Sebuah sekolah di tengah Kota, tua dan hampir tergilas jaman. Ada Seorang guru yang menghadapi dilema, haruskan tetap di tempat dengan murid-murid yang sama, situasi yang sama, tekanan yang sama, atau keluar dan menerima tawaran pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Ada seorang kepala sekolah yang menghadapi dilema , haruskah bercerai dengan pasangannya yang tidak mengerti dirinya, atau meniti hubungan baru dengan pasangan yang baru, dengan kemungkinan masa depan yang lebih baik. Ada seorang murid yang menghadapi dilema, haruskah mengikuti segala aturan sekolah yang tidak masuk akal atau membeli soal ujian dengan jaminan kelulusan dan nilai yang baik. Ada seorang pesuruh yang menghadapi dilema, haruskah bekerja lebih baik dengan gaji yang tidak cukup, atau mengambil sebuah kesempatan menarik yang tidak akan datang kedua kali. Ada seorang orang tua murid yang menghadapi dilema, haruskah memakai uangnya untuk orang lain, atau membeli tanah yang diinginkannya untuk investasi. Ada seorang pemilik sekolah yang menghadapi dilema, haruskah korupsi atau tetap melakukannya.
Sebuah sekolah di tengah kota, tua dan hampir tergilas zaman. Di dalamnya kita bisa melihat dunia kecil dengan satu sistem yang mengikat, yang tidak bisa diperbaiki kecuali ada satu orang yang membuat perubahan dan mematahkan rantai itu.
Agnes Jessica adalah mantan guru matematika SMUK I BPK Penabur Jakarta. Karena ingin mengembangkan bakat seni, walau ia suka mengajar dan murid-muridnya juga suka diajar olehnya, ia keluar dan memilih berkarya sebagai penulis novel. Selain menulis, ia juga suka menggubah lagu, main gitar, keyboard, dan menyanyi. Ia sudah melahirkan sebelas novel yang berjudul Jejak Kupu-Kupu, Rumah Beratap Bougenvil, Dua Bayang-Bayang, Satu Abad Sekajap Mata, Peluang Kedua, Dongeng Sebelum Tidur, Bunga Yang Terbuang, Angan Sang Cinderella, Jakarta An Undercover Life, Noda Tak Kasamata dan Maharani. Selain memakai nama Agnes Jessica, ia kerap menulis dengan nama samaran Yoshiko Agunesu. Keiginan utamanya adalah bisa berkarya terus; keinginan kedua: bisa diterima di hati pembaca; dan keinginan terakhir: happily ever after. Bila ada yang ingin berkomunikasi melalui surat, silakan kirim ke PO BOX 1410 Jkb 11014, atau ke alamat e-mail: agnesjessi@yahoo.com.
Baca cerita ini mengingatkan dengan film layar lebar yang judulnya Cinta (bener gk ya) dimana dalam 1 buku ada beberapa tokoh yang diceritakan. Bisa dibilang dari seri Mejikuhibiniu ini, Biru adalah tokoh terbanyak yang diangkat kisah hidup mereka masing2, dan ya memang tidak terpaku oleh 2 tokoh utama seperti biasanya.
Evelyn: cacat sejak lahir, tidak punya kaki. Cinta mengajar dan memutuskan menjadi guru. Walau dia pintar dan banyak sekolah bagus yang menawarkan pekerjaan, Evelyn lebih memilih untuk menjadi guru di salah satu sekolah, yang bahkan tidak punya harapan lagi untuk sekolah itu.
Stephen: pernah di DO saat kuliah, pengangguran, dan akhirnya mencoba menjadi guru di tempat Evelyn mengajar. Disinilah mereka bertemu.
Ishak: kepala sekolah SMA Harapan, sekolah tempat Evelyn dan Stephen menjadi guru. Rumah tangganya berantakan, dia ketahuan slingkuh. Dan di samping itu, sekolah juga mau ditutup.
Ada juga Brian dan Tiara: murid bandel dan pintar. Brian berniat untuk membeli soal saat ujian nanti. Tiara disuruh Evelyn untuk mengajari Brian serta anak2 lain yang kira2 nilainya kurang. Disinilah Brian dan Tiara mulai saling mengenal dan jatuh cinta.
