Kaum waria mendapat stigma negatif nyaris di semua lingkungan masyarakat. Anggapan sebagai patologi sosial, perusak moral, pencemar kesehatan, dan menyalahi kodrat Tuhan membuat kaum waria terpinggirkan dan terisolasi. Walhasil, kehidupan mereka pun tak banyak diketahui khalayak.
Taman Api menggambarkan sisi-sisi tersembunyi kehidupan waria yang demikian kompleks. Dengan pendekatan kritis, novel ini tak hanya menyuguhkan "abnormalitas" kehidupan waria dari beragam segi, tapi juga menguak praktik-praktik picik dan ilegal yang menempatkan kaum waria sebagai obyek penderita: misi rahasia berkedok agama untuk melenyapkan waria melalui bisnis gelap bedah kelamin berikut segenap teknologi turutannya. Bagaimanakah praktik picik itu berlangsung dan siapakah pihak-pihak yang terlibat di dalamnya?
Dengan gaya penulisan yang khas dipadu pendekatan investigatif dan konspiratif, rahasia-rahasia yang menyembul dari novel ini ihwal sisi-sisi kabur kehidupan waria dengan segudang problematikanya akan membuat Anda terperangah tiada terkira.
“Aku percaya kebenaran adalah sebuah perbincangan timbal balik antara dua atau lebih permasalahan, bukan hanya satu kemutlakan.” (hal 45) Kita sadar dunia tidaklah hitam dan putih. Ada warna tengah di antara keduanya. Abu-Abu. Dan dunia itulah yang dibidik oleh Yonathan Raharjo dalam novel keduanya kali ini, Taman Api.
Taman Api membidik persoalan yang jarang disentuh dalam ranah sastra. Ia tidak lagi membidik kehidupan gay, seperti Andrei Aksana dalam Lelaki Terindah, atau lesbian... seperti Herlinatens dalam Garis Tepi Seorang Lesbian. Ia membidik waria. Kehidupan waria yang biasa berkumpul di Taman Api
Taman Api berkisah mengenai kehidupan tiga orang waria penghuni (atau mantan penghuni) Taman Api. Tari, Riris dan Yanti. Tari yang digambarkan dengan segenap tekad dan kesadarannya, mengubah dan mengoperasi kelaminnya menjadi perempuran dengan bantuan seorang dokter bedah profesional bernama dr. Ranto. Riris yang dikisahkan karena sebuah operasi dan konspirasi rahasia yang tidak menghendaki “kaum” mereka, dikoyak dan dioperasi secara paksa untuk menjadi perempuan. Sedang Yanti adalah titik tengah itu. Wilayah abu-abu itu. Ia adalah waria yang bimbang menentukan jati diri dan eksistensinya. Ketiganya “bertemu”, bertaut dan dipersatukan melalui beragam kebetulan yang memang telah diatur dan direncanakan, lewat jalur investigatif dan konspiratif ala Mission Imposible –dimana tokoh-tokohnya tak saling mengenal mengenai siapa yang diberi tugas untuk menjalankan misi dan siapa yang menugasinya, serta mengandung rahasia-rahasia dan kepentingan yang melibatkan para pemegang kekuasaan. Teknik filmis-jurnalistik, tanpa pendekatan emosi sama sekali terhadap tokoh-tokohnya, mengingatkan pada gaya menulis Sjumanjaya, yang kali ini diolah dan digunakan kembali oleh Yonathan Rahardjo dengan teknik baru yang lebih kering dan lebih dingin. Tentunya teknik ini bisa menjadi suatu kekuatan atau malah menjadi titik kelemahan novel ini. Tergantung dari sudut mana pembacanya menilai.
Membaca Taman Api seakan disuguhi sebuah film yang menyediakan ruang dan pembacaan yang begitu berjarak dengan penikmatnya.
Akibat ruang dan jarak yang disediakan, Yonathan Rahardjo tak ubahnya seperti dr. Spencer Lecher (yang notabene profesi mereka sama, seorang dokter) dalam Hanibal, yang dengan begitu tega, dingin, tanpa perasaan... menguliti korbannya. Yonathan Rahardjo tak peduli kalau korbannya itu sudah berteriak-teriak minta ampun dan memintanya berhenti melakukan penyiksaan itu.
Yonathan Rahardjo seakan mengajak pembacanya untuk berwisata ke sebuah gurun, ke sebuah padang pasir yang luas sekali, lalu meninggalkan mereka begitu saja di sana tanpa bekal, tanpa rambu, ataupun tanda-tanda untuk mereka bisa keluar dari sana atau setidaknya menjangkau oase yang terdekat.
Bagi saya pribadi, pendekatan atau teknik filmis-jurnalistik yang digunakan Yonathan Rahardjo dalam Taman Api, merupakan sebuah keunggulan novel ini. Sebab saya dipaksa untuk memiliki empati dan simpati kita sendiri, tanpa terpengaruh sedikitpun oleh empati atau rasa simpati orang lain, termasuk empati dan simpati dari penulisnya, terhadap objek yang dibicarakan oleh Yonathan Rahardjo dalam novelnya (baca: waria).
Sehingga, setelah selesai membaca Bab Satu, Peta Perjanjian, saya yang memang awam pada dunia medis, dibuat bertanya: “Apakah waria yang sudah ganti kelamin, dari lelaki menjadi perempuan, bisa merasakan nikmatnya sensasi orgasme layaknya wanita?” Jujur... bagi saya pribadi, timbul kembali sebuah iba, sebuah empati atau malah sudah beranjak pada simpati, “Kasihan ya mereka.... jikalau dengan operasi ganti kelamin yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah, mereka tak mendapatkan kenikmatan tersebut saat behubungan intim dengan pasangannya kelak, lha apa gunanya operasi tersebut?!”
Untungnya Yonathan Rahardjo memberikan jawaban tersebut pada bab berikutnya.
Yonathan Raharjo juga membiarkan pembacanya, kembali meninggalan mereka di gurun kebimbangan, serta tak sedikitpun memberikan keberpihakannya terhadap “kebaikan” mana yang harus dipilih oleh pembacanya. Sebagai waria yang dipukuli atau orang-orang yang dasar agama, berteriak-teriak dan memusuhi mereka.
Hal itu berlangsung terus sepanjang cerita. Sayangnya, menjelang akhir Yonathan Rahardjo mulai lelah untuk terus terusan mempertahankan pendapatnya, mempertahankan ketahanan dirinya yang sudah membiru dan babak belur dihajar “massa”. Yonathan Rahardjo mungkin terpaksa harus mengalah kepada pendapat umum, mengalah pada stigma masyarakat dan (malah) turut menjadi hakim pada apa-apa yang sudah ia bangun dan ia letakkan pada porsi dan pondasinya masing-masing. Turut menjadi “Petani Agung” yang memisahkan tuaian dan siangan.
“...Kurasakan manfaat lain yang jauh lebih besar dari semua ini, mendorongku untuk membuat program-program pemberantasan sifat dan sikap banci lebih menyeluruh, tak terbatas pada identitas seksualitas, tapi juga pada masalah-masalah keluarga, pendidikan, agama, bisnis, ekonomi, sosial, pelayanan masyarakat, kepemimpinan dalam pemerintahan, hukum bahkan hubungan internasional, tatanan keseimbangan alam dan masih banyak lagi sebanyak bintang di langit.” .... “Ya tadi itu, pemberantasan sifat dan sikap banci di segala bidang. Tak terbatas pada identitas seksualitas. Tapi juga pada berbagai masalah kehidupan.” “Apa andalan gerakan ini?” “Operasi kelamin dan chip.” “Bagaimana mekanisme kerjanya untuk pemberantasan sikap dan sifat banci di bidang non-seksual ini?” “Kita tunggu saja, Hen.” (hal 194-195)
Sebagai penutup, jujur, saya belum membaca “Lanang”, novel karya Yonathan Rahardjo yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, sehingga sukar bagi saya untuk membandingkan kualitas karyanya yang sekarang, Taman Api, dengan novel pendahulunya. Tapi, jujur (lagi), Taman Api adalah novel yang menarik untuk menjadi bahan perenungan bagi kita yang hidup di dunia yang tak hanya hitam, tak hanya putih, namun masih tersembul warna lain di antaranya. Abu-abu. (tby)
Novel 'TAMAN API" bercerita tentang cinta dan tragedi Dokter Bedah Kelamin, Dokter AIDS, WARIA, Suntik Silikon dan Operasi Bedah Kelamin. @ Rp 42.500,- ada di Toko Buku Gramedia
“Novel ini penting untuk membongkar berbagai kemungkinan sisi patologis dari bentuk-bentuk kesalehan religius yang kerap naif, munafik dan berbahaya.”
—Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan
“Dengan gaya filmis-jurnalistik, Yonathan ... berhasil mengguncang kenyamanan pastoral pembaca, dengan menyuguhkan detail peristiwa operasi kelamin sebagai kekayaan sekaligus keunikan novel ini. Selamat!”
—Arie MP Tamba Sastrawan, Redaktur Budaya Jurnal Nasional
"... bisa menjadi pintu masuk untuk membuka 'Kotak Pandora' kisi-kisi hidup yang sering tertutup oleh tabir etika dan moral."
— Edy A. Effendi Penyair dan Journalist
"... Sungguh suatu novel yang fantastis dan sangat menarik untuk diapresiasi lebih jauh."
