Jump to ratings and reviews
Rate this book

Berkelana dalam Rimba

Rate this book

186 pages, Paperback

First published January 1, 1980

Loading...
Loading...

About the author

Mochtar Lubis

84 books214 followers
Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan, Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers, Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Hadiah Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia, Hadiah dari Departemen P dan K tahun 1975 bagi novelnya "Harimau! Harimau!", dan Hadiah sastra dari Yayasan Jaya Raya untuk buku terbaik tahun 1977-1978, tanggal 15 Desember 1979, untuk romannya "Maut dan Cinta".

Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: "Senja di Jakarta", "Jalan Tak Ada Ujung" (terbit dalam berbagai bahasa), dan "Etika Pegawai Negeri" (ed.bersama James Scott). Selain itu ada juga buku-buku tentang liputan dan pers, bacaan anak-anak, dan dua ceramah yang diterbitkan sebagai buku, yaitu "Manusia Indonesia" dan "Bangsa Indonesia". Semasa hidupnya beliau menjadi Anggota banyak lembaga penting, seperti Pimpinan Umum majalah Horison, Editor majalah Media (yang diterbitkan di Hongkong oleh Press Foundation of Asia); anggota Board of the International Association for Cultural Freedom, dan anggota Board of the International Press Institute (Zurich).

Beliau juga banyak mencurahkan perhatiannya pada masalah lingkungan hidup dan masalah-masalah ekologi. Mengalami tahanan penjara selama 9 tahun (1956-1965) dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno; dan pada tahun 1974 mengalami dua bulan tahanan setelah terjadinya peristiwa "Malari" bersamaan waktunya dengan pembreidelan Indonesia Raya. Beliau juga pernah menjadi Direktur Yayasaan Obor Indonesia.

Bibliography:
* Tidak Ada Esok (novel, 1951)
* Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (1950)
* Teknik Mengarang (1951)
* Teknik Menulis Skenario Film (1952)
* Harta Karun (cerita anak, 1964)
* Tanah Gersang (novel, 1966)
* Senja di Jakarta (novel, 1970)
* Judar Bersaudara (children story, 1971)
* Penyamun dalam Rimba (children story, 1972)
* Manusia Indonesia (1977)
* Berkelana dalam Rimba (children story, 1980)
* Kuli Kontrak (1982)
* Bromocorah (1983)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
47 (40%)
4 stars
29 (24%)
3 stars
30 (25%)
2 stars
8 (6%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 25 books198 followers
November 13, 2013
Jauh sebelum saya mengenal Lima Sekawan dan Trio Detektif atau petualangan ala Indiana Jones, bahkan Harry Potter; buku klasik karangan sastrawan kenamaan negeri ini sudah membuat saya jatuh hati. Pertama kali dibaca saat SD (atau SMP saya lupa), Berkelana Dalam Rimba memadukan antara unsur petualangan, pelajaran moral, tanggung jawab, dan isu-isu lingkungan. Kisah anak-anak remaja bersama seorang dewasa (Paman Raokhtam) yang melakukan perjalanan menembus Rimba Gunung Hitam di Bukit Barisan yang menjulang rapat di tengah pulau Sumatra ini begitu memukau. Sungguh merupakan impian para petualang untuk bisa menembus hutan primer Sumatra yang masih asli dan bertabir misteri seraya belajar tentang flora dan fauna endemic yang melimpah di dalamnya. Dan, buku ini menjadi buku yang sangat tepat untuk mulai memunculkan kegemaran berpetualang di alam bebas dan juga untuk mengenalkan anak pada isu-isu kelestarian lingkungan.

Begitu membuka halaman-halaman pertama, aroma misteri sudah menyambut pembaca. Dan, apa lagi yang bisa menarik pembaca untuk masuk ke dalam cerita selain misteri?

