Dari mulai deg-degan memasuki perbatasan Palestina, ajaibnya berenang di laut mati, lucunya berkomunikasi di China, mahalnya Timor Leste, serunya ke rumah artis Bollywood, mandi bersama orang Jepang, ngecengin cowok Korea, menyelam di Wakatobi, sampai kejadian-kejadian menggelikan akibat badannya yang lumayan geede.
is Indonesia’s leading travel writer. In 2005, she started a travel blog at naked-traveler.com and in less than two years the blog was already nominated as Finalist in Indonesia’s Best Blog Award at Pesta Blogger. This led her to switch her corporate career to become full-time traveler and freelance travel writer.
Her debut book “The Naked Traveler” was a compilation of thoughtful but hilarious short stories from her adventure around the world. The book inspired many Indonesians, especially the youth, to travel – something that was rarely done at that time. Up to now, “The Naked Traveler” has been published in its third sequel and all are Indonesia’s best-selling travel book to date.
Together with Erastiany and illustrator Sheila Rooswitha, they created Indonesia’s first graphic travelogue “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” (The Dynamic Hippos: Lost in Byzantium) about traveling misadventure of two fat girls in Turkey. She also contributed to anthology “The Journeys” along with 11 other writers.
Between dealing in her writing deadline, she still found time to become Editor in Chief of Venture travel magazine, regular contributor of Yahoo! Travel, contributor for various magazines, radio personality of Indika FM, social media entrepreneur, and speaker in creative writing/blogging/tourism events. In 2010, Trinity won “Indonesia Travel & Tourism Awards” as Indonesia Leading Travel Writer and dubbed as “Heroine for Indonesian tourism” by The Jakarta Post.
Trinity has Bachelor Degree in Communications from Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, and awarded Asian Development Bank-Japan Scholarship to take up Master in Management in Asian Institute of Management, Manila, Philippines.
She has traveled to almost all provinces in Indonesia as well as 46 countries and counting. In any case, she thinks Indonesia is yet the best country ever.
Mbak Trinity, plis, plis nulis lagi The Naked Traveler. Sampe edisi keseratus juga boleh.
Eh, itu dah 3 kalimat ya? :))
Di buku ini lagi - lagi Mbak Trinity sukses membuaiku dengan berbagai pengalamannya traveling ke mana - mana. Sayang bagian dia traveling ke daerah - daerah Indonesia lumayan sedikit. Paling cuma tur hantu ke Bandung, ikut ngerayain Pasola di Sumba, miris liat pariwisata di Jambi dan iriii berat sama pengalaman dia di Wakatobi. Wah, another place must visited beside Bunaken and Raja Ampat neh :D
Untuk luar negeri, lebih variatif, dan bikin ngakak n jijay at the same time. Seperti saat dia menceritakan pengalamannya di China, yang OMG, toilet disana bisa jadi toilet terburuk di dunia! Ga yakin deh mau jalan - jalan ke China setelah baca buku ini. Selain di China, ada pengalamannya di India dengan carut marut lalu lintasnya, Turki, ke Israel, Australia, Thailand, Jepang dan lain - lain (lupa saking banyaknya). Yang pasti Mbak T berhasil menjabarkan kelebihan dan kelemahan berbagai negara yang dikunjunginya. Dan membuat kita mikir bahwa kadang Indonesia masih lebih baik lho dari negara lain, walau dengan segala kekurangannya.
Adanya berbagai tips traveling memberi nilai plus buat buku ini. Salah satunya buat menanamkan "no hard feeling" ketika sedang travelling. Penting tuh buat tipikal orang sensitip (termasuk saya) buat ga mempermasalahkan hal - hal kecil yang bisa bikin mati gaya pas travelling. Dan juga jangan banyak ngeluh!! => PENTING!
Seperti biasa Mbak Trinity masih suka ngecengin cowok di berbagai negara. Kesukaannya akan cowo - cowo Israel, India dan Nepal, membuat kita jadi "terbuka" bahwa tidak selamanya cowok Bule dari Amrik dan Eropa bisa dijadikan incaran buat jadi suami.
Dan jadi penasaran apa bener cowo Korea tidak seunyu yang dia bilang, hmpfh. Karena menurutnya cowo Korea kurang testosteron. Waduh, terus RAIN itu apa? Badan kotak - kotak bikin sluuurp kayak gitu masa kurang hormon? Dan si Choi Seung Hyun a.k.a TOP dari Big Bang selain cakep juga suaranya berat - berat seksi gitu. Kebanyakan testosteron, wkwkwkwk. => menyambung - nyambungkan.
