Mari berandai-andai... Jika Indra Herlambang adalah seekor burung, termasuk jenis burung apakah dia?
Djenar Maesa Ayu: Burung Cucakrowo. Kalau udah berkicau nggak bisa berhenti. Untung suaranya bagus. Indra seperti itu. Cerewet. Tapi yang diomongin tetap ada isinya. Jadi selalu enak untuk didengar.
Ersamayori: Indra itu burung Kakaktua. Soalnya keren dan merupakan salah satu burung yang paling pandai bicara. Plus, dia sudah saya anggap sebagai kakak. Dan kebetulan sudah tua. Jadi pas, kan?
Joko Anwar: Burung Merak. Soalnya dia gagah sekaligus cantik.
Raditya Dika: Menurut gue, kalo Indra Herlambang itu burung, maka dia adalah Road Runner! Entah itu burung jenis apa, tapi yang jelas kaya tulisannya Indra: Lincah, cerdas, dan kencang. Beep! Beep!
Tentu saja. Indra bukan burung. Satu-satunya kemiripan dia dengan burung adalah kegemarannya untuk berkicau. Di mana saja. Kapan saja. Baik di radio, televisi, panggung, twitter, majalah, bahkan terkadang di saat dia tidur. Buku ini mencoba mengumpulkan kicauannya. Soal gaya hidup, cinta, Jakarta, Indonesia, dan keluarga. Banyak yang serius, lebih banyak lagi yang kocak. Yang pasti selalu kacau. Karena dia selalu galau.
Awal membaca tulisan ini tidak terlalu berharap banyak apalagi judulnya pakai tambahan 'Curahan hati Penulis Galau' ditambah covernya yang kuning kinclong dengan gambar lucu agak maksa (tapi eye catching kali ya), jadi perkiraannya sebangsa buku diary yang lucu-lucu. Ternyata Indra lebih cerdas dari yang saya kira ( maaf ya ) selama ini saya mengenal Indra Herlambang hanya sebagai presenter 'gosip' dan belakangan tahu bahwa dia bisa akting dan kalau tidak salah 'menari' juga. Di buku ini Indra 'berkicau' tentang bermacam hal dengan bahasa anak muda yang renyah tapi ternyata selain mampu mebuat tersenyum, tertawa juga menyentil,menyentuh emosi dan mengingatkan pembacanya.
Buku ini dibagi dalam 4 kelompok yaitu : I. Kicauan Tentang Gaya Hidup, Hidup Gaya, dan Hidup enggak ya ? II. Kicauan tentang Single, In Relationship, atau It' Complicated III. Kicauan Tentang jakarta, Indonesia,dan Kesehatan Jiwa IV. Kicauan tentang Keluarga
Semua tulisan diawali dengan Status Twitter, ada yang mengena, ada yang lucu, ada juga yang ga nyambung, dan ditutup dengan kata-kata yang membuat kita terharu,berpikir, merenung atau biasa saja.
-ah ternyata kita sering mebuat penjara untuk diri kita sendiri : Aren't we all trapped in our littlep 'prison'? jobs, relationship, daily routines. If we can't break free. It's time to decorate them. ( Siapa yang ada di dalam Penjara?)
- Saya jadi inget dulu waktu kecil juga suka pura-pura sibuk kalau disuruh nginjek-nginjek bapak ( Menginjak-injak Bapak Ibu )
- kalau semua hal kelihatan buruk, jangan-jangan yang salah matanya ( Mengandalkan Mata untuk Menghakimi Tanpa Membiarkan Hati ikut Bicara )
Inilah Kicauan ringan dengan bahasa anak muda tapi cerdas dan berisi, maaf kalau pada awalnya saya salah menilai.
Tukang Gosip. ‘Gelar’ itulah yang sempat saya sematkan untuk pria bernama Indra Herlambang, seorang host salah satu media gosip ‘ternama’ di Indonesia. Walaupun saya bukan penyuka gosip, terkadang jari kepleset juga pencet channel pas acara gosipnya Indra. Satu yang saya suka setiap kali melihat wajah Indra di layar televisi dengan ekspresi wajahnya yang lucu, kalau tidak mau disebut culun *peace!*, setiap kali menanggapi berita-berita sensasional para artis. Kadang ekspresi itulah yang membuat tanggapan sang host menjadi lebih ‘hidup’dan menghibur. Loh, koq jadi membahas tentang ekspresi bergosip.
Selain lincah dalam bertutur, ternyata Indra juga mumpuni dalam menulis. Buktinya, ya buku kumpulan tulisannya yang berjudul Kicau Kacau, Curahan Hati Penulis Galau. [OOT: Saya curiga, wabah kata Galau di twitter dipelopori oleh buku ini]. Buku ini berisikan kumpulan tulisan Indra dari beberapa majalah tentang keseharian dan lingkungannya.
Awalnya membaca tulisan-tulisan Indra, saya lebih merasakan nada nyinyir daripada kritis. Tapi sejak menemukan tulisan berjudul Sembilan ratus enam belas ribu seratus lima puluh langkah kaki [Panjang banget judulnya] saya mulai mempertimbangkan tumpahan isi kepala Indra dalam buku ini. Semakin lama ternyata saya menikmati juga pemikiran Indra yang sederhana tapi mengena. Banyak tulisan dia yang kelihatannya hanya luapan kekesalan tanpa isi tapi begitu dicerna lebih dalam ada sesuatu yang membuatku berpikir, “Iya ya.” Indra menulis uneg-uneg dengan apa adanya, bahkan saking apa adanya, saya selalu tertawa setiap Indra mengungkit atau menyelipkan perkara usianya di beberapa tulisan.
‘Memang bumi ini jauh lebih menyebalkan ketimbang perut Bunda yang nyaman.’ [h.285]
Menarik membaca tulisan-tulisan Indra pada bab kicauan tentang Jakarta, Indonesia, & Kesehatan Jiwa. Mengkritisi banyak hal. Walaupun berkali-kali mengatakan buta tentang politik, kadang tulisannya tidak mencermin kondisi tersebut [yah minimal gak buta-buta amatlah], seperti yang terlihat pada Playgroup MahaBesar Bernama Negara.
