Jump to ratings and reviews
Rate this book

Romusa: Sejarah yang Terlupakan

Rate this book

157 pages, Paperback

First published January 1, 2008

1 person is currently reading
43 people want to read

About the author

Hendri F. Isnaeni

17 books12 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (40%)
4 stars
5 (33%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
3 (20%)
1 star
1 (6%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for ukuklele.
462 reviews20 followers
February 18, 2020
Buku ini disusun dari dua hasil penelitian dua penulisnya. Masing-masing berupa karya tulis ilmiah berjudul Rekonstruksi Sejarah Romusa di Banten Selatan 1942-1945 oleh Hendra F. Isnaeni, serta tugas akhir kuliah berjudul Romusa di Pertambangan Bayah Banten Selatan Tahun 1942-1945 oleh Apid. Hasil penelitian yang pertama menjadi pemenang kedua Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) XXXVI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang mana berarti penulisnya saat itu masih duduk di bangku SMA!

Memang, setelah membaca keseluruhannya, dapat saya simpulkan bahwa buku ini cukup sederhana. Kalimat-kalimatnya tidak sulit lagi berbelit-belit. Penjelasannya mudah dicerna. Tebalnya pun hanya 157 halaman. Dengan begitu, layaklah buku ini apabila menjadi bacaan siswa SMA.

(Lain dengan buku sejarah Indonesia sebelumnya yang saya baca; walaupun tercetak jelas bahwa bacaan tersebut diperuntukkan bagi siswa SMU, tapi beratnya bukan main!)

Malah, sebenarnya, cetakan yang saya baca ini dipinjam dari perpustakaan SMA tempat ibu saya bekerja. Di halaman depan pun ada nama, kelas, tanda tangan, serta tanggal, yang sepertinya menunjukkan bahwa buku ini merupakan sumbangan siswa.

Walaupun relatif sederhana, namanya juga berdasarkan pada karya ilmiah, buku ini dilandasi sumber-sumber tepercaya. Penulis benar-benar mewawancarai beberapa mantan romusa yang masih hidup, yang pada masa pendudukan Jepang itu masih pada berusia belasan tahun!

Di samping itu, secara efisien buku ini efektif memberikan kesan sadis sekaligus tragis yang menimpa para romusa. Bagian awal yang menceritakan tentang Perang Pasifik, penyerahan Belanda kepada Jepang, dan sebagainya, memang agak kurang masuk, sebab pemaparan cenderung kering. Tapi begitu masuk ke proses perekrutan romusa dan seterusnya, perasaan mulai teraduk-aduk.

Betapa getir mengetahui nasib yang demikian buruk seperti di neraka, ketika saking susahnya orang tidak bisa peduli kepada sesama. Perasaan serupa saya alami ketika membaca Berhaji di Masa Kolonial . Suatu segmen dalam sejarah yang sarat akan kisah penderitaan manusia begini, sepertinya akan lebih mengaduk-aduk emosi apabila ditata secara dramatis dalam bentuk novel atau film--yang mudah-mudahan banyak yang kuat mengikutinya.

Kisah orang-orang biasa pada masa lalu itu menginsafkan akan betapa nyamannya hidup pada masa kiwari. Contohnya saja, untuk berhaji sekarang ini, kita tidak perlu lagi berdesak-desakan dalam kapal hingga berbulan-bulan dengan fasilitas yang demikian terbatas. Contohnya lagi, betapa berkelimpahan kita kini dengan pakaian murah tapi nyaman, sedangkan para romusa hanya punya selembar tanpa pernah ganti sampai berbulan-bulan. Dengan hal-hal seperti itu, buku semacam ini dapat menjadi bahan renungan.

Kalaupun ada kekurangan pada buku ini, paling-paling sebagai berikut.

1) Data yang menimbulkan pertanyaan.

Yang pertama, di halaman 38, disebutkan bahwa angka kematian di Purworejo pada masa pendudukan Jepang itu mencapai 224%. Saya tidak mengerti bagaimana kematian yang mencapai 224% itu. Kalau angkanya 100% saja, bukankah itu sudah berarti semua penduduk dalam satu daerah itu pada mati? Lalu dari mana yang 124% itu?

Yang kedua, di halaman 84, disebutkan bahwa perekrutan tenaga romusa yang terampil mensyaratkan ijazah MULO (setingkat SMP) atau HBS (setingkat SMA), sedangkan Tan Malaka (yang kerap dijadikan sumber sekunder dalam buku ini) dapat lolos seleksi dengan nama samaran Ilyas Husein; apakah ijazahnya palsu?

2) Tidak adanya indeks. Ada berbagai istilah Jepang yang dipakai. Istilah itu biasanya diberikan pengertiannya pada waktu pertama kali disebutkan. Namun, kerap kali saya tidak langsung ingat saat pertama kali membacanya. Saat istilah tersebut berulang pada halaman-halaman selanjutnya, saya pun menjadi penasaran dan mesti membalik-balik ke belakang sembari memindai untuk menemukan pengertiannya. Istilah yang kerap muncul itu misalnya saja Kempetai untuk Dinas Polisi Rahasia (pengertian di halaman 33) serta Romukyokai atau biro tenaga kerja (halaman 90). Daripada memindai halaman demi halaman ke belakang, tentu akan lebih mudah mencari kemunculan istilah tersebut apabila disediakan indeks.

