Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bekisar Merah #1-2

Bekisar Merah

Rate this book
Edisi cetak ulang yang terdiri atas Bekisar Merah dan Belantik.

****
Bekisar adalah unggas elok, hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi, anak desa yang berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas—kulit putih, mata eksotis—membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tak disadarinya.

Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main.

Hanya main-main, longgar, dan bagi Lasi sangat ganjil. Karena tanpa persetujuannya, Pak Han menceraikannya dan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan di negeri ini, yang memang sudah menyukai Lasi sejak pertama melihat wanita itu bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup di tengah kemewahan yang datang serba mudah, namun sama sekali tak dipahaminya. Apalagi kemudian ia terseret kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.

Di tengah kebingungannya itulah Lasi bertemu lagi dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Mereka kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengannya. Namun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta. Berhasilkah Kanjat membela cintanya, dan kembali merebut Lasi yang sedang mengandung buah kasih mereka?

358 pages, Paperback

First published February 1, 2011

40 people are currently reading
524 people want to read

About the author

Ahmad Tohari

31 books514 followers
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.

His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Dukuh Paruk", "Lintang Kemukus Dini Hari", and "Jantera Bianglala"

On 2007, he releases again "Ronggeng Dukuh Paruk" in Java-Banyumasan language which is claimed to be the first novel using Java-Banyumasan. Toward his effort, he receives Rancage Award 2007. The book is only printed 1,500 editions and sold out directly in the book launch.

Bibliography:
* Kubah (novel, 1980)
* Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
* Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
* Jantera Bianglala (novel, 1986)
* Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
* Senyum Karyamin (short stories, 1989)
* Bekisar Merah (novel, 1993)
* Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
* Nyanyian Malam (short stories, 2000)
* Belantik (novel, 2001)
* Orang Orang Proyek (novel, 2002)
* Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
* Mata yang Enak Dipandang (short stories, 2013)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
127 (22%)
4 stars
245 (43%)
3 stars
164 (28%)
2 stars
26 (4%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 130 reviews
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews243 followers
August 21, 2025
Akhirnyaaa selesaiiiii! Ternyata baca ini agak-agak sulit buatku ternyata 🫣 bukan nggak bagus cuman aku kurang fokus liat aja berapa lama aku bacanya 🫣 beda sama waktu baca Ronggeng Dukuh Paruk. Sebelum beberapa halaman terakhir, aku sampai nggak berani spoiler diri sendiri takut zonk untung nggak.
.
“Dan tentang mesjid, Eyang Mus pernah bilang begini: mesjid yang megah adalah mesjid yang menyebarkan iman dan kasih sayang bagi orang-orang di sekitarnya. Jadi menurut Eyang Mus, kemegahan mesjid terutama bukan pada bentuk dan ukurang bangunan, melainkan pada rohnya.” (Hal 343).
.
“Dan penting kamu pahami, makin sungkan kamu menerima akibat perbuatan sendiri, makin berat beban batin yang akan menindih hati. Jadi andaikan aku jadi kamu, lebih baik semuanya kuterima dengan perasaan ringan dan carilah pertobatan. Mencoba mengelak, meski hanya dalam hati, hanya akan membuat beban menjadi jauh lebih berat dan membuat kamu lebih menderita.” (Hal 86).
.
“Bila kamu percaya segala kebaikan datang dari Gusti dan yang sulit-sulit datang dari dirimu sendiri, hanya kepada Gusti pula kamu harus meminta pertolongan untuk mendapat jalan keluar. Jadi, lakukan pertobatan lalu berdoa dan berdoa. Bila masih ada jodoh, takkan Lasi lepas dari tanganmu. Percayalah.” (Hal 86).
Profile Image for Pandasurya.
177 reviews117 followers
May 31, 2011
Keindahan Dalam Kesederhanaan Kata-kata

Baiklah, saya bicara tentang Lasi. Lasiyah nama lengkapnya. Perempuan ini adalah tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari (AT). Sosoknya yang muda, cantik, berkulit putih, bermata eksotis, dan berwajah seperti orang Jepang membuat banyak lelaki tertarik padanya. Senyumnya mampu menggoyahkan iman para lelaki, baik yang alim maupun yang bangsat.

Lasi adalah sosok perempuan kampung yang lugu, polos, namun tabah dan pasrah menjalani guratan nasib. Di desa tempat kelahirannya, ia dikhianati suaminya. Lalu ia lari ke kota Jakarta yang membuat nasibnya menjadi lebih buruk. Lasi terjebak di tangan mucikari yang memasok perempuan-perempuan untuk kalangan atas. Meski hidup di kota dan bergelimang kemewahan namun Lasi kemudian seperti lepas dari mulut buaya masuk ke kandang macan. Nasib membuatnya terombang-ambing dari satu derita ke derita yang lain. Hingga cinta masa lalunya hadir dalam kehidupannya..

***

Berlatar tahun 1980-an di sebuah desa bernama Karangsoga, Jawa Tengah, AT begitu detil dan dengan caranya yang sangat menarik menggambarkan suka-duka kehidupan para penyadap nira pohon kelapa. Dari mulai keadaan suasana alam pedesaan, seperti lambaian pelepah pohon kelapa, suara kicau burung bernyanyi, gemericik air di sungai berbatu-batu, suara kodok bersahutan di musim hujan, hingga ke cara penyadap nira memanjat pohon kelapa dengan segala perlengkapannya. Nira itulah yang nantinya mereka olah menjadi gula merah untuk dijual dan menjadi sumber penghasilan para penyadap.

Kehidupan di Karangsoga tetap mengalir seperti air di sungai-sungai kecil yang berbatu-batu. Manusianya hanyut, terbentur-bentur, kadang tenggelam atau bahkan membusuk di dasarnya. Tak ada yang mengeluh, tak ada yang punya gereget, misalnya mencari kemungkinan memperoleh mata pencarian lain karena menyadap nira punya risiko sangat tinggi dengan hasil sangat rendah. Atau menggalang persatuan agar mereka bisa bertahan dari kekejaman pasar bebas yang sangat leluas memainkan harga gula.

Tidak. Karangsoga tetap adhem-ayem seperti bisa, tenang, seolah kemiskinan para penyadap di sana adalah kenyataan yang sudah dikemas dan harus mereka terima.
(h. 40-41)

***

Sebagaimana dalam karya monumentalnya Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, tidaklah berlebihan jika dikatakan, dalam karya Ahmad Tohari ini kita bisa menemukan apa yang disebut “keindahan dalam kesederhanaan kata-kata”. Cara AT menggambarkan suasana alam pedesaan, pemandangan, bahkan karakter, gerak-gerik tokoh-tokohnya begitu detil, fasih, luwes dan enak dinikmati. Bahasa Indonesia menujukkan keindahannya di tangan sastrawan piawai macam AT. Tak salah lagi, AT memang salah satu sastrawan terbaik Indonesia yang pernah ada.

Caranya bercerita, karakter tokoh-tokohnya yang kuat, rangkaian kata-katanya yang sederhana namun indah mampu membuat pembaca betah untuk terus mengikuti kisahnya.

***

“Kamu jangan pulang dulu. Aku masih ingin ngobrol.”
“Sudah malam. Dan siapakah tadi yang menyuruhku pulang?
Lasi mencubit lengan Kanjat.
“Aku tahu. Tetapi kamu sudah kumisan, kan? Ah, kumis kamu itu.

Buntu. Lasi mendesakkan tubuhnya. Maka dua tubuh yang berimpitan itu sama-sama condong ke samping. ..Hujan di luar mengecil. Suara curah hujan dari talang merendah. Namun suara tetes air yang jatuh menimpa dedaunan terdengar makin nyata. Demikian juga suara katak pohon yang serak dan kering itu.

“Kamu juga benar-benar ikhlas menemani aku ke rumah Paman?”
“Aku sudah berkumis, tak lagi suka bermain kata-kata.”
Lasi tersenyum dan mencubit lagi lengan Kanjat.
“Bila benar ikhlas, coba kulihat matamu. Hati yang ikhlas bisa tampak dari mata.”

Kanjat menoleh ke samping. Senyum. Mereka bersitatap. Lasi benar-benar meneliti mata Kanjat. Dan dua atau tiga detik ada garis maya mempertemukan hati dan jiwa keduanya. Lasi tersenyum dan Kanjat menunduk karena tak tahan oleh sinar mata dan pesona senyum Lasi.
(h. 304)

--Pandasurya, Mei 2011
Buku ini datang malam itu..


Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
October 26, 2016
Dibandingkan buku Ahmad Tohari yg lain, entah kenapa gw nggak terlalu suka sama yg ini. Plotnya terlalu mirip dengan Ronggeng Dukuh Paruk meski lokasi dan tokohnya beda. Sifat Lasi dan Kanjat, agak mirip sama Srinthil dan Rasus, sedikit modelan damsel in distress dan pria-nya agak lelet ngambil keputusan.

Ke-khas-an Ahmad Tohari dalam menggambarkan setting masih terasa. Bagaimana damai dan indahnya Karangsoga, meski penduduknya hidup serba kekurangan dan kelaparan, namun tidak pernah patah semangat dalam menyadap dan mengolah nira menjadi gula merah. Pun ketika intrik politik mulai menjadi bagian dari plot, mengalir dengan begitu halus. Hanya saja, endingnya kayak diburu-buru. Gw sempat khawatir kok pas adegan sepenting ini, halaman di jemari kanan kok tinggal 3 lembar :D
Untung aja endingnya bukan open ending dan lumayan memuaskan.

Oh iya..suka juga dengan nama-nama yg dipilih Ahmad Tohari untuk semua tokohnya. Pokoknya Indonesia banget :)
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
June 18, 2015
ya, rhe hanya memberi 2 bintang untuk tulisan ini. ga tau berapa bintang jika membaca buku awal na -yang ga digabung-. ada yang bisa ngasih tau apakah edisi ini isi na sama dengan buku bekisar merah dan belatik waktu diterbitkan terpisah?

kembali lagi soal 2 bintang. kenapa 2? cz penulis iseng menggelitik dan nyentil issue sosial dan politik saat itu tapi kesan na hanya nyolek aja. andai issue sosial dan politik itu adalah manusia, kesan na dia hanya tau nama doang, ga main bareng :D

menyingkapi tindakan kanjat di luar rasa cinta dan tindakan na ke lasi, rhe lebih tertarik dengan gelitik hati nurani na terhadap para penyadap nira. sebuah hati nurani yang tergerak tapi ya gitu... hanya gerakan saja tanpa tindakan tanpa hasil, tanpa ada perubahan bagi mereka para penyadap.

kenapa rhe berani bilang begitu? cz sampai sekarang, tahun 2000 sekian kehidupan para penyadap ini tak juga ada perbaikan. mereka terus-terusan hidup untuk saat ini. berpikir untuk saat ini saja sudah membuat mereka lapar apalagi memikirkan masa depan. why?

ini curcol, skip aja klo ga tertarik

beberapa saat lalu rhe salah naik kereta sehingga bukan na sampai jogja tapi malah sampai solo. menyesal? ga. cz kejadian ini memberi pelajaran lain dari sebuah perjalanan. mungkin tuhanlah yang membuat na

tujuan rhe saat itu adalah jogja, tapi rhe naik kereta ke solo dan bukan na solo balapan tapi solo jebres. inti na di stasiun inilah rhe bertemu dengan kakek-nekek penyadap nira yang berasal dari desa pedalaman di jawa timur, bersama 3 cucu na yang sedang melakukan perjalanan ke jogja -dan salah naik kereta juga- untuk menjenguk cucu dari anak kedua mereka. sebuah cerita mengalir lancar dari mulut sang nenek tentang kehidupan mereka dan kehidupan satu per satu dari ketiga cucu cowo' yang bersama mereka.

cucu yang paling kecil berumur 2.5 tahun, diajak karena tidak ada yang menjaga na di rumah kalo semua orang pergi. cucu sekecil ini dititipkan ke kakek nenek na cz ibu na menikah lagi dengan satpam di jakarta dan suami baru na tidak mau menerima anak dari pernikahan sebelum na. cucu tengah berusia 4 tahun. dititipkan karena ayah na meninggal kejatuhan sekarung jagung. saat kejadian yang ada hanyalah si anak dan sehingga sang ayah tidak sempat mendapat pertolongan dan ditemukan meninggal di samping si anak.

cucu terbesar, hampir lulus smp, dialah yang paling membuat kakek-nekek ini berpikir panjang. antara ingin membuat cucu na mendapatkan yang terbaik cz orang tua na sudah berpisah dan cucu ini diserahkan ke kakek-nenek na, atau menyuruh na untuk segera bekerja cz kendala ekonomi yang pasangan ini hadapi.

mau memasukkan ke sma jelas tak mampu bayar. mau masuk ke madrasah di desa na yang lebih murah tetap saja kendala ekonomi yang jadi pertimbangan. bagaimana tidak penghasilan mereka dari penderes nira ga seberapa. 19 pohon kelapa yang dideres kakek hanya menghasilkan 1 kg gula merah per hari. hasil penjualan na pun harus disetorkan 10% untuk si pemilik pohon. jadi pendapatan harian mereka setara 0.9 kg gula merah. untuk hidup sehari-hari 5 orang aja sudah pas, apalagi harus membayar uang sumbangan madrasah 6000 dan uang bulanan 500 rupiah.

WHATS?!? ok, rhe juga sama kaget na waktu angka itu disebutkan. mungkin kita bisa bilang hari gini uang segitu mana ada harga na sih. tapi ternyata orang lain memiliki masalah lain dengan nominal tersebut. antara pengen nangis, ngerasa ditampar karena ga pernah bersyukur dengan apa yang rhe punya saat ini tapi juga pengen ngebantu mereka. 6000 rupiah yang menjadi beban mereka dalam sebulan bahkan ga cukup untuk membayar angkot rhe sekali jalan ke kantor.

pengen rasa na ngeluarin semua isi dompet buat si nenek. tapi nyata na? mereka punya harga diri yang cukup tinggi. mereka tidak membutuhkan bantuan karena mereka yakin akan ada jalan keluar. mereka ga mau dibantu karena mereka bukan orang ga mampu. sebuah ironi saat orang lain memanfaatkan keterbatasan mereka keliaran di kota untuk mengemis dan kegiatan sejenis, sedangkan orang tua ini yang tidak hanya keterbatasan ekonomi tapi juga tenaga di usia tua mereka tetap mau berusaha. bahkan saat rhe menunjukkan gejala masuk angin, si nenek tidak sungkan untuk langsung memijat rhe bahkan meminta cucu na untuk mencari segelas teh hangat.

inilah yang orang bilang, orang yang kekurangan selalu bisa memberi lebih. kebayangkan realita kehidupan penyadap. sekali menjadi penyadap, selama na jadi penyadap. semoga kakek-nenek ini berhasil mendidik cucu-cucu lelaki mereka supaya tidak menjadi penyadap.

