Jump to ratings and reviews
Rate this book

86

Rate this book
Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?

Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.

Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.

Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.

Pokoknya, 86!

256 pages, Paperback

First published March 1, 2011

65 people are currently reading
772 people want to read

About the author

Okky Madasari

23 books439 followers
Okky Madasari is an Indonesian novelist. She is well-known for her social criticism with her fiction highlighting social issues, such as injustice and discrimination, and above all, about humanity. In academic field, her main interest is on literature, censorship and freedom of expression, and sociology of knowledge.

Since 2010 Okky has published 10 books, comprising of five novels, one short-story collection, three children’s novels and one non-fiction book. Her newest book (2019) is Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Perlawanan or “Genealogy of Indonesian Literature: Capitalism, Islam and Critical Literature”, which is published online and can be freely downloaded from her website www.okkymadasari.net. Okky’s novels have been translated into English, Germany and Arabic.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
250 (18%)
4 stars
605 (44%)
3 stars
462 (33%)
2 stars
49 (3%)
1 star
8 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 326 reviews
Profile Image for Ginan Aulia Rahman.
221 reviews23 followers
July 24, 2016
Saya punya beberapa catatan untuk novel ini, berikut catatannya;

1. Tokoh utama di buku ini, yakni Arimbi, terlalu mudah untuk ikut-ikutan korupsi tanpa mengalami dilema etis. Harusnya suara hati Arimbi ribut dan kacau, terlintas perasaan deg-degan dan perasaan bersalah ketika pertama kali melakukannya, lalu ia berniat untuk berhenti yang kemudian niat itu gagal ia jaga.

Selugu apapun seseorang, keempat tahap tersebut (berbuat keliru-merasa bersalah (sekaligus enak)-niat tidak mengulangi-melakukan kekeliruan lagi) selalu ada dalam proses menjadi jahat. Contoh paling bagus seseorang menjadi jahat ada di TV Series Breaking Bad.

Arimbi baru mengalami dilema etis di akhir cerita ketika ia memiliki anak. Saya kira dilema etis ini sangat terlambat. Seandainya dilema etis dialami Arimbi sedari awal cerita, pasti lebih seru

2. Tidak ada sama sekali unsur humor dalam cerita Arimbi dari awal sampai akhir.

Hidup tanpa kelucuan dan tawa itu mustahil seserius atau sekriminal apapun hidup yang dijalani. Saya kira hal ini membuat kisah Arimbi kurang 'hidup' dan tidak lengkap.

3. Saya heran, mengapa di novel dengan tema hukum tidak pembahasan tentang pasal dan ayat undang-undang. Beberapa hal yang terkait hukum seperti sidang, pengacara, hakim, dan jaksa masuk ke dalam cerita, tapi saya kira sangat kurang terasa nuansa hukumnya. Bahkan ketika Arimbi dan bu Danti menjadi tersangka kasus korupsi, tidak disebutkan mereka berdua melanggar pasal apa dan ayat berapa.

Novel bagi saya tidak hanya harus menawarkan cerita bagus, tapi juga mengenalkan dunia baru atau bidang baru secara komprehensif ke pembaca.

Saya kagum pada penulis yang menyisipkan pengenalan ilmu/bidang baru di dalam novelnya. Misalnya pada novel Deception Point, Dan Brown mengenalkan NASA dan proses pemilihan umum presiden di Amerika. Pada novel Davinci Code, Dan Brown mengenalkan karya-karya Davinci dan seniman-seniman lainnya di Roma.

Sayangnya, pada novel 86 ini kita tidak akan paham dunia hukum dengan mendalam. Kita hanya sebatas tahu secara dangkal, tidak ada bedanya dengan pengetahuan tentang hukum yang kita dapat di televisi. Arimbi memang ditulis sebagai pegawai kantor yang lugu dan tidak tahu apa-apa, tapi penulisan novel ini memakai perspektif orang ketiga yang tahu semua, jadi tidak salah jika cerita diisi penjelasan mengenai dunia hukum dan proses-proses pengadilan.

Profile Image for hans.
1,158 reviews152 followers
February 6, 2023
Masih gemar dengan cara cerita penulis walau sebelum ini aku baca Entrok yang lebih bergenre fiksyen sejarah dan 86 lebih kepada hal sosial dan slice of life tapi masih juga penyampaiannya cermat dan kemas.

Dari salahlaku korupsi ke penjualan narkotik, 86 melihat permasalahan kehidupan individu yang tersepit antara kejujuran dan cuma mahu bertahan hidup. Setiap fasa hidup Arimbi diceritera santai tetapi tragis, penuh konflik dan melodramatik. Kadang rimas dengan perilaku Arimbi yang mudah mengikut kata orang tanpa fikir panjang walau kadang aku faham juga desakan hidup yang dialami Arimbi. Agak menyesalkan bila hidup dalam kelompok yang sering mengambil kesempatan dan mementingkan sogokan daripada bersifat saksama.

Aku suka karakter-karakternya yang pelbagai kisah. Suasana babak yang realis dan narasinya yang bagus, juga fokus tentang isu korupsi di kalangan pegawai kerajaan yang sepatutnya menjalan tanggungjawab dengan amanah namun tewas dengan budaya 86-- "cincai, cincai... beres."

Kalau hal undang-undangnya lebih diperinci barangkali boleh jadi lebih menarik namun suka sekali moral dan pengajaran, tentang bagaimana Arimbi kemudian sedar karma itu ada dan qada' dan qadar itu pasti. Semoga terus tabah, Arimbi!
Profile Image for Nike Andaru.
1,640 reviews111 followers
April 20, 2011
Apa yang ada dalam benak kalian ketika mendengar istilah 86 (delapan enam) ?
Jujur saja, saya berasa denger polisi yang sedang bertugas. Awalnya saya pikir 86 itu berarti sebuah istilah untuk mengatakan setuju atau ‘oke’. Ternyata saya kurang tepat. Istilah lapan enam atau dalam huruf ditulis ”86” adalah salah satu kode atau sandi yang harus dipahami oleh anggota polisi. Sandi itu memiliki arti sama-sama mengerti atau memahami. Makin kesini, istilah 86 ini jadi berarti ‘beres’. Ya, semua bisa ‘beres’ asal ada ‘pelicin’nya. Nah, isu inilah yang diangkat oleh Okky Madasari dalam buku keduanya.

Dikemas dalam sebuah novel, 86 ini saya rasa mampu menyodorkan gambaran Indonesia saat ini. Membuka mata saya akan banyaknya hal yang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pun rasanya sulit untuk membunuhnya. Saya rasa Okky mempunyai nyali besar untuk membuat novel seperti ini, mengangkat isu yang ‘rawan’ diberitakan dan ini membuat saya salut.

Menceritakan Arimbi, seorang gadis desa yang beruntung keterima jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) sebagai seorang juru ketik di sebuah pengadilan di Jakarta. Setelah 4 tahun menjadi pegawai yang ‘lurus-lurus’ aja akhirnya Arimbi mulai pengen kenal banyak pengacara demi sedikit-sedikit belajar ‘minta bonus’ dari pekerjaannya. Ini semua juga di dukung sama teman sekantornya dan juga pacarnya, Ananta.

