Jump to ratings and reviews
Rate this book

LAN

Rate this book
LAN bercerita tentang proses pencarian jati diri sang tokoh utamanya Erlan. Dimana kisah cinta "luar biasanya"nya dengan Maria membuatnya harus berkali-kali "mati". Belum lagi keterkejutannya karena sosok ayah yang selama ini dia cari-cari dan dia rindukan ternyata ada didekatnya. Novel ini berlatar belakang situasi kehidupan beragama di Indonesia tahun 2003. Apakah nilai-nilai "Bhineka Tunggal Ika" itu masih hidup di dalam kehidupan kita? Dan apakah kita masih bisa bertoleransi dengan berbagai perbedaan dan perubahan yang ada? Temukan jawabannya di buku ini?

201 pages, Paperback

First published January 1, 2011

8 people want to read

About the author

Stebby Julionatan

16 books55 followers
Stebby Julionatan. Lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 30 Juli 1983. Mantan Kang Kota Probolinggo 2006, finalis Raka-Raki Jawa Timur 2007 dan Rimata Jatim BPAP 2008. Pendiri Komunitas Menulis (KOMUNLIS). Bergiat di Komunitas Sae Sanget Indonesia (KSSI). Sehari-hari bekerja sebagai staf Diskominfo Kota Probolinggo, penyiar radio dan editor tabloid Suara Kota. Pernah dinobatkan sebagai Penulis Muda Berbakat 2007 atas karyanya “Ku Nanti Hujan di Pucuk Musim Kemarau” oleh Kolomkita. Karyanya yang telah terbit LAN (Bayumedia, 2010), Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali (Bayumedia, 2011) dan Biru Megenta (Ruang Kosong, 2015). Tahun yang sama, Biru Megenta masuk shortlist Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2015. Di 2016, manuskrip puisi Rabu dan Biru, menjadi nominator (5 besar) Siwanataraja Awards. Dapat disapa di @sjulionatan dan untuk berkirim email bisa ke sjulionatan@yahoo.com.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (38%)
4 stars
1 (7%)
3 stars
3 (23%)
2 stars
2 (15%)
1 star
2 (15%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Yonathan.
Author 16 books21 followers
Read
July 30, 2012
Judul Buku: Lan
Jenis: Novel
Penulis: Stebby Julionatan
Penerbit: Bayumedia Publishing
Cetakan pertama: Januari 2011
Tebal: 202 + viii halaman
Ukuran: 12,5 x 19 cm