kembali ke buku, lalu apa solisi kanjat? apa yang dia lakukan untuk meningkatkan kehidupan para penyadap? ntahlah, mungkin penulis na mengajak pembaca untuk membuat pernyataan sikap na sendiri dari issue yang coba disentil na.
Profile Image for theia.
38 reviews6 followers
December 13, 2022
Aku mungkin akan memberi rating Bekisar Merah 5/5 jika tidak membaca Ronggeng Dukuh Paruk sebelumnya. Alasannya? Pola cerita dan penokohan yang 11-12 dengan RDP, dengan sedikit twist, dan perbedaan disana dan disini tentunya. Meskipun deskripsinya tentang suasana desa, realitas sosial yang mempersoalkan kehidupan, ketimpangan dan kemiskinan yang dialami oleh penyadap Nira di Desa Karangsoga sangat detail dan hidup, tapi beberapa karakter polanya mirip dengan karakter-karakter yang ada di buku RDP. RDP dan BM memiliki tokoh utama perempuan, yang cantik dan diinginkan oleh banyak laki-laki. Jika Srintil menjadi populer karena dirinya adalah Ronggeng, Lasi populer karena blesteran Indo-jepang. Kecantikan keduanya membawa kedua tokoh ini ke dalam nasib yang hampir mirip. Akan ada satu lelaki yang mencintai mereka dengan tulus, namun pada prosesnya sulit karena keinginan semesta yang tak sejalan dengan yang merekainginkan. Beberapa karakter lain yang mirip adalah adanya figur ‘pengasuh’ matrealistis yang memprovokasi tokoh utama pada pemikiran-pemikiran duniawi. Dalam beberapa hal, sulit sekali untuk tidak menyadari berbagai persamaan, pola dan penokohan yang terlalu mirip dengan RDP. Meskipun demikian, saya sangat menyukai bagaimana Ahmad Tohari menggambarkan kehidupan masyarakat petani desa yang kalah oleh sistem kapitalisme, penindasan yang dilakukan oleh pemerintah alih-alih melindungi petani gula, atau bagaimana ia menggambarkan kotornya permainan politik di level nasional, bahkan international kaitannya dengan pasar dunia. Lewat tokoh Bambung, kehidupan mafia dalam negara tergambarkan dengan apik, rapi dan masuk akal. Belum lagi gambaran kondisi politik Indonesia dari era Soekarno hingga Soeharto yang saling menjelaskan satu sama lain tentang berbagai peristiwa tertentu terselip disana dan disini. Meskipun secara penokohan dan pola cerita yang mengikutinya mirip dengan RDP, namun Bekisar Merah tetap memiliki bagian-bagian yang berbeda dengan RDP, sehingga membaca kisah di novel tidak terasa membosankan, malah semakin ingin terus mengikutinya. Akhir rating saya 4/5. Tidak sempurna memang, karena unsur intristik novel yang aku kira mirip dengan RDP, sehingga secara pribadi menyurutkan tingkat kepuasanku pada cerita ini. Namun dari unsur ekstrinsiknya, Bekisar Merah menyuguhkan sebuah latar belakang realitas sosial dari sudut pandang lain yang sayang untuk dilewatkan bagi pecinta sastra Indonesia dan fiksi-sejarah.
Profile Image for Ms.TDA.
253 reviews5 followers
February 4, 2025
Buku ke sekian dari karya Pak Tohari mengenai sosial masyarakat kecil. Aku bisa mengatakan sedikit menikmati cerita lika liku seorang anak keturunan campuran perempuan Jawa (Karangsoga) dan tentara Jepang (=Lasi), tapi entah kenapa ada sedikit pelik ketika dihadapkan oleh takdir nya yg lumayan smooth (?). Masa iya sih si pemegang kuasa itu seflow itu menghadapi seorang Lasi, like? Somehow ga make sense dan terlalu tidak nyata juga untuk akhir cerita yg di suguhkan😓 (I know, it’s a fic, but.. dahlah) 3,5/5🌟
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
January 14, 2018
Ahmad Tohari menyuguhkan rimba kehidupan dari dua sisi yang berbeda. Pertama, rimba pedesaan yang masih diapit oleh rimba pohon, dan kedua, rindangnya masalah dalam rimba kehidupan kota. Twisting plot yang disuguhkan dalam tempo cepat tentang betapa jauh rentang perbedaan antara desa dan kota dalam menghadapi satu masalah, dibumbui drama kehidupan, membuat kesan sederhana yang tersirat dari tokoh, berkembang menjadi kompleks dan semakin jauh dari titik pijak awal. Setting waktu di dekade awal pemerintahan Soeharto, memberi sentuhan betapa titah priyayi pada rakyat jelata seolah masih terus terasa.
Profile Image for ki.
84 reviews6 followers
Read
August 9, 2025
Cantik itu luka.
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
August 11, 2015
Kalau cuma menilai dari segi cerita, mungkin gue cuma kasih 1 bintang. Alurnya datar, konfliknya kurang menggigit, dan tokoh-tokohnya nggak ada yang bikin gue simpati. Nggak kayak Ronggeng Dukuh Paruk, yang biar gue cuma baca edisi masih disensornya dan gue nggak ngerti nyambungnya akhir Lintang Kemukus Dini Hari sama Jantera Bianglala tuh apa, tetap meninggalkan kesan yang dalam.

Tapi memang, keahlian Ahmad Tohari dalam menulis buku tuh ada di deskripsi latarnya, dan juga persoalan rakyat jelata yang tinggal nun jauh di kampung sana. Di buku ini, kita disajikan pemandangan asri dan alami Karangsoga yang begitu hidup hanya dari rangkaian kata Ahmad Tohari, juga dari keseharian penduduknya. Ironis memang melihat kekayaan alam Karangsoga tidak diimbangi dengan kesejahteraan penduduknya. Pekerjaan berat dan berbahaya sebagai penyadap nira kelapa tidak diimbangi dengan penghasilan yang layak dan fasilitas kesehatan memadai. Paling ngenes tuh pas 10 pohon kelapa Darsa harus ditebang, padahal dia cuma punya 12 pohon untuk mencari nafkah, demi listrik masuk desa--padahal mungkin rakyat Karangsoga nggak begitu butuh listrik ya. Tanpa uang penggantian pula. Trus gue mikir, ntar bayar tagihan listriknya gimana ya? Udah mata pencaharian hilang, pengeluaran bertambah.

Untungnya buku ini ditulis udah cukup lama, di masa OrBa. Dan gue sih percaya, zaman sekarang, walau mungkin ketidakadilan ekonomi masih ada dan menimpa rakyat Indonesia yang ada di pedalaman, banyak juga yang udah melek teknologi dan bargaining power mereka udah meningkat--thanks to social media. Soal ini, gue sendiri baru kemarin mengalami. Gue dan temen2 sekantor baru ikutan beli tomat langsung dari petani tomat dengan harga lumayan mahal (dibanding harga pasar) demi membantu mereka dari harga tomat yang jatuh. Maksud gue, begitu di-blast di social media, pasti ada orang-orang yang lebih mampu secara ekonomi yang tergerak untuk membantu meringankan beban mereka. Dan pemerintah pun sudah mulai bergerak ke arah sana kan. Yah semoga kehidupan rakyat Indonesia bisa lebih makmur, terutama para petani, since negara kita kan katanya negara agraris (selain maritim).

Tuh kan, gue nggak ngebahas Lasi dan hidupnya sama sekali.... Udah gue bilang, ceritanya sebenernya nggak nyantol di kepala gue, nggak berkesan. Dan keluguan Lasi tuh bener-bener bikin dia minta dicekek deh ampun!!!!

Oh iya, satu hal yang gue kurang suka, kenapa sih di cover ini tulisan judulnya harus huruf gede-huruf kecil alay gitu? Ini kan buku sastra, bukan fanfiction ga jelas!

Bintang 3 buat kritik sosial yang dibungkus dengan indah.

Review lebih rapi di blog: http://readinginthemorning.blogspot.c...
Profile Image for e.c.h.a.
509 reviews257 followers
March 21, 2011
Ah....kisah hidup Lasi di Belantik tidak sekompleks di Bekisar Merah. Lasi seakan-akan tidak bisa belajar dari pengalaman. Lasi memang polos, tidak tahu apa-apa, penurut. Tapi apakah ingin untuk terus-terusan menjadi sosok yang berkepribadian polos dan nrimo?

Kanjat, kau sebagai laki-laki haruslah berani. Aku tidak melihat sedikitpun usaha yang kau lakukan untuk Lasi. Setidaknya lakukanlah atas nama cinta.

***
Aku ingin cerita yang luar biasa di Belantik, sama luar biasanya dengan Bekisar Merah. Sayang rasanya kalau Balantik hanya seperti ini.....

***
Review Bekisar Merah yang aku baca di tahun 2009.
Profile Image for Truly.
2,769 reviews13 followers
January 13, 2023
Kalimat paling menohok di halaman 326, "Itulah sikapku: dalam hidup yang penting duit. Maka bila jadi kamu, aku akan menuruti kata-kata ini:. daripada sakit karena melawan pemerkosaan, lebih baik nikmati perkosaan itu. Ya, ini gila. Tapi pikirlah. Kamu sudah membuktikan ke mana pun lari kamu tak akan luput dari tangan Pak Bambang. Jadi mengapa tidak kamu nikmati saja hidup bersama dia yang akan memanjakan kamu dengan duitnya yang berlimpah? Masuk akan, kan?...."

Hidup adalah pilihan.
Lesti sudah memilih untuk "pulang". Pulang ke tempat dimana ia merasa nyaman. Pulang bersama orang yang membuat hatinya nyaman.
Profile Image for Tike Yung.
174 reviews5 followers
May 18, 2024
Hanya bisa ngasih 3,5 ⭐ untuk perjalanan hidupnya Lasi sampai bisa bersama atau pulang bersama Kanjat ke kampung halaman mereka
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
March 9, 2016
Di desa Karangsoga, mata pencaharian utama masyarakatnya adalah penyadap nira. Demikian pula dengan suami Lasi, Darsa, yang berangkat setiap sore untuk mengumpulkan hasil sadapannya di pagi hari. Suatu sore, hujan turun dengan derasnya bersama petir yang menggelegar. Naluri penyadap Darsa tahu bahwa sebaiknya ia tak nekat pergi mengumpulkan hasil sadapan. Tetapi jika ia tak pergi, bagaimana ia akan memberi makan istrinya, sebab jika hasil sadapan itu dibiarkan semalam maka tak akan ada gula bagus untuk dihasilkan. Beruntung seketika langit menghentikan tumpahan airnya, diiringi doa Lasi, berangkatlah Darsa memanjat pohon pohon yang tingginya bisa mencapai puluhan meter.

