Sukarno berkata, "Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah." Aku menjawab, "Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya." Semanya setuju, kalimat pertama diambil dari akhir alinea ketiga rencana Pembukaan UUD yang mengenai Proklamasi. Lalu, kalimat pertama itu menjadi, "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia." Namun, aku mengatakan, kalimat itu hanya menyatakan kemauan bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebab itu, mesti ada komplemennya yang menyatakan bagaimana caranya menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu, aku mendiktekan kalimat yang berikut, "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya." Setelah bertukar pikiran sebentar, teks itu disetujui oleh kami berlima yang menjadi panitia kecil.
Latar Belakang dan Pendidikan Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.
Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.
Perjuangan Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.
Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.
Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.
Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.
Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur
Buku terakhir dari otobiografi Hatta yang dibagi jadi 3 buku. Mulai dari datangnya Jepang sampai ke Konferensi Meja Bundar dan berdirinya RIS. Menurut saya paling menarik dari 3 buku ini, karena isinya merupakan klimaks dari perjuangan hidup Hatta. Penuh peristiwa-peristiwa bersejarah, pendudukan Jepang, berakhirnya PD II, proklamasi, agresi militer Belanda, dan upaya diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan. Betah sekali membacanya. Salut dengan pemimpin-pemimpin yang memperjuangkan Indonesia waktu itu. Juga suka detail-detail kecil misal ketika pemimpin republik ditawan Belanda dan diasingkan, pesawatnya sempat turun di Cililitan dan mereka bertujuh disuruh buang air di pinggir landasan :))
Kagum dengan penulisannya yang jujur apa adanya, sederhana dan akrab, mungkin menggambarkan pribadi penulisnya. Sayang biografinya berhenti disini, tidak diceritakan kelanjutannya setelah 1949. Menurut saya, autobiografi ini recommended sekali dan suatu must-read buat pencinta sejarah Indonesia.
Membaca Untuk Negeriku, membaca perjalanan panjang seorang Hatta yang segenap hidupnya ditujukan untuk tanah lahirnya. Kisah hidup orang besar yang berjuang untuk negara besar.
Sayangnya, Hatta tidak mengekspos kehidupan pribadi (keluarga)-nya. Melihat keluarga Hatta pastilah hal yang juga menarik :)
Lima bintang untuk Bung kita bersama, seorang pribadi besar yang menarik hati.
Entah mengapa buku ini yang paling tidak bisa kunikmati dibanding dua buku sebelumnya. Mungkin karena kejadian-kejadiannya telah banyak kubaca dari buku sejarah jadi terkesan membosankan, meskipun dari sudut pandang Pak Hatta sendiri. Ada beberapa kejadian menarik seperti saat Pak Hatta harus menyamar menjadi kopilot agar bisa keluar Indonesia dan percobaan kudeta oleh kubu sosialis. Sayang, Pak Hatta tidak menceritakan kehidupan keluarganya sendiri karena tiba-tiba saja sudah ada Bu Rahmi di akhir cerita.
Ini buku terakhir dari 3 buku Otobiografi yg ditulis langsung oleh Bung Hatta. Bahagia rasanya bisa menyaksikan dan mengetahui urutan sejarah kemerdekaan Indonesia dari pelaku sejarahnya langsung. Ya walaupun 'Langsung' di sini maknanya bukan tatap muka, melainkan menghadirkan hal2 yg pernah terpikirkan dan terlaksana oleh Bung Hatta yg dicurahkan di dalam bukunya. Perjuangan Indonesia dalam menyatakan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan tidaklah digambarkan secara berdarah-darah oleh Bung Hatta di buku ini. Melainkan lebih secara keseluruhan dikupas dalam hal diplomasi. Mungkin karena Bung Hatta memang berperan berperang secara diplomasi. Lain halnya mungkin jika buku ini ditulis oleh Jendral Besar Sudirman dkk. Namun di buku ini juga tidak banyak mengupas tentang keterlibatan Bung Karno dalam kemerdekaan. Sebab di beberapa bagian, Bung Karno memang ternyata tak banyak dan tak selalu bersama-sama dengan Bung Hatta. Bagian yg paling saya suka dari buku ini adalah pada bagian saat Bung Hatta menegaskan