

Blues Merbabu

Rate this book
Sebagai anak PKI, lebaran tidak lagi sama bagi Gitanyali diakhir 1965. Ia masih SD di kota kecil di kaki Gunung Merbabu ketika menyaksikan sang ayah diambil aparat, dan tak pernah ketahuan lagi rimbanya. Sang ibu menyusul ditahan tanpa tahu kapan akan dibebaskan karena dianggap terlibat Peristiwa G30S. Kehidupannya berubah, keluarganya tercerai berai.

Diasuh oleh sang paman di Jakarta, dunia Gitanyali terbuka lebar. Ia menempa diri untuk tidak kalah pada sang nasib. Ia menikmati kehidupan sebagai anak kebanyakan yang penuh godaan, termasuk dalam kehidupan seksual, tanpa terbawa arus. Ia memilih bertahan tanpa harus “melawan”.

192 pages, Paperback

First published February 23, 2011

12 people are currently reading
51 people want to read

About the author

Gitanyali

2 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (9%)
4 stars
40 (24%)
3 stars
62 (38%)
2 stars
33 (20%)
1 star
10 (6%)
Displaying 1 - 30 of 40 reviews
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
September 23, 2020
Blues Merbabu rasanya lebih seperti "buku harian". Memang konten mengenai 65nya lebih sedikit, tapi jujur ada kesedihan mendalam untuk membaca bahwa bagaimana seorang anak berumur 8 tahun kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggal oleh kakak-kakaknya.
Profile Image for Leonart Maruli.
285 reviews6 followers
December 27, 2022
Sebenarnya kalau dibilang novel ini mengumbar erotisme yang vulgar, saya tak terlalu setuju. Kalau dibandingkan dengan Cantik itu Luka nya Eka Kurniawan, novel Cantik itu Luka jauh lebih vulgar.

Yang saya suka dari novel ini adalah alur ceritanya yang enggak rumit. Bahasanya ringan dan terasa ingin terus membaca sampai tamat. Menurutku plot cerita novel ini juga bagus, cerita di Bab pertama dan Bab terakhir saling berkesinambungan jadi nampak seperti plot yang berbentuk bulat utuh.
7 reviews16 followers
February 19, 2011
Membaca novel ini, menggiring ingatan pada buku karya Haruki Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin. Absurd. Postmo. Surealis. Dengan latar belakang persoalan sejarah kelam bangsa ini, Gitanyali sebagai penulis memberikan pola pikir dan sudut pandang penceritaan yang berbeda dengan, tak ada sendu sedan. Angkuh, dingin, tertutup, asik dengan dunianya sendiri, disinilah kekuatannya, tak hanya seks belaka yang dieksplorasi, kekuatan karakter tokoh utamanya menggiring pembaca untuk ikut larut di dalamnya.
Profile Image for Indira Iljas.
206 reviews9 followers
April 13, 2017
ngintip review tmn2 dsini agak2 gak percaya juga, trus ngebandingin sm sampulnya eh mulai mikir koq agak ajaib ya ?? paling annoying gambat cewek di sampul buku ini, mikir lg koq mirip sama gambar yg ada di blkg truk lintas daerah ya.... ??? cuma kurang kata2 aja "cewek manja ato "gadis malam" nya.... untungnya ada ijak jd bs pinjem scr cuma2. eh pas baca ohhhhh,.....
Profile Image for Ken.
Author 26 books233 followers
April 6, 2011





Tidak sesuai harapanku. Kebanyakan sex-nya pula.


















Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
December 24, 2022
Merupakan novel yang menceritakan tentang kisah masa lalu seorang pria paruh baya bernama Gitanyali yang dilahirkan dalam keluarga PKI. Guna memenuhi wawancara seorang jurnalistik muda bernama Nita, ia memutuskan untuk menceritakan kembali perjalanan hidupnya sedari ia kecil hingga saat ini.

Meskipun bertema tentang kisah PKI, entah kenapa saya tidak merasakan ketegangan yang berlebih. Bisa jadi karena karakter dari tokoh utama yang cukup eksentrik, utamanya jika hal tersebut berkaitan dengan urusan perempuan. Digambarkan, si tokoh utama ini adalah sosok yang punya jiwa petualang yang bebas dan gemar bereksplorasi.