Malang tak dapat ditolak, Darsa jatuh dari pohon. Lasi dan keluarganya bergegas mencari kesembuhan bagi Darsa, mulai dari puskesmas sampai ke dukun, semua diusahakan oleh keluarga miskin tersebut. Dasar Darsa, setelah kesembuhannya, ia malah menghamili wanita lain. Tak tahan dengan rasa malu dan kemarahan yang dihadapinya, Lasi kabur ke Jakarta dengan menumpang truk gula. Dengan kecantikan keturunan Jepang yang ia miliki, Lasi dengan mudah menjadi sumber perhatian lelaki.

Tapi Lasi hanyalah wanita desa yang lugu dan taat adat, ia masih punya malu dan harga diri meski akhirnya mau juga ia diperistri oleh seorang pembesar di Ibukota. Handarbeni sangat memanjakan Lasi, diberikannya sebuah rumah mewah, dibiarkannya Lasi berbelanja ini itu dan banyak hal lainnya yang memuaskan Lasi secara materi. Tapi dia merasa ada yang kurang dan hilang dalam hatinya sampai ia bertemu dengan Kanjat, Lelaki masa lalunya.

Bagaimana kemudian kisah cinta Lasi dengan Kanjat?

Membaca novel ini sebenarnya saya lebih suka dengan cara penulis mendeskripsikan latar ceritanya. Bahasa yang digunakan puitis dan indah, membuat pembacanya dengan mudah membayangkan dan merasakan kesejukan dan keasrian alam Karangsoga. Selain itu isu sosial yang diangkat juga disampaikan dengan apik dan sederhana. Meski jujur saja, saya sama sekali tak jatuh hati pada tokohnya yang biasa biasa saja. Ngga ada yang spesial, Lasi yang terlalu lugu dan banyak perhitungan, Kanjat yang terlalu nrimo dan mengalah, serta para pembesar pembesar ibukota yang serakah dan banyak tingkah.

Kehidupan penyadap nira amat diceritakan dengan gamblang di buku ini, tentang kesusahan mereka dan perjuangan yang mereka berikan demi bisa mendapatkan sekilo beras untuk dimasak, mulai dari resiko nyawa saat menyadap, menebas hutan demi memperoleh kayu bakar untuk mengolah nira, segala usaha dan kerja keras itu hanyalah dibayar dengan harga yang tak seberapa. Sementara para tengkulak dan para penguasa perdagangan tingkat atas makin kaya raya, para penyadap tetap saja hidup miskin dan berkesusahan. Tapi para rakyat kecil ini begitu nrimo sampai saya sendiri ikut gemas.

Tapi toh saya jadi penasaran, di manakah desa Karangsoga itu sebenarnya? Apakah benar di sana sekarang listrik sudah masuk desa? Sudah makmurkah masyarakat di sana? mereka menyadap nira atau malah berlomba lomba hijrah ke ibukota?
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
September 10, 2013
Terjadi kesalahan ambil buku saat memilih untuk membaca buku ini, yang ada dalam pikiran pengen baca buku penulis lain sebenarnya, tapi malah mengambil buku ini dari tumpukan belum dibaca.

Saat membaca sudah kepikiran penceritaannya mirip-mirip Ronggeng Dukuh Paruk...saat sampai dihalaman terakhir dihalaman tentang penulis lah memang ini Ahmad Tohari penulisnya.

Detil, dengan dialog-dialog sederhana,menyinggung kondisi sosial dan politik, Bekisar Merah menceritakan kisah hidup seorang wanita dusun bernama Lasiyah dan seorang laki-laki anak juragan gula kelapa dikampungnya.

Perjuangan Lasi ditengah kehidupan penuh derita kemiskinan didesanya berubah karena kecantikan yang dimilikinya setelah ia kabur ke Jakarta setelah tak sanggup menerima cobaan rumah tangga yang dihadapinya.

Sebel campur kasian membaca buku ini.
Profile Image for Argo Prasetyo.
37 reviews1 follower
November 1, 2014
Lasi si bekisar merah, Bambung sang bekisar menyiratkan kehidupan Indonesia yang mencoba membangun dirinya. Kekuasan diatas kemelaratan rakyatnya.... Saya rasa sampai sekarang masih ada fenomena itu di Indonesia.
Ahmad Tohari secara polos mengungkapkan fenomena tersebut. Apa adanya....
Profile Image for Maya.
209 reviews8 followers
February 5, 2019
Bekisar Merah adalah buku kedua karya Ahmad Tohari yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Orang-orang Proyek, dan saya bisa katakan bahwa Bekisar Merah adalah perluasan tema dari Orang-orang Proyek.

Bercerita tentang Lasi, seorang kembang desa Karangsoga yang selalu diterpa gosip tidak sedap sejak kecil. Ayahnya seorang bekas serdadu Jepang yang sempat membantu pasukan gerakan revolusi Indonesia sebelum akhirnya hilang tanpa kabar. Campuran darah Jepang dan Jawa membuat sosok Lasi begitu eksotis dengan mata kaput, kulit putih, dan rambut hitam legam. Orang-orang Karangsoga mengakui kecantikannya, namun di sisi lain juga tidak henti menyebarkan rumor bahwa Lasi adalah anak hasil perkosaan.

Suatu hari Lasi kabur tanpa tujuan dari Karangsoga setelah mengetahui suaminya menyeleweng. Ia diturunkan di sebuah warung yang merangkap penyedia jasa seks komersil. Kecantikan Lasi menarik banyak perhatian, baik laki-laki pengunjung warung yang ingin berdua dengannya maupun wanita jajanan yang iri padanya. Tak lama kemudian, ia ditemukan oleh seorang muncikari lain yang melayani permintaan kalangan elit. Si muncikari membayar si pemilik warung dengan cincin berlian, dan berpindahlah nasib Lasi. Suatu kebetulan bahwa pesonanya bertemu dengan angan-angan para lelaki politisi yang mendambakan gadis Jepang sebagai perhiasan sangkar madu mereka.

Atas jasa muncikari tersebut Lasi menjadi istri simpanan Handarbeni, seorang direktur utama PT. Bagi-bagi Niaga. Lasi dimanjakan dengan berbagai kemudahan dan kemewahan. Namun Lasi tak menemukan kepuasan batin dengan melayani Handarbeni. Imajinasi Lasi terbang pada sosok Kanjat, teman masa kecilnya yang selalu memihak Lasi. Pertemuan-pertemuan singkat mereka menimbulkan dilema dalam diri Lasi: ia ingin berlindung dalam pernikahan bersama Kanjat, namun ia merasa rendah diri karena lebih tua dua tahun dan telah janda dua kali.

Bekisar Merah masih mengandung unsur-unsur yang sama dengan Orang-orang Proyek: tema kehidupan desa, hubungannya dengan pembangunan infrastruktur, pahlawan lelaki yang terdidik dan idealis di antara orang-orang kampung, pergulatan batin pahlawan lelaki dengan rezim Orde Baru, ironi budaya bagi-bagi kekuasaan dan materi dalam kalangan elit Orde Baru, dan filosofi orang Jawa dalam menghadapi situasi akibat rezim tersebut. Namun dibandingkan dengan Orang-orang Proyek, saya mendapat penjelasan yang lebih elaborate tentang bagaimana sikap Orde Baru itu terbentuk. Dalam percakapan tokoh Handarbeni dan Pak Min, ia menampik keberlakuan filsafat kejawen pada kehidupan priyayinya. Handarbeni mencemooh bahwa sikap hidup orang Jawa untuk selalu eling, meniti jalan hidup yang genah, dan tidak mengumbar nafsu adalah sekedar penghiburan bagi rakyat kecil seperti Pak Min. Baginya, ia hanya menjalankan kebiasaan para priyayi terdahulu yang merasa berhak atas berbagai keistimewaan, yang kemudian menimbulkan pertanyaan dari Pak Min, "Bukankah sekarang adalah jaman republik dan bukan kerajaan?"

