Jump to ratings and reviews
Rate this book

Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager

Rate this book
Gen Z

Senin pagi
kau ingin berhenti bekerja, meluncurkan startup,
menjadi influencer, dan menerima endorse.

Senin siang
kau teringat cicilan dan tagihan, investasi bulanan,
tabungan liburan, persiapan menikah, dana darurat.

Senin sore
kau ingin pulang tepat waktu, tapi Bos menahanmu,
klien menunggu hasil revisi kelima.

Lucia Priandarini menggubah sajak-sajaknya dengan bahasa yang hidup di tengah masyarakat. Dengan mendayagunakan diksi-diksi dan citraan-citraan kekinian, sajak-sajaknya terasa renyah. Di kedalaman kata-katanya termaktub upaya manusia untuk tetap waras dan rileks di tengah kekacauan sosial yang diliputi ketidakpastian.

—Joko Pinurbo, penyair

120 pages, ebook

Published January 21, 2021

11 people are currently reading
219 people want to read

About the author

Lucia Priandarini

11 books58 followers
Lucia Priandarini lahir dan dibesarkan dalam rumah penuh buku. Setelah lulus dari Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, ia sempat menjadi reporter di media gaya hidup, menulis naskah nonfiksi untuk penerbit, serta menulis konten untuk media daring. Kini ia bekerja mendokumentasikan pendampingan komunitas pembatik dan penenun di beberapa daerah.

Episode Hujan dan 11.11 (2016) adalah 2 novel pertamanya. Ia menerbitkan buku nonfiksi kesembilannya, Mengejar Ujung Pelangi pada 2020. Pada 2021 ia menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager. Buku ini menjadi nomine buku sastra pilihan Tempo kategori puisi tahun 2021.

Dua Garis Biru (2019) adalah kolaborasi ketiganya dengan Gina S. Noer setelah novel adaptasi Film Posesif (2017), dan Dunia Ara, buku anak dari semesta Film Keluarga Cemara (2018).

Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik: lucia.priandarini@gmail.com, Instagram dan X: @rinilucia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
81 (25%)
4 stars
168 (52%)
3 stars
65 (20%)
2 stars
4 (1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 102 reviews
Profile Image for Aditya Hadi.
Author 2 books141 followers
January 7, 2021
Buku puisi dengan diksi yang "modern", begitu relevan dengan kehidupan kaum kelas menengah di tanah air.

Password wi-fi, SEO, jam kerja yang tidak menentu, hingga Instagram dan YouTube, adalah beberapa hal yang diangkat oleh Lucia Priandarini di buku Panduan Sehari-Hari Kaum Introver dan Mager ini. Sesuatu yang mungkin tidak akan kamu temukan di buku-buku puisi karya generasi sebelumnya. Atau bila ada, konteksnya kurang "dekat".

Meski begitu, puisi-puisi di buku ini berbeda dengan kata-kata indah yang biasa kamu temukan di akun Instagram para influencer atau cuitan para selebtweet. Ada permainan diksi yang indah, seperti hampir-mampir, rasa-rasi, sakit-sakti, keranda-beranda, hingga pura-pura dan rupa-rupa. Semuanya tersebar di seluruh buku hingga lama-lama terasa seperti menjadi ciri khas sang penulis.

Hampir seluruh puisinya penuh dengan ironi kehidupan, hal-hal yang dianggap biasa saja saat ini namun terasa aneh apabila kita melihatnya dari sudut pandang lain.

Di satu sisi ada beberapa puisi yang terkesan seperti prosa, tapi bila dibaca sampai selesai atau diresapi lebih lanjut, tetap muncul kehangatannya. Di sisi lain, ada untaian kata indah yang puitis, penuh teka-teki dan twist, namun tetap bernapaskan unsur-unsur kekinian yang menjadi tema sentral buku ini.

Secara personal, buku ini begitu dekat dengan saya yang punya pengalaman sebagai jurnalis, rutin mengikuti perkembangan teknologi, dan dekat dengan skena sastra tanah air. Karena itu, hal-hal seperti ini pun begitu menggelitik saya.

"Kemudian ada lagu, syair, buku tebal, dan layar lebar,
obrolan tentang puisi SDD meski aku lebih suka Huruf Kecil,


atau

"Google adalah tuhan, ikuti saja
Riset kata kunci, sebut lima kali
Empat ratus kata paling sedikit.

[...]

