Walaupun sekilas novel ini bercerita tentang kisah cinta seseorang (Fuyuko) , namun sebenarnya tidak hanya itu. Dari sini saya jadi memahami betul budaya bunuh diri masyarakat Jepang (Harakiri) yang sebelumnya saya anggap ganjil.
“Kita harus bertarung sebagai di medan perjudian bukan? Untuk menyalakan terus hidup ini agar tetap bergairah.” – Nasjah Djamin
Melalui sebuah surat yang panjang, Fuyuko menceritakan mengenai alasannya untuk membangkitkan gairah hidup orang lain yang ia cintai sekaligus keinginannya untuk mati. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati bercerita mengenai lika-liku kehidupan orang Jepang yang absurd pasca perang dunia kedua lewat kisah hidup Fuyuko, Shimada, Yun, Tamura, Fukuda, Masako yang dikisahkan dalam surat Fuyuko. Perang mengakibatkan runtuhnya moral masyarakat. Hilangnya segala sesuatu dari hidup karena perang membuat manusia terlantar, lalu menanyakan kembali apakah hidup masih layak dijalani dan mencari suatu tempat di dunia di mana hidup itu bisa dijalani dengan aman. Menyerahnya Jepang pada sekutu tanpa syarat setelah Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh sekutu membuat beberapa serdadunya melakukan harakiri untuk memertahankan kehormatan. Salah satu dari serdadu yang melakukan harakiri adalah ayah dari Fuyuko dan Shimada. Hilangnya tulang punggung keluarga membuat ibu dari dua bersaudara itu bekerja keras di warung kopi agar anaknya dapat menjalani hidup yang layak. Namun, ibunya memutuskan bunuh diri dengan cara melepas keran gas penghangat untuk memertahankan kehormatannya karena ia merasa bahwa tak dapat memberi kehidupan yang layak dan terjerat dalam hubungan gelap dengan seorang pria. Fuyuko selamat dari percobaan bunuh diri itu, pun Shimada karena sedang tidak berada di rumah. Karena janjinya kepada ibunya untuk menjadi kakak yang baik untuk adiknya, dan istri sekaligus ibu yang baik dan setia bagi anak-anaknya, Fuyuko dengan sisa semangat melanjutkan hidup bersama adiknya. Untuk memenuhi kebutuhan dan membiyai kuliah adiknya ia bekerja di sebuah warung kopi. Sementara Shimada bekerja di sebuah bar mesum untuk menyambung hidupnya, dan menambah uang untuk biaya kuliah. Pertemuan Fuyuko dengan Hasan di tempat kerjanya mengubah semua. Ia merasa pria asing yang singgah dengan kondisi muram itu membutuhkan bantuannya untuk membangkitkan kembali gairah hidup yang kelak juga membuatnya berpikir untuk mempercepat hidup. Kecelakaan atau kebetulan dalam beberapa kejadian yang dikemas apik membuat cerita ini seolah benar-benar hidup. Talib –tokoh utama yang dikisahkan sebagai orang Indonesia yang tengah kuliah di Tokyo, Jepang– dan Shimada yang tinggal dalam satu pondokan, setiap paginya selalu membaca berita di koran, dan telah biasa dengan topik pemberitaan bunuh diri. Mereka tidak jarang mengkritik pembunuh diri atas kekonyolonnya yang terkadang membuat orang lain terbunuh, karena cara bunuh diri dengan terjun dari tingkat apartemen terkadang menimpa orang tak bersalah, dan membuat orang tersebut ikut mati. Namun, tiba-tiba Shimada menghilang saat ada peristiwa pembunuhan yang menarik untuk dibicarakan, yang ternyata pelaku pembunuhan tersebut adalah kakak kandung Shimada. Kebetulan-kebetulan lah yang kelak menuntun pembacaan terhadap novel ini menjadi tambah menarik. Fuyuko akhirnya jatuh dalam genggaman Hasan, dan merelakan dirinya. Namun, hal ini tidak diamini oleh Shimada. Karena ia melihat kejadian itu mirip dengan kejadian yang menimpa ibunya dulu. Dan benar bahwa ternyata Hasan telah memiliki seorang istri dan dua orang anak di