Meski tidak terlalu 'enak' (bukan karena isi bukunya, tetapi sebuah kenangan bagaimana buku ini bisa ada di rak buku), akhirnya selesai juga membacanya. Cerpen Leo Tolstoy dalam buku ini memang sangat nampak seperti sebuah petuah yang ingin disampaikan seorang kakek kepada para cucu dan cicitnya.
Kelima kisah dalam buku ini selalu memberi petuah baik secara langsung (dalam teks narasi maupun percakapan) maupun makna implisit yang hendak disampaikan penulis.
Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, yang dijadikan judul memang menjadi pembuka sebuah lembaran petuah. Dikisahkan Martin, pembuat sepatu, merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Semua anggota keluarganya mati. Kemudian dia membaca alkitab suatu malam, dan merasa ada suara "Martin! Martin! Lihatlah ke jalan besok. Aku akan datang.
Tidak ada yang datang. Justru temannya, seorang perempuan tua miskin dengan anaknya, penjual apel dengan anak muda. Dan dia tidak merasa Tuhan tidak datang. Tetapi justru itulah jelmaan Tuhan. Bahwa di setiap saat ketika dia berbuat baik, maka Tuhan suka dan menampakkan kecintaannya.
Tuhan Mahatahu, Tapi Menunggu, berkisah tentang seorang saudagar kaya raya yang ditipu orang lain, dengan dijekab membunuh temannya. Hingga dipenjara. Dilalah, ketika dipenjara justru ia bersama dengan pelakunya. Tetapi dia tetap tidak mau membalas dendam dengan berbalik berbuat jahat juga, tetapi dengan membaiki si pelaku justru dia sudah merasa menang. Jadi ingat kisah, ketika ditampar pipi kira maka serahkan pipi kanan.
Cerpen yang ingin lekas kubaca ada Tiga Pertapa, yang kabarnya sangat mirip dengan Dodolitdodolidodolibret-nya Seno Gumira Ajidarma, dan emang mirip.
Majikan dan Pelayan menceritakan hubungan majikan dan pelayan badai dalam sebuah perjalanan dagang yang sedang badai salju. Meski menurutku nggak terlalu bagus.
Dua Lelaki Tua yang paling nge-hot. Dua lelaki tua yang memiliki pandnagan hidup dan beragama yang berbeda. Yang kaya tidak bisa jauh-jauh dari hartanya dan pekerjaannya. Yang miskin mudah saja ketika harus pergi dan melakukan perjalanan agama. Mereka akhirnya berpisah saat di tengah perjalanan ziarah ke malam Yesus. Yang kaya terus. Yang miskin berhenti di kampung miskin, yang lupa Tuhan. Di sana yang miskin membantu, menyedekahkan harta, dan terpaksa pulang meski tak jadi ziarah, akrena uang abis. Tetapi di sanalah menurut si kaya, si miskin sudah bersamanya di ziarah. Keren. Tidak selamanya kaya membuat bahagia.
Mungkin bisa mengisi sore-sore sambil menunggu malam turun, dan turun hujan. Menikmati hikmah dari Leo Tolstoy.
Untuk seseorang yang memberikan buku ini, semoga tetap bahagia. Dan akan kudoakan ketika kuingat dirimu. Terima kasih.