Belum muncul juga di halaman pertama pencarian?
O rupanya rumus tuhan sudah ganti lagi."


Bagi kamu kaum milenial yang sering merasa terbebani dengan tekanan hidup dari keluarga, pekerjaan, mimpi pribadi, hingga postingan orang lain di media sosial, buku ini cocok untuk menghangatkan hati dan membuat kamu merenungi kembali arti kehidupan yang sebenarnya.
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
January 28, 2021
Meski berjudul panduan, tentu saja kumpulan puisi ini tidak berharap menjadi jujugan para introver dan para pelaku mager untuk menemukan petunjuk menjalani hidup. Sekalipun tak mager dan bukan introver, kumpulan puisi ini tetap renyah dan asyik dinikmati.

Setelah membaca habis buku ini, saya pikir kelak puisi-puisi dalam buku ini juga akan muncul di berbagai status sosial media pembacanya. Pasalnya banyak puisi yang menerjemahkan keinginan, keluhan, kesedihan, pertanyaan yang sesungguhnya ingin terkatakan, namun kerap terlewatkan, terlalu rumit (malas dipikirkan), dan melelahkan. Lucia Priandarini meminjamkan kepekaan yang cermat, sudut pandang yang menarik, dan kreativitasnya menerjemahkan dalam kata.

Selama membaca, rasanya tempo-tempo menggelitik dan menghibur, kadang miris, di lain waktu membekaskan kesan dan refleksi di kepala. Tema-tema puisinya pun beragam. Namun kebanyakan mengolah remah-remah yang terserak di keseharian, kemudian diramu menjadi sesuatu yang pantas untuk melintas, bahkan untuk dipikirkan lebih jauh. Seperti puisi "Tutorial di YouTube" ini.

Anakku melihat jejak kanal YouTube yang kubuka
cara membuka tutup galon tanpa merusaknya
...
Ia menatapku dan bertanya
Ibu, mengapa Tuhan tidak membuat tutorial
tentang cara mengatur dunia?


Penulis juga menghadirkan kritik yang kerap dalam. Salah satu favorit saya ada di "Perempuan-Perempuan yang Terlalu"

Perempuan-perempuan memang selalu terlalu
...
Tertawa terlampau kencang
Melihat ponsel terlalu sering
Dandan berlebihan, nanti jadi godaan
...
Perempuan memang selalu terlalu
untuk yang ketakutan melulu


Melihat banyaknya daftar puisi yang saya tandai suka di buku ini, nanti-nanti, ketika Lucia Priandarini menerbitkan buku puisi lain, kemungkinan besar saya ingin membacanya lagi.
Profile Image for Juwita.
329 reviews5 followers
March 24, 2022
Puisi pertama yang aku baca dan aku suka 🤩
Puisi yang menyampaikan campursari perasaan seperti kesedihan, kehilangan, kekecewaan, penyesalan, keraguan, rasa hampa/kosong, penyangkalan, perubahan, rasa cemburu, pasrah, sindiran, lelucon, peringatan, bimbang atau keraguan, kesialan dan egois.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
May 1, 2022
Suka banget! Baca kumpulan puisi perdana Lucia Priandarini ini jadi teringat dengan puisi-puisi Renungan Kloset karya Rieke Diah Pitaloka. Caranya memainkan kata yang langsung tepat di jantung pembacanya membuat setiap puisi benar-benar disiapkan begitu matang. Pengungkapan hal-hal sehari-hari yang dekat dengan dunia pembacanya juga membuat puisi ini berkesan, tak terlalu ribet dengan metafora tetapi menampilkan wajah yang lain dari itu semua. Rasanya setiap perempuan menulis puisi hampir pasti dilakukan dengan penuh kejujuran dan cita rasa bahasa yang bikin senyum-senyum sendiri. Saya sih begitu, kalo kamu?
Profile Image for Ridha Amalia Nur.
124 reviews24 followers
February 16, 2021
Buku pertama di bulan Februari!

Buku ini BAGUSSSSS!!!
Kumpulan puisi yang gak 'biasa'
Penulisnya punya ciri khas dalam memadupadankan kata. Aku suka!