Selain itu, kicauan tentang Keluarga adalah bab terfavoritku. Tidak hanya lucu, bermakna tapi juga menyimpan sejuta kehangatan. Semua tulisan di bab ini memberikan banyak hal untuk direnungkan, dinikmati, dan diresapi. Ah, Saya suka sekali dengan tulisan berjudul Surat Untuk Irvin dan Menginjak-injak Bapak & Ibu.
‘Kalau semua hal kelihatan buruk, jangan-jangan yang salah matanya’
Well, banyak hal yang bisa kuambil dari buku ini, seperti perombakan sudut pandangku terhadap Indra Herlambang. Selain itu, selesai membaca buku Kicau Kacau, saya menjadi memiliki keinginan yang menggebu untuk kembali menuliskan segala hal di blog cuat-cuitku yang cukup lama terlantar.
Sebelum baca ini, gw under-estimate sama sosok penulisnya, karena belio ini host acara gosip *yep, simply because of it* Ternyata, mas Indra Herlambang ini lumayan jeli dalam menganalisa kehidupan.
udah penasaran sama buku ini untungnya Mas Rio nawarin buat minjemin
paling suka tulisan-tulisan soal ngomongin soal single, pernikahan, dan orangtua (keluarga) *mengelap air mata*
dari hal kecil seperti menghitung jumlah langkah tiap hari, Indra bisa mengambil hal yang buat saya sangat sulit ditemukan kalau kita bukan orang yang punya hati yang hangat #eh? bahasanya.. hihihi
Saya menghabiskan lebih banyak langkah untuk mencari celana dalam ketimbang mencari ibu untuk pamitan. Berarti hari itu saya menghabiskan lebih banyak energi dan usaha untuk menemukan underwear ketimbang mendapat restu dari orangtua. Apakah itu pantas? Hal.41
dan saya juga dibuat tersenyum geli oleh kalimat ini: Bicara soal cinta dan hantu sama menyeramkan.. Hal. 116 Ahahahahaha.. bener banget deh..
juga mengenai kehilangan, kalimat ini membuat saya terhenyak.. Mungkin benar, orang paling beruntung adalah mereka yang sadar bahwa di dunia ini mereka tidak punya apa-apa. Karena mereka pasti tidak akan pernah kehilangan Hal. 256
Mungkin ada benarnya, tapi jika tidak merasa kehilangan, bagaimana kita bisa merasa bersyukur? Entahlah..
3 bintang saya berikan untuk Indra Herlambang karena saya sudah lama sekali tidak blogging dan menemukan hal-hal kecil yang menyentak jiwa.. #halah
Saya jadi ingin kembali mencurahkan hati lewat tulisan di blog, satu hal yang sudah sangat jarang saya lakukan belakangan ini *lirik multiply*
awalnya agak underestimate karena gw pikir isinya banyolan gitu secara (maap ye) agak g bgt suka ma indra herlambang di salah satu infotainment ..
tapi pas baca se-bab ternyata mayan, terus dilanjutin lagi, dan akhirnya gw berkesimpulan, ternyata ni orang di balik nyinyirnya kritis juga .. :b ok bgt sebenernya tema tiap tulisannya, cuma kurang deep, kek ada yang g selesai diungkapkan, terus makin lama makin kabur inti tulisannya :D
tapi jujur, menurut gw he could be a great writer someday, tapi utk buku ini gw kasih 2 bintang aja ;)
*permasalahan terbesar adalah : tepat sebelum baca buku ini gw baca the fifth mountainnya coelho, jadi agak distandarkan pada standar coelho ;p *
Buku yang lumayan menghebohkan di twitter bahkan sudah cetak ulang keenam kalinya kalau tidak salah. Warna covernya kinclong, kuning ngejreng!
Indra Herlambang yang saya kenal di tv adalah seorang laki-laki yang nyinyir pas banget dengan Cut Tary, saya paling demen nonton insert kalau mereka berdua yang jadi presenternya. Ternyata kepribadiannya tak jauh beda dengan tulisannya yang dikumpulkan menjadi buku Kicau Kacau. Blak-blakan, terkesan bodor kadang namun pintar juga merangkai kata. Mirip dengan tulisan mingguan Samuel Mulia yang rutin saya baca di Kompas Minggu, hanya saja tulisan Indra tidak segamblang Samuel. Bahkan selesai membaca Kicau Kacau saya merasa ‘dekat’ dengan Indra, bisa jadi karena tulisannya yang apa adanya, sosok Indra Herlambang terlihat sebagai manusia biasa yang sama seperti saya bukannya artis yang tak terjamah.
Kicau kacau terbagi menjadi 4 bagian berdasar tema, tentang gaya hidup, hubungan antar manusia, gemerlap ibukota dan terakhir mengenai keluarga. Saya paling suka bab pertama dan bab terakhir. Saya mengerti kenapa gaya hidup dijadikan bab pembuka karena tulisan Indra yang renyah dengan cepat membuat kita menyukai buku ini bahkan terkadang senyum-senyum sendiri saat membaca celotehannya yang cerdas. Bab berikutnya agak membosankan, dan bab terakhir tentu saja menjadi favorit saya. Ayah, ibu, keluarga jelas memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang penulis sendiri sehingga saya sebagai pembaca turut merasakan hangatnya keluarga Indra Herlambang yang ternyata sangat 'njawani'.
Tiap cerita diawali dengan potongan tweet Indra Herlambang, beberapa di antaranya yang menjadi favorit saya :
Age plus memories equals nonstop nostalgic rambling.
Anger breeds more anger. Hate breeds more hate. It's time to use contraception and stop the breeding.
So in the spirit of today's celebration: PMS is biology, not politics. Deal, women? *uhuk* tertohok :p
Dan yang terakhir : Aren't we all trapped in our little 'prisons'? Jobs, relationships, daily routines. If we can't break free, it's time to decorate them.
Nice job, mas Indra. Membaca Kicau Kacau jadi kangen curhat di blog pribadi saya yang sudah terlantar berbulan-bulan. Nguk.