"Sebaiknya Bapak dan anak-anak muda ini juga janganlah ke sana. Kau mau ke hutan, pergilah ke hutan yang lainnya. Orang di sini tidak ada yang berani ke rimba Gunung Hitam. Itu rimba sakti. Dahulu banyak anak-anak kampung yang pergi ke hutan, hilang tak pernah pulang lagi." (hlm 2)

Mochtar Lubis menulis novel ini berdarsarkan pembacaannya pada buku Kepulauan Nusantara (The Malay Archipelago) karya Alfred R. Wallace, lengkap dengan ilustrasi dan gambar-gambar flora serta fauna khas Sumatra. Dalam pengantarnya, kisah ini sendiri terinspirasi oleh kegiatan menembus rimba yang dulu sering dilakukannya bersama gurunya Bapal S.M Latif dan teman-temannya untuk mencari anggrek demi melenkapi koleksi anggrek sekolah. Dalam perjalanan itulah mereka menemukan harta karun kehidupan yang luar biasa.
Mulai dari harimau Sumatra, tapir, hingga anggrek bulan yang langka itu. Mereka juga bertemu dengan kantong semar serta bungai bangkai yang hampir mereka kira sebagai mayat manusia. Rupanya, bau busuk dari bunga bangkai inilah salah satu yang memunculkan pesona mistis di Rimba Gunung Hitam.

"Sambil menutup hidung, anak-anak muda tak puasnya menatap bunga bangkai. Warnanya putih tak bersih, bercampur kuning dan ungu, dan disebelah bawah gagang terdapat ribuan bunga betina mengelilingi kaki bunga. Daunnya hanya sehelai yang adalah pula daun yang terbesar di dunia, dapat mencapai sepuluh meter persegi." (hlm 84)


Pesona flora dan fauna hutan dipaparkan begitu lengkap dan dengan narasi yang menawan, membuat pembaca seolah bisa membayangkan dirinya tengah berada di tengah hutan Sumatra, di antara rapatnya Bukit Barisan yang kala itu masih sangat terisolir. Ini masih ditambah dengan aneka ilustrasi tentang satwa dan flora Sumatra seperti bermacam anggrek, macan kumbang, jenis-jenis burung, dan tentu saja, bunga terbesar di dunia Rafllesia Arnoldii.


Ditulis pada tahun 1980-an, jelas buku ini bisa dibilang “jadul” dan beraroma 80-an banget. Tapi, dari situlah nostalgia itu merebak muncul. Petualangan yang disajikan tidak sekadar petualangan mengurai misteri dan menaklukkan penjahat. Lebih dari itu, penulis juga mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat jenis-jenis flora dan fauna yang hamper punah, lengkap dengan tata cara dan kebiasaan hidup mahkluk-mahkluk tersebut di alam liar. Isinya lengkap memaparkan segala keindahan sekaligus kerentanan para penghuni hutan Sumatra. Narasinya pun sangat elok, menggurui namun pembaca tidak merasa tergurui—bahkan malah mungkin meminta lagi. Saya sendiri dengan tegas menyatakan bahwa kekurangan buku ini adalah halamannya yang kurang tebal.


Membaca buku ini di abad 21 mungkin ketinggalan zaman, bukan hanya karena narasi penceritaannya yang jadul, tapi mungkin hutan liar Sumatra yang digambarkan dalam buku ini mungkin sudah berganti menjadi perkebunan kepala sawit. Sungguh miris. Pun seandainya itu terjadi, Berkelana Dalam Rimba bisa menjadi semacam dokumentasi tertulis dari hutan perawan Sumatra bagi anak-cucu kelak, yang mungkin tidak berkesempatan lagi menyaksikan hutan tropis Sumatra yang beragam dan kaya raya, yang di masa depan tergantikan oleh sabuk kelapa sawit yang mendominasi Bukit Barisan. Buku ini telah membuat saya mencintai alam dan bertekad untuk terus merawatnya. Semoga para pembaca yang lain pun demikian adanya setelah membaca buku luar biasa ini.
Profile Image for Ayn.
8 reviews
February 13, 2022
Ini kisah kumpulan remaja dan Paman Rokhtam (semoga ga salah tulis namanya, hehe) yang berpetualang dalam Rimba Gunung Hitam di Bukit Barisan. Buku ini menyinggung keadaan alam dan hewan-hewan yang ada di belantara hutan Indonesia.