Resensi Buku


MEMBURU (WAJAH) EKSISTENSI dan REINKARNASI

Oleh: Yonathan Rahardjo


Kata kunci untuk Novel Lan karya Stebby Julionatan adalah cinta, eksistensi, kematian, dan reinkarnasi. Dalam novel ini remaja tanggung Erlan merasa bahwa cintanya kepada Maria adalah sebuah reinkarnasi, yang mana pencarian eksistensi makna cinta dan hidup mereka ujung-ujungnya juga butuh kematian dan reinkarnasi kembali.
Pada bab-bab awal Novel Lan, Erlan sebagai tokoh utama yang cinta malu-malu kucing kepada Maria –yang sebaliknya cinta dengan lebih berani oleh karena budaya berbeda– diceritakan beberapa fragmen kisah hidupnya. Fragmen itu antara lain pertemuan Lan dengan Maria, kegiatan di sekolah, kedekatannya dengan Galih, kerjanya di Om Jaya, dan tentu saja mimpi-mimpinya.
Erlan punya kisah kocak mimpi basah dan mimpi bercinta dengan teman yang tidak diinginkan, diceritakan oleh Stebby Julionatan dengan ketrampilan menulisnya. Munculnya benih cinta kepada Maria pun akhirnya membawa Erlan menyatakan tentang mimpi-mimpinya bersama Maria. Erlan yang melihat dirinya dan Maria dalam mimpi-mimpinya sebagai tokoh-tokoh dari berbagai jaman yang mengalami tragedi cinta ala Romeo dan Juliet, dengan problem-problem dan latar-latar berbeda sesuai jaman masing-masing, menyadari hal ini sebagai reinkarnasi demi reinkarnasi diri mereka.
Mimpi-mimpi –dan ’mimpi sadar’– itu diceritakan sebagai cerita mandiri dalam tujuh (7) bab. Mimpi memang misteri, tapi apa dalam kenyataan ada mimpi serinci itu sehingga merupakan bagian misteri dari mimpi? Agaknya selanjutnya mimpi-mimpi dalam 7 bab itu sudah diterjemahkan dan dilengkapi sana-sini dengan penanggalan informasi, catatan sejarah, selengkap dalam bab-bab ini laksana ensiklopedia umum.
Pengisahan mimpi-mimpi dalam tujuh bab sendiri itu boleh saja dibilang sebagai satu metode penulisan, pembabakan dan pilihan alur. Tampaknya kecenderungan ini berlaku bagi banyak model penulisan oleh berbagai penulis masa kini. Seolah-olah, ketrampilan menulis dan merangkai jalinan kisah sehingga menjadi satu kesatuan benang merah dengan perwatakan, konflik, debaran dan kejutan, dan terutama ketrampilan menulis dalam satu rangkaian hidup dengan kekinian Erlan tidak perlu lagi atau perlu dicari alternatif kontemporer (yang akhirnya juga ketemu benang merahnya, dengan kekuatan berbeda) semacam itu.
Memang itulah yang dianggap contoh sebagai temuan tulisan kreatif yang melepaskan diri dari belenggu penceritaan klasik yang utuh dan jalin-menjalin. Setelah tujuh bab terpisah-pisah itu, untuk kembali ke kehidupan Erlan masa kini yang punya problem cinta terkait dengan reinkarnasi, rupanya penulisannya minim penggambaran intensitas hubungan dengan Erlan, konflik kejiwaan, konflik konsep reinkarnasi yang sama-sama dirasakan keduanya. Malah cerita berbelok ke masalah keluarga Erlan dan papanya yang suami ibu Galih, sahabatnya yang ternyata saudara satu papa ini.
Kemunculan Maria digantikan dengan kemunculan Lita, gadis yang juga mencintai Erlan seperti Maria, bahkan lebih lama dalam bersahabat. Baru setelah itu Maria muncul dengan pengadeganan yang mendebarkan bahkan sampai terjunnya Maria ke laut disusul Erlan. Di sini muncul kilasan-kilasan kalimat kematian dari tujuh bab mimpi Erlan, pun tidak ada penceritaan secara tertulis sebagaimana lazimnya cerita dengan unsur kalimat dan hubungan antar kalimat secara sempurna. Kilasan-kilasan kalimat kematian muncul ala pointer powerpoint, mengiringi adegan Erlan yang terjun untuk menyelamatkan Maria yang tidak muncul-muncul dari dalam air.
Sebelum ditutup, novel menampilkan adegan dan dialog Erlan dan Galih, yang mana Erlan memaknai cintanya bisa menjadi sempurna hanya dengan kematian yang menjadi pintu masuk ke reinkarnasi demi reinkarnasi sebagaimana yang muncul dalam mimpi-mimpinya. Ada semacam pencarian eksistensi makna kehidupan di sini, bahwa makna kehidupan ini baru sempurna dengan adanya kematian untuk masuk kehidupan berikutnya dengan reinkarnasi baru.
Terkait dengan tema utama ini, hukum-hukum reinkarnasi patut dieksplor lagi baik yang pro maupun kontra. Hal ini untuk menghindari kesan reinkarnasi pada tokoh-tokoh dalam tujuh bab mimpi atau penglihatan saat sadar itu bersifat tempelan yang disama-samakan kasusnya terutama dengan konflik cinta yang dialami Erlan dan Maria yang ”tidak berdarah-darah” sebegaimana konflik pada tokoh-tokoh dalam mimpi-mimpi itu.
Memang bila pengetahuan pembaca cukup tentang konsep reinkarnasi, pembaca dapat berpikir –misalnya– reinkarnasi Erlan dan Maria bisa jadi merupakan proses reinkarnasi dengan konflik yang paling ringan dan “tidak lagi berdarah-darah” sebagai penyucian sisa-sisa karma yang ada untuk menuju kesempurnaan. Namun dalam novel Erlan tidak ada jembatan untuk pemahaman penyucian karma ini.
Tentang reinkarnasi yang kontroversial dalam pandangan berbagai agama pun tidak diceritakan konfliknya secara bernas, padahal begitu banyak comotan pernyataan dan penulisan ulang dengan cara bebas dari berbagai agama termasuk yang anti reinkarnasi. Hal ini pun dapat menjadi contoh banyak peluang dan halaman untuk menuliskan hal-hal yang secara langsung berkelindan dengan masalah utama dalam novel ini, gantinya menuliskan hal-hal yang merupakan bunga pengembangan cerita yang makan banyak halaman.
Sementara kecenderungan untuk menggampangkan penyelesaian konflik cinta –yang lemah– dari Erlan dan Maria mungkin juga terkena oleh penyakit tergesa-gesa sang penulis ingin menunjukkan eksistensinya seperti diakuinya dalam kata pengantar bahwa penerbitan novel ini memang bertujuan menunjukkan eksistensi. Mungkin juga ketergesa-gesaan penerbit yang tidak melakukan koreksi pengetikan huruf penyebab munculnya begitu banyak salah ketik yang mengganggu mata.
Penyakit-penyakit ini mencederai hasil penulisan Stebby yang teknik menulisnya yang cukup cerdas dalam hal-hal pokok berbahasa kreatif dan menunjukkan ketrampilan mengolah kata yang secara efektif mencipta kesan dan suasana yang kadang mendebarkan, konyol dan bikin gemas. Mencederai pula penulisan ulang dengan versi sendiri dari berbagai cerita yang dapat dirasakan dan ditebak terinspirasi dari berbagai berbagai sumber legenda dan sejarah atau cerita dan kutipan-kutipan ayat kitab suci, lagu, kata-kata bijak dan sejenisnya (dengan pengakuan jujur dilambari penulisan memakai huruf miring disertai referensi-referensi).
Pentingnya masukan tersebut juga bermakna supaya tidak terjadi cerita salah jaman. Seperti diceritakan dalam salah satu mimpi Erlan, jaman kemerdekaan kok pejuang TNI melawan VOC –yang sudah bangkrut dan berakhir pada tahun 1799–.
Akhirnya, kata kunci untuk resensi ini, teliti, tidak tergesa-gesa, adon kue novel untuk mendapatkan alternatif novel yang lebih kompak dan hakiki, tidak sekedar tampil secara wajah. Karya kreatif memang butuh dan punya banyak alternatif. Novel Lan sudah menempati porsi salah satu alternatif dan masih banyak model alternatif yang dapat dimunculkan dari berbagai keberagaman potensi.
Bila ingin karya kreatif menjadi master piece, apapun pilihan dari berbagai alternatif itu mesti mampu menggocang pikiran, perasaan dan kehendak. Butuh kemampuan analitik, sintetik dan kritis yang boleh dikata merupakan asumsi metodologi bidang kesusastraan sebagai bagian dari humaniora dan dapat dimiliki melalui proses secara terus-menerus.
Profile Image for Calvin.
Author 4 books154 followers
April 10, 2011
Novel ini bercerita tentang cerita cinta yang lumayan tragis. Cerita dibuka dengan sang protagonis (Erlan) yang mengalami mimpi aneh kepada sahabatnya. Tidak lama kemudian dia berkenalan dengan seorang gadis siswa pindahan dari Yunani bernama maria.

