Setelah beberapa tahun mondar-mandir antara Jakarta dan Semarang, pada tahun 1985 Dini menetap di kota asalnya, pulang ke Kampung Sekayu. Di sana dia mendirikan taman bacaan yang dinamakan Pondok Baca Nh. Dini atau disingkat PB, dilayankan kepada para pra-remaja dan remaja sekitar. Berkat bantuan teman-teman dan saudara-saudaranya, usaha nirlaba tersebut berjalan lancar. Di sela-sela mengawasi anggota PB yang membaca dan mengerjakan Latihan-Latihan Bahasa, Dini meneruskan kegiatannya menulis novel dan cerita pendek.
Namun kehidupan tidak semulus yang dia harapkan. Banjir dan tanah longsor sempat nyaris mematahkan semangat hidupnya. Gangguan bencana alam tersebut memaksa Dini pindah tempat tinggal hingga 3 kali: dari Kampung Sekayu ke Griya Pandana Merdeka di Ngalian, lalu mengungsi kembali ke Sekayu, kemudian ke Perumahan Beringin Indah di Ngalian juga. Dia mampu menyandang pengalaman tersebut sebagian besar berkat bantuan Kedutaan Besar Selandia Baru dan lingkungan dekatnya, ialah saudara-saudaranya dan para anggota Rotary Club Semarang Kunthi. Dini menjadi anggota perkumpulan bergengsi itu sejak masa tinggalnya di Kampung Sekayu.
Berkat kegiatannya sebagai pengelola Pondok Baca, Dini dihubungi oleh Plan International, sebuah organisasi yang mengatur perkenalan antara pasangan suami-istri di seluruh dunia dan dan anak asuh di negara-negara yang sedang berkembang. Plan International di Kupang Timur menawarkan kerja sama kepada Dini.
Semua tampak nyaman, segalanya terasa seakan-akan berlangsung damai seterusnya. Namun selalu terjadi perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia.
Menjelang tahun 1998, Dini juga terkena imbas perubahan itu. Era yang disebut Reformasi melanda diri dan lingkungannya....
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Saya pernah berkomunikasi dengan Bu Dini pada saat beliau bertempat tinggal di Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Sleman dan kemudian pindah ke Wisma Langen Werdhasih, Ungaran. Tidak pernah bertemu muka, hanya lewat sms. Pernah satu kali saya mendatangi wisma di Ungaran di tahun 2006, namun rupanya saat itu Bu Dini sedang bepergian (ke luar negeri?). Karena itu meskipun Pondok Baca Kembali ke Semarang boleh dibilang lebih "datar" dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya, namun sedikit pengetahuan saya mengenai kepribadian beliau membantu saya lebih memahami isi buku tersebut.
Buku Pondok Baca Kembali ke Semarang mengandung pengulangan, yaitu pada bagian ketika anak-anak Bu Dini mengunjungi beliau. Beliau memberikan semacam rangkuman di depan, kemudian ketika bergerak ke halaman-halaman selanjutnya, beliau memberikan deskripsi yang lebih detil. Pengulangan ini terasa kurang menarik, dan lagi penggambarannya pun hanya sekilas, kurang personal dan kurang dibubuhi "perasaan". Datar saja.
Saat menggambarkan bencana longsor di rumah Griya Pandana Merdeka, tulisan Bu Dini juga tidak setajam sebelumnya. Penggambarannya singkat dan kurang mendetil. Padahal rumah tersebut semestinya adalah rumah impian NH Dini, dengan keluasan tempat dan suasana yang tenang dan asri. Ketika itu direnggut dalam bencana alam longsor, NH menggambarkannya singkat saja, seolah-olah terburu-buru. Namun dugaan saya, itu adalah momen yang "menyakitkan" di masa tua beliau sehingga beliau memilih menuliskannya secara selektif saja, untuk tidak mendokumentasikan sebuah kejadian yang menyakitkan secara berpanjang lebar.
Topik yang diulang-ulang di buku ini adalah situasi keuangan Nh Dini yang tidak stabil. Karena memilih sebagai penulis penuh waktu, Bu Dini tidak memiliki sumber pendapatan selain dari royalti buku, sumbangan orang-orang yang peduli terhadap Pondok Baca, sokongan keuangan dari teman-teman di Rotary Club Kunthi/ teman/ keluarga, serta uang bulanan dari adik spiritualnya Johanna / Yohana (ini berkelanjutan hingga masa tua beliau sekitar tahun 2006). Untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama yang berkaitan dengan perawatan kesehatan, beliau memutuskan untuk mengkomersilkan waktunya baik untuk menulis, menghadiri seminar maupun wawancara. Topik ini sudah muncul di buku-buku sebelumnya namun semakin menguat di buku ini. Ditambah lagi, di berbagai media massa dan blog beliau kerap mengutarakan hal yang sama. Nyatalah bahwa kekuatiran akan uang dan kondisi kesehatan inilah yang menempati ruang pikir beliau di masa tuanya, melebihi romansa, petualangan ataupun keluarga.
