BUKU ini mengurai rekam-jejak perjalanan hidup dokter-filsuf muslim terkemuka, Ibnu Sina (908–1037), sejak masa kecil di Bukhara hingga ia bersentuhan dengan penguasa, dan hidup dari istana ke istana sebagai dokter pribadi sultan. Sebagaimana harga yang mesti dibayar oleh cendekiawan yang menceburkan diri ke dalam kubangan kekuasaan, Ibnu Sina berhadapan dengan siasat jahat, tipu-daya, dendam-kesumat akibat kedengkian para petinggi istana lantaran perhatian khusus yang diperolehnya dari sultan.
Bermusim-musim ia hidup dalam kejaran Mahmud Ghaznawi, penguasa Turki yang menjanjikan hadiah 5.000 keping emas bagi yang berhasil membekuk as-syaikh ar-rais itu hidup-hidup. Dari istana Ibnu al-Ma’mun (Gurganj) ia menantang terjangan badai di sahara Khawaran. Abu Sahl, sejawat karibnya tewas, hingga ia menggelandang seorang diri.
Lepas dari sebuah kesulitan, Ibnu Sina dihadapkan pada intrik-intrik politik yang jauh lebih menyakitkan. Saat menjabat sebagai perdana menteri di pemerintahan Syams ad-Daulah (Hamdan), ia nyaris terbunuh lantaran kebijakannya dianggap tidak berpihak pada angkatan bersenjata, dan pada masa kekuasaan Ala ad-Daulah, ia harus mendekam di penjara berlapis tujuh. Namun, dalam kekalutan dan ketidaknyamanan itulah Ibnu Sina melahirkan magnum opus Al-Qânûn fî at-Thibb dan As-Syifâ’ yang telah menggemparkan khazanah keilmuan—khususnya kedokteran—di seluruh belahan dunia.
"Berhati-hatilah. Mungkin kedamaian nisbi lebih baik daripada keadilan nisbi!"
As-syaikh Ar-Rais Abu Ali Ibn Sina (908-1037), atau lebih dikenal oleh dunia kedokteran barat sebagai Avicenna, adalah seorang filsuf, pujangga, ilmuwan, politikus, dan yang terpenting seorang dokter yang cakap. Ia mengambil dasar-dasar ilmu pengetahuan dan logika, menggunakan metode ilmiah untuk mencari penawar untuk pasien-pasiennya. Sayangnya, kecakapan ini kemudian juga menjerumuskan beliau dalam intrik politik yang berkepanjangan. Kekeraskepalaan beliau dalam mendukung kebenaran dan keadilan tidak bersanding dengan mulus dalam kehidupan istana dan perebutan kekuasaan. Berulang kali hidup dalam kemewahan, kemudian jatuh dalam pelarian, menjadi perdana menteri lalu dikurung dalam penjara, kemegahan dan kehinaan datang silih berganti, hingga di akhir hayatnya, ia juga harus berpisah dari sang istri. Namun di antara kegetiran tersebut, lahirlah karya-karya brilian beliau yang menjadi dasar dalam dunia kedokteran modern.
Sesuai dengan tag pada judulnya, ini adalah sebuah novel-biografi. Ditulis dari sudut pandang orang pertama, Ibn Sina, tetapi diceriterakan dalam bentuk novel. Memuat garis besar perjalanan hidup beliau sejak masih kanak-kanak 10 tahun hingga akhir ajal menjelang. Pada bagian-bagian awal, perjalanan ini dikisahkan dengan sangat padat dan tergesa, seperti mambaca daftar riwayat hidup. Tetapi setelah 4-5 bab kemudian, cerita mengalir cukup lancar.
Sebagai bahan perkenalan kepada seorang Ibn Sina buku ini cukup memadai, namun secara esensi, tidak sepenuhnya terangkum di sini. Kebrilianan beliau dalam bidang medis sangat minim ditonjolkan, sedangkan kekuatan kepribadiannya dilukiskan kurang mendalam dan datar. Tetapi sekali lagi, Avicenna adalah seorang filsuf-ilmuwan muslim terbesar 10 abad yang lalu. Untuk merangkum keseluruhan jalan hidupnya dalam 294 halaman adalah hal yang mustahil. Novel ini mampu menjawab pertanyaan siapa Ibn Sina, tetapi belum menjawab seperti apa beliau semasa hidupnya.
