Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rasina

Rate this book
Tahun 1755. Menjelang kebangkrutan VOC, imperium dagang terbesar di dunia, Jan Aldemaar Staalhart dan Joost Borstveld, sepasang petugas hukum, menemukan diri mereka terseret pusaran arus besar penyelundupan budak dan opium, yang melibatkan sejumlah orang penting di Batavia-Ommelanden.

Rasina adalah seorang budak bisu yang leluhurnya menjadi korban pembantaian massal oleh Jan Pieterszoon Coen saat VOC berupaya membangun monopoli perdagangan pala di Banda pada tahun 1621. Sebagai pelayan rumah tangga sekaligus budak nafsu tuannya, Rasina menjadi saksi hidup banyak hal tak terduga yang membuat jiwanya terancam. Perjumpaannya dengan Staalhart serta Joost Borstveld membuat keadaan menjadi semakin rumit, berbahaya, sekaligus membawa harapan baru.

Di pertengahan abad ke-18, Kompeni Hindia Timur sudah melewati masa kejayaan mereka sebagai penyumbang terbesar Zaman Keemasan Negeri Belanda. Pudar karena ulah para pejabat Kompeni yang tidak memiliki cita-cita lain di tanah koloni, kecuali menumpuk harta secepat mungkin lewat korupsi atau perdagangan gelap bersama para saudagar partikelir.

616 pages, Paperback

First published February 24, 2023

50 people are currently reading
566 people want to read

About the author

Iksaka Banu

9 books89 followers
Iksaka Banu lahir di Yogyakarta, 7 Oktober 1964. Menamatkan kuliah di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Bekerja di bidang periklanan di Jakarta hingga tahun 2006, kemudian memutuskan menjadi praktisi iklan yang bekerja lepas.

Semasa kanak-kanak (1974–1976), ia beberapa kali mengirim tulisan ke rubrik Anak Harian Angkatan Bersenjata. Karyanya pernah pula dimuat di rubrik Anak Kompas dan majalah Kawanku. Namun, kegiatan menulis terhenti karena tertarik untuk mencoba melukis komik. Lewat kegiatan melukis komik ini, ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia memperoleh kesempatan membuat cerita bergambar berjudul “Samba si Kelinci Perkasa” di majalah Ananda selama 1978.

Setelah dewasa, kesibukan sebagai seorang pengarah seni di beberapa biro iklan benar-benar membuatnya seolah lupa dunia tulis-menulis. Pada tahun 2000, dalam jeda cuti panjang, ia mencoba menulis cerita pendek dan ternyata dimuat di majalah Matra. Sejak itu ia kembali giat menulis. Sejumlah karyanya dimuat di majalah Femina, Horison, dan Koran Tempo. Dua buah cerpennya, “Mawar di Kanal Macan” dan “Semua untuk Hindia” berturut-turut terpilih menjadi salah satu dari 20 cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana tahun 2008 dan 2009.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
174 (61%)
4 stars
94 (33%)
3 stars
10 (3%)
2 stars
3 (1%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 74 reviews
Profile Image for Sejutaluka.
64 reviews10 followers
March 20, 2023


Karya hisfic dari Iksaka Banu yang telah dinanti cukup lama ini akhirnya resmi release pada Maret 2023.
Tentunya masih setia dengan latar era kolonial di Nusantara.

Masa di mana praktik perdagangan dan kepemilikan budak menjadi sesuatu yang absah, bahkan menjadi prestise tersendiri bagi para pejabat dan orang kaya waktu itu, mirip2 dengan koleksi tas Hermes kalau jaman sekarang. Terdapat dua alur cerita pada novel ini.

Satu alur berlatar Batavia 1755 ketika VOC masih berkuasa dan memerintah Batavia dgn segala perangkat hukum & struktur pemerintahannya.
Seorang Baljuw dan dua orang bawahannya yg disebut landdrost menarget seorang Vrijburgher yg disinyalir terlibat penyelundupan budak dan opium.

Rasina seorang budak perempuan yang lidahnya dikerat majikannya terjebak ditengah situasi itu. Narasi Batavia 1755 ini diuraikan oleh Joost Borstveld seorang Landdrost di Ommelanden Timur Batavia.
Leluhur Rasina adalah Orang Banda yg turut mjd korban pembantaian J.P. Coen pada 1621. Nah... Banda 1621 inilah yang menjadi alur kedua pada novel ini.
Alur kedua dinarasikan oleh Hendrik Cornelis Adam kakek dari Baljuw Jan Aldemaar Staalhart yang ikut ekspedisi J.P. Coen pada 1621 ke Banda.
Alur kedua ini pernah hadir sebagai cerpen, Mas Banu sendiri menyatakan bahwa plot ini adalah pengembangan dari cerpen Kalabaka yg telah diterbitkan pada kumcer Teh dan Pengkhianat.

Dan cerpen tsb yang menjadi sebab lahirnya Rasina, tentu bagi yg sudah membaca Kalabaka mengetahui ending dari plot ini, tapi yang membuat penasaran bukanlah ending plot ini, melainkan bagaimana plot dikembangkan hingga membutuhkan plot lain untuk dijadikan novel.

Seperti pada karya Mas Banu yang lain, Rasina tak lepas dari data dan fakta sejarah yang menjadi landasan dua plot cerita ini dibangun, terbayang kerja riset yang dilakukan oleh beliau. Mungkin karena itulah, Mas Banu berani menggunakan nama tokoh asli dalam karyanya.

Bukan hanya nama seperti J.P. Coen, Frederick Houtman, Martinus t'Sonck, dan lainnya yang dengan berani digunakan oleh Mas Banu pada novel ini, tapi juga berani merekontruksi kejadian kebakaran di sebuah Masjid menjelang pembantaian Orang Banda dimulai.

Walaupun Rasina ini dilabeli dengan "sebuah novel" tentu bukan langkah gegabah Mas Banu berani memasukkan itu semua ke dalamnya.
Dari hal itu tentunya pembaca dapat melakukan sedikit riset untuk kembali memisahkan mana yang fiksi dan mana yang memang bagian dari sejarah.

Kekuatan riset yg dilakukan Mas Banu inilah yang menurut sy menjadi kekuatan utama dua plot cerita sehingga membacanya benar-benar dapat dinikmati.
Pilihan kata yang digunakan seolah-olah merupakan kata yang memang telah hadir pada masa itu.

Contoh, kita tak akan menemukan kata "Anda" pada novel ini, karena memang kata tersebut belum dikenal pada masa itu.
Seperti juga korek api, tak ada korek api pada masa itu, adanya Tondeldoos. Detail seperti ini yang membuat sebuah novel hisfic sangat menarik untuk dinikmati.

Walaupun novel ini cukup tebal, tapi kedua plot yg dibangun tidaklah terlalu rumit, berputar hanya pada beberapa tokoh utama saja. Namun narasi yang digunakan di kedua plot ini lumayan detail, pembaca pasti tak mengalami kesulitan menghadirkan visualisasinya di dalam kepala.

Kisah perbudakan, penyelundupan opium dan pembantaian Orang Banda yang diusung novel ini seolah memberikan stimulus khusus untuk menggali kembali hal-hal tersebut melalui buku lain.
Semoga kita bisa menerima bahwa sejarah bangsa ini tak lepas dari catatan-catatan kelam.