Benar Bu Dini adalah seorang pejuang yang bersemangat menjalani hidupnya. Benar beliau adalah seorang wanita yang mandiri dan berwawasan luas. Di sisi lain beliau juga seorang wanita tua yang sudah tidak terlalu peduli soal menjaga perasaan orang lain. Beliau adalah "Mbak Puk" yang memiliki kehangatan luas bagi orang-orang yang sudah dipilihnya untuk menjadi bagian dalam kehidupannya, namun skeptis dan ketus bagi orang-orang baru yang datang hanya bermodal dengkul dan kekaguman semata.
Bersiaplah untuk kagum atau terkejut jika Anda berkesempatan berbicara dengannya.
Pondok Baca Kembali Ke Semarang berisi pengalaman dan penilaian Dini sebagai anggota perkumpulan Rotary Club Kunthi, penulis, pengurus Pondok Baca, dan seorang ibu pada pertengahan tahun ‘80an sampai ‘90an.
Sebagai penulis mapan, dia sering dimintai tolong oleh banyak pihak untuk menulis, seperti menjadi kontributor Sinar Harapan atau menulis biografi Bhante Girirakkhita. Selain itu, Dini sering diundang untuk menjadi pembicara dalam beragam seminar. Dalam buku ini, diceritakan pengalamannya saat diundang ke Australia oleh Universitas Flinders untuk mengisi acara “Konferensi Budaya Indonesia”. Dia juga pernah diundang oleh Plan International Kupang Barat, sebuah lembaga yang berafiliasi dengan UNICEF dan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, untuk berbicara tentang perpustakaannya. Walaupun merasa senang karena bisa mendatangi tempat-tempat menarik, dia merasa kurang sreg dengan kompensasi yang diberikan panitianya. Kalau diundang untuk menjadi pembicara, khususnya oleh lembaga-lembaga dalam negeri, seringkali dia hanya mendapatkan kain atau barang-barang sejenisnya. Dia justru lebih ingin diberi kompensasi berupa uang. Ditambah lagi, pada masa itu dia mesti membiayai perpustakaannya. Dengan tegas dia menyatakan bahwa dia tidak malu memasang tarif kalau jasanya sebagai penulis dibutuhkan, suatu hal yang sempat menjadi bahan gunjingan wartawan. Dia hidup dari menulis. Itulah sokongan finansial utamanya. Dibandingkannya penghargaan terhadap penulis di Indonesia dengan di Malaysia. Di sana penulis lebih dihargai karena ada semacam program santunan yang dikhususkan bagi kalangan ini. Kalau dalam pandangannya tentang penghargaan terhadap penulis cenderung ketus, tentang kajian terhadap karyanya dia seperti tersanjung. Dia merasa terpukau juga saat ada peneliti yang menilai bahwa karyanya mengandung unsur feminisme. Dia mengaku proses kreatifnya lebih didasarkan pada hati nuraninya saja.
Pada masa awal kepindahan kembali ke Semarang dia diajak oleh Hesty Utami untuk turut dalam pembentukan cabang Rotary Club, suatu lembaga hubungan internasional nirlaba yang beranggotakan orang-orang dari beragam bidang dan bergerak di bidang sosial, di Semarang. Dia urun usul nama Kunthi bagi lembaga itu dan menulis lirik lagu marsnya. Dalam lembaga itu dia dianggap sebagai yang paling bisa diandalkan untuk mewakili dalam pelbagai acara karena jam kerjanya lebih longgar daripada anggota lain. Dia hanya menyaratkan akomodasinya dalam kesempatan-kesempatan itu. Saat berada dalam beragam kesusahan, dia tidak jarang ditolong anggota-anggota Rotary Club Kunthi. Dalam buku ini salah satu proyek besar yang digarap lembaga itu adalah penyediaan fasilitas air bersih di Gondorio, salah satu desa binaannya yang terletak di pinggiran Semarang.