“Sebagaimana Allah telah menciptakan dirimu berbeda dari orang lain dan menciptakan kemampuanmu yang juga berbeda dari yang dimiliki orang lain, maka begitu pula hidupmu yang juga tidak seperti hidup mereka.” (Tentang Ibnu Sina) *** Jangan baca Novel-Biografi Ibnu Sina: Tawanan Benteng Lapis Tujuh karya Husayn Fattahi ini. Jangan baca kalau ingin tau detail tentang kehidupan seorang guru besar kedokteran dunia ini. Soalnya, emang biografinya ini dikemas dengan gaya novel. Dan karena itulah, saya betah baca buku ini. Voila, tiba-tiba nyampe halaman terakhir dan berharap ada halaman tambahan. Kalo di konser-konser, “We want more! We want more!” Saya kuliah di FK. Tapi jujur, sangat sedikit paparan mengenai tokoh-tokoh yang berperan di dunia kedokteran. Sedikit, tapi ada. Hehe. Makanya pas nemu buku ini di kosan Alnis, langsung dipinjem deh. Dari buku ini, saya emang ga jadi lebih tau tentang ilmu kedokterannya. Tapi perjalanan Ibnu Sina selama hidupnya. Asy-Syaikh Ar-Rais Abu Ali ibn Sina (Avicenna) tidak menjalani kehidupan yang “mudah”. Menghabiskan kehidupannya dengan menjadi buronan dari satu penguasa ke penguasa yang lain dan sempat dipenjara. Tapi meski kehidupannya tidak mudah, beliau tetap menghasilkan karya-karya. Beliau banyak menulis buku – bukunya bukan tentang kedokteran aja, tapi juga ada fisika (!), filsafat, dan lainnya, (puluhan buku, bukan cuma nulis LI yang sebenernya cuma nerjemahin TT.TT), mengobati pasien, dan mengajar. Subhanallah, sempet ya? Pernah satu malam beliau berdiskusi dengan murud-muridnya semalaman sampai subuh, lalu beliau izin pamit ke murid-muridnya karena harus pergi. Pergi ke medan perang. Murid-muridnya sampai malu karena tidak memberi kesempatan gurunya untuk beristirahat. Tapi beliau tidak keberatan. Aaaaaaargh. Terus waktu dipenjara, nulis buku. Beberapa jilid. Nulis buku (penekanan). Ga cuma ngetweet ga penting (penekanan lagi ke diri sendiri). #eaa Untuk info lebih lanjut, silakan baca sendiri. Sekian.
Tidak Menyesal mengidamkan buku ini. Novel-biografi ilmuwan muslim besar multidisplin, Ibnu Sina (Avicenna) ini dituturkan dengan sederhana dan mengalir saja, cukup enak dibaca. Meski perjalanan hidup Ibnu Sina diwarnai dengan berbagai rintangan dan pelarian akibat iklim pelik politik di zamannya, penuturan kisahnya tak bikin sakit kepala alias tidak berat. Yah, meski bacanya jadi serasa kurang menantang (hah?, semacam kurang dramatis, mungkin) tapi aku suka dengan buku ini. Inti cerita perjalanan hidup Ibnu Sina, segala kejeniusannya, produktivitasnya dalam berkarya, keteguhan pendiriannya, serta penderitaannya akibat tekanan politik dari berbagai penguasa dan oknum-oknum yang dengki kepadanya tersampaikan dengan baik (meski kedetailannya kurang).