Kita juga bisa melihat sikap nrima ing pandum, menerima suratan takdir dari tokoh-tokoh Karangsoga. Lasi yang berpegang pada pepatah "tidak ada pemberian tanpa imbalan" bagaikan mengambang mengikuti sungai nasibnya di Jakarta. Dalam keluguannya, Lasi tidak pernah menyadari bahwa ia sedang dipermainkan orang lain atas nama nafsu dan materi. Merasa martabatnya terinjak-injak pun tidak. Ia baru merasa punya alasan untuk mempertahankan diri ketika ia mengandung anak Kanjat. Kalau pembaca buku-buku keluaran zaman sekarang mungkin bisa geregetan membaca cerita Lasi. "Apaan sih Lasi, kayak nggak punya harga diri dipermainkan orang macam Bu Lanting," begitu mungkin tanggapan mereka.

Bagi saya sendiri, konsep nrimo ing pandum menjadi pemikiran bahwa menerima realita itu tidak sama dengan menyerah pada realita. Saya melihat bolak-balik antara intisari cerita Bekisar Merah yang merefleksikan kehidupan kebanyakan masyarakat Jawa. Bahwa kami ingin hidup yang stabil dan mempertahankan kestabilan itu. Jika kehidupan kami kini banyak ketidakpastiannya, maka kestabilan adalah cita-cita kami. Jika kami telah mencapai kestabilan, maka kami ingin mempertahankannya. Pandangan semacam itu bisa menimbulkan kenyamanan seseorang akan status quo, yang mana ia tidak menyadari bahwa kehidupan terus berubah dan memintanya untuk terus beradaptasi.
Profile Image for jeeayore.
70 reviews12 followers
January 18, 2023
Bekisar merah menceritakan tentang kisah percintaan tidak beruntung yang dialami oleh Lasiah sebagai bekisar (turunan campuran Indo-Jepang). Ahmad Tohari tetap konsisten dg kondisi perempuan terutama masa orba, gejolak politik, nasionalisme dengan settingan scenery desa yang asri dan hiruk-pikuk ibukota.
Kisah cintanya Kanjat-Lasiah gak jauh beda dengan Rasus-Srintil. Kisah dimana perempuan jadi korban patriarki dan menantikan pertolongan sikap prawira lelaki yang lamban dalam mengambil keputusan.

Yang bikin aku tetap akan membaca tulisan Ahmad Tohari adalah bagaimana beliau bisa dengan indahnya mengelaborasi secara informatif dan deskriptif suasana di desa. Sebagai orang yang tidak berkesempatan tinggal di desa asri dan kental adat kejawen seperti itu, cukup memanjakan imajinasi dan wawasan keislaman dan kenusantaraanku.

Setelah membaca ini aku berkesiumpulan bahwa sikap ‘nrimo’ dalam budaya Indonesia turut memiliki andil besar dlm kemajuan negara ini. Masyarakat yg kurang berambisi dan merasa cukup atas apa yg dimiliki bisa dibilang pisau bermata dua, memang membuat indeks kebahagiaan meningkat namun juga menurunkan ambisi untuk maju dan menginginkan yg lebih.

Berikut beberapa hal yg baru ku ketahui dari buku ini:
Jambe rowe, pongkor, gula gemblung, penyadap, lereng cadas, sengkang, bunga bungur, puluh-puluh, orang eling, rambon, oman, singiran barungan, iket wulung, pandum, dan belantik.

Beberapa kalimat yg kusuka:
•Keterpihakanmu kepada objek yang sedang kamu garap justru menambah bobot skripsimu. Ah, kamu tahu, saya adalah orang yang tidak percaya bahwa dunia ilmiah harus steril. Saya sudah bosan membaca skripsi-skripsi yang bisu dan mandul terhadap permasalahan nyata yang ada di sekeliling kita. Keterpihakanmu kepada masyarakat penyadap, saya kira, merupakan ma-nifestasi perasaan utang bud dan terima kasihmu kepada mereka yang telah sekian lama memberikan subsidi kepadamu. Ini bukan sebuah dosa ilmiah. Jat, kamu tahu, sudah terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terima kasih kepada "ibu" yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut dalam arus kecenderungan pragmatis. Agaknya mereka lupa bahwa dari segi-segi tertentu pragma-tisme menjadi benar-benar amoral. Jadi mereka jadi amoral karena takut dibilang moralis.
•Dengarlah, anak muda, orang sebenarnya diberi kekuatan oleh Gusti Allah untuk menepis semua hasrat atau dorongan yang sudah diketahui akibat buruknya. Orang juga sudah diberi ati wening, kebeningan hat yang selalu mengajak eling. Ketika kamu melanggar suara kebeningan hatimu sendiri, kamu dibilang orang ora eling, lupa akan kesejatian yang selalu menganjurkan kebaikan bagi dirimu sen-diri. Karena lupa akan kebaikan, kamu mendapat kebalikannya, keburukan.

Beberapa syair/pribahasa yang mencuri atensiku:
•Nrima ngalah luhur wekasane - org yg mengalah akan dihormati pada akhirnya
•Wong lanang punya wenang, tapi jangan sewenang-wenang.
•Menurutku, kesempurnaaan Tuhan meliputi segalanya
Manusia tak punya tingkah atau maksud. Manusia tuli, bisu, dan bamba. Segala tingkah berasal dari Allah
•Adalah manusia istimewa yang telab sampai kepada kebenaran sejati. Pandangan hatinya menjadi bening begitu a berhadapan dengan Tuhan. Luluh lebur segala tabir dunia. Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. Tak butus menvebut nama-Nya. Baginya yang ada banyalah Allah. Semua geraknya menjadi sembal, salat jiwanya tegak sepanjang waktu. Bahkan ketika raganya dalam keadaan tak suci. Mata batinnya tak putus memandang Allah. Kenyataan yang ada baginya adalab kesatuan wujud. Baik ketika dalam salat maupun di Warnya. Hasrat manusiawi 'lah terselaraskan dengan kehendak Ilahi.
Profile Image for Hib.
48 reviews6 followers
October 29, 2023
Lasiyah, seorang perempuan blasteran Indo Jepang yang digambarkan sangat amat cantik. Namun sebagai perempuan yang sedari kecil hidup di desa, tingkah lakunya pun sangat mencerminkan wanita desa yang polos nan lugu. Konflik buku ini dimulai dari serentetan musibah yang menimpa Lasi dan Darsa, suaminya, hingga Lasi kabur dari desanya Karangsoga menuju Jakarta tanpa tujuan dan tanpa bekal. Dengan kecantikannya, Lasi dimanfaatkan oleh mucikari simpanan-simpanan pejabat. Sebenarnya kalau dibilang Lasi nggak sadar dipermainkan tuh ngga bener juga, karena dia sempet kepikiran kalau tidak ada pemberian yang tidak menuntut balasan. Tapi naifnya Lasi masih saja menerima segala kemewahan yang kelak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.

Di sisi lain, Kanjat, teman masa kecil Lasi, seorang sarjana terpelajar yang peka dan prihatin akan ketidakadilan yang menimpa para penyadap. Usaha-usaha terbaiknya dia kerahkan untuk membebaskan para penyadap dari kemiskinan. Tapi sayangnya, seakan tidak ada kelanjutan dari usahanya karena memang begitu kompleks permasalahan yang dihadapi. Cerita selanjutnya malah lebih fokus pada kisah percintaan Lasi dan Kanjat.

Cerita yang disajikan menarik, tapi terkesan bertele-tele hingga membuat jenuh. Tapi kembali disegarkan dengan penulisan yang khas keindahan pedesaan yang gamblang dan teduh, seakan kita sedang berada di Karangsoga betulan. Selain penggambaran latar yang menenangkan, sosok Eyang Mus juga tidak kalah sejuk. Unsur-unsur Islam yang ditonjolkan begitu damai. Terakait karakter tokoh, sebenernya agak greget samaa Lasi kenapa selugu itu. Kenapa ngga belajar dari yang udah udah sihhh. Terakhir, endingnya terkesan dipaksakan dan diburu-buru (?)

Setelah berkenalan dan membaca cerita Lasi, Kanjat, Eyang Mus, dan masyarakat Karangsoga yang lain, aku kasih rating 3/5. Terima kasih sudah mengajakku berkelana ke Karangsoga :)

Wis sakjege wong lanang gedhe gorohe.

