Twitter membawa buah pikiran baru tentang kreativitas. Ia mengalir pelan dalam 140 karakter, lalu berakhir dengan ledakan dashyat. Ledakan-ledakan meletup di ranah twitter setiap detik. Berbagai komunitas lahir di Twitter. Salah satunya adalah komunitas @fiksimini.
Lima penulis di sini, Erdian Aji, Novita Poerwanto, Oddie Frente, Kika Dhersy Putri, Andy Tantono, adalah individu yang memiliki pekerjaan yang berbeda-beda. Namun dalam jejaring media sosial ini, mereka bertemu dan berinteraksi, baik secara personal maupun kolektif di komunitas @fiksimini. Dari sana, embrio imajinasi pun lahir dan memacu gairah dalam menulis “di luar kotak” mereka.
140 karakter hanyalah benih. Gagasan yang masih harus dibentuk ulang lagi menjadi karya. Lima penulis ini melebarkan kalimat-kalimat singkat di Twitter mereka. Dari hanya 140 karakter menjadi kumpulan fiksi dan film pendek. Siapa bilang ide itu susah dicari? Siapa bilang menulis itu sulit? Baca saja buku ini dan lihat bagaimana dari 140 karakter bisa menghasilkan pelangi cerita.
Sinopsis Berawal dari gagasan 140 karakter di Twitter, 5 orang (Erdian Aji, Novita Poerwanto, Kika Dhersy Putri, Andy Tantono, dan Oddie Frente) yang berbeda latar belakang mengembangkannya menjadi cerita superpendek yang disebut fiksimini. Dengan batasan tema cinta dan cemburu (sesuai judulnya: Cemburu Itu Peluru, yang diambil dari salah satu judul fiksimini dalam buku ini), kelimanya menyajikan kisah-kisah mini yang memiliki perspektif cukup luas seluas arti cinta itu sendiri.
Bahkan dengan sebuah cerita superpendek itu, mereka mampu mengembangkannya lebih jauh menjadi film pendek yang tentunya disertakan juga di buku ini dalam bentuk DVD. Maka dengan disatukannya minat kelima penulis yang berbeda latar belakang itu dalam sebuah komunitas @fiksimini hingga menjadi sebuah buku, terciptalah sebuah bentuk sastra modern yang terdiri dari 97 cerita superpendek dan 1 DVD yang berisi 9 film pendek yang cukup menarik.
Endorsement “Kata demi kata yang terangkai (dalam fiksimini) menjadi kumpulan cerita superpendek dijamin bikin anda senyum-senyum sendiri atau malah bergidik ngeri. Beberapa bahkan menyisakan tanda tanya dan rasa penasaran sepanjang hari. Singkat, namun membekas.” (Femina)
“Fiksimini di Twitter memang menyusupkan kesegaran di tengah dunia sastra Indonesia yang nyaris kehilangan gagasan.” (Kompas)
Opini Bukan pertamakalinya status Twitter dibukukan. Mari kita lihat lagi T[w]ittit! (Djenar Maesa Ayu) dan Kicau Kacau (Reza Herlambang). Keduanya juga merupakan kumpulan cerita pengembangan dari status 140 karakter itu. Namun di buku ini, saya melihat perbedaan yang sangat kontras dengan kedua buku di atas, yaitu format pengembangan ceritanya tidak berupa cerpen melainkan fiksimini (flash fiction). Fiksimini adalah cerita yang superpendek dan lebih pendek dari cerpen. Jika dikemas dengan bagus, maka kisah-kisah fiksimini akan menimbulkan kesan yang sangat kuat karena jika cerita itu memiliki kejutan di akhir cerita, kejutan itu datang dengan begitu cepat sebelum pembaca bisa menebaknya. Inilah menarikanya buku ini, karena cerita-cerita di dalamanya bisa membuat kita mendadak terkejut, tersenyum, sedih, merenung bahkan bertanya-tanya.
Kelima penulis dengan latar belakang yang berbeda itu mengembangkan 140 karakter itu menjadi fiksimini dengan ciri khasnya masing-masing. Saya paling menyukai karya-karya Oddie Frente yang sebagian besar fiksimininya cukup mnearik dengan ending yang mengejutkan. Judul yang paling saya suka dari masing-masing penulis adalah: Istriku si Mesin Tanya (Oddie Frente), Susi yang tak Susi (Kika Dhersy Putri), Di Doa Ibuku (Andy Tantono), Dim Sum Bersama Suamiku (Novita Poerwanto), Rindu di Oktober (Erdian Aji).
Buku ini dilengkapi dengan DVD yang berisi 9 film pendek. Diantara film-film itu adalah visualisasi dari ceita di bukunya. Sehingga akan lebih memperjelas kisah-kisah yang masih membingungkan dan ambiguitas yang abu-abu. Filmnya sendiri dibuat dengan sangat sederhana. Dan rasa-rasanya kualitas dari filmnya sendiri tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Terkesan tidak rapi jika dilihat secara keseluruhan. Akan sangat bagus jika filmnya dibikin lebih rapi dan lebih berkualitas.