Singapura. Kisah percintaan yang awalnya romantis itu berubah menjadi kemelut karena Fuyuko merasa dikhianati. Fuyuko melarikan diri, pergi ke pacingko (tempat judi, yang lebih akrab kita kenal ding-dong), hingga pergi ke nightclub yang membuat ia bertemu dengan Fukuda, dan mengantarkan mereka dalam pergumulan yang tidak semestinya terjadi. Di tempat pacingko ia juga bertemu dengan seorang nihilis bernama Yun, seorang mahasiswa kumal yang menyerupai pengemis namun bersifat sinis, dan ia mengharapkan belas kasih Fuyuko. Diketahui bahwa Yun hanya berpura-pura, ia hanya ingin menggagahi Fuyuko, karena dendanmnya terhadap orang-orang kelas atas yang tercerminkan dari sosok Fuyuko yang saat itu berdandan mewah karena barang-barang pembelian Hasan. Kebersihan hati Fuyuko mengoyak Yun. Ia merasa telah memperkosa dirinya sendiri. Perbuatan menggagahi orang yang dibencinya telah sering dilakukan berkat bantuan pacarnya, Tamura, yang secara kebetulan adalah tetangga apartemen Hasan. Di setiap perbuatannya itu, wanita yang diperkosanya selalu mengumpat dan mengolok-oloknya. Hal itu yang dinantikannya, karena ia menganggap jatuhnya harga diri mereka adalah sebebuah pencapaian baginya. Tidak seperti yang disangka, Fuyuko dengan sejuk memaafkan, dan memaklumi tindakan Yun karena ia tahu apa yang dirasakan oleh pemuda yang tengah terganggu jiwanya itu. Yun yang merasa bersalah, dan akhirnya jatuh hati pada sosok Fuyuko memutuskan untuk bunuh diri karena merasa hidupnya sudah tidak layak dijalani. Pertemuannya dengan Fukuda berlanjut pada sebuah liburan ke Atami. Fuyuko yang gamang karena mengetahui bahwa Hasan mengkhinatinya mencoba melepas beban dengan caranya sendiri. Di Atami, ia bersedia menjadi model lukisan Hasan, dan di liburan itu pula ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, seperti yang ditulis dalam surat panjang yang ia mulai tulis sejak mengetahui kebenaran Hasan telah beristri dan beranak. Perasaannya yang masih cinta membuatnya memutuskan kembali pada Hasan karena mengetahui pujaan hatinya itu tengah sakit. Kembalinya Fuyuko kepada Hasan tidak dapat meredam konflik mereka berdua. Hasan terbakar api cemburu dan pertengkaran keduanya tidak terhindarkan. Hasan yang menubruk Fuyoko yang saat itu tengah meniyiapkan makan malam dan menggenggam pisau dapur, karena kaget Hasan tertusuk dan terbunuh. Kasus itu membuat publik Jepang gembar, dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Istri Hasan menuntut Fuyuko untuk dihukum seumur hidup, namun karena pembelaan media massa akhirnya Fuyuko hanya dijatuhi tujuh tahun penjara. Kawan lamanya, Masako pun ikut serta dalam pembelaan kasus itu lewat tulisan di media massa. Hilangnya Shimada dari apartemen karena ia tengah menangani masalah kakaknya. Setelah tiga bulan, ia kembali ke pondokan menemui sahabat Indonesianya, Talib, untuk menceritakan kisah kakaknya itu. Kisah Fuyuko ditulis dalam sebuah surat panjang dan surat itulah inti dari cerita novel ini. Absurditas dalam novel ditunjukan pada pergulatan setiap tokoh untuk berjuang tetap hidup dalam keadaan semrawut pasca perang. Hidup yang dirasa tidak layak dijalani itu hanya bisa diselesaikan dengan bunuh diri, dan banyak orang Jepang mengakhiri hidupnya. Peradaban Jepang yang sudah maju membuat orang-orang harus bekerja keras agar tidak terlindas dalam kelas masyarakat dan Nasjah Djamin menggambarkan kehidupan serta budaya Jepang dengan cukup detil. Jika Albert Camus empunya absurdisme melukiskan akibat perang dunia kedua dan kekejaman Jerman lewat novelnya Sampar, maka Nasjah Djamin menunjukan hal itu