Buku ini manis banget, ngebayangin gimana serunya mereka berpetualang dalam hutan ketemu satwa liar kaya harimau sumatera, harimau dahan, beruang, badak bercula satu, dan masih banyak lagi. Serta hutan yang masih bisa dibilang asri (walaupun saat itu Paman Rokhtam bilang kalo hutan itu sudah mulai rusak), sekarang jadi mikir, "kayanya Paman Rokhtam bakal nangis kejer kalo liat kondisi alam Indonesia sekarang"

Buku ini juga semakin menyadarkan aku buat lebih peduli sama lingkungan sekitar, karena sebenarnya manusia dengan alam harus hidup berdampingan dan saling membutuhkan satu sama lain
Profile Image for Dyah.
Author 2 books7 followers
July 26, 2007
Buku ini bercerita tentang perjalanan serombongan sahabat dengan paman[? lupa namanya] berkelana di hutan Sumatera, cerita tentang alam, hutan rimba, dan aneka ragam makhluk hidup di dalamnya.

How can a book about jungle be interesting? Coba aja baca. Cerita tentang macan kumbang masuk desa. Beruang masuk rumah orang Belanda. Cerita rakyat seputar salah satu spesies anggrek. Bagaimana membedakan jejak harimau dan beruang. Cerita suasana hutan di malam hari dengan berbagai suaranya.

Tentu saja karena ini novel fiksi, isinya tidak melulu tentang hutan. Obrolan para remaja yang berkemping, candaan-candaannya, cinta, bahkan petualangan ketika mereka bertemu komplotan penyelundup binatang langka.

Pokoknya, menarik deh. You won't know until you read it.
1 review
April 17, 2019
PAman rohtam, rais, ayang, adnan, aisa, pony, dan pentil. Cerita khas jadul. Tapi indah. Jadi ingat dulu membaca ini ketika masih SD. BUkunya lumayan tebal kalau dulu. Tapi buku ini seperti memanggil2 untuk dibaca kembali .
Profile Image for ukuklele.
470 reviews21 followers
August 15, 2024
Buku ini sejenis dengan Menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya MTNUK) dan Badak Terakhir (selanjutnya BT), yaitu buku pengetahuan yang disampaikan dalam gaya fiksi dengan tokoh-tokoh dan sesekali peristiwa. Buku ini berlatar di Sumatra, MTNUK di Jawa, dan BT di Kalimantan. Ketiga buku ini juga sama-sama mengangkat soal badak. Tapi, kalau di MTNUK dan BT badak jadi bintang utama, di buku ini sambil lalu saja diungkit di halaman 95 dan 135.

Buku ini lebih mirip dengan MTNUK, mulai dari komposisi tokoh sampai alur cerita. Dalam kedua buku tersebut sama-sama ada pria yang yang memandu sekelompok remaja menjelajahi hutan rimba. Dalam buku ini pemandunya adalah Paman Rochtam, ahli pertanian lulusan IPB, membawa 4 remaja putra dan 2 remaja putri, sedang dalam MTNUK ada Kang Bach dengan 2 remaja putra dan 2 remaja putri. Alurnya sama-sama berujung pada pertemuan dengan penyamun. Dalam buku ini penyamun berbagai satwa dilindungi, sedang dalam MTNUK telur penyu.

Melihat tahun cetakan pertama, buku ini terbit lebih dulu (1980) daripada MTNUK (1985). Saya duga pengarang MTNUK telah membaca buku ini lalu membuat versi di Taman Nasional Ujung Kulon secara lebih padat, rapi, dan efisien, bukan hanya dari segi penokohan dan plot, melainkan juga penyajian informasi. Melihat catatan pembacaan saya untuk MTNUK, tampak bahwa saya bisa dengan lebih mudah menangkap poin-poin informasi yang disampaikan. Sedangkan dalam membaca buku ini, poin-poin tersebut berkesan random sehingga setelah beberapa lama saya biarkan pembacaan mengalir saja tanpa sambil mencatat ini-itu kecuali yang betul-betul menarik/memantik. Namun, baru ketika membaca buku ini, timbul kesan bahwa 4 bab yang pertama itu seperti "teori" untuk membangun kepedulian terhadap alam, sedang bab terakhir adalah "ujian praktik" untuk membuktikan kepedulian itu, walaupun yang benar-benar beraksi hanya Paman, Adnan, dan Rais yang berkejar-kejaran dengan para perampok, lari dari tembakan dan golok.