Kumpulan artikel-artikel yang ditulis penulis dari berbagai majalah berisi pendapat-pendapatnya atau kalau menilik disampul belakangnya, curahan hati akan kehidupan disekitarnya. Ada 5 bab kicauannya, tentang gaya hidup, relationship, tempat tinggalnya dan keluarga. Di Gaya Hidup, Hidup Gaya, Dan Hidup Gak Ya? menceritakan tentang teknologi, social network, langkah kaki dalam sehari, olahraga, delay, dll. Di Single, In Relationship, Atau It's Complicated biasa aja sih tentang undangan pernikahan, putus cinta, apa salahnya dengan kesendirian. Bab ke 3 tentang Jakarta, Indonesia, dan kesehatan jiwa, apalagi kalau bukan tentang macet, macam-macam jenis sopir, dsb. Yang terakhir kicauan tentang keluarga, menceritakan kalau keluarga Indra pengemar jamu, kehilangan mobil, alasan masih tinggal sama ortunya, keponakanya, tentang tukang kebunya. Cerdas, sinis, dan nyinyir. Pandanganya meang kadang bertolah belakang pengan pendapat orang, tapi waktu meresapinya saya berpikir "benar juga ya." Artike favorit saya ada di Quote Unquote, pendapat penulis dan orang-orang yang ditanyanya tentang drug, Pil Biru Di Hari Merah Jambu, lumayan nyengir juga tentang obat kuat itu, trus dibagian Satu Telunjuk Untuk Menjawab Banyak Pertanyaan, setuju sekali kalau diri kita sendiri itu kadang perlu sendirian (saya pernah nonton bioskop sendirian), hal 151 "...saya juga cinta diri saya. Karenanya menikmati waktu dengan diri sendiri. Berteman dengan diri sendiri. Berdialog panjang dengan diri sendiri. Buat saya bukan merupakan pilihan, tapi keharusan. Apalagi sebenarnya di ujung hidup ini ada kematian. Sesuatu yang harus benar-benar dijalani sendirian." Dibagian Kunci ketika dia lupa bawa kunci tau-tau paginya waktu bangun sudah ada di tempat tidur, ada kalimat yang membuat saya Jleb, hal. 265 "Orangtua hanya melakukan semua atas dasar cinta dan sayang. Namun terkadang ada anak yang terlalu arogan untuk bisa menerima semua itu dengan hati senang." Agak terharu di artikel Mengandalkan Mata Untuk Menghakimi Tanpa Membiarkan Hati Ikut Bicara, di hal. 309 "menilai seseorang tanpa terlebih dulu mengenalnya. Mengandalkan mata untuk menghakimi tanpa membiarkan hati ikut bicara. Padahal mata saya tidak sempurna." Dan twit favorit saya adalah di artikel Sebuah Buku Tamu Raksasa, twitnya gini: jangan tanya apa yang negara udah kasih sama kita, tapi tanya apa yang bisa kita dapet dari negara. Dan terakhir di Jamu Termanis Di Dunia, kalimat pendek tapi kekuatan besar: My Mom's hug is better than aspirin. Kalau pengen baca buku yang nyinyir, sinis, cerdas dan ada "isinya" wajib baca ini.
kebiasaan saya membeli buku tidak lepas dari label best seller. buku ini adalah salah satu buku yang dilabeli best seller dan saya tergoda untuk membeli. tidak ada harapan untuk "gain something" dari bacaan ringan ini.
fenomena "artis" yang menulis buku tidak terlepas dari teman baru kita selama beberapa tahun ini, yaitu twitter. itulah anggapan pertama yang masuk di otak saya tentang buku ini. dan ternyata memang benar bahwa isi dari buku kebanyakan adalah kelakuan, pendapat, & cerita yang lebih dalam dari140 karakter yang ditulis indra di twitternya. twit indra lah yg menjadi plotline dari penulisan buku ini.
isi dari buku ini cenderung bersifat personal. sehingga kita bisa menemukan gaya penulisan seperti ini di blog-blog orang kebanyakan. nothing more.
bagian buku yang paling saya ingat dari buku ini adalah ketika indra menceritakan tentang keluarganya, terutama ayah dan ibu nya. terkesan sangat dalam tulisan-tulisannya ketika menceritakan tentang keluarganya.
kesimpulan saya buku ini cocok untuk kita-kita yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai kehidupan "artis", atau bahasa gaulnya "kepo". yap, hanya sebatas itu. paling tidak itu kesan yg saya dapatkan setelah mendapatkan buku ini.
Pertama kali saya lihat buku ini ketika ngurusin stand buku Gramedia di pameran buku Bandung. Akhirnya bisa kebeli juga bulan maret 2013. Kebetulan memang lagi nyari referensi buku semacam personal literature.
Saya mengira buku ini semacam tulisan 'gokil' ala Raditya Dika atau Pelit-pelit lainnya. Ternyata saya menemukan hal yang lain. Kumpulan artikel yang dikemas ringan oleh Indra. Bukan esai panjang atau artikel koran, memang cocok untuk artikel majalah atau tulisan di blog.
Harga buku ini kebilang mahal, tapi saya tidak menyesal membelinya. Buku ini punya bobotnya sendiri.
Di bab awal, buku ini terkesan ringan karena dibalut canda khas Indra. Makin dalam membacanya, saya menemukan perenungan. Kadang saya dibuat jengkel dengan pemikiran Indra, tak jarang saya mengangguk setuju dengan sudut pandangnya.
Saya kurang sreg dengan kata-kata Indra yang berulang kali ditulis tentang bagaimana dia berpikir bodoh atau semacamnya, penulis seperti bersembunyi dari ketidaksetujuan pembaca atau kritik yang akan keluar. Padahal jelas-jelas tulisan-tulisan ini bersifat subjektif. Mungkin lain kali Indra harus lebih berani ketika menyuarakan isi hatinya dan mau menerika konsekuensi. Tak perlulah memberi embel-embel 'bodoh'.
