Novel Padang Bulan bermula daripada kisah seorang gadis kecil berusia 14 tahun, Enong namanya, yang sangat gemar pada pelajaran bahasa Inggeris, namun secara mendadak terpaksa berhenti sekolah dan mengambil alih seluruh tanggungjawab keluarga.
Cinta di Dalan Gelas berkisah tentang perjalanan nasib Enong, melalui gaya khasnya - mentertawakan kepedihan, memparodikan tragedi, mengkritik tanpa perlu menjadi sarkastik. Kisah Enong menjadi seperti panggung dalam lembaran-lembaran kertas.
Enong jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangun lagi. Kisah Enong bukan sekadar kisah sebuah keluarga yang sederhana, namun kisah impian seorang anak kecil, kisah keberaniannya menjalani hidup dan kisah seorang lelaki yang menjadi berantakan kerana tragedi cinta pertama.
Under a bright sunny sky, the three-day Byron Bay Writers’ Festival welcomed Andrea Hirata who charmed audiences with his modesty and gracious behavior during two sessions.
Andrea also attended a special event where he and Tim Baker, an Australian surfing writer, spoke to a gathering of several hundred school children. During one session, Andrea was on a panel with Pulitzer Prize winning journalist from Washington, DC, Katharine Boo, which he said was a great honor.
The August event for the school children was very meaningful to Andrea, the barefooted boy from Belitung, as he made mental comparisons with the educational opportunities of these children, compared to what he experienced.
And now his own life story is about to become even more amazing, as his book Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) is being published around the world in no less than twenty-four countries and in 12 languages. It has caught the eye of some of the world’s top publishing houses, such as Penguin, Random House, Farrar, Straus and Giroux, (New York, US) and many others. Translations are already on sale in Brazil, Taiwan, South Korea and Malaysia.
All this has come about because of the feeling of appreciation that the young Andrea felt for his teacher, Muslimah. He promised her that he’d write a book for her someday. This was because for him and his school friends, a book was the most valuable thing they could think of.
Andrea told a story that illustrated this fact. When royalties flowed in for him he decided to give his community a library. He spent a lot of money on books. He left the village headman in charge of administering the library. However, when he came back several months later, all the books were gone. People loved the books, but they had no concept of how a lending library functioned.
“Some of them could not even read, but they just loved to have a book, an object of great value and importance, in their homes. We will restock the library with books and this time it will be run by our own administration,” he laughed.
Andrea told this story as we sat in the coffee shop adjoining a Gold Coast City Library, one of 12 scattered around the city. One of the librarians, Jenneth Duque, showed him around the library, including the new state-of-the-art book sorting machine, for processing returns located in the staff area. As he saw the books being returned through pigeonholes by the borrowers and the computerized conveyor belt sorting them into the correct bin for reshelving, the sight made him laugh and prompted the telling of that story.
Andrea wrote the book for his teacher while in the employ of Telkom, but the completed manuscript was taken from his room, which was located in a Bandung student accommodation community. Whoever took the manuscript knew enough to send it to a publisher and that’s how Andrea, an unhappy postal service worker who had studied economics in Europe and the UK, became the accidental author of the biggest selling novel in Indonesia’s history.
He has since written seven more books.
Fast forward to 2011 and Andrea was in Iowa, the US, where he did a reading of his short story, The Dry Season. He was approached by an independent literary agent, Kathleen Anderson. They talked, but for six months there was no news until an email arrived telling him that one of the best publishers in the US, Farrar, Straus and Giroux, had accepted his book.
Then every week, more publishers said “yes” and now he has 24 contracts from the world’s leading publishers.
Andrea worked with Angie Kilbane of the US on the English translations of Laskar Pelangi and its sequel Sang Pemimpi (The Dreamer). Translators from several other countries have visited his home village in Belitung to do research.
“For a long time I wondered what was the key to the enormous success of my book,” Andrea said.
“I think there’s no single right answer. Perhaps people are fed up with writing focused on urban issues or esca
"Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah" m/s: 190.