melalui tokoh-tokohnya dalam Gairah untuk Hidup dan untuk Mati dan ia mencoba membangun motivasi untuk orang Indonesia lewat tokoh utama, Talib yang menjadi sobat Shimada. Kurang lebih novel ini membicarakan persoalan filsafati hidup yang menurut Camus menjadi penting untuk dibicarakan, yakni mengenai bunuh diri, dan pemberontakan individu terhadap dalam pemikiran dan moral untuk menemukan nilai kemanusiaan dan kebenaran dan menentang nilai-nilai yang telah usang. Dalam novel ini pula ia banyak mencatut nama penulis, dramawan, penyair Jepang dan sedikit sejarah dunia kepenulisan Jepang yang dulunya didominasi perempuan. Tak luput pula, kecintaan Djamin kepada dunia seni rupa dapat kita temukan pada kegemaran Fukuda terhadap Modigliani dan menganalogikan kecelakaannya dengan Fuyuko seperti kisah Modigliani dengan Jeanne Hebuterne. Serta banyak nama perupa hingga sastrawan dari berbagai penjuru dunia yang ia sebutkan. Jika Perancis memiliki Albert Camus maka Indonesia memiliki Nasjah Djamin, hanya saja ia tidak membicarakan filsafat eksitensialis dengan esai-esai teoritis. Novel Gairah untuk Hidup dan Untuk Mati menurut penulis lebih dahsyat dari novel-novel Camus yang berbicara mengenai absurditas seperti Orang Asing, Sampar, Mati Bahagia, dan Kejatuhan.
"... Sebab aku percaya, dalam kejatuhan manusia, kebaikan-kebaikan dan kejujuran masih hidup dalam hati. Yang penting ialah mengulurkan tangan dan memberikan semangat hidup dan kebaikan itu pada manusia. Kurasa, disinilah panggilan hidupku sejak ini, justru karena aku sendiri pernah mengalami kejatuhan itu!"
"... Seharusnyalah begitu, kehidupan seseorang yang tinggi peradabannya! Memperhalus rasa dan budi dengan ketinggian peradaban dengan keindahan-keindahan seni. Tapi, toh bagaimanapun sejalan ketinggian peradaban dengan seni dan budaya, manusia tidak bisa menghindari kehancurannya. Manusia hanya terikat dan lebih terikat pada materi dan keduniaan."
"... Karena pendambaan pada materi hasil manusia inilah kita kehilangan sesuatu yang lebih besar dan agung. Dan saya tahu sekarang, Tuhan telah disisihkan, dan sifat-sifat ketuhanan digantikan oleh suara ego manusia belaka."
buku pertama dari Nasjah Djamin yang aku baca. mengisahkan hidup Yuko-ciang lewat surat yang dibacakan oleh adiknya, Shimada-sang, selama tiga malam dua hari ke teman karibnya yang berasal dari Indonesia yaitu Taribu-sang. belajar sedikit lebih banyak tentang mengapa orang jepang dan karya literasi jepang banyak memuat tradisi bunuh diri (harakiri).
banyak narasi cukup sentimental yang berhasil buat aku ikut merenungkan arti kebebasan hidup, kapan hidup kita sebagai manusia benar-benar merdeka, dan pencarian jati diri. Dari buku ini, kehormatan dan harga diri menjadi aspek paling utama dalam diri kita, terutama terlahir sebagai seorang perempuan. Kebosanan adalah suatu kemauan hidup, kita yang harus menemukan pegangan jiwa untuk pelarian dari kebosanan tersebut. jangan mempercepat semua, teruslah bergairah untuk hidup.
Buku ini berisi sub bab yg diberi judul Satu, Dua, Tiga dan seterusnya sampai Delapan belas. Ada sedikit misteri yg diberikan penulis, karena sub bab Enam belas tidak ada. Ada pantun didalamnya yang bagus;
Sahaya tidak menanam nenas Tanam pepaya dalam peti Sahaya tidak memandang emas Budi bahasa yang saya cari
Sangat menarik. Di dalamnya banyak diceritakan tentang arti memiliki kebebasan terhadap diri sendiri, jati diri, serta bunuh diri (harakiri). Saya suka pilihan diksinya yang indah, sederhana, cukup sentimental. Beberapa part nampaknya berhasil mengaduk-aduk emosi yang ada.