Buku ini sarat dengan pesan untuk menjaga hutan, tapi dengan cara bagaimana? Ini juga yang saya kritisi dari konten-konten lingkungan hidup dan kehutanan yang ada di mana saja. Tampak tak ada yang berani radikal menyarankan untuk memboikot produk-produk yang dihasilkan dari membabat hutan secara besar-besaran, yang jadi tambang dan perkebunan kelapa sawit, yang sampai kepada kita dalam bentuk barang-barang elektronik berikut penyedot listriknya, gorengan, margarin, sabun, dan seterusnya. Jangankan mereka, saya sendiri belum berani :v Ya kali kudu hidup ala suku Baduy dalam atau kaum Amish? Satwa yang mau dilepasliarkan saja perlu direhabilitasi dulu supaya dapat bertahan di alam, apalagi manusia dengan segala akal, syubhat dan syahwatnya. Saya rasa ini yang dinamakan dengan "disonansi kognitif", yaitu ketidaksesuaian antara pengetahuan dan perilaku. Kita tahu harus menjaga hutan sebab begini dan begitu, tapi gaya hidup kita sehari-hari secara tidak langsung masih mendukung pembukaan hutan habis-habisan. Dalam kepala kita merasa peduli, dalam laku lain lagi.

Maka jika pesan dalam buku ini yaitu menyelamatkan hutan dan jangan membiarkannya hancur ditebangi diterapkan secara radikal, orang akan ketinggalan zaman. Kemajuan hidupnya akan terhambat, sebab untuk dapat "maju" menurut standar masyarakat kiwari, ia harus menggunakan produk-produk hasil pembabatan hutan. Memang dari mana lahannya untuk membangun perumahan, mencari bahan baku listrik, logam-logam untuk HP, mobil, motor, dan sebagainya? Memang ada tata kelola hutan, yang mengkaji dan membagi sehingga ada area-area yang boleh dibuka untuk kepentingan pembangunan manusia. Setelah lahan yang dibuka itu tidak digunakan lagi, dapat dihutankan kembali. Tapi, sejatinya manusia punya sifat rakus dan akalnya dapat mengarang pembenaran-pembenaran untuk melanggengkan kerakusan itu. Sudah biasa nafsu mengungguli kendali. Laju kerusakan berlangsung lebih cepat daripada perbaikan.

"Ya, kalau orang Indonesia sendiri yag punya pengertian lebih suka tinggal di kota besar, dan enggan bekerja di rimba, siapa yang akan menjaga?" (halaman 136)


Bagaimanapun, buku ini membangkitkan gairah saya untuk terus mempelajari tentang lingkungan hidup dan kehutanan. Sebagai orang kota, saya mungkin lebih dekat dengan isu lingkungan hidup khususnya persampahan. Tapi sebetulnya sini dan sana berkaitan, sebab taraf konsumsi orang kota berdampak pada laju pembukaan hutan. Belakangan saya juga jadi lebih banyak menonton video tentang hewan, walaupun baru yang pendek-pendek saja, terutama hewan-hewan cerdas atau lucu, yang perilakunya menyerupai manusia, apalagi kalau ada "cerita"-nya terlepas dari betulan atau rekayasa. Ironis, betapa saya belajar mengapresiasi alam melalui perangkat yang untuk membuatnya mesti dengan membabat alam :v

Selama membaca, timbul juga berbagai pikiran radikal, persisnya menyangkut-pautkan isu lingkungan hidup dan bertahan hidup di alam dengan hukum agama (Islam), misal, manakah yang lebih penting antara "jangan berbuat kerusakan di muka bumi" dan "nikahkanlah yang lajang di antara kamu", sementara setelah menikah dan beranak, anaknya lalu dipakaikan popok pabrikan yang sulit terurai sebab tidak punya waktu/tenaga atau malas saja mencuci popok kain, dan setelah anaknya besar kemudian diberikan kendaraan bermotor yang bisa dilacak sendiri bagaimana proses produksi, distribusi, sampai buangannya yang menghasilkan emisi, belum lagi tiap keluarga inti sebaiknya memiliki rumah sendiri-sendiri untuk menghindari kasus semacam "ipar adalah maut" atau peperangan dengan mertua, dan apakah hukum rajam seandainya diterapkan sesungguhnya merupakan program pengendalian populasi dari Tuhan?, sehingga selain mengurangi populasi pendosa juga menimbulkan efek jera yang mencegah lahirnya bayi-bayi di luar pernikahan, dan apakah sebaik-baiknya perempuan adalah yang di rumah juga ada hubungannya dengan konservasi lingkungan sebab makin sering keluar rumah akan makin memerlukan variasi pakaian, riasan, kendaraan, yang dalam prosesnya dari hulu ke hilir sesungguhnya menghasilkan limbah dan polusi? dan, bagaimanakah untuk stay halal kala survival di tengah rimba sedang yang tersedia hanya babi, ular, dan ulat-ulat yang menjijikkan?