Puisinya twisty 😍😍😍
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 19 books150 followers
March 25, 2021
Sampai akhir, paling suka yang judulnya Janji Temu. Pas dibaca lagi pun tetap kerasa efek "nabok"-nya. Semoga Mbak Rini nulis puisi lagi ya, aku cocok banget ❤️
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books358 followers
March 2, 2021
Baru membaca nukilan puisi di sampul belakang saja, aku sudah dibikin jatuh cinta dengan permainan diksi yang cukup "petakilan", apa adanya, dan menyuarakan isi hati banyak orang. Kepekaan Lucia Priandarini dalam mengamati banyak hal yang dialami berbagai generasi, membuatku sebagai pembaca bisa merasa lebih terkoneksi dengan banyak hal, termasuk ironi yang yang dibatikan lewat puisi.

Setelah membaca buku puisi ini, ada tiga jenis perasaan utama yang mondar-mandir di dalam hati: bikin kangen, bikin ngikik, bikin merenung.

1. Puisi yang bikin kangen tapi gak mau balik lagi ke zaman itu
Puisi soal Matinya Kernet Metro Mini dan KRL Ekonomi Jakarta Tahun 2000, mengingatkanku pada zaman-zaman jadi jurnalis dulu. Ketika ojol belum se-booming sekarang, bus dan kereta selalu jadi transportasi umum langganan. Jadi, rasanya cukup kebayang gimana zaman-zaman susah dulu buat cari berita. Dan ya, rasanya enggak kepengin balik ke masa itu.

2. Puisi yang bikin ngikik (gak expect juga bakalan ada tema ini!)
Saat asyik membuka halaman satu dan yang lainnya, ada yang mendadak bikin senyum. Rupanya, Artikel SEO dan Kata Kunci Wi-Fi Hari Ini cukup bikin ngikik ketika membacanya. Sebagai seseorang yang banyak bergelut dengan SEO dan juga enggak bisa lepas dari internet, dua puisi ini bikin pengin ngetawain diri sendiri. Ternyata, penulis buku ini punya sensasi humor menggelitik yang mengingatkanku pada puisi-puisinya Joko Pinurbo dan Beni Satryo.

3. Puisi yang bikin merenung karena kepahitannya
Penulis tampaknya bukan cuma mahir mengotak-atik kata, melainkan mengaduk-aduk hati pembaca. Dua puisi berjudul Keranda di Beranda dan Pundak Ibu sukses masuk ke dalam jajaran puisi terfavorit. Setelah dibikin kangen, ketawa, sekarang dibikin sedih.

Puisi lain yang kukagumi (ah, ingin rasanya membuat daftar puisi kesukaan yang lebih panjang!):
1. Gen Z
2. Perempuan-Perempuan yang Terlalu
3. Setelah Majalah dan Koran Tak Terbit

Secara keseluruhan, aku sungguh kagum dengan kepiawaian penyair dalam mengamati berbagai hal dengan kepekaan tinggi. Buku ini bukan cuma ditujukan untuk kaum introver, yang suka mager, atau para kaum rebahan. Lebih dari itu, buku puisi ini rasa-rasanya mengajak siapa saja untuk menertawakan kesulitan hidup, tanpa ragu mencintai hal-hal kecil nan rumit di baliknya.
Profile Image for Hëb.
169 reviews7 followers
September 24, 2025
Pemberian rating 5/5 rasanya cukup menggambarkan betapa sukanya aku dengan buku ini. Sebagian besar puisinya terasa dekat dan benar-benar hidup -dengan kata lain, sangat representatif. Butuh waktu beberapa jenak untuk menjeda setelah membaca puisi-puisi di buku ini, setidaknya untuk merenungkan: "Ternyata hidup emang kayak gini, ya."

Sangat aku rekomendasikan untuk siapa saja yang butuh rekomendasi buku puisi. Legit five stars!
Profile Image for Arvia Maharhani.
231 reviews29 followers
February 3, 2021
Aku bukan tipe orang yang suka baca buku puisi, tapi puisi-puisi di buku ini KEREN BANGET. Diksinya passss, dan banyak fenomena sosial yang diangkat. Wow aku gak kepikiran bisa membuat puisi dari hal-hal disekitar kita. Baca puisi ini kayak didongengin.

Puisi-puisi favoritku:
- Toko Kenangan, membuat sedih dan kangen kenangan masa kecil
- Rumah, Jauh dari Rumah (2). Puisi ini AKU BANGET
- All You Need is Love. Kalimat terakhirnya ngena banget "Kau menginginkan cinta yang belum kau berikan untuk dirimu sendiri" deep.
- Tutorial di Youtube
- Mengingat Tuhan
Profile Image for Renov Rainbow.
276 reviews2 followers
June 15, 2021
Pertama kalinya baca buku si pengarang, dan suka dengan pemilihan katanya yang apik dan penuh makna.