Menyadari bahwa minta sedikit bagian dari pekerjaannya dari banyak pengacara bisa meningkatkan keuangannya, Arimbi melakukannya lagi dan lagi, hingga akhirnya Arimbi ditangkap oleh KPK. Di penjara pun Arimbi akhirnya melakukan hal yang mungkin awalnya ga disangkanya, mulai dari menyukai sesama tahanan sampai menjadi kurir sabu-sabu. Tapi ternyata, untuk mengakhiri ‘peran’nya juga suaminya sebagai kurir sabu-sabu tidaklah mudah, dan tebak deh, biasanya yang kayak gini ada aja kualatnya.

Saya salut sama penulis novel ini, Okky berani sekali menuturkan banyak hal yang membuat saya tercengang, saya rasa Okky butuh waktu untuk riset sampai akhirnya buku ini terbit dan dibaca masyarakat. Saya sempet diskusi sedikit dalam perjalanan dengan suami, karena Ayah mertua saja dulu adalah mantan hakim pengadilan tinggi agama, dan suami saya membenarkan banyak hal yang diceritakan Okky dalam buku ini.

Dari segi cover, saya rasa tidak terlalu menarik awalnya, tapi justru isi ceritanya yang membuat buku ini sangat menarik. Gaya penceritaannya mudah dipahami dan mengalir lancar. Dasar cerita pedesaannya hampir sama dengan buku pertama Okky yaitu Entrok, sepertinya Okky konsisten dengan jalur cerita yang satu ini

Beginilah gambaran Indonesia, tanah air saya, yang di dalamnya masih saja semua diatur dengan ’86′. Yang ga punya duit, ya jangan harap semuanya bisa berjalan lancar. Itu sebabnya saya menghindari sekali sesuatu hal yang berhubungan dengan pengadilan dan polisi. Ayah mertua saya bilang semua ini masalah pilihan, jika memilih untuk melakukan hal seperti itu, ya semua ada resikonya


Profile Image for Aditya Hadi.
Author 2 books141 followers
December 25, 2011
Arimbi bukanlah nama sebuah bus AKAP. Arimbi juga bukan nama seorang tokoh pewayangan. Dalam Novel 86 karangan Okky Madasari, Arimbi adalah anak pasangan petani sederhana yang tinggal di Ponorogo, kuliah di Solo, dan akhirnya diterima kerja jadi ‘tukang ketik’ di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Arimbi adalah seorang gadis lugu (tak pernah punya pacar sejak SD sampai kuliah) yang mengalami ‘culture-shock’ begitu sampai di kota, ia butuh kehangatan uang, kehangatan persahabatan, tak lupa juga kehangatan seorang lelaki.

Arimbi dididik dengan cara kuno, karena memang orang tuanya tak tahu bagaimana cara menyiapkan seorang anak agar bisa bertahan hidup di kota besar. Ironis, karena Arimbi akhirnya memilih untuk terbawa arus mengikuti gaya hidup orang kota yang semrawut dan amburadul.

86, sebuah sandi kepolisian yang diterjemahkan lain. Menjadi sebuah kata sakti yang kerap disebut dengan kata-kata: cincay, tahu-sama-tahu, semua senang, dll. Semua memakainya, hakim, jaksa, pengacara, panitera, polisi, sipir rumah tahanan, pengedar narkoba, hingga seorang tukang ketik seperti Arimbi pun ikut-ikutan menggunakannya.

Seperti novel pertamanya, Entrok, Okky Madasari berusaha menjelajahi dunia wanita yang penuh dengan kerapuhan, kebimbangan, dan harapan. Dan dia berhasil. Gambaran Arimbi, Anita, Ananta, Bu Danti, dan Hakim Dewabrata digambarkan dengan sempurna (mungkin karena pekerjaan Okky sebagai wartawan yang membuat ia sering bertemu dengan orang-orang seperti itu).

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) juga disebut-sebut di dalam novel ini. Menarik, karena Okky menggunakan setting cerita di tahun 2004, saat KPK masih dipimpin oleh Si Bapak yang sekarang ditahan itu. Apa Okky menganggap KPK 2004 dan KPK 2010 itu berbeda, atau ada alasan lain?

Apa lagi yang menarik ?? Covernya !

Coba saja lihat cover itu dengan posisi terbalik ... maka akan hadir sebuah angka sakti lain, yang mengingatkan kita pada salah satu penjajahan HAM terbesar yang pernah terjadi di negeri ini.

[image error]

Profile Image for Mia Prasetya.
403 reviews267 followers
April 6, 2011
86 - Okky Madasari, kesan pertama yang ditangkap dari cover dan sinopsis di halaman belakang : korupsi. Coba kita cermati sejenak ringkasan cerita 86, apa yang bisa dibanggakan dari seorang pegawai rendahan di kantor pengadilan? Arimbi gadis polos yang berprofesi sebagai juru ketik Pengadilan Negeri lambat laun menjadi bagian perputaran uang bawah tangan, terlebih lagi saat ibunya sakit keras. Apa yang terjadi? Uang berbicara tapi jangan salah kata hati juga berteriak. Hanya nurani yang bisa memutuskan, mau menerima godaan uang atau terhimpit dengan segala macam kebutuhan rumah tangga.

Arimbi terjerat. Nafsu dan ambisi melilit habis.

Dari buaian AC di kamar kosnya yang sempit, uang tempel 200-300 ribu agar bisa menikmati makan di restoran ala orang kaya, semuanya berlanjut. Arimbi terperosok dalam lubang yang digalinya sendiri. Punya suami kelak bukannya membantu tapi malah merongrongnya dengan pinjaman hutang. Atas dasar nama cinta Arimbi memenuhi semua tuntutan sang suami. Dan seperti kalimat yang saya sering dengar, apa yang kau tabur itu yang kau tuai. Arimbi menuai perbuatannya. Miris, sedih, ironis tapi bisa berbuat apakah ketika pada akhirnya uangpun sudah tak bisa berbicara?

Okky Madasari tak pelak lagi adalah penulis berbakat Indonesia tema berat diramu dengan lugas tanpa kesan menggurui. Tema tak biasa walau hal ini terjadi setiap hari di sekitar kita. 86, baru saya tahu apa artinya angka ini :) PR saya selanjutnya, mencari Entrok. Bosan dengan cerita cinta ala remaja ABG maupun cinta antara lady dan para viscount? 86 bisa menjadi penyegaran bagi anda. Bisa diilustrasikan dengan terbiasa minum es sirop manis bahkan terkadang terlalu manis, mengecap lemon squash kan berasa seger banget? *apaansih* :p

Ditunggu karya selanjutnya, mbak Okky.
Profile Image for Leila Rumeila.
992 reviews30 followers
August 27, 2022
Actual 2.5⭐
Sebenernya lumayan page-turner, tapi ketika scene "itu" diulang2 terus, it honestly disgusted me to the core! You know what i mean to be exact.
Kayanya kalo engga ada scene2 itu mungkin gue bisa kasih 3-3.5 bintang.
Menurut gue tanpa scene2 menjijikan itu buku ini tetap berpotensi jadi bacaan yg bagus.

Arimbi dan Anantha ini sama2 cocok ya dari segi wataknya, suka menghalalkan segala cara terlebih lagi saat berada dalam keputusasaan. Kurang bersyukur lebih tepatnya.