Dalam buku ini Dini dikunjungi dan mengunjungi dua anaknya, Lintang dan Padang. Saat dia mengunjungi Lintang dan suaminya di Kanada, tampak betapa kenangan akan mantan suaminya tetap membayanginya. Dia merasa anak itu punya watak seperti bapaknya. Meskipun demikian, perasaannya terhadap anaknya tetap sayang, berbeda dengan perasaannya pada mantan suaminya. Sesalnya masih terasa dalam tiap renungannya tentang lelaki itu, bahkan dia menyebutnya dengan “bapaknya anak-anak”, bukan “mantan suami”. Rasa sayang itu kentara juga saat dia berusaha menjamu Padang dan tunangannya. Dia ajak mereka ke sana ke mari dan menyediakan akomodasinya. Ada rasa bangga dalam perenungannya tentang mereka.
Yang banyak menyita perhatiannya selama masa itu adalah Pondok Baca. Dia mengupayakan segenap modalnya untuk mempertahankan perpustakaan itu. Pada setiap panitia yang memintanya terlibat dalam acara mereka sebagai penulis dia selalu menagih honor dengan penekanan tentang Pondok Baca. Lebih banyak lagi adalah bantuan-bantuan keuangan atau administratif yang didapatkannya dari relasinya yang sangat banyak. Dari kalangan politisi, seperti Emil Salim, Sutrisno Suharto (walikota Semarang), dan Kedutaan Besar Selandia Baru, sampai perusahaan-perusahaan. Meskipun demikian, jalannya tidak selancar itu. Yang paling traumatik adalah saat dia hanya ditanggapi oleh 4 penerbit padahal dia mengirimkan 16 proposal. Selain itu, dia juga sempat kehilangan semangat sama sekali saat Pondok Baca di Griya Pandana digoncang cuaca buruk. Perpustakaan itu sempat beberapa kali pindah: dari Sekayu ke Griya Pandana, ke Perumahan Beringin Indah. Walaupun asal mula pendirian perpustakaan ini disebutkan sebagai upaya untuk mengatasi kebisingan anak-anak di sekitar rumahnya di Sekayu, dalam praktiknya, tampak bahwa motifnya yang lebih dalam adalah pendidikan, khususnya pendidikan anak perempuan, sebagaimana tampak dalam upayanya untuk mengajak kembali seorang anak yang sudah lama tidak mengunjungi perpustakaannya. Selain itu, motif sosial tampak dalam keputusannya untuk mempekerjakan beberapa orang tertentu dan mengangkat anak atas nama Pondok Baca.
Sebagaimana telah disiratkan di atas, buku ini menguak banyak relasi sosial Nh Dini. Hampir dalam setiap kegiatannya dia selalu mendapatkan bantuan dari relasinya yang sangat banyak. Di antara relasinya ada seseorang yang sangat ringan tangan terhadapnya: Johanna. Secara suka rela dia menyokong keuangan Dini dalam keadaan apa pun, bahkan sempat mengajukan salah satu rumahnya sebagai tempat pengganti bagi Pondok Baca.
Dalam banyak peristiwa tampak bagaimana Dini begitu perhitungan. Ditambah dengan sikapnya yang cenderung menyatakan apa yang membuatnya terusik, maka dalam pelbagai keadaan yang kurang menyenangkan tampak betapa jutek dia. Dari tanggapannya terhadap penghargaan orang-orang terhadap profesi penulis sampai dambaannya tentang nominal ganti rugi dari pengelola perumahannya.
Pondok Baca Kembali Ke Semarang adalah pengaruh relasi sosial terhadap banyak kegiatan seseorang dan suatu tuntutan dari seorang penulis yang dituturkan oleh perempuan yang blak-blakan dalam menunjukkan kesukaan dan ketidaksukaannya.
Hanya beberapa jam buku ini berhasil ku tamatkan. Selalu suka dengan karya Nh. Dini. Kali ini Dini berkisah tentang kepulangannya kembali ke Indonesia tepatnya kembali ke Semarang kota kelahirannya.
Diusia yang tidak muda, Dini masih memikirkan anak-anak bangsa, berusaha menularkan kecintaan membaca dikalangan anak-anak dan remaja dilingkungan tempat tinggalnya. Pilihan kata-kata Dini selalu lugas, seperti mendengarkannya bercerita.
Serial kenangan edisi yang ini kurang berkesan bagiku. Mungkin mood membacaku terpengaruh cover buku yang membuat ilfil. Menurutku kurang sesuai dengan karakter buku dan karakter penulis. Maaf kalau kali ini I judge the book by its cover.