Beberapa puisi seperti Minggu Pagi! Toko Kenangan berhasil membuat saya meneteskan air mata.

Ada juga puisi yang inspiratif misalnya Kata Kunci Wifi Hari Ini.

Ada yang bikin miris, seperti puisi Ada Pasar di Kepalanya, Rupa-Rupa Pura-Pura, All You Need is Love, dan masih banyak lainnya.

65-2021
Profile Image for isaiah.
153 reviews
September 11, 2022
Rumah, Jauh dari Rumah

Tempat asalmu tak lagi membuatmu merasa pulang
Kampung halaman membuatmu ingin menyibak halaman baru

...

⭐ 4.4/5

a good prose and poetry book, indeed!

i enjoyed those proses and poetries very much. i thought, this book was about self motivations, but no, i was wrong. ternyata isinya kumpulan puisi dan prosa yang cantik. im extremely touched. 😬💘
Profile Image for Suanda Angga.
16 reviews3 followers
December 21, 2021
Baru tahun ini aku baca buku-buku kumpulan puisi. Sebelum-sebelumnya tidak pernah. Dan beberapa kali aku lihat kawan-kawan mereview buku puisi ini, aku jadi tertarik untuk membacanya dan ternyata suka sekali. Sangat-sangat suka. Puisi-puisinya ringan, mudah dipahami namun terasa berbobot.

Dan, dari sekitar 7 buku puisi yang aku baca tahun ini, menurutku ini buku terbaik
Profile Image for gray read's.
61 reviews7 followers
May 21, 2022
"Ada pertanyaan yang tidak ingin kita jawab. Ada jawaban yang tidak ingin ditemukan" — Pertanyaan di Minggu Pagi

Menurutku kumpulan puisi ini heartwarming banget. Terus isinya juga relate sama kehidupan sehari-hari, kadang malah kayak merasa tersindir 🫣 in good ways ya hahahaha
Beberapa puisi favorit ku
Paket Rindu, Puisi Kemerdekaan Ke-75, Gen Z, Perempuan-Perempuan yang terlalu, Pundak Ibu, Turun Ke Atas Naik Ke Bawah, dan masih banyak lainnya
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book264 followers
January 23, 2021
Saya suka puisi-puisinya. Mengingatkan pada gaya puisi Jokpin.
Dan Jokpin memang memberi pengantar di buku ini.

Menjelma Maria.
Perempuan-Perempuan yang Terlalu.
Keranda di Beranda.
Absensi Bapak-Bapak.
Judul-judul puisi yang menarik disimak.
Profile Image for Tri Yudha.
99 reviews1 follower
May 31, 2022
'suatu malam, di sisi pundak ibu
Pundakku terguncang- guncang tak tertahan
Saat ia menempuh perjalanan ke langit dan tak kembali'

Bahkan untuk seorang yang bukan penikmat puisi, buku ini enak untuk diselesaikan
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
September 4, 2021
Suka sama isu-isu sosial yang dibawa di dalem buku ini. Nyentil? Banget. Malah di beberapa bagian ada yang bikin "oh, iya ya,"
Profile Image for bayu.
74 reviews
January 7, 2024
Tanpa perlu bahasa yang ndakik-ndakik, buku kumpulan puisi ini mampu menyugguhkan puisi-puisi yang ciamik. Untukku yang kurang bisa memahami sajak dan puisi, buku ini cukup bisa kunikmati. Beberapa judul favoritku:
- Ada Pasar di Kepalanya
- Rupa-rupa Pura-pura
- Bukan Orang Sini
- Panjang Umur
Profile Image for yun with books.
711 reviews243 followers
September 5, 2021

"Anggap saja begini:
Sakit hati
adalah latihan
untuk sakti hati."


Buku puisi memang mungil, tetapi "magic"-nya adalah bagaimana dengan kemungilan tersebut bisa berisi tentang hal-hal yang menjadi "alat" merenung, galau dan menjadi "alat" yang bisa menampar kita kepada realita yang ada.
Nah, buku Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager termasuk ke dalam tipe puisi yang penuh dengan realita dan tamparan bagi para pembaca.
Ada buku-buku puisi yang menurutku berfokus pada betapa dalam pemikiran dan perasaan si penyair, sehingga aliran kata-katanya begitu indah.