Mungkin Mbak T masih belum kena virus K-Pop jadi bisa berpikir seperti itu =)) (eh aku juga biasa aja sih ma Korean Wave ini) .Tetep menurut Mbak T, cowo Italia still the best,selain cowok Israel. Cakep, tapi penuh rayuan gombal. Haduh, ayo kita migrasi ke Italia aja deh! (dengan syarat mau digombalin)
Ayuuuuk, jangan tunda - tunda kalau mau travelling. Seperti kata Mbak T, worrying will get you nowhere ;)
Ok, gue cukup beruntung mendapatkan buku edisi yang belum direvisi. Bab "Onsen" adalah yang kena babat sensor.
Another eye-opener about places, food, people and culture.
Dari dulu gue memang ngga pernah kepengenan ke Cina karena kejorokannya itu. Setelah baca buku ini, gue udah berniat ngga akan pernah mau kesana. Mending duitnya gue pake tuk ke Wakatobi deh.
Bukan Trinity namanya kalau nggak membuat 'kehebohan' hehehe. In a good way, of course. Kaya dengan pengalaman traveling dan membagikannya kepada pembaca membuat kita bisa memilih destinasi perjalanan karena kita para pembaca bisa punya gambaran tentang tempat yang akan dituju tersebut.
Yang gue suka dari buku-buku TNT adalah kegamblangan dan kejujuran isinya. Walaupun sifatnya subjektif, tapi bisalah dijadikan acuan untuk traveling.
Di buku TNT3 ini ada bab tentang kriteria "Temen Jalan Ideal" dan gue ternyata punya partner in crime yg sangat asik diajak jalan :)
As a history geek, gue juga jadi pengin jalan ke Katong (kampung peranakan), situs kuburan adat Toraja dan Sumba.
Baca buku tentang perjalanan memang selalu menyenangkan apalagi kalau bahasanya tidak ruwet dan enak dibaca, akan membawa kita seolah-olah ikut serta merasakan apa yang dialami penulisnya, jadi biarpun bacanya langsung ke NT 3, tidak masalah.
Buku ini bahasanya ringan jadi mudah dicerna. Menariknya Trinity tidak hanya bercerita tentang pengalamannya berkelana di luar negri tapi juga bercerita tentang pengalaman di dalam negeri. Dan seperti katanya bahwa semakin sering berkelana ke luar negri maka dia semakin mencintai Indonesia dengan segala keruwetannya ..top lah.
Ada beberapa cerita di sini yang tebagi dalam 11 bab (kelompok) tiap kelompok terdiri dari beberapa cerita, enaknya jadi seperti mebaca kumpulan cerpen, bisa dibaca kapan saja tidak diburu waktu dan tidak penasaran dengan jalan cerita jadi bisa ditunda kalau ada keperluan lain :)
TUR HANTU Aktivitas tur yang tidak biasa dilakukan Trinity di Bandung dengan mengikuti “Urban-dung Legend” plesetan dari Urband legend di Bandung, alias tur ke tempat-tempat yang dipercaya ada hal yang gaibnya atau kerennya sih ‘ghost tour’. Yang menarik bagi saya adalah hantu di salah satu sekolah di SMA Belitung yaitu hantu Nancy, kenapa tertarik..eh karena saya jaman duluu.. (saking sudah lama) sekolah di SMA itu. Katanya sekarang begitu melegenda tuh hantu padahal waktu jaman saya sekolah dulu sih ga heboh tuh , memang bangunan gedungnya model jaman Belanda terkesan ‘kuno’ tapi adem dan waktu itu sih baik-baik saja, tidak pernah ada yang kesurupan dan lain sebagainya. Apa mungkin Nancy baru ‘go public’ belakangan ? ( apa jamannya Nenangs, Weni dan Ibu Tio sudah heboh ?)
JOROKNYA CHINA Waduh..baca cerita ini saya hampir muntah. .:( Bayangkan saja : * orang doyan berdahak dimana-mana bahkan di restoran sekalipun; *Anak-anak balita memakai celana yang tidak dijahit selangkangannya alias bolong maksudnya mempermudah orang tua bila anaknya ingin buang air besar/kecil , tinggal jongkok , keluar dan setelah usai langsung jalan melenggok dan itu dilakukan di sembarang tempat bahkan di mal sekalipun; * Toilet umum jangan ditanya bau dan joroknya sampai kalau ke toilet harus pakai kacamata hitam agar ‘pemandangannya’ agak kabur. Belum lagi masalah bentuk toilet umum. Biasanya toilet model jongkok terbuat dari keramik tapi tidak ada privacy, kebanyakan pintunya setengah, seperempat bahkan tanpa pintu..sehingga kalau kita mengantri menghadap bilik toilet maka bebas melihat '. . ..' orang beserta 'isi' yang dikeluarkannya, dan model toilet lain wah ..ga tega saya nulisnya dan tak mampu membyangkannya ..hoeks..