Oh iya, bukan engga mungkin cerita di dalam buku ini merupakan cerminan dari keadaan2 nyata di semua setting tempat di dalamnya. Dan sejujurnya, gue ikut miris!

*Listened the audiobook by Storytel*
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
July 16, 2020
Buku ini bukan hanya bicara tentang korupsi tapi jauh lebih dari itu. Bagaimana perjuangan manusia memenuhi kebutuhan dan selanjutnya setelah kebutuhan terpenuhi maka manusia berusaha memenuhi keserakahan.

Membaca buku yg dipenuhi ironi, lucu yang menyindir bahkan sarkasme. Sering kita mendengar dikehidupan nyata,disebut2 salinan keputusan dari satu kasus belum diterima oleh yang bersangkutan. Aneh menurut pikiranku, kenapa kok susah banget kalo cuma pengetikan,apa kasus yang putusannya harus diketik sudah sebegitu menggunung sehingga perlu waktu yg lama untuk membuatnya.Bukankah selalu dikabarkan tumpukan perkara yg belum selesai? apa iya sebegitu sibuknya para pegawai administrasi pengadilan. Okky menggambarkan masalah ini persis kata-kata mutiara yang terkenal "Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah...??"

Mau putusan diketik? 86..mau urusan pelik jadi mudah? 86.. Mau hidup lebih mudah?? Pokoknya 86 lah..Okky Madasari menceritakan hal-hal biasa menjadi menarik...Jadi tertarik ingin baca buku Okky sebelumnya Entrok..
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
December 14, 2025
Dari banyaknya kode sandi yang sering digunakan oleh personel kepolisian saat berkomunikasi lewat Handy Talkie (HT), mungkin “86” adalah yang paling populer, sampai-sampai kerap digunakan dalam berbagai sektor dan bermacam kondisi. Umumnya, bahkan secara global, kode 86 sendiri dapat diartikan dengan “dimengerti untuk dilaksanakan”.

Menariknya, ada banyak spekulasi tentang asal mula kemunculan istilah ini. Salah satunya dalam buku The History and Stories of the Best Bars of New York, Jef Klein mengeklaim bahwa istilah 86 berasal dari bar legendaris di New York City bernama Chumley's yang berlokasi di 86 Bedford Street, Greenwich Village.

Menurut klaim Klein, istilah ini muncul pada masa Prohibition (larangan minuman beralkohol di AS), ketika polisi setempat yang sudah disogok oleh pemilik bar akan memberikan peringatan melalui telepon sebelum melakukan penggerebekan. Saat menerima peringatan tersebut, bartender akan meneriakkan kode 86 kepada para pelanggannya. Kode ini merupakan instruksi agar pelanggan segera keluar melalui pintu rahasia yang langsung menuju ke jalan raya di 86 Bedford Street, sementara polisi akan masuk melalui pintu utama di Pamela Court. Oleh sebab itulah, hingga saat ini penggunaan istilah 86 di industri restoran dan bar secara luas merujuk pada kehabisan stok menu atau tindakan mengusir pelanggan yang tak diinginkan.

Seiring berjalan waktu, istilah 86 yang pun merujuk pada makna 'beres' atau 'selesai' dalam konteks penyelesaian masalah—sering kali di luar jalur resmi—yang kemudian menunjukkan sikap pragmatisme dan bahkan korupsi. Pemaknaan inilah yang secara spesifik ingin diangkat oleh Okky Madasari dalam novelnya ini. Berbekal statusnya sebagai wartawan di bidang hukum dan korupsi, Okky menulis novel ini dengan gamblang dan sangat berani. Ia terang-terangan menghadirkan semacam reproduksi dari berbagai kasus korup yang benar-benar pernah terjadi. Mulai dari suap-menyuap di pengadilan, mengakali keputusan KPK, hingga sogok-menyogok di lembaga pemasyarakatan.

Melalui karakter Arimbi sang juru ketik di pengadilan negeri dan manusia-manusia lain yang terbawa pusaran arus perilaku "kotor" itu, kita dihadirkan kisah tentang realitas dan sisi gelap dunia peradilan di Indonesia. Novel ini juga menawarkan kritik sosial yang kuat tentang kekuasaan, ketidakadilan, dan perjuangan kelas pekerja dalam hierarki ekonomi rendahan.

Sebetulnya menarik sekali mengikuti pelbagai konflik dalam kehidupan Arimbi, tapi karena banyaknya sub-konflik yang ingin dijejalkan, ditambah deskripsinya yang kelewat gamblang, pembaca seolah-olah tak diberi jeda untuk mencerna sendiri atau mengimajinasikan sendiri pergulatan batin yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya. Kadang-kadang deskripsinya juga terasa terlalu telling. Cukup berbeda dengan gaya menulis Okky di novelnya yang lain, seperti Entrok atau Pasung Jiwa.

Meskipun begitu, novel ini bisa jadi semacam kitab penanda zaman bahwa peristiwa-peristiwa yang direkam di dalam plot ceritanya memang pernah terjadi, atau bahkan sedang terjadi dan mungkin akan terus terjadi jika semua SDM dalam sistem birokrasi tersebut masih saja tak mau berbenah diri dan mulai meninggalkan budaya “86” sedari sekarang.
Profile Image for lita.
440 reviews65 followers
May 22, 2011
Beginilah seharusnya wartawan. Dia tahu sedikit tentang segala hal, dan tahu segala tentang sedikit hal.

Saya tahu Okky Madasari pernah jadi wartawan yang nge-pos di KPK. Gereget yang dia rasa sebagai penyampai warta tidak berhenti pada tulisan-tulisan yang diorder koordinator liputan yang membawahinya. Okky juga peka terhadap cerita di balik satu kasus yang tengah merebak, termasuk pegawai-pegawai rendahan yang tanpa "sengaja" terkait kasus besar dan dikorbankan sebagai pelaku kasus itu.

Kepekaan ini yang membuat banyak wartawan menulis cerpen atau novel. Keterbatasan ruang dan kaidah jurnalistik terkadang membatasi mereka untuk menuangkan cerita yang cakupannya lebih lebar dari sekedar berita yang mereka tulis.

Siapa saja boleh untuk tidak percaya, jika pegawai rendahan macam Arimbi bisa terkait kasus suap milyaran rupiah. Arimbi, seorang juru ketik di pengadilan negeri cuma punya wewenang untuk menyalin putusan sidang yang ditulis hakim. "Tantangan" terbesar dari pekerjaan Arimbi cuma kesulitan memahami tulisan tangan hakim yang mirip ceker ayam.

Saya tidak akan menceritakan kisah Arimbi di sini. Silakan baca sendiri bukunya. Buat saya pribadi, kejelian penulis terhadap "derita" yang dialami pegawai rendahan di instansi pemerintah yang rawan suap - yang kalau tidak kuat iman bisa terjebak seperti Arimbi - perlu dipuji. Dia bisa mengangkatnya menjadi ramuan cerita yang gampang dicerna dan diikuti. (lits)

Catatan: review versi lain yang lebih lengkap bisa dilihat di sini: http://wahanakecil.wordpress.com/2011...
Profile Image for Faiz • فائز.
360 reviews3 followers
October 14, 2025
Ungkapan 86 awalnya digunakan di kepolisian, yang artinya sudah dibereskan tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang."