Buku ini, selain kata-katanya dapat dicerna dengan sekali baca, pun memiliki makna yang bijaksana. Membaca buku puisi ini memberikan insight mengenai keadaan sekitar, perasaan-perasaan manusia di dalamnya.
Suka.

"Lambat laun kau tahu
Mencitai dan dicintai orang yang tepat adalah
tentang mencintai dirimu sendiri..."
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
243 reviews36 followers
June 8, 2021
Hanya ada dua kategori untuk judul-judul dalam buku puisi ini: suka dan suka sekali.

Rini benar-benar dapat menangkap kegelisahan kaum urban dewasa muda menengah ke atas (panjang ya...). Meski menggunakan diksi-diksi familiar, setiap katanya seperti telah direnungkan benar-benar, diendapkan berhari-hari sebelum kemudian dituliskan.

Saya sebenarnya jengah dengan metafora alam dalam puisi. Bulan, langit, bintang angin, dan sejenisnya. Haruskah selalu demikian? Apakah kata-kata sehari-sehari tak dapat dimaknai mendalam?

Buku ini sesuai - bahkan melebihi ekspektasi saya. Saya hanya menemukan kata bulan dalam satu judul. Selebihnya, akronim-akronim gaul, kata bahasa Inggris yang populer yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia malah bikin kening mengkerut, dan kosakata percakapan sehari-hari kita.


Sumpah! Kalian harus membacanya!
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
January 25, 2022
Awalnya, ketika sekilas membaca judul buku ini, saya sempat mengira buku ini memang adalah semacam guidebook for introverts (self-improvement book). Lalu, setelah mencoba membalik cover dan menelusuri halaman-halamannya, saya terkejut juga ternyata buku ini adalah buku kumpulan puisi. Menarik sekali.

Penulis menulis puisi-puisinya dengan bahasa yang sederhana, tetapi permainan kata dan maknanya sanggup membuat pembaca tersenyum, ikut meringis, sampai tertohok. Puisi-puisinya sangat relatable dengan generasi muda urban (hi, gen z & milenial) yang bergelut dengan kecanggihan teknologi dan kerunyaman masa modern kini (khususnya, di tengah pandemi COVID-19). Dari semua puisi dalam buku ini, saya bisa bilang semuanya sangat berkesan, meskipun ada 4 (empat) puisi yang paling saya suka: Kekacauan yang Tertata, Perempuan-Perempuan yang Terlalu, Terlalu Pagi untuk Jatuh Hati, dan Kepada Papua.

Dalam puisi "Kekacauan yang Tertata", saya menemukan kontradiksi yang menarik yang disuguhkan penulis. Apalagi mengingat bahwa ada kalanya isi rumah dan isi kepala memang saling interkoneksi dalam persoalan kerapian atau berantakan.

Semakin rapi isi rumahnya,
semakin berantakan isi kepalanya


(Puisi "Kekacauan yang Tertata)


Dalam puisi "Perempuan-Perempuan yang Terlalu", yang sepertinya juga adalah salah satu favorit banyak pembaca, saya terkesan bagaimana cara penulis melukiskan 'pagar-pagar' sosial yang seringkali banyak dipakai mengungkung perempuan agak tidak 'keterlaluan' (sebagai perempuan).

Perempuan memang selalu terlalu
untuk yang ketakutan melulu


(Puisi "Perempuan-Perempuan yang Terlalu")


Dalam puisi "Terlalu Pagi untuk Jatuh Hati", penulis memotret rutinitas sederhana, seperti bapak rumah tangga, pria muda tampan yang membaca di kereta, ibu belanja tanpa kantung kresek, PNS yang berangkat kerja dengan sepeda -- tanpa terlalu panjang menyuguhkan dunia yang baik-baik saja (meski sebagaimana judulnya: yes, tentu ini masih terlalu pagi untuk jatuh hati).

Dalam puisi "Kepada Papua", penulis mengingatkan kita akan cinta yang belum juga kita kirim, maaf yang belum kita ucap, pelukan yang tak juga kita antarkan sendiri. Pengingat yang mengiris-iris hati.

Sekali lagi, sangat terkesan dan terkoneksi dengan apa-apa yang disampaikan di dalamnya. Sebuah buku puisi yang memorable, semenjak membaca judul bukunya. Salah satu buku puisi yang sangat saya nikmati sepanjang waktu membaca. Sangat direkomendasikan.
Profile Image for Saji.
96 reviews5 followers
June 26, 2022
"Perempuan-perempuan selalu terlalu
untuk yang ketakutan melulu."