Tidak menyangka sedikitpun bahwa Cina sejorok itu , bahkan Trinity mengatakan 'ingin menghapus memori di otaknya akibat tak sengaja mmandang….." – membayangkan nya saja pengen muntah apalagi memandang..hoeks..
GAYA PESERTA TUR Biasanya peserta tur dari Indonesia mempunyai gaya yang khas, diantaranya: - Kostumnya, overdress. Sepertinya mereka tidak (mau) tahu cuaca di negara lain. Misalnya musim panas dengan suhu 35 derajat C ada yang pakai jaket kulit, ketika ditanya “gak kepanasan?” jawabnya, “dari pada item” hehe. Ada juga yang underdress terutama yang merasa kulitnya putih sehingga jika mengunjungi tempat tertentu ( mis. Tempat ibadah) harus nunggu di luar atau pinjam baju orang lain hehe. Ada yang kemana-mana pakai high heels ke pantai atau tempat berlumpur hingga haknya nancep hehe ( jadi ingat pernah lihat di tv ada seorang artis yang berpakaian lebai ketika piknik ke pantai :(
Banyak cerita lain yangmembuat miris, tertawa, kesel, kagum, heran atau mencengangkan..komplit deh. Bisa memotivasi kita untuk melakukan perjalanan minimal bermimpi jalan-jalan.
Pokoknya kalau sudah niat dan punya persiapan jangan terlalu mikir dan khawatir macam-macam karena kata penulisnya ‘kalau khawatir melulu, kapan berangkatnya ? “
A wise traveler never despises his own country. - Carlo Goldini
Menurut saya, Trinity seperti itulah. (Mungkin) ia memang seorang pelancong yang bijaksana, yang tak pernah memandang rendah negaranya sendiri. Seperti kata Carlo Goldini, Trinity selalu mengatakan dengan mengitari negara-negara, ia semakin cinta dengan Indonesia dengan segala keruwetannya.
Saya kecewa dengan buku ini. Terus terang, saya dilanda rasa kecewa karena saya gagal mendapatkan edisi nonrevisi yang sebenarnya dipublikasikan juga di blog The Naked. Tapi, setelah saya bandingkan yang saya punya dengan edisi nonrevisi, malah semakin vulgar kalimat yang dituju dan dianggap terlalu ‘menantang’ adrenalin. (Silakan baca keterangan soal revisi ini di blog The Naked – http://naked-traveler.com)
Dibandingkan dengan buku keduanya, buku ini saya rasa jauh lebih sempurna. Puas membacanya, puas ngakaknya, dan puas jalan-jalannya. Meski lebih tebal The Naked Traveler (TNT) 2, tetap saja saya lebih menjagokan TNT3 untuk kali ini. Trinity lebih liar dalam menulis di dalam buku terbarunya. Kita diajak untuk mengangkat ransel, bertualang ke mana saja, dan kembali dengan cerita.
Trinity bukanlah penulis yang canggung dan malu dengan dirinya sendiri. Ia jujur dalam bercerita dan jelas-jelas menulis kalau dirinya tidaklah memiliki postur tubuh yang lebih layak dibilang backpacker. Malah, dengan cara inilah, Trinity mengundang kita bahwa faktor U, postur tubuh, dan segala kekurangan bukanlah hambatan untuk berjalan-jalan.
72 cerita dibagikan oleh Trinity dalam buku ini. Dari 72 cerita tersebut, saya memilih empat cerita yang terbaik versi saya.
Onsen,Mandi Rame-Rame Wah, rasanya saya tak perlu bercerita banyak soal bagian ini. Membacanya benar-benar menanatang adrenalin kaum adam. Trinity bercerita blak-blakkan soal Onsen, permandian air panas di Jepang, yang tidak boleh dilewatkan. Anda mesti membacanya sendiri.
Joroknya China Benar-benar ngakak, membuat mual, dan tiba-tiba ingin membuktikannya sendiri. Itu yang saya rasakan ketika membaca bagian ini. Dari judulnya saja kita sudah dapat menebak isinya sebagai apa. Tapi membacanya benar-benar membuat keringat dingin.
