Ada dua hal yang membuat saya terkoneksi dengan Novel ini.
Hal pertama yaitu dengan setting Novel ini di Merbabu dan tempat sekitarannya Salatiga, Ambarawa, Semarang dan Kopeng. Bagi sebagian anak SMA yang tinggal di Jawa Tengah, pergi ke Kopeng dan naik Merbabu masuk dalam daftar tujuan kala libur sekolah. Jalur pendakian yang lebih ringan daripada gunung lainnya seperti Sumbing dan Sindoro, membuat Merbabu jadi favorit dan jadi tempat inisiasi naik gunung. Novel ini bercerita tentang kehidupan anak keluarga PKI dan siasat hidupnya setelah satu hari di akhir September 1965 yang mengubah segala-galanya. Ingatan akan kota masa kecil, orang-orang yang senasib dengannya bertautan dengan petualangan cinta (seks lebih tepatnya) nya. Walau hal yang terakhir memang terlalu banyak porsinya di sepanjang novel ini.
Hal kedua tentang penulisnya Gitanyali yang merupakan pseudonym dari Bre Redana, mantan pengasuh rubrik di Koran KOMPAS minggu. Saat tinggal di Muntilan dan Jogja dulu, saya termasuk penggemar berat edisi minggu. Mulai dari featurenya, budaya dan rubrik perjalanannya, dan sampai saat ini masih punya beberapa bundel klipingnya. Seorang teman selalu berseloroh di minggu pagi, "Nyoh sarapan ndisik iki koran ne". Novel ini yang diyakini sebagai kisah penulisnya juga menyelipkan cerita bagaimana dia bisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan menjadi wartawan.
Ini hari minggu pagi, ingin rasanya kembali ke masa lalu tinggal di kota kecil masa SMA, dan membaca koran minggu yang selalu jadi rebutan. Namun teringat akan satu narasi di novel ini :
"Kita hanya bisa memelihara kenangan, tapi tidak menghidupinya"