(notakaki no. 22 pada hlm. 94)

Sesak sungguh membaca novel ini. Peristiwa demi peristiwa yang menimpa Arimbi, seorang juru ketik di kantor pengadilan, begitu menggugah perasaan. Wang dan keserakahan, menjadi punca kepada segala. Namun, jika diamati dengan teliti, penulis tidak membebankan kesalahan ini pada pundak Arimbi sahaja—persekitaran (culture) turut mendorong ia berperilaku sedemikian.

Bayangkan... jika seorang-dua kawan sepejabat yang mencuri tulang, barangkali kita masih mampu berdiri teguh dengan pendirian kita. Namun, jika 97% yang mencuri tulang, dan hanya kita sahaja yang tidak, pastilah ia akan dilihat sebagai suatu kejanggalan dan keganjilan. Tambahan pula, manusia (atau diri individu tunggal) ialah satu daripada entiti yang terikat sebagai produk budaya, maka secara alamiahnya, manusia mengelak daripada sebarang bentuk penyimpangan budaya. Jika keseluruhan masyarakat membelok ke kiri, sukar untuk kita yang tergolong dalam 3% untuk membelok ke kanan; pasti kita akan mengikut sama keputusan majoriti.

Maka, Arimbi yang selama empat tahun ini tidak mengambil sebarang "wang tambahan", memulainya daripada suapan (rasuah; uang jajan atau uang dandan) dalam jumlah yang kecil, 100.00 hingga jutaan rupiah—dirinya semakin terbuai dengan kesenangan ini.

Tatkala perbuatannya tertangkap dan beliau dihumban ke dalam penjara, "86" masih jua mengekorinya. Dengan wang, mampu membeli segala! Kehidupan dirinya dalam penjara pula, tiadalah begitu berbeza jika kalian pernah menonton filem Korea berjudul "The Prison" (2017).

Entahlah, saya sebenarnya tidak berhajat untuk mengulas secara panjang lebar novel ini. Kalian nikmatilah ia sendiri. Cuma satu hal... novel ini jauh lebih baik berbanding Entrok... dan lebih dewasa (tersisip babak kurang elok).
Profile Image for Elsita F..
120 reviews6 followers
May 2, 2018
Buku ini adalah buku yang blak-blakan membahas praktik korup yang banyak terjadi di Indonesia. Dimulai dari lingkup pengadilan negeri, penulis memaparkan secara gamblang dan jelas hal-hal yang dapat dipermudah jalannya dengan bantuan uang. Mulai dari ketikkan putusan sidang, hingga putusan apa yang akan keluar setelah sebuah sidang digelar. Sogok menyogok, praktik suap, dibeberkan sebagai sesuatu yang mampu membeli hukum dan keadilan.

Selanjutnya, meski dilakukan tindakan terhadap suatu kejahatan atau pelanggaran hukum yang dilakukan, penulis kembali membeberkan bahwa tidak hanya di pengadilan, di dalam jeruji besi pun praktik ini masih tetap berlangsung. Mulai dari kamar sel mewah bak hotel yang bisa didapatkan asal banyak uang, hingga pengedaran narkoba yang justru menjadi paling aman ketika dilakukan di dalam tahanan. Pokoknya, 86!

Sebagai seorang pembaca yang tidak banyak paham atau mengikuti perkembangan berita dengan kasus seperti ini, saya jujur saja jadi prihatin. Buku ini seolah televisi yang menyajikan secara nyata kejahatan dan praktik-praktik melanggar hukum yang ternyata juga banyak mendapat sokongan dari pihak-pihak yang semestinya menjadi penegak hukum itu sendiri. Buku ini seolah mengatakan bahwa di Indonesia apa saja bisa dibeli dengan uang, termasuk harga diri dan kehormatan. Uang mampu memperbudak siapa saja, bahkan mereka-mereka yang paling dipercaya.

Buku ini wajib dibaca siapa saja, terutama para anak muda. Tidak hanya menjadi gambaran fakta, buku ini juga bisa menjadi sebentuk nasehat bagi kita semua bahwa keserakahan, apapun alasannya, dapat menjerumuskan kita
Profile Image for Yoyovochka.
310 reviews7 followers
September 7, 2022
Novel yang sangat Indonesia. Kental dengan budaya korupsi dan tuntutan dari sana-sini. Membaca cerita ini membuat saya sedikit banyak teringat pada masa-masa saat saya naik angkot kerja berdesak-desakan pergi pagi pulang malam dengan gaji yang kemudian habis cuma buat ongkos. Sudah gitu pula dituntut untuk sukses dan dituntut untuk cepat nikah. Inilah budaya Indonesia. Dan juga ada pula budaya 86 yang kemudian baru saya ketahui dari si penulis ini. Praktiknya memang sudah sander dilakukan saat mengurus surat-surat di pemerintahan pada zaman dulu, tetapi namanya baru saya ketahui sekarang.
Narasinya apik sekali dan tokoh-tokohnya membuat saya geregetan karena sangat manusiawi. Meski begitu, saya bertanya-tanya seberapa lugunyakah si Arimbi ini hingga tidak merasakan pergolakan batin saat pertama kali menerima suap.
Profile Image for Winta Arsitowati.
15 reviews25 followers
September 24, 2020
Sebagai seorang pegawai rendahan, apa yang akan kamu lakukan ketika atasanmu memerintahkan untuk menjalankan suatu pekerjaan yang akan menghasilkan pundi uang yang sangat banyak? Akankah kamu berpikir dua kali untuk megerjakannya? Atau kamu akan langsung mengiyakan, sekalipun kamu tahu ada risiko yang harus ditanggung di belakang nanti?

Novel 86 berkisah tentang Arimbi, seorang perempuan lugu yang merantau ke Jakarta. Dibesarkan oleh keluarga yang sederhana di desa, Arimbi yang meraih gelar sarjana dan menjadi PNS di pengadilan merupakan kebanggaan bagi bapak ibunya. Nyatanya, di pengadilan Arimbi hanyalah seorang juru ketik dengan penghasilan pas-pasan. Hidupnya di Ibukota masih sangat jauh dari kesan berkecukupan. Namun begitu Arimbi harus berusaha memutar uangnya agar bisa mencukupi kebutuhan hidupanya, sekaligus memenuhi harapan orangtuanya di desa. Sampai suatu ketika atasan Arimbi memerintahkannya untuk menjalankan tugas yang Arimbi ketahui penuh risiko dan berbahaya, namun dapat memberikan kehidupan yang jauh lebih layak baginya. Bagaimana nasib Arimbi selanjutnya? Akankah dia tetap mengikuti permainan yang telah banyak dilakukan orang-orang, sekalipun hal itu menyalahi aturan dan membahayakan dirinya?

Novel 86 memaparkan potret kehidupan yang keras dan bagaimana sebagian masyarakat menggunakan segala cara guna mendapatkan taraf hidup yang lebih baik. Novel ini juga menyajikan paparan realita kehidupan di sekitar kita, bahwa mereka yang memiliki kuasa dan harta acap kali lebih dimudahkan untuk mendapat akses dalam segala hal. Uang seakan punya andil dalam segala hal, membuat orang kadang lupa diri dalam memburu harta. Novel 86 juga menunjukkan bahwa kadang apa yang sudah jamak dilakoni orang-orang belum tentu merupakan suatu hal yang benar, sehingga kita sebagai manusia harus tetap berpikir jernih sebelum melakukan sesuatu.

Okky Madasari memang kerap mengangkat fenomena-fenomena sosial dalam setiap karyanya, dan dalam novelnya kali ini ia mengupas permasalahan korupsi yang ada di Indonesia. Bahwa korupsi dan suap tidak hanya dapat dilakukan oleh para pejabat yang bergelimang harta, namun juga dapat dijumpai dalam hal-hal sederhana di sekeliling kita. Tidak hanya seputar korupsi, kita juga dapat menemukan beberapa fenomena sosial lain dalam novel ini. Penasaran? Baca saja buku ini! :)
Profile Image for Kiky ☆.
140 reviews5 followers
June 9, 2024
Buku ini sama sekali bukan buku yang masuk ke dalam TBR listku, bahkan di Goodreads sekalipun. Ya karena aku belum pernah membaca buku karya Mbak Okky sebelumnya, walau buku beliau yang Entrok sangat booming dan sering muncul di bookstagramku.

Buku beli ini karena waktu itu di Semesta Buku lagi promo, jadi ya sudahlah aku beli dan baru kemarin aku baca dan selesai hari ini hanya dalam waktu 18 jam saja yang sudah terpotong waktu tidurku juga.

Jadi bahasa disini lumayan enak dan aku enjoy, walau aku merasa terlalu cepet atau gimana, tapi tetep masih enak kubaca tanpa perlu buka KKBI karena sudah ada footnote yang tersedia di bukunya, itu sungguh membantuku meskipun kebanyakan itu translate dari bahasa jawa yang aku sendiri sudah tau artinya.

Buku ini menceritakan tentang seorang pegawai juru ketik dan fotocopy di pengadilan negeri di Jakarta yang bernama Arimbi dan hampir semua orang disana tentu punya 'bonus' dari mana saja, atau katakanlah itu sebagai tindakan 'korupsi' walau di buku ini tidak beliau mention istilah itu. Disini benar-benar digambarkan kegiatan suap menyuap tikus-tikus kantor di urusan pengadilan, malah kalau ngga terlibat aktivitas tersebut dianggap aneh. Dan sayangnya, Arimbi ini entah terlalu polos, tidak punya pendirian atau orangnya memang gampang goyah bila ada 'uang'. Dan istilah 86 ini adalah istilah semua bisa diselesaikan dengan uang wkwk.

Sebenernya, baik Arimbi dan suaminya, Ananta sempet sadar diri dan mau stop tapi akhirnya balik lagi, siklus gitu mulu dah, malah dengan tidak tahu diri berdoa agar transaksi haram yang dilakukan keduanya berjalan lancar di hadapan Tuhan. Ngga punya moral!

Buku ini ngga cuma membahas tentang korupsi aja, ada juga peredaran narkoba, hubungan sesama jenis dan keluarga tentu saja. Meski ini genre nya dark politic banget, tapi pengemasan bahasa beliau ini enak banget dibacanya. Mungkin akan aku pikirkan buat beneran baca Entrok soon.

Siap, 86! Semua aman asal ada uanggg!
(mirisnya negeri kita) (menuju Indonesia (c)emas.
LOL :D
Profile Image for Kustin Desmuflihah.
114 reviews6 followers
June 14, 2022
Buku kedua Okky Madasari yang aku baca (melalui audiobook) ini sangat relevan dengan hidupku sekarang yang kebetulan kerja untuk negara. Walaupun nggak bisa dengan mata kepala sendiri melihat orang berucap siap "86", cerita yang begini-begini sudah jadi bahan bisik bisik.

Kebetulan, aku sendiri dapat kerjaan itu juga tanpa nyogok dan untung-untungan saja. Orang juga heran, bisa-bisanya jadi pegawai tanpa relasi hebat dan uang segunung. Di artian positif, sebetulnya itu kabar baik tentang perekrutan ASN zaman kini. Tapi sejujurnya, godaan untuk menyelewengkan kekuasaan, anggaran, informasi itu masih jadi dilema ASN setiap hari. Gara-gara baca buku ini, makin takut berbuat yang macam-macam bahkan ketika yang dilakukan sudah umum dilakukan orang-orang lain.

Tentang penulisannya, aku lebih suka Entrok karena endingnya lebih tidak bisa ditebak. Namun buku ini juga punya alur yang menarik, membawa emosi pembaca naik turun. Kadang kita akan bersimpati pada Arimbi, tapi kadang juga pengen bilang 'tuh kan dibilangin!'. Pesan yang disampaikan penting, tapi aku nggak yakin para pejabat yang korupsi miliaran rupiah itu gentar membacanya.
Profile Image for Rachel Yuska.
Author 9 books246 followers
July 23, 2023
Mengupas realita tentang cara kerja PNS di pengadilan di mana '86' adalah penyelesaian segala masalah.
Profile Image for Aida.
15 reviews5 followers
June 17, 2020
Seperti biasa, Okky memotret isu sosial politik di sekitar kita dengan apik. Selesai membaca buku ini, saya berusaha mengingat apakah saya atau orang-orang di sekitar saya pernah mengalami kejadian di mana saya diminta memberikan suap atau pungli. Ternyata, disadari atau tidak, memang sering sekali hal-hal itu terjadi. Yang pernah saya temukan, para oknum terkadang tidak secara langsung mengatakan bahwa mereka harus diberi sesuatu agar urusan kita lancar, tapi dengan sengaja (dan pura-pura tidak tahu) memperumit urusan kita, menunggu kita sadar bahwa urusan ini butuh “pelicin” (bahkan kadang diperumit hingga bertahun-tahun). Jumlah uang yang terlihat kecil tidak menafikan fakta bahwa pungli tetap pungli, suap tetap suap.