Sangat best. Andrea Hirata mampu buat saya tergelak besar dengan kelucuan narration nya. Antara yang paling lucu bagi saya ialah adengan Chip 'menerbangkan' Ikal ke pekan naik kenderaan canggih. Sedih dengan nasib Enong yang begitu luhur mengenepikan harapan dan kemahuan peribadi demi ibu dan adik-adik. Saya belum baca Maryamah Karpov dan dwilogi Padang Bulan ini beri pengenalan yang jelas tentang siapa Maryamah Karpov. Babak-babak pertarungan catur Enong dengan pelbagai jenis laki-laki juga sangat menarik. Hubungan special Ikal dengan Detektif Swasta M. Nor dan side kick Jose Risal ... lucu sungguh tapi macam 'real'. For sure tak boleh jumpa watak-watak dan adengan yang macam ni dalam novel lain. Tapi kan, entah kenapa saya tak berapa ingat apa kesudahan cinta Ikal dan A Ling.
Buku yang benar2 membuat saya bergairah dan semangat lagi untuk belajar. Buku yang benar2 membuat saya malu dan tak henti2nya bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah pada saya. Nikmat untuk dapat sekolah.
Buku yang mengajarkan bahwa perjuangan didalam hal yang telah kita fokuskan itu penuh darah, tak kenal waktu, dan bernuah sangat manis diakhirnya.
Buku yang membuat saya menitilkan air mata, ketika seorang yang masih belia, rela menunda mimpinya untuk kesejahteraan keluarga. Menjadi tulang punggung keluarga.
Didalam buku ini, saya juga belajar tentang budaya melayu dengan kopinya. Terkagum2 dengan permainan catur yang digambarkan sangat "real" oleh Andrea!!!
I love everything about these books, especially Cinta di Dalam Gelas. Setelah sekian purnama menjadi sandera dari bookslump, aku akhirnya dibebaskan oleh sebuah buku yang patut masuk ke dalam jajaran karya sastra klasik Indonesia yang akan menjadi bahan bacaan wajib murid-murid SMA pada masa mendatang. Entah karena wawasan bukuku yang masih kurang luas, tetapi kenapa aku jarang sekali menemukan buku yang sebegitu menghibur? Dari ceritanya, para karakternya, hingga gaya penulisannya yang menyenangkan, aku menghabiskan buku ini kurang dari 3 hari (abaikan tanggal mulai dan selesai membacaku, karena satu dan lain hal buku ini harus kutunda lebih dari sebulan, tapi aku benar-benar menyelesaikannya dalam hitungan hari).
Buku Padang Bulan menceritakan tentang kemalangan Ikal sebagai bujang lapuk pengangguran yang cintanya tertambat kepada satu wanita saja yang sayangnya akan menikahi pria lain. Satu hal yang bisa kupetik dari buku ini: cinta itu memang kejam dan bisa membutakan. Cinta bisa mendorong seorang manusia untuk melakukan hal-hal gila yang bisa membuatnya dimasukkan ke dalam institut kejiwaan. Walau gemas bukan main oleh kekonyolan Ikal yang sepertinya benar-benar dibutakan oleh cinta, di satu sisi aku juga ingin diperjuangkan oleh cinta sebagaimana Ikal yang tidak menyerah kepada A Ling sampai hari pernikahannya (where can I get a man like that?). Namun, cerita ini tidak hanya milik Ikal semata. Cerita ini juga milik Enong, seorang pendulang timah perempuan pertama di kampungnya. Seorang perempuan dengan kegigihan melebihi manusia biasa yang memiliki kecintaan terhadap Bahasa Inggris mau belajar kembali meski harus duduk bersama anak-anak sekolah. Aku seakan-akan tersihir oleh ceritanya Enong yang dengan segala keterbatasannya menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin, apalagi aku yang sedari kecil hidupnya penuh dengan berbagai privilege, salah satunya adalah menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa keduaku. Kecintaan Enong akan Bahasa Inggris akan kudekap erat-erat sebagai pecutanku untuk memperluas bahasa asing lain. And for this, I thank you, Pak Cik Andrea Hirata.
Tentu saja keseruannya tidak berhenti disitu, dan Cinta di Dalam Gelas adalah sebuah klimaks yang sangat mendebarkan.