Sewaktu peluncuran Rasina, Mas Banu nulis "Semoga Berkenan" di buku yang sy sodori untuk tanda-tangan. Setelah tuntas membacanya, lebih dari sekedar berkenan. Pecinta hisfic yang pasti suka banged baca ini. Bintang ⭐️5 untuk Rasina.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
April 26, 2023
Setelah membaca ini saya justru bertanya soal pemikiran orientalisme di kepala manusia Timur?
Entah mengapa saya masih sedikit terganggu dengan eksotisasi Timur oleh Barat, kemudian nasib Rasina yang sampai akhir masih di bawah ketiak orang Belanda, kemudian sikap dua tokoh utama dalam pembebasan Rasina yang orientasinya adalah kerugian kerajaan Belanda, bukan kemanusiaan Rasina.

Apalagi adegan babibu yang justru tampak sangat memanfaatkan kondisi Rasina yang demikian.

Namun, saya harus mengakui cerita sepanjang ini tentu akan membosankan tanpa craftmanship yang bagus. Dan Iksaka Banu tidak bisa diragukan.
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
April 30, 2023
Iksaka Banu, jagoan fiksi dengan konteks kolonial, memikat saya dengan kumpulan cerpennya "Teh dan Pengkhianat". Kisah2 menarik di dalamnya sempat membuat saya berpikir, akankah kisah2 ini dikembangkan ke dalam novel yang bahkan detail2nya lebih mengagumkan lagi?

Ternyata benar. Salah satu kisah di kumcer itu yang menonjol diolah & dikembangkan lagi menjadi novel 616 halaman yang sedemikian memukaunya ini.

Tentu kumcernya membuat saya tak ragu kualitasnya saat akan membacanya. Namun menyelesaikannya membuat saya makin kagum. Bukan karena Rasina sempurna soal sudut pandang maupun keunikan plotnya, melainkan karena Pak Banu lihai sekali meramu riset mendalam sejarah kolonial Belanda abad 17-18 dengan cerita yang tidak rumit namun begitu rapi & memikat. membuat pembaca ingin terus membalik halamannya.

Kekaguman saya juga karena kombinasi 2 linimasa yang agak berbeda tapi beririsan: Kepulauan Banda tahun 1621 ketika VOC menjelang keberhasilannya menaklukkan daerah satu2nya tempat biji pala (primadona perdagangan rempah kala itu) tumbuh, & Batavia tahun 1755 ketika VOC menjelang kebangkrutannya akibat korupsi orang2 kulit putih sendiri yang tak becus mengatur wilayah jajahan.

Tokoh2nya pun manusiawi. Manusia2 seperti Hendriek Cornelis, Jan Staalhart, maupun Joost Borstveld jauh dari sempurna pun ikut merengguk keuntungan dari kolonialisme VOC, namun dalam prosesnya tersadar bahwa kelihatannya ada yang salah dari kesombongan Belanda menindas, menghisap, & menghabisi mereka2 yang mengancam hegemoni Protestan kulit putih yang ingin menguasai Dunia Baru.

Tak ada kisah pemberdayaan perempuan yang kuat ataupun tafsiran historis alternatif di sini. Pak Banu setia dengan alur sejarah & kekelaman narasi kolonial masa itu. Tak heran bila endingnya tidak sepenuhnya "happy" dalam proses pemberangusan "yang jahat".

Namun seperti halnya Rasina, budak perempuan tak berdaya yang menjadi representasi penyiksaan, pencurian, & kejahatan kolonial yang ternyata bisa disingkapkan pelan2, mungkin pesan baik dalam novel ini juga adalah bahwa perubahan bisa datang dari hal kecil yang mau diupayakan terus tanpa kata menyerah.
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books463 followers
October 12, 2023
Setelah nonton film Banda The Dark Forgotten Trail, baca novel ini jadi semacam pelengkap kepedihan dan kengerian. Kalau filmnya hanya menyebutkan tentang pemusnahan penduduk Banda oleh VOC (sebagian dibunuh sebagian dikirim ke Batavia jadi budak), novel Rasina memberikan gambaran detail tentang bagaimana prosesnya. Terlepas berapa persen fakta dan berapa persen yang didramatisasi (mengingat ini fiksi--atau malah bisa jadi kejadian aslinya jauh lebih ngeri dan kejam) ini bener-bener nyesek sih karena penduduk asli Banda atau orang Banda generasi pertama diusir dari tanahnya sendiri. Ini sejalan sama kata-kata sejarahwan di film, bahwa orang Banda yang sekarang ini udah plural, campuran dari berbagai suku, dan nggak ada yang penduduk asli.

Awalnya nggak nyangka kalau baca novel sejarah bakal seenjoy ini. Novel ini terdiri dari dua plot yang berbeda. Plot pertama tentang perjuangan duo polisi VOC, Staalhart dan Joost, dalam membongkar kasus penyelundupan budak dan opium, serta menyelamatkan Rasina sang budak dari Banda. Plot kedua, diceritakan dari buki harian kakeknya Staalhart (namanya susah) yang mengikuti proses penaklukkan Banda oleh VOC. Kalo plot kedua bikin nyesek karena orang Banda yang diusir dari tanahnya sendiri, plot pertama bikin nyesek karena tindak perbudakan yang super duper nggak manusiawi. Gilaaa. Jual beli budak udah kayak jual beli kambing 😭

Plotnya memang agak lambat, tapi entah kenapa aku nggak bosan. Aku suka narasi bagian Joost. Polisi satu ini manusiawi banget, dalam hati dia menggerutu dan maki-maki bosnya si Staalhart, tapi dia tetap belain dan nurut terus apa kata bosnya. Hahaha.

Soal si penjahat, well ... aku udah menduga sih. Dari awal si bapak itu emang mencurigakan. BTW, kalo dibikin film atau series ini pasti bakal keren banget. Sedangkan untuk nasib Rasina, memang mengecewakan karena dia ditolong oleh bangsa kulit putih, tapi itu adalah hal yang paling logis karena pada zaman itu kan yang bisa berbuat sesuatu memang cuma orang Eropa.

Intinya, seruuuuu!
Profile Image for Khalisha.
48 reviews1 follower
October 11, 2025
Sepertinya ini buku dengan double plot pertama yang aku baca! Walau salah satunya sempat membosankan, tapi kedua plot tetap berkaitan dan menarik pada akhirnya!! Buku yang bisa menggambarkan betapa pintar penulisnya, ini juga tervalidasi oleh salah satu bagian akhir yang menjelaskan riset yang dilakukan oleh penulis. Menurutku buku ini benar-benar menambah pengetahuan tentang penjajahan yang dilakukan Belanda tapii bacanya tetap enjoy! Bahkan nama-nama tempat, jabatan, dll. di buku ini masih menggunakan bahasa belanda yang digunakan pada saat itu, di bagian awal juga dijelaskan arti dan sedikit penjelasan dari jabatan serta peta Batavia. Cuma karena malas bolak-balik ke bagian depan, biasanya aku skip dan berusaha tetap paham hehe.

Ternyata isinya lebih menarik daripada bayanganku ketika baca blurb-nya. Di awal cerita jujur masih cukup bingung ini arah ceritanya ke mana dan siapa dari sudut pandang siapa. Makanya di awal hingga pertengahan buku aku sangat lambat bacanya, tapii setelah itu jadi lancar dan lebih cepat karena ternyata akhir setiap bab selalu berhasil bikin penasaran!!

Salah satu cerita mengisahkan genosida yang terjadi di Banda. Cerita yang jarang atau mungkin tidak pernah dijelaskan di materi pelajaran sekolah. Bahkan buku ini juga pakai tokoh terkenal seperti J.P. Coen. Ternyata demi buah pala, terjadi peristiwa mengerikan dan mual saat membacanya.