Pertama kali membaca buku Nh. Dini ketika di bangku sekolah, sudah lama sekali. Pertemuan Dua Hati dan (mungkin) Dua Dunia. Entah satu atau dua buku, ceritanya pun tidak terlalu ingat. Lalu untuk buku pertama kelompok baca kami, seorang teman memilihkan buku Nh. Dini yang ini sebagai bacaan bulan Januari. Tentu mungkin didasari berita meninggalnya Nh. Dini baru baru ini.
Pondok Baca Kembali ke Semarang, seperti judulnya, menceritakan masa masa bu Dini membangun pondok baca di Semarang dan Rotary Club Semarang Kunthi khusus wanita. Selain bercerita, disana-sini bu Dini menyampaikan pendapatnya mengenai berbahai hal: tentang honor pengarang, minat baca, feminisme dan bahkan ketidaksukaan terhadap perilaku anak dan kemanakan yang dirasanya tidak mematuhi unggah ungguh yang pantas. Kepribadian bu Dini tercecer disetiap lembar buku ini. Tegas dan lurus, tanpa tendeng aling aling. Lěmpěng. Mandiri dan teguh pendirian, serta sangat beropini.
Lugas dan personal. Kepribadian bu Dini merupakan daya tarik utama buku ini. Hal hal pribadi yang disampaikan begitu saja secara lugas seringkali menimbulkan rasa haru. Bu Dini bercerita dengan biasa, saya sendiri yang jadi haru.
Namun yang cukup menarik, dari beberapa ulasan yang saya baca malah menyebutkan buku ini tidak sepribadi buku lainnya. Wah, ini saja sudah sangat personal saya rasa. Jadi tertarik untuk membaca buku buku Nh. Dini yang lain. Terutama yang seri kenangan.
Judul : Pondok Baca; Kembali ke Semarang Pengarang : Nh. Dini Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Pertama, Februari 2011 Tebal : vi + 258 halaman ISBN : 978-979-22-6635-1 Harga : Rp 45.000,00 Peresensi : Thomas Utomo
Buku ini merupakan memoar atau menurut istilah pengarangnya adalah cerita kenangan (diambil dari kata Prancis: souvenirs) seri ketiga belas, yang isinya mengenai pengalaman hidup dan pengamatan Nh. Dini (selanjutnya disebut Dini saja) akan lingkungan tempatnya bermukim. Sesuai dengan judul, buku yang terdiri dari sebelas bab plus pendahuluan ini mengisahkan fragmen kehidupan Dini di Semarang, kota kelahirannya. Dikisahkan bahwa usai pengumuman perceraiannya dengan Yves Coffin, seorang diplomat, Dini yang sempat bermukim lama di Prancis memutuskan pulang kandang ke Kampung Sekayu, Kota Semarang. Di Sekayu, Dini tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, yaitu sebuah rumah kuno yang terbuat dari kayu jati, yang pada saat kepindahan Dini (tahun 1985) berusia hampir satu abad. Setelah mapan di Sekayu, Dini kembali menekuni bidang yang telah dia geluti sejak duduk di bangku kelas II SMP (tahun 1953), yaitu kepengarangan. Pada masa itu, Dini selalu memulai karangannya dengan tulisan tangan. Di waktu sore, dia membaca ulang apa yang telah ditulis pada pagi hari. Lalu saat karangannya tersebut mencapai sepuluh hingga lima belas halaman, barulah Dini mengetiknya menggunakan mesin ketik manual. Namun aktivitas mengarang Dini terpaksa sering terganggu akibat kebisingan anak-anak praremaja yang biasa bermain-main di dekat rumahnya. Menghadapi hal tersebut, bukannya marah, Dini justru mendapat gagasan, “Mengapa anak-anak yang gaduh itu tidak kuundang masuk ke tempatku? Barangkali aku dapat menyediakan buku-buku bacaan yang menarik bagi mereka.” (halaman 6-7). Perlu diketahui, selain menekuni bidang karang-mengarang, Dini juga menjadi kolektor banyak buku bermutu. Dan untuk mewujudkan gagasan di atas, Dini menggunakan uang bekal perceraiannya yang oleh Pengadilan Negeri Prancis disebut modal hidup, untuk membuat rak-rak, menambah jumlah koleksi buku bacaan, dan membenahi rumahnya yang kemudian diubah menjadi pondok baca yang diberi nma Pondok Baca Nh. Dini, disingkat PB. Sayangnya, kehidupan Dini bersama PB, yang juga menjadi intisari buku ini, tidak semulus yang dia harapkan. Gangguan