pendiriannya tentang tuntutan kepada janji Jepang yg akan membantu Indonesia memerdekaan diri. Ada sebuah kutipan kata2 Bung Hatta yg menyebut-nyebut sifat seorang samurai yg membuat saya cukup terenyuh saat membacanya. Cuplikannya seperti ini: "Apakah itu janji dan perbuatan samurai? Dapatkah Samurai menjilat musuhnya yg menang untuk memperoleh nasib yg kurang jelek? Apakah Samurai hanya hebat terhadap orang yg lemah di masa jayanya, tetapi hilang semangatnya waktu kalah? Baiklah, kami akan jalan terus apa juga yg akan terjadi. Mungkin kami akan menunjukkan kepada Tuan bagaimana jiwa Samurai semestinya menghadapi suasana yg berubah" (hal. 90) Dari buku ini saya juga baru tau bagaimana kronologi jelasnya perselisihan pendapat antara golongan muda dan tua dalam memproklamirkan kemerdekaan. Lain daripada itu, bagian lain yg saya suka dari buku ini adalah pada bagian pengasingan Bung Hatta ke Bangka. Ternyata seperti itu kronologi singkat pengasingan para tokoh2 pejuang ke Muntok. Cukup lama pengasingan tokoh2 kemerdekaan ini di Pulau Bangka. Dari awal tahun 1949-Juli 1949. Dari kata2nya, saya merasa bahwa Bung Hatta senang dengan perlakuan masyarakat Bangka yg menyambut mereka dengan suka cita dan hal2 tersebut membangkitkan semangat juang para tokoh untuk semakin kuat mempertahankan kemerdekaan. Sebenarnya ada satu bagian (selain pengasingan ke Bangka) yg saya nanti2kan akan diceritakan oleh Bung Hatta di buku ini (namun ternyata tidak ada), yaitu tentang romansa percintaannya. Tidak sedikit pun Bung Hatta menuliskan kisah cintanya yg bahkan beberapa bagian sering terdengar kisahnya saat ini. Seperti kisah janjinya yg tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka, dan tentang mahar nikahnya yg berupa buku. Namun begitulah gaya Bung Hatta. Gaya serius tapi lurus dan konsistennya patut ditiru. Artinya, beliau ini selalu mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi. Artinya, baginya hal2 pribadi tidak layak dijadikan bahasan substansial karena tidak berhubungan dengan kemerdekaan, meski dalam buku biografinya sekalipun. Beberapa fakta lagi yg baru saya ketahui dari buku ini adalah: 1. Bahwa ternyata teks Proklamasi Kemerdekaan RI 'oret2annya' adalah hasil perbendaharaan kata dari Bung Hatta yg kemudian baru disetujui oleh 4 orang lainnya dalam perundingan itu. 2. Bahwa ternyata Bung Hatta pernah menjadi Perdana Mentri sekaligus Menteri Pertahanan dan juga Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Hatta. "Sekali Merdeka tetap Merdeka!"
Sukarno berkata, "Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama.
Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah." Aku menjawab, "Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya." Semuanya setuju, kalimat pertama diambil dari akhir alinea ketiga rencana Pembukaan UUD yang mengenai Proklamasi. Lalu, kalimat pertama itu menjadi, "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia." Namun, aku mengatakan, kalimat itu hanya menyatakan kemauan bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebab itu, mesti ada komplemennya yang menyatakan bagaimana caranya menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu, aku mendiktekan kalimat yang berikut, "Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat- singkatnya." Setelah bertukar pikiran sebentar, teks itu disetujui oleh kami berlima yang menjadi panitia kecil.
Sukarno said, "I invite Bung Hatta to compile the short text because I think the language is the best. After that, we will discuss it together.
After we get the agreement, we will bring it before the full court which is already present in the living room." I replied, "If I have to think about it, it's better if you write it down, I dictate it." Everyone agreed, the first sentence was taken from the end of the third paragraph of the plan for the Preamble to the Constitution. which is about the Proclamation. Then, the first sentence becomes, "We, the Indonesian people, hereby declare the independence of Indonesia." Then, I dictated the following sentence, "Things concerning the transfer of power and others are carried out in a careful manner and in the shortest possible time.".