Under The Stars Romantis benar sang supir. Bisa-bisanya menemukan tempat untuk melampiaskan HIV (hasrat ingin vivis) di tempat yang super romantis: di bawah bintang-bintang. Trinity tidak cablak dalam cerita ini, malah santai dan jujur sekali. Itu tidak mengurangi kelucuan ceritanya.
RW & B1 Speechless. Speechless. Speechless. Yeah, I’m speechless. Silakan Anda menganggap saya berlebihan. Tapi sudah dua orang yang saya sodorkan cerita ini, mereka tak beda dengan saya, berhenti di salah satu segmen yang paling tragis yang tidak berkeprianjingan. Meski saya sudah sering mendengar cerita seperti ini, bahkan saya pernah ditawarkan menikmati sang B1 oleh guru agama saya sendiri, tetap saja membacanya membuat saya diam dan terbayang-bayang hal yang tak bisa dibayangkan.
Yang masih saya anggap sebagai kekurangan dalam buku ini adalah kertasnya yang tidak berwarna untuk foto. Dengan harga buku seperti itu, tentu tidaklah setara dengan tampilan yang harusnya ada. Buku perjalanan harusnya berwarna, setidaknya hanya untuk di bagian yang terdapat foto. Ini malah sudah menjadi penyakit B First yang banyak menerbitkan buku traveling tetapi kertas tak berwarna.
Karena yang saya dapat adalah edisi revisi, saya malah menganggap kalimat yang (katanya) direvisi itu semakin vulgar. Nah lho, apanya yang direvisi?
Di antara segala kelebihan dan kekurangan, toh, tujuan Trinity adalah mengajak kita untuk mencintai negeri sendiri setelah merasakan ‘derita’ di negeri orang dan jangan pernah kapok dengan nikmatnya traveling.
Jakarta, 27 Juni 2011 | 23.59 A.A. – dalam sebuah inisial
Another enjoyable read from the queen of traveler. Karena gue udah jadi pengikut Trinity, jadi sebagian besar cerita yang ada di buku sudah pernah gue baca di blog nya. Tapi membaca ulang juga masih menarik.
Mempunyai konsep yang sama dengan buku naked traveler yang lain, buku ini juga sarat dengan cerita travel yang unik-unik. Dari yang lucu, serius, mengharukan sampai yang jorok-jorok. Cara ceritanya juga masih cuek dan apa adanya. Mungkin karena terlalu jujur, jadi dianggap vulgar, jadi bukunya sempet di bredel dan direvisi. Untung gue ikut launchingnya di Grand indonesia, jadi dapat buku yang original.
Menurut gue, yang bikin buku ini spesial bukan cuma cerita travelnya (yang keren banget) tapi juga karakter Trinity terlihat jelas. Kita jadi dekat dengan sosok Trinity itu sendiri, kagum dengan santainya die cerita tentang kegendutannya, tentang kejombloannya, tentang umurnya yang sudah lumayan dewasa, dll, dan hal ini tidak membuat dia minder. Justru membuat dia menerima keadaan dan terus maju.
Kalau dari buku-buku pertama dan kedua, gue terinspirasi dalam hal jalan-jalan. Kalau buku ketiga ini gue terinspirasi pada pede-nya Trinity. Salah satu yang menginspirasi gue adalah untuk nyoba pakai bikini di bali. let's try.
So another great book by Trinity. Recommended dan buku wajib para pencinta jalan-jalan. Hidup Miss T.
PS: mungkin kalo di twitter Miss T terkesan sombong, tapi kalau ketemu aslinya orangnya baik dan humble (bukan humble terasi ya. halah jokes lama). Dan menurut gue jangan ngefans sama seseorang secara berlebihan dan berharap banget pada karakter orang itu sesuai yang kita inginkan, sukai aja produk yang dikeluarkan orang itu dan ga usah banyak pikiran. Misalnya Ariel Peter Pan, jangan terpaku pada karakter ariel yang player, tapi liat lagu-lagunya yang bagus dan menghibur. Walau arielnya ancur, lagunya kan tetap bagus.
Berasa ngga, sekarang buku-buku non fiksi yg lagi ngetrend & laris manis itu buku-buku tentang traveling? salah satu buku traveling populer di Indonesia adalah NAKED TRAVELER. Kali ini sudah sampai buku ketiganya dan menurut saya buku ketiga lebih bagus dan seru daripada buku kedua tapi masih kalah seru sama buku pertama.