Itu sebagian tokoh yang ada di novel ini. Sebenernya masih banyak lagi. Tapi memang tetap saja benang merah selalu berjalan dengan baik. Suka dengan masing2 karakter mereka. Walau memang tidak selalu baik. Selalu dan selalu, dengan baca novel karya tante Agnes ini, pasti banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari sini. Entah disadari atau gk, terkadang gue juga ngelakuin apa yang gue dapet disini ^^
Singkat cerita, akhirnya mereka semua memutuskan untuk mengabdi kepada sekolahan anak2 tidak mampu. Suka suka dan sukaa sama ceritanya. Mengharukan dan selalu manis ^^
Sebuah sekolah di tengah Kota, tua dan hampir tergilas jaman. Ada Seorang guru yang menghadapi dilema, haruskan tetap di tempat dengan murid-murid yang sama, situasi yang sama, tekanan yang sama, atau keluar dan menerima tawaran pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Ada seorang kepala sekolah yang menghadapi dilema , haruskah bercerai dengan pasangannya yang tidak mengerti dirinya, atau meniti hubungan baru dengan pasangan yang baru, dengan kemungkinan masa depan yang lebih baik. Ada seorang murid yang menghadapi dilema, haruskah mengikuti segala aturan sekolah yang tidak masuk akal atau membeli soal ujian dengan jaminan kelulusan dan nilai yang baik. Ada seorang pesuruh yang menghadapi dilema, haruskah bekerja lebih baik dengan gaji yang tidak cukup, atau mengambil sebuah kesempatan menarik yang tidak akan datang kedua kali. Ada seorang orang tua murid yang menghadapi dilema, haruskah memakai uangnya untuk orang lain, atau membeli tanah yang diinginkannya untuk investasi. Ada seorang pemilik sekolah yang menghadapi dilema, haruskah korupsi atau tetap melakukannya.
Sebuah sekolah di tengah kota, tua dan hampir tergilas zaman. Di dalamnya kita bisa melihat dunia kecil dengan satu sistem yang mengikat, yang tidak bisa diperbaiki kecuali ada satu orang yang membuat perubahan dan mematahkan rantai itu.
Lumayan rame tp lebih rame hijau..g rasa Evelyn yang jadi tokoh utama agak lemah...lbh rame saat ngebahas kisah antara Tiara dan Brian sama antara Ishak dan Istrinya. Sebel sama tokoh Ishak yg egois dan ga guna..g kira dia sebenernya yg udah ngerusak rumah tangga nya sendiri. Tokoh ini berpikir terlalu simple, dia ga nyadar sudah menyakiti hati dua org wanita yg bener2 mencintainya..:( menurut g masalah ga akan selesai hanya dia berpisah dng Ratna, seharusnya dia lbh bertanggung jwb menghadapi masalahnya. G kira meski Tina sudah memaafkan hubungan, mereka ga bs seperti dulu..seperti kata pepatah kita bisa memaafkan tp tidak bisa melupakan :(
Ga rame ga rame ga rame. Dari Merah ke Jingga meningkat, terus penurunan kadar keramean teruuuus turun sampai Biru. Duh. Bukunya terlalu utopia, tidak nyata. Saya udah lupa sih garis besar dan detail ceritanya, tapi yang masih lumayan saya ingat adalah ceritanya tidak rame, terus tidak nyata banget. Di kehidupan nyata, cerita seperti ini kayaknya ga mungkin terjadi deh. Kualitasnya jauuuh dibanding dua buku pertama. Saya kasih dua bintang karena buku ini - seperti buku-buku lainnya dalam seri ini - mengandung pesan moral.
I love this book.! Entah gimana, cara cerita dari Agnes Jessica rasanya sudah pas banget sama aku, walau mungkin di beberapa sisi adakalanya terlalu kebetulan dan sinetron banget, tapi memang kenyataan dalam hidup tak ada yang namanya kebetulan bukan? Tapi tetap saja, dari kesemua serial Pelangi, Jingga tetap menjadi favorit. XD Jadi ngga sabar membaca lanjutannya, dan semakin penasaran bagaimana dengan pertemuan mereka bertujuh akhirnya.
recommended buat mereka yg berkutat di dunia pendidikan. pendidikan itu emg seharusnya jd sarana utk menyampaikan didikan dan kebenaran, bkn utk kepentingan lain. kebenaran, kasih, hikmat, didikan, pengertian, itulah harta yg sejati, bkn materi yg ada di dunia. Pilihan yg sulit, tp bernilai luar biasa :)
Fantastis... ini novel benar-benar beda, belum pernah baca novel yang tokohnya seperti Evelyn... betapa suatu kekurangan tak mengurangi nilai diri si Evelyn... Baca novel ini kayak baca sejilid trilogi atau tetralogi padahal tebelnya standart, tapi ceritanya ada di 4 tokoh berbeda dan saling berkaitan... keren
ceritanya terlalu tipikal untuk cerita2 seperti ini. Evelyn yang seharusnya menjadi tokoh utama malah terasa terus2an berada di belakang layar. Tokoh utamanya (menurut saya) yang paling lemah di antara tokoh utama lainnya dalam serial Pelangi.
Karena hidup adalah sebuah sistem yang saling berhubungan, perubahan kecil pada salah satu sistem akan menghasilkan sebuah perubahan yang sangat besar pada keseluruhan sistem.