Secara keseluruhan, inilah bentuk sastra modern yang paling saya suka. Begitu singkat dan sangat kuat.
Favorite Quotes “Memori. Kubuang semua yang telah usang membusuk. Aku malu terbaca oleh Tuhan saat mati.” (hal. 47) “Jangan tanya apa saja yang kuingat. Coba ingat apa saja yang kau rasa.” (hal. 119) “Satu kalimat sederhana yang tidak sederhana. Kamu luar biasa!” (Hal. 142)
Keren, aku suka ending ceritanya yang ga mudah ditebak. Malah ada beberapa cerita yang aku ga ngerti maksudnya :-) entah karena aku nya yang lemot atau permainan katanya yang ngejebak aku.
Tulisan-tulisan Andy Tantono kebanyakan fiksi horor. Kalo baca di rumah malam-malam dan sendiri pula, bisa bikin parno. Kisah-kisahnya ada kisah percintaan biasa, cinta sesama jenis, ada tentang waria. Pokoknya 5 penulis ini menuliskan cerita-ceritanya dengn permainan kata yang menarik. Salut deh sama penulis-penulisnya. Apa aja yang ada di sekitar kita bisa dijadiin bahan tulisan, benda-benda matipun bisa dibikin hidup.
Banyak hentakan di hati juga pikiran, tapi banyak pula lipatan di dahi dengan segala rasa bingung.
Setidaknya, itu resiko baca kumpulan flash fiction, menurutku. Ada beberapa yang butuh dibaca ulang demi cari kesimpulan cerita (walaupun ada juga yang tetap bikin bingung), tapi juga banyak tulisan yang bikin terpesona.
Andy Tantono, dengan cerita yang lebih banyak suramnya. Terfavorit, "Den Aksan" dan "Foto Keluarga di Ruang Tamu".
Erdian Anji, tulisannya lebih banyak yang bahas perihal cinta. Favoritnya jatuh di "Pengakuan Seorang Pengecut" dan "Harga Sebuah Loyalitas".
Novita Poerwanto, mayoritas tentang perjalanan manusia dengan segala bentuk konflik hati. Terfavorit, "Dua". "Hati yang Sepakat" juga keren!
Kika Dhersy Putri, ide ceritanya random. Paling favorit "Sumpit vs Sendok Teh", juga judul yang dipakai buat buku ini, "Cemburu itu Peluru".
Oddie Frente, randomnya di seputar benda mati. Jendela, singkong rebus, stoples. Bukti kalau bercerita tidak melulu soal sesuatu yang hidup. Yang favorit? "Lelaki di Atap Malam" dan "Lie Mei Fong".
Kalau lihat tahun terbitnya, 2011, mungkin memang cukup terlambat baca buku ini. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?
Awalnya saya tertarik dengan cover berkalimat "tentang kisah lima hati" dan ingin tahu lebih jauh tulisan2 dari penulis @fiksimini. Setelah selesai membaca dan menonton film-film pendeknya,menurut saya keduanya sama2 'minim':minim dengan kata. Mungkin ini menyesuaikan dengan konsep @fiksimini yang juga minim dengan kata (baca:140 karakter). Konsep ini sebenarnya menarik untuk saya. Karena pembaca bukan hanya 'didikte' dengan kalimat2 lengkap dan mendetail, tetapi mengajak pembaca 'lebih pintar' untuk mengartikan sebuah tulisan pendek. Poin plus lainnya ada pada judul dari tiap cerita. Unik dan rasanya 'berbeda'. Beberapa cerita sempat membuat saya ketawa maupun mengernyitkan dahi (hehe) seperti Sumpit Vs Sendok Teh dan Detik.Tik.Dor! Secara pribadi saya kurang mendapatkan 'sesuatu' dari buku ini (ya,memang saya belajar lebih untuk sastra), namun mungkin butuh lebih lama lagi waktu untuk saya menyukai buku sejenis :). Di sisi lain saya mengagumi penulis-penulis cemburu itu peluru yang ber-passion menulis disamping pekerjaan profesional mereka yang lain. Mulai menyukai buku ini setelah mencoba menulis flash fiction!:)
Seorang kawan merekomendasi saya untuk membaca buku ini. Ide yang menarik untuk menggabungkan kisah-kisah kecil di dalam satu buku dari lima penulis yang berbeda. Penulis favorit saya adalah Kika Dhersy Putri, yang entah apakah dari pengalaman pribadi atau melalui studi kasus yang sangat brilliant, membawa saya merasakan kepedihan beberapa karakter ciptaannya.