Justru, pada satu titik saya merasa korelasi sebab-akibat dari asal-usul keluarga PKI dengan hidupnya saat ini tidak begitu digambarkan. Penceritaan justru cenderung fokus pada ingatan masa lalu tokoh utama dengan orang-orang yang pernah bersinggungan atau ada keterkaitan dengan ybs.
Profile Image for Fia Yuna.
32 reviews2 followers
November 15, 2017
Over all asyik sih, namun tanpa greget yang mengiringi. Pertama membaca blurb agak terkecoh kirain bakal bahas sepenggal kisah kelam bangsa ini, ternyata ini malah brasa ringan banget, rasanya tuh kayak baca diary orang lain. Jangan harap bakal penuh konflik. Isinya cuma petualangan esek2 yang jauh banget mau nyerempet ke roman dewasa. Intinya flat. Nah, kenapa bisa kukasih tiga bintang? Karena quotes yang cukup layak dipuji.
... nyaris mutlak bahwa orang cantik selalu bernasib baik-setidaknya lebih baik dibanding yang kurang cantik.

Tidak benar orang berhenti hidup dalam mimpi ketika usia bertambah dan menjadi tua. Orang menjadi tua karena berhenti bermimpi.
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
June 29, 2020
Semula saya mengira buku ini berkisah tentang gaiamana anak seorang anggota PKI menjalani kehidupan. Pada bagianawal, hingga halaman 32 memang memberikan banyak informasi mengenai kehidupannya yang dikelilingi kader.

Namun pada halaman 33, urusannya kenapa jadi mengarah pada sesuatu yang ada di antara selangkangan. Ok, saya mengira ini bagian dari kisah, menjadi sesuatu nanti. Di halaman 69, muncul lagi urusan ITU. Dan begitulah.

Bisa dikatakan ini semacam kisah perjalanan hidup seseorang yang kebetulan orang tuanya dahulu adalah anak PKI. Cuman begitu saja ternyata. Ide bagus yang dieksekusi dengan kurang pas.

Ini bisa jadi rating terjelek yang saya berikan sepanjang tahun 2020.
Pantas, ada rasa enggan untuk membaca timbunan ini.
4 reviews
July 15, 2023
Gaya penulisannya santai tapi mampu menempatkan momentum-momentum secara tepat. Ceritanya mengalir begitu saja. Terlihatnya seperti orang menulis diary, tapi di situ lah letak menariknya. Sangat enjoyable!
Profile Image for Rie.
14 reviews
June 24, 2021
Saya mengira cerita ini akan banyak membahas bagaimana perjalanan hidup anak PKI tapi ternyata... isinya malah keseringan bahas tentang sex :(
Profile Image for heri.
287 reviews
July 7, 2021
ringan, beberapa bagian cukup menyentuh, namun banyak bagian agak berlebihan.
Profile Image for Yovano N..
239 reviews14 followers
July 30, 2014

Bisa juga dibaca di sini: kandangbaca.blogspot.com/2014/02/blue...

Begitu membaca sinopsisnya yang mengungkit-ungkit PKI, saya langsung berpikir bahwa buku ini adalah salah satu novel yang bercerita tentang kepingan kisah tahun 1965 yang merupakan salah satu masa terkelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Itulah mengapa saya memilih buku ini sebagai bacaan untuk event Baca dan Posting Bareng BBI kategori Historical Fiction Indonesia. Dalam benak saya, buku ini semacam buku 'nyastra' yang isinya lumayan berat. Er... ternyata nggak juga. Maksud saya, isinya tidak berat-berat amat. Yah, buku ini ternyata jauh di bawah ekspektasi saya.