Aku jadi membandingkan poin perbedaan terjelas antara buku ini dengan buku novel-biografi ilmuwan muslim lain yang sempat kubaca sebelumnya, yaitu tentang Omar Khayyam yang ditulis oleh Harold Lamb maupun oleh Amin Ma'alouf. Kedua novel tentang Omar Khayyam tersebut dituturkan dengan "cukup bikin sakit kepala" di beberapa bagian, hehe. Poin lainnya, kedua novel tersebut dituturkan dengan gaya "kebarat-baratan" (baca: bagian kisah percintaan dituturkan dengan cukup vulgar). Tidak demikian halnya dengan novel tentang Ibnu Sina ini, gaya bertuturnya sangat ketimuran, kehati-hatiannya mengingatkan saya pada cara bertutur cerita "kitab-kitab Arab" (semacam Ushfuriyyah), sederhana dan tak bikin sakit kepala, hehe.
Buku semacam ini bagus untuk bercermin. Ibnu Sina sungguh produktif, baik dalam artian menghasilkan karya tulis maupun menghasilkan jasa-jasa yang bermanfaat bagi masyarakat di sekelilingnya. Aktivitasnya di siang hari berkisar antara bekerja sebagai dokter mengobati orang-orang sakit dan mengajar berbagai disiplin ilmu dan berdiskusi, tentang kedokteran, ilmu manthiq (logika), filsafat, teologi, ushuluddin, astronomi, fisika, matematika, dll. Ilmuwan yang mantap, multitalenta. Bahkan selain menulis tentang berbagai cabang ilmu tersebut, beliau juga menulis tentang musik dan sastra. Karya-karyanya keren (dan aku sangat ingin membacanya :D), diantaranya masterpiece-nya Al-Qanun Fi At-thibb, Asy-Syifa', Hayy Ibn Yaqzhan, Dalil Al-'Aql, Qadha Wa Al-Qadr, dan masih banyak lagi. Beliau begitu sibuk, jadi aktivitas menulis yang superproduktif itu dilakukan pada malam hari.
Seperti kata hal.294 saat Ibnu Sina wafat, "Abu Ali berusia 75 tahun, dan seakan-akan hidup selama 75 ribu tahun". Memang, karya-karyanya abadi dan memberi manfaat bagi peradaban jauh hingga berabad-abad setelah masa hidupnya. Tapi, aku jadi bertanya-tanya, benarkah usianya 75 tahun? Ada yang rancu di buku ini. tercetak disana: Ibnu Sina (908-1037). Apa betul, tak salah cetak? Saya coba cross-check ke buku lain, katanya 980-1037 M. Wah, bagaimana mungkin ini salah cetak? di sinopsisnya dan di muqaddimah tertera lahir tahun 908, dan di hal.294 tertulis usianya 75 tahun! Fatal error nih, padahal ini poin penting, mengingat buku ini sebuah novel biografi. Kecewa, tapi aku tak mau kurangi rating bintangnya...
Buku ini menceritakan tentang perjuangan seorang ilmuwan besar Islam, Abu Ali Ibnu Sina, seorang dokter filsuf muslim yang dikenal dengan sebutan as-syaikh ar-rais (syekh tertinggi) atau di barat lebih dikenal dengan Avicenna. Tak diragukan lagi,ini salah satu riwayat hidup terbaik ilmuwan muslim yang mungkin akan terus dibaca dan dikenang banyak orang.
Kecerdasaan Ibnu Sina sudah terlihat sejak dia kecil. Ketika umurnya masih sepuluh tahun ia telah berhasil menamatkan dan menghafal al quran. Hal inilah yang mendorong kedua orangtuanya untuk mencarikan Ibnu Sina guru. Mulailah saat itu Ibnu Sina belajar berpindah-pindah dari satu guru ke guru lainnya. Hebatnya itu, satu guru mungkin hanya diperlukan waktu kurang dari satu tahun untuk ia mempelajari atau serap seluruh ilmunya. Alhasil, pada umur 16 tahun Ibnu Sina sudah berhasil menguasai ilmu kedokteran dan menjadi yang paling handal, filsafat, matematika, logika dan aljabar juga ilmu lainnya berhasil ia kuasai. Di usia remajanya Ibnu Sina sudah berhasil mengobati orang sakit, menjadikannya seorang doktet muda yang hebat serta kepercayaan raja di masanya. Hal ini ternyata selain membuat banyak orang yang mengaguminya juga membuat banyak orang iri dan dengki kepadanya.