bencana alam berupa banjir dan tanah longsor memaksa Dini pindah tempat tinggal hingga tiga kali: dari Kampung Sekayu ke Griya Pandana Merdeka di Ngalian, lalu mengungsi kembali ke Sekayu, kemudian ke Perumahan Beringin Indah di Ngalian juga. Selain itu, sempat muncul pula tanggapan sinis masyarakat terhadap Dini dan usaha nirlabanya. Mereka mengatakan, “Mengapa dia kembali? Apa maksudnya tinggal di kampung ini lagi? Wah, jangan-jangan perpustakaannya berisi buku-buku kafir!” (halaman 22). Namun Dini dapat melampaui semua rintangan itu dengan ketabahan dan hati penuh syukur, sesuai ajaran orang tua dan Kejawen (Kejawaan) yang dianutnya. Dapat dikatakan bahwa buku yang untuk sementara menjadi seri cerita kenangan terakhir ini, merepresentasikan relijiusitas Dini sebagai seorang wanita Jawa. Jika dulu, pada era 1970-an, buku-buku karangan Dini seperti Pada Sebuah Kapal, La Barka, dan Namaku Hiroko sempat dilarang dibaca oleh pelajar sekolah menengah karena memuat sekelumit adegan seksual, maka dalam buku ini pembaca tidak akan menemukan hal yang sama. Justru renungan-renungan ilahiah yang mampu mengasah kepekaan batin, bisa pembaca temukan di sini. Misalnya, saat menemukan seekor kucing berbulu kembang asem di dekat rumahnya, Dini menulis, “Pada musim hujan di tahun ke-4 sejak masa tinggalku di Sekayu, Tuhan ‘mengirimiku’ seekor kucing.” (halaman 51). Atau saat mendapatkan hunian baru setelah rumah sebelumnya longsor, Dini menuturkan, “Untuk kesekian kalinya, aku diberi kesempatan untuk mengakui betapa Tuhan mempedulikan jalan hidupku. Pertemuan kembali dengan Mbak Tjik nyata disodorkan sebagai sarana mendapatkan tempat tinggal baru.” (halaman 201). Itu merupakan contoh. Masih banyak lagi contoh lain yang bisa pembaca temukan. Meminjam komentar Nobuko Sasaki, membaca buku ini seperti mendengar orang ceramah, selalu banyak kebaruan yang bisa diperoleh. Namun begitu, Dini menuturkan nilai-nilai pengalaman dan pengamatan hidupnya tidak menggunakan bahasa verbal, sehingga pembaca tidak akan merasa sedang membaca buku khotbah Jumat. Tentu saja ulasan atau resensi ini tidak meng-cover seluruh keunggulan buku. Untuk lebih marem atau mantap, silakan baca sendiri buku yang diluncurkan di Semarang dan Prancis ini.
Ledug, 15 Agustus 2012
*Thomas Utomo lahir 1 Juni 1988. Bekerja di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebagai guru. Telepon/SMS (0281) 5730489. E-mail totokutomo@ymail.com.
Nh Dini, Pertama kenal dengan karyanya ketika saya duduk di bangku SMP. Tulisannya sederhana dan ga bertele-tele soal perasaan. Buku-bukunya banyak jadi acuan anak-anak sastra, begitu kata tukang buku langgananku. Pondok Baca merupakan lanjutan dari 'seri kenangan' yang pernah terbit sebelumnya menceritakan tentang kepulangannya ke Indonesia pasca bercerai dengan suaminya yang merupakan duta Prancis. Kegiatannya adalah mendirikan dan mengurus Pondok Baca dan aktif di komunitas sosial 'Rotary Club'. Saya sempat mempertanyakan tentang keyakinannya apa karena sangat kental dengan adat jawa dan istilah istilah di bukunya membuat bertanya-tanya. Dipaparkan di bagian akhir cerita bahwa bapak ibunya menganut 'kejawen'. Jempol buat karyanya. :)
Meskipun kurang suka dengan gaya menulis Nh.Dini yang datar, buku ini menarik untuk dibaca karena menceritakan pengalaman Nh.Dini mendirikan pondok baca juga berbagai kisah hidupnya ketika kembali ke Indonesia.
Di awal-awal ceritanya agak membosankan, tapi setelah di tengah-tengah ceritanya menjadi lumayan menarik (gaya penulisan Nh. Dini baru mulai terlihat disini). Novel ini menceritakan tentang kisah Dini bersama Pondok Bacanya dan lika-liku hidupnya menjadi seorang pengarang. Ada banyak falsafah hidup (terutama Jawa) yg disajikan. Menginspirasi saya untuk turut mendirikan taman bacaan.