Membaca beberapa halaman saja sudah membuat saya kagum. Celetukannya mengena, rasa tersindir. Bisa yah,, penulis menulis berbagai macam hal secara lepas dan bebas. Kreatif, menyentil permasalahan yang kontemporer dan dari sudut pandang yang berbeda klo engga dibilang aneh, untuk beberapa peristiwa yang (pernah) terjadi di Jakarta.
Bagaimana dia membandingkan tentang pelaku peledakkan bom dengan keindahan rangkaian bunga, menceritakan hubungan bunga dan pernikahan, cerita tentang hantu dan usulan pembuatan cagar hantu,, (aya-aya wae). Juga eksperimen kecilnya tentang Kartini, ketika dia dengan niatnya mencari orang yang bernama Kartini dan beberapa kisah menarik lainnya, yang dibaca bisa bikin geleng-geleng kepala, tertawa sendiri apalagi pas dia cerita tentang jamu. Saya baca cerita itu, tiba-tiba ketawa sendiri, padahal lagi di angkot. Heu.
Klo penasaran mending baca aja, mau beli, minjem atau minta diceritain bisa juga. Untuk penyegaran, bagus untuk dibaca, lebih bagus lagi kalau apa yang dia baca dipikirkan lagi secara lebih mendalam, karena yang dia tulis itulah realita yang terjadi
Awalnya aku mengira isi buku ini renyah, ringan, menghibur, dan menunjukkan kepribadian penulisnya seperti apa.
Namun semakin kubaca terasa penulis menampilkan pribadinya sebagai pria "baik-baik". Sehingga bagiku, buku ini tidak terasa tulus. Tulisannya terasa kurang mengalir, terasa kurang jujur, kurang berasal dari dalam hati.
Padahal kunilai penulis ini punya bakat, hanya saja terlalu menahan diri.
Dan satu lagi, aku sebal sekali menemukan kata HELLOWEEN. Ada 2 kata Helloween di sini (bukan dalam konteks band) dan 1 kata Halloween, semua memaksudkan hal yang sama.
Aku pernah diwawancara U! Magazine seputar hobi mengoleksi prangko. Saat hasil wawancaranya tayang, aku beli majalahnya dan ada tulisan Indra Herlambang yang berjudul Inter(t)aksi (yang juga dimuat ulang di buku ini).
Sejak baca tulisan itu, sudut pandangku terhadap beliau sedikit berubah. Dari yang hanya-host-gosip, jadi sosok pemikir yang boleh-juga. Padahal sih, dia udah tunjukin kebolehannya menulis di film Mereka Bilang Saya Monyet. Gak tanggung-tanggung, skenario yang ditulis bareng sama Djenar Maesa Ayu itu menang piala citra.
Well, satu lagi, aku pernah gak sengaja buka channel TVRI (ya, TVRI), dan muncullah tayangan belajar bahasa Inggris yang..... dibawakan oleh beliau. Wah kece ya! kalau mau jujur, walaupun hanya-host-gosip, Indra emang keliatan pinter dengan cara ngomong dan pembawaannya.
Lalu, pasca menuntaskan buku ini, makin jelaslah kalau Indra ini punya pemikiran yang keren dalam banyak hal. Saat baca buku ini, aku menyiapkan kertas dan pena untuk mencatat hal-hal penting (yang niatnya mau dituliskan di ulasan goodreads ini) eh sial, kertasnya hilang.
Intinya, aku suka tulisan-tulisan beliau. Gak semua topiknya sesuai juga sih, tapi paling nggak, banyak sudut pandang menarik dari beliau. Dan favoritku saat beliau udah cerita tentang keluarga dan sosial media.
Di saat banyak orang yang agak skeptis sama buku yang ditulis oleh Indra Herlambang,saya malahan penasaran dan tahu buku ini akan menarik karena memang saya follower twitter Indra Herlambang sejak zaman baheula. Banyak tulisan-tulisan yang sepintas mengandung makna yang superfisial,namun bila dipikir,dihayati,ditelaah,disobek dan diminum dengan segelas air *haha* tersirat makna yang lumayan dalam. Salah satu contohnya adalah ketika berbicara tentang pertemanan. Seperti yang orang lain banyak pikirkan bahwa semakin lama, pertemanan itu silih berganti. Tidak ada teman yang satu untuk selamanya. seorang Indra Herlambang berpendapat : "Bukankah teman selalu akan ada? Mungkin dalam bentuk orang yang berbeda. Tapi esensinya sama. Hidup akan selalu mempertemukan kita dengan teman baru." seorang Indra Herlambang sukses membuat saya tertawa terpingkal-pingkal dengan cerita lucu-lucunya (lebih ke konyol). Dan kosakata saya juga bertambah karena ada beberapa bahasa gaul yang belum pernah saya dengar (atau memang bukan bahasa gaul di era saya) haha. Overall,buku ini cocok untuk orang-orang yang butuh hiburan dengan diselipi petuah-petuah. Buku ini mebuktikkan memang indra herlambang orang yang kreatif dan cerdas :)
Buku ini punya kakak, tapi belom pernah sekalipun kubaca sampai belakangan ini. Pas liat nama penulisnya, harapanku nggak terlalu tinggi. Aku mikirnya, "Ah, paling ini sekadar buku easy-read kayak buku-bukunya Raditya Dika, yang isinya curcol soal pengalaman pribadi dan opini perasaannya atau keheranannya di paragraf terakhir tiap bab/artikel."
Ternyata, harapanku yang terlalu rendah. Di buku ini, aku seperti mengintip isi kepala dan isi hati seorang Indra Herlambang, seorang figur publik yang kiprahnya di layar televisi sudah melekat di kepala banyak orang. Tentu saja, isi kepala dan hati yang dicurahkan di beragam artikel di buku ini membuatku berpikir kembali tentang apa-apa aja yang terlihat sepele. Emang, tulisan-tulisan di buku ini kebanyakan dipublikasi antara tahun 2007-2011, tapi rasanya hal itu bukan masalah besar bagiku karena keresahannya timeless (tentu saja, kita harus sedikit mengadaptasinya ke konteks sekarang pas baca).
Tertarik baca buku ini karena penulisnya Indra Herlambang.
Tak disangka, Indra yang seorang presenter juga pandai menulis (bahkan juga jadi penulis skenario).
Buku ini seperti diary Indra yang berisi pemikiran-pemikirannya tentang tren (kala itu). Ada pula kisahnya saat nekat demo (tahun 1998), saat merasa terlalu tua untuk clubbing, dll.
Dulu beli ini karena liat teman sebangku punya, jadi ikut22an, deh, apalagi doi anak beken di SMP, ya kali nular ya bekennya. Isinya lucu, sering tiba-tiba ngakak sendiri waktu baca ini dan dibaca ulang pun masih kerasa lucunya.
“Ngena banget” inilah komentar salah seorang teman saya melalui tweet-nya saat membaca buku karya Indra Herlambang ini. Mungkin sebagian dari follower yang kebetulan membaca tweet-nya tersebut lantas bertanya: memangnya buku apa ini? Apanya yang ngena? Se-ngena itu kah?
Saya pribadi setuju dengan pendapat teman saya tersebut. Tulisan-tulisan dalam buku Kicau Kacau memang banyak yang nendang. Loh, memangnya Kicau Kacau bercerita tentang apa? Bukankah itu buku diary biasa yang kini sudah umum? Buku simple-simple aja kan?
Memang buku simple sih, sederhana. Sesederhana judulnya, Kicau Kacau. Namun, bukan berarti yang simple-simple itu tak berisi kan? Walau hanya membahas hal-hal kecil, tetapi bagi saya, setelah membacanya, Kicau Kacau telah mengajarkan saya berbagai hal mulai dari pengembangan diri hingga sarana merefleksi diri.
Seserius itu?
Tidak, sekali lagi, ini bukan buku yang serius, tapi berisi.
Salah satu tulisan yang ada di buku ini berjudul Inter(t)aksi. Dalam tulisan tersebut, Indra membahas tipe-tipe supir taksi yang ia klasifikasikan sendiri berdasarkan pengalamannya menumpang taksi serta berinteraksi dengan para pengemudinya. Oke, sepenting itukah hingga tipe-tipe supir taksi saja perlu dibahas? Jangan sinis dulu, mari dibaca dulu tulisannya.
Singkatnya, di tulisan Inter(t)aksi ini Indra membagi supir taksi menjadi beberapa golongan, di antaranya Supir Curhat. “Dari menutup pintu setelah duduk sampai membukanya untuk turun, Anda akan mengetahui semua masalah yang terjadi pada kehidupannya. Kegalakan istrinya, kebandelan anaknya, dan semua hal lain tentang kehidupan yang tidak sediki pun luput dalam kehidupannya.
Membaca kategori pertama ini, saya spontan teringat dengan salah satu kejadian yang belum lama ini saya alami di dalam taksi. Baru saja naik, tiba-tiba sang supir bercerita mengenai dirinya yang baru saja ditilang karena menaikkan penumpang di Bandara, padahal armada taksinya tak memiliki otoritas untuk itu. Sang supir taksi tersebut kemudian mengatakan bahwa dampaknya adalah uang komisinya akan dipotong secara bertahap untuk mengganti biaya tilang, dan kemudian berdampak pada keuangan keluarganya, yang bisa saja menimbulkan ketidakharmonisan keluarga. Terlebih, ia baru saja berantem dengan istrinya. Curhatan supir taksi itu terhenti ketika saya harus mengangkat telepon yang ternyata dari telemarketer perusahaan asuransi, dan berpura-pura menyimak apa yang diutarakan sang penelepon, walau hal ini juga menyebalkan.
Selain Supir Curhat, Indra juga menggolongkan supir taksi ke dalam kategori Supir Pengamat Politik, Sopir Komedian, Supir Penggerutu, Supir DJ, hingga Supir Magician. Masing-masing digambarkan indra memiliki karakterisitik sendiri yang mungkin sudah tidak asing bagi kita, dan tepat seperti yang dideskripsikan oleh Indra.
Yang juga sangat menarik, di akhir tulisannya itu Indra menulis seperti ini, “Yang pasti saya curiga, jangan-jangan di antara para supir taksi, mereka pun punya penggolongan atas macam-macam penumpang yang dihadi setiap hari. Penumpang pendiam, penumpang cerewet, penumpang, pelit, penumpang galak.”
Dan taukah Anda, saya pernah menaiki taksi yang supirnya pernah bercerita kalau ia dan teman-temannya memang menggolongkan para penumpangnya menjadi berbagai macam kategori seperti yang telah diungkapkan oleh Indra. Jika memang ternyata supir taksi tersebut menggolong-golongkan kita sebagai penumpangnya, pertanyaan yang menjadi kalimat penutup Inter(t)aksi ini begitu menarik,
“Lalu pertanyaan berikutnya, penumpang tipe apakah Anda ini?”
Pertanyaan singkat, namun cukup membuat saya sedikit berpikir & merefleksikan diri. Seperti apakah saya di mata orang lain, dan apakah orang-orang menggolongkan saya ke kategori yang sifatnya positif, atau sebaliknya?
Ending tulisan yang ngena’ itu tidak hanya terdapat di satu tulisan saja loh, hampir di setiap tulisannya dalam buku ini ditutup dengan kalimat menarik yang mengandung pesan dan memang bisa membuat saya berpikir sejenak sebelum meneruskan membaca ke tulisan berikutnya. Buku ini semakin berisi karena diisi oleh diksi-diksi yang benar-benar membuat saya tahu kalau sang penulisnya adalah seorang yang cerdas dan juga seorang penikmat karya sastra.
Setap tulisan dalam Kicau Kacau sepertinya memang bukan tulisan yang terlalu penting, terutama kalau Anda melihat dari judul-judulnya. Tetapi sekali lagi, buku yang jauh dari kesan serius ini bias membuat saya sejenak merenung, tertawa kecil, tersenyum miris, hingga terbahak dalam seketika. Simple, tapi ngena banget.