Di setengah novel ini akan ditemukan cerita-cerita yang tampak berdiri sendiri tapi memiliki motif serupa, yaitu tentang cerita cinta yang tak kesampaian. Kita dibawa ke Yunani, Machu Pichu, China, dll untuk melihat siklus reinkarnasi sang protagonis dan kekasihnya.

Setelah berkelana ke masa lampau, kita kembali ke masa sekarang di mana Erlan harus memutuskan untuk memilih, dan dia memilih Maria dan kembali mengalami siklus tragis yang tak berakhir.

Cerita novel ini sebetulnya cukup sederhana tapi dibalut dengan pola yang cukup unik. Narasi mimpi dipakai untuk menjelaskan latar hubungan kedua protagonis tanpa penjelasan lebih panjang lagi sehingga cerita di masa sekarang bisa berlanjut dengan natural. Diksi dan teknik penceritaan sang penulis juga cukup enak dibaca, mengalir lancar dan tanpa tersendat-sendat.

Satu-satunya komplain saya adalah jumlah halamannya yang sangat tipis dan alur cerita yang terlalu cepat. Titik klimaks novel ini tidak greget, karena ada lagi satu subplot tentang masalah keluarga Erlan (archetype: Atonement with Father). Karakterisasi dan hubungan antar karakter sebenarnya bisa digali lebih dalam lagi sebelum novel tiba-tiba berakhir.

Hubungan yang terjalin antara Erlan dan Maria menjadi kurang terlihat karena minimnya interaksi antara kedua protagonis. Teknik dreamframe yang dipakai untuk mengindikasikan hubungan kedua protagonis tidak dimasukkan lagi saat berada di masa sekarang sehingga adegan-adegan tersebut menjadi tidak efektif.