"Jika kita pandai membacanya, rimba belantara terbuka bagi kita seperti sebuah buku. Dari jejak, tetesan air, tanah, pohon dan tanaman, bunyi, orang yang pandai membaca akan tahu apa yang ada dan terjadi dalam rimba." (halaman 39)


Belajar mengenai bagaimana alam memberikan sumber penghidupan yang dapat dimanfaatkan secara langsung (tentunya memerlukan keterampilan untuk mengolahnya terlebih dahulu), saya merasa termiskinkan. Sebab, sebagai anak yang dibesarkan di kota, saya seperti didoktrin bahwa cara untuk hidup hanya dengan mencari uang, entah dengan bekerja kantoran atau berjualan. Padahal uang hanya perantara, alat transaksi. Jika punya uang, tapi di pasar tidak ada apa-apa sebab sudah tidak bersisa alam yang menyediakan bahan pangan, sandang, papan, atau saking terbatasnya sehingga harga menjadi terlalu mahal sedang begitu payah mencari uang sepeser pun, tetap saja tidak bisa hidup. Tapi, sebagai anak kota, saya memiliki akses terhadap wawasan yang seluas-luasnya, termasuk tentang kehidupan di pedalaman. Sedangkan orang yang di pedalaman mungkin tahu cara hidup di hutan, tapi bila hutannya dibabat dan mereka tergusur ke luar, mereka mungkin tak memiliki wawasan mengenai cara hidup lain sehingga termiskinkan juga, bahkan sampai terdesak untuk mencuri atau berbuat lainnya yang melanggar hukum. Dari sini, maka diperlukan keseimbangan. Terus meluaskan wawasan, sembari mempelajari keterampilan-keterampilan yang berhubungan langsung dengan alam sehingga dengan sendirinya perlu menjaga kelestariannya. Karena dibabatnya hutan adalah untuk menyuplai gaya hidup orang kota, maka untuk mengurangi kebergantungan terhadap produk eksploitasi hutan, orang kota perlu belajar berswadaya dengan sumber daya yang tersedia, di antaranya dengan mengolah sampahnya sendiri agar kembali bermanfaat. Think globally, act locally. Gaya hidup minimalis dan zero waste layak diupayakan. Semangat belajar ini harus dinyalakan selama masih dikasih hidup di dunia, betapapun tambah tua usiamu tapi lawan kebebalan. Sebab, membaca dan memelihara alam termasuk perintah nyata dalam kitab suci.

Memang tidak ada adegan salat, tapi berkali-kali disebutkan nama Allah, diingatkan bahwa alam dan margasatwa sama-sama makhluk Allah. Hal lain yang saya sorot dari buku ini adalah interaksi para remaja yang dibawa Paman Rokhtam. Lazimnya pergaulan anak remaja, mereka suka mengganggu satu sama lain entahkah secara verbal atau fisik. Yang mengagumkan adalah para remaja itu tidak begitu sensitif, malah bisa "menakol" balik secara positif. Memang edukasi akhlak itu penting, cuma tetap perlu dimafhumi bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan kelakuan manusia sehingga penting juga untuk berjiwa besar dalam menanggapinya. Contohnya seperti ini (konteksnya sedang diterangkan mengenai tanaman kantong pemakan serangga).

"Kalau cukup besar dan manusia jatuh ke dalam kantong serupa ini, bisa juga habis dimakannya," kata Adnan.

"Wah, mari kita masukkan Pentil!" seru Poni.

Mereka tertawa, dan Pentil ikut tertawa.

