What do you think?


Ki Hajar Dewantara
144 pages, ebook
First published January 1, 1985
About the author
Darsiti Soeratman
2 books2 followersProf. Dr. Darsiti Soeratman lahir di Klaten pada tahun 1926 dan memulai perjalanan akademiknya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia meraih gelar sarjana muda pada 1958, di mana pada periode yang sama (1958–1963) ia dipercaya menjadi asisten Prof. Dr. D. C. Mulder untuk mata kuliah Sejarah Peradaban Barat. Setamatnya dari program S1 Sastra dan Kebudayaan UGM pada 1963, ia meniti karier sebagai dosen di IKIP Yogyakarta hingga tahun 1972, sebelum akhirnya kembali mengabdi sebagai dosen di Fakultas Sastra UGM.
Karier akademiknya mencapai puncaknya ketika ia berhasil menyelesaikan program S3 pada tahun 1989. Disertasinya yang monumental, "Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830–1939", menjadi kontribusi penting bagi historiografi Indonesia. Sebagai salah satu profesor perempuan pertama di bidang ilmu sejarah di Indonesia, Darsiti dikenal memiliki cakupan kajian yang sangat luas dan visioner, mulai dari sejarah keluarga, gerakan perempuan, hingga menjadi pelopor pengajaran Sejarah Afrika dan sejarah imperialisme modern di UGM.
Di luar dinding kelas, Darsiti Soeratman juga aktif berperan dalam pengembangan organisasi Wanita Tamansiswa. Sepanjang hayatnya, ia menjadi sosok inspiratif yang membuktikan bahwa perempuan mampu meraih jenjang pendidikan tertinggi dan membangun karier akademik yang cemerlang tanpa mengabaikan perannya dalam keluarga. Dedikasinya melalui berbagai karya tulis dan aktivitas organisasi telah meninggalkan jejak mendalam bagi perkembangan ilmu sejarah dan emansipasi perempuan di Indonesia.
Karier akademiknya mencapai puncaknya ketika ia berhasil menyelesaikan program S3 pada tahun 1989. Disertasinya yang monumental, "Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830–1939", menjadi kontribusi penting bagi historiografi Indonesia. Sebagai salah satu profesor perempuan pertama di bidang ilmu sejarah di Indonesia, Darsiti dikenal memiliki cakupan kajian yang sangat luas dan visioner, mulai dari sejarah keluarga, gerakan perempuan, hingga menjadi pelopor pengajaran Sejarah Afrika dan sejarah imperialisme modern di UGM.
Di luar dinding kelas, Darsiti Soeratman juga aktif berperan dalam pengembangan organisasi Wanita Tamansiswa. Sepanjang hayatnya, ia menjadi sosok inspiratif yang membuktikan bahwa perempuan mampu meraih jenjang pendidikan tertinggi dan membangun karier akademik yang cemerlang tanpa mengabaikan perannya dalam keluarga. Dedikasinya melalui berbagai karya tulis dan aktivitas organisasi telah meninggalkan jejak mendalam bagi perkembangan ilmu sejarah dan emansipasi perempuan di Indonesia.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
February 3, 2026
Review - Biografi Ki Hajar Dewantara
7/10
beberapa bulan yang lalu aku ada ke perpustakaan provinsi, karna disana ga ada buku yang seru jadi aku keliling keliling buat liat liat, nah aku salfok ke buku ini karna covernya menarik (menurutku), jadi aku baca sekali duduk langsung habis sekitar 8 jam....
bukunya isinya mengisahkan kisah hidup bapak ki hajar dewantara aja sih ga ada yang spesial, tapi aku ada speechless ke salah satu kutipan beliau begini
KIRA KIRA BEGINI:
"anak anak sekolah dasar seharusnya jangan diajarin intelektual terlebih dahulu seperti ilmu pengetahuan, alam, sosial, mtk dll. seharusnya ilmu yang mereka dapatkan adalah tentang bagaimana hidup (memasak, mencuci, bersih bersih, dll), dan juga diajarkan seni, agar melatih emosi mereka"
kira kira begini karna aku sdh lupa wkwk..
nah beberapa Hari setelah aku membaca itu, ternyata di negara china sana anak-anak sekolah dasar itu tidak diajarkan ilmu intelektual dan lebih diajarkan cara bertahan hidup seperti yang sudah disebutkan itu.
jadi kenapa Di Indonesia ada bapak pendidikan ki hajar dewantara sudah menyebutkan itu tapi tidak terlaksanakan dan malah di china sana yang melakukannya, why?
tapi selain itu aku juga banyak dapat ilmu cara mendidik anak, kaya, anak waktu masih kecil itu diajarkan seni seperti menggambar, bermain music, bernyanyi agar melatih jiwa dan emosinya.
dan juga orang tua itu guru pertama bagi anak jadi sebisa mungkin masukan ilmu yang berguna. selain orang tua, dan sekolah, pendidikan juga bisa didapatkan dari lingkungan dan organisasi yang diikuti anak jika sudah dewasa..
ki hajar dewantara juga menyebutkan ada 3 tahap dalam belajar, menghapal, memahami, mengajarkan kembali,
menghapal dulu, terus memahami, jika sudah memahami maka ajarkan kembali ke orang lain, agar Mentes apakah Kita sudah paham betul apa yang di pelajari itu.
7/10
beberapa bulan yang lalu aku ada ke perpustakaan provinsi, karna disana ga ada buku yang seru jadi aku keliling keliling buat liat liat, nah aku salfok ke buku ini karna covernya menarik (menurutku), jadi aku baca sekali duduk langsung habis sekitar 8 jam....
bukunya isinya mengisahkan kisah hidup bapak ki hajar dewantara aja sih ga ada yang spesial, tapi aku ada speechless ke salah satu kutipan beliau begini
KIRA KIRA BEGINI:
"anak anak sekolah dasar seharusnya jangan diajarin intelektual terlebih dahulu seperti ilmu pengetahuan, alam, sosial, mtk dll. seharusnya ilmu yang mereka dapatkan adalah tentang bagaimana hidup (memasak, mencuci, bersih bersih, dll), dan juga diajarkan seni, agar melatih emosi mereka"
kira kira begini karna aku sdh lupa wkwk..
nah beberapa Hari setelah aku membaca itu, ternyata di negara china sana anak-anak sekolah dasar itu tidak diajarkan ilmu intelektual dan lebih diajarkan cara bertahan hidup seperti yang sudah disebutkan itu.
jadi kenapa Di Indonesia ada bapak pendidikan ki hajar dewantara sudah menyebutkan itu tapi tidak terlaksanakan dan malah di china sana yang melakukannya, why?
tapi selain itu aku juga banyak dapat ilmu cara mendidik anak, kaya, anak waktu masih kecil itu diajarkan seni seperti menggambar, bermain music, bernyanyi agar melatih jiwa dan emosinya.
dan juga orang tua itu guru pertama bagi anak jadi sebisa mungkin masukan ilmu yang berguna. selain orang tua, dan sekolah, pendidikan juga bisa didapatkan dari lingkungan dan organisasi yang diikuti anak jika sudah dewasa..
ki hajar dewantara juga menyebutkan ada 3 tahap dalam belajar, menghapal, memahami, mengajarkan kembali,
menghapal dulu, terus memahami, jika sudah memahami maka ajarkan kembali ke orang lain, agar Mentes apakah Kita sudah paham betul apa yang di pelajari itu.
March 25, 2011
Buku lawas yang bertunas. Kisah tokoh memang selalu menginspirasi.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews



