Jump to ratings and reviews
Rate this book

Empat Kumpulan Sajak

Rate this book

163 pages, Paperback

First published January 1, 1961

11 people are currently reading
193 people want to read

About the author

W.S. Rendra

46 books174 followers
Willibrordus Surendra Broto Rendra (b. November 7 1935) is a famous Indonesian poet who often called by his friends and fans as "The Peacock".

He established the Teater Workshop in Yogyakarta during 1967 but also the Teater Rendra Workshop in Depok.

His photo here shown Rendra in his room at 1969.


Theatres:
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
* SEKDA (1977)
* Mastodon dan Burung Kondor (1972)
* Hamlet (Translated from Hamlet by William Shakespeare)
* Macbeth (Translated from Macbeth from William Shakespeare)
* Oedipus Sang Raja (Translated from Oedipus Rex by Sophokles)
* Kasidah Barzanji
* Perang Troya Tidak Akan Meletus (Translated from La Guerre de Troie n'aura pas lieu by Jean Giraudoux)

Poems:
* Jangan Takut Ibu
* Balada Orang-Orang Tercinta
* Empat Kumpulan Sajak
* Rick dari Corona
* Potret Pembangunan Dalam Puisi
* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
* Nyanyian Angsa
* Pesan Pencopet kepada Pacarnya
* Rendra: Ballads and Blues Poem
* Perjuangan Suku Naga
* Blues untuk Bonnie
* Pamphleten van een Dichter
* State of Emergency
* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
* Mencari Bapak
* Rumpun Alang-alang
* Surat Cinta
* Sajak Rajawali
* Sajak Seonggok Jagung

Short Stories:
* Pacar Seorang Seniman

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (26%)
4 stars
49 (37%)
3 stars
36 (27%)
2 stars
10 (7%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for Wirotomo Nofamilyname.
380 reviews52 followers
February 23, 2017
Buku #5 di tahun 2017.
Kumpulan Puisi. 163 halaman.
Bahasa Indonesia.

Empat Kumpulan Sajak, sebagaimana namanya adalah buku yang berisi empat kumpulan sajak karya Rendra. Sepertinya Rendra memutuskan menggabung empat kumpulan sajak ini karena masing-masing tidak terlalu tebal/banyak puisi. Empat kumpulan sajak itu adalah: Kakawin Kawin, Malam Stanza, Nyanyian dari Jalanan, dan Sajak-Sajak Dua Belas Perak.
Dua kumpulan sajak pertama masih bergulat dengan topik cinta, sedang dua kumpulan sajak berikutnya mulai menunjukkan Rendra yang kita kenal kemudian, dengan sajak bertema kepedulian sosialnya.

Seharusnya saya beri kumpulan puisi ini bintang 5. Tapi saya tidak habis pikir bahwa Sunarti Suwandi yang sepertinya begitu dicintai Rendra, sehingga sebagian besar puisi di buku ini diciptakan untuknya atau tentangnya, yang begitu mencintai Rendra sehingga mau menerima Rendra mengambil istri kedua, Sitoresmi, ternyata ditinggalkan ketika Rendra menikahi istri ketiga, Ken Zuraida.
Jadi apa guna puisi-puisi cinta di buku ini? :-)

Sayangnya puisi-puisi di buku ini memang mantap sehingga saya hanya tega mendiskon satu bintang, dan toh akhirnya Ken Zuraida mendampingi Rendra sampai Rendra meninggal di tahun 2009. Jadi ya sudahlah.

Puisi-puisi favorit saya di buku ini, yang sialnya ternyata semua topiknya tentang cinta, adalah sebagai berikut (ah ternyata saya memang melankolis... :-)):

Episode

Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman rumah itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran.
Tiba-tiba ia bertanya:
”Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?”
Aku hanya tertawa.
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu
aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.



Lagu Angin

Jika aku pergi ke timur
arahku jauh, ya, ke timur.
Jika aku masuk ke hutan
aku disayang, ya, di hutan.
Aku pergi dan kakiku adalah hatiku.
Sekali pergi menolak rindu.
Ada duka, pedih dan airmata biru
tapi aku menolak rindu.



dan yang paling heboh....

Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah
Wahai, Dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak’kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis.
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
bung-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
daripada yang lain
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jarring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, Putri Duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
karena langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!
Profile Image for Rose Diana.
Author 3 books1 follower
December 31, 2019
Seperti judulnya, buku ini terdiri dari empat kumpulan sajak yang memiliki empat tema: Kekawin Kawin (balada pernikahan), Malam Stanza (kumpulan yang ada di buku Stanza dan Blues), Nyanyian dari Jalanan (tentang apapun yang terjadi di jalanan di malam hari), dan sajak-Sajak Dua Belas Perak. Sajak favorit saya adalah Aminah.
Profile Image for Launa.
246 reviews51 followers
January 28, 2026
Sajak-sajak favoritku: Serenada Hijau, Episode, Serenada Violet, Serenada Kelabu, Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya, Mata Hitam, Burung Hitam, Kangen, Rumpun Alang-alang, Mata Anjing, Burung Terbakar, Remang-remang.
Profile Image for Geri Ambotang.
2 reviews2 followers
October 26, 2019
Serenada Putih, Surat Kepada Bunda: tentang Calon Menantunya, Lagu Anging, Nyanyi Bunda yang Manis, Justru pada Akhir Tahun. Adalah sajak-sajak W.S. Rendra yang paling saya kagumi dalam buku ini.
Profile Image for Megan.
12 reviews
July 22, 2020
"Di bumi yang hangus, hati selalu bertanya kita harus pergi kemana, di mana rumah kita?" 😭
Profile Image for Hëb.
172 reviews7 followers
January 5, 2021
Lewat sajak² di sini, sepertinya Rendra berusaha untuk 'menunjukkan' cinta pada istrinya; Dik Narti.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
June 28, 2021
Puisi Rendra memang khas, lain dari yang lain. Jiwa sosialnya patut dicontoh. Saya sangat suka puisi2 beliau ini.
Profile Image for Randa Muhammad.
96 reviews4 followers
July 18, 2019
Lugas, mudah dimengerti. Berbeda dgn puisi2 Chairil yg padat (bentuk dan makna).
Keduanya punya kekuatan sendiri dalam meramu sajak menjadi indah.
Buku ini salah satu kumpulan sajak Rendra pada masa awalnya menjadi penyair.
Profile Image for Adi.
158 reviews19 followers
June 7, 2013
tak suka.. rendra 60an tak sehebat rendra yg berteriak utk mahasiswa, apalagi menyamai rendra semasa beliau menyarankan pelacur jakarta menggantung kutang untuk diarak keliling kota jakarta..
Profile Image for Mochammad Taufik.
60 reviews2 followers
January 6, 2016
Di buku ini Rendra semakin meng-explore gaya bertuturnya lewat untaian kata yang panjang, dan detail. Puisi-puisinya seakan hendak berbicara tentang sesuatu.
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.