Buku Cinta di Dalam Gelas adalah sebuah kesempurnaan yang tertuang ke dalam 252 halaman.It was perfectly written dan aku sangat menganggumi bagaimana bisa ada dua cerita yang berjalan beriringan, kind of like juggling between the main quest and a side quest simultaneously in a video game. Main quest-nya tentu mengenai perjuangan Enong atau Maryamah (indah sekali nama aslinya, sebenarnya) dengan klub catur Perjuangan Rakyat, yaitu Ikal, Detektif M. Nur, Giok Nio, Selamot, Preman Cebol, dan grand master Ninochka Stronovsky. Sementara side quest-nya adalah etnografi dari para penduduk kampung di sana dalam keseharian mereka di warung kopi. Sebagai mahasiswi jurusan antropologi tingkat akhir, bagian ini adalah pemandangan menyegarkan mengenai bagaimana memotret dinamika kebudayaan dalam satu latar. Pembaca jadi bisa memahami signifikansi warung kopi bagi masyarakat Melayu, bagaimana watak mereka yang dibentuk oleh mata pencaharian mereka, dan revolusi budaya yang dipimpin oleh keberanian Maryamah menantang mantan suaminya dalam pertandingan catur.
I was cackling the entire time, jarang sekali aku menemukan buku dengan humor yang begitu ringan dengan satir yang menggelitik. Tapi untuk cerita perjuangan caturnya Maryamah dan klub caturnya itu benar-benar harus diacungi jempol karena sangat-sangat menggugah hati dan membuatku terdiam menggigit jari. Satu hal yang sangat kusuka dan kuapresiasi dari bagian ini adalah bagaimana Pak Cik Andrea Hirata menggambarkan sisi teknis dari catur untuk bisa dinikmati bahkan oleh mereka yang tidak tahu ada berapa bidak di atas papan catur dan bagaimana Pak Cik bisa menceritakan jalan cerita dari setiap pertandingan catur dengan dramatis dan mendebarkan. Oh kalian harus merasakan buku ini sendiri, I will not recommend it enough. Dan tentu saja, puisi-puisi yang ada di sini harus didengar oleh dunia. 100/10.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dua novel dalam satu buku dan hokinya saya dapet yang ada tandatangan penulisnya langsung. Latar Ceritanya masih ngga jauh dari bangka belitung, tempat penulis lahir dan menghabiskan masa remajanya. Cerita tentang seorang anak perempuan di lingkungan pekerja tambang timah yang ingin mewujudkan mimpinya menguasai bahasa inggris dan perjuangannya mencari nafkah keluarga dan menyekolahkan adik2nya selepas sang ayah meninggal di tambang timah, tempatnya bekerja.
Novel yang bercerita tentang mimpi dan upaya meraihnya masih jadi bahan bacaan yang menarik. Mungkin karena ceritanya memotivasi kita untuk berani mewujudkan mimpi bukan sekedar hidup bersandar kenayaman semu yang kita bela dengan istilah "Takdir".
Bukan main, Boi! Pak Cik Ikal sekali lagi sukses membuatku jatuh cinta dengan dinamika kehidupan masyarakat melayu di suatu desa di pelosok Pulau Belitung. Jatuh cinta dengan orang-orang Melayu, orang-orang Tionghoa, orang-orang bersarung, orang-orang Sawang, dengan timah-timah yang sudah mulai menipis, dengan sungai Linggang, dengan warung kopi Belitung, dengan pantun-pantun jenaka, dan dengan kicauan kritik terhadap pemerintah di warung-warung kopi saat istirahat kerja.
Benang merah dari dwilogi ini adalah cerita tentang kehidupan Enong, perjuangannya dalam menorobos budaya patriarki dan menggapai pendidikan, dibantu oleh Ikal dan Detektif M. Nur. Dikisahkan juga kisah cinta antara Ikal dan A Ling yang menjungkirbalikkan logika Ikal (ternyata logika lelaki pun bisa kacau balau karena asmara juga, Boi).
Gaya bercerita Andrea Hirata yang detail, mengalun, dan cerdas membuat saya tidak bisa berlama-lama lepas dari buku ini. Bukan main, Boi!
**Sebenarnya ingin kasih bintang 5 untuk Padang Bulan dan bintang 4 untuk Cinta di dalam Gelas.
One of the best from Andrea Hirata, I remember one day, when i was reading Padang Bulan, i always bring the book everywhere i go. but one day i forgot to bring it to the class and i felt so freakin sad, when i got back im so happy i jumped to my bed and immediately read it. the book is very-very romantic and the characters are very-very naive, but Andrea criticize the social structure of chess game as a patriarch culture effortlessly. we can see the struggle of a really cute and ambitious girl reconstructing our unconscious social structure via chess tournament. i had a really-really good time reading this book. It is a very heartwarming book with a colorful taste of Indonesian culture.
Aku masih membaca buku ini, baru selesai baca Padang Bulan dan baru mulai membaca bagian kedua Cinta Dalam Gelas.
Menceritakan ketaguhan Ikal mempertaruhkan harga diri nya di depan banyak orang untuk kekasih hati nya yang ternyata emang gak kemana-mana juga (plot twist) yang kocak banget, aku nulis ini sambil senyum.
Buku ini sukses membuat saya tertawa dan tersenyum-senyum sendiri. Gaya penulisannya yang mengalir dan sedikit jenaka berhasil membuat para pembaca hanyut ke dalam cerita.
Buku pertama karangan pak cik yang ku baca sewaktu smp dulu,, itupun pinjaman dr seorang sepupu. Rasanya buku ini yang membuat saya jadi sedikit candu membaca.
Karya Andrea Hirata memang tidak pernah mengecewakan! dwilogi ini mengajarkan kita tentang perjuangan dan keikhlasan yang dibalut dengan humor konyol yang tentunya sangat menghibur.
kekuatan kepada perincian karektor , tempat dan emosi menjadikan setiap karya Andrea Hirata hebat ! Aku tak tahulah kepuasan yang macam mana boleh aku tulis setiap kali membaca setiap buku karya Andrea Hirata , memang legend betul lah karya beliau , aku perhatian setiap karya Andrea Hirata wataknya banyak dan character yang pelbagai , walaupun banyak dan pelbagai dia mampu memperincikan setiap watak tu , lebih hebat lagi watak tu berkaitan dan punya ending masing-masing2 hebat kan?membaca buku ini emosi menjadi bercampur aduk sedih hingga menitiskan air mata ,dan lucu kadangkala sakit pinggang ketawa , karya beliau menyemangati (memberi semangat ) ,inspirasi dan terus berjuang untuk hidup , soal cinta dan kasih sayang, persahabatan yang kuat dalam kesederhanaan dan kemiskinan, buku beliau menjadikan pulau Belitung itu meriah . Kajian apa yang Andrea Hirata buat sehingga buku 2 beliau sebagus ini. Bukan main boi....bukan main.... "Berikan aku sesuatu yang paling sukar , aku akan belajar " kata perempuan yang bahkan tidak tamat sekolah rendah itu, penulis beekesimpulan bahawa belajar adalah sikap berani menentang setiap ketidakmungkinan. Ilmu yang tidak dikuasi akan menjelma dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan tekun hanya mampu dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.
Buku yang ketiga yang aku baca dari karya Andrea Hirata selepas Tetralogi Laskar Pelangi dan Ayah. Sebetulnya, buku ini adalah buku lama, sebelum terbitnya karya paling baru Andrea Hirata iaitu Ayah. Dan sebetulnya juga, ini buku yang kedua dari Andrea Hirata yang aku ada(untuk dijadikan koleksi), memandangkan Tetralogi Laskar Pelangi (buku paling panas) hanya aku sempat pinjam daripada perpustakaan, maka selepas ini mungkin aku cadang untuk beli buku tersebut untuk dijadikan sebagai koleksi atau diulang baca (nampak tak keborosan di situ. huhu)
Ok, berbalik pada ulasan buku Dwilogi Padang Bulan - ada dua bahagian, yang pertama Padang Bulan dan keduanya Cinta di Dalam Gelas, maka aku sarankan pada yang belum mengetahui (sudah terkena pada aku sendiri), bahawa buku ini bukanlah cerita baru, bahkan ia adalah kesinambungan kepada Maryamah Karpov - buku yang keempat dari Tetralogi Laskar Pelangi. Penulis menjelaskan sisi misteri Maryamah Karpov di dalam buku ini berbanding sisinya yang hanya diceritakan dalam beberapa helaian muka surat sahaja (dalam buku Maryamah Karpov).