Buku ketiga sekaligus terakhir dari otobiografi Bung Hatta. Di sini, ia bercerita ketika Jepang berhasil mengalahkan Belanda sehingga Belanda menyerahkan kekuasaannya di Indonesia kepada Jepang pada 1942. Para petinggi Jepang menjanjikan kemerdekaan Indonesia jika rakyat Indonesia menuruti perintah Jepang untuk ikut membantu dalam perang. Bung Hatta yang dianggap sebagai tokoh pergerakan yang terpandang, ditunjuk sebagai penasihat para petinggi Jepang. Meskipun demikian, Bung Hatta tetap memegang prinsipnya bahwa ia tidak mau diperintah apalagi diminta untuk merayu rakyat Indonesia supaya tunduk kepada Jepang.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada pertengahan Agustus 1945, Jepang kalah oleh Sekutu. Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh para pendiri bangsa, termasuk Bung Hatta, untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ia menceritakan pertentangan ketika kaum muda yang ingin mempercepat waktu proklamasi, sedangkan Sukarno menolak karena mereka menunggu waktu yang sudah ditentukan. Sukarno dan Hatta pun diculik ke Rengasdengklok. Setelah itu, ketika sudah dibebaskan, akhirnya Sukarno membaca teks proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Perjuangan kemerdekaan tidak hanya sampai di sana. Sebab, Belanda ingin menjajah kembali Indonesia dan tidak mengakui kemerdekaannya. Nah, di buku ini, saya jadi mengetahui momen-momen menegangkan ketika tentara Belanda kembali melalu sudut pandang Bung Hatta. Betapa ia yang sudah resmi memerintah, harus pandai mengatur strategi dan bernegosiasi kepada pihak Belanda supaya Indonesia harus diakui sebagai negara yang sah. Meskipun pada waktu itu, wilayahnya masih terbatas, bukan seperti sekarang.
Jilid terakhir dalam Autobiografi Bung Hatta menyajikan 222 halaman yang mencakup masa pendudukan Jepang hingga penyerahan kedaulatan terhadap RIS. Sayang sekali autobiografi Hatta harus berakhir hanya sampai di sini dan tidak menyentuh barang sedikit pun masa demokrasi liberal-terpimpin bahkan orde baru, pdhal menurut saya bagian itu adalah yang paling menarik. Memang pengantar buku ini yang ditulis Taufik Abdullah menyebut bahwa Hatta ingin mengakhirinya dengan harapan bukan kekecewaan sehingga kisahnya ditutup pada penyerahan kedaulatan dan cita-cita untuk Indonesia baru. Sayang, harapan itu sering dikhianati bahkan hingga hari ini ketika demokrasi mati. Jilid ketiga sama baiknya dengan yang lain juga memiliki kelemahan yang selalu sama; inkonsistensi, struktur, kosa kata, yang menurut saya banyak berantakan. Seperti misalnya tidak sedikitpun dikisahkan soal pernikahan Hatta pada 1945, namun tiba-tiba ia menceritakan sedang menikmati jamuan bersama istrinya. Atau soal pemberontakan PKI Madiun yang terasa seperti lost chapter di sini. Masa pendudukan Jepang dan Revolusi memang membutuhkan buku yang sangat tebal dalam mengupas detilnya dan ini adalah autobiografi sehingga jelas sudut pandangnya berada di kacamata Hatta. Meski begitu, saya tidak begitu menikmati jilid yang ini jika dibanding jilid pertama yang seakan membawa pembaca menyelam pikiran Hatta. Jilid ini hanya mengisahkan perjalanan Hatta secara peristiwa kecil tanpa ada hal-hal yang membuat saya benar-benar terkesan.
Melalui buku 'Menuju Gerbang Kemerdekaan' saya disadarkan kembali mengenai semangat juang para pahlawan dahulu dan bagaimana kita harus mensyukuri kemerdekaan hari ini. Kebebasan berpendapat, berserikat, bekerja, bersekolah dan kebebasan hidup yang akhirnya dapat kita rasakan hari ini, tidak luput dari proses perjuangan yang panjang. Kata perkata yang ditulis bung hatta dalam memoar-nya atau boleh dibilang buku catatannya sangat runut. Beliau menjelaskan dengan detail setiap situasi pada timeline sejarah kemerdekaan melalui sudut pandang yang lebih real- dan sosialis. Walaupun bagi saya buku ini agak sulit di mengerti karena ada beberapa ejaannya dan juga substansi dari isinya. Buku ini dapat membantu saya untuk lebih memahami bagaimana proses kemerdekaan dan juga gejolak politik setelah kemerdekaan.