Buku ini juga menceritakan bagaimana perbudakan terjadi. Mulai dari proses jual beli budak sampai bagaimana perbedaan perlakuan yang diberikan kepada mereka.
Profile Image for ran..
28 reviews3 followers
April 3, 2023
Another book yang luar biasa dari Iksaka Banu. Yang menarik dari novel ini adalah penggunaan dua plot dengan point of view orang pertama. Keduanya sama-sama pilu. Plot pertama mengisahkan tentang Tuan Baljuw dan Tuan Landdrost Timur yang berjuang mengungkap kejahatan berupa penyelundupan opium dan penyelundupan budak yang melibatkan pejabat-pejabat kompeni dan menimbulkan kerugian yang besar. Sementara plot kedua menceritakan lebih tajam tentang pembantaian warga Banda yang mempertahankan perkebunan pala mereka dari Belanda. Jika awal mula dari kedua plot ini terkesan mulus dan penuh energi, ternyata Iksaka Banu menyuguhkan ending yang berbeda dengan ekspektasi. Iksaka Banu berhasil menyuguhkan gambaran pilu tentang kekejaman Belanda yang merebut paksa perkebunan pala dari warga Banda dan tentang perbudakan yang dilakukan oleh Belanda terhadap warga Banda.

Di awal alurnya berjalan agak lambat, tetapi mendekati klimaks segalanya berjalan begitu cepat. Penggambaran yang detail dari setiap tokoh, kejadian, latar tempat, dan latar suasana membuat pembaca merasa benar-benar masuk ke dalam cerita. Aku yakin, Iksaka Banu punya denah dan rincian detail dari setiap detail yang disampaikan karena di setiap penggambaran itu diulang, narasinya selalu konsisten. I like this one! Emosiku campur aduk ketika membaca Rasina. Ikut tegang dan bersemangat di awal, tetapi diakhiri dengan nangis bombay.
Profile Image for Poppy.
64 reviews3 followers
April 1, 2023
Layaknya bukunya yg tebal, isi buku ini sangat ‘berisi’. Sama seperti buku-buku Pak Banu sebelumnya, sudut pandang yg digunakan masih dari tokoh orang Belanda tanpa bisa lepas dari sisi kemanusiaan mereka. Unik.

Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi dari tiap tokohnya. Begitu juga peta Banda tahun 1621, struktur organisasi VOC, pun peta Batavia dan Peta Ommelanden yg merupakan latar cerita dari Rasina. Hal tsb membuat pembaca tidak bosan dan semakin mudah untuk ‘berimajinasi’

Terdapat 2 plot di novel ini, namun tidak rumit. Walaupun banyak tokoh yg diceritakan, tapi sebenarnya hanya fokus pada tokoh itu2 saja. Gaya bahasanya pun mudah untuk dimengerti. Ceritanya tidak membosankan, justru semakin menarik di setiap halamannya. Makin penasaran bagaimana akhir nasib Rasina.

Saat membaca bagian akhir dari novel ini, rasanya ingin marah dan emosi. Dengan gamblang dijabarkan siksaan yg diterima oleh Rasina dari tuannya, dan betapa sulitnya mencari keadilan untuknya, tentu juga pembantaian yg sangat keji di Banda.

Kita dimanjakan dengan narasi yg detail oleh Pak Banu. Aku sangat menikmati novel ini, bahkan tak bisa menahan diri untuk mencari lebih jauh tentang pulau Banda, pala, juga benteng Nassau. Pada akhirnya, kita bisa belajar peristiwa di masa lalu untuk masa depan yg lebih baik.
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,430 reviews293 followers
March 3, 2025
Ini pertama kalinya saya baca buku author krn tertarik dgn genre historical fiction dan tema perempuan dlm perbudakan zaman kompeni alias kolonial Belanda di abad 18. Tanpa mengurangi rasa hormat atas effort penulis dlm menggali sejarah Indonesia khususnya Pulau Banda saat dianeksasi oleh VOC si dedengkot penjahat perang, Jan Pieterszoon Coen, saya mencoba membuat review se obyektif mungkin.

Saya mulai dgn kekurangannya dulu. Gaya cerita author cenderung lebih mirip pengarang buku klasik orang Barat di abad 19-20 awal, yg cenderung terlalu banyak detail-detail termasuk yg gak/kurang penting ke dlm satu bab buku dgn puluhan halaman. Padahal itu kalau diringkas bisa cuma bbrp halaman saja. Jadi, bertele-tele dan kelamaan, malah bikin pembaca hilang fokus dan cepat bosan terutama 70-80% di awal buku. Total 600 hlm lebih bisa diringkas jd separonya kalau detail-detail gak penting dihilangkan.

Buku ini terdiri dari 2 bagian cerita yg diselang-seling dlm tiap bab. Bagian pertama, cerita ttg Rasina, budak yg berasal dari Banda yg melarikan diri dan ditolong oleh kebetulan 2 orang pegawai negeri berkebangsaan Belanda yg sangat baik hati. Terlepas masuk akal atau tidak kisah Rasina, saya tahu author membuat ending sedekat mungkin dgn realita, tapi bagian idealis saya yg menginginkan rumus Happy Ending, terpaksa meronta-ronta saja 🤭

Bagian kedua adalah berbentuk epistolary, dgn setting 100 tahun sebelum Rasina, yg mengisahkan dgn detail genosida orang-orang Kaya di Banda dan tanah mereka kemudian dibagikan kepada para swasta Belanda utk mengelolanya. Saya pernah baca ceritanya walaupun yg pernah saya baca gak se-eksplisit yg ditulis author. Kejahatan perang sebesar ini tidak pernah diadili scr fair. Dan ternyata budaya feodalisme ini memang diwariskan oleh penjajahan kolonial ini. Semua tunduk pd yg berkuasa dan punya uang 💰 tentunya.

Bagusnya novel ini tentu saja pd muatan sejarahnya, terutama di Batavia pd abad 18 dan di Banda pd abad 17. Dan juga sosial politik ekonomi pd masa tsb. Bersyukurlah saya hidup di akhir abad 20 - awal abad 21, yg bisa berjalan tanpa rasa waswas diculik utk dijual sbg budak spt Rasina. Walaupun masih ada sih kejahatan trafficking spt ini tapi kemungkinannya minim (kecuali Anda masih muda dan mudah tergiur dgn janji uang 💰).

Sekian dulu reviewnya. Kalau minat membaca buku ini, harus sabar dgn alurnya yg lelet. Dan siap batin utk endingnya.
Profile Image for Nia potterr.
180 reviews4 followers
February 15, 2025
Buku ini menceritakan gimana kejamnya belanda pada saat mereka menjajah negara kita. Say no untuk kolonialisme, bacanya yaampun geram banget ya sekejam itu belanda walaupun ini buku fiksi tapi kita semua tau bahwa negara ini tidak luput dari kejamnya masa penjajahan belanda. Adanya buku ini jadi banyak ilmu baru betapa terinjak injaknya kita sebagai warga negara asli sendiri diperlakukan sebegitu tidak adilnya.
Profile Image for Sheeta.
218 reviews17 followers
March 23, 2023
Buku yang membuat kita merasakan kengerian, kepedihan, kesedihan, sekaligus ngilu di saat yang bersamaan. Terutama pada bagian-bagian detail tentang luka yang dialami Rasina, ngilunya terasa betul hingga merinding.

Rasina adalah seorang budak asal Banda yang dibeli seorang saudagar Belanda yang kaya raya, namun harus mengalami kepahitan dalam hidupnya sebagai budak. Tidak hanya mengalami siksaan fisik, ia juga mengalami pelecehan dan siksaan yang sama sekali tidak manusiawi. Sialnya, sebagai seorang budak, ia tidak bisa berbuat apapun saat itu selain kabur.

Usahanya untuk kabur mempertemukannya dengan seorang petugas hukum yang sangat adil dan ingin mendengarnya. Berkat pertemuan itu, hidup Rasina yang sengsara itu mulai terungkap. Kehadiran Rasina juga membuka kasus-kasus penyelundupan yang merugikan Kompeni.

Berkali-kali hidup Rasina hampir di ambang batas kematian karena penyiksaan yang ia alami. Ia pun tak bisa mengadu pada siapapun, selain si petugas hukum yang terlihat sangat peduli dan ingin membantunya.

Buku ini membuka banyak sekali pengetahuan baru tentang masa-masa VOC di Batavia dan Banda. Sejujurnya, berkat buku ini aku pun baru tahu kalau Manggarai dulunya adalah pasar budak. Ketika mengamati bagaimana Manggarai sekarang, jadi masuk akal menurutku.

Masa-masa VOC di Batavia dan Banda ternyata sangat menyedihkan. Merampas hak hidup sebuah bangsa, menghabiskan kekayaan alamnya, dan menjual-belikan hidup mereka sebagai budak adalah main point dari cerita ini. Meskipun bukunya terlihat tebal sekitar 600-an halaman, namun menurutku buku ini justru sangat amat singkat. Seru sekali membacanya, seperti sedang menonton film.

Dan lagi, ada ilustrasi di bagian depan buku yang membuat kita semakin bisa membayangkan penampilan para tokoh yang ada dalam buku. Menurutku, ini salah satu buku historical fiction terbaik yang terbit tahun ini.
Profile Image for Grace.
36 reviews
November 6, 2025
Iksaka Banu sangat detail menjelaskan luka dan penderitaan seorang budak di masa VOC. Serunya buku ini di catat melalui pov dari VOC yg artinya adalah penjajah. Teryata walaupun mereka menjajah Indonesia saat itu, apa yg terjadi kadang menjadi hal yg menyedihkan bagi mereka, penjajahan yg dilakukan negara sendiri sangat bertolak belakang dengan tujuan semula utk menguasai rempah di Indonesia.. Dan mencari keadilan bagi budak yg sering ditindas oleh pihak2 tertentu..
.
Jika mengalami banyak luka, tolong jangan menambahinya dengan kisah dalam buku ini. Tapi sangat layak utk kalian baca
Happy reading 🎉📚📖
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,034 reviews64 followers
July 21, 2025
4.5

Suka banget dengan catatan Adam Hendriek, seorang Netherlands di Bumi Nusantara yang menjadi gambaran kalau ada juga sebagian dari mereka yang memiliki nurani dengan penduduk asli Banda sebagai pribumi.

Catatan Adam Hendriek ini dipadukan dengan masa 100 th kemudian, dimana cucunya, Staalhart , menjadi petugas hukum yang menyelidiki kebejatan De Vries, seorang pedagang yang menjadi rantai kebusukan bisnis dan memiliki backing penguasa.

Catatan Adam Hendrick inilah yang menginspirasi Staalhart untuk menegakkan keadilan. Novel setebal 500-an halaman ini semakin menguras emosi menjelang akhir, terkhusus di catatan Adam Hendrick, terbayang muak dan malunya Hendrick sebagai Nederlands juga melihat segala intrik kolonialisme negaranya untuk mengusir seluruh penduduk Banda demi mendapatkan pala.

Di masa depan, cucunya pun berhadapan dengan kekuatan besar di balik kepongahan sosok De Vries yang melakukan berbagai transaksi penyelundupan dan perlakukan tidak manusiawi kepada budaknya, bernama Rasina.
Profile Image for Faisal Chairul.
269 reviews16 followers
March 17, 2023
Novel fiksi sejarah ini terbagi menjadi dua plot. Plot pertama menggunakan latar waktu yaitu periode menjelang kebangkrutan VOC (imperium dagang Belanda sekaligus yang terbesar di dunia kala itu) sekitar tahun 1755. Tokoh utamanya adalah seorang 'Baljuw'/kepala kepolisian (Staalhart) dan 'Landdrost'/kepala polisi daerah (Borstveld). Tema plot pertama ini seputar perdagangan budak (ilegal) dan perdagangan opium ilegal.

Sejak di bagian awal cerita saya sudah tersihir dengan pesona Staalhart yang penuh integritas, siap menumpas setiap kejahatan yang melawan hukum, walaupun begitu semakin jauh menyelami cerita di dalam novel ini membuat saya berpikir, "Apakah yang dilakukan oleh Staalhart sebenarnya demi kepentingan budak, salah satunya Rasina, yang tak lain adalah leluhur penduduk Banda yang terusir pada tahun 1621, atau semata hanya demi kepentingan finansial VOC yang berpotensi merugi akibat perdagangan budak ilegal?"

Plot kedua menggunakan latar waktu yaitu periode penaklukan, pembantaian, dan pengadilan sepihak penduduk asli Kepulauan Banda sekitar tahun 1621. Ceritanya berupa catatan harian seorang juru tulis dan asisten pribadi seorang Letnan Laut salah satu armada penaklukkan Kepulauan Banda bernama Hendriek Cornelis Adam (Driek). Catatan harian ini menggambarkan setiap peristiwa berkaitan dengan Kepulauan Banda, mulai dari negosiasi-negosiasi antara Orang Kaya Banda dengan pejabat-pejabat VOC, peristiwa-peristiwa kesalahpahaman yang terjadi antara kedua belah pihak, rencana-rencana penaklukan hingga pembantaian penduduk Kepulauan Banda, hingga pengadilan sepihak Belanda terhadap Orang Kaya Banda di akhir cerita.

Secara keseluruhan, saya kagum dengan kepiawaian Mas Banu dalam meramu satu plot tambahan untuk mendampingi plot faktual yang menghasilkan akhir cerita yang mengagumkan. Saya juga kagum dengan telatennya Mas Banu dalam melakukan riset literatur untuk menghasilkan cerita yang mengandung sisi-sisi objektif tentang apa yang sebenarnya terjadi di Kepulauan Banda pada tahun 1621 silam.

Sangat puas dan sangat direkomendasikan untuk dibaca!
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
April 8, 2025
Saya kira cerita di novel ini akan seputar kehidupan Rasina sebagai budak, tapi ternyata isi cerita novel ini memporak-poranda segala imajinasi saya. Rasina hanyalah sebuah lubang kunci untuk membuka keseluruhan daun pintu, untuk benar-benar memahami apa yang terjadi di balik pintu yang semula tertutup rapat.

Riset penulis untuk novel ini terasa benar dilakukan bersungguh-sungguh, membikin saya seolah berada di Batavia dengan segala jenjang hukum dan sosial yang berlaku. Pun dengan narasi cerita di Banda.
Sejujurnya diawal saya sedikit kurang bisa masuk ke dalam cerita kilas balik VOC ketika di Banda, tapi seiring halaman yang semakin menipis untuk dibaca, maka semakin besar pula intensitas rasa penasaran dan ketegangan saya. Sebuah sejarah yang baru saya ketahui dan sulit saya cerna, bahwa peristiwa sekejam itu pernah terjadi, nyata dan menghasilkan sosok-sosok Rasina yang entah menyebar dan bertemurun ke mana di masa sekarang.
Cara penulis membangun sebuah cerita memang sangat bagus.