Di pertengahan membaca 86, saya berharap dilema serta penilaian moral dalam karakter Arimbi lebih dieksplorasi. Arimbi tampak terlalu polos ketika dengan mudahnya melakukan aksinya. Namun, menyadari bahwa fenomena ini memang sudah biasa terjadi di sekitarnya, apalagi di lahan basah seperti tempat Arimbi bekerja, akhirnya cukup bisa dipahami bagaimana penilaian moral Arimbi terbentuk.
Profile Image for tnty.
122 reviews2 followers
November 26, 2017
Sebelumnya saya tidak mengerti istilah 86 yang menjadi judul dari buku ini. Dalam catatan kaki buku ini, ungkapan 86 awalnya digunakan di kepolisian yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang.
Korupsi memang sudah menjadi budaya yang mengakar kuat di negara kita. Pantaslah kalau Indonesia dibanding negara lain baik moral dan terutamanya ekonomi dan kesejahteraan negara masih jongkok karena korupsi. Begitu lama korupsi mengakar dalam kebudayaan kita (bahkan VOC yang menjajah kita pun bangkrut karena korupsi) dan begitu mudahnya korupsi dilakukan dengan lingkungan yang mengakar sejak lama membuat masalah korupsi tidak rampung-rampung.
Buku ini tidak menawarkan solusi memecahkan korupsi, namun, menurut saya lebih menggambarkan bagaimana korupsi dapat terjadi (yang sebenarnya merupakan 'cara' lama) dan membuat pembaca berpikir sekaligus mengajak untuk menghindari praktek korupsi dari akibat-akibat 'tokoh koruptor' dalam buku ini.
Arimbi sebagai tokoh utama adalah perantau yang (kurang) berpendidikan, bermodalkan keberuntungan dan tekad, latar belakang ekonomi miskin, dan pikiran polos masyarakat desa. Karena itu ketika pada awalnya dia bekerja sebagai juru ketik di pengadilan negeri dia tidak mengetahui mengenai praktik korupsi yang menjadi hal biasa di lingkungannya. Ia baru melakukan praktek dari 86 ini ketika ia tahu lingkungannya telah terbiasa akan hal ini sehingga ketika melakukaannya tidak ada yang menghukumnya, betapa mudah awalnya hidupnya dengan uang tambahan, pacar yang mendukung tindakan tesebut dengan alasan macam-macam, dan desakan ekonomi yang melilitnya setelah itu yang seakan 'membenarkan' tindakannya untuk melakukan praktek 86 lagi dan lagi.
Selanjutnya tokoh Arimbi 'apes' ditangkap dengan dugaan korupsi. Lebih apes lagi dia kemudian terbukti bersalah dan dipenjara dengan kenyataan atasannya, Bu Danti, yang lebih banyak melakukan suap dibanding dia tapi simpanan uang jelas lebih banyak darinya, justru dapat dengan mudah melewati aturan hukum yang ada: proses pemidanaan, pembedaan sel, pengurangan hukuman, dll daripada dirinya.
Maka tambah susahlah hidupnya di penjara. Apalagi ketika ibunya di kampung sakit dan harus cuci darah kontinu. Arimbi pun karena desakan terebut mau tidak mau dengan dalih menyelamatkan ibunya mencoba untuk menjadikan dirinya dan suaminya pengedar narkoba. Lalu, ketika dirinya dapat bebas setelah memenuhi waktu setengah dari hukuman yang bisa dia tanggung, Arimbi kembali karena 'desakan' melakukan praktek 86 kembali. Hal ini menjelaskan bahwa ketika satu kejahatan sekali dapat dilakukan akan mengundang kejahatan kedua dan seterusnya untuk lebih mudah dilakukan. Seperti orang yang sekali bohong, selanjutnya dia gak mungkin gak bohong lagi.
Karena itulah, memberantas korupsi itu memang sangat tidak mudah! Apalagi yang sudah mengakar. Suatu bentuk pemberantasan korupsi sekecil apapun harus diapresiasi dengan baik. Seperti buku ini misalnya yang telah menggambarkan praktek korupsi dan ilegal paling 'lumrah' namun dengan begitu bisa sampai kepada siapa saja pesannya. Para pembaca buku ini bisa saja seperti Arimbi yang sebelumnya polos namun dapat dengan mudah terhasut untuk koruptif. Saudara-saudara dari pembaca pun bisa dengan mudah jadi Arimbi selanjutnya. Tapi ingatlah bahwa satu kejahatan akan memancing kejahatan lain untuk dilakukan seperti dalam buku ini...
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
August 10, 2021
Baru tahu kalau istilah 86 itu untuk sebutan implisit "sama-sama tahu" ketika baca catatan kaki di salah satu halamannya. Secara keseluruhan cerita novel ini realis banget, benar-benar terjadi di kehidupan nyata—terlebih tokoh utamanya, Arimbi, bekerja di sektor yang ramah sogokan dan pungli. Agak sedih sih, karena baca ini jadi ingat kalau korupsi dan suap itu merupakan budaya kita dari dulu (yang sampai sekarang masih susahhhhh banget) dihilangkan. Nggak muluk-muluk dihilangkan, dikurangi sedikit saja juga kayaknya bakal tetap sulit.

Yang bikin saya heran adalah kenapa sejak awal Arimbi sama sekali nggak ada simpati, atau minimal rasa berdosa gitu. Dia tipikal orang yang di lingkungan masyarakat cuma ikut-ikutan arus dengan dalih "terpaksa" dan "yaudah mau gimana lagi". Padahal saya nunggu banget dia bersitegang dengan dirinya sendiri, bertengkar dengan idealismenya sendiri. Di sini seolah-olah Arimbi adalah gadis dungu bin polos yang mau-mau aja diperalat demi duit. Maksud saya, dia kan menempuh pendidikan formal dan lulus dengan baik—meskipun nggak bisa dibilang genius, tapi dibanding dengan tokoh lain yang mayoritas cuma orang desa, seharusnya pola pikir Arimbi lebih kompleks daripada "manut wong tuwa, golek duit akeh, ndang rabi", dan tetek bengeknya.

Malah kemelut itu baru dimunculkan ketika sudah punya anak, saat masalah mulai keluar satu per satu. Ditambah lagi Ananta yang useless dan bikin semuanya tambah runyam. Di tengah-tengah cerita, saya jadi sering mengernyitkan dahi, apalagi ketika dapat uang 2 miliar dan ketangkap KPK. Like, "Seriously, Arimbi? Kamu cewek berpendidikan, kalaupun terpaksa pasti punya lah secuil idealisme."

Nggak mempermasalahkan kenapa Arimbi-nya ikut terjun ke dunia kotor itu, nggak. Justru itu yang bikin karakternya manusiawi karena nggak tahan godaan. Tapi seharunya di awal seperti yang sudah saya jelaskan, "Mosok nggak ada perseteruan batin sama sekali." Malah hanya ditulis dengan pertanyaan retoris ke temannya, Anisa. Mencoba memastikan kalau bener nggak sih yang beginian. Ah, jatuhnya aneh.

Bahkan ketika sudah di dalam penjara, malah ikut bisnis narkoba. Ya memang, sih, kalau orang kepepet pasti mikirnya pendek. Tapi serius, sama sekali enggak ada yang ganjal? Buat Ananta sekalipun yang mau-mau aja disuruh ini-itu sama istrinya? Meskipun dilematis ya, butuh uang banget tapi di sisi lain juga ragu karena itu tindakan kriminal. Yah, akhirnya saya coba dari sudut pandang lain (sebagai orang yang tinggal di ibu kota, misalnya), uang jutaan itu belum apa-apa daripada di desa. Biaya makan, biaya sewa tempat tinggal, biaya kendaraan, ya pokoknya biaya hidupnya melejit.

Meski begitu, saya hargai penulisnya yang berhasil bikin saya terkejut terheran-heran di beberapa bagian (tambah beberapa kosa kata baru terkait hukum dan prosedur di pengadilan yang bisa nambah pengetahuan). Novel ini menyentil siapa saja, khususnya pejabat birokrasi yang masih hobi hunting uang pelicin dan orang-orang yang meratapi betapa di negeri ini hukum bisa dengan mudahnya diperjualbelikan.
Profile Image for afin.
267 reviews20 followers
August 30, 2015
rated 4 / 5 stars

Sinopsis:
Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?

Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.

Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.

Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.

Pokoknya, 86!