Buku ini memperlihatkan another side of Indra Herlambang. Dibalik tingkahnya yang (kata ibu saya) pecicilan dan dibalik ketenaran dia sebagai pembawa acara gossip, he is such a deep thinker. Saya suka majas ironi yang dia bawa dalam buku ini, satir dan cerdas. Tidak berusaha menjudge tapi obyektif. can't wait for his next book !
Kenal Indra Herlambang? Pasti kebanyakan orang taunya Indra Herlambang adalah salah satu host Insert (Informasi Selebriti) kan? Ga banyak orang yang tau Indra juga adalah seorang penulis. Saya justru menyukai tulisan Indra Herlambang jauh sebelum saya suka nonton Insert. Kok bisa? Lah, emang Indra Herlambang ini punya kolom khusus di beberapa majalah. Pertama kali malah saya baca ada cerpen di sebuah koran (saya lupa koran apa) yang ditulis oleh Indra Herlambang, disitu pertama kali saya suka tulisan Indra sampai suatu hari saya melihat satu buku dengan cover aneh berwarna kuning ngejreng yang berjudul Kicau Kacau.
Kicau Kacau, Catatan Hati Penulis Galau. Sejak kapan sih, kata ‘galau’ ini jadi tren? Kata ini jadi lebih sering nongol di Twitter akhir-akhir ini. Dan ternyata tulisan2 pendek dengan maksimum 140 karakter itu membawa Indra Herlambang untuk menerbitkan buku. Buku ini berisi kicauan di Twitter @indraherlambang yang akhirnya menjadi catatan-catatan kecil (ga kecil juga sih, ada beberapa jadinya cerita rada panjang). Tentang apa aja? tentang banyak hal, dari mulai persahabatan, gaya hidup, relationship, keluarga sampe tentang Jakarta yang kian kacau dimata Indra Herlambang, walau memang beberapa tulisan dalam buku ini sebenernya udah lama di publish di beberapa majalah.
Dari buku ini juga kita bisa berkenalan secara tidak langsung dengan Indra Herlambang yang kita kenal sebagai figur publik, mulai dari teman-temannya, karirnya dan juga keluarganya. Anda merasa Indra ceriwis banget tiap kali nonton di inpotainment? ternyata begitu pula aslinya, banyak berkicau, sesuai banget sama icon burung biru Twitter itu kan ya, tapi sayang saya merasa cover buku Indra yang bergaya bak model dengan penggunaan penggunaan kepala burung serta jas agak kurang menarik buat saya Oh ya, ada kalimat yang sepertinya disukai sekali oleh Indra Herlambang sehingga kalimat ini banyak sekali muncul, ‘Apalah tau saya’.
Tulisan Indra membuat saya merasa seperti membaca Editor’s Note di banyak majalah, ringan tapi berarti banyak. Banyak pemikiran dari sudut pandang Indra yang betul, dan saya merasa sepaham dengan itu.
Ahhhh...kali ini gw nggk mau terlalu menanggapi serius untuk menulis review kicau kacau-nya mas Indra Herlambang (*_*")
Kicau kacau memang semacam klipingan dari esai2 lepas atau tulisan2 lainnya mas indra di beberapa media terutama Free Magazine. Ketika membaca judulnya dengan cover super kuning dan figur dirinya berpenutup kepala seekor burung, otomatis kening ini berkerut tapi bibir ini tersenyum (^-^")
Saat membuka kicau kacau pertama kali, apa sih maksudnya dengan kicau kacau? Benarkah itu isinya curahan hati penulis galau? Setiap esai lepasnya selalu didahului oleh kicauan yang ditweetnya lewat social media, twiiter. Mungkin dari situlah terjawab kenapa judul kicau. Seolah tweetnya adalah intisari dari kicauan panjang selanjutnya.
Kumpulan esai ini juga dibagian atas 4 judul bab dan masing2 bab berisi beragam ocehan mas indra yang kadang diselipi oleh ilustrasi yang dibuatnya sndiri (anak senirupa yg eksis). Yang gw rasakan selama membacanya adalah gw jadi mengenal sosok mas indra lebih dekat, jauh lebih dekat. Tulisan2nya terkadang mengimplikasikan betapa pedulinya ia ditengah orang yg nggak pedulian, betapa ia sok tahunya diantara orang pintar, betapa ia polosnya ditengah orang yg memandangnya sebelah mata, betapa ia nggak punya kerjaannya sebagai orang yg banyak urusannya. Yah.. Boleh dikata perspektif indra yg seorang 'pemuda' urban. Mungkin itu yg membuat kicauan panjangnya kacau. Gw bukan orang sempurna untuk menilai kedalaman tulisannya, kepekaan panca indra-nya, apalagi menilai perhatian dan jalan pikirannya, tetapi yg selalu gw tahu bahwa ada orang2 seperti indra disekeliling kita yg memiliki sedikit waktu untuk sejenak 'menikmati aroma' hidup dari kehidupannya. Sekali lagi, nikmati saja bersama secangkir kopi atau teh sore hari. Terkadang kita tersentil, merasa geli atau malu. Tapi setidaknya kita tahu seorang indra yg tlihat 'sempurna' dilayar kaca juga manusia yg mengakui dengan jujur bahwa ia sedang galau (--")
Selesai membaca dan kesanku: ini jelas bukan sekedar kicauan. Apalagi sekedar kicau kacau. Ini inspiratif. Yah mungkin sesekali judul sebuah buku ditulis secara eufemisme seperti ini ya. Salut buat Indra Herlambang.