Penggalan puisi Perempuan-Perempuan yang Terlalu, hal 82.

Membaca puisi ini jadi gemas pada orang-orang yang menyebut perempuan-perempuan sering "terlalu". Perasaan gemas ini juga bisa berubah jadi geram, kalo yang nyebut "terlalu" itu udah bikin jengkel parah. Tapi, penggalan larik ini seperti mengingatkan bahwa mereka yang menyebut perempuan "terlalu" adalah mereka yang selalu ketakutan.

Mereka takut perempuan melampaui laki-laki. Entah berupa pendidikan, gaji, atau jabatan yang tinggi.

"Gajinya terlalu tinggi, apalagi jabatannya

Sekolah terus, cita-cita terlalu banyak
Terlalu cerdas, nanti susah cari suami
Terlampau pintar cari uang,
Pendapatan istri jangan lebih tinggi dari suami."
(Penggalan puisi Perempuan-Perempuan yang Terlalu, hal 82).

"Terlalu" tak lain adalah sebuah batasan yang mereka tetapkan agar perempuan-perempuan selalu berada di bawah laki-laki, selalu patuh terhadap kendali.

"Terlalu" adalah wujud bahwa perempuan tak boleh banyak berambisi, apalagi menjadi ambisius. Tapi, di lain sisi, banyak orang merasa wajar bahkan menganjurkan laki-laki berambisi.

Konon, laki-laki yang tahu keinginannya dan berambisi adalah laki-laki yang menarik. Sementara perempuan yang sadar dengan kemampuannya dan berambisi adalah perempuan yang menakutkan. Hwehhh, tarik napas, hembuskan. Mari jangan berpikir berat.

Sebenarnya, "terlalu" juga pengakuan bahwa mereka yang menyebutkannya pada perempuan--bisa jadi sedang insecure. Sangat mudah bagi orang-orang yang tak percaya diri untuk menjelekkan orang-orang yang tak disukainya.

Kita, khususnya perempuan, hanya perlu ingat bahwa "terlalu" yang sering orang sebut untuk mengomentari kita, bukanlah batasan yang perlu kita patuhi. Kita punya kemampuan-kemampuan yang perlu kita gali dan kembangkan. Juga kesempatan-kesempatan yang terbentang luas. Hidup dan dunia kita tidak bisa dibatasi kata "terlalu".
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews43 followers
January 1, 2023
Bisa dibilang, saya jatuh cinta pada buku ini dan akan jadi salah satu buku puisi yang dibaca berulang-ulang.

Buku ini bisa dijadikan sebagai penanda zaman. Tema puisi-puisinya kekinian tanpa terasa dipaksakan (saya ingat menyebut buku ini “buku puisi millenial mager”.😂) Topiknya dekat sekali dengan kehidupan saya, terasa seperti mengobrol dengan teman satu generasi. Tidak melulu tentang cinta, meski tetap ada, tapi juga tentang menghadapi pekerjaan, hidup di zaman internet (halo cari wifi gratis dan keinginan jadi influencer), kenangan-kenangan masa kecil yang serupa, isu-isu sosial yang sering jadi perbincangan (“Perempuan-Perempuan yang Terlalu” sempat ramai di Hari Wanita Sedunia), kegelisahan-kegelisahan kawula muda urban, hingga pandemi yang baru saja terjadi (masih terasa surreal).

Pemilihan katanya cenderung sederhana dan mudah dipahami dengan keapaadaannya, tapi tidak kehilangan keindahannya. Lewat puisi "Setelah Kau Pergi" misalnya. Bahasanya tidak neko-neko dan wajar-wajar saja, tapi terasa lirikal dan menyentuh. Bahkan puisi tentang senja dan kopi (iya, ada juga) terasa menyenangkan dibaca. 😂

"Absensi Bapak-Bapak" menjadi salah satu yang akan selalu saya simpan di hati. Sebagai pengingat dan panduan (memang sedang umurnya generasi ini jadi bapak-bapak dan puisi ini penting!) Juga puisi “Di Halaman Taman Kanak-Kanak” 1 dan 2 yang bersebelahan dan menciptakan efek yang luar biasa ke hati.