Perjuangan seorang Ibnu Sina menghadapi pergolakan politik yang sangat panjang, mengharuskan dia melarikan diri dari satu kota ke kota lainnya, melewati padang gurun tandus bersama topan pasirnya yang telah menrenggut nyawa sahabt karibnya Abu Sahl dan hampir membahayakan jiwanya.
Saya benar-benar mengagumi sosok ilmuwan ini. Beliau seorang ilmuwan hebat yang sangat menyukai malam, baginya malam adalah saat dimana semua kedengkian tertupi, dimana seorang raja dan hamba sahaya adalah sama dalam tidurnya. Ternyata benar yah, kebanyakan orang hebat itu bekerja pada malam hari, Ibnu Sina sendiri hanya tidur selama dua jam. Sering dengarkan kalau kebanyakan ilmuwan hebat hanya tidur dua jam? Nah, karena mereka tidak mau menghabiskab waktunya dengan hanya tidur percuma (duh, jadi ngaca sama diri sendiri, tidur udah kayak kebo lol).
Semangat menulis Ibnu Sina sendiri juga patut diacungi jempol. Ketika menjadi tawanan, Ibnu Sina justru semakin produktif. Banyak karya nya yang justru dirampungkan ketika ia berada dalam penjara. Salah satu karya besarnya adalah Al qanun, buku kedokteran yang pernah menjadi standar bacaan wajib di universitas-universitas barat, juga As syifa, buku filsafat yang sangat terkenal.
Salah satu pesan Ibnu Sina yang paling saya ingat adalah ketika ia sedang menjadi tawanan, Ibnu Sina berkata, "Putus asa saat diuji Tuhan adalah dosa besar" jadi, janganlah berputus asa ketika kita diuji, Ibnu Sina sendiri dapat membuktikan dirinya mampu melewati cobaan, malah justru berhasil menghasilkan banyak buku ketika menjadi tawanan perang.
Ibn Sina, ilmuwan muslim ini seakan tak pernah tenggelam namanya. Ia hidup 75 tahun namun harum karyanya hidup berbilang ratus hingga ribuan tahun lamanya. Ia penghafal quran sejak berusia 5 tahun. Minatnya pada ilmu sungguh luar biasa. Terlahir dari keluarga sederhana namun mencintai ilmu. Ayahnya,Abdullah mencarikan satu demi satu guru yang bisa mengajarkan putranya ilmu. Dari satu Syekh ke Syekh lainnya Ibn Sina menggali ilmu hingga sang guru menyatakan tidak memiliki ilmu lagi untuk diajarkan kepadanya. Ia menghafal Quran sekaligus faham dasar-dasar hukum Islam, ilmu logika, ilmu tata bahasa dan menguasai kedokteran,metafisika dan filsafat.
Di usia yang sangat muda (belum 17 thn) ia sudah menjalani karir dokter di RS Bukhara dan dipercayakan mengobati Raja NUH II yang saat itu jatuh sakit. Tentunya dengan cibiran kiri kanan karena dianggap anak ingusan, ia terus membuktikan kepintarannya. Di tangannya, Raja Nuh II sembuh setelah 22 hari dirawat dan ia ditawari seluruh kekayaan negri Samarkand dan Isfahan. Namun Ia hanya meminta izin masuk ke perpustakaan Samaniyin.
Ia curahkan hidupnya untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Pagi hingga sore bekerja di Rumah Sakit, Malam berdiskusi dengan murid-muridnya dan menulis buku. Dalam kesulitan hidup di penjara ia justru menghasilkan karya-karya terbaik. Dalam buronan penguasa Negri kala itu, dalam penaklukan perjalanan padang pasir berhari-hari, Ia justru menyelesaikan Mahakarya Magnum Opus “AL QANUN Fi TIBB” The Canon of Medicine dan As Shifaa yang menggemparkan khazanah ilmu pengetahuan khususnya kedokteran di seluruh penjuru dunia.