Buku ini paket lengkap dari panduan inspiratif kehidupan sehari-hari. Indra sendiri menulisnya dengan cukup santai namun cerdik dalam menyikapi kejadian sehari-hari yang dialaminya. Buku ini terbagi menjadi 4 bab yang secara ringkas mengelompokkan sub-sub judul menjadi hal-hal sebagai berikut: -Bab pertama adalah mengenai gaya hidup. Dalam bab ini anda bisa tertawa menertawakan orang lain bahkan menertawai diri sendiri sekaligus sebagai perenungan. -Bab kedua berisi tentang hubungan cinta-cintaan. Di sini Indra dengan sangat cerdasnya menulis analisis-analisis sebuah hubungan dengan cukup lucu dan sangat berisi. -Bab ketiga bersi tentang Jakarta dan Indonesia terutama dari segi ironisnya. Memang kalau kita sudah membicarakan kota besar dan negara sendiri pastilah tak ada topik lain untuk dibahas kecuali ironi. -Bab keempat beriri tentang keluarga. Nah, setelah di tiga bab awal tadi kita dibawa tertawa, berromansa dan berkritis-kritisan terhadap negara, inilah bab terakhir yang menjadi pelengkap layaknya susu dalam 4 sehat 5 sempurna. Dalam bab ini, tanpa menanggalkan sajian komedinya, Indra mengajak kita untuk menata kembali moral kita terutama dalam konteks kerukunan dalam keluarga.
Keempat bab itu terjilid dalam satu buku yang layak anda baca. Inilah buku komedi dengan kisah-kisah inspiratif. Setelah membacanya, mungkin kita akan merasa sedikit kenal dengan sosok Indra Herlambang. Buku ini sedikit mengingatkanku pada "Cacing dan Kotoran Kesayangannya" (oleh Ajahn Brahm). Hanya saja buku ini lebih Pop sehingga tutur bahasanya tidak serasa begitu menggurui. Toh Indra Herlambang menyebutnya sebagai kicauan. Tinggal kita yang akan menganggap kicauan itu sebagai kicauan merdu atau justru kicauan berisik yang mengganggu tidur anda di pagi hari.
Bener-bener terkesima sama Kicau Kacau-nya Indra Herlambang. Awalnya beli buku ini berdasarkan saran temen yang suka sama Indra Herlambang; dan waktu baca juga aku pikir paling isi-nya lucu-lucuan aja. Tapi ternyata isinya bener-bener bikin bilang "WOW, amazing!" ;)
Kicau Kacau ini berisi kumpulan artikel yang ditulis oleh Indra Herlambang; berbicara tentang gaya hidup jaman sekarang, percintaan, isu negara dan kota Jakarta, dan juga tentang keluarga. Setiap isu yang dibahas dalam artikel-artikel tersebut memiliki cara pandang yang luar biasa. Sebetulnya kalau menurutku, isi artikelnya lumayan berat. Tetapi karena dibungkus oleh gaya menulis Indra yang humoris dan kocak, membacanya menjadi hal yang menyenangkan, dan opini-opini yang ditulisnya dapat dicerna dengan baik. Menurutku secara pribadi, banyak sekali opini yang saya setujui dalam buku ini.
Salah satu artikel yang paling menginspirasi saya adalah artikel "Mengulik Miyabi". Artikel ini mengajarkan bahwa kita tidak harus berhenti menghakimi orang lain, terlebih apabila kita tidak tahu apa-apa tentang orang tersebut. Ada pula artikel yang cukup mengharukan, yang menceritakan tentang keluarga. Banyak sekali poin moral yang bisa diambil dari artikel yang ditulis oleh Indra, yang membuat saya mengangguk kagum dengan setiap ceritanya.
Overall, buku yang luar biasa sekali! Bisa mengajarkan banyak hal dan menghibur pada saat yang bersamaan. Saya sangat setuju dengan jawaban Djenar Maesa Ayu terhadap pertanyaan di belakang buku:
Mari berandai-andai. Jika Indra Herlambang adalah seekor burung, termasuk jenis burung apakah dia?Burung Cucakrowo. Kalau udah berkicau nggak bisa berhenti. Untung suaranya bagus. Indra seperti itu. Cerewet. Tapi yang diomongin tetep ada isinya. Jadi selalu enak untuk didengar. - Djenar Maesa Ayu
5 stars! 2 thumbs up! ;) Semoga Indra nerbitin buku lagi :D
Masih dari buku pinjeman. Sebelum mulai baca, gw ga tau ini apakah isinya fiksi atau bukan. Ternyata, tulisan2 Indra di dalamnya adalah kumpulan tulisan dia yang dimuat di majalah2. Diceritain di bagian kata pengantar, kalo awalnya dia ditawarin untuk nulis artikel di majalah, hingga kemudian punya rubrik tetap. Nah, tulisan2 ini sebagian besar dari rubriknya itu, mulai dari tahun 2007 sampai 2010. Kebanyakan dari Free Magazine (gw ga pernah baca sih). Bisa dipahami kalo hal2 yg dibahas di rubrik itu random, terserah si Indra mau nulis apa. Semacam kita kalo mau nulis postingan di blog. Ada yg ngebahas tentang perilaku orang2 jaman sekarang dengan teknologi dan sosial media, ada juga yg sedikit bahas politik, trus keluarga, dsb. Dari kumpulan tema itu, kemudian dikelompokkan menjadi beberapa bagian yg bertema sama, kemudian dibukukan. Kira2 seperti itu ya asal-usul buku ini.
Gw suka dengan gaya nulisnya, dia ga memilih untuk menghakimi sesuatu, melainkan mengajak kita untuk memikirkan lagi hal itu dari berbagai hal. Dan yg lebih penting lagi, tulisan2nya terasa jujur dan bahasanya cukup cerdas dan ga norak.
Banyak pembahasannya yg bagus, tapi gw lagi males nyatet. Oiya, ada satu deh, yg di akhir2, tentang teman. Suatu hal yg juga gw rasakan, bahwa semakin lama kita akan mendapati bahwa jumlah teman yg kita miliki akan semakin berkurang. Satu demi satu berlalu, menghilang. Dan ini mungkin hal yang ga bisa dihindari.
"Alam seperti menyeleksi teman yang kita punya. Tempat dan kegiatan serta ruang lingkup kehidupan menjadi kunci penentu yang akhirnya memutuskan mana teman yang tetap tinggal, mana teman yang akan menghilang."