Baiklah, ini adalah daftar fiksi mini dari buku ini yang menjadi favorit saya: Sebatang Rokok yang Jatuh Cinta pada Bibir Penghisapnya - Oddie Frente; Baby Blues - Kika Dhersy Putri; Di Doa Ibuku - Andy Tantono (saya suka caramu terobsesi dengan kematian); Rindu di Oktober - Erdian Aji (saya suka memperhatikan pattern dan keganjilannya ketika ada yang berbeda).
Sayapun sempat terkejut mendapat sebuah keping DVD yang ternyata berisikan beberapa film pendek yang diangkat dari karya para penulis ini. Favorit saya tetap tidak berubah di sini: Kika Dhersy Putri dengan Detik. Tik. Dor! (sinematorafi yang eksotis! Nyumss).
Bagusnya ketika membaca fiksi mini adalah, cerita yang dituturkan tidak membutuhkan kalimat panjang. Bukan berarti fiksi mini tidak memiliki diksi yang indah, hanya saja cerita-cerita itu dipaparkan secara singkat. Dan bagusnya lagi, beberapa penulis yang ada dalam buku ini menuturkan ceritanya dengan karakter tulisannya masing-masing.
Aku menemukan padanan kata yang cerdas dan tertata rapi, berani, indah, mencekam, dan keseluruhannya memberikan satu dan satu cerita utuh hanya dalam beberapa paragraf.
Ada satu cerita yang membuat aku merasa sedikit lucu, tapi juga berpikir keras, ada pula yang membuat aku ketakutan, dan juga merinding tak keruan. “Panen Angin” yang menyimpan makna tersendiri bagi aku. Lalu ada “Pada Sebuah Lidah” yang begitu menggoda dan menggiurkan Dan ada beberapa fiksi mini lainnya yang membawa cerita nya sendiri-sendiri.
p.s. Di buku ini, ada pula beberapa kisah yang mencekam dan begitu menakutkan. Sangat menakutkan hingga aku bersyukur apa yang aku baca adalah fiksi, dan mini pula.
berawal dari suatu komunitas sastra dunia maya bernama fiksimini (tsaelah bahasannya :P) lahirlah lima orang sangat berbakat ini. kelimanya punya ciri khas tulisan masing-masing yang baru keliatan setelah berkali-kali membaca. namun yang ketara adalah tulisan mas Anjiiii yang irit kalimat dan banyak di permainan tulisan, namun tak melupakan content.
buat yang sudah familiar dengan fiksimini, tentunya ga susah mencerna seluruh tulisan yang ada di buku ini. tapi buat yang masih awam, mungkin perlu pendalaman terhadap cerita-cerita yang tersaji.
anyway, bonus DVD nya sangat keren dan satu 'pengenalan' lebih dalam lagi terhadap komunitas fiksimini, yang ternyata tak hanya terbatas pada karya sastra tapi juga film (dan lagu)
saya harap mereka tak berhenti sampai di sini dan terus menghasilkan cerita-cerita lainnya
Akhirnyaaa.. setelah setahun lebih, baru bisa menamatkan baca buku ini. Padahal cuma 160 halaman, lho. Hahaha...
Dan, yaa... sedikit review. Pantesan cerita2nya Erdian Aji diletakkan di bagian paling belakang. Karena setengah dari cerita2nya bukanlah CERITA. Coba ya kalau memang mau menulis ya beneran menulis, bukan coret-coret. Pffft..
Untunglah, ada Kika, ada Novita, ada Oddie, ada Andy, yg cukup mampu bercerita. Ya, tidak semua saya suka ceritanya. Beberapa menarik. Beberapa biasa.
Mungkin karena sudah cukup tahu (dan bosan) sama fiksimini, beberapa cerita yg harusnya bisa "meledak" akhirnya cuma jadi letupan kecil. Ya, menurut saya sih.
Ya, udah, gitu aja.. kembalikan ke rak. jadi koleksi. ada tandatangan dan sepatah kata dari Oddie soalnya. hahaha...
berawal dari fiksimini 140 karakter di twitter, jadilah sekumpulan cerita pendek (cuma satu atau satu setengah halaman). pendek. bikin penasaran. rada ngebingungin. ada satu favoritku. aku lupa judulnya apa. tapi, kalau ga salah itu ditulis sama Erdian Aji. ceritanya tentang anak yang berdoa biar ibunya dikasi kehidupan lagi. rada horror sih. tapi, gatau kenapa, aku suka aja. hehehe
Buku ini menurut saya lumayan menarik. Karena kesannya di setiap akhir cerita kita dipaksa untuk menebak-nebak apa maksud kalimat-kalimat yang rata-rata cuma 1-2 halaman dan misterius.
I love this book :) Mengangkat hal-hal dan cerita-cerita tak biasa lalu dikemas dalam bentuk FF yang asyik. Serasa hanyut dalam karakter tiap tokohnya.Memang benar, cemburu itu peluru