Saya juga menyenangi buku secara keseluruhan. Ada 98 puisi dan urutannya membangun emosi dengan apik. Tertawa lucu, tertawa miris, senyum-senyum, tersindir, kesal, sampai yang bikin sedih, bergantian dengan mulus. Apalagi sewaktu masuk bagian tentang pandemi, mulai dari geram, marah, sedih, hingga ya sudah, langsung kembali terbayang saat membaca puisi-puisinya.

Lalu ditutup oleh puisi yang bikin rindu ibu. Sangat tidak terduga.
Profile Image for Yura Lasari.
79 reviews2 followers
December 30, 2024
Sepertinya saya nobatkan buku ini menjadi buku terakhir di tahun 2024...
... dan tidak menyesal.

Awal saya berkenalan dengan Mbak Rini di sebuah proyek tahun 2023 dan kebetulan kami sering sekali dapat jatah satu kamar penginapan setiap ada kunjungan ke proyek. Lalu jadi kenal dengan Mbak Rini sebagai seorang penulis. Tapi tidak pernah mencaritau terlalu banyak tentang proyek lainnya, pun mengobrol lebih selalu dalam koridor pekerjaan. Walaupun begitu, mungkin karena beliau penulis dan saya senang membaca, obrolan dengan Mbak Rini jadi semakin banyak - mungkin semakin akrab.

Akhir tahun ini, saya iseng cuci mata di toko buku dan kontan kaget ketika melihat nama Lucia Priandarini, langsung saya beli. Buku ini adalah karyanya yang pertama saya beli, karena memang akhir tahun ingin membaca yang cenderung pendek dan sederhana saja - buku puisi.

Ternyata ketika saya baca, saya seperti melihat sisi lain Mbak Rini yang berbeda dengan koridor pekerjaan. Puisinya santai, ringan, jelas kontemporer dengan bahasa dan isu terkini, tapi... tetap ada sentuhan melankolisnya. Beberapa tulisannya mengingatkan saya pada penggalan-penggalan obrolan sebelum tidur di kamar penginapan, sambil tipis-tipis merutuki proyek hehehe.

Favorit saya: Janji Temu, Menuju Mimpi, Terlalu Pagi Untuk Jatuh Hati.

Honorable Mention: Pilihan Ganda - nuansa sedih yang (sengaja) diabaikan, lalu malah jadi komedi.

Saya juga suka dengan pemilihan kata-katanya yang seringkali diutak-atik sehingga berima, ataupun menjadi pasangan kata yang komplementer. Persis karakter Bahasa Indonesia yang selalu saya kagumi.

Semoga Mbak Rini ada kesempatan menulis puisi lagi :)
Profile Image for Descartesius.
58 reviews1 follower
December 31, 2023
"Hari ini aku akan pura-pura
untuk tidak pura-pura."
- Rupa-rupa Pura-pura

"Tapi kau tak perlu pergi hanya untuk belajar lebih mencintai."
- Rantau

"Yang baik, jika ada, tak selalu naik
Yang salah tak selalu kalah
Yang teratur belum tentu tak hancur."
- Pemilihan

"Pemalas adalah orang pintar
mencari hasil terbanyak
dengan upaya sedikit
sesuai prinsip ekonomi."
-Puisi Kaum Rebahan

"Mencintai dan dicintai orang yang tepat adalah tentang mencintai dirimu sendiri.
- Orang yang Tepat


~ו°~

Awalnya tak kira ini buku self-improvement, ternyata buku kumpulan puisi! 😭😭

Eits tapi aku tetp suka banget sama puisi²nya karena pembawaannya anggun dan gak biasa. Dari ngebacanya aja aku udah tau penulis merakit kata-katanya dengan begitu indah dan hati-hati. Ada beberapa puisi yang, seperti pada umumnya, sulit dimengerti maknanya. Tapi kan hakikatnya puisi untuk dinikmati, bukan dipahami. Rada emosi dikit sama puisi pertama berjudul "Membenci Akhir Pekan", kok bisa yaa ada orang yang benci akhir pekan. Tapi justru ini menjadi salah satu puisi favoritku, karena memberikan perspektif dan pandangan baru tersendiri yang berbeda. Puisi "Belum Kembali" juga bagusnya bukan mainnn. Padunan katanyaa cocok bener (kayak aku dan dia hihi). Apalagi pas ngebaca kalimat "Ingin menampung tapi hanya bisa menumpang", berasa kehantam ke langit ke delapan gegara kekuatan kata-katanya. Penulisnya kreatif bangett sihh :') Terngakak² juga pas baca yang "Ada Pasar di Kepalanya". Metaforanya sangat bersemangat dan terlalu nyata. Namun di akhir, seakan-akan menyadarkan kita apa makna syukur.
Profile Image for athiathi.
367 reviews
December 10, 2022
Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa kembali menikmati puisi! Jadi, buku puisi kali ini berisi puisi yang menurutku sangat mudah dipahami. Karena penulis dengan ringan mengambil peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.