Jadinya, Enong itu Maryamah Karpov. Dan Maryamah Karpov itunya Enong. Penulis menceritakan bagaimana nama 'Karpov' itu didapati, sedangkan kita tahu bahawa nama 'Karpov' itu lebih sinonim dengan nama orang luar, bukan dari Indonesia. Dan pada siapa yang kerkemahiran dalam bermain catur (bukan aku semestinya), maka di dalam ini menceritakan sisi Maryamah yang bermain catur dengan taktik luar biasa yang sebelum ini kaum wanita di sana tidak pernah mempamerkan atau bermain catur di kampung mereka.
Dan tidak lupa juga, semestinya Ikal menjadi watak penting dalam sisi Maryamah Karpov, disertai rakan-rakannya yang lain seperti Detektif M.Nur, Jose Rizal, Giok Nio, Selamot, dan sahabat pintarnya Lintang. Oh, kisah awal percintaan Ikal dan A. Ling juga diselit.
Boi, bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.
Membaca Dwilogi Padang Bulan Andrea Hirata sama seperti mengenal budaya Melayu itu sendiri. Tentang masyarakatnya, kehidupannya, bahasanya, dan tidak lupa filosofi mendetail tentang kopi. Kopi menjadi salah satu topik yang paling sering dijabarkan dalam novel ini. Andrea Hirata menjelaskan secara terperinci, namun dengan bahasa yang menarik dan kocak, dalam mendeskripsikan perangai orang Melayu berdasarkan selera kopinya. Salah satu tokoh yang paling menarik perhatian, selain tokoh Ikal itu sendiri adalah si Enong atau Maryamah. Enong adalah tokoh dengan segala kekurangan dan keterbatasan namun memiliki hati yang begitu besar dan optimisme tinggi dalam menjalani hidupnya yang berat. Mungkin, tokoh seperti ini jarang sekali nyata dalam kehidupan nyata. Namun lewat kepiawaian Andrea menyusun kata, tokoh Enong seperti benar-benar nyata ! Selain itu masih banyak lagi filososi-filosofi tentang hidup yang dianalogikan Andrea lewat berbagai objek yang sangat kental dengan budaya Melayu, seperti catur dan pendulang timah. Sama seperti novel-novelnya yang lain, di novel ini juga banyak sekali quote-quote bagus. Selamat membaca !
Sebagai penggemar karya-karya Andrea Hirata, saya akui saya terlambat karena baru sekarang saya baca dwilogi ini. Kedua novel ini berkisah tentang kehidupan Ikal setelah merantau di negeri-negeri orang, dimana Ikal kembali ke kampung halamannya untuk menunggu cinta sejatinya A Ling. Sementara ia menunggu banyak kejadian menarik di kampungnya, terutama melibatkan seorang wanita pendulang timah bernama Maryamah. Andrea masih menulis dengan gayanya yang biasa: jenaka tapi cerdas. Saya suka humor di buku ini, menurut saya lebih segar dari sebelumnya. Meskipun buku ini tampaknya lebih humoris, namun inti dari seluruh ceritanya adalah bagaimana gerakan feminisme juga dapat terjadi di pedalaman Melayu yang ortodoks; bagaimana tekad kuat dapat mengalahkan segala ketidakmungkinan; dan bagaimana cinta dapat membuat hal-hal ajaib yang di luar logika . Selain itu bagaimana Andrea melakukan studi tentang perilaku manusia melalui bagaimana cara orang-orang minum kopi membuat saya terpana. Menurut saya itu merupakan filosofi yang luar biasa.