Ibn Sina melakukan oprasi bedah pertamanya untuk mengeluarkan batu ginjal saat belum mencapai usia 15 tahun. Ia kemudian mencetuskan pengobatan saraf melalui aliran listrik dari ikan lapar yang diberi makanan, Ia juga melakukan operasi Cesar pada Layla, istri Raja Ala ad-Daulah dan menyelamatkan putra mahkota dan ibunya.
Subhanallah...ternyata begitu mengagumkannya para ilmuwan muslim yang memberikan sumbangsihnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Alur cerita yang mudah dipahami dan deskriptif seakan-akan penulis menyaksikan langsung peristiwa demi peristiwa yg dilalui Syeikh Ibnu Sina membuat saya asyik berimajinasi sendiri. Moment yang sangat mengharukan adalah ketika beliau harus kehilangan sahabatnya Abu Sahl saat badai gurun menerjang. Sayangnya cerita tentang kehidupan beliau dan isterinya yg bernama Jasmine tak banyak dibahas dan malah meninggalkan misteri tersendiri. Saya coba search tentang biografi beliau dan juga jasmine, ternyata banyak versi yang beredar..Wallahualam Bishawab...yang saya yakini beliau adalah hamba Allah yg begitu tulus mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat.
Kalo baca backcovernya kelihatan berat dan penuh intrik politik, tapi setelah baca halaman-halaman di dalamnya, ceritanya ternyata ringan dan sangat mengalir--waloupun intrik-intrik politiknya masih tetap bikin semakin malas dengan dunia politik
Ternyata begini ya kalo orang pinter ga kepatok sama sistem akademisi..... segala ilmu diserap, diolah, & dimanfaatkan dengan baik plus benar dalam waktu yg relatif singkat tapi super padat.
Novel ini berisikan perjalanan hidup Ibnu Sina sejak kecil hingga wafatnya. Akses pendidikan yang baik dan dari keluarga yang berada membuat Ibnu Sina yang cerdas mampu berkembang melampaui zamannya. Namun ketidaknyamanan lahir ketika dia akhirnya harus menjadi dokter istana. Sultan-sultan yang berebut akan dirinya membuatnya gusar dan ingin menjauh dari pemerintahan. Dia memilih pergi, mengembara menjauh dari intrik politik. Namun nasib seringnya tak seirama dengan keinginan, kadang dia bebas, kadang dia terjebak. Semuanya dia hadapi demi prinsip hidupnya.
Dunia politik yang menggelayuti Ibnu Sina di sini kurang diperdalam sehingga masih banyak plot hole yang belum terjawab. Aku cukup terganggu dengan banyaknya karakter yang hanya dinamai memakai 'kuniyah' membuat satu karakter dengan karakter lain sulit untuk dibedakan, apakan lagi tokoh²nya cuma lewat. Dan yang cukup menganggu adalah embel² Iran dan Syi'ah yang sebenarnya tidak ada penggambaran sama sekali kecuali dari percakapan, apakah ini sengaja atau bagaimana? 🤨
Banyak hal baik yang dapat direnungi dari novel ini. Tentang sistem pendidikan, kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya dan tentunya memilih guru yang kredibel. Sepertinya Ibnu Sina dididik secara privat atau paling tidak dengan guru yang membatasi jumlah muridnya sehingga perkembangan ilmu dan kepedulian akan hal tersebut tercurahkan dengan baik. Tutur kata yang selalu dibarengi dengan 'kalimat thayyibah' menyadarkan diri ini betapa kurang beradabnya percakapan sehari-hari yang sering terjadi pada zaman ini.
Sebelum membaca review buku ini, mohon semua menyedekahkan Al-Fatihah kepada Ibnu Sina berhubung susah payah beliau dan jasa beliau kepada dunia hari ini. Al-Fatihah.
Sukar untuk saya gambarkan perasaan saya apabila membaca buku ini. Saya bersyukur kepada Allah Taala kerana menemukan buku ini.
Pelbagai perasaan yang muncul apabila membaca buku ini. Walaupun saya mengambil masa tiga hari untuk menghabiskan buku ini, namun saya tetap konsisten membacanya apabila ada masa yang terluang. Kadang-kadang saya berhenti sebentar membaca buku ini kerana sebenarnya saya sendiri hendak berhenti sebentar dari membaca tulisan-tulisan yang menggambarkan cabaran yang dialami oleh Ibnu Sina.