Dan seperti biasa Trinity selalu mengunjungi tempat-tempat "tidak biasa" dalam artian not tourist destination. Bab-bab yang menarik perhatian saya adalah yang membahas tentang Israel, Timor Leste dan beberapa hal ngga enak macam WC umum di China, juga hal menarik macam Ninja Show in Japan, plus menertawakan kelakuan turis-turis Indonesia yg terlalu gemar belanja barang ga penting kalau traveling. (saya Jadi inget temen yg kebetulan borju, pas ke Korea, dan diajak ke desa-desa yg masyarakatnya masih tradisional, temen saya ngeluh, "aduh bosan ngeliatin desa melulu, maunya ke seoul dan belanja")
Jika di buku kedua, mbak T memuji Philipina yang mampu mengoptimalkan kemasan "wisata alamnya" di buku ketiga, mbak T memuji pemerintah Thailand yang mempunyai kemasan wisata yang terorganisir mulai dari wisata cultural, tourism activity sampe mediacal tourism. Indonesia, seperti biasa masih ketinggalan.
Soal jalan-jalan, Trinity pakemnya. Catatan perjalanannya yang tertuang di The Naked Traveler series sudah banyak menginspirasi banyak orang. Akupun begitu, hanya saja kesempatan untuk mewujudkannya belom tampak. InsyaAllah gak lama lagi-lah. Amin. Oke, balik lagi ke The Naked Traveler 3, gak seperti di dua buku terdahulu yang cukup banyak bahasan suatu negara hingga bersub-sub-bab banyaknya, di The Naked Traveler 3 ini Trinity mencoba untuk memadatkan materi, sehingga satu judul cerita, ya hanya membahas mengenai satu hal.
Apa yang menjadi daya tarik utama tulisan Trinity? Adalah ketika ia bisa memaparkan mengenai sesuatu yang belom banyak diketahui orang. Misalnya saja, betapa joroknya (orang-orang) China utara dan selatan (termasuk kota Beijing). Suka meludah sembarang, toilet umumnya tanpa sekat sehingga bisa saling tengok ”setoran” siapa yang paling aduhai, bahkan celana anak kecil disana bagian pantatnya gak dijahit biar kalo si anak mau ee’ tinggal plung aja gitu.
Melalui tulisannya juga, Trinity kerap memutarbalikan anggapan kebanyakan orang selama ini mengenai suatu hal. Misalnya saja Jepang yang terkenal mahal. Menurut Trinity sih ya nggak nyeremin banget juga kok, yang penting persiapannya bagus. Informasi lengkap dan gak malu bekpek ala gembel (tentu!).
Apakah The Naked Traveler melulu ke luar negeri? Nggak kok, di The Naked Traveler 3 ini Trinity sempet ngebahas soal wisata hantu di kota Bandung. Bikin sirik ketika ngebahas Wakatobi, atau ketika ia berbikini di Aceh. *geleng-geleng. Di dua buku sebelumnya, Trinity juga sempet nulis hal-hal yang berkaitan dengan traveling (jadi bukan soal travelingnya langsung). Di buku ini juga begitu, tengoklah judul-judul sub bab ini. ”gaya Peserta Tur” atau ”21 Cara Membunuh Waktu di Bandara Secara Hemat” atau juga,”15 Cara Jalan-jalan Gratis Ke Luar Negeri” asooooooy.
Kekurangannya? Agak kurusan dibanding The Naked Traveler 2. bener deh, lebih ramping hampir 25 halaman gitulah. Tapi harga sih emang lebih murah 4 ribu ding. Sebanding? Tergantunglah... Ya udah ini aja reviewnya. Bagi yang suka jalan-jalan, buku ini ajiiiib daaah.
Terus terang, saya tidak terburu-buru memburu buku ini begitu diluncurkan. Setelah agak kecewa dengan buku kedua yang terlalu 'rapi' untuk seorang Trinity, saya tidak begitu antusias mengejar buku ketiganya. Untunglah di buku ketiga ini Trinity seolah kembali dibebaskan menjadi dirinya sendiri. Yang cuek, yang ngomong seenaknya, yang semau gue. Jadilah saya menemukan kembali kenikmatan membaca The Naked Traveler seperti yang saya rasakan lewat buku pertama.
Kelebihan Trinity sebagai travel writer adalah, kita seperti sedang mengobrol dengan teman yang menceritakan pengalaman jalan-jalannya. Deskripsi tidak berlebihan, tidak sok tahu dan tidak sok menggurui, terlebih lagi, tidak merasa dirinya paling keren karena sudah mengunjungi puluhan negara. Tetap bersedia membagi kekurangan-kekurangan bahkan 'penghinaan' yang dia alami selama dia jalan-jalan.