___

Buku ini hanya mengambil sekelumit dari sejarah romusa, dengan menampilkan contoh kasus yang ada di Bayah, Banten Selatan. Kenapa Bayah? Kebetulan kedua penulis sama-sama alumnus SMA Negeri 1 Malingping, Banten, tapi berbeda angkatan. Yang terjadi di Bayah saja begitu, apalagi yang terjadi di daerah lainnya yang lebih jauh.

Bayangkan saja, dipaksa atau ditipu untuk bekerja di tempat yang sangat jauh seperti di luar pulau bahkan di luar negeri--seperti budak yang dibawa dari Afrika ke Amerika. Banyak romusa yang akhirnya putus asa untuk dapat kembali ke kampung halaman, atau malah mati dalam pelarian. Sekilas saja buku ini menyebutkan kisah romusa paling fenomenal yang terjadi di Thailand dan Burma (Myanmar), yang menginspirasi novel dan film Bridge Over the River Kwai. Sebagian dari romusa itu dari bangsa kita.

Lebih dari 80% dari sekitar 300.000 warga kita yang ikut romusa ditengarai meninggal. Hanya sekitar 20% yang selamat dengan kondisi cacat--seolah dilupakan (atau mungkin sengaja dilupakan.(halaman 136)


Jepang memang terkenal sebagai bangsa yang gila kerja, dan "mengajak" bangsa lain untuk demikian pula. Sampai belakangan pun fenomena "kerja sampai mati" atau karoshi masih terjadi di negara itu. Di awal buku ini, dijelaskan sendiri tentang kondisi alam Jepang serta keadaan penduduknya yang mengakibatkan kerasnya hidup di sana. Memang pada umumnya ekspansi kolonial didorong oleh faktor ekonomi.

Bagaimanapun juga, aturan "kerja atau mati" agaknya dapat berlaku di mana saja dan kapan saja. Tanpa bekerja, orang tidak bisa mendapatkan uang untuk membeli makanan. Belum tentu ada yang akan berbelas kasihan memberikan makanan secara cuma-cuma, apalagi dalam keadaan yang serbasulit. Yang dapat menghentikan orang dari bekerja hanyalah ketika badannya benar-benar sudah tidak sanggup digerakkan lagi. Setelah itu, dia hanya mampu diam menunggu kematian.

Secara tidak langsung, buku ini menginsafkan betapa kesulitan dapat mengeraskan hati manusia, menghalanginya untuk jadi pengasih dan penyayang, sehingga menciptakan kehidupan seperti di neraka.
Profile Image for Marina.
2,041 reviews359 followers
January 14, 2015
** Books 07 - 2015 **

Buku ini untuk memenuhi New Authors Reading Challenge 2015

"Pertambangan Batu bara Bayah, Banten Selatan telah menjadi bukti bagaimana nyawa manusia telah ditukar dengan satu dua kilo batu bara Jepang selama 3,5 tahun menjajah. Namun, waktu selama itu lebih dari cukup bagi Jepang untuk mengubur puluhan ribu orang romusa penambangan batu bara serta pembuatan rel kereta Api Bayah-Seketi untung mengangkut batu bara, diperkirakanSejarah romusa yang memakan korban kurang lebih 93.000 orang menggantikan arang hitam yang diangkat dari perut Bumi Bayah, sebuah ironi yang memilukan dalam perjalanan sejarah bangsa

Sejarah romusa yang paling fenomenal adalah romusa yang dipaksa membangun rel kereta api di Thailand dan Myanmar lebih 80% dari sekitar 300.000 warga kita yang ikut romusa ditengarai meninggal. Hanya sekitar 20% yang selamat dengan kondisi cacat-seolah dilupakan (atau mungkin sengaja dilupakan). Sejarah ini mendapatkan porsi yang sedikit dalam pengisahan dan pelajaran sejarah bangsa" (Halaman 135-136)


Buku ini memuat informasi dan pengetahuan tentang romusa yang sebelumnya saya tidak ketahui mulai dari wiayah kerja romusa di Bayah, jenis romusa yang memiliki keahlian/tidak, jika tidak punya keahlian masih dibagi menjadi romusa yang memiliki kondisi badan lemah, sedang dan kuat (WHAAT!), hingga sistem upah yang diterima oleh romusa. Selain itu saya sempat terkejut bahwa Tan Malaka pernah mendapat akses langsung informasi dari petugas administrasi di Bayan mengenai romusa disana.. Saya baru teringat kalo di buku yang berjudul Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan keluaran Tempo pernah menyebut-nyebut soal ini cuma dibuku ini dijelaskan lebih mendetailnya..

Buku ini saya berikan 3,8 dari 5 bintang!
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.