Review:
86 adalah sebuah novel fiksi yang mengangkat isu yang selalu hangat di Indonesia, hal yang berhubungan dengan korupsi, suap, dan obat-obatan terlarang ada di buku ini. 86 menceritakan kisah Arimbi, seorang juru ketik yang bekerja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Arimbi adalah seorang perempuan yang terlahir dari desa dan menjadi salah satu warga di desanya yang bisa bekerja di ibukota untuk menjadi seorang pegawai negeri.

Kehidupan Arimbi selama di Jakarta sangat monoton. Setiap jam dia selalu melakukan kegiatan yang sama di saat yang sama juga. Pada tahun-tahun awal dia bekerja di kantornya, dia adalah orang yang tidak mengerti adanya "kekuatan uang" dalam tugas-tugas yang harus dilakukannya, selama ini dia hanya mematuhi perintah atasan.

Pada suatu hari, Arimbi diminta menjadi juru ketik pada sebuah sidang di pengadilan dan pada saat dia pulang ke rumah. Dia mendapati ada orang-orang tidak dikenal datang ke rumahnya mengantarkan AC. Katanya hadiah dari orang yang memenangkan sidang yang diikuti oleh Arimbi. Keesokan harinya dia bertanya kepada temannya Annisa apakah dia juga pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, dan ternyata mendapatkan "jatah" dari orang-orang adalah hal yang lumrah.

Selang beberapa hari kemudian, gang tempat tinggal Arimbi terkena musibah. Rumah pemilik kontrakan yang ditempatinya terbakar sehingga dia harus pindah dari tempat itu karena pemiliknya ingin menempatinya. Dia pun pindah ke sebuah kos-kosan dimana dia bertemu Ananta, seorang lelaki yang nantinya akan menjadi suaminya. Sejak berkenalan dengan Ananta lalu kemudian menikah dengannya Arimbi mulai masuk ke dalam dunia "suap" karena dia sadar bahwa gaji suaminya dan dia yang kecil tidak akan mungkin bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Inilah motivasi Arimbi untuk ikut terjun ke dunia yang gelap ini.

read my full review on http://booksoverall.blogspot.com/2015...
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
August 7, 2015
“Sudah nggak usah sungkan-sungkan. Memang kita baru kenal, tapi ya sama-sama tahulah, delapan enam aja deh!” –86, hlm. 94


Berangkat dari generasi keluarga petani, orangtua Arimbi bangga bukan kepalang, anak perempuannya bisa menjadi juru ketik di pengadilan negeri. Bukan menjadi buruh, tapi menjadi pegawai kantoran. Tiap pagi berjibaku menembus gang sempit, berdesak-desakan menaiki metromini, Arimbi terkadang bingung, mengapa semua orang di kampung mengelu-elukan jabatannya yang sekadar juru ketik.

Tapi, bagi semua orang, mereka menganggap tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan. Mulai dari berprofesi sebagai juru ketik biasa, diam-diam lingkungan menghasutnya, Arimbi yang polos tak lagi punya urat malu seperti Anisa dan Bu Danti. Semua orang sudah keburu tahu, tak perlu ditutupi dan pura-pura tak ingin. Kalau ingin segalanya licin dan berjalan sesuai rencana, tinggal geser amplop dan buat skenario.

Pejabat bisa lolos dengan mudah, semuanya hanya tergantung pada uang pelicin. Arimbi yang mulanya duduk-duduk di ruang pengadilan, lama-kelamaan tahu, semuanya sudah dirangkai sesuai rencana. Tangannya tak lagi sekadar menari di atas keyboard, ia pun ingin minta bagian.



“Hidup 86!” mungkin jargon yang sedikit membingungkan bagi masyarakat awam, tapi sesungguhnya “86” di sini punya arti yang sedikit menggelitik. Jika komando kepolisian mengartikannya sebagai sudah beres dan sudah sama-sama tahu, di Indonesia pun punya sandi sendiri yang berarti tanda penyelesaian yang dibereskan dengan bantuan uang. Seandainya kecil-kecilan, orang sering menyebutnya “menyogok” tapi kalau skala besar, acapkali dipertontonkan di televisi, alias korupsi.

Sesungguhnya dari ilustrasi depannya, “86” seperti sudah membisiki pembaca tentang apa yang hendak disindir oleh Okky Madasari, sayangnya saya sedikit tidak peka, dan menomorduakan sinopsis belakangnya. Sekadar tahu dari teman, ini bercerita tentang perjalanan seorang perempuan, sedikit mirip dengan novel Okky Madasari yang pernah saya baca sebelumnya, “Maryam”. Sama-sama membahas isu negara, tapi bedanya “86” menyerempet pada perkara kriminal, yang bertunas dari budaya sogok-menyogok di Indonesia. Lebih tegang, menggelitik, sekaligus lugas ketimbang “Maryam” yang mungkin bedanya dilatarbelakangi oleh Pulau Lombok yang masih bersifat pedesaan dan kurang dilirik masyarkat.



Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...
Profile Image for putri.
274 reviews45 followers
September 15, 2020
3.5🌟

Ini pertama kalinya aku baca tulisan Okky Madasari, dan ternyata ini di luar ekspektasi aku, nggak sesulit yang aku bayangin sebelumnya.

Awalnya iseng aja liat ini di Gramedia Digital, covernya kuning mentereng dan cuma ada tulisan 86 dicetak besar. Sampai situ aja udah menggelitik rasa ingin tahu aku (ya sebenernya emang anaknya kepoan aja sih). Setelah baca sinopsisnya malah semakin tertarik, kata kunci utamanya ada di pegawai negeri. Langsung deh; wah apa nih?

Waktu pertama baca keadaan di pengadilan negeri tempat Arimbi kerja, aku agak shock. Aku tau yang seperti itu lazim, seenggaknya dulu (gak tau deh sekarang), tapi tetep kaget. Rasanya kayak aib negara diceritakan blak-blakan, ikut malu juga jadinya. Cerita-cerita selanjutnya juga bikin gak kalah kaget. Lagi-lagi aku tau dari sepintas cerita orang aja, pas disodorin di depan mata rasanya beda, antara pengen menghakimi (tapi aku siapa, ya kan?) dan kasihan.

Aku suka semua ceritanya kecuali menuju bagian akhir, aku merasa ada akhir yang rasanya lebih baik daripada yang seperti itu. Tapi aku sendiri juga gak tau sih apa, karena aku tau, dunia yang seperti itu sekali sudah masuk akan susah keluar, jadi sebenernya akhir yang diberikan penulis sudah realistis. Tapi gak tau kenapa tetep kurang greget HAHA.