Nah, dengan demikian purba-wisesa ada pada dirimu Awalnya kamu sadar akan apa yang kamu lakukan, maka akhirnya kamu harus berani menanggung akibatnya. Terimalah kenyataan ini sebagai sesuatu yang memang harus kamu terima. Kamu tak bisa menghindar. Kamu harus ngundhub wobing pakarti, harus memetik buah perbuatan sendiri, suatu hal yang niscaya bagi siapa pun.

Jat, kamu tahu, sudah terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terima kasih kepada "ibu" yang member kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut dibilang moralis

Kamu mungkin juga tidak tahu bahwa sesungguhny laki kurang tertarik, atau malah segan terhadap perempuan yang terlalu cerdas apalagi berpendidikan terlalu tinggi. Bagi lelaki, perempuan kurang pendidikan dan miskin tidak jadi soal asal dia cantik. Apalagi si cantik itu penurut. Jadi lelaki memang bangsat

Jadi, Jat, sebenarnya kamu ingin melakukan banyak hal. Dan yang kamu perlukan sekarang, mungkin, adalah sebuah momentum untuk menghilangkan keraguan, momentum untuk mendorong kamu segera bertindak

Agar bisa hidup tenang, orang harus sel eling dan nrima ing pandum, tidak ngumbar kanepson atau keinginan."

Ngelmu iku tinemune kanthi laku; bahwa pengetahuan atau kepercayaan baru bermanfaat bila sudah menjadi dasar perilaku.

Bumine goyang, bumine goyang, arane lindhu
Wong ra sembayang, wong ra sembayang bakale wudhu
Dadi wong urip dadi wong urip sing ati-ati
Aja nuruti aja, aja nuruti senenging ati

Tanah kelahiran adalah ibu yang tak pernah menolak kedatangan kembali anaknya, apalagi bila anak pulang membawa kerisauan.

Eling-eling, wong eling balia maning... Ya, bagi kamu yang sudah mengendapkan risau jiwa, pulang- lah!
Profile Image for Naufal Hardwiwinata.
12 reviews
Read
July 24, 2021
Identitas Buku
Judul : Bekisar Merah; Edisi Bekisar Merah dan Belantik
Penulis : Ahmad Tohari
Genre : Sastra Klasik
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2011
Halaman : 358
ISBN : 9780983627326
Dimensi : 20 cm x 13 cm
Harga : Rp.75.900,-

Penghargaan Buku:
-
Garis Besar Cerita:
Cerita berlatar pada era 1970-an
Bekisar Merah menceritakan tentang Lasi, seorang wanita berdarah campuran Indo-Jepang, yang tinggal di Karangsoga, sebuah desa terpencil di Pulau Jawa yang masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai penyadap nira kelapa. Dia hidup bersama suaminya Darsa tanpa memiliki seorang pun anak dari pernikahan itu.

Sampai suatu ketika Darsa yang bekerja sebagai penyadap nira, jatuh dari tingginya pohon kelapa; yang membuat alat vitalnya bermasalah dan dirinya tak berdaya. Saat itu Darsa di bawa ke dukun urut yang biasa mengobati orang yang mengalami insiden yang sama dengannya. Hingga suatu malam dukun itu menyuruh anak perempuannya yang pincang sebelah untuk tidur bersama Darsa. Nahas, perempuan itu akhirnya hamil dan meminta tanggung jawab dari Darsa supaya mengawinkannya.

Lasi yang terpukul akan kejadian itu akhirnya memutuskan untuk minggat dari rumah tanpa tujuan. Dia pun berkenalan dengan “Si Bebek Manila”, perempuan gaek yang disangka Lasi sebagai ibu penolongnya. Namun ternyata Lasi dijual oleh perempuan tua itu kepada Pak
Handerbeni, seorang pejabat negara kaya di Jakarta.
Bersama Pak Han, Lasi mendapat kelayakan hidup dan harta yang berlimpah. Dia melupakan Darsa, ibunya, dan warga Karangsoga. Kejayaannya itu berlangsung tak terlalu lama. Dia dijemput oleh cinta masa lalunya, Kanjat, yang memintanya untuk segera pulang. Tapi Lasi urung untuk
mengamini ucapan Kanjat.
Suatu ketika, Pak Han mendapat ancaman dari dari Belantik penguasa politik negeri: Bambung. Dia meminta Handerbeni untuk melepas Lasi untuknya. Permintaan itu pun dikabulkan. Selama hidup bersama Bambung, Lasi mendapat kekayaan yang lebih, dia bahkan sudah setara dengan istri-istri pejabat negara lainnya. Namun kebahagiaan itu terusik saat Lasi merindukan kampung halaman dan Kanjat. Hingga dia memutuskan kabur dari Bambung dan menikah dengan Kanjat. Selama hidupnya yang pontang-panting itu, Lasi dan Kanjat mendapat konflik yang menyangkut politik kotor Indonesia pada masa itu. Monopoli nira membuat konflik lanjutan untuk mereka berdua.

Impresi Pribadi:
Ahmad Tohari memang pandai dalam memainkan kata-kata, mengolah dunia fiksinya sehingga nyata dan tampak elok. Tujuannya untuk memberikan kritik kepada pemerintah kotor pada era itu memang tepat. Belum lagi soal penebangan pohon kelapa oleh para penguasa membuat ironi dalam
cerita makin apik.

Setelah baca cerita ini, sejujurnya bikin melelahkan. Tokoh dan plot kurang menyantol di pikiran. Juga cerita “Bekisar Merah” ini mirip dengan novel “Ronggeng Dukuh Paruk” yang membuatnya klise.

Kelebihan Cerita
Kelebihan ada pada deksripsi latar, penghidupan suasana batin tokoh, juga pesan moral dan sindirannya.

Kekurangan Cerita
Tokoh utama seolah melankolis dengan penekanan batin yang berlebih tanpa adanya solusi; membuat pembaca tidak simpati dengan tokoh Lasi. Penyelesaian cerita terbilang terburu-buru. Hingga konflik sampai klimaks yang tidak mengena di hati pembaca.

Plot Twist
Entah itu twist atau tidak, yang jelas itu tidak memengaruhi jalannya cerita.

Petikan, Sarkas, Saitre
(Tidak Saya Catat)

Penilaian Pribadi:
Alur dan Penokohan : 3/5 *Berdasarkan susunan struktur novel Narasi
: 4,8/5 *Berdasarkan gaya penceritaan penulis
Twist : 1,5/5 *Berdasarkan alur yang dipelintir
Rata-rata: 3.1/5 *Berdasarkan jumlah Alur, Narasi, dan Twist, dibagi 3.
Profile Image for Valerie Halim.
15 reviews3 followers
June 26, 2017
Awalnya saya membaca cuplikan buku ini dari modul Bahasa Indonesia. Pada saat itu materinya adalah Novel. Kebetulan guru Bahasa Indonesia saya adalah penggemar karya-karya Ahmad Tohari dan ia menjelaskan tentang buku ini dengan antusiasme yang sangat tinggi. Antusiasme itu pun menular pada saya dan kemudian saya pun mulai membaca buku ini. Oleh karena sudah banyak yang membahas jalan cerita buku ini (dan tentu para calon pembaca buku ini sudah membaca sinopsisnya sebelumnya), maka saya akan mengutarakan sedikit banyak pendapat saya mengenai buku ini.

Saya pribadi belum pernah membaca Ronggeng Dukuh Paruk sebelumnya, maka saya rasa cerita yang disajikan dalam buku ini sangat otentik dan orisinil (setelah membaca banyak resensi buku ternyata cerita kedua buku ini sangat mirip). Buku ini juga banyak menyoroti masalah sosial seperti kemiskinan (seperti yang dialami warga Karangsoga yang kebanyakan bekerja sebagai penyadap nira) dan prostitusi (yang ada di sepanjang perjalanan Lasi dari Karangsoga ke Jakarta), pandangan-pandangan hidup serta banyak mengandung nilai-nilai agama Islam.

