The dark alleys of the Shinjuku District in Tokyo are filled with uncontrollable crime. Citizens seek the help of the City Hunter, a sure shot professional gunman who never misses his target with his Colt .357 magnum.
Tsukasa Hojo (北条司 Hōjō Tsukasa, born on March 5, 1959, in Kokura, Kitakyushu, Japan) is a Japanese manga artist. He studied technical design while still at Kyushu Sangyo University, where he began to draw manga. He worked on several one-shot stories before releasing his serialized works: Cat's Eye, City Hunter and Angel Heart.
Hojo claims that he really did not have any inspiration for these works other than having to meet a deadline. He says he wrote down a few things, he thought about a few things, and one day the ideas just came to him, out of thin air. In reality, the process was a lot more complicated, with editors involved, but fans got the benefit of Hojo's sense of adventure and humor.
After the success of Cat's Eye and City Hunter, Hojo went on to work on other series such as Family Compo. His current ongoing series is Angel Heart, a spinoff of City Hunter set in an alternate universe. It has been serialized in the Weekly Comic Bunch since 2001 and 30 collected volumes has been published so far.
Tsukasa Hojo is Takehiko Inoue's mentor. Inoue worked as an assistant to Hojo during the production of City Hunter. Hojo is also a long-time acquaintance of Fist of the North Star illustrator Tetsuo Hara, who was also one of the founders of Coamix. Hojo contributed to the production Fist of the North Star: The Legends of the True Savior film series by designing the character of Reina.
He was honor guest of the eleventh French Japan Expo which was held in July 2010.
Di buku ini, untuk pertama kalinya tokoh Saeko Nogami muncul. Inspektur Polisi dari Unit Penyelidikan Khusus Prefektur Shinjuku ini adalah tokoh wanita lajang yang kelak akan menjadi salah satu sosok yang berpengaruh dalam cerita City Hunter. Diceritakan di sini bahwa Saeko (yang entah kenapa dalam terjemahan Indonesia dulu diterjemahkan menjadi Keiko) dan Ryo Saeba sudah kenal lama. Saeko sudah beberapa kali mengontrak City Hunter dengan misi yang selalu sukses. Tapi Saeko juga pintar mengelabui Ryo sehingga di akhir misi "upah kontraknya" selalu berhasil Saeko hindari. Saeko adalah komandan polisi wanita yang cantik namun galak. Ia ditakuti oleh anak buahnya. Ia digambarkan sebagai wanita jagoan yang mandiri. Di sini terlihat bahwa Tsukasa Hojo boleh dikatakan pandai menciptakan perwatakan untuk tokoh komiknya di cerita City Hunter.
Untuk yang pernah membaca komik City Hunter sampai selesai, dan juga sudah pandai memisahkan antara ke-vulgar-an (faktor yang membuat komik ini biasanya tidak jadi dibaca) dan alur cerita, kekuatan kisah duo pasangan City Hunter Ryo Saeba dan Kaori Makimura ini justru sebenarnya terletak pada drama antarpribadi tokoh-tokoh di dalamnya yang didukung oleh perwatakan yang kuat dari setiap tokoh. Perwatakan para tokoh di komik ini terus berkembang seiring jalannya waktu. Saeko Nogami, misalnya, meskipun di awal-awal seri ia digambarkan sebagai sosok wanita mandiri yang tangguh, pada kisah-kisah selanjutnya (ini sebenarnya semacam spoiler juga) sisi kepribadiannya yang lain sebagai wanita yang mulai berumur dan hidup kesepian perlahan-lahan akan dimunculkan oleh pengarang (mereka yang juga membaca komik Angel Heart, serial spin-off dari City Hunter yang dibuat oleh pengarang yang sama akan tahu soal ini). Mereka yang kelak menjadi "sahabat-sahabat setia" City Hunter dalam seri komik ini bahkan bisa mengalami perubahan yang ekstrem dalam hidup mereka. Barangkali, karena unsur drama inilah, maka komik ini juga dimasukkan ke dalam komik berkategori roman.
Dari segi cerita, di komik ini juga pertama kalinya City Hunter terlibat dalam kasus yang melibatkan krisis politik sebuah negara. Jadi, City Hunter bukan melulu cerita detektif yang hanya menangani kasus-kasus pribadi. Tanpa sengaja, biasanya Ryo dan Kaori akan terlibat dalam krisis suksesi sebuah negara atau kerajaan yang anehnya Tsukasa Hojo, si pengarang, bisa berhasil membuat kisah politik itu menjadi menarik dan tidak membosankan walaupun kadang-kadang hal itu dilakukannya dengan menciptakan sosok antagonis yang benar-benar aneh seperti dalam nomor ini. Saya sampai bertanya-tanya, apa benar ada orang yang sedemikian alerginya terhadap laki-laki sehingga jika dalam jarak beberapa meter darinya ada laki-laki maka akan bermunculan semacam jerawat pada tubuhnya?
Otro tomito (son finos) de City Hunter que cae, y de nuevo tenemos una historia principal que nos ocupa la práctica totalidad del mismo, mientras que el cierre nos sirve de presentación para la
siguiente.
Lo primero que llama la atención del tomo en sí es la presentación de un nuevo personaje femenino: una miembro del cuerpo de policía japonés que se camela al protagonista prometiéndole sexo a cambio de trabajo (algo que parece llevar haciendo tiempo y que no cumple).
Quitando lo tonto que es el protagonista, el tomo se las apaña para mostrarnos una historia chula en una especie de palacio rodeado de un harén de mujeres soldado: humor, acción y momentos absurdos a partes iguales para que Ryo desborde carisma.
Y el cierre es una historia que seguro nos ocupará gran parte del siguiente tomo, con una crupier metida en una guerra entre familias mafiosas.
Como mejor funciona City Hunter es con Ryo rodeado de mujeres, ese tipo de bromas son las que le funcionan, mezcladas siempre con momentos serios y tramas de novela negra un poco suavizadas. Si entras en su juego lo disfrutas, si te pones a mirarle las costuras se las ves. Personalmente siempre elijo no mirarle las costuras a nada, dejarme llevar por lo que me proponen e intentar disfrutar. Aquí lo consigo.