Dari buku ini aku jadi tertarik untuk membaca buku Okky Madasari yang lain. Hanya 3.5⭐ tapi aku merasa bener-bener dibawa masuk ke realita hidup seseorang dan aku menikmati perjalanannya.
Profile Image for Marissa SF.
172 reviews4 followers
February 9, 2017
SPOILER ALERT!!! *dikit
86 merupakan ungkapan yang pada awalnya digunakan kepolisian yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang....
ooooo...jadi begitu ya artinya 86 brarti nanti saya kalo mau urus ini itu tinggal ngasih amplop trus bilang kepetugasnya "86 ya pak/bu" waahhh...mba Okky Madasari salut deh, ini novel kedua yang saya baca dan bisa saya tarik kesimpulan kalo sampeyan ngirim pesan ke pembaca betapa seterongnya sogok menyogok, kotornya bedebah2 negara, dan betapa uang punya power luar biasa...ini novel nyinyir tanpa harus nyinyirin, keren ah!
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
February 7, 2016
Jujur, gamblang, blak-blakan. Dengan kalimat sederhana menceritakan bagaimana buruknya birokrasi di Indonesia, khususnya di lingkungan pengadilan negeri. Jalinan kalimatnya sederhana, tak berbunga-bunga sedikit pun. Saking sederhananya, sampai saya kesulitan menemukan kalimat 'bagus' untuk dikutip. Keren!
Profile Image for Doddy Rakhmat.
Author 4 books4 followers
January 2, 2017
ini kali pertama saya membaca buku karangan Mba Okky Madasari. Keseluruhan saya suka, gaya bercerita yang rinci dan tensitas yang meningkat setiap babnya. Setiap hal buruk yang kita lakukan tentu akan menghasilkan keburukan pula di kemudian hari. Tuhan itu adil. Manusia yang terlampau serakah dan merasa dirinya paling benar. Kira-kira begitu pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini.
Profile Image for Ari muttaqin.
18 reviews3 followers
Read
December 10, 2015
alurnya mengalir cepat,
novel yg memang bukan menceritakan sebuah cerita yg mungkin diinginkan.
tapi tetap ada nilai2 yg penting yg menjadi bekal masa depan.
Profile Image for Litsa Khaya.
28 reviews45 followers
December 7, 2017
pas menuju halaman terakhir aku malah kurang enjoy, idk why._.
Profile Image for Matchanillaaa.
88 reviews2 followers
March 5, 2025
"Siap! Delapan enam!"
Delapan enam merupakan kode komando kepolisian, namun saat ini digunakan sebagai kode 'perintah siap dilaksanakan asalkan ada uang'.

Arimbi adalah seorang juru ketik di pengadilan. Berawal dari coba-coba meminta 'jatah' pada setiap client, Arimbi akhirnya terlibat kasus korupsi bersama atasannya. Awal kejahatan tersebut menyeret Arimbi ke neraka sesungguhnya yaitu: sel penjara.

Kehidupan penjara justru membawanya melihat dunia dari sisi yang lebih gelap. Segala sesuatu bisa dibeli dengan uang bahkan hukum sekalipun. Bagi Arimbi, 'asalkan ada duit, lo aman'. Maka demi mencari pundi-pundi rupiah di dalam sel, Arimbi nekat terlibat menjadi pengedar sabu-sabu.

(⁠ ⁠◜⁠‿⁠◝⁠ ⁠)⁠♡

Ya ampuuuun kesel banget sama Arimbi. Arimbi ini mudah banget kebawa arus. Disuruh korupsi mau, bawain uang suap mau, diraba-raba mau, diajak ngedar sabu mau-mau aja. Untuk ukuran seorang PNS di pengadilan, Arimbi terlalu nekat melakukan tindak kejahatan. Padahal dia kerja di lingkungan hukum, tapi minim kesadaran patuh terhadap hukum. Sampai-sampai dia tega menjerumuskan suaminya sendiri.

Awalnya aku mengira suami Arimbi akan jadi biang semua masalah. Udah overthinking banget sama suami Arimbi, eh malah dia sendiri yang manut sama kelakuan buruk istrinya. Mereka itu definisi pasangan yang kurang bersyukur.

Tapi dari kisah Arimbi yang penuh konflik ini, membuka jendela pengetahuan bahwa kegiatan suap menyuap di penjara itu sudah jadi kewajiban. Mulai dari kunjungan keluarga, fasilitas kamar, keamanan, kebutuhan seksual, semua lancar asal ada uang.

Baca buku ini jadi inget lagu Sukatani yang viral itu.
"Mau bikin SIM, Bayar polisi.. Lapor barang ilang, bayar polisi.." Hadeuuuh 🤣
Profile Image for Anggi Giri Pratiwi.
27 reviews
January 24, 2023
#86.. Siapa yang selalu mengatakan dan sudah tahu maknanya?

Segala asa orang tua yang menginginkan kebahagiaan untuk sang buah hati. Namun, justru bertubi-tubi ujian yang disesap Arimbi. Dari mulai hidup sendiri di Ibu Kota, mesti mendekam di bui akibat suap yang belum diraup. Hingga Ibu Arimbi dioperasi dan harus rutin cuci darah. Tetiba deg... bulir-bulir mulai bergelimpangan mengantre untuk jatuh.

Nggak bisa! Memang benar yang dituturkan beberapa kawan kalau Mba Okky pandai meramu tokoh utama untuk menderita dan memang boom *excellent

Kalau di dalam tubuh manusia ada dua jenis lemak, baik (HDL) dan yang jahat (LDL), maka sifat pun terbagi menjadi dua. Beruntung Arimbi bisa bertemu manusia yang seperti itu. Tapi keberuntungan tidak selalu berlangsung lama, bukan?

Sampai akhirnya jabang bayi di perut Arimbi hadir dan as usual mana ada orang tua yang mau anaknya melalui derita dan cerita serupa. Tidak sudi mereka jika sang anak selalu memakan uang hasil mengedarkan sabu-sabu. Namun, tegas sekali Arimbi dan Ananta mendesain kebahagiaan sebelum waktunya. Apakah itu? Temukan sendiri...

Bagaimana cara menjaga urip tak kalut marut. Siapa yang dengan mudah melabeli penderitaan menjadi sebuah penerimaan?
Kalau dengan pongahnya kaujawab "Aku!"
Maka riuh tepuk penghambaan akan mudah juga didekap. Delapan enam!
Profile Image for wulan.
245 reviews7 followers
June 10, 2023
hahh .. ini cerita pelik banget :") aku tetep lanjut baca sampai selesai karena gaya bahasa penulis tuh enak banget diikutin. nggak ruwet, ringan banget malah. kadang aku tuh mikir, kok bisa ya, kehidupan rumit dan kompleks diceritakan dengan sangat ringan?

novel ini bercerita tentang arimbi, seorang pegawai di pengadilan, ia adalah juru ketik. banyak tumpukan tulisan tangan untuk diketik, tapi arimbi mendahulukan yang urgent. suatu hari ia menerima AC dari orang yang disidang.

di sini nih aku udah merasa ada yang salah. aneh kan arimbi yang hanya juru ketik (kontribusinya terhadap putusan hakim hampir nggak ada) tiba tiba dapat AC? aku langsung kepikiran gimana kalo arimbi ditangkap polisi karena korupsi?

setelah kejadian itu, mulai lah perlahan lahan arimbi mengumpulkan uang di luar gajinya. 86, apa saja bisa beres asal ada uang. jujur aku nggak kepikiran ceritanya bakal seperti ini. memang sih angka 86 meningatkanku akan polisi.

tapi aku nggak nyangka ceritanya bakal begini banget :") kejadian kejadian buruk terus menimpa arimbi. semuanya butuh uang, untuk menyambung kehidupan, dan arimbi nggak punya pilihan lain untuk mendapatkan uang.

dibalik itu semua, cerita ini terasa sangat realistis. aku bisa dengan mudah membayangkan segala hal yang terjadi di buku ini.
Displaying 1 - 30 of 326 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.