Saya juga salut pada Trinity karena di setiap kesempatan (termasuk dalam buku-bukunya) dia selalu menegaskan bahwa traveler sejati malah selalu menempatkan negerinya sendiri di tempat terhormat. Selalu mengajak para traveler untuk menjelajahi Indonesia sebelum merambah negeri lain, dan menceritakan kelebihan-kelebihan Indonesia di mata orang asing, sesuatu yang seharusnya membuat kita malu karena terlalu sering mencela negeri sendiri dan mengagungkan negara lain.
Tadinya sempat berniat hanya memberi 3 bintang karena agak bosan di bagian tips yang sebenarnya sudah disinggung di buku-buku sebelumnya. Tapi cerita penutup tentang lost in translation di China kembali membuat saya ketawa sampai puas. 4 bintang pun saya sematkan untuk buku ini. Bravo Trinity!
Nah...di TNT 3 ini Trinity melakukan ke-nekad-an yg bener2 jadi naked (kali ini beneran cocok sama judulnya :D). Baca bab Mandi Bugil rame-rame Bukan Trinity namanya kalo ngga melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran orang-orang normal (eh...jadi si mbak T ini ga normal maksudnya?? hahaha) Begitu mendengar kata "onsen" yakni mandi di tempat pemandian umum di Jepang, Trinity tentu aja ngga mau ketinggalan buat nyoba dan eh ternyata menurut dia, onsen itu enak banget karena bisa bikin kulit jadi bagus, badan jadi lebih rileks eh tapi namanya aja tempat pemandian umum, begitu masuk sana harus -maaf- bugil..gil..gil... :D daaannn bukan Trinity juga namanya kalo ternyata pas mendengar ada onsen campur (yap,,cowok en cewek) dia akhirnya nyobain juga...
Banyak banget kekonyolan yg dia coba bagikan di buku ini dan asli deh tulisan2 dia kali ini bener2 lengkap...ada lucunya, ada seremnya (baca: tur hantu), ada joroknya, ada romantisnya jugaaaa
Dan seperti yg dibilang di belakang covernya: Trinity sekakan menjadi "virus" karena emang bikin kita mupeng buat jalan-jalan. Jadi kalo masih ada yg belum berani buat nyoba, inget apa kata Trinity : Worrying gets you nowhere!!! jadi udahlah di rumah aja hahaha
saya cukup beruntung. dapat yang cetakan pertama, yang original, sebelum ditarik dari toko-toko buku. lebih beruntung lagi, saya bisa ketemu penulisnya langsung dan dapet tanda tangan! wooohooo.
masih sama kayak formula-formula sebelumnya sih. beberapa tulisan ada yang udah saya baca di blog juga. tadinya saya juga ragu-ragu mau beli apa engga, ya takutnya jadi garing karena beberapa tulisan udah saya baca di blog kan. tapi ternyata banyak juga yang saya blom baca di blog. mungkin saya juga telat memasukkan feed blognya naked-traveler.com di reader saya :p
overall, saya masih suka. ke-blak-blakan-nya membuka mata dan pikiran. some people might get offended by some stories here, tapi kok saya engga ya? gyahahahahah. tapi emang, paling malesin yang bagian kejorokan China itu. banyak yang jadi jijik dan ga mau ke sana, tapi saya malah penasaran. malah pengen ngerasain sendiri juga *gyahahahahah* well, I should try and feel it by myself to believe in something.
sebenernya 3.5/5 (di goodreads ga bisa rating setengah-setengahan ya? tsk). di Meet & Greet yang saya hadiri kemarin, Trinity sempat ngasih bocoran soal buku keempat. uhuuyy, ditunggu kelanjutannya! :D
Gue suka The Naked Traveler. Sejak dulu selalu suka. Dan waktu ngeliat buku terbarunya ini dipajang dengan cantik di depan Gramed, tanpa pikir panjang gw langsung ambil dan bawa kabur...ke kasir.
Seperti biasa, Trinity bikin gue iri, ngakak, dan kagum dalam waktu bersamaan dengan cerita-ceritanya. Dan satu hal yang paling gue suka dari buku ini (dan buku TNT 1 dan 2) adalah sisipan informasi penting yang dimasukkan dengan sangat pas, jadi rasanya si penulis enggak ngasihtau kita dengan cara menggurui, melainkan seperti teman dekat yang iseng ngasih fakta ttg sebuah negara di tengah sebuah cerita seru. Gue suka cara Trinity bercerita. Dia menunjukkan kalau curhat yang dipublikasikan ke buku enggak selalu harus pakai kata 'gue' untuk membuat pembacanya terasa 'dekat' dengan penulis. Justru dengan penggunaan 'saya', rasa 'profesionalisme'nya jadi kental sekali. Dan untuk sebuah buku yang bertujuan untuk bercerita sekaligus menyediakan informasi, rasa itu sangatlah penting.