Blues Merbabu berkisah tentang perjalanan hidup Gitanyali, anak dari salah seorang anggota PKI yang tinggal di sebuah kota kecil di kaki gunung Merbabu. Menilik nama tokohnya, saya pikir dia perempuan. Ternyata saya keliru, karena dia 100% laki-laki. Novel yang diceritakan secara kilas balik ini lebih banyak menyorot aktivitasnya mulai dari kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Awalnya Gitanyali kecil menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya. Ia tidak mengerti banyak tentang aktivitas ayahnya. Yang ia tahu bahwa ayahnya sering mengadakan rapat dan pertemuan-pertemuan di rumah keluarga mereka. Ia tak tahu dan tak mau ambil pusing dengan hal tersebut. Namun, kondisi hidupnya berubah setelah sang ayah dibawa pergi oleh tentara dan tak pernah kembali lagi. Ibunya dimasukkan ke hotel prodeo alias jeruji besi. Gitanyali kemudian dibawa oleh pamannya ke Jakarta, dan mulai menjalani kehidupan barunya di kota metropolitan.

Kisah hidup Gitanyali yang diceritakan dalam buku ini lebih sering menyerempet urusan (maaf) kelamin. Informasi tentang peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan PKI hanya disinggung sedikit sekali. Mungkin karena tokoh utamanya sendiri tak begitu ambil pusing dengan masalah tersebut, kecuali bahwa gara-gara berhubungan dengan PKI, keluarganya jadi tercerai-berai.

Saya sempat bingung dengan buku ini. Pada sampul bagian belakang, buku ini jelas-jelas disebut sebagai novel. Namun mengingat nama penulis dan tokoh utama sama persis, saya jadi menduga bahwa buku ini sebenarnya adalah memoar. Gaya tulisan dalam buku ini seperti seseorang yang menuangkan kisahnya ke dalam buku harian. Alur cerita dalam novel tipis ini cenderung datar dan membosankan. Saya malah sempat tergoda untuk tidak melanjutkan membaca buku ini, karena meski sudah lebih dari setengah buku, saya merasa tidak mendapat apa-apa selain sekadar menyimak kisah hidup seorang anak PKI yang ternyata biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak ada konflik berarti. Memang diceritakan bahwa sang ayah 'dibawa tentara' dan sang ibu 'menginap di hotel prodeo'. Namun saya tak merasakan emosi apa-apa. Datar aja gitu.

Dari segi penulisan, jelas sekali sang penulis memang bisa menulis dan bisa bercerita. Tutur bahasanya mengalir dengan baik. Sayang, saya tak menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. Mungkin karena harapan saya sejak awal bahwa buku ini berisi banyak sekali konflik. Ternyata, sebagian besar buku ini lebih sering menonjolkan petualangan esek-esek sang penulis, eh, maksud saya, sang tokoh utama. Hmm, not really my cup of tea.

Jadi, tak banyak yang bisa saya ungkapkan selain rasa kecewa terhadap buku ini. Oh ya, buku ini memiliki sekuel berjudul 65. Apakah ceritanya akan lebih menarik? Saya harap demikian, karena sudah terlanjur beli bukunya. Saya memang berencana akan membacanya untuk Posting dan Baca Bareng bulan November kategori buku yang judulnya mengandung unsur angka. Haha. Ternyata saya memang suka menyakiti diri sendiri. Sudah tahu buku ini nggak sesuai harapan, tapi nekad membaca sekuelnya. :))
Profile Image for Ardita .
337 reviews6 followers
January 13, 2013
Blues untuk Merbabu, kenangan manis masa kecil yang tidak akan lekang dimakan kapasitas daya ingat otak Gitanyali, yang dalam kehidupan nyata dikenal pembaca Kompas Minggu sebagai Bre Redana (meski ini bukan nama asli beliau).

Saya baca kelanjutan buku ini lebih dulu (65) dan membeli lalu membaca Blues Merbabu kemudian. Rasanya seperti bersua dengan kawan lama, mengingat Redana sudah lama tidak menulis panjang dan saya sendiri berhenti baca media cetak sejak akrab dengan Twitter dan Internet. Sampul dan isinya memang beda, tapi pembaca yang sudah akrab dengan gaya Redana mestinya tak heran. Tulisan ini kental dengan unsur budaya populer, terutama tahun 60-80-an, meski Redana tak sampai hati ekspor berbaris-baris lirik lagu.