Sebenarnya, bahasan dari kedua cerita ini sederhana. Tapi cara penulis menceritakannya sungguh sangat menarik. Membaca buku ini membuat saya semakin mencintai tanah melayu yg kaya raya itu. Membaca cerita ini membuat saya merasa senang menjadi orang melayu. Membaca cerita ini membuat saya memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap nantinya di tanah melayu itu jika sudah menyelesaikan segala sesuatu yg harus diselesaikan di sini. Padang bulan sebenarnya kurang menarik dibandingkan dengan Cinta di dalam Gelas. Bahkan, dari novel ini saya lebih mendapat penjelasan mengenai pengambilan judul novel keempat dari tetralogi laskar Pelangi, Maryamah Karpov. Tradisi minum kopi orang melayu itu memang unik. Padalah kalau dilihat-lihat, tanaman kopi di sana tidak jauh lebih banyak dibandingkan dengan tanaman kopi yang ada di pulau Jawa. Entahlah, pokoknya main catur dan tradisi minum kopi orang melayu itu memang khas dan berbeda. Terlebih ketika masih di zaman yang lalu.
dua buku ini dikemas dlama kemasan cukup unik, bolak balik gitu, dengan cerita yang sangat menyentuh menceritakan tentang perjuangan hidup seorag perempuan gigih bernama maryamah, sampai akhirnya mendapat julukan maryamah karpov. segala kepahitan dan batu sandungan dalam hidupnya membuatnya mengenal banyak kata, kecuali satu, menyerah. kegigihan makcik maryamah membuat saya benar-benar menangis, betapa segala hal yang terjjadi dalam hisupnya menempanya menjadi seorang guru kesedihan bagi ikal. terdapat banyak humor yang mengundang tawa dalam buku ini, terutama membaca persahabatan ikal dengan detektif m nur, kepiawaian detektif dalam melatih jose rizal dan ratna mutu manikam, sampai pada kisah cinta ikal dengan seorang cantik bernama yamuna.sangat menggelitik
Aku mulakan bacaan semata2 kerana rasa ingin tahu. Kenapa ramai betul yg galak membaca tulisan dia.
Tapi nampaknya, semakin aku sampai ke penghujung, aku semakin x faham!
Macam mana nak sampaikan satu info yg sgt serius (perihal masyarakat, budaya mereka, sejarah catur & banyak lagi) dengan cara yg sgt santai?
Novel ini bukan kisah sesuatu di awangan. Ia berkenaan mereka di sekeliling kita sahaja. Mereka yg punya azam yg jitu, serta tidak pernah mundur walau selangkah. "Berikan aku sesuatu yg sukar, aku akan belajar", kata Maryamah (sang wanita yg bahkan tidak tamat belajar sekolah rendah)
Seperti tepat2 je waktu tamat bacanya dengan waktu kembali buka sem baru.
Andrea Hirata memang seniman kata-kata. satu yang khas dari Andrea adalah penokohan karakter yang sangat kuat. dan uniknya dalam buku ini berbagai karakter-karakter di buku ini disangkutpautkan dengan selera ngopi dan budaya ngpi masyarakat Melayu,,, membentuk sebuah konflik tentang pertandingan catur. buku ini bukan asal lucu, tetep kata demi kata, paragraf demi paragraf mengandung kekayaan makna dan pesan moral, yang seringnya disampaikan dengan cara menertawakan diri sendiri. A must read book untu pecinta sastra, selain buku Ahmad Tohari.
Hanya butuh 2 jam untuk saya membaca habis dwilogi ini, cerita yang mengalir yang bahkan menurut saya, perpindahan dari satu novel ke novel berikutnya tidak terlalu terasa, semuanya mengalir begitu saja, rasanya seperti dibawa naik kapal mewah dengan ombak pelan yang tanpa terasa, telah mengantarkan saya ke tujuan ;)
Saat membaca buku ini aku sungguh terpegun dengan kisah seorang wanita yang membanting tulang membantu ibunya membesarkan kedua-dua orang adik perempunya setelah kematian ayah mereka. Buku ini juga banyak menceritakan perihal kopi.