So overall, tip of the hat for you, Trinity. Ditunggu TNT ke 4, 5, dan seterusnya :)
I ALWAYS LOVE TNT!! dan edisi ketiga ini pun gaya tulisan/cerita mba Trinitiy tetep sama, masi tetap mengelana, masih tetep merasa home (Indonesia) is better after all, dan kalo ga nekat namanya belum menikmati perjalanan...
Sudah menunggu membaca buku ini for months, karena kesibukan dll, akhirnya baru kesampean bbrp hari lalu dan langsung menandaskannya :D aq jadi banyak dikasi pelajaran baru dr mba Trinity soal 'berani' in traveling --- soal China yg jorok minta ampun, berkelana di puncak dunia, naked di onsen (dah pastilah ya), syuting traveling meski minim info, hihi, ga perlu pake jasa travel klo bs dilakukan sendiri (yg ini aq masi dlm proses belajar, hehe.. biar banyak jam terbang) dan memantapkan untuk melakukan traveling ibadah (ke tanah suci)
Kalau bukan kita sendiri yang memulai mau kapan lagi... menabung dari sekarang, menyusun rencana, browsing cari informasi, lalu... berangkaaaattttt!!! :)
Berniat mendapatkan versi ori sebelum banned awalnya. Tapi mengingat kalo nungguin mbak T ke Sby dengan harapan membawa bersi ori nya juga kelamaan, ya sud lah ambil versi revisi juga tak masalah. Di sisi lain udah dapet cerita-cerita versi orinya yang udah di publish di blog penulis. *tak ada penyesalan* :) Terus terang saya tidak bisa begitu saja menilai TNT 3 tanpa membandingkan dengan seri-seri terdahulunya. Saya menangkap cukup banyak perbedaan di versi ketiga ini. Trinity lebih banyak bertutur tentang tips-tips dan do's and don'ts dalam melakukan traveling. Sedangkan di buku pertama dan keduanya, penulis lebih banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman perjalanannya. Honestly, saya lebih suka dengan TNT 1 dan 2. Namun, gaya bahasa Trinity tetap jujur, kocak, apa adanya itu bikin buku ini masih menarik untuk dinikmati. :)
Dari pertama buka sampul, perasaan aku udah deg-degan banget. Kenapa? Karena dua buku Naked Traveler sebelumnya udah berhasil terkoyak-koyak di tangan manusia setengah Gorilla ini. Untungnya buku kali ini lebih kuat (entah lebih kuat atau emang aku nya lebih 'lembut' hehe) sehingga berhasil tertutup dengan selamat sampai tujuan.
Entah kenapa rasanya buku NT3 ini lebih banyak cerita tentang pengalaman-pengalaman Trinity selama berada di perjalanan, sementara buku sebelumnya lebih tentang penggambaran tempat-tempat yang rasanya enggak pernah terbayang gitu di otak. Tapi walaupun tempatnya cenderung biasa-biasa aja alias udah pernah kedengeran oleh kuping-awam-korban-tour ini, teteup menarik lah dibacanya. Rasanya masih kayak jalan-jalan keliling dunia dengan budget 60ribu rupiah hehehe.
waaaa... buku super,, bikin ngawang-ngawang dan beranii,, "impian keliling dunia" bisa diwujudin..:D bisaaaa... aduuuh ga sabar ma trip pertma bulan oktober nantii,, gara-gara baca buku ini,, saya ga takut mengambil keputusan...:D traveling itu asiiiik... temukan keunikan-keunikan di setiap negara,, aduuuh pengen,, mengagumi ciptaan Sang Pencipta,,, duniaa aku datang,, skrang aku 17 tahun,, dan aku masih punya kesempatan untuk menjelajahi muu,,, untung ketemu buku ini,, selagi umur saya masih muda,,hehe ayoo anak-anak mudaa,, segera lebarkan sayap mu,, dan kita terbang mengelilingi duniaa,,, that's not impossible imagination...right???
buku di sela-sela berjalannya uas, makasih udah nemenin! *hiks* *alay*
tulisan TNT selalu seger seperti biasa, apalagi bab yang ngupas tuntas hal-hal yang bikin gila selama travelling, lucu banget! buku travelling yang sukses bikin ketawa-ketawa sendiri habis tulisannya selalu segar dan lucu. yang bikin mata kebuka banget itu pas lagi jalan-jalan ke Israel yang pengecekkannya tuh ketat banget, dan salut sama mental adventurenya mbak TNT yang gak takut buat kesesat di negara China, bayangin man, China! negara super guede dan bahasanya yang sulit minta ampun. Memang petualang sejati nih penulisnya. Berharap bisa jadi beliau juga jalan-jalan keliling dunia, hehehe.
