What do you think?
Rate this book


358 pages, Paperback
First published February 1, 2011
Wis sakjege wong lanang gedhe gorohe.
Nah, dengan demikian purba-wisesa ada pada dirimu Awalnya kamu sadar akan apa yang kamu lakukan, maka akhirnya kamu harus berani menanggung akibatnya. Terimalah kenyataan ini sebagai sesuatu yang memang harus kamu terima. Kamu tak bisa menghindar. Kamu harus ngundhub wobing pakarti, harus memetik buah perbuatan sendiri, suatu hal yang niscaya bagi siapa pun.
Jat, kamu tahu, sudah terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terima kasih kepada "ibu" yang member kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut dibilang moralis
Kamu mungkin juga tidak tahu bahwa sesungguhny laki kurang tertarik, atau malah segan terhadap perempuan yang terlalu cerdas apalagi berpendidikan terlalu tinggi. Bagi lelaki, perempuan kurang pendidikan dan miskin tidak jadi soal asal dia cantik. Apalagi si cantik itu penurut. Jadi lelaki memang bangsat
Jadi, Jat, sebenarnya kamu ingin melakukan banyak hal. Dan yang kamu perlukan sekarang, mungkin, adalah sebuah momentum untuk menghilangkan keraguan, momentum untuk mendorong kamu segera bertindak
Agar bisa hidup tenang, orang harus sel eling dan nrima ing pandum, tidak ngumbar kanepson atau keinginan."
Ngelmu iku tinemune kanthi laku; bahwa pengetahuan atau kepercayaan baru bermanfaat bila sudah menjadi dasar perilaku.
Bumine goyang, bumine goyang, arane lindhu
Wong ra sembayang, wong ra sembayang bakale wudhu
Dadi wong urip dadi wong urip sing ati-ati
Aja nuruti aja, aja nuruti senenging ati
Tanah kelahiran adalah ibu yang tak pernah menolak kedatangan kembali anaknya, apalagi bila anak pulang membawa kerisauan.
Eling-eling, wong eling balia maning... Ya, bagi kamu yang sudah mengendapkan risau jiwa, pulang- lah!