Buku ini dimulakan dengan kisah gembira ayahanda Ibnu Sina. Ayahnya seorang yang selalu bersyukur kepada Allah Taala. Apabila ada sahaja nikmat yang diterimanya, langsung terus dia mengangkat tangan mengucapkan syukur kepada Allah Taala. Sikapya itu pada pendapat saya adalah satu sebab Ibnu Sina lahir sebagai zuriatnya. Peribadi ayahndanya sungguh mulia. Selain dari peribadi yang mulia, ayahanda Ibnu Sina sangat membantu dalam mengembangkan potensi Ibnu Sina. Potensi Ibnu Sina terselah apabila Ibnu Sina cuba untuk mengubati ibundanya yang tidak sihat. Dari situ bermulalah karier beliau sebagai seorang doktor pada usia yang sangat muda.
Sehinggalah pada satu hari, ayah Ibnu Sina jatuh sakit. Ibnu Sina berusaha untuk mengubatinya tetapi nampaknya sudah ajal ayahnya, wafat ketika itu. Ibnu Sina bersedih dengan peristiwa itu lalu berangkat pergi dari rumahnya.
Cabaran pertama adalah apabila beliau terlibat dengan ribut pasir. Sahabatnya dan tukang tunjuk jalan mati. Sejak itu, Ibnu Sina menyerahkan takdir hidupnya kepada Allah Taala.
Banyak peristiwa yang berlaku dalam hidup Ibnu Sina. Ada waktunya Ibnu Sina menjadi doktor di raja, berjaya merawat dan juga menulis kitab-kitab. Ada waktunya Ibnu Sina hidup dalam keadaan yang dhaif akibat politik istana pada waktu itu. Hidupnya berselang seli pahit dan manis sebab itulah Ibnu Sina sering memuja malam. Pada waktu malam beliau berjaya hidup dengan tenang tanpa ganguan manusia yang iri hati padanya.
"Tahukah kau betapa banyak rahsia disimpan malam?Aku selalu merindukan malam. Malam dan malam Setiap malam berlalu, kerinduanku kepadanya semakin besar. Malam hampir mirip mukjizat, di dalam berbaur beragam benda dan segala sesuatu. Semuanya mirip. Saat malam, warna-warna hilang dan raja tenggelam dalam tidurnya, tak berbeda dari hamba sahaya. Saat malam, seorang ayah seperti anak kecil. Dunia pun berhenti bernafas."
Ibnu Sina berkahwin dengan Jasmine, nama sebenarnya adalah Mariam, juga mengalami kisah sedih berhubung dengan kehidupan berkaitan dengan istana.
Banyak panduan positif yang terdapat di dalam buku ini. Terdapat panduan mendidik anak, panduan menjadi insan seperti Ibnu Sina. Panduan hidup bersosial dengan masyarakat dan golongan atasan dan banyak lagi.
Saya simpulkan, buku ini sangat berbaloi untuk dibaca. jika tuan puan tahu jika ada buku seperti ini, mohon rekomenkan kepada http://facebook.com/peminatbuku.
"Karena dirimu, mintalah padaku yang mahal dan yang murah. Mintalah padaku untuk tidak mengingatmu. Tapi, jangan memintaku untuk memadamkan jiwa dan ragaku. Kebenaran ada bersamamu. Aku sama sepertimu, akan hidup seribu tahun lagi. Kita akan hidup bersama seribu tahun"
kuot diatas saya pilih jadi kuot terbaik di buku ini, ada di satu halaman sebelum cerita berakhir. yaaks. jadi dua hari yang lalu saya secara resmi menamatkan buku ini. aftertastenya sih saya jadi lebih penasaran dengan sosok Ibnu Sina (biasa disebut di Barat dengan sebutan Latin: Avicenna) jadi siapa sih Ibnu Sina ini? beliau adalah seorang polymath dari Bukhara. semasa kecilnya ia adalah seorang yang sangat relijius dan sangat, sangat jenius. Ia menguasai ilmu matematika, filsafat, dan juga kedokteran. ilmu kedokterannya ini mempengaruhi dunia bahkan hingga sekarang. bayangkan! di zamannya, ga ada komputer, ga ada microsoft word, ga ada internet, tapi dia berhasil menguasai ilmu-ilmu bahkan menulis banyak buku dari mulai filsafat, agama hingga tentunya kedokteran (bukunya yang terkenal, Al Qanun terdiri dari 5 jilid)(!) dan dia menulis itu semua tidak dengan kondisi aman tenteram, beliau menulis buku-bukunya dalam kondisi terancam, dikejar, ditawan penguasa dan segalanya. hebat.