Terlepas dari kekurangannya, saya sangat menikmati membaca novel ini dan berharap pengarangnya terus berkarya, dan moga-moga karya berikutya tidak pelit halaman.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
April 4, 2011
REINKARNASI TAK HARUS DITANDAI DENGAN KEMATIAN TUBUH
Oleh: Sonea Harry *)

Judul Buku : LAN
Penulis : Stebby Julionatan
Penerbit : Bayumedia Publishing
Edisi : Cetakan 1 – Januari 2011
Tebal : 202 + viii halaman
ISBN : 978-602-97763-7-9

Menjadi dewasa memang tidaklah gampang. Ada proses yang harus dilalui oleh seorang anak manusia, menjadi remaja, anak di usia tanggung. Mungkin hal itulah yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel ini. I’m not a boy not yet a man. Selain perubahan fisik, menjadi seorang anak usia tanggung menuntutnya untuk menjalani proses pencarian jati diri. Dan pencarian jati diri ini tentu tidaklah mudah, ada banyak masalah, kendala dan persinggungan dengan berbagai pihak yang harus dihadapi dengan cara yang dewasa.

Di awal bab, dibuka dengan pertemuan Erlan dan Maria, ketika Erlan bingung tidak menemukan angkutan umum yang akan mengantarnya pulang. Maria yang diam-diam memperhatikan Erlan sejak kedatangannya ke Indonesia untuk mengikuti pertukaran pelajarr, menghampiri Erlan dan menawarkan tumpangan kepadanya. Namun ternyata pertemuan yang singkat itu, mampu membuat keduanya jatuh cinta. Ternyata itu bukan pertemuan pertama bagi mereka. Di kehidupan mereka terdahulu, mereka pun pernah bertemu (baca: berulang kali bertemu, bahkan sengaja dipertemukan dan lalu dipisahkan).

“Inilah harga yang harus kami bayar, bahwa satu-satunya jalan menempuh kehidupan milik sendiri adalah dengan kematian.” Kematian (baca: reinkarnasi) tidak selalu identik dengan kematian fisik. Reinkarnasi, proses kematian menuju pada sebuah kehidupan kembali, bisa juga berlangsung pada pikiran manusia. Untuk mengalami, untuk belajar mengenali, dan untuk tahu tentang siapa diri mereka sebenarnya, ternyata memang mereka, Erlan dan Maria, berulang-ulang kali harus mati. Di sini kita seakan diingatkan sebuah istilah Zen “kosongkanlah cawanmu”. Penuh itu kekosongan dan kosong adalah sebuah kondisi yang penuh. Dengan kata lain, jika kita ingin belajar, atau katakanlah mencari siapa sebenarnya jati diri kita, maka selayaknya kita bersikap seperti seorang anak kecil yang polos, yang belum mengetahui apapun, sehingga kita bisa memahami segala sesuatunya, pelajaran yang diberikan Hidup dengan lebih baik.

Bagi pembaca awam, kesulitan yang akan segera kita temui saat membaca novel ini adalah pada bab-bab yang dimasukkan oleh penulis seperti bagian (baca: sub-bab) dari bab pertamanya, Di Sudut Pikiran. Dari Bab II hingga Bab IX, terkesan seperti cerita, kumpulan cerpen, yang berdiri sendiri dan keluar dari tataran alur novel ini. Tapi ketika kita kembali cermati di Bab XV, Kebenaran Itu Kini Terungkap, baru kita memahami benang merah yang ditawarkan penulis saat Erlan berusaha menyelamatkan Maria yang tengah tenggelam.

Selain itu pemakaian gaya bahasa yang digunakan oleh Erlan, Maria, Galih dan tokoh-tokoh lainnya yang ada dalam novel tersebut, terkesan mendahului usianya. Memang tidak aneh, ketika ada seorang remaja yang berpikir dan berpenampilan mendahului usianya, namun itu hanya 1001 saja. Apalagi bagi remaja yang termasuk ke dalam kriteria Z Generation (sebuah istilah yang digunakan oleh William Strauss dan Neil Howe untuk mewakili lahirnya sebuah generasi), bahasa yang umumnya mereka gunakan cenderung lebih alay bin narsis.

Secara umum, LAN merupakan novel yang wajib untuk dibaca, apalagi bagi yang menyukai karya sastra dengan genre surealis dan tema pencarian jati diri seperti ini. Disamping itu ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika melihat salah satu dari sekian banyak anak muda di Kota Probolinggo yang dengan begitu bangganya memperkenalkan kota kita tercinta ini ke dalam sebuah karya sastra. (Ne’)

*) Peresensi adalah pembaca dan penikmat buku
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.