Bagi saya buku ini sangat menarik karena setelah membaca buku ini mata saya seperti tercelikkan- saya dapat melihat realita-realita yang sebenarnya terjadi di sekitar saya. Saya baru menyadari betapa sulitnya warga di desa Karangsoga harus bertahan hidup dan besarnya bahaya yang harus mereka hadapi demi sesuap nasi. Bukan di Karangsoga saja tapi mungkin hal serupa juga terjadi di banyak desa di Indonesia. Kemiskinan menyiksa yang sudah miskin dan yang sudah kaya makin memperkaya diri dengan 'memeras' atau 'memperdaya' orang miskin. Selain itu, buku ini menyatakan bahwa hidup tidak sesederhana yang dikatakan orang dan yang dibayangkan anak-anak. Orang-orang tidak setulus kelihatannya. Setiap pemberian pasti meminta timbal balik. Inilah yang diajarkan buku ini. Sebenarnya masih banyak sekali yang disampaikan oleh buku ini tetapi itulah pesan yang paling saya tangkap dari novel Bekisar Merah.

Yang menambah keindahan buku ini adalah cara Ahmad Tohari mendeskripsikan suasana desa di Karangsoga. Para pembaca dapat dengan mudah membayangkan detail-detail kecil sekalipun dari desa fiktif ini. Bahasa daerah yang diselipkan pada percakapan antar tokoh memperjelas latar tempat cerita yaitu di daerah Jawa Timur. Hal-hal ini tidak mengherankan untuk dijumpai di sebuah karya Ahmad Tohari karena ia sendiri orang Banyuwangi (Jawa Timur) dan pernah tinggal di desa.
---------------------------------------------------------------------

Secara umum saya sangat menyukai buku ini dan saya ingin segera membaca kelanjutan ceritanya (Bekisar Merah adalah sebuah duologi) di Belantik. Selain itu saya ingin sedikit menambahkan bahwa buku ini lebih cocok dan tepat untuk orang dewasa.

Profile Image for Feffi AP.
8 reviews
May 8, 2024
"Tak ada pemberian tanpa menuntut imbalan." Aku agak sebal sama prinsip yang dipegang Lasi ini. Terlalu ngalah. Akhirnya dia sendiri yang dibikin repot.

Selain itu aku juga kesal, Mak Lasi/Mbok Wiryaji ini kan dulu jadi korban pemerkos4an ya sama bapaknya Lasi yang orang Jepang, nah kenapa waktu balik lagi malah dinikahin sama warga kampung?! Walaupun bapaknya Lasi ini sudah tobat, tapi kenapa gak dikasih sanksi sosial? 😡

Aku harus pasrah sih menelan realitas karena latar cerita ini di tahun 60-an, jadi anggapan untuk saling menikahkan korban dan pelaku masih jadi solusi (sekarang juga masih banyak yang gitu, biar gak aib katanya😭😭😭). Ya kalau di cerita gak nikah, Lasi pun gak lahir di dunia ini, tokoh utamanya gak bakalan ada.😫

Lasi tumbuh jadi orang yang pasrah dan ikhlas sama jalan hidup. Berdedikasi penuh dengan Darsa, suaminya. Eh malah Darsa sontoloyo, selingkuh dengan anak tukang urut.😵 Karena patah hati, Lasi jadi ikut Pardi ke Jakarta, mengantar gula. Tujuan awalnya cuma buat cari angin segar. Eh Lasi malah terperosok sama pemilik warung tempat mereka istirahat, ya akhirnya terjebak sama m*cikari kelas kakap (para pejabat).

Cinta Lasi dan Kanjat (teman masa kecilnya) ikutan tumbuh di saat Lasi terombang-ambing sama pernikahannya dengan kakek-kakek pejabat ini.😭 Tapi mereka gak langkah cepat gitu, gak berusaha memperjuangkan cinta masing-masing. Sampai akhirnya baru deh nikah karena ditawari tetua kampung gara-gara keadaan Lasi harus menghindar dari operan ke suami baru.

Agak kesal Kanjat lempeng banget waktu Lasi dibawa ke Jakarta (lagi) dan baru gelisah pas tahu Lasi lagi hamil anaknya. Tahu sih pasti Kanjat juga bingung, tapi ayo dong effort-nya!😫

Walaupun gitu endingnya memuaskan. Aku suka! Aku suka!❤️

Alurnya juga pas, meski di satu bagian dijelasin rinci banget sedangkan di bagian lain hanya sekilas. But totally fine. Penceritaan suasana alamnya puitis dan indah sekalii.😫❤️
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
February 3, 2020
Membaca Bekisar Merah ini membuat saya bergelut dengan "Dulu saya pikir buku ini.... Oh, tapi kini setelah membacanya ternyata....". Ya, seperti jungkir balik rasanya.

Pak Kyai Ahmad Tohari seperti biasanya menyajikan ke-desasentris-an -nya itu, dan saya selalu suka seperti pertama kali dulu saya baca karya beliau. Menurut saya Bekisar Merah ini tidak se-Ronggeng Dukuh Paruk yang vulgar menurut saya (dulu). Jalan hidup Lasi, si bekisar cantik lugu itu memang nggilani dan duh-koq-hidupmu-gitu-amat-sih-mbak. Membaca kisah hidup seorang perempuan yang membuat saya cukup emosional, nyesek gitu lho, dan cukup banyak pula pitutur eling-eling nasihat hidup yang saya peroleh di sini; yang paling makjleb buat saya saat ini tentu saja yang..

"...bila orang tidak bisa membatasi keinginan sebatas kebutuhan, apalagi selalu mengembangkan keinginan menjadi kebutuhan, orang itu tak bisa tenang. Hidupnya akan selalu dikejar-kejar oleh keinginan sendiri yang terus meningkat tanpa tutugan, tanpa batas."

dan...

"... sebab kata orang, ngelmu iku tinemune kanthi laku; bahwa pengetahuan atau kepercayaan baru bermanfaat bila sudah menjadi dasar prilaku."

Selama membaca Bekisar Merah ini, terkadang saya merasa diingatkan dengan karya-karya Paulo Coelho; banyak nasihat-nasihat/pelajaran-pelajaran kehidupan yang dapat dijadikan hikmah pembelajaran untuk menjalani kehidupan nyata ini.

Akhir kata, cerita ini apik dan berbobot.
Profile Image for Dinda Tahier.
52 reviews
July 29, 2025
Suka banget! Rangkaian kata Ahmad Tohari indah banget. Tapi saking indah penggambarannya tentang sesuatu, gue harus baca ulang sambil ngebayangin apa yang lagi dideskripsiin. Mostly, yang dia gambarin itu adalah pemandangan latarnya.

Setting cerita di buku-bukunya Ahmad Tohari identik dengan pedesaan yang adem. Bikin gue ingat masa-masa blusukan selama jadi jurnalis. Dia juga selalu masukin unsur-unsur priyayi di Indonesia yang bisa seenaknya dapat dan ngelakuin apa pun yang mereka mau.

Buku ini seru banget karena gue seakan ikut tumbuh dan nyaksiin bagaimana karakternya bertumbuh. Lasiah, yang tadinya seorang gadis desa nggak tahu apa-apa, tiba-tiba jadi orang kaya walaupun berstatus istri simpanan pejabat. Nggak dipungkiri dia terlena sama kehidupan kota yang serba mewah, tapi karena dia lahir dan besar di Desa Karangsoga, dia masih pegang nilai dan norma positif khas orang desa. Ini yang bikin dia selamat dari musibah saat pejabat-pejabat itu kena kasus korupsi.

It's quite surprising, bagaimana buku - yang menurut gue nggak terlalu tebal ini - bisa mencakup berbagai latar tempat dan cerita yang detail. Yang menarik juga, gue bisa ambil kesimpulan kalau pendidikan itu penting banget, terutama buat perempuan. Karena kita adalah makhluk lemah yang gampang dimanipulasi. Walaupun kecantikan bisa bawa kita ke arah kemakmuran, tapi dengan pendidikan, kemakmuran itu bisa lebih terarah dan terjaga.