"Belum dia sempat makan saya, saya lalap duluan dia dengan sambal," balas Pentil dengan gagah.
(halaman 37)


Pentil yang bertubuh kecil kerap jadi bulan-bulanan kawanannya, tapi dia tidak lantas menanggapinya dengan baper, cemberut, merajuk, dan semacamnya. Sebelumnya, Pentil juga menjahili Ayang sampai hampir celaka, tetapi gadis itu dapat membalasnya dengan tendangan. Demikian ini buku fiksi pengetahuan yang holistis, mencakup hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam sekaligus.
29 reviews
June 20, 2017
Saya mendapatkan banyak pengetahuan tentang kehidupan biotik, khususnya yang berada di hutan. Beberapa spesies dijelaskan secara detail. Ada pula spesies unik, misalnya hewan yang mengeluarkan suara yang sangat keras di malam hari, seperti suara jeritan anak kecil. Atau bunga bangkai yang besar, berwarna putih kotor, dan mengeluarkan bau busuk seperti bangkai. Lebih menarik lagi, buku ini juga dilengkapi beberapa sketsa binatang atau tumbuhan.

Terdapat pula pelajaran survival di dalam hutan: menyiapkan perbekalan, membagi tugas, memilih lokasi untuk berkemah, mendirikan tenda (bivak), mengumpulkan buah dan daun yang bisa dimakan, dan lain-lain.

Pada konflik cerita, Rombongan Paman Rokhtam memergoki para pemburu ilegal yang memburu beberapa binatang dan menempatkannya di dalam kerangkeng. Mereka berusaha melepaskan hewan-hewan itu meski dengan mempertaruhkan nyawa. Di sinilah sikap mencintai alam diamanatkan oleh penulisnya.

Saya menulis review yang lebih lengkap di: http://www.sukrisnosantoso.com/2015/1...
Profile Image for reyn.
58 reviews1 follower
January 8, 2019
Tertarik membaca buku ini setelah melihat ilustrasi di dalamnya.
Saya sendiri seorang rimbawan yang sudah pernah masuk ke belantara Sumateta mencari margasatwa. Memang di sana banyak sekali hal menarik yang dapat kita lihat, sayangnya saya tidak seberuntung rombongan Paman Rokhtam yang bertemu banyak sekali mamalia besar.
Mochtar Lubis benar-benar menyelami banyak pustaka untuk menjelaskan hidupan liar di hutan tropis. Sangat menarik buat pembaca muda.
Kurasa jika saya membaca buku ini saat masih remaja, saya akan terus-terusan merengek ke ibu dan bapak untuk diizinkan menjelajah rimba.
4 reviews
October 11, 2018
Petualang Paman Rockhtam dengan enam anak muda desa Air Jernih yang diajaknya untuk masuk ke hutan rimba Gunung Hitam di pegunungan Bukit Barisan. Di dalamnya terdapat sketsa yang membantu pembaca untuk membayangkan apa yang ingin digambarkan oleh penulis. Penjelasan yang mendetail tentang makhluk hidup di dalamnya memberikan nasehat untuk kita sebagai manusia bisa menjaga keseimbangan ekosistem.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,389 reviews45 followers
October 3, 2017
Kalau saya baca buku ini saat SD, mungkin bisa saya kasih bintang 4 atau 5, karena isinya sangat penuh petualangan di hutan.

Tapi kenapa buku ini memerlukan waktu lama bagi saya utk menyelesaikannya? Terlalu banyak info ttg isi hutan, jadi bosan, hehee...
1 review
Want to Read
February 7, 2020
Dulu waktu SD pernah baca buku ini. Dipinjam kakak dari perpustakaan SMPnya. Pengetahuan alam rimbanya bagus, juga menanamkan moral mencintai alam. Gara-gara baca buku ini dulunya obsesi sekali ingin menjelajah hutan. Sekarang susah dijumpai. Kalau ada mau beli 😁
1 review
December 13, 2019
I want to read this book again, so bad. My firstbook ever😍😍😍😍, firsttime i felt in love with a book
Profile Image for Autresa KN.
34 reviews
February 11, 2024
A novel that makes you love the forest even more; a classic work from Indonesia that deserves to be read, preserved, and shared with our children.
Profile Image for Aryani Yoe.
37 reviews3 followers
July 15, 2015
Pertama nemu buku ini dari adek yg membongkar bongkar tumpukan buku-buku bekas punya ibu saya (entah punya ibu atau bapak hehe) bersama dengan buku bapak HAMKA. Saat itu saya masih kelas 3 SMP, dari cover bukunya yang cukup lusuh saya kira itu buku pelajaran, ternyata buku cerita. Begitu saya baca buku milik Mochtar Lubis itu, saya dibawa langsung ke hutan di Bukit Barisan. Dari gaya menulisnya, tidak terlalu banyak dialog yang dipaparkan, tetapi lebih banyak deskripsi, penggambaran tentang lokasi-lokasi yang mereka kinjungi. Banyak juga cerita-cerita tentang flora fauna yang ditemui selama perjalanan. Bahkan ditemukan cerita tentang mitos mahkluk pendek penghuni hutan Bukit Barisan.