Membaca kisah ini seperti menyibak tirai masa kecil Redana yang tidak pernah muncul dalam tulisan-tulisannya terdahulu. Cerita yang jujur dan lepas. Sebagaimana jiwa anak-anak. Menarik juga bila mengamati jiwa Gitanyali kecil tidak dikorupsi politik yang ganas di masa itu, namun disibukkan oleh urusan umum seorang anak: mengenali dan menjelajah dunianya; meski di dalam hatinya Gitanyali paham dia tidak boleh menonjol karena latar belakang keluarganya. Mirip dengan "Cerita Cinta Enrico" milik Ayu Utami. Gitanyali kecil tampil sebagai jawara atas dirinya, menolak capek hati mengingat ayahnya yang entah di mana (jadi ingat salah satu fragmen di "Act of Killing", cerita seseorang waktu masih anak-anak juga). Dia menyibukkan diri dengan hobi dan macam-macam kegiatan yang membuat dirinya "laki-laki jadi".

Kisah tentang petaka enam lima dari sudut pandang bocah tidak banyak beredar di negara yang sejarahnya mesti diruwat ini. Boro-boro cerita anak, cerita orang dewasa saja tak panjang daftarnya.

Saya salut untuk Bre Redana yang sanggup menuliskan kembali pengalaman masa kecilnya. Mungkin Redana mencoba berdamai. Mungkin dia merasa sekarang saat yang tepat. Tapi saya ingin bertanya, apakah ada sekolah yang berani menjadikan buku ini wajib bagi pelajar SMP atau SMA? A study on "tragedy" perhaps or "the role of family in tragedy"..
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews3 followers
November 20, 2016
Ada dua hal yang membuat saya terkoneksi dengan Novel ini.

Hal pertama yaitu dengan setting Novel ini di Merbabu dan tempat sekitarannya Salatiga, Ambarawa, Semarang dan Kopeng. Bagi sebagian anak SMA yang tinggal di Jawa Tengah, pergi ke Kopeng dan naik Merbabu masuk dalam daftar tujuan kala libur sekolah. Jalur pendakian yang lebih ringan daripada gunung lainnya seperti Sumbing dan Sindoro, membuat Merbabu jadi favorit dan jadi tempat inisiasi naik gunung. Novel ini bercerita tentang kehidupan anak keluarga PKI dan siasat hidupnya setelah satu hari di akhir September 1965 yang mengubah segala-galanya. Ingatan akan kota masa kecil, orang-orang yang senasib dengannya bertautan dengan petualangan cinta (seks lebih tepatnya) nya. Walau hal yang terakhir memang terlalu banyak porsinya di sepanjang novel ini.

Hal kedua tentang penulisnya Gitanyali yang merupakan pseudonym dari Bre Redana, mantan pengasuh rubrik di Koran KOMPAS minggu. Saat tinggal di Muntilan dan Jogja dulu, saya termasuk penggemar berat edisi minggu. Mulai dari featurenya, budaya dan rubrik perjalanannya, dan sampai saat ini masih punya beberapa bundel klipingnya. Seorang teman selalu berseloroh di minggu pagi, "Nyoh sarapan ndisik iki koran ne". Novel ini yang diyakini sebagai kisah penulisnya juga menyelipkan cerita bagaimana dia bisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan menjadi wartawan.

Ini hari minggu pagi, ingin rasanya kembali ke masa lalu tinggal di kota kecil masa SMA, dan membaca koran minggu yang selalu jadi rebutan. Namun teringat akan satu narasi di novel ini :
"Kita hanya bisa memelihara kenangan, tapi tidak menghidupinya"
Profile Image for Niken Anggrek.
Author 1 book3 followers
April 6, 2011
Buku ini salah satu dari sedikit buku yang mengupas peristiwa 65. Menuturkan bagaimana Gitanyali tercerabut dari masa kecilnya yang seharus-nya baik-baik saja. Ia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ayah dan ibunya di ciduk, dan keluarganya tercerai berai.