Sekali dalam hidup, cobalah baca novel ini.
Profile Image for Ida.
196 reviews4 followers
June 24, 2023
Sebagai penyuka historical fiction, berharap banyak sama
buku ini. Tapi agak kecewa karena alurnya lama sekali. Banyak hal yang terlalu detail jadi terkesan bragging pengetahuan sejarah penulis.
Profile Image for Hds Ty.
21 reviews
July 27, 2025
𝗥𝗔𝗦𝗜𝗡𝗔

"𝘽𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝, 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖𝙠𝙪. 𝘽𝙞𝙡𝙖 𝙠𝙚𝙡𝙖𝙠 𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙞𝙪𝙧 𝙗𝙪𝙟𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙑𝙊𝘾 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙠𝙚 𝙃𝙞𝙣𝙙𝙞𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙢𝙞𝙣𝙜-𝙞𝙢𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙟𝙪𝙩𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙙𝙖𝙜𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙡𝙖 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙛𝙪𝙡𝙞. 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙗, 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙪 𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣, 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙗𝙞𝙟𝙞 𝙥𝙖𝙡𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙪 𝙥𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙞𝙧 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠 𝙗𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙨𝙖𝙡-𝙪𝙨𝙪𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙜𝙪𝙜𝙪𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙖𝙞𝙧 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙠𝙚 𝘽𝙖𝙩𝙖𝙫𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙗𝙪𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚��𝙞𝙖𝙣"

Penulis : Iksaka Banu
Pages : 587 hlm
Penerbit : KPG
Cetakan Kedua, Juni 2023
📚18+, Historical Fiction


First of all, I really love this book🫶🫶🫶
Meskipun alurnya agak lambat, it's okay 👌

Buku ini terbagi dengan dua latar yang berbeda yang selang-seling.
1. Tahun 1755 (dua polisi VOC : Staalhart dan Joost) 👉Mengenai 𝙋𝙚𝙧𝙙𝙖𝙜𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘽𝙪𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙪𝙣𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣 𝙊𝙥𝙞𝙪𝙢.
2. Tahun 1621 (dari Buku yg berisi catatan Harian kakeknya Staalhart, yaitu Hendri ek Cornelies Adam) 👉𝙋𝙚𝙣𝙖𝙠𝙡𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠 𝘼𝙨𝙡𝙞 𝘽𝙖𝙣𝙙𝙖

Tiap karakter dalam cerita ini memiliki peranan penting, Meskipun terdapat banyak karakter yang muncul, itu tidak membingkai karena inti cerita berputar di tokoh yang sama. Alurnya slow, penjabaran detail-detail tertentu di awal cerita tidak membosankan menurutku.
Meskipun terbagi atas 2 latar waktu, narasinya tidak membingungkan dan mudah dipahami.

Seperti biasanya, mengambil pov para penjajah, kita bisa melihat bagaimana pandangan dan tindakan mereka terhadap penduduk pribumi.

Apakah cerita ini hanya tentang Rasina? Tidak.
Di awal kita akan melihat perkenalan tokoh. dua petugas polisi, bagaimana mereka berpatroli hingga akhirnya menemukan mayat seorang budak👉melakukan investigasi, hingga singkat cerita, dua petugas ini bertemu dengan Rasina. Salah satu budak yang pernah mereka lihat sebelumya, kemudian dari sanalah mulai terungkap fakta-fakta tersembunyi yang mengejutkan.
⚡Perbudakan yang kejam, yang melanggar aturan, jual beli budak ilegal
⚡Penyelundupan Opium yang merugikan Kompeni

Peran penting orang Cina dalam perdagangan, serta fakta tersembunyi mengenai penyelundupan opium yang sedikit demi sedikit mulai terkuak ketika Joost dan Staalhart terus melakukan pencarian.
Para petugas ini kerap mendapat ancaman dan peringatan selama proses investigasi yang mereka lakukan.
Kemudian, Rasina. Budak yang berusaha kabur dan bertemu petugas itu, hingga akhirnya mereka Menemukan hal² mengerikan yang sudah terjadi padanya. Ia juga menjadi Pecandu setelah dicekoki oleh Tuannya yg bersifat spt Iblis. Bukan hanya luka lecet cambukan saja. Luka sayat di beberapa bagian tubuh yang sangat membuatku kesal ketika membacanya. Pemotongan lidah, Penyiksaan yang tidak manusiawi, membaca kisahnya sangat rollercoaster. Marah, Pedih, dan juga sedih disaat bersamaan.

Next, Tentu saja ada pembahasan mengenai rempah-rempah, terutama Banda yang terkenal sbg penghasil Pala saat itu, serta bagaimana Pembantaian besar²an terhadap mereka.
Ah, kalau kalian juga pernah membaca Teh dan Pengkhianat, pasti pernah mendengar "Kalabaka" 🙇‍♀️ Kalabaka diceritakan lebih detail di buku ini... Dan tentu saja kisahnya cukup mengiris hati🥺
Untuk Endingnya... I need more. I need to know about Rasinaaaaaa😭🤌
Kepo banget dengan bagaimana kehidupannya setelah itu, berasa banget gantungnya😌
Profile Image for Seno Guntur Pambudi.
78 reviews30 followers
March 30, 2023
Buku ini terdiri dari dua sudut pandang. Sudut pandang pertama oleh Joost Borstveld dgn latar Batavia tahun 1755, kedua sudut pandang tokoh Hendriek Cornelis Adam dgn latar Banda tahun 1621.

Menarik bagaimana Iksaka Banu membuat dua timeline berbeda namun memiliki kesinambungan penting antar keduanya di satu titik, budak Banda. Buku ini memang mengangkat dua topik, pertama perbudakkan yg waktu itu msh diperbolehkan dan kedua perdagangan opium.

Membaca buku2 Iksaka Banu tidak bisa hanya sekedar membaca, setidaknya kita mesti tahu latar, waktu, atau peristiwa apa yg sedang diceritakan. Seperti peristiwa pembantaian Banda tahun 1621 yg dilakukan oleh Jan Pieterzoon Coen. Disitulah menariknya membaca karya pak Iksaka Banu.

Dengan mengetahui latar atau peristiwa yg diceritakan, imajinasi kita akan semakin menangkap isi dari cerita tersebut. Bagaimana kondisi saat itu, ketegangan yg terjadi, pola perilaku masyarakat kolonial, dan sebagainya.

Batavia tahun 1755 dibagi menjadi beberapa dua bagian, di dalam lingkungan tembok dan daerah luar tembok, atau disebut Ommelanden. Terlihat di peta, daerah dalam Batavia di kelilingi oleh tembok.

VOC mati karena korupsi yg dilakukan oleh para pengurusnya. Orang2 Belanda yg datang ke Hindia kebanyakan adalah orang2 yg gagal di Belanda sana atau mengadu nasib dan ingin mengubahnya di tanah kaya akan rempah2.


Perdagangan budak illegal dan penyelundupan opium hanyalah salah dua yg dibahas di novel Rasina. Iksaka Banu menggambarkan bagaimana budak2 itu menjalani siksaan yg keji oleh tuannya. Siksaan berupa cambuk, silet tubuh, bahkan hingga pemotongan lidah agar budak tidak bisa mengadu.

Di novel ini waktu mundur hingga tahun 1621 di Kepulauan Banda. Banda terkenal dgn Pala-nya. Di sana tumbuh pala kualitas nomer satu di dunia yg hanya tumbuh di kepulauan tersebut. Dikarenakan kondisi geografis Banda yg berupa pulau vulkanik namun dikelilingi oleh lautan.

Jan Pieterzoon Coen pernah mengalami nasib yg naas saat mengunjungi pulau ini di tahun 1609, serdadu2 dan jenderal Belanda di bantai oleh orang2 Banda. Gubernur Coen pun menaruh dendam terhadap orang Banda.