— Mansur Ga’ga, M.A. Dosen Ilmu-Ilmu Sastra
“Novel ini mengangkat persoalan yang jarang disentuh dalam sastra Indonesia, yakni tentang dunia waria dan kaum dokter urban dengan segala konfliknya yang dikaitkan dengan fenomena pemaksaan klaim kebenaran oleh kelompok tertentu dengan menistakan kelompok lain. Percobaan yang berani dan sangat menarik.”
—Anton Kurnia Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010
“Kisah waria dengan berbagai problem sosialnya lebih sering dijadikan lelucon, jarang yang mengisahkan bagaimana sesungguhnya ’ketegangan’ perubahan orientasi seksual serta ’ketegangan’ perubahan tubuh dan fungsinya. Dalam novel ini, Yonathan menyuguhkan sebuah kisah yang mewakili keingintahuan publik tentang apa yang ada di balik kehidupan mereka....”
—Cok Sawitri Pemenang Anugerah Dharmawangsa 2010 untuk Prosa
“Novel yang patut disimak. Perpaduan problematika sosial dan kesehatan seperti HIV/AIDS dan kelainan genetik, diramu secara menarik dengan pendekatan seni dan ilmiah. Kritis sekaligus bermanfaat memberikan pendidikan bagi masyarakat.”
—Dr. Hari Basuki Notobroto, dr., M.Kes. Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Universitas Airlangga
"Imaginasi penulis buku ini saya pikir termasuk ajaib. Ia berbicara banyak hal, menceritakan banyak hal, yang sebenarnya bukan dunianya. Dan roh penulis masuk pada dunia yang tidak diakrabinya setiap hari. Tentang issue silikon, kekerasan pada Waria secara mental, operasi kelamin, sampai issue munculnya orang orang yang kontra dengan Waria dengan dalil agama. Saya harap buku ini menjadi satu dari sekian referensi dari penokohan Waria di beberapa tulisan sejenis ..."
— Merlyn Sopjan Penulis buku Jangan Lihat Kelaminku dan Perempuan Tanpa V
"Dalam novel Taman Api kita yang waria atau kenal atau dekat dengan kawan-kawan waria akan mengenali dalam fiksi suatu dunia kehidupan yang sayangnya dalam kenyataannya pun masih penuh kekerasan dan diskriminasi hanya karena perbedaan ekspresi dan identitas gender. Kita sambut dengan besar hati terbitnya novel ini, yang merupakan satu lagi langkah maju menuju suatu dunia di mana perbedaan tidak akan lagi menjadi dasar kekerasan dan diskriminasi."
— Dédé Oetomo Ketua Dewan Pengurus, GAYa NUSANTARA
"Lewat novel ini, kita makin dicelikkan up and down kisah galang gulung waria di negeri ini. Ada thriller, ada god’s spy yang bergemeretak hendak menujah keberadaan waria, sidik medik dan juga futuristik. Dengan alur tarik-ulur yang dentang debar, rasanya penulis berhasil memanggungkan teater kompleksitas rumpun “kelamin ketiga” ini."
— Soffa Ihsan Penulis
"... Setelah novel “Lanang” meraih penghargaan di Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, saya berharap penulis yang pernah mengenyam studi dokter hewan ini akan lebih jauh mengungkap berbagai ulah dan perilaku medis di Indonesia, bahkan di dunia. Bukan menyoal hal normatif, tapi berbicara tentang realitas sosial yang ada. Kali ini, Yonathan, lewat “Taman Api”, menyingkap fenomena kaum waria yang orang awam hanya paham di bagian permukaannya saja. Sebagaimana novel, setelah penulisnya menyibak, ..."
— Sihar Ramses Simatupang Sastrawan, Pemenang Hadiah Sastra Metropoli D’Asia Khatulistiwa 2009
"Konspirasi dalam novel ini merupakan realita bisnis yang ada dalam kehidupan, penderitaan manusia diacak-acak dan dicari kelemahannya sehingga mau dibujuk untuk mengikuti keinginan para konspirator; kelainan fisik, psikis kekuatan ilmu ilmiah kedokteran-farmasi dibalut keuntungan mengesampingkan etika dan kepatutan digunakan sebagai tameng bahkan kepercayaan pun dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan itu; suatu hal yang menjijikkan yang perlu diketahui bersama!"
— Drh. Suli Teruli Sitepu Wakil Sekretaris Jenderal PB PDHI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) periode 2006-2010
"... Taman Api menggedor-gedor kejujuran akal sehat dan hati sanubari publik pembaca, mungkinkah rezim berkuasa dan negara tidak berperan bahkan tidak tahu-menahu sindikat konspirasi mafia humanika itu? ..."