Kata-kata penuturannya lumayan. Tetapi kok saya cenderung menilai buku ini kurang mengupas permasalahan yang sebenarnya. Bahkan, saya rasa buku ini hanya mengisahkan kisah asmara si Gitanyali. Sedangkan peristiwa yang ingin ditonjolkan malah diceritakan hanya berupa narasi. Akibatnya, menurut saya malah tidak menghanyutkan emosi pembaca sama sekali. Sisi emosionalnya lebih menunjukkan ketika Gitanyali naksir cewek-cewek baik sedari SD, SMP, SMA, dan sebagainya.

Desain sampul buku ini juga tidak saya sukai, alias norak. Mungkin ringkasannya tidak usah mengungkit2 PKI. Karena ceritanya lebih menceritakan tentang 'menikmati kehidupan sebagai anak kebanyakan yang penuh godaan, termasuk dalam kehidupan seksual' seperti yang tertulis di ringkasan paling bawah.


Profile Image for Yasdong.
47 reviews3 followers
January 27, 2014
Gitanyali anak dari seorang kader PKI. Rumahnya yang berada di sebuah kota di kaki Gunung Merbabu selalu ramai oleh diskusi politik maupun pentas seni kaum merah. Semua musnah ketika penumpasan PKI di akhir 1965 terjadi. Tapi dia tidak mau hanyut dalam kesedihan berlarat-larat. Dia terus bertahan hidup dengan rumus "unsur dunia ini adalah hidrogen dan kebodohan".

Dia pun menemukan obsesinya terhadap dunia menulis dan perempuan. Digambarkan dengan nakal lewat sebuah bab di mana dia yang masih kecil tidur bareng kakak sepupunya yang jauh lebih tua hingga dia mimpi basah. Pengalaman itu jadi semacam awalan untuk petualangan mendiuri wanita-wanita lain di berbagai kota yang dia singgahi, juga ketika dia mampir lagi ke kampung halamannya ketika sudah SMA.

Tapi di luar kisah seks yang bertebaran, buku ini cukup melankolis membahas kenangan. Kenangan yang mungkin bagi si penulis begitu dramatik, tapi dipandang biasa saja oleh orang yang diceritakan. Sepertinya begitulah cara kerja kenangan ketika waktu terus berlalu.
Profile Image for Restu Aji.
58 reviews2 followers
March 7, 2011
Gitanyali, entah nama asli atau samaran ternyata tidak menggunakan aji mumpung atau menjual sensasi atas kondisinya sebagai anak PKI untuk membuat kontroversi dalam sejarah kelam tahun 1965--seperti yang kuduga semula saat membeli buku ini.

Aku juga menduga bahwa buku ini akan bercerita luka, kesedihan, tangisan karena orang-orang terdekat dari si karakter utama satu persatu menjauh darinya diangkut tentara. Tapi semua dugaanku salah. Buku ini mengalir lancar menunjukkan ketangguhan karakter utamanya, menggali memori dan sejarah penulisnya akan hal-hal yang selalu menyenangkan dari masa lalunya, kesombongan akan prestasinya, dan petualangan cintanya yang pasti bikin pembaca terheran-heran dan pasti membuat pembaca lelaki ikut tegang sekaligus iri karenanya atau malah senyam-senyum soalnya mungkin pembaca bakal menemui banyak deja vu di dalamnya.
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
July 11, 2011
2.4 bintang saja.
bacaan yang putus nyambung, kayak pacarannya ababil...hehehe...

sebetulnya cara bercerita gitanyali ini mengalir, enak diikuti, seperti layaknya orang yang berpengalaman di dunia tulis menulis dan reportase cetak.

yang membuat ratingnya nggak sampai 3 bintang adalah isi cerita yang membuat aku agak kecewa. back cover blurb sangat menipu, menjanjikan cerita yang menarik tentang anak tokoh PKI, padahal isi ceritanya lebih banyak tentang cerita petualangan kelamin si tokoh utama , sejak kelas 4 SD sampai dewasa. cerita kehidupan orang-orang yang terkait PKI hanya terasa sebagai bumbu tak berarti. tak diceritakan pun tidak akan mengubah inti narasi.

