Anak siapa sih ini, rakus amat kok sampe menelan bintang segala...
Yessss..buku buat materi siaran (minggu depan) ini cukuplah tipis, tapi lebih baik segera diselesaikan, sampulnya aja sudah menggoda...aihhh...
====================================================================
Ketika Matthew masih bayi, dia suka menjerit-jerit dan berputar-putar dan berteriak. Tapi dia hanya menangis dua kali. Dan kedua peristiwa menangisnya Matthew terpatri dalam kenangan Marie.
Yang pertama, Matthew berumur enam bulan. Waktu itu, mereka belum mengenal Maougo. Matthew hendak tidur di bawah patung kura-kura, matanya terpaku pada cermin-cerminnya. Terdengar nyanyian dari radio. Tiba-tiba, sesuatu membuat Marie memandang putranya. Mata anak itu dipenuhi air mata.
“Aku mengangkatnya,” cerita Marie pada kami, “menangis dan basah, tapi tidak bersuara. Padahal tampaknya dia tidak lapar atau sakit. Dia tidak pernah menangis gara-gara lapar atau sakit…”
Pada saat itulah seorang teman Marie berkata, “Nyanyian itulah penyebabnya. Kau lihat kan, bagaimana dia mendengarkannya?” Dan memang benar, ketika nyanyian itu selesai, Matthew tenang lagi dan kembali memandangi kura-kuranya.
“Aku dulu mengira bayi hanya menangis kalau ingin makan atau ingin dipeluk,” Marie menambahkan. “Tapi Matthew menangis benar-benar karena emosi.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, Marie menyadari putranya istimewa. Dia memiliki Raja Hati dalam keluarganya.
Kali kedua Matthew menangis, dia baru saja memecahkan botol kacanya. Marie menjajarkan semua botol lain untuk menunjukkan kepadanya bahwa itu tidak apa-apa. Dia bahkan turun dari flat-nya untuk membeli botol baru – persis seperti botok yang tadi pecah. Tapi sia-sia saja. Mata Matthew terus mencucurkan air mata. Baginya, benda-benda baru tidak akan bisa menggantikan benda-benda lama. Itu namanya cinta sejti. Anak itu bahkan begitu sedih, sampai-sampai dia melakukan mogok makan setelah berhenti menangis. Tidak ada suara dan tidak ada makanan lagi. Dia ingin mati demi solidaritas pada botoh yang pecah. Dua hari kemudian, dia pingsan gara-gara kelaparan. Akhirnya dia dibawa ke rumah sakit.
..............
Ketika berumur 11 tahun, saya pernah melihat seseorang yang “terkurung” di teras rumahnya berpagar besi yang sangat tinggi. Sebenarnya, lebih pantas disebut sebuah kerangkeng dari sebuah teras rumah. Tubuhnya besar, mungkin umurnya saat itu sudah 20-an tahun. Dia hampir tidak bisa berjalan, bicaranya pun tidak jelas, hanya berupa teriakan yang lebih mirip erangan. Ketika melihat orang-orang yang lewat dari depan rumahnya, dia hanya bisa tersenyum, tertawa kecil dan mencoba bersuara lewat erangannya. Keadaannya sungguh tidak terawat. Di “kerangkeng” itulah dia beraktifitas, mulai dari makan, minum, tidur, buang air besar dan kecil. Mungkin keluarganya tidak tahu bagaimana harus merawat dia, entahlah... Orang-orang mengatakan kalau dia itu gila, dan karena ketidaktahuan, saya pun setuju menganggap dia gila. Sampai akhirnya saya tahu kalau dia hanya seseorang yang memiliki “kebutuhan khusus”.
Sekian tahun kemudian, ketika akhirnya saya mendapatkan kesempatan mengajar di sebuah sekolah yang memungkinkan murid-murid yang berkebutuhan khusus (istimewa) untuk belajar bersama dengan murid-murid pada umumnya, dibenak saya sempat terbersit sebuah tanya keraguan,” Bagaimana saya harus “berhadapan” dengan anak-anak istimewa ini?” Tapi saya percaya, keberadaanku di suatu tempat bukan karena suatu kebetulan, tapi ada tujuannya. Dan, saya juga percaya, Tuhan tidak pernah salah “racik” dalam mencipta manusia. Dapat dipastikan, anak-anak istimewa itu bukanlah cipataan yang salah. So, the show must go on!