tapi saya rasa di buku ini ada kekurangannya juga, mungkin lebih di penerjemahannya yang saya kira ada beberapa yang kurang pas, jadi terasa kagok. tapi keseluruhan sih keren ko bukunya. makanya saya kasih bintang 4 juga (y) silahkan dibaca! (khususnya untuk anak-anak kedokteran dan filsafat hahaha)
p.s saya jadi penasaran ama bukunya yang berjudul Hayy ibn Yaqdhan yang katanya jadi buku novel filsafat pertama di dunia. di Indo ada ga ya?
"maksimalkanlah kecerdasan dan anugerah yang telah Allah berikan kepadamu. Mendekatlah kepada-Nya.Yakinlah bahwa dengan cara ini kamu bisa mengalahkan mereka. Curahkan semua waktumu untuk memahami dan menguasai masalah-masalah yang belum kamu ketahui jawabannya. Yakinlah bahwa kamu akan berada di atas." Kata Abu Bakar pada Ibnu Sina muda.
Dan masih banyak kutipan positif yang bisa dipetik dari Novel biografi ini. Berbeda dengan novel biografi pada umumnya, novel-biografi Ibnu Sina sangat ringan, mudah dicerna dan walaupun buku ini tidak terlalu tebal bisa memberikan gambaran cukup dalam dan detil tentang kehidupan Ibnu Sina di tahun 900-an.. Sungguh sebuah novel kaya makna..
Perjungan As-Syaikh Ar Rais sangat luar biasa... pasang surut kehidupan terjadi berulang kali namun tetap berdedikasi tinggi pada ilmu pengetahuan, khususnya kedokteran.
Ibnu Sina berkata, istirahat 2 jam sehari sudah cukup.. hal ini menunjukkan bahwa, beliau orang yang tidak suka menghabiskan waktu dalam kesia-siaan. 22 jam sehari digunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat, menulis, menjadi dokter, membaca, berbagi ilmu (mengajar) dan banyak lagi... membuat saya berfikir, dengan segala kemudahan dan ketersediaan abad 21, justru membuat kita terlena, menjadi budak kemalasan dan kebodohan.
Terima kasih pada Husayn Fattahi, karena "mengenalkan" Ibnu Sina pada dunia.
novel ini menambah pengetahuan saya akan satu lagi tokoh hebat dalam perkembanga Islam, sekaligus tokoh yang memberikan banyak hal dalam perkembangan peradaban manusia. Ibnu Sina, atau Abu Ali, atau As Syeikh Ar Rhais seorang tokoh yang begitu inspiratif, buku ini menyuguhkan sebuah cerita mengenai seorang bijak dan arif, menyuguhkan seoran Ibn Sina, seorang dokter ternama pada masanya dan hingga kini. penggambaran perjuangan, serta perjalanan hidup Ibn Sina yang dikemas dengan apik dan menarik, sebuah epik yang apik :D
akhirnya bisa tahu perjalanan hidup ibnu Sina yang ternyata tidak mudah untuk dilalui. berpindah darisatu daerah ke daerah lain demi idealisme dan kejujuran. pribadi yang wajib dijunjung tinggi.
buku ini aku selesaikan dalam perjalan dari jakarta ke Bandung, cukup menrik walopun ada beberapa hal yang kurang detail, tapi pantas untuk bisa mengenal bagaimana ibnu sina. Good work...