------------------------
Pinjeman dari Xyn. makasih ye...
Profile Image for Muhammad Al Ghifari.
2 reviews
November 16, 2015
Cara Gitanyali menyajikan 'suspense' dalam menarasikan alur dan latar cerita membuat jari saya tergelitik untuk segera membalikkan halaman tiap halaman supaya dengan demikian dinamika cerita yang naik-turun pada setiap babnya segera saya ketahui dan rasakan.

Saya tidak meletakkan ketertarikan saya mengenai latar belakang 'kaum kiri' dari seorang Gitanyali untuk kemudian saya baca novelnya, kecuali terhadap formula penulisannya: kilas balik yang disusun secara apik dan kemudian saling berkaitan terhadap alur majunya.

'Pulau kenangan' setiap orang memang akan saling berbeda.
Profile Image for Aqmarina Andira.
Author 3 books10 followers
January 10, 2013
I usually care so much about story, structure, twist, and everything. But reading this book I completely forgot about all that. The story is not really clear. Is it about history of the family of Indonesian Communist Parties or just sex adventure of a young adult. The structure is really simple. It is just like a diary. And there is no twist at all. But, I like this book, surprisingly. Words by words, sentences by sentences, paragraphs by paragraphs, I just cannot stop reading it.
Profile Image for Cynthia.
80 reviews5 followers
March 14, 2011
Ok, ini bukan narasi kronologis, mgkn semacam autobiografi singkat ttg pengalaman hidupnya sebagai anak kader PKI.
Yg agak mengganggu adalah dialog2 yang ditulis tanpa tanda kutip (atau memang itu sengaja?). ada beberapa salah ketik, marginnya besar sehingga buku yg 183 halaman ini mungkin bisa jadi sekitar 150 halaman jika marginnya dibuat biasa saja dan spasinya tidak lebar2.
Profile Image for free.
61 reviews21 followers
October 22, 2015
kalau diibaratkan makanan, buku ini seperti kerupuk...
bisa kerupuk bolong-bolong, kerupuk pedes, atau kerupuk udang...
enak sih, tapi nggak bikin kenyang (kecuali kalo kebanyakan, itu juga bukan kenyang tapi muntah...hehehe...)

jadi, jangan berharap terlalu banyak dari buku ini...cukup duduk, baca, selesein (gue selesein baca buku ini kurang dari satu jam) dan lanjutin hidup...
Profile Image for Ika Anggraeni.
44 reviews9 followers
June 26, 2011
setting cerita anak turun korban peristiwa pembantaian massal PKI dulu memang cukup pasaran. baik di cerpen atau novel. tapi cara mengemasnya di novel ini cukup unik: enteng tapi tidak picisan, sedikit berbau hippies.. :)
Profile Image for A. Moses Levitt.
193 reviews16 followers
October 9, 2011
Ini novel “PKI” yang diceritakan dari sisi yang sangat baru. Novel dengan bahasa sederhana dan kisah sederhana. Saking “merakyatnya” membuat saya berpikir kisah ini benar-benar dialami oleh beberapa anak “PKI” di daerah Jawa. Novel yang patut dibaca agar tidak “menuduh” PKI berlebihan.
Profile Image for Ayu.
343 reviews22 followers
November 16, 2013
Kehidupan Gita tak lagi sama ketika ayahnya yang seorang kader PKI ditangkap dan ditahan oleh aparat.

Baca kisah singkat Gita di sini
Profile Image for Natasha.
38 reviews
July 25, 2011
Ini kisah tentang perjalanan hidup seorang anak yang terlahir dari ayah seorang PKI. Romansa dan seks menjadi bumbu menyenangkan dalam Blues Merbabu...
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
June 1, 2012
ternyata dia ini Bre Redana :D
Profile Image for Tata.
22 reviews2 followers
June 13, 2012
sebenernya menarik..tapi kok agak-agak ga jelas mau bercerita apa..
Displaying 1 - 30 of 40 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.