Bagian terakhir dari buku untuk negeriku by Mohammah Hatta, setelah perjalanan yang panjang meraih kemerdekaan,indonesia masih saja diganggu oleh belanda yang masih ingin menguasai dan tidak mau mengakui bahwa negeri kita ini sudah merdeka..Buku ini begitu mirip dengan buku sejarah di sekolah yang jujur saja membuat saya kurang menikmatinya bahkan dari 3 buku tersebut buku ini yang paling lama saya selesaikan, terlepas dari mungkin narasi dan isinya yang terlalu formal dan tidak ada hal yang baru, saya tetap berterimakasih sekali kepada Alm Bapak Mohammad Hatta yang telah meluangkan waktunya membuat catatan bersejarah ini agar kami sebagai anak bangsa bisa mengenal dan memahami perjuangan para pelaku sejarah. 😘
Tidak seperti dua buku sebelumnya yang banyak kisah pribadi Bung Hatta yang tidak banyak diketahui publik, dalam buku ini lebih banyak menceritakan peristiwa seputar kemerdekaan Indonesia, dan perjuangan memperoleh kedaulatan dari Belanda, yang secara runtut sudah umum diketahui. Namun buku ini tetap menarik untuk dibaca, karena Bung Hatta tetap menyelipkan pengalaman berkesan bagi dirinya selama masa-masa itu.
Seperti misalnya tatkala menjalankan 'tur' ke Sumatra untuk berpidato memenuhi undangan KNIP, Bung Hatta di sela-sela kunjungannya itu mendapat mandat untuk berangkat ke India bertemu Jawaharlal Nehru guna meminta bantuan senjata dari India untuk menghadapi agresi Belanda. Dalam perjalanan itu, Hatta harus menyamarkan identitasnya sebagai Abdullah, seorang kopilot. Di India, Hatta juga bertemu Mahatma Gandhi. Dan kedua tokoh besar India tersebut meyakinkan Hatta bahwa meski republik 'dipukul' habis-habisan oleh Belanda, namun derajatnya akan naik. Dan Indonesia yang merdeka tidak akan pernah terhapus dari peta dunia. Ucapan yang memperkokoh keyakinan Hatta untuk teguh berjuang mempertahankan kemerdekaan republik, yang nantinya berbuah dengan penyerahan kedaulatan dari Belanda pada 27 Desember 1949.
Otobiografi Bung Hatta ini patut dibaca oleh generasi penerus untuk menghayati kembali lika-liku perjuangan memperoleh kemerdekaan negara ini, yang ditulis dari sudut pandang seorang putra terbaik bangsa asal Bukittinggi, yang insaf betul akan peranannya sebagai negarawan sejati.
Bagian ketiga buku ini lebih ke mengulang membaca sejarah-sejarah kemerdekaan yang sudah sering kita baca waktu zaman-zaman sekolah dulu, jadi tidak terlalu berkesan. Berbeda dengan dua buku sebelumnya, dimana lebih ke Untold Story-nya Bung Hatta, banyak hal-hal yang belum kita ketahui tentang perjalanan hidup beliau dibeberkan disini.
Hatta benar-benar bukan tokoh 'kaleng-kaleng'. Bagaimana mungkin dengan tubuh kecil tapi bisa menaklukan tantangan dan tekanan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Diancam penjara, diasingkan, diculik, berpikir dibawah tekanan untuk menentukan sikap Indonesia dalam sidang-sidang internasional, belum lagi menyikapi agresi militer. Hatta luar biasa!!!
Well writen. Yang kurang dan yang saya tunggu2 adalah kisah romansa Bung Hatta.Tidak dikisahkan atau memang sengaja tidak dikisahkan karena ini buku biografi yang "Kebangsaan".
Buku ini merupakan buku ke32 dari trilogy “Untuk Negeriku” yang merupakan otobiografi salah seorang tokoh proklamator kita yakni Bung Hatta.
Dalam buku ini diceritakan Bung Hatta yang dipindahkan dari Bandaneira ke Sukabumi, karena adanya perang Pasifik. Masuknya Jepang ke Indonesia membawa perubahan besar dalam kehidupan Bung Hatta. Beliau diangkat jadi penasehat bagi pemerintah Jepang di Indonesia. Beliau dan Bung Karno bersikap agak kooperatif, demi mematangkan kesiapan kemerdekaan Indonesia sekaligus berusaha untuk mengurangi tekanan kekerasan Jepang terhadap rakyat Indonesia. Bung Hatta dan Bung Karno cukup disegani oleh pemerintahan Jepang di Indonesia, karena beliau berdua punya hubungan baik dengan tenno Heika (Kaisar Jepang saat itu).