Dengan membawa armada yg besar, Gubernur Coen berniat membalas dendam dan memonopoli pala yg ada di Banda. Lebih dari 1000 org tewas, 800 org dijadikan budak dan dikirim ke Batavia. Sebanyak 44 Orang Kaya Banda di penggal kepala, kaki, dan tangannya oleh samurai Jepang.

Sejarah kita berdiri di atas darah korban sodara2 kita yg ditumpahkan oleh kompeni, penjajah bahkan oleh orang2 sebangsa sendiri. Dengan mempelajari sejarah bangsa kita, kita akan mengenal diri kita dan sejarah bangsa kita sendiri.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
June 14, 2023
Semula saya menduga Rasina diceritakan dari sudut pandang perempuan. Wah, sungguh spesial jika demikian. Iksaka Banu yang seringnya memilih tokoh utama laki-laki, kali ini membuat tokoh perempuan sebagai sentral cerita. Ternyata saya salah. Kisah Rasina tetap dituturkan dari sudut pandang dua orang lelaki -- Belanda tentu saja. Tapi tak mengapa. Novel ini tetap memberikan nuansa yang berbeda. Jika hendak disama-samakan secara kasar, konsep Rasina mirip Sang Raja: terdiri dari dua pencerita, dan tokoh yang menjadi judul hanya muncul dari perspektif si narator.

Sang Aku di plot pertama adalah Joost Borstveld, seorang penegak hukum. Sedangkan plot kedua adalah Hendriek Cornelis Adam, seorang juru tulis. Keduanya dipisahkan oleh waktu yang berbeda. Plot pertama berlatar tahun 1700an, sedangkan yang kedua 1600an. Beda 100 tahun, tapi keduanya memiliki keserupaan nasib: tak berdaya di hadapan ketidakadilan.

Joost membongkar kejahatan besar yang melibatkan para petinggi di Batavia, sedangkan Hendriek melihat dengan mata kepalanya sendiri pembantaian orang Banda oleh tentara Belanda. Keduanya bukan orang besar yang tentu tak bisa turut andil mengubah keadaan. Keduanya hanya bisa memejamkan mata di hadapan ketidakadilan. Mereka hanya saksi betapa suatu kejahatan hanyalah satu mata rantai dari kejahatan lainnya. Seorang penjahat adalah korban dari kejahatan lain yang lebih besar. Ada suatu sistem yang semu dan samar yang senantiasa menggerakkan perilaku manusia. Sistem yang begitu kokoh untuk dirobohkan. Dari masa ke masa ia menyusup lewat akal budi, menggerakkan sejarah dengan buta, menentukan bagaimana seorang manusia harus bertindak terhadap sesamanya. Meski kesadaran manusia telah mengenal Kebenaran Absolut, tapi apa daya, sistem ini membuat manusia berperilaku memenuhi tuntutan primordialnya: bertahan hidup.

Setiap membaca karya-karya Iksaka Banu, saya tidak pernah melihat konfliknya terjadi di masa silam. Konflik itu tetap relevan di zaman sekarang. Sebut saja tahun berapa, ketamakan manusia pasti akar masalahnya. Sejarah mungkin hendak mengajarkan bahwa problematika manusia hanya itu-itu saja.

Profile Image for Day Nella.
266 reviews5 followers
August 15, 2025
"Menurut Rasina, itu budak-budak resmi De Vries, bukan selundupan. Mereka tidak diperdagangkan untuk waktu yang lama. Mereka dikawinkan dengan sesama mereka dan diminati beranak banyak agar De Vries punya cadangan budak di masa depan." Hal 282
-
Rasina
Iksaka Banu
Penerbit KPG
Cetakan Kedua, Juni 2023
Tebal 616 Halaman
Pinjam di PerpusBerjalan
-
Tak pernah menyangka bila membaca buku fiksi sejarah satu ini, akan menguras banyak emosi dan pikiran. Imajinasi liar, kemarahan, menjijikan dan menakutkan berkeliaran dengan peta Banda 1621 menjadi genosida paling gila.
-
Penulis membuat dua plot berbeda, tapi saling berhubungan erat akan tahun 1755. Menggunakan dua timeline antara 1621-1755. Dan Rasina, Budak dari Banda yang masuk dalam golongan orang Kaya Banda, menjadi salah satu pemicu di mana rahasia yang sengaja ditutupi dan perlahan terkuak bahwa semua penindasan dan penaklukan Kolonialisme yang diciptakan oleh Belanda sendiri dalam buku Harian sang juru tulis Belanda, yang memiliki hati nurani. Bagaimana sadisnya pembantaian selama VOC berkuasa.
"Bukankah kita yang datang menyerbu dan merebut pulau mereka? Bahkan, bila benar mereka terbukti berencana membunuh para pemimpin kita seperti yang dituduhkan, menurutku, mereka tak bisa dituntut ke pengadilan." Hal 481
-
Staalhart dan Joost dua apart kepolisian Belanda menemukan banyak kejanggalan akan kematian budak dan orang-orang penting di Batavia saat mereka berdua melakukan penyelidikan dan mengerucut pada satu orang yang cukup memiliki kuasa. Mencari keadilan dari kejahatan keji yang telah dilakukannya, penyelendupan Opium dan Budak, termasuk salah satunya penganiayaannya pada Rasina.
-
Gaya bercerita penulis begitu cerdas dengan konflik serta riset akan sejarah Banda serta kolonial dahulu, begitu menakjubkan bagiku. Karena di bangku sekolah tentang sejarah penjajahan Belanda itu hanya dibeberkan sedikit, dengan cepat berganti dengan penjajahan dari negara lainnya. Hingga bagian penyelesaian amat berharap akhir untuk Rasina bisa lebih dari itu. Dengan 500 halaman lebih, seluruh emosiku diaduk-aduk. Rasina aku rekomedasikan buat kalian yang suka fiksi sejarah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for dhana.
8 reviews
August 23, 2023
Senang bukan kepalang ketika saya berkesempatan mendapatkan novel Rasina dengan bonus tanda tangan penulisnya secara pra-pesan di salah satu marketplace, sebab karya-karya Iksaka Banu sebelumnya tak pernah gagal buat saya takjub.

Novel ini dikembangkan dari cerpen ”Kalabaka” di buku kumpulan cerita “Teh dan Pengkhianat”. Sebagai salah satu pembaca (juga penggemar Indonesian his-fic) yang mengharapkan cerpen-cerpen Iksaka Banu dibuat menjadi novel, saya merasa sangat puas disodorkan novel berlatar sejarah dengan 585 halaman ini.

Novel ini terbagi menjadi dua plot; awal mula monopoli perdagangan pala di Banda pada tahun 1621 yang mengisahkan pembantaian massal orang-orang Banda (yang merupakan leluhur Rasina) yang diceritakan dari buku catatan harian Hendriek Cornelis Adam, dan kisah Rasina sebagai korban penyelundupan budak dan opium pada tahun 1755 dari sudut pandang Joost Boorsveld.

Setiap peristiwa gila di novel ini tak ayal menyebabkan saya mengetuk-ngetuk tiap halamannya, seperti bagaimana De Vries dan istrinya menjadikan Rasina sebagai pelampiasan nafsu bejat mereka, serta penggambaran detail pembantaian orang kaya Banda yang disaksikan para prajurit Belanda di tengah hujan.

Saya bisa melihat hasil riset penulis yang begitu dalam di tiap halamannya. Meski banyaknya istilah-istilah Belanda yang terkadang membuat saya bingung, saya sangat menikmati karya sang penulis sebagaimana sang penulis menikmati penulisan karyanya.