Ada banyak pengulangan dalam alur cerita pada petualangan Trinity di buku-buku sebelumnya..Mungkin ada kemiripan, saya bisa juga salah persepsi, yang jelas petualangan dan perjalanannya sangat menyenangkan. Ada hikmah yang terselip disini yaitu seandainya kita berniat untuk melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat/daerah/negara lain, lakukan persiapan yang semaksimal mungkin, itupun dengan alternatif rencana bila kenyataan kondisi yg kita temukan dijalan nanti tidak sesuai dengan kenyataan. Well done Trinity!
Trinity is back! Jujur, ini merupakan buku Trinity pertama yang aku beli. Awalnya ragu-ragu, soalnya bisa aku liat di blog, jadi ngapain buang-buang uang?
Tapi, ternyata lebih enak beli buku fisiknya daripada liat di blog! Trinity gaya tulis-nya lucu banget! To the point, no holds barred. Petulangan-petualangannya gokil-gokil! Jadi pengen pergi keluar negeri sama Mbak Trinity deh, hehehehe.
Yang bikin aku salut sama Mbak Trinity adalah walaupunsudah pergi ke luar negeri banyak sekali, dia teteup cinta Indonesia!
Mungkin ini cuma masalah selera karena sejujurnya dari awal saya kurang suka dengan gaya bertutur book travelling yang seperti "Saya kesini, kemudian kesini, lalu keadaannya seperti ini dst dst"; yang walaupun informatif, namun monoton dan membosankan. Di The Naked Traveler ini Trinity mampu mengimbangi hal tersebut dengan gaya penulisaannya yang dinamis, runtut, dan pengalaman-pengalaman lucu serta unik selama travelling. Cukup menarik untuk pembaca yang menyukai book travelling yang tidak biasa.
TNT selalu menarik! Paling suka sama spekulasi 'tolol-tololan' ala Mbak Trinity yg sebenernya nggak tolol (suka bagian McD sama pengamatan cowok-cowok hehehe). Dan yg bikin gw makin suka sama seri ini, porsi jalan-jalan di Indonesia-nya lebih banyak (pengen ke Pantai Sumba yg ada thermocline-nya)
Dan yg bikin surprise, ada kisah mellow-nya Mbak Trinity! Tapi kalo gw jadi beliau dan lagi di Venesia pasti meweknya ngalah-ngalahin deh secara itu adalah salah satu kota idaman yg pingin gw kunjungi *yg mulai suka Venesia gegara baca manga-nya Kozue Amano* :D
Kalo ceritanya Trinity sih emang selalu suka. Tapi berhubung dah banyak juga cerita di buku 3 ini yg dah kubaca lewat blog nya, jadinya berkurang deh surprise nya. Mungkin emang enakan ngga baca blog nya ya biar lebih enak bacanya. Tapi kl di blog gambarnya berwarna, sayang di buku cuma item putih. Coba kyk The Journeys gitu. Meski kertas nya bukan kertas majalah tapi maish berwana jadi makin menarik.
Cocok sekali di masa liburan seperti ini. Buku ini mengisi ulang semangat untuk berpelesir ke segala penjuru dunia.
Banyak sekali pengalaman unik. Yang paling berkesan dan membuat saya tak berhenti tertawa membayangkan adalah kisah toilet umum di China. Sungguh tidak dapat dibayangkan. Hahahaha.
Efek setelah membaca buku ini tentunya adalah semangat berpetualang dan semangat berbagi kisah petualangan.
I love how Trinity always gives us reasons to love Indonesia, particularly in the field of tourism. By reading the naked traveler series, you will know that apparently Indonesia has many beautiful places that worth visiting. But why do Indonesian people prefer to travel abroad rather than traveling in its own country?
Beli di PBJ kemarin, mumpung diskon. Soalnya sekarang VIP Card Gramedia ditiadakan, diganti dengan kartu diskon baru yang hanya berlaku untuk buku-buku KKG, sama aja dengan kalo pake BCA Card.
Mungkin untuk buku-buku non KKG sekarang aku harus beli di TM, RB, etc atau mulai coba-coba tobuk online ya...
Canggih! Ini buku lucu banget hahaha. Tante Trinity bisa bagus gitu nyeritain semuanya. Sudut pandangnya pun oke. Walau ada beberapa sisipan konten dewasa, cuma gue suka aja. Santai dan blak-blakan.