Aku suka bagaimana diksi-diksi yang ada, tersusun dengan rapi. Aku suka karena tiap bagiannya tidak terlalu memenuhi halaman.

Ini dia beberapa bagian yang kusuka:
– "Kita adalah pernyataan yang tak jadi terbit, tenggelam sebelum muncul di permukaan lalu kembali menjadi pertanyaan."

– "Kau baru tersadar, tak hanya penyesalan, rindu juga bisa terlambat."

– "Kita hanya berakhir di hampir, sekadar mampir."

– "Hari ini aku akan pura-pura untuk tidak pura-pura."

– "Segala ingin kini menjadi dingin."

– "Kita bisa membicarakan semua kecuali kita."

– "Sengaja kubiarkan TV terus menyala, agar setidaknya ada yang tetap hidup saat kita meredup."

– "Anggap saja begini: sakit hati adalah latihan untuk sakti hati."

– "Jangan nekat terlalu dekat. Jangan jauh-jauh, nanti jatuh."

– "Mengagumi cukup dengan pikiran. Hati, hati-hati."

– "Kata adalah petunjuk untuk ruang-ruang tanpa cahaya yang setitik lagi hilang tak terbaca."

– "Semakin rapi isi rumahnya, semakin berantakan isi kepalanya."

– "Semua perlu tampak baik-baik saja."

Buku ini kurekomendasikan bagi sesiapapun yang ingin menghabiskan waktu dengan santai sambil ditemani segelas teh. Benar-benar nyaman. Mungkin cukup, sampai jumpa! 💛
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
September 29, 2021
Buku puisi tercepat yang pernah saya baca. Karena biasanya saya mikir lama dulu, haha. Nggak cuma kontennya yang dekat dengan keseharian, jalinan katanya juga berasa akrab di telinga, dengan tetap mengedepankan estetika. Kalau ada yang habis baca buku ini pengin bikin puisi, saya maklum. Karena puisi-puisi di sini bikin dekat dengan bentuk puisi itu sendiri.

Bagian favorit saya ada di awal-awal. Mulai ke tengah, mungkin karena penempatannya berdekatan, saya agak jenuh dengan puisi berimanya. Kalau disebar barangkali lebih bisa saya nikmati, jadi silang-silang gitu sama puisi lain yang vibe-nya lebih sendu alih-alih jenaka. Di tengah ini juga ada puisi-puisi bertema cinta, yang sayangnya bukan favorit saya. Tapi saya bisa lihat akan ada banyak pembaca yang menyukai puisi-puisi cinta ini. Semakin ke akhir, saya menikmati lagi, terutama juga karena temanya yang mengikuti letaknya—tentang penutupan—serta nuansanya yang sejuk.

Faktor kenapa saya bisa mudah mencerna puisi-puisi di sini, selain pemilihan tema dan diksinya, juga "cerita yang dibawakan". Berbeda dengan buku puisi yang pernah saya baca sebelumnya, yang biasanya merangkum satu kejadian atau menjelaskan sebentuk perasaan saat itu juga, puisi-puisi ini seperti novel singkat. Jadi ada awal, tengah, dan akhir. Perasaan yang familier itu (karena saya lebih sering baca novel) yang membuat saya juga cepat bersimpati dengan siapa pun tokoh di puisinya (Robert, Diriku yang lain, dll.). Pendekatan ala novel ini juga sukses membuat saya menerka-nerka bagaimana seandainya puisi ini dibuat versi panjangnya. Atau mungkin sudah ada di antara buku fiksi karya Mbak Lucia? Dari dulu pengin baca Episode Hujan, sayang belum kesampaian juga 😢

Bacalah jika kamu introver atau ekstrover yang ingin mengenal introver 😁 Nggak ding, buku ini untuk semua. Terutama yang pernah atau sedang tinggal di kota besar dan pernah curhat colongan di kolom reply salah satu base Twitter (you'll see yourself OUT in this book LOL).
Displaying 1 - 30 of 102 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.