Minggu pertama, saya mengajar di kelas Mark (bukan nama sebenarnya), dia adalah salah satu dari anak-anak istimewa ini. Untuk beberapa saat, saya menerangkan materi pelajaran hari itu, dan saya melihat kalau Mark sama sekali tidak melihat ke arah saya. Dia hanya fokus memandang ke satu arah, dan yang pasti bukan ke saya. Saat itu, saya berpikir kalau dia sedang tidak tertarik dengan materi yang sedang saya ajarkan. Saya memintanya untuk memperhatikan saya, namun itu cuma berlangsung beberapa detik karena dia segera kembali memandang ke tempat lain. Dan, saat saya mengajak anak-anak kelas itu berdikusi, Mark hanya diam saja saat teman-temannya begitu bersemangat mengemukakan pendapatnya masing-masing. Saya mengira kalau tubuhnya memang ada di ruang kelas, tetapi pikirannya entah berada dimana. Saya berpikir lagi, bagaimana saya membantu anak ini. Namun, saat saya memberikan kuis serta workshop, dengan tulisan yang seadanya tapi masih bisa saya baca, Mark memberikan jawaban yang mengubah kekuatiran saya menjadi kekaguman. Dia memang tidak pernah melihat ke arah saya, tapi segenap perhatiannya tertuju kepada saya, dan materi yang saya berikan dapat dia terima dengan baik.
Berhadapan dengan anak-anak istimewa ini memang gampang-gampang susah. Tidak semua orang mampu, apalagi mau. Misalnya, Luke (nama samaran lagi nih) yang memang bisa saya ajak berkomunikasi lewat kata-kata, namun bagaimana pun juga, saya harus membedakan cara saya berkomunikasi dengan dia dan dengan anak-anak yang lain. John hampir saya dengan Mark, dia tidak pernah melakukan kontak mata dengan saya, kecuali saya memintanya untuk melihat ke mata saya. Dan, itupun hanya bisa bertahan beberapa detik, karena dia akan segera fokus memandang ke monitor komputer. Sejak itu saya sadar, ternyata layar monitor lebih enak dipandang dari wajah saya. Kurang ajar!!! Hehehe… Tapi hebatnya, dia selalu bisa menangkap materi yang saya ajarkan.
Anak-anak yang istimewa ini memang tidak selalu mempunyai kebutuhan yang sama, dan dibutuhkan orang-orang yang memang benar-benar perduli terhadap mereka. Tidak hanya rasa peduli, orang-orang ini harus mempunyai kesabaran tingkat tinggi. Sama seperti Marie, Lucy, Theo, dan Maougo, saya juga mengenal seseorang yang sudah lama bergelut dengan seorang anak istimewa ini, sebutlah namanya Ariana. Saya sering melihat, bagaimana Ariana sedemikian sabarnya mendampingi anak istimewa ini menjalani aktifitasnya sehari-hari, sampai akhirnya sang anak tidak lagi hanya terkungkung dalam dunianya sendiri, tapi malah bisa berinteraksi dengan orang lain. Dan kalau lagi bergosip dengan Ariana, banyak cerita lucu yang terjadi berhubungan dengan si anak istimewa ini.
Sebagian orang menyebut mereka orang-orang yang tidak berguna, namun saya menyebut mereka orang-orang yang hebat. Mereka juga orang-orang yang tulus dan jujur. Mereka mungkin akan terlihat tidak berguna ketika kita melihat mereka hanya dengan mata, karena mata kadang-kadang tidak sanggup menangkap apa yang penting. Tapi, cobalah melihat mereka dengan hati, dan kita akan menemukan betapa hebat dan istimewanya mereka.
Seperti yang dituliskan oleh Lucy…
Tadi malam, aku berdiri untuk menempelkan sebuah bintang di bawah tempat tidur mezaninku. Itu untuk Matthew, anak yang merupakan planet tersendiri. Supaya bisa mengenal planet itu, kau harus menyingkirkan berbagai aturan dan prasangka dan bahasa, dan melemparkan dirimu kepadanya tanpa rasa takut mengikuti perjalanan menembus angkasa luar. Kalau sudah besar nanti, aku ingin mengajar anak-anak austik. Matthew adalah pertempuranku sendiri dengan planet-planet!