Penggambaran setting tempat dan waktunya sangat mudah untuk dibayangkan, contohnya saat berkemah di hutan, bertemu hewan buas, sampai mengenali jejak hewan hewan tersebut. Seringkali saat membaca buku itu, saya membayangkan bagaimana rasanya berkemah dan berpetualang di dalam hutan Bukit Barisan yang terkenal sangat lebat, dan penuh dengan cerita-cerita yang membuat bulu kuduk merinding.

Gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, membuat buku ini direkomendasikan pada teman-teman yang senang membaca. Sebaiknya remaja yang suka membaca novel-novel modern, sesekali membaca buku-buku semacam ini dengan gaya bahasa yang tidak terlalu berlebihan, kalimat-kalimat yang singkat namun penuh dengan makna.
Profile Image for Nurul.
112 reviews28 followers
July 13, 2009
Pada suatu waktu, saya harus melalui jalur transek yg konon cuma babi yang mau lewat di situ. Celah yg sempit di antara bebatuan besar, licin, serta ceruk sungai menanti pantat2 yang siap jatuh. Tapi kalo gak dateng ke tempat ini, saya tak bakal melihat kawanan ayam hutan - seekor jantan dan 7 ekor betina yang menuruni bukit. Si jantan turun duluan dan berhenti di kaki bukit, mempersilahkan betina2 nya turun satu persatu. Di lain tempat, saya musti bangun dan mulai jalan di gelapnya hutan sebelum subuh datang. Hanya untuk mendahului para burung bangun dari peraduannya. Tapi saya masih dapat hadiah, berpandang2an dengan si anoa.

Mochtar Lubis melukiskannya dalam bentuk cerita. Banyak bersumber dari the Malay archipelagonya Wallace, ia membuka 'isi' hutan Sumatra.

Buku ini pernah baca lewat google tapi cuma sebagian. Jadi tanpa pikir panjang, terus beli waktu liat di PBJ. Hehe... isinya 80-an bgt, jamannya majalah Suara Alam masih ada dan Yayasan Indonesia Hijau masih berkiprah. Suka banget sama ilustrasinya. Gak ada keterangan lbh lanjut, jadi saya pikir Mochtar Lubis sendiri yg menggambar.





Profile Image for Zulaeha Achmad.
61 reviews5 followers
March 8, 2021
Buku ini adalah salah satu buku favorit saya saat masih SMP. Saya jatuh cinta dengan Hutan, Ayang dan seluruh tokoh yang ada di dalamnya. Susunan kata dan detailnya membuat saya bisa memproyeksikan dengan sangat jelas masing-masing karakter dan bagaimana cerita berjalan. Buku ini banyak menyimpan kenangan indah masa-masa SMP saya. ❤️❤️❤️

10/10. Apakah sekarang masih ada yang menjual versi cetaknya yang bersih? Saya berniat memasukkannya dalam koleksi pribadi di rumah, selama ini saya cuma bisa membacanya di perpustakaan daerah.
Profile Image for Gilang Permana.
103 reviews22 followers
June 21, 2013
Menceritakan kekaguman Mochtar Lubis akan pesona alam rimba Indonesia dan SM Lutfi gurunya yang telah memperkenalkan hutan belantara Sumatera
Profile Image for Dyah.
4 reviews
August 2, 2013
THE BEST BOOK EVER !! love this book so much <3
Profile Image for cindy.
1,981 reviews160 followers
May 23, 2015
ah... kalau saja Paman Rockhtam berkelana dalam Rimba saat ini.... pasti yang terlihat bukan harimau, pelanduk, beruk dan burung kuau, tapi hutan yang gundul gara-gara pembalakan -_-
1 review
Want to Read
December 23, 2015
Saya Sangat Suka buku ini.pertama kali tertarik untuk membaca karna buku ini Berkelana dalam Rimba.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 23 of 23 reviews