"Seberapa sempit sepatu ini ? Lumayanlah. Kelingking sama jempol sampe pelukan." Demikian petikan yang mengawali curahan hati Indra Herlambang tentang Nyeker dan kemudian mengalirlah cerita Indra tentang budaya alas kaki eyangnya versus telapak kaki bapak. Membaca penggalan kisah nyata Indra tentang Nyeker membuat saya tersenyum simpul, mengingat bagaimana ibu saya membesarkan saya dalam hal urusan alas kaki serta bagaimana akhirnya beliau memiliki menantu yang mirip dengan kejadian yang dialami oleh Indra Herlambang. Atau cerita lainnya tentang 'underwear' bagaimana paham 'underwear' yang patut dikenakan ketika keluar rumah, saya seperti melihat 'diri' saya disana. Memang hanya cerita yang sederhana namun pemikiran itu terasa jujur dan tidak dibuat-buat. Kejujuran itu terasa ketika Indra bercerita tentang suasana Mei 1998, ketika ia masih menjadi mahasiswa, bagaimana ia begitu bersemangat untuk berdemonstrasi bersama para mahasiswa lainnya demi kehidupan yang lebih baik; namun ketika sepuluh tahun kemudian ia membaca berita tentang demonstrasi 100 hari kepemimpinan SBY reaksinya begitu berbeda, 'pasti bakal macet banget nih. Padahal banyak kerjaan yang harus dikelarin. Ribeeeet.' demikian tulisnya. Kejujuran yang benar-benar tulus. Buku curahan hati Indra Herlambang patut untuk dimiliki dan dibaca serta direnungkan. Tentu saja harus disertai dengan kejujuran dan kemampuan menertawakan diri kita betapapun kecutnya.
Pertama kali membaca tulisan Indra herlambang (iya, Indra yg host insert infotainment itu :D), dan langsung suka. Menggelitik, nyentil, ngepop, menyindir, sarcasm, ooohh... Nano nano! :D
Curahan2 pikirannya yg (katanya) galau, beberapa emang membuat miris, dan kalau direnungkan ternyata ada benarnya juga.
Aku paling suka dengan artikel "nyeker". Ini bbrp kalimat yg benar2 mengena menurutku...
Bukankah alas kaki memang sering dipandang sebagai perwakilan jujur dari status sosial seseorang? Lalu Indra bercerita bagaimana perbedaan eyang dan bapaknya mengenai alas kaki ini. Sang eyang yang priyayi dan menempatkan kerapian dan tata krama di urutan no 1, termasuk alas kaki. Sang bapak yang melihat alas kaki sebagai penghalang koneksi langsung dengan alam, sehingga sesekali perlu untuk "nyeker" setiap sore di halaman atau kebun.
Bayangkan Saja, jika kita sempat melepas alas kaki dan memilih untuk sebenar-benarnya menginjak-injak bumi, berarti kita sedang terlepas dari banyak tuntutan dan aturan. Berarti kita tidak sedang bekerja atau mengejar deadline, iya kan? :) Biasanya kita harus beralas kaki rapi karena tuntutan pekerjaan atau pergaulan.
Ya, dan aku teringat.. Aku hanya melepas alas kakiku ketika berada di pantai, atau di pinggiran kolam renang :D
Love it Mas Indra, teruslah menulis ^^ I gave 4 stars! ⭐⭐⭐⭐
Aku menemukan buku ini di diskonan Gramedia Plaza Semanggi seharga 10k. Memang sih agak kucel sedikit, namanya juga buku yang segel plastiknya sudah hilang sejak entah kapan, dan kemungkinan sudah banyak tangan menjamah, tepatnya tangan orang-orang yang sempat nyolong baca buku ini di toko buku atau mereka yang mengacak-acak tumpukan buku diskonan.
Sebagai orang yang kadang-kadang suka nyolong baca juga di Gramedia (tapi bukan orang yang pertama membuka segel plastiknya, lho, sumpah!), tentunya aku nggak usah banyak proteslah dengan kondisi buku. Sudah untung dapat buku dengan harga banting :P
Anyway, esai-esai Indra di sini masih relevan meskipun sudah lewat bertahun-tahun sejak pertama kali terbit di majalah. Dari semua topik yang dibahas, ada pendapat Indra yang cocok dengan pendapatku, ada juga yang kurang cocok. Tapi sebagian besar cocok sih, jadi buku ini sangat menyenangkan untuk menemani perjalananku keliling Jawa dalam dua hari.
Sayangnya, masih ada banyak typo yang bertebaran, yang tidak bisa kutuliskan semuanya di sini. Bahkan seringkali kalau ada kata yang berlanjut ke baris berikutnya, malah tidak ada tanda sambungnya, seolah dua patah kata yang terpisah dan berbeda. Walaupun tidak mengubah esensinya, tetap saja mempengaruhi kenyamanan bacaku. Dan pada akhirnya, mempengaruhi rating yang kuberikan.
pada bagian-bagian awal, saya sempat merasa ada yang aneh dengan tulisan-tulisan Indra Herlambang. di beberapa tulisan, saya merasa Indra bingung untuk menentukan ending dari tulisan-tulisan tersebut. bingung bagaimana mengakhirinya.
ketika saya membaca semakin jauh, toh saya mengabaikannya. saya menganggap mungkin memang gaya penulisan Indra Herlambang seperti ini. sedikit mengingatkan kepada gaya menulis saya sendiri (dih, emang gue punya gaya menulis?).
so far, it's... very good! membahas isu-isu masa kini yang belom ada jalan keluarnya, mengajak kita memandang rumput sendiri sebelum memandang rumput tetangga, melihat berbagai masalah tidak hanya dari satu sisi saja, it's great. some lines are funny but not that Raditya Dika-funny-style. dan saya merasa cocok-cocok saja dengan formula humor di dalam buku ini.
kurang satu bagian lagi nih, mudah-mudahan tidak berakhir dengan kekecewaan :D
UPDATE: memang tidak berakhir dengan kekecewaan! saya suka buku ini! yang saya sayangkan cuma taglinenya. kenapa harus "Curahan Hati Penulis Galau"? saya memang agak sensitif dengan kata "galau" yang bagi saya terlalu abege-ish. this book is recommended for abege tho, buat pembelajaran. heck, yang belajar ga cuma abege kan? yang dewasa juga. I just... don't like the tagline.