Ketika Jepang mulai terdesak dalam Perang Pasifik, Panglima Bersenjata Jepang di Saigon mengundang Bung Karno dan Bung Hatta untuk menyerahkan kedaulatan Indonesia dan mendorong persiapan kemerdekaan Indonesia. Langkah ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan rapat BPUPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Tatkala Jepang menyerah kepada Sekutu, disitulah muncul kesempatan untuk memproklamirkan berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945.
Dalam kondisi yang baru berdiri, Republik Indonesia mengalami banyak tantangan seperti Pemerintah Belanda yang tidak mau memberikan kedaulatan kepada Indonesia, maupun ketidak stabilan politik pemerintahan. Di situlah Bung Hatta dengan kenegarawanan dan intelektualitas beliau tampil untuk menjaga berputarnya roda pemerintahan Republik Indonesia.
Buku ini banyak mengupas sisi sejarah yang sering ditampilkan dalam buku sejarah yang beredar di sekolah. Kalaupun ada yang kurang di buku ini adalah, buku ini lebih mengupas sisi perjuangan politik Bung Hatta dan kurang menampilkan kehidupan keseharian beliau sebagai “manusia”. Perjuangan beliau yang gigih, membuat beliau banyak mengeyampingkan urusan pribadinya. Beliau baru menikah pada umur 43 tahun.
Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya atas segala jerih payah beliau dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang lepas dari penjajahan dan penindasan….aamiin…aamiin…aamiin…
Di buku ketiga ini, saya disajikan fakta bahwa Indonesia yang berdaulat hari ini hadir berkat perjuangan panjang yang tak habis-habis. Setelah bersusah payah di tahun 1945, masih harus mengikuti perundingan-perundingan alot yang merupakan efek dari Belanda yang tak mau begitu saja melepaskan daerah jajahannya. Di lain hal, saya merasa sejak dulu hingga kini entah mengapa Indonesia terlalu java-sentris, kemudian Sumatera sebagai tambahan. Masih terlalu sedikit kamunculan peran pulau-pulau lainnya seperti Kalimantan, jajaran Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua yang dihadirkan dalam literatur, yang saya yakin jasanya pun takkan kalah dengan orang-orang Jawa maupun Sumatera. Dan saya agak sedikit kecewa karena lika-liku romansa bagaimana Hatta bertemu istrinya tidak dimunculkan di buku ini, tahu-tahu menikah. Padahal saya sangat antusias dengan kisah mereka yang di awal pernikahan, bermaharkan buku karangan Hatta sendiri.
Saya terharu sekali ketika membaca detik-detik pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semua orang sangat gembira ketika akhirnya Republik Indonesia lahir. Pekik kemerdekaan bergema di seluruh negeri. Melihat peristiwa ini dari sudut pandang seorang Bung Hatta yang menjadi salah satu proklamator memberikan warna yang berbeda jika dibandingkan dengan buku-buku sejarah yang kita baca di sekolahan.
Sayang sekali rasanya buku biografi ini harus berhenti di buku pertama. Sebelumnya Bung Hatta sempat berjanji akan melanjutkan tulisan ini. Sayangnya beliau harus meninggalkan Indonesia untuk selamanya sebelum jaji itu sempat terpenuhi.
Berisi tentang tahun-tahun mendekat hari kemerdekaan dan tahun-tahun setelahnya. Diplomasi dan diskusi antara pemimpin Indonesia dengan pemimpin negara lain dikemukaan, tak ketinggalan gesekan dengan para pemuda pun diceritakan. Buku ketiga dalam trilogi Untuk Negeriku ini makin menegaskan, tak cukup hanya pintar ber-orasi untuk memimpin bangsa ini. Namun butuh juga kekuatan saraf menghadapi situasi tak terkendali dan ketajaman berpikir serta intuisi. Semoga Indonesia mendapati orang-orang terbaik yang rela memberi diri untuk negeriku.
skimming ^^v setelah terjeda lebih dari dua bulan, baca cepat lah yg diperlukan. entah karena saya yang sedang #maratonbaca atau memang buku ini penuh dengan detil dan tanggal. kayaknya nanti ngeripiunya satu ripiu utk 3 buku yg sepaket otobiografi. insyaAllah :-)
Pada bagian ketiga menunjukan kebangsawan seorang Moh Hatta. Meskipun sudah menjadi orang terpenting di negeri ini sikap yang selalu sederhana dan mementingkan kepentingan umat banyak selalu beliau pegang teguh. Salut selalu mengakui beliau!