Yang disayangkan dari novel ini adalah, kemunculan tokoh ”Rasina” sangat jarang dan kurang, sebab saya mengharapkan ada sudut pandangnya di dalam novel ini, dan bukan diceritakan dari sudut pandang Joost saja. Ditambah akhir dari kisah Rasina yang masih di bawah kuasa orang kulit putih membuat penamatan novel ini terasa kurang pas. Tetapi, lagi-lagi, karya Iksaka Banu harus saya beri 5 bintang.

Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Meta Morfillah.
679 reviews23 followers
October 13, 2024
Judul: Rasina
Penulis: Iksaka Banu
Penerbit: KPG
Dimensi: 587 hal, cetakan kedua Juni 2023 (edisi Ruang Buku Kominfo)
ISBN: 9786024819866

Pertemuan tak sengaja antara Tuan Staalhart dan Joost dengan Rasina dan Jimun, budak dari Jacob de Vries dan Sarah, ternyata membuka lapisan demi lapisan kebusukan perbudakan. Dalam catatan sang Kakek, Hendriek Cornelis Adam, juru tulis Letnan van Waert, sekitar 100 tahun sebelumnya, dijelaskan bagaimana asal mula perbudakan orang Banda. Semua adalah ulah J. P. Coen yang sadis dan tak bermoral. Di catatan berjudul Conqueste (ekspedisi genosida banda 1621) itu dijelaskan bagaimana orang kaya dipenggal kepala dan dicincang 4 tubuhnya, 500 anaknya dijadikan budak belian ke Batavia. Belum lagi pengkhianatan orang dalam menjadikan twist tersendiri bagi novel ini.

Membaca novel fiksi berlatar sejarah ini membuat saya jadi paham betapa kejamnya J. P. Coen di antara gubernur belanda lainnya. Juga betapa korupnya VOC. Ketamakan akibat terlalu lama berkuasa. Sedihnya perjuangan kemerdekaan di tiap daerah. Dalam buku ini terutama di Banda. Niat diplomasi malah dijadikan jebakan. Dasar orang biadab, khianat amatlah mudah! Bagi kalian yang pernah membaca karya kumcer penulis sebelumnya, buku ini adalah perpanjangan cerpen berjudul "Kalabaka". Meski seru, bagi saya masih kurang ajeg tentang Rasinanya. Sebab dia dijadikan judul, harusnya porsi tentangnya lebih besar, sayangnya malah lebih ke catatan Kakek Staalhart tentang Kalabaka.

Cocok dibaca bagi kamu yang suka fiksi sejarah, era kolonial, dan ingin tahu 'buah berdarah' pala yang menjadi asal perebutan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #rasina #iksakabanu #metamorfillah
Profile Image for Kimi.
406 reviews30 followers
April 7, 2023
Rasina adalah sebuah novel fiksi sejarah terbaru dari Iksaka Banu. Novel ini memiliki dua plot cerita yang sama pentingnya. Pertama, berkisah tentang seorang Baljuw (kepala Kepolisian) bernama Jan Aldemaar Staalhart dan seorang landdrost (setingkat sherif) Ommenlanden Timur Batavia bernama Joost Borstveld di Batavia sekitar tahun 1755 saat VOC masih menguasai dan memerintah Batavia. Saat itu VOC menjelang kebangkrutan akibat dari pejabatnya yang korup. Bagi mereka, tiada yang lebih penting selain memperkaya diri sendiri melalui korupsi atau perdagangan gelap bersama partikelir. Mereka melakukan penyelundupan opium dan budak yang sangat merugikan VOC. Staalhart dan Joost terjebak dalam pusaran arus perilaku korup tersebut dan mereka berusaha melawan arus dengan memecahkan kasus besar yang melibatkan Jacobus de Vries, seorang Vrijburgher. Dalam alur cerita ini kita akan membaca dari sudut pandang Joost.

Kedua, berkisah tentang pembantaian penduduk Banda yang dilakukan oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal keempat dan keenam dari VOC. Pembantaian tersebut terjadi pada tahun 1621. Pada narasi cerita ini kita akan mendengar dari Hendriek Cornelis Adam yang merupakan kakek dari Staalhart.

Membaca Rasina setebal 620 halaman sangat tidak mudah buat saya karena isinya yang membuat ngilu, sedih, pedih, dan terutama sekali marah! Saya marah dengan kolonialisme, dengan kekejaman yang dilakukan oleh penjajah terhadap penduduk lokal, dengan penyiksaan yang dialami oleh para budak, dan dengan sikap rasis yang ada.

Resensi lengkap bisa dibaca di sini.
Profile Image for Naila Nufus.
14 reviews
January 2, 2026
Ga ada kata lain yang bisa menggambarkan perasaanku sewaktu baca buku selain ‘sendu’. Kepulauan Banda bukan hanya manifestasi dari eksotisme tanah Nusantara, di dalamnya, terkandung sejarah panjang yang sayangnya cukup awam bagi telinga.

“Rasina” adalah fiksi sejarah yang ditulis oleh Iksaka Banu. Novel ini ditulis menjadi 2 plot (double plot) dengan sudut pandang orang pertama. Plot pertama berlatar di Ommelanden, Batavia, menyoroti dinamika kehidupan di sana, khususnya masalah perbudakan, kriminalitas, pejabat korup, penegakan hukum, dan sejenisnya. Sedangkan plot kedua berlatar di Banda, dengan linimasa mundur sekian tahun ke belakang dari plot pertama. Plot kedua berkisah tentang genosida Banda. Antar plot pertama dan kedua memiliki benang merah sehingga dapat ditarik kesinambungannya.

Karena kisahnya yang panjang, alurnya cukup berjalan dengan lambat. ‘White saviour’ sangat terasa di buku ini. Saya agak menyayangkan sih, tapi atau memang realitanya banyak yang seperti itu ya? Pribumi pada akhirnya tetap di bawah ketiak Belanda, ini miris. Meskipun demikian, ceritanya tetap dapat dinikmati sebab untaian kata demi kata di dalamnya mampu memberikan gambaran rinci tentang apa yang pernah terjadi. Di awal halaman, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi peta dan tokoh-tokohnya sehingga semakin mampu menghidupkan imajinasi.

Aku merekomendasikan ini untuk dibaca sebagai upaya untuk mengenal sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan. Oh iya, di dalamnya terdapat beberapa adegan eksplisit, jadi hendaknya dibaca bagi yang sudah memenuhi usia legal ya. Biar makin punya gambaran tentang apa yang terjadi di Banda, bisa juga ditambah nonton Banda The Dark Forgotten Trail di Netflix. Selamat menikmati!
Profile Image for Elvika.
36 reviews
January 6, 2026
Benar-benar kagum sama penulisan novel ini. Berat, penuh riset, bahkan untuk detail-detail kecil yang sekilas lewat pun diselipkan wawasan baru. Banyak sejarah yang bagiku jarang dibicarakan, menyimpan kejadian-kejadian memilukan di masa lalu.

Novel ini berlatar dua zaman yang saling bersinggungan. Zaman utama berada di Batavia pada pertengahan abad ke-18, saat VOC masih berkuasa, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Penyelewengan merajalela dan kerakusan petinggi-petinggi VOC makin nyata.

Cerita disampaikan dari sudut pandang dua petugas hukum VOC yang bertugas di Batavia, Staalhart dan Joost. Keduanya bekerja di tengah maraknya penyelundupan dan situasi hukum yang terhalang oleh kekuasaan dan korupsi.