CMIIW!
Profile Image for Risma.
220 reviews
July 11, 2019
Edisi pinjam buku teman masih berlanjut dan pilihan jatuh ke buku Ahmad Tohari lagi.
Yang membuat saya tidak bosan membalik halaman buku Ahmad Tohari adalah deskripsi dari latar alam yang dipilih. Dua buku berhasil saya baca dan keduanya mengambil latar desa dengan penggambarannya yang ciamik. Berasa terbawa ke alam murni. Untuk alur dan tokoh ternyata juga hampir sama: wanita yang begitu memesona hingga diperebutkan banyak lelaki dan pria yang begitu bersahaja dan terpandang. Bedanya buku ini mengambil konflik diantara kehidupan petinggi Jakarta. Cukup membuka mata akan jaring-jaring yang mungkin saja masih ada di kehidupan sekarang juga membuka wawasan akan sudut pandang dari berbagai pihak.
Yang membuat saya kurang terkesan adalah bagaimana kisahnya berakhir tergesa. Perasaan yang muncul karena akhirnya sudah bisa ditebak dari sinopsis di sampul buku. Yah, sinopsis yang membuat saya tahu alur (keseluruhan) kisah ini dengan hanya meninggalkan sejumput akhir yang diceritakan di, bahkan tidak sampai, 30-an halaman. Setelah membaca ini, sudah bisa dibayangkan bahwa target pembaca buku diharapkan para pembaca setia Ahmad Tohari, yang unggul dalam deskripsi latar dan suasana, sehingga tidak masalah kalau membocorkan hampir seluruh cerita di sampul. Dan kalau sudah begini saya nrimo pandum karena saya toh hanya golongan peminjam buku.
7 reviews
October 11, 2019
Penggambaran latar Karangsoga yang amat detail dan malah terkesan membuang-buang kalimat. Namun, penggambaran latar yang detail ini, membuat saya mengenang sebuah desa di lereng perbukitan di daerah Jawa Tengah, kembali mengenang kehidupan di pegunungan. Bagus sekali! Ahmad Tohari hebat dalam hal ini!

Pengulangan inti kalimat seperti "angan Lasi terbawa ke belakang, saat hidup bersama Darsa ,dll" membuatnya justru seperti bertele-tele. Sungguh, terlalu banyak penekanan yang diulang-ulang. Selain detail latar belakang, budaya yang amat kental serta keadaan pada orde baru, terpampang dengan jelas.

Klimaksnya terlalu sederhana. Tak ada kerahasian, tak ada emosi berlebih, dan tak rumit. Terlebih, penyelesaian masalah yang terlalu sederhana dan terkesan terburu-buru. Nasib Bu Lanting? Ahhh, bagaimanapun di antagonis dalam cerita ini. Inti cerita justru lebih saya dapatkan di halaman tengah ke belekang.

Hal yang penting lagi, khusus bagi editor, terlalu banyak typo dalam novel ini, momok serius untuk sekelas editor yang bekerja untuk Gramedia Pustaka ya.

Bagaimanapun, saya berterimakasih kepada segenap karyawan yang telah mau melestarikan karya sastrawan Indonesia. Berharap karya A.A Navis dan Pramoedya lebih banyak yang di cetak.
Profile Image for Suanda Angga.
16 reviews3 followers
May 7, 2021
Bekisar merah, bercerita tentang seorang perempuan bernama Lasi. Lasi dituturkan berparas cantik, berkulit putih, berambut hitam legam. Berbeda dengan kebanyak gadis kampung Karangsoga lainnya, kecantikan Lasi tiada tandingannya. Namun berkat kecantikan tersebut, Lasi mendapat gunjingan tak mengenakkan dari seluruh warga kampung yang menyebutnya Lasi keturunan Jepang. Bahwa ibunya dulu diperkosa oleh tentara Jepang.

Setelah Lasi beranjak dewasa, tak satupun yang mau sama Lasi. Mbok Wiryaji khawatir Lasi tidak kunjung ada yang melamar akhirnya dia memutuskan untuk menjodohkan Lasi dengan Darsa, seorang pemuda yang bekerja sebagai penyadap nira.

Kehidupan rumah tangga Lasi dan Darsa berjalan baik-baik hingga terjadi satu kecelakaan. Darsa jatuh dari pohon kelapa yang disebut warga kampung dengan istilah "kodok loncat" dan Darsa mengalami "mati pucuk".

Pengobatan dilakukan secara medis maupun ke orang pintar. Dan bertemu dengan Bunek (paraji) dan inilah awal dari kemelut dalam hidup Lasi.

Bunek menjebak Darsa untuk "menge-test" pada anaknya yang pincang, Sipah. Dan warga sekitarpun tahu hal tersebut. Pergunjingan terjadi secara brutal. Hingga Lasi memutuskan untuk kabur ke Jakarta.

Di Jakarta, kehidupan Lasi sebagai Bekisar Merah pun dimulai.
Profile Image for Gusfa Putra.
29 reviews5 followers
March 13, 2022
Berkisar merah merupakan gabungan dua buku Ahmad Tohari terbitan Gramedia. Bercerita tentang petualangan hidup Lasi terutama dalam bermasyarakat di kondisi yang berbeda-beda serta cerita orang2 yang ada disekitarnya. Dari cerita-cerita itu sebenarnya kehidupan jaman dulu tidak ada bedanya dengan jaman modern. Aku belajar banyak hal-hal berbau kejawen terselip disetiap ceritanya yang bisa diterapkan dalam hidup.

Menurutku ini merupakan salah satu buku terbaik dari Ahmad Tohari, tapi banyak yang mengatakan cerita dalam buku ini serupa dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Menurut ku tidak demikian, memang khasnya Ahmad Tohari dalam tulisannya menggambarkan keadaan alam asri dan natural di pedalam Jawa baik di Berkisar Merah maupun di Ronggeng Dukuh Paruk tapi alur cerita tidak persis sama.

Konflik yang tergambar di buku ini juga menurutku cukup untuk menggambarkan keadaan sosial masyarakat pedalaman yang terjebak di kerasnya kehidupan kota. Dari segi tulisan dan “wejangan” hidup juga bernas dan masuk ke dalam pikiran pembaca

Jadi, bukan berarti buku ini seperti Ronggeng Dukuh Paruk, memang ciri khas penulisnya yang menggambarkan situasi dan alur cerita yang serupa. Tapi dari segi isi, buku ini menurutku lebih bernas dari RDP.
Profile Image for Dian Maya.
194 reviews12 followers
November 5, 2017
Beli ini hanya karena tidak sengaja nemu di bazar buku obral, iseng comot dengan iming-iming nama Ahmad Tohari di sampulnya. Sebelum ini, sekalipun, saya belum pernah baca karya-karya AT, tapi karena tiap kali jalan-jalan ke toko buku, pasti buku-buku beliau selalu ada di deretan display Best Seller, jadi yah let's try. Dan ternyata hasilnya setelah baca? saya suka! Meski harus saya akui alur kisahnya yang berasa sinetron, tapi yah sudahlah mari kita menilai aspek lain saja. Penokohan, pendeskripsian desa Karangsoga. Pembaca serasa dibawa kembali ke tahun 1960an kala listrik belum masuk ke desa-desa. Eksekusi akhirnya juga pas, tidak terkesan dipaksakan. Mungkin seandainya saya membaca buku ini 5 tahun yang lalu, kala pengetahuan Sastra Indonesia saya masih sangat minim, saya pasti tidak segan-segan memberi 5 bintang. Tapi karena hari ini saya sudah membaca lumayan banyak buku-buku dari penulis-penulisa sastra tanah air, maka saya telah memiliki banyak perbandingan. Well, besok-besok kalau jalan-jalan ke toko buku dan menemukan buku-buku beliau yang lain, saya tidak akan ragu untuk mencomot & membawa ke kasir!
Profile Image for Desmi kurnia.
4 reviews
July 2, 2020
kenapa ya selalu suka tulisannya ahmad tohari, setiap baca tulisan aku selalu tau klo buku ini bagus menurutku nah untuk bekisar merah sendiri di halaman 100an aku baru ngerasa ini memang bagus!!!!!

selalu suka tulisan ahmad tohari mengenai penggambaran latar pada ceritanya, kebnayakan di desa atau suatu daerah gitu, entah kenapa feel nya selalu nyampee seneng bgt!!

sedih fakta kebnaykan mmg bnyak sekali terjadi di daerah perempuan perempuan cantik ini diperjual belikan :'), mereka gak berdaya karna sulitnya ekonomi serta juga kurang nya pengetahuan yang dimiliki.
mudah-mudahan semakin lama pendidikan di indonesia semakin merata. otak manusia itu semua cerdas tapi lingkungan terkadang tidak mendukung terlebih lagi kesulitan ekonomi makin menjadikan momok yang mengerikan.
siapa yang mau hidup sulit ? tentu tidak ada kan ? dikecewakan dan hidup sulit membuat bekisar merah ini pasrah saja menghadapi dan berusaha menikmati kemewahan yang dimiliki walaupun dia sadar itu bukan lah hal yang baik.

akhir kata apa yang bukan miliknya akan hilang juga. "mungkin dasar bukan milik ya"

tulisan ahmad tohari sederhana namun indah :)
Displaying 1 - 30 of 130 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.