— Toga Tambunan Penyair, Salah Seorang Pendiri Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI)
Terima kasih kepada Pustaka Alvabet yang telah memberikan saya buku ini sebagai ganti ulasan yang jujur.
Kita hidup di dunia di mana menyukai lawan jenis adalah normal. Jadi, umumnya manusia-manusia penyuka sesama jenis dianggap tidak normal. ‘Normal’ adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan yang biasa. Penyuka sesama jenis memang tidak normal karena mereka tidak sesuai dengan keadaan yang biasa. Tapi, bagaimana kalau keadaan normal itu kita andai-andaikan saja terbalik. Misalnya kita hidup di dunia di mana yang normal itu adalah menyukai sesama jenis, dan mereka yang penyuka lawan jenis dipaksa ‘tobat’ dan harus menyukai sesama jenis. Bagaimana? Rasanya geuleuh (Sunda: jijik, geli) kan? Mungkin itu juga yang dirasakan dia-dia yang penyuka sesama jenis. Apalagi bagi mereka yang menempuh jalur lebih ‘berani’ dengan menjadi wanita tapi pria alias waria.
Taman Api mengangkat ide cerita yang langka dalam pernovelan Indonesia. Novel ini bercerita tentang kehidupan waria, mereka yang transgender dan transseksual. Waria di Indonesia tidak (belum?) seperti waria di Thailand. Mereka tidak punya tempat di masyarakat dan tidak dijadikan sumber devisa negara. Apa yang terjadi dengan waria di Indonesia? Taman Api mungkin bisa memberikan sedikit gambaran, walaupun novel ini tidak menceritakan kisah waria di negeri Indonesia melainkan di negeri bernama Tanah Air.
Agak susah mencerna novel ini karena penokohan yang tidak kuat, alur cerita yang agak kabur, kalimat-kalimat panjang berbelit dengan penggunaan majas hiperbola dan personifikasi yang banyak. Namun kalau bisa tak mengindahkan hal-hal tersebut, pembaca bisa menikmati Taman Api dan tenggelam dalam kegetirannya. Yonathan Rahardjo jelas-jelas melakukan riset mendalam sebelum menuliskan novel ini. Sebagai dokter hewan, Yonathan berhasil mengangkat isu yang jauh dari dunia profesinya. Di Taman Api pembaca disuguhkan informasi tentang HIV/AIDS, suntik silikon, prosedur medis bedah kelamin, dan lainnya. Yonathan juga dengan ajaib memaparkan imajinasinya tentang chip yang ditanamkan pada setiap waria sebagai alat lacak dan pantau tingkat keterjangkitan HIV/AIDS. Tapi yang menjadi titik nadir novel ini adalah elaborasi konflik batin tokoh-tokohnya, terutama Tari dan Priyatna.
Tari adalah waria selebriti yang cerdas dan berani. Dia ingin sekali menjadi wanita seutuhnya sehingga memutuskan untuk operasi kelamin. Membuang penisnya dan digantikan dengan vagina buatan para dokter bedah kelamin. Sedangkan Priyatna adalah laki-laki pekerja biasa yang merasakan rangsangan seksual saat melihat apalagi memakai pakaian wanita. Priyatna pun menjajal dirinya dengan menjadi Yanti pada malam hari. Konflik! Konflik! Konflik! Bukan saja dari dalam diri Tari dan Priyatna, namun juga konflik eksternal seperti dari masyarakat, media, polisi, dan kelompok agama, yang abai, lalai, dan anarkis.
Bagaimana pun, Taman Api adalah hasil karya fiksi dan apa-apa yang disampaikan di dalamnya perlulah disikapi dengan bijaksana. Tapi, baik sekali bila semakin banyak orang yang membaca buku ini, supaya lebih banyak orang yang introspeksi diri seperti saya. Tempat saya ber-SMA berseberangan dengan Taman Lalu Lintas (atau juga disebut Taman Ade Irma Suryani Nasution) yang kalau malam banyak waria menjajakan jasanya di sekitaran taman tersebut. Beberapa kali saya pulang malam dan harus melewati mereka-mereka yang berdandan menor, saya takut sekali dan mendingan jalan memutar yang jauh kalau saya lagi sendirian.
Kenapa saya takut? Karena mereka tidak normal dan saya pikir mereka bakal menjahati orang normal yang dekat-dekat dengan mereka. Seiring bertambahnya usia saya, saya sadar bahwa mereka sama normalnya dengan saya dan hanyalah manusia biasa yang juga punya perasaan, jadi saya tidak lagi takut banci. Namun, setelah membaca Taman Api, saya ingin sekali punya teman yang waria. Saya doakan bagi Anda-Anda yang waria supaya mempunyai hidup yang bebas dan bahagia. Tetap kuat, Kawan! Salam.