Adapun lewat catatan perjalanan Hendrik Adam, kakek dari Staalhart, kita juga dibawa mundur ke abad ke-16, ketika VOC mulai memasuki Banda. Di masa ini, diceritakan upaya monopoli perdagangan pala dengan perebutan kekuasaan yang dipenuhi perampasan, kekejaman, kebengisan, bahkan pembantaian terhadap penduduk setempat.

Kedua zaman ini dihubungkan oleh Rasina, seorang budak bisu anak keturunan Banda yang menjadi korban pembantaian di masa lalu. Rasina sendiri juga menjadi saksi bisu kebengisan tuannya.

Jujur, baca buku ini kerasa berat banget buat aku. Harus sering-sering jeda. Selain karena banyaknya nama tokoh Belanda, juga karena gambaran pembantaian, kekerasan, kelicikan yang terjadi di mana-mana. Namun, di luar itu, sekali lagi novel ini mengagumkan, mulai dari narasi yang mendetail didasari dengan riset hingga alurnya yang mudah dimengerti.
Profile Image for melancholinary.
460 reviews38 followers
February 4, 2026
It felt like reading the brutality of a frontier shaped by colonial, tropical capitalism—part Western, part police procedural/detective story—set within a VOC-era historical-fiction frame (rounded off with a courtroom drama that isn’t especially compelling, but, well, it sits there perfectly adequately). For me, it also reads as a reflection on complicity, given that the main protagonists are themselves colonisers and law officers, whether in the context of policing or militarism.

What I enjoyed most was the protagonists’ problematic complexity and the moral questions they grapple with—particularly the way their outlook is profoundly theological (a sense of humanity articulated through a religious moral compass). Yet even as each white protagonist performs acts that might appear heroic, none can be cleanly placed within a simple good/evil binary: they do not really regard Rasina as fully human, but as a beautiful, dark “Oriental” woman—perhaps even someone to be kept within the vicious cycle of sexual exploitation. Others are less concerned with Rasina than with the corruption that causes financial loss to the state. In the end, they remain Dutch colonisers.

The weakness, perhaps, is that the antagonists are still written somewhat caricature-like, even though it is plainly apparent that they function as symbols of how the logic of capital and the colonial machine extract everything—from resources to human beings. That said, the sheer impressiveness of the research detail was also a major reason I tore through the book so quickly.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
297 reviews6 followers
June 4, 2023
Rasina (by Iksaka Banu) merupakan sebuah novel dengan latar belakang jaman kolonial Belanda yang awalnya saya mengira akan bercerita secara spesifik tentang kisah Rasina. Namun, ternyata novel ini dibagi menjadi 2 plot dengan jeda waktu kurang lebih 1 abad yang entah mengapa menurut saya kisah Rasina hanya seperti pelengkap saja. Plot pertama mengisahkan tentang seorang Baljuw (Kepala Kepolisian) dan juga seorang Landrost (Sheriff) dalam mengusut penyelundupan budak dan opium serta penyiksaan terhadap budak dari Banda bernama Rasina. Plot kedua dikisahkan melalui sebuah buku harian kakek dari si Kepala Kepolisian yang bercerita tentang kekejaman Belanda dalam upaya penaklukan di Pulau Banda.

Sebagai pembaca awam, menurut saya novel ini memunculkan stigma ambigu yang sangat kentara dimana tokoh utama yang notabene adalah seorang dari kelompok penjajah yang begitu terlihat membela hak-hak para budak (melalui perantara kasus Rasina) namun disisi lain hal itu dilakukan juga demi menjaga martabat dan keluhuran kompeni. Bahkan saya menemukan ada beberapa situasi yang mana cara menguak kebenaran atas kekerasan fisik yang dilakukan oleh oleh tuan dari budak Rasina tidak lebih baik karena begitu menunjukan sikap erotis yang menurut saya kurang patut.

Selain itu, saya juga merasakan kesia-siaan pada akhir cerita. Dimana kasus Rasina yang menjadi sedemikian penting harus disudahi dengan keberhasilan yang kalah. Karena kemudian Rasina kembali menjadi budak, yang nasibnya tidak dapat dipastikan untuk terus baik-baik saja bersama tuannya yang baru.
Profile Image for Abiyasha.
Author 3 books14 followers
April 29, 2023
Buku keempat Iksaka Banu yang saya baca, dan sekali lagi, seperti ketika saya selesai membaca Sang Raja, buku ini membuat saya terpana.

Sejak Sang Raja, saya mengakui bahwa Iksaka Banu lihai mengolah riset dan memasukkannya ke cerita. Riset mengenai zaman kolonial tentulah bukan perkara mudah, tapi di tangan beliau, riset-riset ini mampu dileburkan ke dalam cerita dengan baik tanpa terlihat dipaksakan.

Ada banyak yang ingin saya sampaikan, tapi mungkin mustahil untuk semuanya dituliskan. Sekalipun kesan 'white saviour' lekat banget di cerita ini (apalagi sudut pandang yang dipakai Iksaka Banu selalu dari POV orang Belanda), nggak mengurangi kenikmatan membaca novel ini. Justru saya jadi tahu bagian dari sejarah Indonesia yang sebelumnya nggak pernah saya tahu.

Boleh dibilang, saya jadi benci VOC setelah baca ini, terlebih setelah pembantaian orang-orang Banda yang digambarkan dengan cukup detail. Lalu, sebuah pertanyaan muncul, benarkah kita sudah lepas dari segala hal yang berbau Belanda ketika mental inlander masih sangat lekat sampai sekarang? Terkecuali masalah bahasa Belanda yang beberapa katanya telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia, saya rasa, warisan terbesar dan paling nggak ngebanggain dari Belanda adalah mental inlander itu.

Another five stars from me dan sangat saya rekomendasikan buat dibaca. A masterpiece!
Profile Image for Wahyudha.
448 reviews1 follower
May 4, 2023
Udah selesai dari akhir bulan April sih. Dibaca cukup cepat seminggu kurang demi ikut diskusi buku.

Cover bagus , pertama muncul udah kepengen. Dan baru bisa dapat bulan lalu juga.Setelah banyak muncul review di berbagai medsos.

Pertama kali baca prosa panjangnya Iksaka Banu. Kupikir akan sulit dan sabar saat membaca. Ternyata salah, ceritanya tidak terbeban rasa dongeng sejarah yang bikin bangkitkan berbagai macam emosi. Bikin gelisah untuk membuka halaman berikutnya.

Dua POV aku pikir menjadi ide yang bagus untuk mengisahkan cerita sejarah. Jadi seperti ada pembanding. Tokohnya juga sukses menghidupi cerita sehingga benar-benar asyik dan tidak kerasa kalau bukunya tebal.

Disini aku harus mengatakan kalau Pak Iksaka Banu ini memang nggak kaleng2 bikin cerita berlatar sejarah. Soalnya cerita-ceritanya sejauh ini membuatku punya prespektif lain dalam memandang sejarah negeri ini. Sebuah hal yang mestinya bisa didapatkan di sekula.

Jadi mungkin buku ciptaan PAk Iksaka Banu ini bisa dmasukan kedalam bagian kegiatan belajar mengajar. Agar belajar tentang negara ini tidak selalu kaku dan lebih fresh.

Kalau disuruh pilih novel atau cerpennya?Aku prjbadi lebih suka novelnya pasca membaca Rasina. Bukan berati cerpennya tidak baik lho.

Oh iya untuk Rasina agaknya kisahnya lebih bagus untuk dilanjutkan. Yah nggak usah setebal ini lah. YAng penting ada lagi.
Displaying 1 - 30 of 74 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.